Kuroko no Gakuen

Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.

Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.

Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC

/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./

'…..' (Pikiran karakter)

"….." (Pembicaraan karakter)

/…../ (Pesan penulis)


Terima kasih banyak buat yang udah baca, nge-follow, dan nge-favorite cerita sebelumnya.

Dan makasih juga buat yang udah nge-review chapter 12: AulChan12, Devil Dobe-chan, dan .9


Chapter 13: Suatu Hal yang Tersimpan

Akashi yang memandang Kuroko yang terus menunduk, mengalihkan pandangannya ke langit. "Tetsuya, kau tidak harus memikirkan hal itu sekarang. Sekarang Aku ingin menikmati kembang api ini bersamamu."

Setelah mendengar kata – kata Akashi, Kuroko mengangkat wajahnya dan memandang Akashi yang sedang melihat keatas. Kemudian Ia mendongak keatas dan melihat taburan warna – warni di depannya.

"Bum… Piiiii… Duaaar!"

.


.

Malam ini bukanlah malam yang gelap dan sunyi. Deretan lampion menghiasi jalan. Penduduk desa memenuhi jalan untuk menuju ke suatu tempat. Hari ini diadakan festival musim panas di desa yang sekarang sedang dikunjungi oleh kelompok Rainbow Head dan teman – temannya. Festival ini diadakan setahun sekali sehingga dibuat cukup meriah walaupun letaknya jauh dari keramaian.

Kuroko Tetsuya bersama teman – temannya berjalan menuju kuil paling besar di wilayah tersebut untuk menghadiri festival. Mereka sudah merencanakan hal ini bersama setelah mendengar dari paman Daiki bahwa sebentar lagi akan diadakan festival di desa tersebut. Kuroko sangat menantikan hal tersebut, pergi bersama – sama ke suatu tempat dengan tujuan bersenang – senang. Ia tidak hanya pergi dengan satu atau dua orang, Ia pergi bersama sepuluh orang yang cukup unik. Mereka adalah Aomine, Murasakibara, Midorima, Kise, Momoi, Himuro, Kasamatsu, Takao, Kagami, dan Akashi. Kuroko merasa kalau malam ini tidak akan berakhir dengan biasa.

"Stan apa yang kita harus kunjungi pertama –ssu?" Kise yang sudah tidak sabar mulai memberikan pertanyaan.

"Um, nyam… nyam… Aku mau berkeliling di stan makanan.~" Murasakibara menjawab sambil memakan pacar setianya, Pocky.

Momoi yang ada di sebelah Muraskibara langsung menanggapinya. "Kita sudah makan malam, Mukkun. Lebih baik kita mengunjungi stan permainan terlebih dahulu."

"Kau tidak boleh hanya mengunjungi stan makanan, Atsushi." Himuro tahu kalau Murasakibara tidak akan pergi ke stan lain kalau tidak ada yang mengarahkannya.

"Sepertinya Aku ingin bermain dulu. Kagami, Aku tantang kau untuk menangkap ikan yang paling banyak!" Aomine langsung menaruh lengan kirinya diatas pundak Kagami.

"Tantangan seperti itu biasanya dilakukan saat kau masih kecil, Aomine-cchi."

"Itu permainan seumur hidup. Aku boleh memainkannya kapan saja! Jadi, apa kau menerimanya?" Aomine terus mendesak Kagami yang sedang berpikir.

"Um, sebenarnya Aku belum pernah menangkap ikan." Kagami menjawab sambil menggaruk – garuk kepalanya.

"Ok, itu adalah pemberhentian pertama kita."

"Hee… Bagaimana denganmu Midorima-cchi?" Kise sekarang beralih pada Midorima yang berjalan di samping Takao.

"Aku akan mengunjungi kuil nanodayo."

"Oh, Aku mengerti. Midorima-cchi ingin meramal keberuntungan –ssu." Kise mengepalkan tangan kanannya dan memukul telapak tangan kiri. "Um, tapi bukannya kau hanya perlu melihat Oha-Asa –ssu."

"Oha-Asa hanya memberitahukannya per hari. Dengan peruntungan yang ada di kuil, Aku bisa melihat peruntunganku dalam skala yang lebih luas." Midorima menjawab dengan mengeluarkan wajah yang serius.

"Hm, Ok. Sehabis itu kau mau kemana, Shin-chan?"

"Aku belum tahu nanodayo."

"Kalau Kuroko-cchi?" Kise memandangi salah satu temannya yang tidak berekspresi.

"Um, Aku juga mau mengunjungi kuilnya terlebih dahulu. Aku ingin melihatnya." Kuroko berpikir kalau tidak ada salahnya untuk mengunjungi kuil paling besar yang ada di wilayah tersebut. Ia mungkin tidak bisa mengunjunginya lagi untuk kedua kalinya.

"Bagaimana kalau kita berpisah terlebih dahulu disana lalu berkumpul lagi saat pesta kembang api?" Kasamatsu yang terus mengawasi Kise memberi tanggapan.

"Tapi Aku tidak mau berkeliling sendirian, Senpai."

