Kuroko no Gakuen
Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.
Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC
/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./
'…..' (Pikiran karakter)
"….." (Pembicaraan karakter)
/…../ (Pesan penulis)
Maaf, update-nya lama! Rencananya cuma mau selang tiga hari tapi ternyata molor jadi seminggu lebih. Ini bagian terakhirnya, selamat membaca!
Chapter 11 : Rasanya jadi Pengikutmu (Manisnya…)
Hari Keenam
Hari ini Kuroko menonton dua pertandingan Teikou dan setelah itu Akashi kembali menguji ketabahan Kuroko di tempat latihan Kendo. Kuroko terkadang berpikir kalau Akashi seperti sedang mengenalkan club olahraga di Teikou dengan cara yang ekstrem. Berkat itu Kuroko merasakan beberapa bagian tubuhnya ada yang sakit jika digerakkan. Sel – sel ototnya ada yang rusak lalu terbentuk lagi yang lebih kuat. Mungkin hal seperti ini ada baiknya juga untuk membuat tubuhnya sehat.
Saat ini Kuroko baru saja selesai mandi. Berendam di air panas membuat badannya jadi segar kembali. Akashi sudah mandi terlebih dulu jadi sekarang Ia pasti akan menarik Kuroko untuk mulai mengerjakan PR liburan musim panas. Tapi Kuroko mempunyai rencana lain untuk hari ini.
Kuroko berjalan mendekati Akashi sambil membawa sesuatu di tangannya. "Akashi-kun, Aku ingin mengajakmu bermain."
"Oh, permainan seperti apa itu?" Pandangan Akashi mengarah pada Kuroko dan Ia menutup buku yang dipegangnya.
"Permainan ini disebut Liar or Slave." Kuroko lalu meletakan setumpuk kartu di tengah – tengah mereka berdua. / Terinspirasi dari Truth or Dare /
"Kita akan menggunakan kartu untuk menentukan siapa yang akan memilih untuk menjadi Liar atau Slave. Jika pemain memilih Liar maka lawannya akan memberikan satu pertanyaan kepada pemain. Pemain tersebut akan menjawab pertanyaan dengan jawaban yang berkebalikan dengan kenyataan yang sebenarnya. Setelah itu untuk Slave, lawan akan memberikan satu perintah kepada pemain untuk dilakukan."
"Akashi-kun tolong pilih salah satu dari keempat jenis kartu: Sekop, Hati, Keriting, atau Wajik."
"Aku plih Sekop."
"Baiklah, kalau begitu Aku pilih Hati. Sekarang tolong kocok kartu ini." Kuroko memberikan tumpukan kartu yang dipegangnya kepada Akashi.
Akashi mengocok tumpukan kartu tersebut dan memberikannya ke Kuroko. Kuroko mengocok kumpulan kartu itu dan meminta Akashi untuk mengocoknya sekali lagi. Setelah itu Kuroko mengocok lagi untuk terakhir kalinya dan diletakkan di tengah – tengah mereka. Jadi kumpulan kartu tersebut dikocok empat kali.
Pandangan Kuroko kembali pada Akashi. "Kita akan mengambil kartu ini satu per satu. Pemain pertama akan ditentukan dengan suit. Jadi ayo kita suit."
Mereka berdua melakukan suit sebanyak tiga kali dan Akashi-lah pemenangnya.
"Ok, Akashi-kun adalah pemain pertama. Akashi-kun yang akan mengambil kartu pertama kali, setelah itu Aku yang akan mengambilnya. Jika kartu yang terambil adalah Sekop maka Aku harus memilih untuk menjadi Liar atau Slave. Kemudian Aku melakukan hal yang Akashi-kun minta dengan penjelasan seperti yang diawal tadi. Jika yang terambil adalah Hati maka yang terjadi adalah kebalikannya. Akashi-kun harus menuruti permintaanku."
