Kuroko no Gakuen

Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.

Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.

Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC

/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./

'…..' (Pikiran karakter)

"….." (Pembicaraan karakter)

/…../ (Pesan Penulis)


Terima kasih banyak buat yang udah baca, nge-follow, dan nge-favorite cerita sebelumnya.

Dan makasih juga buat yang udah nge-review chapter sebelumnya: Angel810, Dewi15, AulChan12, dan Kiddors

Oh ya, chapter ini penuh dengan dialog antara Akashi dan Kuroko.


Chapter 15: Gelisah

Sekarang Kuroko Tetsuya sedang berjalan dengan cepat ke rumahnya. Ia perlu sampai ke rumah agar Ia bisa menghubungi seseorang dengan leluasa dan orang itu adalah Akashi Seijuurou.

Hari ini Kuroko mendengar dari Midorima kalau Akashi tidak masuk ke sekolah karena sakit. Akashi mempunyai tubuh yang kuat sehingga dia jarang sakit. Dan kalaupun Ia sakit, Ia akan berusaha untuk melakukan segala hal yang bisa membuatnya tetap beraktivitas walaupun kondisi badannya lemah. Jadi, jika Akashi sampai tidak masuk sekolah, hal itu menandakan bahwa sakit yang dideritanya cukup serius dan telah berhasil membuatnya tidak bisa bergerak dari tempat tidur.

Setelah melakukan pembicaraan dengan Midorima, Kuroko merasa khawatir dengan Akashi. Kemarin Akashi kembali mengantar Kuroko di tengah hujan deras. Karena mereka hanya memakai satu payung dengan keadaan hujan yang deras dan angin yang bertiup, pada akhirnya mereka tetap mendapatkan basah dan harus berhenti di tengah jalan untuk berteduh dulu karena keadaan yang benar – benar tidak memungkinkan. Akashi lalu mampir lagi di rumah Kuroko untuk makan malam dan mengeringkan pakaian sambil menunggu hujan berhenti.

'Tiga hari yang lalu Akashi-kun sudah kehujanan dan kemarin Ia kehujanan lagi. Ia pasti sedang terkena flu sekarang.' Kuroko berkata dalam hati sambil mengingat kembali Akashi yang masih sehat kemarin. Akashi memberikan salam perpisahan sambil tersenyum sebelum Ia pulang ke rumahnya. 'Aku seharusnya melarang dia untuk pulang dan membuatnya menginap di rumahku. Dengan begitu, Akashi-kun bisa langsung beristirahat.'

Setelah sampai di rumah, Kuroko memberi salam kepada ibunya dan langsung masuk kedalam kamar. Ia berganti baju lalu mengambil handphone dan mengirimkan suatu pesan.


"Aku bisa memberikan padamu alamat rumahnya nanodayo. Tetapi jika kau mau berkunjung ke rumah Akashi, sebaiknya kau menghubungi Akashi terlebih dahulu. Dan kau tidak perlu terlalu khawatir, keluarga Akashi mempunyai dokter pribadi yang akan langsung datang jika dihubungi. Selain itu, Ia juga mempunyai banyak pelayan yang akan merawatnya selama 24 jam. Kirim saja pesan untuk menanyakan keadaannya. Dengan begitu, kau tidak akan mengganggu kalau Ia sedang istirahat."

Kuroko lalu sedikit tersenyum setelah mendengar saran dari Midorima. "Terima kasih Midorima-kun, kau membuat perasaanku menjadi lebih baik."

Midorima lalu mengalihkan padangannya sambil menaikan kacamatanya. "Aku tidak melakukan apa – apa nanodayo."


Setelah mengirimkan pesannya, Kuroko turun ke bawah untuk berbicara dengan ibunya. Setengah jam kemudian Ia kembali ke kamarnya dan mengecek handphone-nya. Kuroko ternyata sudah mendapat balasan dari Akashi. Akashi bilang kalau Ia akan menelpon Kuroko jika Kuroko sedang bisa menerimanya. Kuroko lalu mengirimkan pesan lagi.

To: Akashi Seijuurou

From: Kuroko Tetsuya

Subject: Re: Tetsuya sayang

Akashi-kun sebaiknya istirahat saja dan tidak usah menelponku. Yang terpenting, Aku sudah tahu kalau Akashi-kun baik – baik saja

Satu menit kemudian jawaban dari Akashi sampai.

To: Kuroko Tetsuya

From: Akashi Seijuurou

Subject: Re: Re: Tetsuya sayang

Aku ingin mendengar suaramu Tetsuya. Aku akan menelpon sekarang

"Drrrt… drrrt… drrrt…" Handphone Kuroko lalu mulai bergetar. Kuroko segera menjawab telpon tersebut.