"Kita ini ada bersebelas, tidak mungkin kau hanya sendirian saja."

"Kalau begitu senpai harus ikut denganku kemana saja –ssu." Kise menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Aku akan ikut kalau Aku mau. Kau pasti ingin mengunjungi semua tempat."

"Ayolah senpai! Kita sudah lama tidak pergi berdua –ssu." Kise terus berusaha membujuk Kasamatsu sampai akhirnya Ia diberi jitakan yang bisa membuatnya diam.

Kuroko menoleh ke samping kanan dan bertanya kepada Akashi. "Akashi-kun mau pergi kemana nanti?"

"Untuk malam ini Aku akan mengikutimu kemana saja sampai pesta kembang api dimulai. Setelah itu Aku yang akan mengambil alih."

"Tapi itu memang hal yang biasa Akashi-kun lakukan. Mengikutiku lalu mengarahkanku pada suatu hal."

Akashi memberikan seyuman ramah kepada Kuroko. "Malam ini akan berbeda dari yang biasanya jadi Tetsuya tunggu saja."

Kuroko memandangi Akashi sebentar lalu kembali diam. Kuroko mulai memikirkan hal – hal apa yang bisa Ia lakukan hari ini.

'Yah, kurasa hari ini memang berbeda dari biasanya.'

oOo

Akashi dan Kuroko baru saja mengambil kertas keberuntungan yang mereka ambil di kuil tersebut. Disana juga terdapat Midorima dan Takao yang masih mengambil bagian mereka. Kuil ini mempunyai suatu halaman sangat luas yang terpisah dari bangunan kuil tersebut. Di halaman itulah festival diadakan. Meskipun begitu, bangunan kuil tersebut juga tetap mendapatkan dekorasi yang memeriahkan festival. Cukup banyak orang yang mengunjungi kuil tersebut. Apalagi pada acara pembukaan, dilakukan suatu upacara tersendiri yang berkenaan dengan dewa di kuil tersebut. Upacara tersebut merupakan salah satu cara bagi penduduk desa untuk mengucapkan syukur atas segala kebaikan yang mereka terima di desa tersebut.

Kuroko memandangi Akashi yang sedang membaca kertas keberuntungannya. "Bagaimana dengan hasilmu, Akashi-kun?"

"Sangat beruntung, seperti biasa. Tetapi Aku tidak pernah begitu peduli dengan hasil ini. Aku akan memastikan sendiri keberhasilanku." Akashi menjawab tanpa mengeluarkan ekspresi. "Kau sendiri bagaimana, Tetsuya? Perlihatkan padaku." Akashi lalu melihat ke kertas yang dipegang Kuroko. "Hm, sangat beruntung."

"Aku tidak pernah mendapatkan 'sangat beruntung' atau 'tidak beruntung' sebelumnya. Jadi, ini diluar kebiasaan." Kuroko membaca kertasnya berkali – kali untuk melihat hal - hal berbeda dari yang biasanya Ia dapatkan.

Dalam hati, Akashi membaca deskripsi yang ada di kertas Kuroko. 'Hm, pendidikanmu berjalan dengan baik; Usahamu mendapat keuntungan besar; Kesehatanmu akan terjaga dengan baik; Hari ini kamu akan mendapatkan pengalaman yang baik; Kamu akan bertemu dengan orang yang ditakdirkan bersama–' Akashi lalu tersenyum. "Kurasa ini memang keberuntungan yang bagus, Tetsuya."

"Namanya juga sangat beruntung, Akashi-kun."

Akashi lalu membuka lagi kertas yang dimilikinya dan membaca dalam hati. 'Coba untuk mengatakan semua hal yang ada di hatimu; Hari ini kau akan membuat perubahan positif dengan orang yang kau sayangi.'

"Kenapa kau tersenyum terus, Akashi-kun?" Kuroko memperhatikan Akashi dengan seksama. Kuroko jarang melihat Akashi senyum – senyum sendiri.

"Kurasa Aku sedikit mengerti perasaan Shintarou walaupun itu tetap tidak mengubah pandanganku."

Kuroko tetap memandangi Akashi untuk mencari maksud dari perkataannya barusan. 'Hm, Aku tidak mengerti maksudnya.'

Midorima dan Takao kemudian datang menghampiri Kuroko dan Akashi.

oOo

"Kurokooo-cchiii, ayo kita main ini!" Kise menyambut Kuroko yang baru saja mengunjungi kuil. Akashi, Midorima, dan Takao ikut berjalan menuju Kise.

Kuroko lalu memandangi stan yang ada di depannya. Stan itu adalah stan dimana kau bisa menembak barang apa saja yang dipajang dengan membayar sejumlah uang untuk beberapa kali tembakan. Kuroko sudah lama tidak memainkan permainan tersebut dan Ia merasa tertantang untuk mencobanya. Di sebelah Kise ada Kasamatsu yang sedang berusaha untuk membidik aksesoris gantungan berbentuk anak ayam yang berwarna kuning. Hal yang aneh dari anak ayam tersebut adalah anak ayam tersebut mengeluarkan ekspresi yang sedikit menyombongkan dirinya.

