Kuroko no Gakuen
Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.
Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC
/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./
'…..' (Pikiran karakter)
"….." (Pembicaraan karakter)
/…../ (Pesan penulis)
Chapter 10 : Rasanya jadi Pengikutmu (Asam Manis Seimbang)
Hari Ketiga
Hari ini adalah hari ketiga dimana Kuroko Tetsuya akan menjadi pengikut dari Akashi Seijuurou. Kemarin Akashi memerintahkan Kuroko untuk bertugas sebagai asisten manager sementara dalam tim basket. Kebetulan ada dua orang manager yang sakit dan saat itu hanya Momoi saja yang bisa bertugas. Club basket Teiko mempunyai tiga kelas dan ketiganya terus melakukan latihan saat liburan musim panas. Momoi sedang sibuk mempersiapkan data – data pemain untuk pertandingan sehingga Kuroko harus melakukan pekerjaan fisik untuk membantu dalam latihan club di ketiga kelas tersebut.
Setelah semua latihan selesai, Akashi membawa Kuroko ke kolam renang yang ada di bagian belakang sekolah. Disana Akashi kembali menguji keberanian, kesabaran, ketabahan, dan kerasnya kepala Kuroko untuk tidak menuruti semua perintah Akashi. Setelah itu Akashi kembali memberinya latihan lempar dart.
Kuroko sekarang percaya bahwa Akashi itu benar – benar tidak normal dan tidak bisa menganggapnya teman yang sama dengan yang lain lagi. Kuroko bahkan tidak tahu harus menganggapnya apa. Ini adalah situasi yang baru pertama kali dia hadapi. Hari kedua berhasil dilewati dengan selamat dengan badan yang lelah. Kuroko berpikir bahwa Akashi bisa membuat club-nya sendiri dengan program – program yang dimilikinya.
oOo
Pada hari ketiga, Tim Teikou mempunyai pertandingan di pagi dan siang hari. Kuroko juga ikut dengan mereka sebagai asisten manager karena manager – manager lain belum bisa kembali. Ia tidak merasa keberatan dengan hal itu karena Ia bisa membantu Momoi dan yang lain secara tidak langsung. Berkat itu, Kuroko juga berkenalan dengan kapten Tim Teikou, Nijimura Shuuzo. Ia bisa mengatur kelompok Rainbow Head dengan baik.
Seperti biasa pertandingan hari ini dimenangkan oleh Teikou dengan perbedaan minimal 25 poin. Setelah kedua pertandingan selesai, mereka kembali ke sekolah untuk melakukan evaluasi dan melihat data – data yang sudah disiapkan Momoi untuk pertandingan selanjutnya. Formasi dan strategi yang akan dilakukan juga dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Saat pertemuan selesai, langit telah memancarkan warna jingga dan matahari mulai bersembunyi di Barat. Akashi kembali mengantar Kuroko pulang ke rumahnya walaupun Kuroko menolaknya karena merasa Akashi pasti sudah lelah.
"Tetsuya, besok Aku akan menginap di rumahmu selama tiga malam."
"Apa!" Kuroko merasa sedikit kesal karena Ia merasa kalau Akashi suka sekali mengatakan hal – hal yang membuatnya kaget dengan wajah yang tenang.
"Aku mempunyai hari libur dari jadwalku yang padat. Jadi Aku ingin menghabiskannya dengan menginap di rumah Tetsuya."
"Tapi ini terlalu mendadak Akashi-kun."
"Selama seminggu kedepan, kau dan keluargamu tidak mempunyai rencana untuk pergi ke sesuatu tempat, bukan?"
"Memang tidak ada rencana apa – apa tapi Aku harus meminta izin terlebih dahulu."
Akashi perlahan mengeluarkan seyuman manis. "Oleh karena itu, hari ini Aku akan berkunjung ke rumahmu untuk minta izin ke ibumu. Ia sedang ada di rumah, kan?"
"Eh? Iya, ibu sedang ada di rumah." 'Jangan – jangan Akashi-kun akan membuat ibuku menonton permainan lempar dart kami.' Kuroko memandang Akashi dengan wajah yang khawatir.
"Tenang saja Aku tidak akan melibatkan ibumu. Permainan itu untuk Tetsuya jadi hanya Tetsuya yang akan terlibat."
"Tapi apa yang ingin Akashi-kun lakukan di rumahku?"
