Kuroko no Gakuen

Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.

Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.

Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC

/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./

'…..' (Pikiran karakter)

"….." (Pembicaraan karakter)

/…../ (Pesan penulis)


Terima kasih banyak buat yang udah baca, nge-follow, dan nge-favorite cerita sebelumnya.

Dan makasih juga buat yang udah nge-review chapter 9, 10, dan 11: versetta, AulChan12, momonpoi, Guest, Yuki-chan, Lisette Lykouleon, XL-SasuHinaGaa, Guest, dan love akashi-kun

Ini balasan review buat chapter 10 & 11 bagi yang tidak log-in.

Guest di chapter 10: Makasih buat udah baca dan suka ceritanya.

Yuki-chan: Author sekarang mencoba untuk lebih menjelaskan di bagian dialognya dan lebih menjelaskan lagi ekspresi dari karakternya. Semoga sekarang menjadi lebih jelas dan lebih terbayang.

Guest di chapter 11: Terima kasih karena sudah mau menunggu. Ini lanjutannya.

Bersiap - siaplah, ini chapter terpanjang!


Chapter 12: Pencari dan Pencuri

(Saat ini)

Matahari mengeluarkan sinarnya di Negara Jepang. Langit mengeluarkan warna kuning. Tanah mengeluarkan hawa panas yang disimpannya. Serangga musim panas mengeluarkan suaranya. Nyamuk berusaha mengeluarkan darah dari mahluk lain yang digigitnya. Manusia juga berusaha mengeluarkan keringat untuk mengatur suhu tubuhnya. Berkebalikan dengan itu, Kuroko Tetsuya berusaha untuk tidak mengeluarkan hawa keberadaannya.

Di balik semak – semak Kuroko berjongkok sambil melihat sesuatu di kejauhan. Ia berusaha untuk bergerak secara perlahan – lahan tanpa mengeluarkan suara. Nyamuk di sekitar Kuroko setia menemani dirinya yang sedang berdiam diri. Ia bertahan untuk tidak memukul nyamuk tersebut karena bisa menimbulkan suara yang keras. Ia harus menjaga ketenangannya saat ini karena ada mahluk lain yang sedang mengincarnya. Kuroko merasa sedikit resah karena Ia tidak bisa melihat mahluk yang sedang mengincarnya tersebut. Oleh karena itu, Ia hanya bisa bersembunyi dengan sebaik – baiknya dan menghindari mahluk tersebut.

"Srak… Srak…"

Kuroko segera mempertajam pendegarannya. Ia berusaha untuk menangkap segala suara yang ada di sekitarnya. Pelukan terhadap benda di depan perutnya diperkuat. Kuroko juga mulai memikirkan segala cara untuk mempertahankan benda tersebut. Ia tahu kalau Ia tidak bisa berbuat banyak di depan mahluk yang mengincarnya tapi Ia tidak mau menyerah begitu saja.

"Tak…" "Srak…"

Kuroko segera memalingkan kepalanya ke kanan untuk melihat benda yang menimbulkan suara tersebut. Perhatiannya langsung tertuju sepenuhnya pada wilayah di sebelah kanannya. Ia memperhatikan segala sesuatu yang mencurigakan. Kuroko melihat kerikil kecil yang jatuh di dekatnya. Kerikil ini kemungkinan mengenai pohon di dekat Kuroko kemudian jatuh di semak – semak tempat persembunyiannya. Kuroko mengambil kerikil itu dan mengamatinya. Seketika itu perasaan tegang mulai menjalar di tubuh Kuroko. Ia berpikir kalau sebentar lagi akan ada sesuatu yang terjadi.

"Tetsuya"

'Eh?!'

.

.

(Setengah jam sebelum saat ini)

Kagami Taiga berjongkok di balik semak – semak yang besar. Kagami memikirkan betapa kuat hawa panas yang ada di sekitarnya. Ia juga mengutuki semua nyamuk yang menemaninya saat itu dengan menjadikan dirinya sebagai mangsa. Ia berusaha mengusirnya tetapi nyamuk memiliki sifat yang sangat setia sehingga tentu saja mereka tidak akan pergi dengan mudah. Sesekali pandangan Kagami jatuh pada pemandangan di depannya. Di kejauhan beberapa orang sedang berlalu lalang dan berjalan melewati semak – semak yang ada.

Kasamatsu terlihat berjalan mendekati arah Kagami. Kagami segera bergerak secara perlahan untuk menjauh sebelum Kasamatsu bisa mendekat dan mendengar suara yang ditimbulkannya. Ia bergerak sambil merangkak tanpa melepas benda yang ada di tangan kirinya. Ia harus mempertahankan benda tersebut agar tidak ada siapapun yang melihat isinya.

Beberapa menit kemudian pergerakan Kasamatsu terhenti dan Ia mulai berjalan kearah yang lain. Kagami merasa lega dengan hal yang dilihatnya. Ia kemudian memperhatikan keadaan sekitar dan melihat ada semak – semak besar di dekatnya. Kagami bergerak kearah kiri dan bersembunyi lagi di balik semak – semak yang baru.

Kagami lalu duduk di tanah karena merasa kalau Ia bisa mengendurkan kesiagaannya sebentar. Kakinya butuh beristirahat dari posisi jongkok yang dari tadi selalu dilakukannya. Ia lalu mulai berpikir kira – kira berapa lama lagi Ia harus seperti ini. Bersembunyi di balik semak – semak sambil ditemani mahluk – mahluk berisik. Ia tidak masalah dengan serangga musim panas tetapi nyamuk benar – benar menguji keasabarannya.