'Hm, masih kecil tapi sudah punya ekspresi seperti itu.'

"Aku ikut Kise-kun."

Kuroko lalu memberikan uang kepada pemilik stan dan memandangi barang – barang yang dipajang. Di stan itu ternyata tidak hanya terdapat satu aksesoris gantungan saja. Ada akasesoris – aksesoris lain yang berbentuk anak ayam. Ada yang warna merah, biru, hijau, ungu, pink, bahkan ada yang berwarna biru muda. Kuroko lalu memutuskan untuk mengincar gantungan anak ayam yang berwarna biru muda. Saat membidik incarannya, Kuroko sadar jika ada gantungan anak ayam lain yang terletak di pinggir. Anak ayam tersebut memiliki warna merah yang berbeda dengan anak ayam merah yang satunya. Hal yang mengejutkan adalah anak ayam tersebut memiliki warna mata yang berbeda.

'Hm, anak ayam jaman sekarang, hebat ya.' Kuroko berkata dalam hati sambil memandangi gantungan tersebut. Ia lalu mengubah incarannya dan berusaha membidik gantungan anak ayam merah dengan warna mata yang berbeda. Kuroko berpikir bahwa jarang ada gantungan yang seperti itu.

/ Anak ayam yang dimaksud adalah anak ayam dari tokoh – tokoh Kuroko no Basuke. Pemilik stan ini nge-fans berat sama anime Kuroko no Basuke. /

Dengan uang yang tadi dibayarkannya, Kuroko mempunyai lima kali kesempatan untuk menembak. Kuroko terus gagal sampai percobaannya yang keempat kali. Tetapi di percobaannya yang kelima, tembakan Kuroko berhasil menjatuhkan sasaran yang ada di gantungan anak ayam tersebut.

"Aku berhasil."

Pemilik stan lalu mengambil aksesoris gantungan tersebut dan memberikannya pada Kuroko. "Ini hadiahmu, anak muda."

"Terima kasih." Kuroko menerima hadiahnya lalu memandanginya selama sesaat. Setelah itu pandangannya memandang ke sekitar untuk mencari temannya yang berambut merah.

Akashi ternyata juga ikut memainkan permainan tersebut. Ia mengambil sikap membidik dan menembakan senjatanya. Pelurunya mengenai sasaran yang ada di depan aksesoris anak ayam berwarna biru muda. Setelah mendapatkan hadiahnya dari pemilik stan, Akashi menghampiri Kuroko.

"Ini untukmu Tetsuya." Akashi memberikan aksesoris yang dipegangnya kepada Kuroko.

"Eh?" Kuroko memandangi sesaat benda yang ada ditangan Akashi. "Ah, ini juga untuk Akashi-kun, terimalah." Mereka berdua lalu menukar benda yang ada di tangan masing – masing. Kuroko memandangi benda yang diterimanya sambil tersenyum. Ia berencana untuk memasang aksesoris ini pada tas sekolahnya.

"Tetsuya, kau ingin apa lagi? Aku masih mempunyai empat peluru lagi."

"Eh, um… kurasa ini sudah cukup. Aku tidak menginginkan yang lain."

Akashi memandangi kembali benda – benda yang dipajang. "Hm, Aku juga tidak menginginkan benda lain lagi."

Kuroko berpikir sebentar. "Bagaimana kalau gantungan anak ayam yang lain? Pink untuk Momoi-san."

"Baiklah." Akashi membidik sasaran dan langsung mengenainya.

"Kau memang hebat dalam hal menembak, Akashi-kun."

"Tiga tembakan lagi Tetsuya." Akashi memberikan gantungan yang diterimanya pada Kuroko.

"Um, merah untuk Kagami-kun."

"Tidak perlu. Daiki sedang mengincarnya." Saat itu Kuroko sadar kalau Aomine sudah muncul di depan stan tersebut.

"Kagami, ada anak ayam yang punya alis bercabang! Ternyata ada juga hewan yang bernasib sama sepertimu." Aomine mengambil peluru dan memasangkannya pada senjata yang dipegangnya.

"Aku tidak suka perkataanmu! Yang merah itu masih lebih baik dari yang biru itu. Anak ayam macam apa yang punya mata mengerikan seperti itu." Kagami juga mengambil peluru untuk dipasang pada senjatanya.

Aomine dan Kagami ternyata sudah memutuskan untuk bersaing pada permainan ini.

"Aku ambil yang merah. Kau ambil yang biru itu." Aomine mulai mengambil posisi menembak untuk membidik sasaran dari anak ayam yang merah.

"Aku tidak mau yang biru, Aku mau yang merah!" Kagami ribut disamping Aomine.

"Ayolah! Tidak ada bedanya kalau kita berhasil mendapatkan keduanya. Kita bisa bertukar kalau kau mau. Tetapi, kurasa Aku tetap mau yang warna merah."

"Tsk… Baiklah. Ekspresi dari yang biru itu membuatku kesal. Mengingatkanku pada orang bodoh menyebalkan! Aku ingin sekali menembak kepalanya!" Kagami akhirnya bersedia untuk menembak.