Kuroko lalu melanjutkan penjelasannya mengenai peraturan permainan selanjutnya. "Selanjutnya, jika kartu yang terambil adalah kartu selain Sekop dan Hati maka kita akan melihat angkanya. Urutannya adalah 2 sebagai nilai terkecil dan As sebagai nilai terbesar. Tolong jika kau mendapatkan Keriting atau Wajik, jangan tunjukan kartu itu kepada lawan. Simpan kartu tersebut secara tertutup. Kegunaan kartu ini adalah untuk menghindari dirimu untuk memilih. Misalnya, Aku membuka kartu 8 Keriting dan menyimpannya. Setelah itu, Akashi-kun mengambil 6 Sekop. Saat ini, Aku harus memilih dan Akashi-kun menyebutkan permintaannya. Aku ternyata ingin menghindar, oleh karena itu, Aku mengeluarkan kartu 8 Keriting yang kupunya. Nilai 8 lebih besar dari 6 sehingga giliran ini selesai dan berlanjut ke giliran selanjutnya. Kita bisa menghindar menggunakan kartu yang nilainya lebih besar atau sama."
"Di dalam tumpukan kartu ini ada dua kartu Joker. Jika pemain mengambil Joker hitam maka Ia harus menjadi Liar. Tetapi jika itu Joker berwarna maka pemain harus menjadi Slave."
Kuroko lalu diam sejenak setelah menyelesaikan penjelasannya. "Dalam permainan ini sebenarnya tidak ada yang menang atau kalah karena pemain boleh memilih dengan bebas dan bertahan dengan keberuntungan yang dimilikinya. Ok, apakah ada yang ingin Akashi-kun tanyakan?"
Akashi diam sejenak dan lalu menyilangkan tangannya di depan dada. "Hm, apa Aku boleh menghindari kartu yang Aku ambil sendiri dengan kartu yang Aku miliki?"
"Tidak boleh, kau hanya bisa menghindar dari kartu lawan."
"Ok, permainan yang menarik. Sekarang Aku sudah mengerti."
"Baiklah, ayo kita mulai Akashi-kun."
oOo
Kuroko dan Akashi duduk berhadapan sambil memegang kartu. Posisi mereka berdua dihalangi oleh meja dimana tumpukan kartu ada di tengah dan beberapa kartu lainnya ada di depan Kuroko dan Akashi. Permainan baru berjalan selama beberapa menit.
Kuroko mengambil kartu dan menyebutkan 'Sekop'. "Baiklah, Aku pilih Liar Tetsuya."
"Angka 7. Ano, apa Akashi-kun sering mengikutiku di sekolah?"
"Aku jarang mengikutimu."
Kuroko mulai sedikit mengerutkan dahinya. "Eh? Jadi itu bukan kebetulan?"
"Aku tidak bisa bergantung pada kebetulan, Tetsuya."
(Beberapa giliran berlanjut)
"Tetsuya pilih apa?"
"Um, Liar."
"Ok, tunggu sebentar." Akashi terlihat seperti mengambil sesuatu di dekat kakinya lalu mengarahkan pandangannya ke bawah. Beberapa detik kemudian Ia mengangkat kepalanya dan langsung bertanya. "Jadi, apakah Kuroko Tetsuya mencintai Akashi Seijuurou?"
Kuroko sedikit terkejut dengan pertanyaan Akashi. "Eh? Um…. Ano… Aku mencintai… Akashi Seijuurou."
"Baiklah, Aku sudah merekam suaramu."
"Apa?"
"Tenang saja, Aku akan mengubah ini jadi kejujuran."
(Beberapa giliran berlanjut)
"Aku dapat Joker hitam. Akashi-kun ingin bertanya apa?"
"Apa tadi malam Tetsuya bermimpi indah tentang diriku?"
Kuroko mengerutkan dahinya. "Um…. iya."
"Tadi malam Aku mendengarmu mengigau. Aku jadi penasaran, mimpi apa yang kau punya."
'Apa?! Aku sampai mengigau?' Dalam hati, Kuroko memberikan ekspresi terkejut kemudian malu.
