Kuroko no Gakuen
Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.
Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC
/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./
'…..' (Pikiran karakter)
"….." (Pembicaraan karakter)
/…/ (Pesan penulis)
Guest1: Terima kasih buat sarannya, maaf kalau formatnya ngak pas. Author akan berusaha membuat bagian dialog menjadi lebih jelas dan lebih dijabarkan. Author memang lebih sering baca komik ketimbang novel dan baru mulai baca fanfiction beberapa bulan lalu.
sejalahzy: Sebenarnya yang possessive itu author-nya. Maunya author adalah Kuroko jadi sama Akashi dan mereka berdua jadi milik author. Tapi tenang, mereka berdua tetap milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Makasih reviewnya buat chapter 8 : Guest1, sejalahzy, AulChan12, Guest2, sareyerana, XL-SasuHinaGaa, dan versetta. Makasih lagi buat yang baca, follow, dan favorite cerita sebelumnya!
Warning: Chapter ini penuh dengan Akashi dan Kuroko tapi tidak romantis, semoga menikmati!
Chapter 9 : Rasanya jadi Pengikutmu (Asam sedikit Manis)
Hari Pertama
Pada siang hari yang cukup terik itu Kuroko Tetsuya berjalan kearah SMA Teikou. Ia tidak tergabung dalam club apapun dan juga tidak tergabung dalam OSIS atau kepanitiaan apapun. Jadi, untuk apa ia datang ke sekolah? Ia tidak berniat belajar ataupun mengerjakan PR bersama. Ia datang hari ini untuk menerima hukuman yang baru saja diberitahukan kemarin. Kuroko berusaha untuk memikirkan cara untuk menghalangi rencana tersebut tetapi belum terpikirkan suatu ide yang bisa dilakukan.
Setelah sampai di gerbang sekolahnya Ia segera bergerak ke gymnasium dan menemukan tempat itu sudah kosong.
'Oh, latihannya sudah selesai ya.'
Kuroko kemudian mengambil handphone-nya dan mulai mengetik pesan kepada Akashi kalau Ia sudah sampai di gymnasium.
(30 detik kemudian)
"Halo Tetsuya." Akashi dengan pakaian olahraganya muncul di belakang Kuroko.
"…. Halo Akashi-kun. Apa kau baru saja selesai latihan?"
"Iya, Aku baru saja dari ruang ganti untuk mengambil barangku. Sekarang ikuti Aku!"
"Kita mau kemana Akashi-kun?"
Kuroko berjalan sambil mengikuti Akashi.
"Kita akan pergi tempat club Memanah."
"Untuk apa?"
"Kau akan tahu kalau sudah sampai disana."
Mereka berdua lalu berjalan ke tempat club Memanah. Hari itu tidak ada latihan yang dilakukan di tempat tersebut, oleh karena itu tidak ada siapa – siapa disana. Mereka berdua masuk dengan kunci yang sudah dibawa Akashi sebelumnya. Akashi menyuruh Kuroko untuk menunggunya di tempat latihan, sementara Akashi-kun pergi ke suatu ruangan. Kuroko lalu masuk dan duduk sambil memandangi sasaran memanah yang tertempel di dinding yang ada di seberangnya.
Beberapa menit kemudian Akashi keluar dengan pakaian latihan anggota club Memanah sambil membawah busur panah, sejumlah anak panah, dan sarung tangan khusus untuk memanah. Ia juga membawa tas di punggungnya.
'Eh, apa yang ingin dilakukannya? Hm, pakaian itu terlihat cocok dengannya dan sepertinya Ia sudah biasa memakai pakaian tersebut.'
Akashi meletakkan barang – barang yang dibawanya kemudian mengeluarkan benda lain dari tas tersebut. Benda itu adalah papan tipis putih berbentuk seperti gelang dengan diameter 10cm dan gelang tersebut cukup lebar. Pada benda itu melekat kain panjang yang bisa diikatkan ke benda lain. Akashi mengeluarkan sejumlah benda yang sama lalu bergerak ke arah Kuroko. Ia memintanya untuk mengikuti Akashi ke dinding seberang yang dijadikan sebagai sasaran panah. Akashi meminta Kuroko untuk berdiri diam membelakangi dinding. Kemudian Ia mengikatkan kain pada gelang – gelang yang Ia sudah disiapkan itu di kaki, tangan, dan badan Kuroko. Sekarang di bagian samping kaki, badan, dan tangan Kuroko terdapat lingkaran putih yang terpasang secara vertikal.