"Apa maksudmu?! Yang kau tembak itu sasarannya Bakagami!"

"Aku tidak perlu ajaranmu Ahomine!"

Kuroko lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Akashi. Ia sadar kalau pertengkaran kedua teman sekelasnya tidak akan pernah habis.

"Aku mau yang ungu untuk Murasakibara-kun. Lalu kalau berhasil lagi, kau bisa mengincar yang hijau. Midorima-kun sepertinya mau menambah koleksi lucky item miliknya."

"Kazunari sudah mengincar yang hijau itu, dua lagi." Akashi mengambil peluru untuk dipasangkan.

"Um… Kalau begitu yang abu – abu muda, yang salah satu matanya tertutup rambut. Itu untuk Himuro-san." Kuroko menunjuk salah satu anak ayam lain yang berhasil Ia temukan lagi.

Dari belakang Takao, Midorima memberikan komentar. "Sepertinya anak – anak ayam itu mirip dengan kita."

"Benar, apa lagi kalau anak ayam yang hijau itu juga memegang boneka kodok." Takao menembakan senjatanya.

"Benda mati tidak perlu lucky item nanodayo!"

"Shin-chan, Aku mendapatkannya! Sekarang kau harus memberikanku yang itu!" Takao menunjuk benda lain yang terpajang.

"Satu lagi Tetsuya." Akashi memberikan kembali hasil kemenangannya pada Kuroko.

Kuroko kembali memandang benda – benda yang ada di depannya. Ia bingung harus mengambil yang mana.

"Bagaimana dengan kantung hitam yang memiliki tali itu, dengan bordiran bunga lily diatasnya. Ibumu bisa mengunakan itu untuk membawa sesuatu jika Ia pergi." Akashi menunjuk salah satu kantung tradisional yang bisa digunakan untuk membawa bekal makan siang.

Kuroko merasa ada yang aneh dengan kata – kata Akashi. "Ibuku? Kau tahu kalau ibuku suka bunga lily?"

"Aku tahu." Akashi mengangguk dengan pertanyaan yang diberikan Kuroko.

"Eh, bagaimana caranya? Ibuku tidak menyinggung hal itu saat kau menginap." Kuroko sedikit memberikan nada gelisah pada kata – kata yang dikeluarkannya.

"Sebenarnya, Aku dan Kuroko-san mulai bertukar surel setelah Aku menginap disana."

"Apa! Akashi-kun, Aku tidak mau kau melakukan sesuatu pada ibuku. Untuk apa kau dan ibuku bertukar pesan?" Kuroko memulai interogasinya terhadap Akashi.

Akashi menjawab dengan tenang dan Ia mulai membidik sasaran pada kantung hitam yang diincarnya. "Bisa dibilang itu semacam pertukaran informasi. Ibumu cukup possessive, kita berdua langsung bisa menjadi teman yang cocok."

Sesaat, Kuroko merasa kalau seperti ada petir yang menyambar dibelakangnya. Ia tidak pernah menyadari kalau orang di depannya ini sudah memperluas jaringan informasinya.

"Akashi-kun, Aku tidak mau kau memanfaatkan ibuku." Kuroko mengeluarkan sedikit nada kesal dalam suaranya.

"Aku tidak mendapatkan keuntungan sepihak Tetsuya. Kami berdua memastikan untuk selalu menyediakan informasi yang setara, bisa dibilang ini seperti sedang berbisnis. Tetapi, tentu saja kami tidak sekaku itu. Kuroko-san suka bersenda gurau mengenai dirimu."

Sekarang Akashi sudah berhasil mendapatkan semua kemenangannya. Ia memberikan hadiah terakhirnya pada Kuroko yang masih terdiam setelah mendengar ucapan Akashi.

oOo

"Tetsuya mau makan apa? Aku akan membelikannya untukmu." Kuroko bisa mendengar dengan jelas pertanyaan yang diajukan Akashi, tetapi Ia tidak mau menjawab karena merasa kesal dengan Akashi.

Sekarang Akashi dan Kuroko sedang terpisah dengan kelompok yang lain. Kuroko sengaja memisahkan diri karena tidak mau temannya yang lain melihat dirinya kesal. Ia tidak mau mengganggu suasana festival yang menyenangkan.

"Tetsuya, apa yang ingin kau lakukan sekarang?"

"…"

Akashi lalu mengambil salah satu tangan Tetsuya dan menariknya ke tempat istirahat yang kosong. "Kau tahu betul Aku tidak suka didiamkan begitu saja. Katakan perasaanmu sekarang!"

Kuroko mengerutkan wajahnya. "Akashi-kun bisa membaca pikiranku. Kau sudah tahu apa yang kurasakan sekarang."

"Aku tahu itu tetapi Aku tidak bisa melakukan apa – apa kalau kau tidak berbicara sedikit pun." Akashi berkata tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.