"Sudah kubilang tadi kalau Aku sedang libur. Dari pagi sampai sore Aku akan menghabiskan waktuku untuk berlatih atau bertanding. Aku baru akan benar – benar ada di rumahmu pada malam hari. Kita juga bisa mengerjakan PR bersama." Perkataan itu dikeluarkannya dengan nada sedikit tidak sabar.
'Tapi Aku masih berada dalam masa hukumanku.'
"Justru karena itu maka akan menjadi semakin efektif." Akashi kembali tersenyum dengan manis.
'Oh tidak, Akashi-kun memikirkan hal yang tidak biasa lagi.'
oOo
"Aku pulang!"
"Ah selamat datang Tetsuya! Ibu sedang menyiapkan makan malam di dapur."
Perlahan terdengar suara kaki melangkah dengan cepat tapi ringan. "Guk! Guk! Guk!"
"Aku pulang Nigou."
Kuroko lalu mengelus kepala anjing kecil yang memiliki warna bulu hitam dan putih. Ia mengangkat anjing tersebut dengan kedua tangannya dan menunjukannya kepada Akashi.
"Akashi-kun, ini Nigou."
Akashi mengangkat tangannya dan hendak menyentuh kepala Nigou. Tetapi Nigou mengelak dari tangan Akashi dan menolehkan kepalanya ke arah yang lain. Ia berusaha untuk menyentuh kepalanya tetapi Nigou selalu menghindar.
Akashi sedit tertawa. "Anjing ini mirip dengan Tetsuya. Dia tidak mau begitu saja menuruti kemauanku."
"Karena itu anjing ini diberi nama Tetsuya Nigou. … Nigou, ini sudah waktunya kau keluar. Tolong jaga rumah dari luar."
Kuroko lalu pergi ke depan dan meletakan Nigou di dekat kandangnya. Ia bermain sedikit dengan Nigou lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Ibu, hari ini Aku membawa teman."
Di dapur terlihat seorang wanita dengan rambut biru muda tersanggul yang sedang memasak. Wanita itu membalikan tubuhnya dan mulai memperhatikan anaknya dan pemuda di sebelahnya.
"Wah, ini pertama kalinya kau membawa teman SMA-mu berkunjung. Selamat sore, Aku ibunya Tetsuya. Terima kasih karena sudah menemani Tetsuya di sekolah."
"Selamat sore, namaku Akashi Seijuurou. Selama dua hari ini Tetsuya sudah bersedia membantu tim basket jadi justru Saya yang ingin mengucapkan terima kasih." Akashi menjawab sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Ah, jadi temanmu ini salah satu anggota tim basket. Dia pasti termasuk dalam grup kepala warna – warni yang suka kau ceritakan."
"Sekarang dia adalah wakil kapten dalam tim basket."
"Ah, ibu tahu. Dia pasti adalah Kepala Strawberry yang kau ceritakan itu." Ibu kuroko menjawab dengan riang sambil mengaitkan kedua tangannya di depan dada
"Iya."
"…." Akashi diam sejenak dan memandang Kuroko lalu mengembalikan lagi pandangannya ke Ibu Kuroko.
Akashi berbicara sambil tersenyum ramah. "Kuroko-san, Aku ingin bermain dan belajar dengan Tetsuya besok, jadi Aku ingin meminta izinmu untuk menginap disini."
"Oh, benarkah, sudah lama sekali teman Tetsuya tidak menginap disini. Baiklah, selama berapa lama?" Sedikit terlihat ekspresi terkejut di wajahnya tetapi Ia langsung tersenyum.
"Tiga malam."
"Baiklah, dengan begini rumah kita akan lebih ramai besok!" Ibu Kuroko tertawa ringan dan memandang Tetsuya dan kembali ke Akashi. "Oh ya, Akashi-kun apa kamu mau makan malam disini dulu? Aku sedang mempersiapkannya sekarang."
"Saya dengan senang hati menerima tawaran Anda."
"Bagus, hari ini kita bisa makan bertiga. Tetsuya, Ibu akan memanggilmu kalau makanannya sudah siap."
"Baiklah ibu." Kuroko kembali menatap Akashi yang sedang tersenyum. "Akashi-kun ayo kita pergi ke kamarku."