Akashi kemudian mengambil kartu dan menaruhnya di tengah. "Ok, selanjutnya Sekop. Tetsuya pilih apa?"
"Liar."
"Ini angka 7. Apakah Tetsuya sedang demam? Mukamu merah."
"Aku demam! Dan mukaku tidak merah!... Maksudku, mukaku tidak memerah." Kuroko menundukan kepalanya dan langsung mengambil kartu selanjutnya. "Selanjutnya, 2 Sekop. Aku pilih Slave."
"Besok selama satu hari, kau harus memanggil namaku bukan nama keluargaku."
"Apa Aku boleh memanggil namamu begitu saja?"
"Tidak masalah. Ok, kartu berikutnya adalah King Hati. Aku pilih Liar."
"Apa sekarang Akashi-kun membawa fotoku?"
"Aku tidak membawanya."
(Beberapa giliran berlanjut)
Kuroko mengambil kartu Hati lalu bertanya ke Akashi mengenai pilihannya.
"Aku pilih Slave Tetsuya."
"Ini Queen. Tunjukan foto – fotoku yang Akashi-kun bawa kepadaku."
Akashi diam sejenak kemuadian mulai bergerak mendekati tas miliknya. "Baiklah, sebenarnya Aku ingin memberikan ini kepadamu besok. Ini album foto dirimu dan kita berdua."
"Ada satu album?" Akashi mendekati Kuroko dan memberikan album foto itu kepadanya.
"Ada lebih tapi Aku hanya memberikanmu satu."
Kuroko mulai membuka album tersebut. Isinya adalah foto – foto di sekolah, di kamar, saat mereka pergi ke toko buku dan Maji Burger, dan hari pertama Kuroko menjadi pengikut Akashi.
(Beberapa giliran berlanjut)
"Aku dapat Joker warna. Tetsuya ingin menyuruhku apa?"
Kuroko menegakkan badannya dan menatap Akashi dengan serius. "Akashi-kun harus menjawab ketiga pertanyaanku dengan jujur. Pertama, bagaimana kau mendapatkan fotoku di kamar?"
"Aku memasang kamera disini." Kuroko sedikit terkejut tapi langsung melanjutkan pertanyaannya.
"Kedua, bagaimana caranya foto saat kita pergi ke toko buku dan Maji Burger ada?"
"Kalau kau belum tahu, Taiga, Daiki, Atsushi, Shintarou, Ryouta, Kazunari, dan Satsuki mengikuti kita. Satsuki yang mengambil foto itu."
'Kita diikuti orang sebanyak itu?!' Kuroko memutuskan kalau nanti Ia akan bertanya kepada salah satu Rainbow Head mengenai hal tersebut.
"Ketiga, bagaimana bisa ada foto Akashi-kun mencium pipiku?"
"Aku memasang beberapa kamera di tempat latihan memanah. Foto ini diambil dari video yang terekam disana."
Kuroko menundukan kepalanya dengan muka memerah dan menatap foto itu lagi. "Ini memalukan, Akashi-kun."
"Tenang saja, hanya Tetsuya yang baru melihat ini. Aku juga tidak ingin wajah Tetsuya yang memerah dilihat orang banyak." Akashi tersenyum senang melihat ekspresi yang diberikan Kuroko sekarang.
(Satu giliran setelah selanjutnya)
Akashi mengambil kartu dan menunjukannya. "Jack Hati. Aku pilih Slave."
"Sekarang ambil semua kamera yang ada di kamar ini dan tunjukan padaku."
Akashi kemudian mulai berkeliling di kamar Kuroko. Mata Kuroko mengikuti pergerakan Akashi. Ia merasa tidak percaya kalau selama ini terdapat kamera kecil di tempat – tempat yang didatangi Akashi. Setelah beberapa waktu, Akashi membawa tujuh kamera kecil di tangannya.
"Akashi-kun ternyata benar – benar stalker. Bagaimana bisa kau memasang kamera ini?"
"Aku meminta seorang prosesional untuk memasangnya sesuai dengan posisi yang kuberikan."
