Kuroko no Gakuen
Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.
Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC
/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./
'…..' (Pikiran karakter)
"….." (Pembicaraan karakter)
/…../ (Pesan penulis)
Makasih reviewnya buat chapter 7 : AulChan12, momonpoi, Akari Kareina, versetta, sejalahzy, XL-SasuHinaGaa, dan Guest
Makasih buat yang udah baca, follow, dan favorite cerita sebelumnya! Cerita selanjutnya udah hadir, semoga menikmati.
Chapter 8 : Akashi-kun Kenapa Marah?
Kuroko Tetsuya duduk dengan tenang di kereta sambil membaca novel yang ada di tangannya. Liburan musim panas sudah dimulai dan pada hari ini Kuroko akan melakukan kegiatan yang jarang Ia lakukan. Semalam Ia mendapat pesan dari Momoi mengenai pertandingan basket hari ini yang akan berlangsung pada jam satu siang. Kuroko menerima ajakan untuk pergi menonton pertandingan SMA Teikou sehingga sekarang Ia sedang dalam perjalanan menuju kesana. Tiba-tiba dering pesan masuk berbunyi.
'Tetsuya, kau ada dimana sekarang?'
'Aku sedang ada di kereta dan akan menuju Stasiun X Akashi-kun.'
'Memangnya ada apa ya?'
Kuroko memasukan kembali handphone ke saku celana dan kembali membaca. Beberapa halaman sudah terlewat seperti pemandangan diluar yang juga berlalu dengan cepat.
'Ok, sebentar lagi Aku akan turun.'
Kuroko berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu. Beberapa menit kemudian kereta sampai di stasiun dan Kuroko keluar dari sana. Kuroko kemudian berjalan melewati pertokoan menuju stadiun olahraga dimana pertandingan akan dilaksanakan. Sesampainya di tempat tersebut, Kuroko bertanya kepada petugas mengenai lokasi pertandingan basket SMA dan segera menuju ke atas. Akhirnya Ia sampai juga di bagian tempat duduk penonton di stadium tersebut.
'Tempat ini besar dan sudah banyak penonton yang datang. Kira – kira Aku harus duduk dimana ya?'
"Selamat siang Kuroko."
Kuroko lalu menengok ke belakang dan mendapati Takao. "Ah, selamat siang Takao-kun."
"Kau juga mau menonton pertandingan hari ini kan. Ayo kita duduk."
Mereka berdua kemudian berjalan ke arah tempat kosong yang tidak begitu jauh dari sana. Mereka duduk di sebelah beberapa anak SMA yang juga menonton. Dari penampilan dan percakapan mereka terlihat bahwa mereka merupakan salah satu tim basket yang juga bertanding di kejuaraan Inter-high.
"Aku beruntung sekali bisa bertemu denganmu Takao-kun."
"Ah, kebetulan Shin-chan menyuruhku untuk masuk dari pintu itu juga. Mungkin karena itu kita bisa langsung bertemu."
'Hm, kebetulan atau bukan ya?'
Saat itu pemanasan sedang dilakukan. Pemain mulai membawa bola dan bergerak untuk memasukan bola ke keranjang. Pada bagian SMA Teikou terlihat kumpulan Rainbow Head di lapangan dan juga Momoi yang berdiri di dekat bangku pemain. Para pemain terlihat tenang tapi di dalam hati mereka ada semangat yang terpancar keluar. Akashi yang saat itu sedang melakukan lay-up secara bergantian dengan pemain lain untuk sesaat mengalihkan pandangannya ke bangku penonton.
'Sepertinya tadi Akashi-kun melihat kemari.'
Salah satu pemain yang sedang menonton mengajak temannya untuk mengobrol.
"Miyaji, kalau tidak salah kau dulu satu sekolah dengan pemain berambut hijau itu kan?"
"Iya, Aku mengenalnya. Ia shooter yang sangat mahir di tim kami walaupun masih kelas satu. Dan sekarang kemampuannya sudah berkembang dengan pesat."
"Ia terlihat seperti pemain yang sangat serius."
"Ia memang sangat serius. Tapi terkadang Ia jadi suka menutupi kepeduliannya sendiri supaya tidak terlihat orang lain. Oleh karena itu, terkadang Ia harus dilempar dengan suatu benda."
"Benar, Miyaji pernah meminta nanas dari tokonya Kimura untuk dilempar."
"Kenapa nanas?"
"Nanas cukup menyakitkan, setelah dilempar ke kepalanya, orang itu akan dipaksa untuk langsung memakannya. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau nanasnya masih hijau."