/ Mau kasih gambarannya tapi disini tidak bisa, semoga tidak bingung /
"Akashi-kun, kenapa benda ini dipasangkan ke badanku?" Wajah Kuroko sedikit terlihat cemas.
"Aku membutuhkanmu untuk berlatih."
"Berlatih apa?"
"Tentu saja memanah. Untuk itu Aku membawamu ke tempat ini. Tetsuya pegang ini!"
Benda yang dipegang Kuroko adalah gelang lain yang diberi tangkai sepanjang 15cm agar bisa dipegang dengan mudah. Kemudian Ia memakaikan bando dengan gelang papan putih yang dipasang secara vertikal diatasnya pada kepala Kuroko. Setelah selasai memasang gelang yang ada di Kuroko, Akashi pergi ke samping dinding dan menarik kayu yang lebarnya jauh melebihi tubuh Kuroko dan berwarna hitam dengan tebal 3cm yang mempunyai roda kecil di bawahnya. Ia menaruh kayu tersebut di belakang Kuroko dan mengunci pergerakan rodanya.
/ Semoga para pembaca bisa membayangkan dan mengerti maksud Author. (^.^) /
"Nah Tetsuya sekarang rentangkan tanganmu lurus ke samping dan buka kakimu selebar ini. Tegakkan badan dan juga kepalamu. Kau akan bertahan di posisi ini untuk beberapa waktu sampai Aku beri tanda selesai"
"Akashi-kun, perasaanku tidak enak."
"Kau tidak usah tegang, santai saja. Tetsuya akan menjadi boneka sasaran panahku. Gelang – gelang ini akan menjadi sasaran tembakku jadi kau tidak perlu takut akan terluka." Akashi berkata dan memberikan senyuman.
"Akashi-kun Aku tidak mau jadi sasaran tembakmu."
"Apa yang Aku lakukan ini akan melatih kepercayaanmu kepada pemikiran, kemampuan, dan diriku sendiri. Aku tidak akan mengikatmu pada kayu ini jadi kau bisa lari dari sini. Tetapi kau akan tetap menjadi boneka sasaranku jadi Aku akan mengejarmu kalau kau lari. Apa kau mengerti Tetsuya?"
"Kenapa kau melakukan ini? Bagaimana kalau panahnya meleset?"
"Aku sudah pernah bilang sebelumnya kalau Aku akan mendisplinkanmu. Sebagai tahap awal kau perlu kepercayaan lebih kepadaku. Aku sudah mendapatkan tingkat keberhasilan memanah yang tinggi jadi kau tidak perlu khawatir. Sekarang sebaiknya kita berhenti berbicara dan lanjut ke tahap berikutnya. Aku akan memberimu tanda saat Aku sudah siap." Akashi berbicara dengan tenang dan tempo yang teratur. Tapi terdengar dengan jelas ada suatu penekanan yang mempertegas maksudnya.
Akashi lalu pergi berjalan ke tempat seberang dinding dan memposisikan dirinya sejajar dengan Kuroko. Ia memakai perlengkapan memanahnya dan memberi tanda ke Kuroko kalau Ia sudah siap menembak.
'Aku tidak pernah berpikir kalau Aku akan ada di situasi seperti ini. Bagaimana bisa Ia memikirkan ini semua? Kalau Aku bergerak nanti bisa jadi salah sasaran, kalau lari nanti dikejar. Aku tidak mau berlari seperti kelinci yang ditembaki anak panah olehnya.'
Satu panah melesat dan menancap ke pusat gelang sasaran yang ada di tangan kanan Kuroko.
'A…Akashi-kun, panahnya tepat sasaran tetapi itu hanya berjarak beberapa cm dari tanganku. … Kurasa yang bisa kulakukan cuma diam, berdoa, dan percaya padanya.'