Kagami kemudian berusaha mengalihkan pikirannya dari nyamuk. Ia mulai memikirkan kedatangan 'kakaknya', Himuro Tatsuya ke Tokyo dari Akita. Setelah pulang ke Jepang, Himuro masuk ke SMA Yosen yang ada di Akita. Sebelum ini Kagami bertemu dengannya di kejuaraan Interhigh. Saat itu Kagami baru tahu bahwa Himuro adalah teman masa kecil dari Murasakibara Atsushi sebelum kepindahannya ke Amerika. Mereka berdua tetap saling berkomunikasi satu sama lain. Himuro ternyata juga suka bertanya tentang Kagami kepada Murasakibara. Kagami tidak pernah diberitahu oleh kedua belah pihak. Ia paham dengan Murasakibara tetapi Ia tidak menyangka kalau Himuro juga akan merahasiakan hal itu dari dirinya.

Memikirkan hal lain ternyata membuat udara terasa lebih sejuk. Kagami lalu membalikan badannya dan kembali memusatkan perhatian ke depan. Belum ada satu orang pun yang mendekat ke tempatnya.

'Hm, bagaimana dengan yang lain ya? Kuroko pasti bisa bersembunyi dengan baik dan Kise pasti sedang tidak bisa diam sekarang….. Hah… udara terasa semakin sejuk, kurasa Aku menemukan tempat yang tepat.'

Kagami melanjutkan kembali pengintaiannya terhadap keadaan sekitar. Ia juga merasa semakin nyaman karena udara di sekitarnya terasa semakin sejuk. Ia bahkan merasakan ada angin semilir dari belakangnya.

Beberapa detik kemudian Kagami mulai merasakan bulu kuduknya merinding. 'Ini musim panas dan saat ini sedang tidak ada angin yang lewat jadi kenapa ada udara dingin dari belakang?'

Kagami mulai berpikir yang macam – macam. Ia kemudian melihat ke belakang dan tidak menemukan apapun. Kepalanya kembali menghadap ke depan dan udara dingin mulai terasa lagi. Kagami menelan ludahnya dan merasa kalau sesuatu yang aneh benar – benar terjadi.

"Yuuuoooouuuoooo…" Bersamaan dengan suara ini dari belakang, Kagami juga merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lehernya.

"Uwaaaaaaaaaaaah!"

Kagami langsung berdiri dari tempatnya dan berlari sekencang – kencangnya.

"Itu Kagami!" Takao langsung berteriak kepada yang lain untuk memberitahukan kemunculan Kagami.

"Aku akan mengejarnya!" Kasamatsu segera menjawab Takao setelah Ia melihat Kagami yang berlari.

Takao lalu berlari mendekati Kasamatsu dan menghentikannya. "Kurasa tidak perlu Kasamatsu-san. Ace kita sudah mengejarnya. Biarkan dia saja yang menangkap Kagami."

"Oh, benar juga." Kasamatsu menjawab sambil melihat kearah orang yang berlari di belakang Kagami.

Kagami merasa kalau ada seseorang yang mengejarnya dari belakang. Ia tidak tahu siapa itu tapi Ia harus segera lolos sebelum muncul lebih banyak orang yang mengejarnya. Kagami segera menyingkirkan pikiran horror-nya dan mulai berkonsentrasi untuk menjaga benda yang ada di tangannya.

Tiba – tiba ada seseorang yang menangkap Kagami dari belakang. "Bruk!" Kagami segera jatuh ke depan dan merasa ada sesuatu yang berat menimpanya.

"Ooow!"

"Yo Bakagami! Aku berhasil menangkapmu. Sekarang berikan ini kepadaku!" Aomine yang berada diatas Kagami langsung memegang kantung hitam yang dipegang Kagami dan berusaha merebutnya.

"Tidak mau!" Kagami langsung menjauhkan kantung hitamnya dan memukul kepala Aomine dengan kantung tersebut. Aomine melepaskan genggamannya terhadap Kagami dan terguling ke samping. Kagami berhasil meloloskan diri dan segara bangun untuk berlari lagi.

"Oouuw! Berhenti kau! Dasar Kagami sialan!"

"Kau tidak akan bisa menangkapku Ahomine!"

Akhirnya aksi kejar – kejaran antara Kagami dan Aomine dimulai.

oOo

Kagami berlari melewati sungai kecil buatan yang mengalir dan semak – semak yang berada di sekitarnya. Di belakangnya Aomine mengejar sambil tertawa.

"Aku tidak menyangka kalau kau akan berteriak sekencang itu Kagami. Hahahaha! Itu lucu sekali."

"Jadi itu perbuatanmu! Dasar Ahomine sialan!" Kagami berteriak ke belakang dengan muka yang merah.

"Lihat! Aku membuat udara dingin itu dengan mengipas es ini. Aku ini pintar, tidak seperti Bakagami yang penakut!"

"Aku tidak penakut! Aku tidak berpikir kalau ada hantu di siang hari! Dan jangan menyebut dirimu pintar!"

Dari balik semak – semak yang ada di dekat sungai kecil, Midorima memperhatikan Kagami dan Aomine yang sedang bermain kejar – kejaran. Dalam jarak pandangannya Ia juga melihat Takao yang mulai bergerak kearah Kagami dan Aomine.

'Hah… tolong pilih antara mau berlari atau bercanda. Kalian bisa tersandung kalau berlari seperti itu.' Midorima menasehati dalam hati sambil menaikan kacamatanya.

'Ini kesempatan bagiku. Aku harus bergerak kearah yang berlawanan selagi perhatian mereka dialihkan oleh Kagami.'

Midorima mulai bergerak sambil merangkak dangan arah yang menyusuri sungai kecil. Ia bergerak kearah semak – semak yang lebih rimbun dan tempat yang lebih tenang. Ia lalu menemukan pohon cukup besar yang memiliki semak – semak di sekitarnya. Midorima memutuskan untuk menggunakan tempat tersebut.

Midorima duduk bersandar di balik pohon dan membuka kaitan kantung hitam yang dipegangnya. Ia mengeluarkan lucky item untuk hari ini dan menggenggamnya. Hari ini Ia membawa kipas dengan lambang onsen di kedua sisinya. Midorima merasa sangat beruntung kalau lucky item hari ini bisa Ia dapatkan dengan mudah dari penginapan yang mereka tempati. Penginapan yang mereka tempati memiliki pemandian air panas sebagai daya tarik utama. Mereka juga menjual kipas buatan penduduk lokal dengan simbol onsen, sangat cocok dengan lucky item milik Cancer hari ini.