"Benda itu juga pasti kepunyaannya. Cuma Ia yang akan membawa bunga matahari dalam pot ke pertandingan seperti ini."
"Untuk apa?"
"Yah, semacam benda keberuntungan. Bisa dibilang kalau hidupnya sangat bergantungan dengan ramalan Oha-Asa. Kalau tidak hidupnya akan berantakan untuk satu hari penuh."
Saat itu Takao sedang berbisik kepada Kuroko sambil tertawa.
"Pffft… mereka sekarang sedang membicarakan Shin-chan. Besok Ia akan memberikan bunga itu kepadaku karena Ia tidak bisa merawatnya di rumah."
"Jangan keras – keras Takao-kun. Midorima-kun pasti punya banyak sekali barang di rumahnya, mungkin Ia hanya ingin berbagi denganmu. Ah, pertandingannya sudah dimulai."
Pertandingan basket yang dilakukan SMA Teikou sangat luar biasa. Kuroko tidak menyangka bahwa pertandingan yang sesungguhnya akan seperti ini meskipun Ia tahu bahwa tim sekolahnya hebat. Sambil menonton pertandingan, Kuroko dan Takao juga mendengar komentar dari murid SMA disebelah mereka, dengan begitu mereka akan lebih mengerti dengan pertandingan yang berlangsung.
oOo
SMA Teikou menang dalam pertandingan tersebut dengan skor 105 – 82. Para pemain merasa puas dengan kemenangan yang terus menuntun mereka menuju final. Setelah pertandingan selesai, Kuroko dan Takao bergerak menuju pintu keluar dan keluar dari area stadiun.
"Apakah kau akan langsung pulang sehabis ini? Aku akan menunggu Shin-chan." Takao bertanya kepada Kuroko yang berjalan di sampingnya.
"Iya. Aku tidak punya keperluan lagi."
"Hm, kau tidak mau menunggu mereka? Kau bisa memberikan ucapan selamat untuk kemenangan hari ini."
"Tapi bisa saja kalau sehabis ini mungkin mereka akan mengadakan pertemuan untuk pertandingan selanjutnya. Aku tidak ingin mengganggu."
"Ucapan selamat hanya memakan waktu singkat, mereka pasti punya waktu. Lagipula kurasa mereka akan beristirahat setelah pertandingan."
Tiba – tiba terdengar bunyi dering pesan masuk.
'Kuroko-cchi, Aku senang sekali kau menonton pertandingan kami hari ini. Bagaimana? Tim kami hebat bukan? Apa kau melihat seranganku tadi? Aku pasti terlihat sangat hebat. Kau harus datang lagi di pertandingan selanjutnya. Oh ya, apakah kau ada keperluan sehabis ini? Kalau tidak ada, jangan pulang dulu. Aku ingin bertemu dengan Kuroko-cchi. Karena sekolah libur, Aku jadi tidak bisa bertemu denganmu setiap hari. Jadi jangan pulang dulu, Ok?' (Kise)
'Panjang. Entah kenapa Ia justru membuatku mau pulang.'
'Tetsu-kun ayo kita bertemu sehabis ini. Aku ingin melihatmu.' (Momoi)
'Kuro-chin, Aku sangat lapar dan Aku kehabisan snack. Jadi apa kau bisa membelikannya untuk-ku? Aku akan mengganti uangnnya saat kita bertemu.' (Murasakibara)
'Senang kau bisa datang hari ini Kuroko. Oh ya, Midorima bilang kalau kau sebaiknya menemani Takao.' (Kagami)
'Yo Tetsu. Kau sekarang percaya dengan apa yang kukatakan bukan? Hanya diriku yang bisa mengalahkan diriku sendiri.' (Aomine)
"Ada apa?"
"Kise-kun & Momoi-san memintaku untuk menunggu. Murasakibara-kun memintaku untuk membeli snack."
"Kalau begitu ayo kita tunggu mereka."
'Tetsuya, kau sudah menerima pesan mereka bukan.' (Akashi)
"Uhm… baiklah, tapi kita harus membeli snack dulu."
oOo
Takao dan Kuroko menunggu kelompok Rainbow Head di luar. Mereka sudah membeli snack untuk Murasakibara dan juga minuman untuk yang lain.