Akashi dan Kuroko berjalan menaiki tangga menuju kamar Kuroko yang ada di lantai dua. Kuroko mempersilahkan Akashi masuk kemudian Ia menaruh tasnya dan mulai duduk. Kamar tersebut mempunyai gaya tradisional dan cukup besar untuk dihuni sendirian juga tidak terdapat banyak perabotan. Setelah itu Kuroko turun ke bawah dan meninggalkan Akashi. Di kamar, Akashi mulai memperhatikan apa yang ada disana. Pandangannya jatuh pada foto – foto yang menghiasi dinding tersebut juga pada buku – buku yang ada disana. Disana juga terdapat foto – foto Kuroko bersama Rainbow Head saat sesekali mereka pergi bersama. Sebenarnya Akashi sudah tahu mengenai kamar Kuroko dari kegiatan pemantauannya, tapi ini pertama kalinya Ia ada di kamar tersebut.
'Ini memang kamar yang sederhana tapi Aku menyukainya.'
Beberapa saat kemudian Kuroko naik dengan membawa kue dan minuman.
"Silahkan Akashi-kun." Kuroko menaruh nampan berisi dua gelas jus dan kue di bawah. Setelah itu Ia duduk dan memperhatikan Akashi.
"Tetsuya, kau belum mempunyai fotoku disini." Akasi bertanya sambil memandangi foto – foto milik Kuroko yang dipasang di dinding di atas meja belajarnya.
"Iya, saat itu Akashi-kun tidak pulang bersama kami. Jadi, tidak ikut bermain bersama."
"Baiklah, besok Aku akan memberikannya kepadamu."
"Foto Akashi-kun?"
Pandangan Akashi berbalik ke Kuroko. "Foto kita berdua."
"Tapi kita belum pernah foto bersama sebelumnya."
"Memang belum pernah, tetapi Aku mempunyai foto kita berdua."
Kuroko terus menatap Akashi seolah Ia mencari sesuatu. 'Kapan difotonya? Mungkin waktu kita makan siang. Tapi kalau begitu siapa yang memfotonya?'
"Tetsuya, keluarkan papan sasaran dan panah dart yang kuberikan kemarin." Akashi kemuadian bergerak ke tempat Kuroko duduk.
Kuroko lalu mengeluarkan benda – benda itu dari lemarinya dan mulai memasang di dinding. Ia tahu kalau mereka akan melakukan latihan itu lagi. Kuroko tidak tahu tujuan Akashi mengajarkannya hal ini. Ia berpikir kalau Akashi hanya ingin bermain dengannya.
"Tetsuya untuk hari ini kau akan sedikit bermain. Jika sepuluh dari dua puluh lemparanmu keluar dari area triple point maka kau akan melakukan sport massage padaku. Aku akan mengajarkan caranya kepadamu."
Muncul tanda tanya di wajah Kuroko. "Apakah hal itu sebaiknya tidak dilakukan oleh seorang ahli?"
"Hal ini juga bisa dilakukan sendiri oleh atlet yang bersangkutan. Aku biasanya melakukan hal ini sendiri di rumah. Tapi hal ini akan lebih efektif kalau dilakukan oleh orang lain, oleh karena itu Aku akan memintamu untuk melakukannya."
"Apa menurutmu Aku bisa melakukannya?"
"Bisa."
Kuroko kemudian mulai melemparkan panah dartnya pada papan sasaran. Kuroko melakukan percobaan sebanyak sepuluh kali terlebih dahulu, lalu Ia memulai permainannya.
oOo
Hasilnya adalah sebelas lemparan berada di luar area three point sehingga Kuroko harus melakukan sport massage. Kemudian Akashi mengajarkan Kuroko untuk melakukannya pada bagian kaki. Kuroko dapat merasakan otot – otot pada kaki Akashi yang sedikit menegang. Mereka berdua mengobrol sambil melakukan sport massage.
Kuroko memijit otot betis di kaki Akashi yang berbaring di bawah. 'Mungkin ini sebabnya Ia menyuruhku melakukan ini.'
"Ternyata benar, Akashi-kun kelelahan. Walaupun secara mental kau tidak merasakannya tetapi tubuhmu menunjukkannya. Selama beberapa hari ini kau sibuk dengan basket dan kau juga menjalankan suatu program untukku. Setelah itu kau pasti melakukan hal lain lagi."
"Apa Tetsuya sedang memberikanku perhatian?" Ujung bibir Akashi sedikit tertarik ke samping.
"Tentu saja. Menurutmu apa yang sedang Aku lakukan sekarang?"
"Hal ini kau lakukan karena kau kalah dalam permainanmu."
"Benar. Tapi kalau Akashi-kun memang benar – benar membutuhkan bantuanku, Aku akan bersedia."