Midorima mengunakan kipas itu untuk membantu mengurangi hawa panas di sekitarnya. Awalnya kipas ini Ia masukkan kedalam kantung yang dibawanya bersama benda yang harus disembunyikannya. Ia biasanya membawa lucky item di genggaman tangan kirinya. Tetapi benda itu Ia masukan kedalam kantung sebagai perwujudan tekadnya untuk memenangkan game hari ini. Jika kantung ini terebut maka lucky item-nya juga akan terambil sehingga keberuntungan akan pergi darinya selama beberapa waktu. Ia tidak ingin keberuntungan pergi oleh karena itu Ia harus mempertahankan benda ini. Midorima lalu kembali melanjutkan kegiatan mengipasnya sambil berdoa kalau lucky item untuk besok bisa Ia dapatkan dengan mudah.

"Midorima-kun pasti sedang memikirkan lucky item sekarang."

"Uwaa! Kuroko! Apa yang kau lakukan disini?"

Kuroko muncul dari samping kanan dan mendekati Midorima yang terkejut.

"Aku tadi sedang bersembunyi disana. Lalu tadi kau melewatiku jadi Aku mengikutimu." Kuroko berbicara sambil berbisik – bisik di dekat Midorima. Ia juga bisa sekaligus mendapatkan angin yang muncul dari kipas Midorima.

"Aku melewatimu? Aku tidak menyadarinya sama sekali nanodayo. …. Kuroko, apa dulu kau pernah bermain petak umpet?"

"Tentu saja Aku pernah memainkannya Midorima-kun."

"Lalu bagaimana hasilnya?"

Kuroko lalu sedikit menundukan kepalanya dan menjawab pertanyaan tersebut. "Um, terkadang mereka suka melupakanku dan mengakhiri permainan sebelum menemukanku. Karena itu, Aku lebih suka kalau Aku yang berjaga dan yang bertugas mencari."

"Hm, sesuai dugaanku." Midorima menjawab sambil menaikan kacamatanya. 'Untung saja hari ini kau yang bertugas untuk bersembunyi, Kuroko.'

"Midorima-kun, ayo kita tukar benda yang kita bawa."

"Oh benar, ini kesempatan yang bagus nanodayo."

Mereka berdua lalu menukar benda yang mereka bawa. Kuroko bisa merasakan bahwa benda yang dibawanya lebih berat tapi Ia masih bisa membawanya.

"Kau tidak selemah itu sehingga tidak bisa membawanya, kan?"

"Tentu saja, Aku bisa membawanya Midorima-kun. Kau tidak usah khawatir denganku."

"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku hanya tidak ingin kita kalah nanodayo."

"Sraak!"

"Aku akan bergerak lebih kesana lagi Akashi!"

Midorima dan Kuroko langsung menghentikan pembicaraannya dan melihat ke belakang. Kasamatsu ternyata tiba – tiba muncul dari semak – semak yang berjarak sekitar sepuluh meter di depan mereka. Di kejauhan Akashi berjalan mendekati Kasamatsu dan mereka berdua terlihat melakukan pembicaraan.

"Akashi menuju kemari, sebaiknya kita segera berpencar Kuroko."

Midorima terus memusatkan perhatiannya kepada intaiannya di depan untuk melihat pergerakan mereka berdua.

"Kuroko?" Midorima lalu menunggu sesaat dan tetap tidak ada jawaban. Ia lalu menoleh ke samping.

"Hah… sejak kapan dia menghilang nanodayo." Kuroko sudah tidak ada di sampingnya.

Midorima segera memasukan kipas miliknya kedalam kantung dan berpindah tempat.

.

.

(55 menit sebelum saat ini)

Kise Ryouta saat ini sedang berjalan mengendap – ngendap menuju semak – semak di dekat lapangan basket yang tadi siang mereka gunakan untuk bermain. Ia tidak merasakan keberadaan satu orang pun jadi Ia memutuskan untuk duduk di balik pohon besar. Kise lalu mengingat kembali mengenai kedatangan mereka di tempat ini.

Ini adalah hari ketiga mereka di tempat ini. Kemarin lusa mereka sampai di penginapan milik paman Aomine yang sedang dalam masa perbaikan sehingga mereka bisa menginap dengan hanya membayar biaya makan yang juga diberi potongan harga khusus pelajar dan khusus keluarga. Oleh karena itu, tidak ada pengunjung lain saat ini yang menginap. /Author mendapat ide ini dari anime Hyouka/

Penginapan ini terkenal dengan pemandian air panasnya yang alami. Selain itu, penginapan ini juga terletak di daerah pegunungan yang sedikit terpencil sehingga cocok sekali untuk tempat melepas kepenatan. Mereka pergi ke tempat ini untuk mengerjakan tugas liburan panas mereka yang belum selesai dan untuk bermain.

'Hah… setelah sampai dan beristirahat, Akashi-cchi langsung menyuruh kami untuk mengerjakan tugas gila tersebut. Kami terus mengerjakannya di hari pertama dan kedua sampai tadi sebelum makan siang. Waktu istirahat hanya untuk makan, mandi, dan tidur. Lalu besok siang kami sudah harus pulang. Akashi-cchi dan Midorima-cchi sudah menyelesaikan tugas mereka sehingga mereka mengawasi kami. Tetapi untung saja tugas Kuroko-cchi, Takao-cchi, dan Momoi-cchi sudah mau selesai sehingga mereka bisa langsung membantu kami. Himuro-san juga sudah selesai sehingga bisa membantu Murasakibara-cchi. Dan Kasamatsu senpai sibuk belajar, Hah… susahnya kelas tiga.' Kise berbicara di dalam hatinya sambil terus mengeluarkan napas panjang. /Dalam fanfic ini, Himuro sudah kelas dua SMA./

'Kami ini kan sibuk dengan basket dan murid lain pasti sibuk dengan kegiatan club-nya masing – masing. Pihak sekolah seharusnya mengurangi tugas yang diberikan. Hah… Kejuaraan Interhigh sudah selesai dan sekarang liburan musim panas tinggal seminggu lagi. Hah… Ok! Aku harus menikmati festival malam ini!'