Kuroko lalu menutup matanya dan berdiri terpaku dalam posisi itu. Sesekali Ia akan membuka matanya untuk memeriksa dan melihat Akashi. Ia mendengar anak panah menancap lagi di dekat kaki kirinya. Kuroko berusaha menenangkan dirinya tetapi setiap suara yang ditimbulkan oleh panah yang menancap membuat jantungnya terus berdebar – debar. Satu per satu panah dilepaskan. Saat yang paling menegangkan adalah saat dimana suara anak panah yang menancap di dekat telinga Kuroko.
Setelah beberapa saat, Kuroko merasa kalau tembakan panah sudah berhenti dan perlahan – lahan mulai membuka matanya. Di seberangnya terlihat Akashi yang bersiap untuk menarik busurnya, menahan posisinya, lalu melepaskan anak panah tersebut. Panah tersebut menancap ke sasaran yang ada di kepala Kuroko. Kemudian Akashi menurunkan busurnya, mundur, meletakkan busurnya, dan mulai melepas sarung tangannya. Ia melakukan semua itu dengan gerakan yang tenang dan anggun. Akashi lalu berjalan ke tempat Kuroko.
'Bagaimana bisa kau bersikap seperti itu saat kau baru saja bermain dengan keselamatan diriku?!' Sedikit kerutan muncul di dahi Kuroko.
Kuroko lalu secara perlahan menggerakan kepalanya dan melihat sasaran yang terpasang di tubuhnya. Semua sasaran ternyata sudah berhasil di tembaki anak panah dan tidak ada satu pun yang meleset.
'Semua anak panah mengenai sasaran, apa dia pernah melakukan ini kepada orang lain?'
"Sekarang bagaimana perasaanmu Tetsuya?"
"Aku ingin memukul Akashi-kun. Apa Aku boleh melakukannya?"
"Hee, jadi sekarang Tetsuya marah denganku, tetapi tadi kau cukup tenang. Apa kau sekarang sudah percaya dengan diriku? Untuk mencapai keberhasilan, Aku mempersiapkan segalanya dan memikirkannya dengan matang. Aku juga mengasah mental dan kemampuanku untuk berbagai kondisi, bahkan Aku juga harus bersikap tetap tenang saat orang yang kusayangi sedang dalam bahaya." Akashi berkata dengan senyum percaya diri tetapi tetap menjaga ketenangannya.
"Tapi kau sendiri yang membuat bahaya itu. Apa kau pernah melakukan ini kepada orang lain?"
"Belum pernah, Aku hanya pernah melakukannya dengan boneka sungguhan. Kau beruntung bisa jadi yang pertama. Dan akhirnya kau sadar kalau kau adalah orang yang kusayangi."
"Eh?" Kuroko menatap mata Akashi dan mendengarkan lagi kata – kata tersebut di kepalanya.
"…"
"Ok, ikatannya sudah dilepas. Kau bisa bergerak dari posisimu sekarang. Regangkan badanmu yang tegang itu."
Kuroko mulai berjalan dari posisinya dan mulai merasakan badannya yang kaku serta tangannya yang bergetar. Akashi kembali ke seberang dan mengambil tasnya. Kuroko memandang lagi kayu hitam yang sudah ditancapi anak panah. Ia merasa bersyukur sudah melewati saat – saat seperti tadi.
oOo
Beberapa saat kemudian Akashi kembali dengan tasnya dan mulai mengeluarkan benda yang lain. Benda itu sepertinya adalah benda tipis seukuran gunting yang dibalut dengan kain atau kantung berbahan kain. Gulungan kain tersebut dibuka dan ternyata isinya adalah sejumlah pisau kecil tanpa gagang yang seukuran dengan pisau lipat. Akashi membukanya sambil mengeluarkan senyuman pada pisau tersebut. / Author terinspirasi dari pisau milik salah satu karakter dengan pengisi suara yang sama dengan Akashi Seijuurou di anime sebelah. /
"Ini adalah salah satu jenis pisau koleksiku. Aku tidak pernah memperlihatkan koleksiku pada siapapun. Kau beruntung bisa jadi yang pertama."