Akashi kemudian menyimpan kamera – kamera tersebut di dalam tasnya. Mereka berdua kembali ke permainan. Sekarang giliran Kuroko untuk mengambil kartu.
"Ini 10 Sekop. Aku pilih Liar."
"Apakah sekarang Tetsuya marah denganku?"
"Aku tidak marah Bakashi!" Kuroko menatap tajam Akashi sambil mengepalkan tangannya.
"Jangan meniru Daiki, itu tidak baik Tetsuya. Sekarang Aku mengambil 9 Hati, Aku pilih Liar."
"Kenapa Akashi-kun mengintaiku sampai seperti ini?"
"Karena Aku tidak menyukai Tetsuya, Aku tidak selalu ingin tahu kegiatan Tetsuya, Tetsuya tidak membuatku penasaran, dan Aku tidak ingin mengkoleksi foto Tetsuya."
"Aku tidak suka diintai. Apa Akashi-kun mau kuintai? Kartu berikutnya 3 Sekop. Aku pilih Slave."
"Aku tidak keberatan kalau kau mau mengintaiku. Kita bisa saling memperhatikan kalau seperti itu. Ok, sekarang Aku ingin Tetsuya melakukan sport massage padaku, kita bisa sekaligus beristirahat."
(Setelah istirahat dan satu giliran)
Kuroko mengambil kartu dan lagsung menyebutkan pilihannya. "Aku mengambil 4 Sekop, Liar."
"Apa ada seseorang yang Tetsuya sukai secara romantis?"
"Ada."
"Bagus, kartu berikutnya As Hati. Aku pilih Slave."
"Besok Akashi-kun harus beristirahat setelah latihan basket selesai. Akashi-kun tidak boleh protes."
(Beberapa giliran berlanjut)
"Ini As Sekop, Liar" Kuroko meletakkan kartu itu di tengah dan menatap Akashi.
"Apa Tetsuya sedang mengkhawatirkanku sekarang?"
"Tidak." Kuroko menjawab tanpa ekspresi. 'Iya, Aku mengkhawatirkanmu baik secara mental maupun fisik.'
(Beberapa giliran berlanjut)
Kuroko membuka satu kartu yang ada di tengah. "Ini kartu terakhir. King Sekop, Aku pilih Slave."
"Besok setelah latihan basket, Aku ingin beristirahat di rumah Tetsuya sampai makan malam. Setelah itu, Aku akan pulang ke rumah."
"Bukankah lebih baik langsung pulang ke rumah dan beristirahat?"
"Aku merasa lebih baik jika beristirahat disini."
"Akashi-kun tidak rindu dengan rumah?"
"Tidak, Aku lebih rindu dengan Tetsuya." Akashi sedikit tersenyum, kemudian Ia mendekati tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam. "Aku mempuyai hadiah untukmu, terimalah."
Kuroko lalu menerima sebuah gunting dengan gagang berwarna hitam yang memiliki ukiran berwarna biru muda. Kuroko mencoba gunting tersebut ditangannya dan merasa kalau gunting ini memang terasa pas di tangannya.
"Um... terima kasih, tapi kenapa memberiku hadiah?"
"Kau sudah menerima latihan panah dart dan pisau dariku. Jadi gunakanlah ini untuk melindungi dirimu. Bawa gunting ini kemana pun. Aku juga punya, tetapi ukirannya berwarna merah."
Kuroko terdiam dan hanya menatap Akashi. 'Iya, untuk melindungi diri dari Akashi-kun supaya tidak berbuat macam – macam kepadaku.'
"Aku juga berikan foto album ini kepadamu. Jangan tunjukan album ini kepada orang lain. Itu salah satu koleksi album yang bagus. Oh ya, berhubung kita sedang melihat foto, tunjukan padaku foto – foto masa kecilmu. Aku ingin melihatnya."
"Permainannya sudah selesai Akashi-kun."
"Tapi Tetsuya masih menjadi pengikutku. Jadi tunjukan padaku semuanya."