Penginapan yang mereka tempati memiliki halaman yang sangat luas dan alami. Selain itu, juga terdapat lapangan basket sehingga mereka bisa bermain tadi. Saat ini mereka bersepuluh sedang bermain di halaman penginapan. Permainan yang mereka lakukan dibagi menjadi dua grup, yaitu grup pencari: Akashi, Kasamatsu, Takao, Murasakibara, dan Aomine; dan grup pencuri: Kise, Himuro, Kagami, Midorima, dan Kuroko. Momoi bertindak sebagai pengawas waktu dan penjaga bagi mereka yang sudah tertangkap.

"Srak!"

Kise segera membalikan badannya dan melihat kearah sumber suara. Ia mengeratkan genggamannya pada kantung hitam berisi benda bulat itu. Ternyata suara itu ditimbulkan oleh Murasakibara dan Kasamatsu yang sedang memeriksa semak – semak di dekat lapangan basket.

"Hm, entah kenapa Aku merasa kalau Kise ada di sekitar sini."

"He~ kraus… krauk… krauk…, bagaimana kau bisa tahu?" Murasakibara melihat sekitar sambil memakan keripik kentang di tangannya.

"Entahlah, hanya perasaan saja." Kasamatsu lalu menggaruk bagian belakang lehernya.

'Uwaahh, Aku harus segera pindah –ssu.'

Kise segera merangkak secara perlahan – lahan untuk menjauh dari kawasan lapangan basket. Saat sedang merangkak, tiba – tiba terlihat tangan putih dan saat Ia mengangkat kepalanya terlihat satu kepala berambut biru muda dengan wajah datar muncul dari balik semak – semak.

"Uwaaaaaaaah!"

"Halo Kise-kun. Sebaiknya kita segera pergi dari sini sekarang. Sampai jumpa." Kuroko segera pergi menghilang dari pandangan Kise.

Kise masih terdiam dengan jantung yang berdetak dengan kencang akibat kejutan yang barusan dialaminya.

"Itu suara Kise! Aku tahu kalau Ia pasti disini!" Kasamatsu langsung bergerak ke tempat Kise.

Mendengar teriakan Kasamatsu, Kise langsung tersadar dan memutuskan untuk bangun dan lari.

"Kenapa harus Aku yang pertama –ssu?!" Kise berlari dengan sekuat tenaga. Ia tahu kalau Kasamatsu akan memberikan tendangan untuk membuatnya berhenti.

Takao kemudian muncul dari kejauhan dan melihat Kise yang sedang berlari. "Murasakibara, kalau kau menangkapnya lebih cepat, kita bisa makan semangkanya lebih cepat lagi!" Takao meneriakkan itu untuk memotivasi Murasakibara.

"Ok~"

"Hiiieeeeeh!" Kise semakin berteriak histeris membayangkan Murasakibara yang mengejarnya dengan mata berkilat walaupun sebenarnya Murasakibara hanya menambah kecepatan saja.

Kise lalu berbelok kearah taman luar. Di taman tersebut terdapat pohon besar yang cukup tua. Kise memutuskan untuk memanjat pohon tersebut. Ia tahu kalau terus berlari maka akan dikejar terus jadi Ia memutuskan untuk menghabiskan waktu lawannya dengan mencari cara untuk menangkapnya diatas pohon. Ia tahu kalau Ia pasti tertangkap tetapi setidaknya perhatian lawannya teralihkan dari teman – temannya.

"Ckris… ckris…"

"Uwaaaaaaaah!"

Tiba – tiba dari balik pohon besar muncul tangan putih yang membawa gunting dan berhasil membuat Kise terkejut untuk kedua kalinya. Dari balik pohon tersebut muncul Akashi Seijuurou sambil mengeluarkan senyum yang mengerikan.

"Halo Ryouta. Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Kau akan menyesal kalau memilih untuk memanjat pohon ini."

Ryouta diam sejenak akibat kejutan yang diterimanya. Jantungnya berdegup kencang sekali melihat muka Akashi yang mengerikan.

"Buagh!"

Kasamatsu berhasil melancarkan tendangannya pada Kise dan membuat Kise jatuh ke depan.

"Hahaha! Kau tertangkap Kise. Aku ambil benda ini!" Kasamatsu mengambil kantung hitam di tangan Kise dan membuka isinya.

"Cih, isinya bola basket. Aku tahu, mereka tidak akan menyerahkannya padamu. Ok, waktunya bergerak ke penjaramu Kise." Kasamatsu lalu menarik kaos Kise untuk membuatnya berdiri lalu menariknya pergi.

"Kau kejam Senpai. Aku tadi sudah berhenti. Kau tidak perlu menendangku lagi." Kise berjalan di samping Kasamatsu sambil ditarik menuju tempat Momoi duduk.

"Itu sudah jadi kebiasaanku. Susah sekali menghilangkannya."

"Sadis –ssu!"

Mereka sampai di tempat Momoi yang ada di beranda penginapan di lantai dasar. Di sebelah Momoi terdapat dua buah semangka.

"Hai Ki-chan! Ayo masuk penjara dan temani Aku."

Akashi ternyata juga mengikuti mereka berdua dari belakang dan berjalan mendekati Kise.

"Ryouta, dinginkan semangka – semangka itu dengan air di wadah yang besar atau ember. Lalu sepuluh menit sebelum permainan selesai, potong semangkanya dan taruh di piring. Jangan biarkan Satsuki membantumu! Apa kau mengerti?"

"Yah, baiklah. …. Tunggu sebentar! Akashi-cchi kau tidak boleh membawa gunting. Itu bahaya –ssu!"