'Kau tidak boleh membawa benda berbahaya seperti itu ke sekolah!'
"Tunggu disini Tetsuya."
Akashi lalu mendorong kayu hitam ke bagian samping dinding dan mengambil beberapa barang. Kuroko tahu kalau sebaiknya Ia lari dari tempat tersebut tapi kakinya masih terasa kaku akibat kegiatan yang sebelumnya. Jadi Ia mulai meregangkan kakinya untuk menghadapi situasi berikutnya. Akashi kembali dengan membawa tumpukan kayu yang cukup tebal berupa lingkaran dan persegi panjang. Setelah Akashi sampai, Kuroko bisa melihat dengan jelas kalau kayu tersebut memiliki semacam tali seperti tali di tas dan ada pengaitnya sehingga bisa dipasangkan ke benda lain.
"Sekarang kau akan memakai ini."
"Akashi-kun, ini benda apa?"
"Ini adalah sasaran lempar pisau."
'Kenapa Aku memakainya? Apa yang tadi belum cukup?'
Akashi memasangkan kayu berbentuk persegi panjang di kaki dan badan Kuroko. Pada bagian kepala Ia memakai helm pekerja konstruksi dengan pengait dan diatasnya terdapat kayu berbentuk lingkaran. Kayu tersebut lebih tipis dari kayu yang lain dan dipasang dengan posisi vertikal. Lalu Ia menyuruh Kuroko memegang dua kayu sisanya yang berbentuk lingkaran seperti memegang perisai. Walaupun kayu – kayu itu cukup tebal, ternyata kayu tersebut cukup ringan untuk dikenakan di tubuh. Saat ini Kuroko terlihat seperti penjaga gawang pada permainan hoki yang memegang perisai dan memakai helm aneh.
"Aku akan melempar pisau – pisau ini padamu yang bergerak. Aku akan mengikutimu jadi kau bisa bergerak sesuka hatimu bahkan berlari. Tetapi Aku sarankan sebaiknya kau hanya bergerak ke kanan atau ke kiri di dekat dinding ini."
"A…Akashi-kun kau serius ingin melemparku dengan pisau tersebut?"
"Aku serius. Demi keselamatanmu, Aku tidak boleh main – main. Dari kegiatan ini kau akan belajar untuk tidak meragukan keputusan dan tindakanku. Ayo kita mulai." Akashi benar – benar mengeluarkan ekspresi yang serius.
Akashi segera mengambil jarak dari Kuroko dan memposisikan dirinya sejajar dengan Kuroko. Kuroko hanya bisa terdiam di tempat karena bingung dengan situasi yang ada.
"Bergerak Tetsuya!"
"Eh?" Mata Kuroko bergerak ke kanan dan kiri sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Kuroko mulai bergerak perlahan ke arah kanan.
"Bergerak lebih cepat lagi!"
Akashi segera melempar satu pisau ke kayu yang ada di tangan kanan Kuroko. Tangan Kuroko sedikit tersentak ke belakang menerima dorongan dari pisau tersebut. Melihat hal ini Kuroko segara bergerak lebih cepat ke samping kanan. Setelah itu Akashi mengikutinya dan melemparkan beberapa pisau ke badan dan kaki Kuroko. Setelah terpojok di kanan, Kuroko mulai setengah berlari ke kiri.
"Lebih cepat lagi Tetsuya!"
Kuroko kembali merasakan dorongan dari pisau itu di tubuh, tangan, dan kakinya. Jantungnya berdetak dengan kencang dan Ia merasa panik dengan situasi yang ada. Entah berapa banyak pisau yang tersimpan di balik pakaiannya. Kuroko berhenti dan berteriak ke Akashi.
"Akashi-kun, Aku tidak bisa melanjutkan ini. Kau sudah keterlaluan!"
"Aku tidak akan berhenti! Jika kau berhenti, Aku akan membuat kegiatan ini berlangsung terus sampai kau tidak ragu – ragu lagi."
"…" 'Aku takut!'
"Jangan takut! Lemparanku tidak akan meleset."