Entah kenapa Kuroko merasa kalah hari ini walaupun pada permainan tersebut tidak ada yang menang atau kalah.
.
.
oOo
Hari Ketujuh
"Tetsu, kami ingin berkunjung ke rumahmu hari ini. Apa boleh?"
Hari ini Kuroko kembali membantu di club basket sebagai asisten manager. Ia berangkat lebih pagi karena ada suatu hal yang perlu dilakukan dulu oleh Akashi. Oleh karena itu, Kuroko bisa bertemu dengan teman – temannya lebih awal. Aomine, Kise, Kagami, dan Midorima sudah hadir gymnasium.
"Rumahku. Siapa saja?"
"Aku, Kagami, Satsuki, Midorima, Murasakibara, dan Kise."
"Um… Aku harus bertanya dengan ibuku dulu dan kamarku cukup sempit untuk menampung kita semua."
Kuroko lalu pergi keluar untuk menelpon ibunya. Aomine segera berkumpul dengan Kagami, Kise, dan Midorima lalu berbisik – bisik.
"Apa yang akan akan kita lakukan disana Kise?" (Kagami)
"Tidak perlu melakukan hal khusus. Kita cuma berkunjung saja –ssu. Tujuan utama kita adalah untuk mengetahui apa yang Akashi-cchi lakukan terhadap Kuroko-cchi."
"Tapi ini sudah hari terakhir." (Kagami)
"Terkadang justru kejadian penting terjadi di hari terakhir –ssu."
"Kau hanya mau pergi ke rumah Kuroko saja nanodayo. Kuroko pasti akan menolak kalau kau cuma sendiri."
"Yang kita hadapi adalah Akashi-cchi. Kita harus lebih aktif."
"Uwaaaaah!" Tiba – tiba Kagami terlonjak kaget di sebelah Aomine.
Kuroko muncul dari belakang Kagami. "Ano, Aku sudah menerima jawaban dari ibuku."
"Jangan secara tiba – tiba menaruh tanganmu di tanganku!"
"Maafkan Aku Kagami-kun. Kata ibuku, Aku boleh membawa kalian semua."
Kise langsung tersenyum dan menjawab dengan cepat. "Baiklah, kami akan menantikannya Kuroko-cchi!"
Kuroko sedikit tersenyum. Ia merasa senang karena bisa membawa mereka main ke rumahnya. 'Kalau begitu hari ini mereka bisa membantu Akashi-kun untuk istirahat.'
oOo
Kelompok Rainbow Head sedang berdiri di depan gerbang kecil berwarna hitam. Setelah melewati gerbang tersebut terdapat rumah sederhana dengan gaya yang semi tradisional. Hari ini mereka berencana mengunjungi rumah Kuroko untuk mencari tahu dan menghalangi upaya salah satu anggota mereka yang berambut merah dengan warna mata merah dan kuning keemasan.
Kuroko membuka pintu lalu masuk terlebih dahulu. "Silahkan masuk ke dalam."
"Permisi!" Kelompok Rainbow Head masuk satu per satu dan mulai memenuhi genkan. Mereka segera mencopot sepatu masing – masing, tetapi tiba – tiba ada sesuatu yang datang dan menghampiri Kuroko.
"Guk… Guk…. Guk…"
"Aku pulang Nigou."
Kuroko lalu berjalan ke arah dapur dimana ibunya berada. "Ibu, Aku pulang."
Ibu Kuroko membalikan badannya lalu mematikan kompor. "Selamat datang Tetsuya." Ia kemudian berjalan menuju ruan tamu. "Selamat datang! Uwah~ rambut kalian berwarna – warni. Lucu sekali."
'Uwah, Kuroko/Tetsu/Tetsu-kun/Kuroko-cchi/Kuro-chin versi perempuan.'
"Ibu, mereka adalah teman – temanku di sekolah."
Satu per satu kelompok Rainbow Head mengenalkan dirinya masing – masing, lalu …
"Dimana Kagami-kun?"
"Loh tadi dia di belakangku."