"Kuroko-cchiiiiiii!" (KIse)
"Selamat siang semuanya. Selamat karena sudah memenangkan pertandingan hari ini. Itu pertandingan yang hebat." (Kuroko)
"Tetsu-kun, bagaimana kabarmu? Aku senang sekali bisa melihatmu hari ini." (Momoi)
"Aku juga senang sekali bisa melihatmu Kuroko-cchi. Aku sering mengirimu pesan tapi terkadang kau tidak membalasnya. Bagaimana kalau kita selalu bertemu sehabis pertandingan? Berkomunikasi secara langsung dengan tatap muka memang paling baik –ssu."
"Aku baik – baik saja Momoi-san. Murasakibara-kun ini snack-nya dan tanda terima belanjanya. Oh ya, kami juga membelikan minuman untuk kalian. Aku hanya perlu membalas pesan yang kurasa perlu dibalas saja Kise-kun."
"Terima kasih Kuro-chin."
"Semua pesan harus dibalas –ssu."
"Yo Tetsu, apa tadi kau melihat dunk yang kubuat? Hebat bukan."
"Tapi itu hanya bernilai dua poin Aomine. Tembakan yang bernilai tiga poin tentu saja lebih baik." (Midorima)
"Tapi dunk itu lebih keren dan kau tidak selalu bisa menembakkan tiga poin. Tembakan dua poin memiliki kemungkinan yang lebih besar." (Aomine)
"Oleh karena itu, Aku selalu melatih kemampuanku supaya kemungkinannya semakin besar nanodayo. Selain itu, Aku juga selalu meningkatkan keberuntunganku."
"Ya, berkat itu, beredar rumor kalau Tim Teikou selalu menang karena mendapat bantuan dari seorang peramal. Dan hari ini kau menghiasi bangku kita dengan bunga matahari. Apa yang akan kau lakukan dengan bunga itu?" (Kagami)
"Oha-Asa memang membantu kita lewat diriku. Kalian tidak boleh meremehkan Oha-Asa nanodayo."
"Benar, Shin-chan tidak akan pernah meremehkan Oha-Asa nanodayo. Ia akan memberikannya bunga itu padaku dan itu akan menghiasi halaman rumahku." (Takao)
"Midorima-kun hanya ingin membagi peruntungannya dengan Takao-kun nanodayo." (Kuroko)
"Aku ingin kalian berdua diam nanodayo." (Midorima)
"Selamat siang Tetsuya. Apa kau menikmati pertandingan hari ini?"
"Pada hari ini Aku menonton pertandingan yang mengagumkan Akashi-kun."
"Sebaiknya kita segera bergerak untuk pulang. Tidak baik kalau hanya berdiam disini saja." (Akashi)
oOo
Mereka semua mulai bergerak ke arah stasiun. Setelah tiket didapatkan, mereka menunggu kereta untuk tiba.
"Ne Kuroko-cchi, apa kau sedang punya janji sekarang?"
"Aku sedang tidak punya janji apa – apa sekarang."
"Kalau begitu ayo kita bermain –ssu! Kita bisa pergi kemana pun kau mau."
"Maaf Kise-kun tapi Aku akan menolak permintaanmu."
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin pergi berdua saja denganmu."
"Eh… tapi kalau Kuroko-cchi setuju, Aku akan mentraktirmu empat vanilla milkshake di Maji Burger."
'Empat?! Itu cukup mengiurkan tapi…. Tidak!'
"Tolak permintaannya, Tetsuya."
"Maaf Kise-kun tapi Aku bisa membeli minuman itu sendiri."
"Kalau begitu bagaimana dengan sepuluh atau lima belas?!"
'Sepuluh atau lima belas?! Oh, itu merupakan penghematan biaya yang cukup lumayan. Apa sebaiknya kuterima saja ya?'
Akashi segera mendekati Kuroko dan menatapnya dengan tajam. Ia mengeluarkan aura marah dan mengeluarkan suara yang tegas.
"Tetsuya, jika kau menerima tawaran itu Aku akan membuatmu merasakan dua kali lipat penyesalan. Apa kau sanggup menerimanya? Aku juga akan membuat orang yang bersedia mentraktirmu lima belas gelas benar – benar menyesal sampai Ia trauma untuk mengajakmu pergi lagi."
"A…Akashi-kun?"
'Akhirnya keluar juga Sang Iblis Penjaga Setia Kuroko Tetsuya! Ia ditakuti oleh siapapun yang mendekati mangsanya. Benda tajam adalah salah satu alat yang dimilikinya untuk menyerang. Ia tidak pernah gagal, oleh karena itu Ia selalu menang. Namanya adalah Akashi Seijuurou.'
'Kuroko/Tetsu/Tetsu-kun sebaiknya kau menyerah saja. '
"Tapi Kuroko-cchi hanya pergi dengan temannya, Akashi-cchi."