Kuroko sebenarnya tahu kalau Ia tidak bisa marah begitu saja kepada Akashi karena dalam hal ini ibunyalah yang melibatkan dirinya sendiri. Tetapi Kuroko tetap merasakan kesal di dalam dirinya.

"Aku tidak mau kalau Akashi-kun tahu tentang diriku lewat orang lain. Kenapa tidak tanya langsung kepadaku. Aku akan menjawabnya kalau Aku tidak keberatan." Kuroko menatap Akashi dengan serius.

"Jadi kau lebih suka cara langsung. Baiklah, Aku terima itu tetapi bagiku itu tidaklah cukup. Aku ingin tahu semuanya, karena itu Aku juga perlu orang lain. Kau belum dewasa, karena itu kau belum berkembang sendiri. Aku juga mau tahu perkembanganmu. Dan Aku tidak hanya bertanya pada ibumu, Aku juga bertanya pada temanmu. Bahkan setelah kau dewasa nanti, Aku akan tetap selalu memata – mataimu sampai Aku tidak perlu melakukannya lagi." Akashi membalas tatapan tajam Kuroko. Ia ingin memastikan kalau kata – katanya melekat di pikiran Kuroko.

Kuroko memikirkan kata – kata yang baru saja didengarnya. "Kapan Akashi-kun tidak memata – mataiku lagi?"

"Sampai kau tidak ada atau diriku yang tidak ada."

"Itu… sama saja dengan selamanya?" Kuroko memberikan ekspresi penuh tanya.

"Kalau kau memang mau selamanya, Aku akan berusaha untuk memenuhinya."

Kuroko menatap Akashi dengan heran. "Um, ini pertama kalinya Aku memiliki teman yang sangat possessive. Aku jadi tidak tahu harus menanggapi apa."

"Aku justru bingung kenapa belum ada yang seperti itu sampai sekarang." Sekarang giliran Akashi yang memberikan tatapan heran.

"Karena temanku tidak ada yang seaneh Akashi-kun. Mereka semua normal."

"Aku tidak butuh normal kalau itu tidak memenuhi keinginanku. Ayo kita jalan lagi, kau belum melihat semuanya." Akashi menarik Kuroko untuk kembali ke deretan stan – stan yang ada.

"Sekarang Aku melarangmu untuk marah dan sebutkan makanan apa yang ingin kau makan! Ini perintah, jadi jangan melawanku." Akashi berbicara tanpa melihat Kuroko.

"Masa hukumanku sudah lewat Akashi-kun."

"Aku tidak peduli. Kau tidak menerima cara halus jadi Aku akan memerintahmu saja. Kalau tidak mau, tinggal dihukum. Sederhana, bukan?"

"Kalau begitu Aku mau minta sup rumput laut, Aku tadi melihatnya sekilas. Akashi-kun akan makan bersamaku. Tenang saja, Aku akan menyuapimu. Aku tidak peduli kau suka atau tidak. Kalau Aku harus menuruti perintahmu maka akan kuturuti. Kalau Aku tidak suka dengan perintah itu, Aku tinggal menyiksamu sambil menuruti perintah tersebut. Sederhana, bukan?" Kuroko mengeluarkan aura gelap di sekitarnya.

"Tetsuya, Aku ingin sekali memelukmu sekarang." Akashi mengeluarkan seringainya.

"Tsk…" Kuroko membuang mukanya karena melihat Akashi yang tersenyum dengan ekspresi yang mengerikan.

Sepanjang perjalanan mereka menuju stan sup rumput laut. Akashi terus mengeluarkan seringainya.

"Hah… tidak jadi. Aku mau vanilla milkshake saja, dan Aku tidak akan berbagi dengan Akashi-kun." Kuroko langsung mengubah keputusannya karena Akashi terus mengeluarkan senyum yang mengerikan. Kuroko lalu mengubah arahnya menuju stan produk susu asli dari sapi di daerah pegunungan.

/ Maaf, kalau tokohnya labil. /

oOo

Saat ini semua Rainbow Head dan pendampingnya(?) sudah berkumpul di tempat istirahat. Diawal, mereka sudah berjanji untuk berkumpul bersama sebelum acara kembang api dimulai.

"Sebaiknya kita segera mencari tempat yang strategi sebelum tempatnya benar – benar penuh –ssu."

Mereka semua lalu mulai bergerak dan pergi menuju tempat terdekat untuk menonton kembang api. Tempat tersebut ternyata sudah dipenuhi oleh penduduk desa yang datang. Walapun begitu, kumpulan orang ini tidak seramai dengan orang – orang yang berkumpul untuk menonton acara kembang api di Tokyo. Kelompok Rainbow Head mencari tempat yang cukup leluasa untuk mereka semua.

"Tetsuya, ikut Aku." Akashi menarik tangan kiri Kuroko dan membawanya ke tempat lain sehingga terpisah dari kelompok Rainbow Head.