Kuroko kembali ke genkan dan melihat Kagami jongkok sambil gemetaran. Nigou mengikuti Kuroko di belakangnya.
"Guk…. Guk…"
Kagami semakin gemetaran dan mulai bergerak untuk membuka pintu. "Jangan biarkan dia mendekat! Aku tidak begitu suka anjing!"
Kuroko mengangkat Nigou dan mendekati Kagami.
"Tapi Nigou itu anjing baik Kagami-kun. Dia terlihat imut kan."
"Sudah kubilang jangan mendekat kemari!"
Kuroko kemudian membawa Nigou masuk ke ruang tengah supaya Kagami bisa bergerak dari genkan.
'Uwah, Kuroko/Tetsu/Tetsu-kun/Kuroko-cchi/Kuro-chin versi anjing.'
Mereka semua kemudian naik ke lantai dua menuju kamar Kuroko. Kuroko turun ke bawah lagi untuk menyiapkan minuman dan snack untuk tamunya. Sementara itu Rainbow Head mulai melihat seisi kamar. Mereka melihat album foto masa kecil Kuroko yang kemarin baru saja dilihat oleh Akashi dan belum dikembalikan ke tempatnya semula. Album foto Kuroko dan Akashi sudah disembunyikan Akashi di tempat yang aman sehingga tidak mudah untuk ditemukan.
"Tetsu-kun kelihatan imut sekali! Aku ingin sekali punya adik yang lucu seperti ini."
"Benar, Aku juga ingin punya adik seperti ini –ssu. Tapi Kuroko-cchi yang sekarang juga tidak apa – apa."
Aomine berdiri di hadapan papan sasaran dart dan menyentuh papan tersebut. "Hm, Tetsu suka bermain dart? Bekasnya terlihat dan ada lubang di dinding. Ini pasti karena meleset."
"Akashi, kau yang mengajarkan Kuroko ini, kan?" Midorima lalu mendekati Aomine dan Ia juga mulai memeriksa papan tersebut.
"Benar. Tetsuya bisa sekaligus mempelajari kemampuan yang dibutuhkannya."
"Kurasa Kuroko tidak akan semudah itu menyerang seseorang nanodayo."
"Aku tahu itu, tetapi bukan berarti Ia tidak bisa menyerang. Tidak ada salahnya untuk mempersiapkan."
Aomine mundur ke belakang dan mulai menggaruk kepalanya. "Hah… Aku tidak akan pernah mengerti semua yang kau pikirkan Akashi."
"Tidak masalah Daiki."
"Aku kembali. Silahkan, ini untuk kalian." Kuroko datang membawa nampan yang cukup besar berisi minuman dan snack. Ia lalu menaruh nampan tersebut di bagian tengah ruangan.
"Hoo~ Kuro-chin cookie." Murasakaibara bergerak ke tengah dan mulai memakan kue yang ada.
"Kuroko-cchiii, kau imut sekali."
"Tetsu-kun, ayo duduk disini. Jelaskan foto – foto ini. Misalnya, berapa umurmu, sedang dimana, dan dalam event apa."
"Em, tapi Aku tidak begitu ingat waktu Aku masih sangat kecil."
"Tidak apa –ssu. Ayo mulai!" Kuroko lalu mendekati Momoi dan Kise yang sedang sibuk dengan kumpulan album foto.
Nigou berjalan masuk ke dalam kamar dan pandangannya tertuju pada Kagami. Kagami bergerak mendekati jendela. "Jangan kemari! Kenapa dia malah mendekatiku!"
'Pada akhirnya mereka lupa tujuan kita kemari.' (Midorima dan Aomine)
"Yah kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nigou, kemari! Ayo kita bermain dengan Bakagami!" Aomine mengalihkan perhatiannya pada Kagami. Ia mengangkat Nigou yang menjawab panggilannya.
"Guk… Guk!"
"Kau jangan ikut – ikutan! Aku pasti akan memukulmu sehabis ini!"
Para Rainbow Head mulai sibuk dengan apa yang ada di depannya masing – masing. Midorima yang tetap ada di depan papan dart lalu mengajak bicara Akashi.