"Aku tidak akan menggunakannya kalau memang tidak diperlukan. Aku pergi." Akashi lalu pergi bersama Kasamatsu untuk kembali ke permainan.

"Bagaimana kau bisa ketahuan Ki-chan?" Momoi duduk sambil mengipasi Kise yang mengeluarkan banyak keringat.

"Hah… Kuroko-cchi muncul dan mengejutkanku –ssu." Kise mengeluarkan napas panjang lagi dan mulai menatap buah semangka yang ada di sebelahnya.

oOo

"Murasakibara, tangkap dia! Dia berlari kearahmu!" Aomine berteriak setelah berhasil mengeluarkan Himuro dari tempat persembunyiannya.

"Muro-chin~ Aku akan menangkapmu." Murasakibara bersiap – siap untuk menghadang Himuro yang sedang berlari kearahnya.

"Atsushi, sebutkan sepuluh rasa keripik kentang Oishiyo!" /Nama ini cuma dibuat – buat./

"Original, kimchi, wasabi-nori, salt, sweet chilli, tomat, keju, udan–" Selagi Murasakibara menyebutkan rasa – rasa yang ada. Himuro langsung melewatinya dan segera kabur.

"Cih, pantas saja Ia lari kearahnya. Oi, dia lolos! Jangan diam saja!" Aomine berteriak dan segera bergerak melewati Murasakibara lalu mengikuti Himuro.

(Beberapa menit kemudian)

"Atsushi, apa persamaan antara Ojuusu rasa jeruk dan strawberry?" Himuro kembali memberikan pertanyaannya. /Yang ini juga cuma dibuat – buat./

"Eh~, memangnya bisa sama ya?" Murasakibara menyentuh dagunya dan mengambil posisi berpikir. Himuro kembali melewati Murasakibara.

"Jawabannya tentu saja karena sama – sama asam! Dia kabur lagi tukang makan!" Aomine dan Murasakibara kembali mengejar Himuro.

(Beberapa menit kemudian)

"Atsushi, kenapa Pocky bentuknya panjang?" Himuro kembali berlari kearah Murasakibara.

"Aah~, Aku tidak pernah memikirkannya Muro-chin. Memang apa jawabannya?" Himuro berhasil melewati Murasakaibara lagi.

"Karena itu tidak akan mengenyangkanmu kalau bentuknya pendek, idiot!" Aomine berteriak kepada Murasakibara.

"Berisik Mine-chin! Aku tidak bertanya kepadamu!" Akhirnya Murasakibara mulai merasa bad mood akibat pertanyaan – pertanyaan yang terus dilemparkan kepadanya. Tetapi berkat itu, pergerakan Murasakibara menjadi semakin cepat.

Aomine tiba – tiba berhenti dan menoleh ke samping. "Oh, naluriku merasakan Bakagami. Murasakibara kau tetap kejar dia. Aku akan menangkap Bakagami!" Aomine lalu mengubah arah geraknya dan berpisah dengan Murasakibara.

"Tsk, Muro-chin! Sekarang Aku jadi ingin makan Pocky!" Murasakibara segera berlari untuk menangkap Himuro. Ia ingin menangkapnya karena tahu Himuro membawa banyak Pocky untuk dirinya.

/Maaf, kalau Himuro-nya jadi terlihat OOC./

.

.

(Satu setengah jam sebelum saat ini)

Saat ini kelompok Rainbow Head sedang berkumpul di lapangan basket. Mereka baru saja bertanding basket dengan membentuk dua tim. Momoi juga ikut sebagai wasit dari luar lapangan. Setelah mengerjakan tugas liburan musim panas, mereka memilih bermain basket untuk melepas kepenatan. Setelah pertandingan yang sengit, mereka beristirahat sambil duduk – duduk dan membeli minuman.

"Sehabis ini bagaimana kalau kita bermain sesuatu?"

"Permainan seperti apa Takao-cchi?"

"Kita akan dibagi menjadi dua tim. Yang satu mencari kemudian yang lain bersembunyi. Ada kelompok pencari dan pencuri. Kita akan menggunakan bola basket dan semangka sebagai benda yang harus didapatkan. Aku memikirkan permainan ini setelah melihat semangka yang dibawa Shin-chan."

"Apa maksudmu itu seperti permainan petak umpet?" Himuro mulai menanggapi Takao.

"Aaa, semacam itu… tetapi ini berbeda. Kita akan memasukan tiga bola basket dan dua semangka ke lima kantung serupa. Kemudian kelima orang yang bertugas sebagai pencuri akan membawa kelima kantung tersebut masing – masing. Kelima orang lainnya yang mencari akan menangkap orang yang bersembunyi dan mendapatkan bendanya. Oh ya, kalian akan ikut semua kan? Aku mengasumsikan ada sepuluh orang yang bermain." Takao memberikan ekspresi bertanya kepada orang yang ada disana.

"Itu akan dipikirkan nanti. Kita akan dengar dulu peraturan dan bentuk permainannya." Akashi yang kebetulan sedang bermain dengan rambut Kuroko menjawab Takao.

"Ok, kita lanjut. Walaupun begitu, sebenarnya hanya satu benda yang dibutuhkan oleh kelompok pencari untuk menang. Kita akan menandai salah satu semangka ini untuk menjadi benda tersebut."

"Sekarang untuk peraturannya. Pencarian akan dilakukan selama satu jam. Sebelum pencarian dimulai, kelompok pencuri mempunyai waktu sepuluh menit untuk bersembunyi. Kita bisa menggunakan halaman penginapan ini sebagai arena bermain. Area penginapan tidak termasuk kedalam tempat persembunyian. Selama kelompok pencuri bersembunyi, kelompok pencari akan masuk kedalam supaya tidak bisa melihat. Kelompok pencari akan mencari semangka ini dalam waktu kurang dari satu jam. Kelompok manapun yang memegang semangka tersebut di saat terkahir akan dinyatakan sebagai pemenang. Jadi, walaupun kelompok pencari sudah mendapatkan semangka tersebut, Ia tidak akan menang kalau kelompok pencuri berhasil mengambilnya kembali sebelum permainan berakhir."