"Halo Tetsuya." Suara Akashi terdengar sedikit parau dan ada beberapa kali suara batuk.

"Akashi-kun, Aku sudah mengatakan kalau kau tidak perlu menelpon. Dari suaramu, Aku bisa tahu kalau suhu tubuhmu masih belum normal. Sekarang, Aku akan menutup teleponya agar kau bisa tidur." Kuroko berbicara dengan tidak sabaran.

Akashi kemudian sedikit meninggikan suaranya. "Tidak Tetsuya! Aku bilang kalau Aku ingin bicara denganmu! Apa kau mau melawanku? Kau tidak boleh meremehkanku walaupun Aku sedang sakit. Dan Tetsuya justru membuatku tidak bisa tidur jika menutup teleponnya. Aku bosan sekali hari ini, tidak bisa melakukan apa – apa dan hanya bisa tidur dengan kepala yang panas juga tenggorokan yang sakit. Hidungku juga terus melawan perintahku. Dan hal yang terpenting adalah tidak ada Tetsuya yang bisa kuganggu."

Kuroko lalu menghembuskan napas panjang. "Haah… hal itu dinamakan istirahat Akashi-kun. Dan Aku tidak suka diganggu terus!"

"Tetsuya mengatakan kalau kau akan merasa aneh jika Aku tidak masuk sekolah. Semenjak hari itu, Aku berencana untuk selalu mencek kehadiranku di kepala Tetsuya."

Kuroko lalu berbicara di dalam hati. 'Huh… Akashi-kun selalu saja bisa mencari alasan supaya keinginannya bisa terpenuhi.'

"Jadi, apa Akashi-kun sudah makan siang dan minum obat?"

"Sudah, Aku ingin cepat sembuh untuk Tetsuya. Atau, Aku bisa membuatnya lebih lama supaya perhatian Tetsuya terus tertuju kepadaku." Akashi mengeluarkan sedikit nada nakal pada perkataannya.

"Tolong segera sembuh Akashi-kun! Tim basket dan OSIS membutuhkan kehadiran Akashi-kun." Kuroko menegaskan perkataannya dengan perlahan.

Akashi lalu tertawa dengan suara yang parau. "Dan Tetsuya juga membutuhkanku untuk memenuhi kehidupan romantisnya. Apa kau sedikit terpengaruh oleh Shintarou?"

/Benar sekali, Author dan para pembaca juga membutuhkan Akashi untuk memberikan asupan basket dan boys love./

"Midorima-kun tidak pernah berusaha untuk mempengaruhiku. Dan kurasa demamnya sudah mempengaruhi otakmu, Akashi-kun."

"Otakku baik – baik saja Tetsuya. Demam baru menimbulkan kerusakan otak saat suhunya sudah lebih dari 42oC. Aku berbicara seperti itu karena Aku sedang rindu dengan Tetsuya." Kemudian terdengar suara batuk – batuk dari balik handphone Kuroko.

Kuroko berusaha untuk menasehati Akashi dengan sabar. "Aku sudah dengar suara batuk itu. Jadi, sekarang sudah waktunya istirahat Akashi-kun. Tenggorokanmu bisa tambah sakit kalau bicara terus."

"Kalau begitu, bagaimana kalau Aku berhenti bicara tetapi Tetsuya berbicara terus?"

"Akashi-kun justru tidak akan bisa tidur kalau Aku bicara terus." Kuroko mulai tidak sabar lagi.

Akashi mengeluarkan tawa kecil. "Kau belum pernah mencobanya Tetsuya. Jadi, ini bisa menjadi saat yang tepat untuk mengetahuinya."

"Huh… ini tidak akan pernah selesai kalau seperti ini terus. Akashi-kun, bagaimana kalau Aku menyanyikanmu suatu lagu supaya kau tertidur? Kemudian nanti malam Aku akan menelpon Akashi-kun lagi kalau sudah bangun."

"Kau akan bernyanyi untukku?" Terdengar bahwa Akashi sedang tersenyum saat mengatakannya.

Kuroko lalu langsung membalas dengan cepat. "Iya. Apa Aku sudah boleh mulai? Dan berjanjilah kalau sehabis ini Akashi-kun akan tidur."

"Hm, sebenarnya itu bergantung pada lagu yang Tetsuya nyanyikan, tapi baiklah." Kuroko lalu mulai menyiapkan napasnya. Tiba – tiba Akashi menyela. "Oh ya, tapi tunggu sebentar! Aku perlu menuang air ke gelasku dulu. Aku haus sekali sekarang."