Akashi diam sejenak dan memandang wajah Kuroko. "Aku tidak mau memanjakan diriku dengan bergantung padamu. Walaupun Aku tahu kalau kau akan bersedia, diriku tidak boleh melihatnya sebagai celah dimana Aku bisa memperoleh kebebasanku begitu saja."
"Akashi-kun terlalu keras, nanti kau bisa menjadi semakin aneh." Kuroko menjawab dengan tenang.
"Aku tidak aneh. Kau hanya belum pernah melihat yang sepertiku saja. Oh ya, kau belum menghilangkan nama itu ternyata."
"Nama itu?"
"Nama tidak berwibawa yang kau berikan.", terdengar juga nada penekanan pada kata – katanya.
"Oh, itu. Aku suka nama itu. Sayangnya, Akashi-kun cuma sedikit manis."
"Tetsuya memang membutuhkan yang tidak terlalu manis, dengan begitu kita bisa seimbang." Senyuman menggoda kembali diberikan pada Kuroko.
"Maaf, Aku tidak mengerti."
"Tetsuya kurang peka. Mungkin Aku harus melakukan hal yang ekstrem." Akashi bergumam dan mengatakan hal itu kepada dirinya sendiri.
Setelah sport massage selesai diberikan, pembicaraan mereka terus berlanjut sampai Ibu Kuroko memanggil mereka untuk makan.
Makan malam berjalan dengan menyenangkan dan tenang. Saat ini Ayah Kuroko sedang pergi keluar kota sehingga kehadiran Akashi membuat suasana saat makan kembali seperti semula. Pembicaraan mereka tidak jauh dari topik mengenai Kuroko. Akashi merasa senang karena Ia menerima informasi mengenai Kuroko dari orang dalam. Informasi seperti ini tidak bisa didapatkan hanya dengan pemantauan.
"Waktu SD Tetsuya pernah tertinggal di museum saat mereka melakukan kunjungan. Aku sangat bingung waktu tidak melihat dirinya turun dari bus. Untung saja lokasi museum itu tidak terlalu jauh sehingga Aku bisa langsung menjemputnya disana."
"Waktu itu Aku pergi ke toilet cukup lama dan saat Aku kembali ternyata bus-nya sudah tidak ada."
"Selain peristiwa itu, Tetsuya juga pernah menghilang di rumah sakit. Waktu itu Aku sudah pergi duluan ke tempat kakakku dan Tetsuya ada bersama kerabatku. Tiba – tiba mereka sadar kalau Tetsuya sudah tidak ada. Waktu ditemukan, Ia ternyata sudah berada di lantai tujuh rumah sakit tersebut. Padahal awalnya Ia ada di lantai satu." Ibu Kuroko berbicara sambil mengeluarkan ekspresi yang sedikit khawatir.
"Aku ingin menemui Ibu dan Aku tahu kalau Ibu ada di lantai tiga. Tapi saat itu Aku masih belum tahu arti dari lantai tiga. Jadi Aku terus menaiki tangga sampai tangganya habis."
/ Maaf Tetsuya, ini sebenarnya adalah pengalaman Author /
Akashi sedikit tersenyum ke Tetsuya. "Tetsuya, kurasa Aku perlu memasang pelacak padamu."
"Tidak perlu. Aku tidak mau Akashi-kun menggentayangiku dimanapun Aku berada."
Makan malam akhirnya berakhir dengan penutup berupa apel berbentuk kelinci. Kuroko mengantar Akashi ke depan gerbang rumahnya sekaligus memberi makan Nigou yang ada di luar. Akashi berkata kalau besok Kuroko harus datang ke sekolah seusai latihan basket.
.
.
oOo
Hari Kelima
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!
Jam berdering dengan berisik untuk membangunkan sang pemilik. Kuroko tahu kalau jam itu adalah miliknya dan Ia harus bangun, tetapi bukan dirinya yang menyuruh jam itu agar berteriak sekarang. Walaupun masih ingin tidur lagi, Kuroko akhirnya bangun dan mematikan jam tersebut. Kemudian Ia menoleh ke samping dan melihat Akashi tidur di sampingnya.
"Akashi-kun bangun, jamnya tadi sudah berdering. Akashi-kun… Akashi-kun… Akashi-kuuun."
Akashi perlahan membuka matanya dan mengusapnya dengan tangan. "Iya~ Tetsuya."