Akashi kembali melempar pisaunya ke arah kepala dan badan Kuroko. Kuroko merasa kalau Ia tidak punya pilihan lain lagi untuk menghindar. Oleh karena itu, Ia mulai menenangkan dirinya dan bertekad untuk lari dari Akashi. Kuroko menarik napas panjang, menghembuskannya, lalu bersiap – siap. Ia bergerak ke kiri lalu bergerak maju ke arah seberang.
"Oh, jadi kau bermasud untuk melawanku dan lari. Aku terima tantanganmu." Senyuman terbentuk di wajah Akashi.
Akashi segera menghalangi Kuroko untuk maju lagi dan melemparkan pisau ke kakinya. Kuroko segera mengubah arah lajunya untuk menghindar. Bisa dibilang Kuroko seperti berlari zig – zag dengan Akashi beberapa meter di depannya. Karena tidak bisa lepas dari Akashi, Kuroko lalu langsung berlari tepat menuju Akashi. Ia bermaksud menggunakan perisai kayunya untuk membuat Akashi mundur ke belakang. Kuroko akan membuatnya meleset dan merasa yakin kalau Akashi pasti bisa menghindar.
'Akashi-kun hanya akan mengincar kayu ini. Dan Aku sudah mengakui kemampuannya, Ia pasti tidak akan meleset. Tetapi Aku tidak suka cara seperti ini.'
Kuroko mengarahkan tangan kanannya ke arah Akashi untuk membuatnya mundur. Tetapi Akashi menangkis perisainya dengan tangan kosong dan langsung mencabut dua pisau sekaligus dari kayu di tubuh Kuroko. Akibatnya Kuroko sedikit maju ke depan dan sedikit kehilangan keseimbangan. Akashi segera menahan tubuhnya dan mendorongnya mundur beberapa langkah.
"Apa?!"
Setelah berhenti Akashi mulai menjaga jarak lagi dan bersiap – siap untuk melmpar pisau lagi. Posisi Kuroko sekarang tidak begitu berbeda dengan posisinya diawal. Dia sudah berusaha tapi kedaannya tidak jauh berbeda.
'Aku tidak akan menyerah!' Terlukis keseriusan dengan sedikit kecemasan di wajah Kuroko.
Kuroko terus berusaha untuk membuat Akashi mundur tapi serangannya selalu tidak berhasil. Akashi terus melempar pisau kepadanya dan terkadang mencabut pisau yang sudah menempel di kayu tersebut. Kejadian tersebut terus berlangsung sampai beberapa waktu. Karena kewalahan, Kuroko akhirnya kembali ke dekat dinding. Sekarang Kuroko kembali bergerak ke arah samping lagi. Tidak lama kemudian Akashi menghentikan serangannya.
/ Maaf, adegannya jadi berubah ke versi ninja /
"Ok, kita sudah selesai."
'Hah… hah… akhirnya selesai juga. Akashi-kun baru saja selesai latihan basket kan? Kenapa Ia seperti tidak ada habisnya.'
"Kau perlu meningkatkan stamina, Tetsuya. Itu supaya kau bisa tetap menjaga kesehatanmu meskipun melakukan kegiatan yang berat."
Akashi bergerak mendekati Kuroko dan mulai melepas kayu – kayu tersebut. Kuroko langsung mengambil posisi duduk sambil meluruskan kakinya. Kemudian Akashi mencabut pisau – pisau yang ada dan menaruhnya kembali di tempat kain, lalu menggulungnya dan memasukkan kedalam tas. Ia mengembalikan kembali kayu – kayu itu di bagian samping dinding.
oOo
Akashi kembali ke Kuroko dengan membawa papan berbentuk lingkaran dan papan kayu lebar berwarna hitam yang tadi digunakan di belakang Kuroko. Panah – panah yang menancap sudah dicabut. Ia kemudian mencari benda yang ada di tasnya dan mengeluarkan kotak aluminium berbentuk balok persegi panjang. Ia membuka kotak tersebut dan mengeluarkan panah dart. Papan berbentuk lingkaran itu Ia pasang di papan kayu hitam tersebut. Ternyata papan lingkaran itu adalah papan permainan dart. Kemudian Akashi mengunci roda pada papan kayu hitam. Lalu Ia berjalan mendekati Kuroko.