Kuroko lalu mengeluarkan tawa kecil. "Aku tahu, Akashi-kun pasti mau merekam nyanyianku."

"Bagus Tetsuya! Kau sudah bisa mengerti apa yang Aku inginkan." Akashi tertawa dengan senang.

Kuroko lalu berpikir bahwa semakin parah sakit Akashi, maka Ia akan semakin banyak tertawa. "Aku sudah mempersiapkannya. Silahkan mulai Tetsuya."

Kuroko lalu mengambil napas dan mulai bernyanyi.

.

/Untuk nadanya, tolong gunakan nada dari lagu penutup anime Clannad season 1. Judulnya Dango Daikazoku (Keluarga Besar Dango)/

Demam, meriang, batuk, pilek, pergilah dari Akashi-kun

Jangan datang lagi walaupun di hari hujan

Akashi Seijuurou-kun tidurlah dengan tenang

Akashi-kun mau kembali sehat dan main lagi di luar

Jadi cepatlah tidur supaya cepat sembuh

Kuroko-kun tidak suka khawatir tetapi Akashi-kun malah senang

Akashi-kun tidak boleh nakal lagi nanti bisa kena demam lagi

Kuroko-kun bernyanyi dengan riang gembira untuk tuan muda Akashi

Akashi-kun tidur, Akashi-kun tidur, dan bermimpi indahlah

.

Kuroko selesai menyanyi dan menghembuskan napas. Kemudian terdengar suara tepuk tangan telepon bersama suara tertawa.

"Plok… plok… plok… pffft… hahaha… plok… plok… hahahaha… hahaha… plok… plok… pffft… uhuk… uhuk…"

"…"

Pelayan yang kebetulan lewat di depan kamar Akashi merasa khawatir dengan suara tawa yang tiba – tiba keluar dari kamar tuannya. "Tetsuya, pffft… Aku tidak menyangka kau akan… hahaha… menyanyikan lagu seperti itu. Hahahaha… hahaha… uhuk…"

Kuroko hanya bisa terdiam sambil mendengarkan Akashi yang tertawa. Perlahan – lahan Kuroko merasa malu dan mukanya memerah kemudian memutuskan hubungan teleponnya dengan Akashi. Kuroko lalu duduk sambil memeluk kakinya di dada dan menundukan kepala kemudian menutupi kepalanya dengan kedua tangan.

Beberapa menit kemudian terdengar suara getar handphone. Kuroko tahu siapa orang yang menelponnya. Ia kemudian menunggu dan getarannya berhenti. Setelah itu benda tersebut kembali bergetar dan Kuroko tahu kalau Ia harus mengangkatnya.

"Halo, Akashi-kun sudah puas tertawa." Kuroko sedikit mengeluarkan nada kesal walaupun sebenarnya Kuroko tahu kalau dirinya sendirilah yang membuat Akashi tertawa.

"Tetsuya, Aku sudah tenang sekarang." Kemudian terdengar suara batuk. "Terima kasih atas lagunya. Aku akan mendengarkannya sampai Aku tertidur."

"Jangan bercanda Akashi-kun! Kau justru akan tertawa kalau mendengarkannya lagi."

"Tidak Tetsuya, itu hanya reaksi pertama." Akashi lalu membersihkan tenggorokannya dengan air. "Ini pertama kalinya ada yang menyanyikan lagu seperti itu untuk diriku selain ibuku. Aku sebenarnya merasa senang Tetsuya."

"…" Kuroko lalu terdiam sejenak. "Kalau begitu ini saatnya Aku pergi Akashi-kun. Selamat tidur."

"Sampai jumpa nanti malam Tetsuya." Akashi lalu memutus sambungan telponnya.

Kuroko lalu menutup handphone-nya dan kembali dalam posisi memeluk kaki sambil menunduk. Kuroko merasakan panas di wajahnya dan berubah warna menjadi merah. Entah hal itu terjadi karena Kuroko merasa malu akibat menyanyi atau karena merasa senang setelah mendengar perkataan Akashi.

oOo

Malam hari akhirnya tiba. Setelah selesai mencuci alat makan yang dipakai saat makan malam tadi, Kuroko lalu pergi mandi sehabis Ayahnya selesai menggunakan kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhnya, Kuroko menikmati waktu berendam dengan senyaman mungkin. Tubuhnya menyerap panas yang ada di air dan melemaskan otot – otot yang telah bekerja pada hari ini. Kuroko tidak bisa berlama – lama berendam, oleh karena itu setelah merasa tubuhnya menyimpan panas yang cukup, Ia segera keluar dan mengeringkan badan dengan handuk.