"Aku meragukanmu Ryouta."
"Apa maksudmu dengan memberikanku penyesalan Akashi-kun? Dan kau tidak boleh begitu saja berkata seperti itu pada Kise-kun. Aku tidak suka kalau tiba – tiba kau ingin menyakitiku."
"Aku marah saat kau tidak mau mengikuti keinginanku dan Aku tidak suka kau pergi berdua saja dengan Ryouta. Yang kumaksud dengan 'penyesalan' adalah hukuman bagimu. Kau tidak akan bisa membeli minuman kesukaanmu selama sebulan. Karena kubilang dua kali lipat maka menjadi dua bulan."
"Kau tidak berhak untuk melarangku membeli makanan di Maji Burger."
"Melarang hanyalah salah satu cara, Aku bisa melakukan hal yang lain Tetsuya."
"Aku tidak suka dengan pemikiranmu, tolong jangan lakukan itu lagi. Kereta kita sudah datang jadi sebaiknya kita bersiap – siap."
"Kau tidak akan bisa mengaturku Tetsuya."
Kereta berhenti di depan mereka dan mengeluarkan penumpang yang sudah sampai di stasiun tujuannya. Setelah itu mereka masuk dan mencari tempat yang kosong. Beberapa dari mereka ada yang duduk dan ada juga yang berdiri. Setelah kejadian tadi suasana menjadi kikuk antara Kuroko dan Akashi.
"Jadi, apa Kuroko-cchi mau ikut denganku –ssu."
"Maaf Kise-kun, Aku menolaknya. Aku mau langsung pulang saja."
"Hah… baiklah."
"Kuro-chin~ apa kau mau permen ini? Ini rasa vanilla."
"Aku mau, terima kasih Murasakibara-kun."
"Sama – sama."
Kuroko tersenyum saat menerima permen pemberian temannya yang besar itu. Ia membuka bungkusnya dan memakan permen tersebut. Walaupun kecil tapi permen itu bisa membuat hati kuroko menjadi lebih baik. Kuroko sedang memikirkan kejadian yang baru saja tadi. Ia merasa kalau Ia tidak bisa meninggalkan masalah ini begitu saja dan pulang.
"Akashi-kun, Aku ingin berbicara denganmu."
"Baiklah, kau ingin bicara dimana? Aku juga ingin membicarakan sesuatu."
"Uhm, bagaimana kalau di dekat stasiun yang menuju rumah Akashi-kun saja?"
"Aku lebih suka kalau tempatnya di taman dekat rumahmu saja."
"Eh? Apa itu tidak terlalu jauh dengan rumahmu?"
"Jaraknya tidak masalah. Dengan begitu Aku bisa sekaligus mengantarmu pulang."
"Bukankah sekarang kita sedang bertengkar Akashi-kun? Dan kau masih mau mengantarku pulang?"
"Aku rasa permasalahan yang tadi sudah selesai. Aku hanya harus membuatmu lebih penurut lagi denganku. Dan bukan karena Aku marah padamu lalu Aku tidak akan pulang bersamamu lagi."
'Kenapa bisa begitu?'
"Tenang saja, suatu saat nanti Aku akan membuatmu mengerti."
"Tapi Aku masih marah dengan Akashi-kun."
"Hee… Aku ingin sekali merekam ekspresimu yang sedang marah."
"Kau tidak boleh menertawakan diriku yang sedang marah. Kau bisa membuatku bertambah marah."
Suasana antara Akashi dan Kuroko akhirnya menghangat kembali. Walaupun mereka berdua masih beradu argumen mengenai Kuroko yang marah tapi tidak terasa aura menegangkan diantara keduanya.
"Hm, sekarang mereka seperti berada di dalam dunia mereka sendiri." (Kagami)
"Tetsu sudah semakin terbiasa dengan Akashi dan Akashi terus mendekatinya. Mungkin suatu saat Tetsu akan benar – benar menempel dengan Akashi." (Aomine)
"Bukan –ssu. Akashi yang akan benar – benar menempel dengan Kuroko-cchi. Keimutan yang dimiliki Kuroko-cchi telah membuat sisi possessive Akashi semakin kuat. Hal ini membuatku susah." (Kise)
"Kita tidak boleh meremehkan Tetsu-kun. Ia sudah berhasil menangkap Akashi-kun. … Hah~ kalau kau bisa dekat dengannya, kau pasti akan tertarik dengannya. Kalau saja di kelompok kita ada satu perempuan lagi mungkin ia juga akan tertarik dengan Tetsu-kun." (Momoi)
/ Apa kalian juga setuju dengan pendapat Momoi, para pembaca? /
"Kurasa itu hanya seleramu saja yang berbeda Satsuki." (Aomine)
oOo
Satu per satu dari mereka mulai turun di stasiun yang paling dekat dengan rumah mereka. Akashi dan Kuroko turun bersama – sama lalu menuju ke taman dekat rumah Kuroko. Mereka menuju ke bangku taman yang kosong dan duduk disana lalu memulai pembicaraan.