Akashi membawa Kuroko untuk naik kembali ke tempat kuil berada. Kuil berada cukup jauh dari tempat menonton kembang api tetapi dari posisi tersebut, mereka tetap bisa melihat kembang api. Disana juga ternyata ada beberapa orang yang berhenti untuk mengunjungi kuil atau menonton kembang api. Tempat ini sepi jadi bagi mereka yang tidak menyukai keramaian, tempat ini sangatlah cocok walaupun pemandangan kembang api tidak maksimal.

Akashi dan Kuroko lalu menuju salah satu tempat duduk yang belum ditempati oleh siapapun. Mereka kemudian duduk dan menunggu kembang api diluncurkan.

"Sekarang silahkan ajukan pertanyaanmu, Tetsuya." Akashi akhirnya mengalihkan matanya ke Kuroko yang terus memandanginya.

"Kenapa kita disini? Kita terpisah dari yang lain."

"Aku memang ingin kita terpisah dari yang lain. Aku tidak ingin ada yang mengganggu."

"Sekarang apa lagi yang Akashi-kun rencanakan?" Kuroko tahu kalau Akashi tidak mengajak Kuroko ke tempat tersebut hanya untuk menonton kembang api.

"Aku mengajakmu kesini untuk mengatakan sesuatu."

"Akashi-kun mau menghukumku lagi."

"Bukan."

"Akashi-kun mau mengorek informasi dariku."

"Bukan."

"Akashi-kun mau bertanya mengenai foto bed head.

Akashi mengerutkan keningnya. "Bisa kau perjelas maksud kata – katamu, Tetsuya."

"Oh, itu bukan apa – apa Akashi-kun. Anggap saja Aku tidak pernah mengatakan hal itu."

"Tetsuya, kau jelas – jelas mengatakan hal itu."

Kuroko lalu menundukan kepalanya selama beberapa detik. Ia kemudian mengangkat kepalanya lagi dan memandang tepat di mata Akashi.

"Um… sebenarnya Aku pernah mengambil foto Akashi-kun yang baru saja bangun tidur. Akashi-kun memiliki rambut sepertiku dan itu terlihat lucu sekali, makanya Aku tidak tahan untuk mengambil fotomu. Aku sebenarnya juga mau mengambil foto kita berdua sehabis bangun tidur tetapi Aku berpikir kalau Akashi-kun tidak akan menyukainya."

Kuroko lalu diam tetapi Akashi tetap memandanginya. "Ok, apa itu sudah semuanya Tetsuya?"

Kuroko akhirnya lanjut berbicara. "Lalu saat Aku dan Aomine-kun sedang membahas mengenai Akashi-kun yang menginap di rumahku, Aku tanpa sadar juga menyinggung hal mengenai foto tersebut. Aomine-kun memintaku untuk memperlihatkan foto tersebut. Setelah itu, Ia juga meminta foto itu jadi Aku mengirimkan foto itu kepadanya."

"Akashi-kun, Aku mau minta maaf." Kuroko lalu menundukan kepalanya di depan Akashi. "Maaf karena sudah mengambilnya tanpa sepengetahuanmu."

"Tetsuya, perlihatkan foto itu kepadaku."

Kuroko lalu mengambil handphone di saku celananya dan mulai mencari foto yang dimaksud. Setelah menekan beberapa tombol, Kuroko memperlihatkan layar handphone-nya ke depan muka Akashi. Akashi lalu mengambil benda tersebut dan memperhatikan foto yang ada disana. Di foto itu terlihat Akashi dalam posisi duduk di futon yang bagian kakinya masih tertutupi selimut. Mata Akashi terlihat sayu karena saat itu Ia masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. Rambutnya seperti biasa selalu terlihat berantakan sehabis bangun tidur.

"Lucu sekali, kan? Aku selalu tersenyum kalau melihat foto itu." Kuroko mengeluarkan senyuman yang jarang dikeluarkannya.

Akashi lalu mengembalikan handphone tersebut kepada Kuroko. "Kau boleh menyimpannya, tetapi jangan perlihatkan itu ke orang lain lagi. Oh ya, kirimkan foto itu kepadaku. Aku ingin mengabadikannya sebagai fotoku yang pertama kali Tetsuya ambil."

"Baiklah Akashi-kun."

"Kapan – kapan jika kau mengambil fotoku, perlihatkan hasilnya kepadaku. Kau tidak perlu bilang saat mengambilnya tetapi setelah itu perlihatkan hasilnya kepadaku. Apa kau mengerti?"

"Aku mengerti." Kuroko menganggukan kepalanya. "Tetapi Akashi-kun seharusnya juga berbuat seperti itu."

"Jadi, Aku boleh mengambil fotomu sebanyak apapun yang kumau?"

"Um, tidak. Sebaiknya kita hentikan saja pembicaraan ini."

/ Ok, kita memang harus menghentikan pembicaraan yang keluar topik ini. /

Kuroko sedikit membersihkan tenggorokannya dan kembali memasang muka datar tanpa ekspresi. "Jadi apa yang ingin Akashi-kun katakan kepadaku?"

"Aku menyukaimu Tetsuya."

"Bum… Piiiii… Duaaar!" Suara kembang api memenuhi telinga Kuroko. Taburan warna – warni memenuhi langit yang gelap.