Akashi bangun lalu mulai mengambil posisi duduk, berdiam sebentar, dan mengambil posisi berdiri. Kuroko kembali mengambil posisi tidur kemudian menarik selimutnya.
"Tetsuya, kau harus bangun. Kau juga akan berlari bersamaku."
"Kenapa?"
"Kau perlu olahraga. Jadi ayo bangun sekarang."
"…."
Kuroko tetap tidak bergerak dari posisi awalnya. Di pagi hari Akashi masih malas untuk beradu mulut karena itu Ia memutuskan untuk langsung menariknya. Akashi mengangkat punggung Kuroko dan membuatnya mengambil posisi duduk. Setelah itu Ia berusaha membuat Kuroko berdiri dan menariknya untuk berjalan ke kamar mandi. Kuroko mau tidak mau harus bangun dan mengikuti Akashi.
Kedua orang tersebut mencuci muka masing – masing dan mulai menggosok gigi. Dari cermin Kuroko bisa melihat rambut biru mudanya berantakan. Ia menoleh ke samping dan melihat hal yang sama juga terjadi pada Akashi.
'Oh, strawberry-nya mekar.'
/ We are having a Double Bed Hair right now. XD /
Setelah ritual pagi selesai, mereka mulai berganti baju dan bersiap – siap untuk lari pagi. Kuroko juga mengajak Nigou untuk lari pagi. Mereka berlari selama satu jam di sekitar lingkungan rumah Kuroko. Meskipun begitu, Akashi yang memandu dalam menentukan lintasan berlari. Kuroko bingung sendiri kenapa Akashi bisa tahu jalan disini. Ia berpikir kalau itu terjadi hanya karena Akashi itu pintar sehingga Ia bisa langsung mengingat jalan disini.
Di dalam kepalanya Kuroko membayangkan Akashi dalam bentuk chibi sedang berlari – lari di kepalanya.
'Akashi-kun sedang berlari pagi. Akashi-kun sedang berlari di gymnasium. Akashi-kun sedang berlari di lapangan sekolah. Akashi-kun sedang berlari di lapangan basket. Akashi-kun sedang berlari mengejarku sambil melempar pisau. Akashi-kun sedang berlari di mimpiku. Lalu Akashi-kun berlari – lari di kepalaku.'
"Hah… hah… A…Akashi-kun tolong… perlambat kecepatannya."
Di samping Kuroko, Nigou berlari dengan senang. Di samping Akashi, Kuroko berlari dengan napas tersengal – sengal. Dan Akashi berlari dengan tersenyum.
/ Maaf, ide Author-nya lagi ngak jelas, udah lewat tengah malem soalnya /
oOo
Kemarin sehabis latihan basket, Akashi membawa Kuroko ke tempat club bulutangkis. Disana Kuroko dihujani dengan kok bulutangkis dari segala arah. Akashi bergerak dengan cepat ke segala arah dan Kuroko harus membalas serangannya itu. Untung saja Kuroko bermain bulutangkis sewaktu SD dan setelah SMP Ia bermain dengan kerabatnya di desa sewaktu berkunjung. Walaupun Ia tidak hebat tapi setidaknya Ia mengetahui teknik dasar yang digunakan. Setiap satu serangan yang tidak bisa dibalasnya maka Kuroko akan bermain lebih lama selama satu menit. Permainan awal dilakukan selama sepuluh menit.
Pada hari itu Kuroko merasa bahwa Ia seperti bermain bulutangkis dalam endless mode. Akashi memberikannya istirahat selama beberapa kali tetapi waktu permainan terus bertambah. Sampai akhirnya Kuroko diberi keringanan untuk membalas semua serangan dalam waktu satu menit. Setelah itu semuanya akan selesai. Kuroko berpikir kalau malam ini Ia tidak akan bermimpi dengan Akashi yang mengejar sambil melempar pisau atau panah dart tetapi dengan kok bulutangkis.
Setelah makan malam Akashi akan menyeret Kuroko yang lelah untuk mengerjakan PR liburan panasnya. Akashi juga tidak lupa dengan latihan panah dart yang harus dilakukan secara rutin. Di malam hari Kuroko langsung tertidur dan masuk ke alam mimpi bersama Akashi.