"Aku dengar kau menginap disini Akashi."
"Kau pasti mendengarnya dari Tetsuya."
"Kau juga kelihatan sedang sibuk dengannya nanodayo."
Akashi mengeluarkan sedikit senyuman dan mulai menjelaskan dengan tenang. "Selama seminggu ini, Tetsuya menjadi pengikutku. Itu semacam hukuman baginya. Bisa dibilang kalau selama seminggu ini kami melakukan banyak hal. Apa yang dikatakan Tetsuya kepadamu?"
"Dia bilang tidak mau menceritakannya karena terasa berat. …. Tetapi Kuroko masih sama seperti biasanya, mungkin sikapnya terhadapmu sedikit berubah. Yang terpenting adalah tidak terjadi hal yang negatif jadi kupikir mereka tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Kuroko." Midorima menjawab dengan tenang sambil menaikan kacamatanya.
"Kurasa bukan mereka saja. Ya kan, Shintarou?"
"…."
"Tenang saja. Tetsuya ternyata tidak semudah itu bisa diubah. …. Mungkin justru diriku yang sedikit berubah." / Iya, jadi OOC /
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" Tiba – tiba Kuroko muncul dari balik Midorima.
"Shintarou ingin tahu keadaan Tetsuya hari ini."
"Aku tidak berbicara itu nanodayo!" Jantung Midorima berdebar – debar akibat kaget dengan kemunculan Kuroko di belakangnya.
"Hari ini Aku baik Midorima-kun." Kuroko menatap Midorima dan Midorima hanya mengalihkan pandangannya sambil menaikan kacamatanya.
"Tetsuya bagaimana kalau kita memainkan permainan Liar or Slave dengan 8 orang."
"Hah?"
"Aku sudah memikirkan perubahannya. Kali ini kita akan menggunakan kartu Uno."
"Kalau begitu, itu bukan permainan yang sama lagi Seijuuro-kun."
Mereka berdelapan lalu berkumpul dan duduk membentuk lingkaran. Kelompok Rainbow Head merasa sedikit gugup dengan permainan yang diajukan oleh si Kepala Strawberry. Mereka menyiapkan mental untuk segala sesuatu yang bisa terjadi.
.
.
.
Ini bagian terakhir, hah… akhirnya selesai juga. Semoga tidak mengecewakan pembaca sekalian.
Sehabis ini Author akan berhenti menulis dulu dan baru akan mulai lagi minimal seminggu dari sekarang dengan batasan maksimalnya belum tahu. Semoga kalian bisa sabar menunggu! Oh ya, sehabis ini ada tambahan. Silahkan lanjut membaca terus!
.
.
.
OMAKE
Slave Melakukan Perlawanan
"Ini Sekop. Tetsuya pilih apa?"
"Aku pilih Slave, Akashi-kun."
"Berikan foto ini kepadaku. Kartu Jack."
"Tidak akan kuberikan Akashi-kun, kulawan dengan Jack Keriting. Aku tidak mau menambah koleksi yang ada."
"Sayang sekali, foto masa kecil Tetsuya hanya bisa kudapatkan dari orang dalam. Yah, masih ada lain waktu."
"Tolong jangan meminta hal seperti ini! Selanjutnya, kartu Hati."
"Aku pilih Slave, Tetsuya."
"Akashi-kun tidak boleh memasang kamera di kamarku lagi. Kartu King."
"Aku menolak, kulawan dengan As Keriting. Aku perlu memantau kegiatan Tetsuya."
"Tolong jangan pantau kegitanku. Ini adalah privasiku."
"Oleh karena itu, Aku memasangnya secara diam – diam. Tetsuya tidak perlu pusing kalau tidak mengetahuinya. Lagipula, kau tak akan bisa mencegahku untuk memasangnya lagi."
"Aku akan selalu memeriksa kamarku Akashi-kun."
oOo
Dampak dari Liar or Slave
Hari sudah senja dan saat ini kelompok Rainbow Head sedang berjalan pulang dari rumah Kuroko.