"Eh?"

"Aku menyukaimu Tetsuya. Sama seperti laki – laki yang menyukai perempuan dan ingin menjadikannya kekasih." Akashi kembali mengulangi perkataannya dengan sikap yang tenang.

"Bum… Piiiii… Duaaar!"

Kuroko memberikan ekspresi bingung pada Akashi. "Um… itu… Aku… Um, tapi Aku ini laki – laki Akashi-kun. Seperti yang kau bilang, seharusnya kau mengatakan itu kepada perempuan."

"Aku mengatakan itu kepada laki – laki karena kau adalah laki – laki. Aku akan mengatakan itu kepada perempuan kalau kau terlahir sebagai perempuan." Akashi memberikan senyum yang ramah kepada Kuroko.

"Walaupun perasaanku mungkin belum sebesar perasaan cinta yang dimiliki orang tuamu tetapi Aku tahu kalau apa yang Aku rasakan ini adalah awal dari perasaan cinta itu." Akashi lalu mengambil telapak tangan kanan Kuroko dan menekankannya di dada kiri Akashi.

"Bum… Piiiii… Duaaar!"

Kuroko bisa merasakan ada denyut dari jantung yang berpacu dengan cepat. Mata kuroko sedikit membesar karena terkejut dengan apa yang dirasakannya. Jantungnya berdetak dengan kencang tetapi, wajah Akashi terlihat tenang dan napasnya juga terasa tenang.

Perlahan – lahan Kuroko merasakan ada hawa panas yang mulai menjalar ditubuhnya. Jantungnya juga mulai berdetak lebih kencang. Setelah mengalami perubahan pada dirinya. Kuroko segera menarik kembali tangannya lalu menundukan kepala. Ia bisa merasakan rasa panas di telapak tangan kanannya.

"Um… Akashi-kun… Aku… kurasa Aku… Aku tidak mempunyai pandangan yang sama dengan Akashi-kun. Um… Aku masih menganggap Akashi-kun sebagai temanku."

Saat itu entah kenapa Kuroko tidak bisa mengatakannya sambil menatap wajah Akashi. Ia merasa kalau wajahnya terasa panas dan Ia tidak mau Akashi melihatnya begitu saja. Entah kenapa Kuroko juga merasa kalau Ia ingin lari dari Akashi lalu pulang ke rumah dan menyembunyikan kepalanya di balik selimut. Ia juga mau berteriak tetapi Ia tidak bisa berteriak begitu saja di tempat umum. Kuroko lalu memikirkan kembali semua kata – kata yang didengarnya dari Akashi barusan. Akibatnya Kuroko merasa semakin ingin lari dari Akashi.

Akashi yang memandangi Kuroko yang terus menunduk, mengalihkan pandangannya ke langit. "Tetsuya, kau tidak harus memikirkan semua hal itu sekarang. Sekarang Aku ingin menikmati kembang api ini bersamamu."

Setelah mendengar kata – kata Akashi, Kuroko mengangkat wajahnya dan memandang Akashi yang sedang melihat keatas. Kemudian Ia mendongak keatas dan melihat taburan warna – warni di depannya.

"Bum… Piiiii… Duaaar!"

Kuroko melihat semakin banyak taburan warna – warni di langit. Walaupun kembang api itu terasa sedikit jauh tetapi pemandangan yang ada di depannya terlihat indah.

'Akashi-kun benar, Aku tidak bisa langsung memikirkan hal itu sekarang. Aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk memikirkannya.'

Ini pertama kalinya Kuroko menonton kembang api dengan perasaan yang dirasakannya sekarang. Ia merasa banyak perasaan yang bercampur di dadanya. Perasaan malu karena Akashi, terpesona karena kembang api, gugup karena Akashi, marah karena Ia mau berteriak dan lari tetapi tidak bisa, juga senang karena Akashi dan kembang api. Kuroko merasa kalau Ia tidak akan pernah melupakan malam ini.

.

.

.


Akhirnya! Akhirnyaa! Akhirnyaaa! Kata – kata itu terucap! Setelah melewati 13 chapter dan setelah melewati 40rb kata. Author jujur, merasa seneng banget sekarang. Semoga romance-nya tetap bisa kerasa walaupun Author nyelipin sedikit humor di tengah – tengah, tepat sebelum bagian pentingnya. Sehabis ini ada omake dari chapter sebelumnya dan sekarang.

.


OMAKE

Scissors

"Akashi-cchi kenapa kau menggunakan gunting sebagai senjatamu?" Kise bertanya kepada Akashi sambil memotong semangka.

"Aku terispirasi dari lucky item Shintarou yang dibawanya saat Aku meminjamnya untuk menyerang Kagami. Gunting terasa pas di tangan dan tidak mencurigakan untuk dibawa kemana – mana. Itu hal yang biasa dibawa oleh pelajar. Aku juga bisa menyelipkannya dibalik pakaianku. Blablablablablablabla."

'Midorima-cchi, kau berhasil membuat temanmu jadi maniak gunting –ssu.'

"Haacih!" Midorima bersin di depan pancuran air sambil membersihkan dirinya.