Sehabis mandi, Kuroko biasanya akan pergi ke kamar dan karena itu adalah malam Sabtu, Ia akan membaca novel. Tetapi untuk malam ini Ia sudah berjanji untuk menelpon Akashi. Kuroko lalu mengirim pesan kepada Akashi untuk memastikan bahwa Akashi sedang terbangun dan bisa diganggu.

"Drrrt… drrrt… drrrrt…" Beberapa detik kemudian handphone Kuroko bergetar. Kuroko lalu menjawab telpon dari Akashi.

"Halo, selamat malam Akashi-kun."

"Selamat malam Tetsuya."

"Sekarang bagaimana keadaan Akashi-kun?"

"Keadaanku terus membaik. Demamku sudah turun dan kau bisa mendengar sendiri suaraku yang terdengar lebih jelas. Kurasa lagu yang Tetsuya nyanyikan benar – benar bekerja."

"Aku tidak mau membahas itu sekarang dan jangan biarkan orang lain mendengarkannya. Dan Akashi-kun, Aku sudah bilang kalau Aku yang akan menelponmu. Kau cukup menjawab pesanku dan Aku akan langsung menelponmu." Kuroko menunjukan sedikit nada heran pada kata – kata yang keluar dari mulutnya.

"Kau tidak perlu memikirkan hal itu Tetsuya. Hasilnya sama saja, yang terpenting adalah kita bisa saling berkomunikasi." Akashi menjelaskan dengan tenang.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita hanya bertukar pesan saja?"

"Tidak. Aku ingin mendengar suaramu dan Aku juga ingin menduga ekspresimu saat ini dari nada bicaramu. Dan cara ini lebih cepat daripada mengetik pesan."

Kuroko lalu mulai membaringkan tubuhnya di bawah untuk mengistirahatkan punggungnya dengan posisi lurus. Ia tahu kalau pembicaraan yang dilakukannya akan berlangsung lama. Oleh karena itu, Kuroko berusaha mencari posisi yang paling membuatnya nyaman.

"Tidak ada yang spesial dengan suaraku dan Akashi-kun harus belajar untuk sabar."

"Apa Tetsuya tidak pernah menyadarinya? Aku selalu bersabar denganmu. Aku berharap agar kau menganggapku sebagai seseorang yang spesial tetapi kau hanya melihatku sebagi salah satu temanmu. Seiring berjalannya waktu kau memang menunjukan perubahan tetapi itu hanya sedikit. Aku ingin sekali memaksamu tetapi Aku tahu kalau cara itu tidak akan memberikan hasil yang kuinginkan. Kau bahkan tidak sadar kalau Aku bisa saja menyukaimu." Akashi lalu membersihkan tenggorokannya. "Tetapi, sekarang Aku cukup senang dengan perkembangan yang kau berikan."

Kuroko lalu merasa kalau emosinya sedikit meningkat. "Akashi-kun menganggapku spesial, tentu saja kau tidak bisa memakai cara yang biasa dan cara itu harus mengikuti diriku. Aku tidak akan semudah itu menyerahkan perasaanku kepadamu, jadi Akashi-kun tidak akan menang dengan mudah. Kalau Akashi-kun tidak sabar, selalu tersedia pilihan yang lain, bukan?"

"Jadi, sekarang Tetsuya ingin menantangku? Dan Aku tidak suka kalau Tetsuya menganggap perasaanku mudah berubah sehingga ada pilihan lain yang tersedia. Jadi, ubah pandanganmu itu."

Kuroko lalu tersenyum. "Iya. Akashi-kun pasti merasa senang sekali diberi tantangan olehku."

Akashi juga mulai tersenyum. "Mengejar Tetsuya itu seperti bermain Shogi. Banyak sekali langkah yang harus dipersiapkan dan diperhatikan. Dan terkadang kau sering memberikan kejutan untukku."

"…" "Hm, kurasa hanya Akashi-kun yang akan berkata seperti itu."

"Aku merasa senang mendengar perkataanmu."

Kuroko lalu memutuskan bahwa pembicaraannya mengenai hal itu sudah selesai jadi Kuroko membuka pembicaraan yang baru.

"Akashi-kun, apa yang akan kau lakukan besok? Apa kau akan berusaha menggangguku?"

"Aku memang suka membuat Tetsuya merasa terganggu jadi wajar kalau Aku melakukannya." Kuroko lalu memutar bola matanya setelah mendengar jawaban Akashi.