"Sekarang Aku akan mengajarkanmu cara melemparkan panah dart ini."
"…." 'Ia tidak menjadikanku sebagai sasarannya?'
"Untuk yang ini tidak. Kau akan menjadi pemain, sama sepertiku tadi."
Akashi kemudian mengajarkan cara melempar panah dart tersebut. Akashi mengarahkan posisi yang tepat dan mengatur tangan Kuroko dari belakang. Perlahan – lahan terlihat sedikit semburat kemerahan di wajah Kuroko.
"Akashi-kun, apa kau perlu memelukku seperti ini. Ini pasti terlihat memalukan."
"Aku memang perlu memelukmu. Dengan begini Aku bisa merasakan sedikit detak jantungmu. Kau masih merasa tegang akibat kegiatan yang tadi, bukan?"
"I…iya." Kuroko merasa kalau Akashi sedikit tersenyum di belakangnya, akibatnya wajah Kuroko jadi semakin merah.
"Sekarang, lemaskan badanmu, ambil napas panjang, dan hembuskan secara perlahan. Bebankan sedikit berat tubuhmu ke belakang. Aku akan menahan tubuhmu."
"Pegang panah itu disini lalu luruskan lenganmu. Saat melemparnya, gunakan kekuatan yang ada di lengan atas dan lengan bawahmu. Jangan hanya kekuatan dari tanganmu. Sekarang lempar itu."
Kuroko mulai menghiraukan keadaannya dan melemparkan panah tersebut. Panah menancap dibawah papan sasaran.
"Ah, Aku gagal."
"Ini masih awal. Sekarang lemaskan tanganmu. Setelah ini lempar lagi dengan lebih kuat."
Akashi kemudian meremas – remas lengan serta tangan kanan Kuroko untuk mengurangi ketegangannya. Kuroko kemudian melempar lagi panah tersebut dan panah tersebut menyentuh bagian bawah papan sasaran.
"Lihat, lemparanmu jadi lebih kuat."
"Oh, benar." 'Hah… kurasa Aku lebih tenang sekarang.'
Akashi melepaskan pelukannya dari Kuroko. Sekarang ekspresi wajah Kuroko kembali menjadi datar seperti biasanya. Akashi menyuruhnya untuk melempar lagi dan mengatur akurasi dari tembakannya. Lama – kelamaan kemampuan Kuroko membaik walaupun lemparannya masih banyak yang keluar sasaran.
"Sekarang kau akan bermain denganku. Aku akan berdiri di depan papan sasaran ini. Lihat, tingginya sama dengan kepalaku. Sekarang kau akan menembakkan panah dart itu ke sasaran ini dengan diriku di depannya. Aku akan menghindari panah tersebut jadi kau tidak perlu ragu untuk melemparnya."
"Apa?" Kuroko merasa kaget mendengar perkataan Akashi. Ia memperhatikan wajah itu selama beberapa saat dan hanya terdapat wajah yang tenang.
"Dengan begitu kau akan menunjukan kepercayaanmu dan ketidakraguanmu kepadaku.
"Tidak bisa! Aku tidak akan menurutimu." Mendengar hal ini, Akashi mengerutkan dahinya dengan mengeluarkan suara yang tegas.
"Tetsuya, kau sekarang tahu betul bukan, apa yang akan terjadi padamu kalau kau melawanku? Hari ini Aku sedikit membatasi hukumanmu dan Aku tidak akan membatasinya terus. Kalau kau terus menekanku, Aku tidak akan ragu menghukummu dengan lebih berat."
Kuroko lalu maju ke depan Akashi dan memukul pipi kanannya. Akashi lalu terdorong ke belakang tetapi tidak terjatuh. Matanya langsung bergerak memandang Kuroko.
"Aku tidak mau melemparnya! Walaupun yang Aku incar adalah papan sasaran tersebut tapi yang terlihat olehku adalah Akashi-kun. Itu sama saja dengan menyuruhku untuk melukaimu. Aku sudah pernah mengatakan sebelumnya kalau Aku tertarik dengan Akashi-kun yang tertarik denganku. Aku tidak akan akan mau melukai orang yang kuminati. Aku ini bukan Akashi-kun!"