'Sepertinya ada yang ingin berbicara denganku nanodayo.' Midorima berbicara dalam hati.

.

Double Scissors

Akashi berdiri di depan Kagami dan menatapnya dengan mengerikan. Kagami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Akashi. Kagami saat ini sedang duduk sehingga Akashi terlihat lebih tinggi darinya. Pemandangan Akashi yang sedang marah dari bawah itu jauh sekali dari menyenangkan.

Akashi menggenggam kaos Kagami dan berkata dengan tajam. "Apa maksudmu dengan tembakanmu tadi hah? Bagaimana kalau itu mengenai Tetsuya? Aku bisa memprediksi pergerakanmu tapi Aku tidak bisa melakukannya pada kebodohanmu. Dan lagi, apa itu 'Bakashi'? Kata – kata menyebalkanmu itu bisa menulari Tetsuya."

Kagami menelan ludah dan menjawab Akashi. "Er, Aku minta maaf jika kau tersinggung tetapi Aku sudah memperhitungkan tembakanku supaya hanya mengenaimu saja."

"Aku tidak terima itu. Kau terlalu liar." Akashi lalu menoleh ke Aomine. "Daiki, berikan bola – bola itu! Taiga akan menerima lemparanku sebagai hukuman."

Kuroko lalu berdiri di depan Kagami untuk menghalangi usaha Akashi. "Itu tidak diperlukan Akashi-kun. Kagami-kun sudah bilang kalau Ia tidak akan mengenaiku. Dan lagi, Akashi-kun memang terkadang suka berbuat bodoh jadi wajar kalau kata – kata itu keluar."

"Aku tidak minta pendapatmu. Dan kau mau menghalangiku sekarang?" Akashi memberikan senyuman mengejek.

Kuroko terdiam kesal lalu menarik sesuatu dari saku celananya. Benda itu adalah gunting yang diberikan Akashi. Kuroko membuka dan menutup gunting itu berkali – kali.

"Oh, jadi kau mau menggunakan itu sekarang?" Akashi lalu juga menarik sesuatu dari celananya. Benda itu adalah gunting yang serupa dengan milik Kuroko.

"Gunting itu berbahaya –ssu. Bagaimana bisa kalian membawanya kemana – mana?" Kise mendekati Kuroko dan Akashi untuk menenangkan keduanya.

"Ini bukan urusanmu, Ryouta/Kise-kun!" Kuroko dan Akashi berbicara bersamaan. Hal itu membuat Kise merinding. Kedua orang tersebut sekarang mengeluarkan aura yang gelap.

'Ya ampun. Satu saja sudah cukup, kenapa harus ditambah lagi guntingnya?' Murasakibara, Midorima, Takao, Kise, Aomine, Kagami, dan Momoi hanya bisa mengeluh dalam hati.

'Aku tidak bisa membayangkan kalau Kise akan selamat selama tiga tahun bersama mereka.' Kasamatsu berbicara dalam hatinya yang terdalam.

.

Memory and Tripple Oi!

"Tetsuya, kau hanya memperlihatkan foto itu kepada Daiki, bukan?"

"Iya. Memangnya apa yang ingin Akashi-kun lakukan?"

"Aku ingin menghapus ingatan Daiki, mungkin Taiga juga."

"Akashi-kun, mereka bisa tambah kesusahan dalam ujian kalau kau melakukannya."

"Ingatan yang kumaksud adalah memory. Aku hanya ingin menghapus memory foto itu dari handphone Daiki. Aku mungkin juga perlu memeriksa handphone Taiga."

oOo

"Hm, Kuroko-cchi ada dimana ya?" Kise melihat sekelilingnya yang cukup ramai tetapi tidak padat.

"Seperti biasa, Ia pasti ada disini tapi tidak terlihat, jadi kurasa kau tidak perlu khawatir. Dia memang bocah transparan." Kagami menjawab tanpa melihat Kise. Matanya sedang terpaku pada kembang api di langit.

"Haaciiih! Aneh, kenapa Aku tiba – tiba bersin." Aomine menyentuh bagian bawah hidungnya.

"Haaciiih! Aku juga." Kagami juga bersin mengikuti Aomine.

"Tenang saja –ssu. Ada yang bilang kalau orang bodoh tidak mudah terserang flu." Kise menjawab tanpa melihat Aomine dan Kagami.

"Oi!" Aomine dan Kagami menyahut.

"Aku juga merasa tenang, karena itu Taiga tidak pernah terserang flu saat kita di Amerika." Himuro berkata sambil makan takoyaki di sebelah Murasakibara.

"Oi!" Kagami berteriak di sebelah Aomine.

"Aku juga. Aku tidak pernah ke rumah Aomine-kun untuk menjenguknya yang sakit flu." Momoi berkata sambil makan permen apel di sebelah Murasakibara.

"Oi!" Aomine berteriak di sebelah Kagami.

.

/ Ini omake-nya kok ngak jelas ya. /


*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.

*Jangan lupa reviewnya, saran & kritik pasti diterima