Sekarang Akashi dan Kuroko sedang menikmati sarapan pagi. Bau kopi dan susu vanilla juga tercium sebagai pelengkap sarapan. Hari ini Kuroko akan ikut bersama Akashi ke sekolah. Akashi akan berlatih dan Kuroko akan melakukan hal lain di tempat lain. Untuk penjelasan lebih detail, Akashi akan menjelaskan itu di tempat. Kuroko hanya bisa berdoa kalau hari ini tidak akan ada benda yang melayang ke arahnya.
oOo
Akashi sedang berdiri di sebelah boneka yang lebih tinggi darinya. Ia berhadapan dengan Kuroko sambil memegang gulungan kain berisi pisau.
"Tetsuya, hari ini kau akan menusuk boneka ini dengan pisau. Sebelumnya kau sudah pernah melihat pisau ini dan kau sudah melihat bagaimana Aku menggunakannya."
'Iya, itu adalah pisau yang kau lemparkan padaku berkali – kali! Pisau itu pasti rindu denganku sekarang.' Kuroko memandangi pisau – pisau tersebut dengan tajam.
"Akashi-kun, jadi Aku harus menusuk boneka ini di semua tempat? Apa kau ingin menyuruhku untuk melukai seseorang?" Kuroko bertanya dengan tegas.
"Untuk tempatnya terserah padamu. Aku ingin kau merasakan tekanan dari reaksi yang akan diberikan saat kau menusuk dengan pisau ini. Intinya Aku ingin agar tanganmu itu terbiasa. Oh ya, gunakan kedua tanganmu itu." Akashi berkata sambil menusukan salah satu pisau ke boneka.
"Akashi-kun, kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku belum menyuruhmu untuk menusuk siapapun. Jadi, sekarang jangan berasumsi apapun. Pikirkan saja kalau kau bisa melindungi dirimu dengan cara ini." Akashi kembali menusuk boneka tersebut.
"Melindungi diri? Tapi kalau seperti ini, berarti Aku akan menyerang bukan menangkis atau menahan."
Akashi berjalan ke hadapan Kuroko dan berhenti di depannya. Ia membuka telapak tangan Kuroko dan meletakan pisau yang dipegangnya ke tangan Kuroko. "Ada kalanya kau harus menyerang balik orang tersebut untuk membuatnya diam atau berhenti. … Sekarang Aku akan latihan di gymnasium. Jadi berlatihlah sambil menungguku."
Akashi kemudian langsung pergi meninggalkan Kuroko bersama boneka dan pisau koleksinya. Kuroko sekarang sedang memandangi boneka didepannya ini. Boneka ini lebih tinggi darinya dan desainnya sederhana.
'Untung saja boneka ini tidak memiliki wajah dan kenampakan badannya tidak mendetail. Aku tidak mau terlihat seperti orang yang sedang mengutuk orang lain.'
Kuroko mulai menusukan pisau yang ada pada boneka tersebut. Setelah beberapa lama Kuroko mulai bosan. Oleh karena itu, Ia mulai menusuk boneka tersebut dengan berbagai cara dari segala arah. Kuroko bahkan juga mencoba cara yang pernah digunakan di film – film yang sebelum ini ditontonnya. Terkadang Ia melompat, berlari, mendorong, dan melempar. Kuroko mengeluarkan sedikit emosi dan melampiaskannya pada boneka tersebut.
Setelah selesai membuat boneka tersebut menderita tanpa suara, Kuroko memutuskan untuk berjalan – jalan dan mengunjungi gymnasium. Ia ingin melihat tim basket yang sedang berlatih. Kuroko berjalan ke gymnasium lalu mengintip di depan pintunya. Tiba – tiba ada seseorang yang menabraknya pundak kanannya.
"Ah maaf, Aku tidak sengaja. Apa kau baik – baik saja? … Eh, Kurokoooo-cchiiiiii!" Kise bergerak menjauh sambil memegang dadanya.
"Selamat siang Kise-kun. Maaf sudah menghalangi pintu masuk."
Kise kembali mendekati Kuroko dan berdiri di depannya. "Kenapa kau bisa disini –ssu? Apa kau ingin membantu club kami lagi?"
"Tidak. Hari ini Aku datang ke sekolah untuk melakukan hal yang lain."
"Hal lain itu apa Kuroko-cchi?"
"Um… bermain dengan boneka." 'Aku tidak bisa bilang kalau sebenarnya Aku sedang menyiksa boneka tersebut.'
Kise menyilangkan kedua di depan dada dan memandang Kuroko dengan serius. "Kenapa di sekolah –ssu?"
"Akashi-kun yang menyuruhku melakukannya di sekolah."
"Hah?"