"Akashi-kun kau tidak boleh melarangku untuk pergi dengan temanku. Kau juga tidak boleh langsung memberikanku hukuman karena kau tidak menyukainya."
"Itu adalah hukuman untuk mendisiplinkanmu. Aku melarangmu pergi dengan Ryouta karena keinginannya itu melebihi seorang teman dan apa yang ingin dilakukannya itu menghalangiku."
"Kurasa kau memikirkan hal yang berlebihan. Kise-kun hanya ingin bermain denganku. Memangnya Ia bisa menjadi sesuatu yang melebihi teman?"
"Tidak bisa, Ia hanyalah temanmu. Karena itu Aku menghalanginya untuk melewati batasnya sendiri."
'Apa maksudnya dengan batas?'
"Kurasa masalah tadi sudah selesai dan jelas, jadi kita tidak usah membahasnya lagi. Tetapi kau tetap akan mendapatkan hukuman Tetsuya."
"Heh? Kenapa?"
"Kau menghiraukanku saat Aku mengantarmu pulang dari makan bersama. Kau terlalu terpaku dengan pikiranmu dan tidak mendengarkanku sama sekali. Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh yang berbicara sendiri. Aku ini bukan seseorang yang bisa kau hiraukan seenaknya."
"Eh, benarkah? Kalau begitu Aku minta maaf karena sudah menghiraukanmu."
"Permintaan maaf diterima, tetapi kau akan tetap mendapatkan hukuman. Kau akan menjadi pengikutku selama satu minggu. Dalam selang waktu itu Aku akan membuatmu lebih mengenalku juga patuh dan setia."
"Kenapa begitu? Aku tidak mau dan Aku ini bukan anjing."
"Aku ini absolute. Kalau kau tidak menerimanya, kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih berat dari ini dan tentu saja Aku akan memaksamu. Jadi jangan melawanku."
'Kenapa bisa jadi begini?' / Karena disini Aku yang menulis jalan hidupmu Tetsuya XD /
"Besok datanglah ke sekolah. Seperti biasa kami akan berlatih di gymnasium karena tidak ada pertandingan besok. Untuk waktunya, Aku akan mengirimkannya lewat email."
"Untuk apa Aku datang ke sekolah? Apa kau akan menyuruhku lari keliling lapangan sebanyak dua puluh kali?"
"Kau bukan anggota club basket jadi Aku tidak akan menyuruhmu itu. Tetapi Aku akan menerima saranmu untuk lain waktu."
'Tolong jangan diterima!'
"Kau datang terlebih dahulu lalu Aku baru akan memberitahukannya. Jadi kau bisa menantikan hari esok dengan bersemangat. Pembicaraan ini kita sudahi dulu saja, sudah waktunya kau untuk pulang."
'Mana ada yang akan semangat. Jadi Aku harus menerimanya begitu saja?' "…."
"Baiklah, kita sudahi saja Akashi-kun. Ayo kita pulang."
Akashi dan Kuroko lalu bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah rumah Kuroko.
Pada malam itu, Kuroko berusaha untuk memikirkan cara untuk menghalangi rencana Akashi walaupun Ia tidak tahu akan seperti apa itu. Kuroko tidak mau begitu saja menerima keputusan Akashi.
.
.
.
Pasti pada menantikan hukumannya ya?
*Maaf di chapter ini belum. Soalnya Author dan Akashi butuh waktu buat menyiapkan hukuman buat Tetsuya XD. Waktu itu Author buat chapter ini sekalian nyari ide buat hukumannya. Jadi mohon tunggu sebentar.
Author sudah membuat 3 chapter (Panjang amaaaaaaat!) buat "Tetsuya The Akashi's Follower". Di dalamnya ngak hanya ada bagian hukuman buat Tetsuya (ngak terlalu banyak malah), soalnya Akashi juga mau pendekatan lebih lanjut. Jadi nantikan chapter selanjutnya! Makasih!
*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.
*Jangan lupa reviewnya, saran & kritik pasti diterima