"Hm, jika salah satu kelompok pencuri sudah kehilangan benda yang dimilikinya tetapi tidak tertangkap, apakah Ia boleh membantu temannya yang lain?" Saat ini Akashi sedang bermain dengan telapak tangan Kuroko.

"Tentu saja Ia boleh membantu temannya. Oleh karena itu, akan lebih baik kalau pencuri yang ditangkap segera dimasukan ke penjara. Salah satu dari kita bisa menjadi penjaga dan wasit untuk melihat waktu serta menjaga orang yang tertangkap. Jadi, apa ada pertanyaan? Dan siapa yang tidak ingin bermain?" Takao mulai memandangi teman – temanya satu per satu.

Kise mulai tersenyum dengan senang dan menjawab dengan senang. "Ok, Aku mengerti –ssu. Oh ya, bagaimana kalau kita mempertaruhkan sesuatu? Kelompok yang menang boleh meminta satu permintaan kepada salah satu orang di kelompok yang kalah. Satu orang hanya boleh mengabulkan permintaan untuk satu orang –ssu. Kita akan bermain dengan jumlah yang genap, kan?"

"Aku suka saran itu." Akashi saat ini sedang bermain dengan tangan Kuroko yang satu lagi.

"Akashi-kun tolong berhenti, kau menggangguku." Kuroko mulai mengeluarkan kerutan di wajahnya.

"Aku perlu mengganggumu supaya pandanganmu tidak tertuju pada Takao terus."

"Tapi Aku perlu memperhatikan peraturannya."

Midorima yang ada di samping Takao menjawab. "Aku tidak keberatan nanodayo."

"Kau memang sudah pasti ikut Shin-chan. Ini berkaitan dengan semangka yang kau bawa." Takao memberikan senyuman kepada Midorima.

"Oh ya, sebenarnya dari mana kau mendapatkan semangka – semangka itu Midorima? Ukuranya sampai sebesar bola basket." Kagami bertanya sambil menghalangi Aomine untuk bermain dengan rambutnya.

"Senpai-ku di SMP mengirimkan itu kepadaku. Ia mengirimkan cukup banyak sehingga orang tuaku meminta agar semangka ini juga dibawa kemari." Midorima menjawab sambil mengalihkan pandangannya.

"Intinya, Shin-chan ingin berbagi semangka itu dengan kita."

"Kata – kata yang kukeluarkan bukan seperti itu nanodayo."

"Midorima-kun baik sekali nanodayo."

"Akashi, Kuroko sedang berusaha menaruh daun – daunan di kepala dan bajumu." Midorima menatap Kuroko dengan tajam.

"Tsk, Midorima-kun." Kuroko segera mengalihkan pandangannya dari Akashi dan menyembunyikan tangannya.

"Apa Tetsuya yang nakal mau menerima hukumanku lagi?" Akashi segera mengambil tangan Kuroko yang disembunyikannya.

Kasamatsu lalu berdiri dari tempatnya. "Ok, sebaiknya kita abaikan pasangan itu dan langsung membagi kelompoknya."

Semua orang yang sejak tadi memperhatikan Akashi dan Kuroko akhirnya mengalihkan pandangannya. Takao kemudian mulai merencakan cara pembagian kelompok.

.

.

(Saat ini)

"Tetsuya"

'Eh?!'

Setelah mendengar namanya dipanggil, Kuroko langsung bergerak ke kanan untuk melarikan diri. Ia mendekap benda bulat di dalam kantung hitam yang dibawanya. Kuroko berusaha terus lari menuju arah timur untuk menjauhi keributan yang ada di bagian utara penginapan. Keributan itu disebabkan oleh teman – temannya yang sedang main kejar – kejaran. Tempat persembunyian Midorima juga sudah diketahui sehingga saat ini empat orang sedang mengejar tiga orang yang membawa kantung hitam. Midorima, Kagami, dan Himuro juga sudah sadar kalau Akashi sekarang sedang memburu Kuroko. Mereka berdoa dalam hati semoga Kuroko bisa selamat.

Kuroko terus berlari tanpa melihat ke belakang. Ia bisa mendengar suara hentakan kaki di belakangnya. Kuroko lalu berbelok di suatu bangunan kecil seperti gudang agar Akashi kehilangan pandangannya terhadap Kuroko. Kuroko terus berlari dan perlahan – lahan Ia sadar kalau suara langkah kaki di belakangnya sudah hilang. Kuroko lalu memperlambat langkahnya dan melihat ke belakang. Tidak terlihat ada orang yang mengikutinya. Kuroko lalu berlari sedikit lagi dan bersembunyi di semak – semak yang cukup rimbun. Kuroko segera memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak melihat siapapun dan tidak mendengar suara yang mencurigakan.

Kuroko menyandarkan badannya di pohon dan mulai mengatur napas. Ia benar – benar berlari sekuat tenaga dari Akashi. Kuroko lalu kembali mengambil posisi berjongkok dan mengintip lewat semak – semak.

"Buagh!"

Tiba – tiba Akashi muncul dari samping kanan dan langsung menangkap Kuroko. Akashi berhasil membuat Kuroko berguling di tanah sehingga sekarang Kuroko berada dibawah Akashi sambil memeluk kantung hitamnya.

"Benda yang kau pegang ini adalah semangka, bukan?" Akashi menyentuh benda yang ada di kantung hitam Kuroko.

Kuroko menghiraukan pertanyaan Akashi. Ia hanya berusaha untuk bangun dan lepas dari Akashi. Tetapi Kuroko tidak bisa membuat Akashi melepas cengkeramannya. Kuroko juga berusaha membuatnya jatuh ke belakang tetapi tidak bisa.