Akashi memandangi wajah serius Kuroko selama beberapa saat. "Tapi tadi kau baru saja memukulku Tetsuya."
"Akashi-kun itu kuat. Pukulan seperti itu takkan mempan denganmu. … Akashi-kun bisa menggunakan cara seperti tadi karena itu sesuai dengan pribadimu sendiri, tetapi cara itu tidak sesuai denganku. Aku tidak mau berkembang dengan cara seperti itu, meskipun itu adalah hukuman yang Aku harus terima."
"Jadi maksudmu, kau tidak akan selalu menuruti perintahku?"
"Aku akan menurutinya saat itu sesuai dengan kepribadianku. Akashi-kun tertarik dengan diriku yang seperti itu, bukan?"
"…." Akashi diam sejenak dan Ia merasa kalau Ia ingin mendengar kata – kata itu sekali lagi.
"Baiklah, saat ini Aku akan mebiarkanmu tetapi Aku akan tetap membalas pukulanmu. Tutup matamu! Kau pasti akan terpental ke belakang."
Kuroko lalu menutup matanya dan bersiap – siap menerima pukulan yang keras.
Beberapa detik kemudian Kuroko merasa kalau ada sesuatu yang lembut menyentuh dan menekan pipi kanannya. Ia juga merasakan hembusan napas seseorang. Kuroko lalu perlahan membuka matanya dan tersadar kalau Akashi mencium pipinya.
"Akashi-kun?! Bukankah kau mau menyerangku?" Mata Kuroko sedikit membesar dan ada sesuatu yang hangat mulai muncul.
"Aku sudah menyerangmu. Kau bisa merasakan sendiri wajahmu yang memerah itu. Aku yakin warnanya lebih merah dari pukulanmu di wajahku."
Kuroko menyentuh pipinya dan Ia merasa kalau wajahnya menghangat.
"Aku merasa malu jadi, tolong jangan lakukan itu lagi. Sekarang hanya ibu dan nenek yang terkadang melakukan itu."
"Salah, sekarang hanya ibu, nenek, dan Akashi-kun yang melakukan itu." (Akashi)
"…."
Akashi mengeluarkan senyumannya sambil melihat Kuroko yang masih menundukan kepalanya.
"Ayo berlatih lagi Tetsuya, kemampuanmu masih kurang."
oOo
Kuroko dan Akashi sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Kuroko. Matahari sudah mengeluarkan warna jingga dan siap untuk terbenam.
"Akashi-kun, kapan kau menyiapkan semua alat – alat itu? Kau baru saja mengatakannya kepadaku kemarin?"
"Aku sudah menyiapkannya semenjak acara makan bersama. Aku terus – menerus memikirkan kira – kira seperti apa ekspresi yang akan kau keluarkan." Akashi tersenyum sambil mengingat kembali kegiatan di tempat latihan club Memanah.
"Bagaimana dengan tempat latihan memanah?"
"Aku meminta izin langsung ke penanggung jawab dan ketua club Memanah."
"Alasan apa yang kau berikan?"
"Aku hanya bilang kalau Aku ingin berlatih untuk masa depan SMA Teikou."
Kuroko langsung menghadap ke depan lagi dan mengeluarkan napas panjang. "Kau pasti akan dihukum kalau mereka tahu latihan seperti apa yang kau lakukan."
"Tenang saja, semuanya akan berjalan dengan lancar. Tetsuya, jangan lupa besok kau harus pergi ke sekolah lagi."
"…. Baiklah, Akashi-kun."
'Tolong jangan pikirkan yang aneh – aneh lagi Akashi-kun.'
.
.
Bagaimana dengan chapter ini? Pasti bingung ya.
Ini semacam pembukaan jadi dibuat panjang. Di chapter selanjutnya, tidak akan seperti ini. Hukuman ke Kuroko tidak akan dijelaskan secara mendetail lagi.
*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.
*Jangan lupa reviewnya, saran & kritik pasti diterima
*Chapter selanjutnya akan di-publish dalam waktu dekat