Tiba – tiba terdengar suara kaptennya dari dalam. "Oi! Kise! Jangan malas – malasan dan cepat masuk kedalam!"
"Ah, baiklah! Kuroko-cchi maaf, Aku harus masuk ke dalam dulu. Kita bisa bicara lagi nanti. Bye!"
"Tidak apa – apa. Sampai jumpa."
Kise kembali masuk ke gymnasium dan Kuroko memutuskan untuk kembali bermain bersama dengan bonekanya.
oOo
'Tetsu-kun ayo pulang bersama kami. Aku dengar tadi Ki-chan bertemu denganmu.'
Kuroko saat ini sedang duduk di depan bonekanya. Barusan adalah pesan yang diterimanya dari Momoi. Kuroko juga ingin pulang bersama tapi bagaimana dengan Akashi. Tak lama kemudian dering pesan masuk berbunyi. Kali ini adalah pesan dari Akashi.
'Tetsuya, pulanglah duluan. Ada keperluan yang harus kuurus dulu.'
Kuroko kemudian menjawab pesan Akashi dan Momoi. Ia membereskan pisau yang digunakannya dan memasukannya ke tas pinggang yang dipakainya. Boneka itu Ia kembalikan ke tempatnya yang semula lalu berjalan keluar dan menutup pintunya. Kuroko berjalan ke depan gerbang sekolah untuk menunggu teman – temannya.
Mereka bertujuh sekarang sedang berjalan bersama setelah bertemu di gerbang sekolah. Murasakibara sedang makan keripik. Midorima sedang memegang lucky item. Aomine sedang ribut dengan Kagami. Kagami sedang ingin memukul Aomine. Momoi sedang mengobrol dengan Kuroko. Kise sedang memberikan komentar pada Kagami dan Aomine. Dan Kuroko sedang mengobrol sambil mendengarkan percakapan kedua temannya yang ribut.
"Aku tadi benar – benar melihat ada orang yang sedang menyerang sesuatu di sekolah. Aku tidak tahu yang diserangnya itu apa karena tertutup oleh pembatas. Tapi dari bayangannya terlihat kalau yang diserang itu tidak bergerak sama sekali."
"Apa kau tidak salah lihat Kagami. Mungkin mereka sedang bermain drama." Aomine menjawab Kagmi dengan santai.
"Tapi Aku tidak melihat ada orang lain disana. Dan mataku masih bagus Aomine jadi tidak mungkin salah."
Kise melanglah maju ke samping Kagami. "Mungkin itu hantu –ssu."
"Tidak! Ini masih siang hari! Belum waktunya untuk muncul."
Aomine kemudian meletakan tangan kirinya di punggung Kagami. "Tapi tadi kau kembali sambil gemetar karena mengira itu hantu bukan?"
"Aku gemetar bukan karena hantu, Aomine!"
"Hentikan keributan kalian! Mungkin saja orang itu sedang berlatih bela diri nanodayo." Midorima mendorong bagian tengah kacamatanya. Saat ini Ia sedang memegang lollypop besar yang sering mendapatkan tatapan dari Murasakibara.
"Tapi gerakannya tidak seperti itu. Gerakannya seperti sedang menusuk sesuatu." Kagami megerakan tangannya ke depan untuk menusuk benda imajiner.
"Kagami-kun, dimana kau melihatnya?"
Kagami menoleh ke belakang dan melihat Kuroko. "Di tempat laihan club Karate. Pintunya terbuka begitu saja jadi Aku penasaran untuk melihat."
"Um Kagami-kun, yang kau lihat itu mungkin adalah Aku."
"Tidak mungkin! Buat apa kau melakukan itu? Kalau itu Akashi, Aku akan percaya."
"Akashi-kun yang menyuruhku untuk bermain dengan boneka tersebut."
Kagami mengerutkan keningnya dan memandang Kuroko dengan penasaran. "Jadi itu boneka? Kau menyerang boneka itu dengan apa?"
"Iya. Aku menggunakan pisau."
"Jadi maksud Kuroko-cchi bermain boneka adalah menusuk boneka tersebut?" Kise sekarang mundur ke belakang dan berpindah ke sebelah Kuroko.
Kuroko menatap teman – temannya yang penasaran dan menjawab dengan tenang. "Tidak hanya menusuk, terkadang Aku juga melempar pisaunya ke boneka tersebut."
"Tetsuu-kuuun!" Momoi langsung memegangi lengan kanan Kuroko.