'Kenapa susah sekali untuk menjatuhkan mahluk bernama Akashi ini.' Kuroko berusaha membalikan badannya untuk mengambil posisi tengkurap dengan terus memeluk benda yang dibawanya.

"Jadi yang memegang semangka adalah kau dan Himuro-san. Dan menurut dugaanku, Shintarou pati memberikan semangka yang kita cari kepadamu karena ini adalah keahlianmu." Akashi sekarang sedang memeluk Kuroko yang mengambil posisi tengkurap. Akashi mencari area dimana Kuroko merasa geli. Lalu Ia menggelitiki Kuroko. Kuroko berusaha keras untuk menahan tawanya yang mau keluar.

"Pffft… hah… hahaha… Akashi-kun… tolong hentikan. Akashi-kun… hahaha… Aku tidak suka digelitiki… haa… hahahaha."

Selama beberapa menit Akashi terus menggelitiki Kuroko. Akashi benar – benar menggunakan kesempatannya dalam kesempitan yang diberikannya kepada Kuroko.

Akashi kemudian melihat jam yang ada di tangannya. "Oh, ini sudah waktunya. Aku akan membawamu langsung ke penjara."

"Aku tidak mau jadi tahanan Akashi-kun."

"Ini hanya permainan Tetsuya. Dan kau tidak mau menjadi buronan semangka selamanya, bukan?"

Akashi lalu mengangkat Kuroko di pundak kirinya. Kuroko merasa kalau badannya melayang dan Ia menghadap ke bagian belakang Akashi. Kuroko berpikir untuk menjatuhkan semangkanya tetapi Itu sama saja dengan bodoh. Disini tidak ada temannya yang akan mengambil semangka tersebut. Akashi lalu bergerak kearah penginapan dimana Momoi dan Kise berada.

oOo

Akashi sekarang sedang berjalan dengan cepat di taman luar. Dari jarak kurang lebih sepuluh meter, Kuroko melihat Midorima, Himuro, dan Kagami yang sedang berlari.

"Kagami-kun!" Kuroko berteriak sekencang mungkin pada Kagami. Ia harus menyerahkan semangka ini sebelum Akashi membawanya ke penjara.

Mendengar teriakan Kuroko, Midorima dan Kagami langsung menambah kecepatannya. Akashi juga mulai berlari. Himuro memutuskan untuk menghalangi orang – orang yang mengejar mereka. Himuro membalikan tubuhnya dan melempar dengan kencang kantung yang dipegangnya kearah Murasakibara agar Murasakibara menangkapnya dan berhenti berlari. Kemudian Himuro menghadang Kasamatsu dan tidak membiarkannya lewat.

Sekarang hanya Aomine dan Takao yang mengejar Midorima dan Kagami. Midorima berlari mendahului Kagami untuk memperpendek jaraknya dengan Akashi lalu mengubah arah berlarinya. Ia membuka kantungnya dan mengeluarkan bola basket. Midorima lalu berhenti sejenak dan mengambil posisi menembak tembakan jarak jauh. Ia menembakan bola tersebut kearah Akashi dengan mempertimbangkan arah lari dari Akashi.

"Akashi! Shin-chan menembak dengan bola basket!" Takao segera berteriak kepada Akashi setelah Midorima mengambil posisi menembak.

Akashi langsung menoleh ke belakang dan ke atas, Ia bisa melihat ada bola yang melambung tinggi. Akashi memperhitungkan posisi jatuhnya bola. Dari belakang Kagami semakin mendekat. Kagami mengeluarkan basket dikantungnya.

"Ayo kita selesaikan semuanya dengan basket, Bakashi!" Kagami lalu melompat dengan kuat dan Ia melemparkan bola tersebut kearah kepala Akashi seperti sedang melakukan dunk shoot di pertandingan.

Akashi menoleh ke belakang untuk melihat tembakan Kagami. Sepersekian detik berikutnya Akashi berpindah ke samping kiri untuk menghindari tembakan Midorima. Sesaat kemudian Akashi berpindah ke samping kanan untuk menghindari tembakan Kagami.

"Apaa!" Kagami berteriak kencang melihat Akashi yang menghindari kedua tembakan dengan jeda yang sangat sebentar.

"Kagami-kun tangkap semangka ini!" Kuroko melempar kantung yang dipegangnya ke Kagami.

Semangka yang berat mengarah ke bawah. Kagami melempar dirinya ke depan untuk menerima kantung tersebut dan meluncur di tanah. Kantung hitam berhasil Ia dapatkan, tetapi tiba – tiba dari belakang Aomine menindih tubuh Kagami untuk menahannya agar tidak bangun. Beberapa detik kemudian, Murasakibara datang dan juga menindih Aomine sambil membawa kantung lain di tangannya.

"Uwaaaaah!" Kagami dan Aomine berteriak bersamaan setelah menerima beban Murasakibara diatas mereka.

Midorima yang sebelumnya langsung berlari setelah menembakan bola basket, sekarang sedang berlari kearah Kagami untuk mengambil kantung yang dilempar Kuroko. Jaraknya dengan kantung tersebut hanya tinggal satu meter.

"Shin-chan!" Takao menerjang Midorima yang ingin mengambil kantung tersebut dari samping.

"Buagh!" Sekarang giliran Midorima dan Takao yang berguling di tanah.

Akashi yang sudah menurunkan Kuroko di tanah segera bergerak kearah kantung tersebut untuk mengambilnya. Kuroko tidak mau kalah dan mengejar Akashi. Akashi berhasil memegang bagian ujung kantung tetapi–

"Buagh!" Kuroko menerjang Akashi dari belakang untuk membuatnya jatuh. Sekarang giliran Kuroko yang menindih Akashi dari atas.

Semenjak kantung yang dibawa Kuroko diterima Kagami, kantung tersebut hanya diam saja dan berpindah ke tangan Akashi, tetapi di sekitarnya sudah bergelimangan banyak orang di tanah.

"Priiiiiiiiit! Waktunya sudah habis!" Momoi meniupkan pluit sebagai tanda permainan selesai.