"Aku tidak tahu kalau Murasakibara-cchi mempunyai lagu berjudul Pocky and Me." Kise berbicara kepada Murasakibara yang berjalan di samping Midorima.
"Aku memikirnya waktu sedang bosan di kelas. Awalnya Aku cuma bersenandung asal, tetapi setelah itu Aku mulai menambahkan lirik."
Kagami menolehkan kepalanya ke belakang dan berbicara kepada Midorima. "Aku juga baru tahu kalau Midorima suka memakai topi untuk tidur. Kau terlalu rapi, tidak masalah kalau kita memiliki sedikit bed hair."
"Diam Kagami! Aku tidak meminta pendapatmu!"
"Kagamin tadi lucu sekali. Bersembunyi di belakang Aomine-kun saat dia harus mengelus kepala Nigou selama satu menit."
"Aku tidak mau mengingatnya lagi! Jangan bahas itu lagi Momoi!" Kagami berteriak dengan mukanya yang memerah.
Aomine merangkul pundak Kagami. "Ketakutanmu terlalu berlebihan Bakagami. Nigou itu jinak dan masih kecil."
Kagami segera melepas rangkulannya dan mengambil jarak dengan Aomine. "Aku tidak menyukai semua jenis anjing!"
"Dan Aomine-cchi ternyata pernah mengigau sambil melakukan dunk saat pelajaran berlangsung. Kau menampar kepala orang yang duduk di depanmu ke bawah –ssu! Hahaha... Aku ingin sekali melihatnya!"
"Aku tidak sengaja! Di dalam mimpi, Aku melakukan dunk sampai ring basket-nya lepas! Tsk, gara – gara itu Aku jadi dihukum."
"Aku tidak mau duduk dekat Mine-chin~"
"Pantas saja Kuroda sampai pingsan. Dasar idiot basket!"
"Mulut siapa yang berbicara itu hah? Dasar Bakagami!"
"Itu masa lalu, jangan diperpanjang terus –ssu."
"Diam kau! Kerjamu hanya nangis saja tadi!" Kagami dan Aomine sama – sama memberikan tatapan tajam pada Kise.
Kise mulai panik karena harus mengingat permainan itu lagi. "Mau bagaimana lagi! Kuroko-cchi menyuruh Akashi-cchi untuk menceritakan cerita seram kepadaku. Dan itu bukan cerita hantu tapi cerita sadis –ssu."
"Kau tidak perlu sampai setakut itu Ryouta. Itu hanya cerita yang kukarang sendiri." Akashi menjawab dengan tenang dari depan. Ia berjalan sambil membawa tas menginapnya.
"Tapi Kuro-chin lebih mengejutkan~. Tiba – tiba Ia menghilang kemudian kita tidak sadar kalau Ia kembali dan duduk di belakangku sambil minum vanilla milkshake."
"Benar, Tetsuya bahkan lepas dari pengawasanku saat perhatianku teralihkan sebentar."
"Gara – gara itu Aku menabraknya dan membuat Kuro-chin pingsan."
"Tetsuya tahu kondisinya sendiri seperti apa, tetapi tetap melakukan hal ceroboh seperti itu."
Kelompok Rainbow Head hanya bisa terdiam mendengar kata – kata temannya yang satu ini. mereka bersyukur Kuroko baik – baik saja. 'Yang paling mengejutkan adalah saat Akashi menyuruh Kuroko menempelkan telapak tangannya di papan sasaran dart dan Ia menembakan panah ke sela – sela jarinya. Itu pasti karena Kuroko tiba – tiba menghilang di tengah permainan.'
'Entah apa yang akan dilakukan ibu Kuroko kalau Ia mengetahuinya.'
.
.
*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.
*Jangan lupa reviewnya, saran & kritik pasti diterima
*Dan terima kasih bagi yang sudah membaca, mem-follow, mem-favorite, dan memberikan review sampai sekarang! Sampai jumpa di chapter berikutnya.