"Tetsu, kurasa kau sudah terlalu lama bergaul dengan Akashi."
"Sebenarnya Aku juga bingung kenapa Akashi-kun menyuruhku itu. Tapi sekarang Aku sedang menjadi pengikut Akashi-kun."
"Pengikut?!" semuanya kecuali Murasakibara terkejut karena Ia sedang mengunyah. Kata Midorima, tidak baik makan sambil bicara.
"Sejak kapan nanodayo?"
"Ini adalah hari kelima. Totalnya ada tujuh hari."
"Jadi, karena itu kau sering bersama Akashi-cchi selama beberapa hari kemarin."
"Ah~ pantas saja Aka-chin sekarang suka tersenyum sendiri."
"Apa saja yang sudah Tetsu-kun lakukan selama lima hari ini?" Momoi mengeluarkan nada yang cemas.
Kuroko sedikit menundukan wajahnya ke bawah untuk mengalihkan pandangannya dari teman – temannya. "Maaf, tapi Aku tidak ingin menceritakannya. Rasanya berat."
'Dia trauma!'
"Justru karena berat makanya harus diceritakan Tetsu. Bagaimana kalau malam ini kita menginap di tempat Kagami?"
"Kenapa tempatku?"
"Karena kau tinggal sendiri, akan lebih mudah mendapat izinnya."
Kuroko langsung menolak ajakan temannya dan tersenyum. "Tidak apa Aomine-kun. Aku baik – baik saja. Saat ini Akashi-kun sedang menginap di rumahku jadi Aku tidak bisa pergi begitu saja."
"Apaaa!" Mereka semua berhenti berjalan.
"Bahaya nanodayo!" (Midorima)
"Tidaaaak nanodayo!" (Kise)
"Kuroko bisa terancam nanodayo!" (Kagami)
"Dia sudah terancam nanodayo!" (Aomine)
"Apa yang harus kita lakukan nanodayo!" (Momoi)
"Tolong semuanya tenang nanodayo." (Kuroko) Mereka semua lalu kembali berjalan.
"Hm, kenapa kalian semua mengikuti Mido-chin?~"
"Supaya terdengar lucu Murasakibara-kun."
"Kalau begitu~, Aku juga nanodayo." (Murasakibara)
"Kalian benar – benar tidak sopan nanodayo!" Midorima kembali menaikan kacamatanya yang turun akibat reaksi yang tadi diberikannya.
Kuroko berusaha meyakinkan mereka. "Aku tidak apa – apa semuanya. Akashi-kun bilang kalau rumahku adalah teritorialku jadi Ia tidak akan bertindak berlebihan."
'Tapi normalnya Akashi itu sudah berlebihan!'
"Baiklah, untuk saat ini kita bisa percaya dengan Kuroko." Midorima kembali focus dengan jalan yang ada di depannya.
Kise menoleh ke belakang dan meminta penjelasan."Tetapi kalau terjadi sesuatu, gimana Midorima-cchi?"
"Kalau terjadi sesuatu, kau harus segera menghubungi kami Tetsu-kun. Aomine-kun akan langsung Aku lempar untuk menghadapi Akashi-kun." Momoi langsung menarik seragam Aomine yang ada di depannya.
"Lalu Aku akan membawa Murasakibara sebagai tameng dan Kagami sebagai penolong." Aomine hanya menjawab dengan santai sambil memasukan tangan ke saku celana.
"Oh, Aku juga akan membawa cemilan dan Kise-chin sebagai pengalih perhatian Aka-chin~"
"Eh? Kalau begitu Aku akan membawa Midorima-cchi!"
"Aku ini shooter guard jadi hanya akan menyerang dari jauh. Aku cuma akan memberikanmu lucky item, Kise."
"Eeeh!"
Kuroko saat ini sedang memikirkan susunan formasi yang akan dibentuk kelompok Rainbow Head. Ia kemudian sedikit tersenyum sambil memikirkannya. Kuroko merasa sangat senang dengan kepedulian yang mereka tunjukan. Ia berpikir kalau kapan – kapan akan mengajak mereka untuk main ke rumahnya.
.
.
Bagaimana dengan bagian yang ini? Ingat masih ada satu bagian lagi
Maaf, di bagian yang ini dan selanjutnya Author tidak lagi membahas latihan/hukuman secara mendetail.
*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.
*Jangan lupa reviewnya, saran & kritik pasti diterima
*Chapter selanjutnya akan di-update dalam waktu dekat