Momoi sekarang sedang melihat pemandangan di depannya yang mengenaskan. Semua orang ada di bawah kecuali Himuro yang berusaha menahan Kasamatsu. Momoi lalu berjalan ke tengah – tengah tubuh yang bergelimangan dan mengambil kantung hitam dari Akashi lalu melihat isinya.

"Isinya hanya semangka yang biasa."

"Apaaaa!" Semuanya berteriak kecuali Kuroko, Momoi, dan Akashi. Tetapi bisa terlihat kalau Akashi juga terkejut dari matanya yang melebar.

Momoi lalu bergerak kearah kantung hitam yang terletak tidak jauh dari tangan Murasakibara. Ia mengambil kantung tersebut dan melihat isinya.

"Ini semangka dengan tulisan Pemenang."

"Tunggu! Bagaimana caranya semangka itu bisa berpindah? Kami yakin kalau Tetsu pasti yang membawanya!" Aomine berteriak protes dari bawah.

Himuro kemudian datang kearah mereka semua bersama Kasamatsu. "Ah, akhirnya ketahuan juga. Hahaha… saat sedang dikejar Atsushi, Aku tiba – tiba bertemu dengan Kuroko yang bersembunyi di semak – semak. Kami langsung menukar kantungnya dan Aku terus berlari. Atsushi tidak menyadari kehadiran Kuroko dan terus mengejarku." Mereka sekarang hanya bisa memasang tampang melongo pada Himuro.

"Tunggu! Tapi tadi kau melempar kantung itu ke Murasakibara, Tatsuya!" Sekarang giliran Kagami yang protes dari bawah.

"Aku menduga kalau Atsushi akan meninggalkannya di suatu tempat jika Ia yakin kalau itu bukan semangka yang dicari. Aku berniat mengambil saat Ia melepaskannya. Tetapi ternyata Kasamatsu-san terus membuatku sibuk." Himuro menjawab dengan tenang sambil tersenyum. Ia meminta Murasakibara untuk bangun sehingga Kagami bisa terbebas.

"Oh, jadi itu terjadi setelah Kuroko menukarnya denganku nanodayo." Midorima menaikan kacamatanya untuk menutupi ekspresi terkejut.

"Kau melebihi dugaanku Tetsuya." Akashi bangun dari bawah Kuroko dan mengambil posisi duduk. "Aku tidak menduga kalau kau bertemu dengan Himuro-san." Akashi mengeluarkan senyuman menggoda dan memegang tangan Kuroko. "Bagaimana kalau sekarang kau kuberikan ciuman sebagai hadiah?"

"Akashi-kun tidak boleh melakukan hal memalukan di depan banyak orang." Kuroko berusaha menarik tangan yang dipegang Akashi.

"Berarti Aku boleh melakukannya kalau bukan di depan siapapun."

"Tidak mau, nanti kau mempunyai foto yang aneh lagi. Akashi-kun tolong jangan dekat – dekat." Kuroko berusaha mundur ke belakang dan Akashi terus mendekat.

"Ok, abaikan pasangan itu yang sedang berada di dunianya sendiri. Jadi, bagaimana hasilnya?" Kasamatsu bertanya langsung ke Momoi. Mata semua orang yang semula mengarah ke Akashi dan Kuroko kembali kepada Momoi.

"Karena di saat terakhir, tidak ada yang memegang kantung ini maka tidak ada kelompok manapun yang menang."

"Maksudmu, dari tadi kami hanya berlari untuk hal yang sia – sia! Kau pasti bercanda Satsuki!" Aomine protes kepada Momoi dari belakang Kagami.

Kagami langsung berdiri dari tempatnya. "Aku mau tanding ulang! Aku tidak mau menerimanya begitu saja!"

"Tidak mau! Aku lapar sekarang. Lebih baik semangka itu kita makan daripada untuk dimainkan lagi!" Murasakibara yang kesal bergerak mendekati Momoi. Ia mengambil kedua kantung berisi semangka dan bergerak ke penginapan.

"Menurut peraturannya memang tidak ada yang menang Aomine-kun. Terima saja hasilnya." Momoi berusaha menenangkan Aomine yang kesal.

Midorima bangun dari tempatnya dan mengeluarkan napas panjang lalu berjalan kearah penginapan. "Hah… permainan yang konyol."

"Tapi kau bersyukur karena kantung itu sudah bertukar, bukan?" Takao berjalan mengikuti Midorima.

"…"

Aomine bergerak dan mengumpulkan bola basket yang tersebar. "Sial! Aku tidak puas. Kagami, ayo kita one on one!"

"Kalian tidak akan mendapatkan jatah semangka kalau tidak makan sekarang! Mukkun sedang kelaparan. Jadi ayo kita kembali saja!" Momoi lalu menggiring Kagami dan Aomine menuju tempat Kise berada.

Saat ini Kuroko sedang bergumul dengan Akashi yang terus menempel kepadanya. Wajah Kuroko perlahan mengeluarkan semburat merah karena Akashi bersikap terlalu intim terhadapnya.

"Akashi-kun tolong lepaskan pelukanmu. Aku ingin kembali ke penginapan bersama yang lain."

Entah, apakah Akashi ingin mencium Kuroko karena kesal atau tidak dan apakah Akashi berhasil mencium Kuroko atau tidak, tidak ada yang mengetahuinya. Hanya Akashi dan Kuroko yang tahu.

.

.

.


*Uuuoooo chapter ini selesai! Dan seperti biasanya, panjaaaaaang! Idenya tiba – tiba muncul dan ngerasa harus ditulis jadi munculah chapter ini. Buat yang merasa kurang dengan AkaKuro, nantikan chapter selanjutnya. Bakal ada yang spesial diantara mereka berdua, sekaligus jadi penutup buat cerita liburan musim panas Rainbow Head.

*Jika ada yang bingung, langsung tanya di kolom review

*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.

*Jangan lupa review-nya, saran & kritik pasti diterima