"Akashi-kun, bagaimana kalau besok kita membuat chat group dengan yang lain? Kita juga bisa memainkan sesuatu. Akashi-kun tidak akan bosan kalau ramai." Kuroko mencari cara agar bukan hanya dirinya yang menjadi pusat perhatian Akashi besok. Kuroko berpikir jika Akashi sedang bosan, Akashi pasti akan memikirkan cara – cara aneh untuk mengganggu dirinya.

Akashi lalu diam sejenak. "Um, Aku punya ide yang lebih baik. Tetsuya bisa menemaniku bermain Shogi."

"Aku tidak mengetahui peraturan dan tata caranya Akashi-kun. Dan Aku tahu kalau Aku tidak bisa menjadi lawan yang pantas bagimu. Lebih baik kalau kau mengajak Midorima-kun."

"Aku tahu itu. Oleh karena itu, Aku akan mengajarimu."

"Artinya Aku harus pergi ke rumah Akashi-kun?" Kuroko sebenarnya ingin menjenguk langsung ke rumah Akashi besok. Tetapi Midorima mengatakan bahwa sebaiknya Kuroko harus mendapat izin Akashi terlebih dahulu jika ingin mampir. Kuroko juga merasa kalau Ia bisa saja merepotkan Akashi jika berkunjung.

"Tidak usah, kita akan bermain secara online. Jadi, malam ini Tetsuya akan mengunduh aplikasinya dan membuat akun permainan. Kau bisa bermain sendiri dan mendapatkan peringkat dari jumlah kemenanganmu. Kau juga bisa menantang pemain yang lebih kuat sebagai pelajaran untukmu."

Kuroko lalu memberikan ekspresi sedikit heran pada Akashi imaginer yang ada di kepalanya. "Jadi, Akashi-kun sering bermain Shogi secara online? Aku pikir kau lebih suka bermain melawan dirimu sendiri, walaupun hal itu sebenarnya cukup aneh."

"Benar, Aku jadi bisa bermain dengan bermacam – macam orang dan menemukan lawan yang kuat dengan mudah. Tetapi, Aku tetap lebih suka permainan secara langsung karena bisa berinteraksi langsung dengan lawan." Akashi lalu diam sejenak. "Kemudian bermain sendiri itu tidak aneh Tetsuya. Hal itu justru akan membuat dirimu lebih tertantang dan memahami strategi permainan dengan lebih baik."

Kuroko merasa tidak puas dengan Akashi imaginer yang sekarang sedang bermain Shogi. "Tetapi kau pasti sudah mengetahui langkah lawan karena memang dirimu sendiri yang memikirkannya. Dan Aku belum setuju dengan rencana Akashi-kun."

"Justru hal itu yang membuatnya jadi lebih menarik. Aku akan berpikir lebih keras lagi untuk mengalahkan strategi yang sudah kubuat sendiri. Dan tentu saja Tetsuya akan setuju karena Aku sudah meminta Kuroko-san untuk meluangkan waktumu supaya bisa bermain denganku. Aku juga punya cara lain jika kau tetap menolak."

"Jadi, Aku tidak punya pilihan lain lagi, Akashi-kun?"

"Tidak ada"

Sekarang Kuroko merasa sedikit jengkel dengan lawan bicara yang tidak bisa dilihatnya. "Akashi-kun, sekarang Aku ingin sekali mempunyai satu hari dimana kau menuruti semua permintaanku dan Aku bisa melawanmu." Kuroko sekarang membayangkan dirinya sedang menarik kerah baju dari Akashi imaginer yang sedang duduk. Dari belakang Kuroko imaginer terlihat ada aura gelap.

"Bagaimana kalau hal itu dijadikan sebagai hadiah jika Tetsuya bisa mengalahkanku sekali saja dalam permainan Shogi? Batas waktunya adalah seumur hidup kita." Akashi imaginer di dalam kepala Kuroko kemudian melepaskan tangan Kuroko lalu duduk di suatu kursi mewah dengan menyilangkan salah satu kakinya.

"Akashi-kun curang. Permainan Shogi adalah keahlianmu dan Aku bahkan belum pernah memainkannya satu kali pun." Kuroko imaginer lalu menggebrak meja yang tiba – tiba muncul di depannya.

"Kau mempunyai waktu seumur hidup Tetsuya. Dan kau hanya membutuhkan satu kali kemenangan dariku. Kau bisa belajar banyak hal dalam waktu bertahun – tahun. Apa dengan keringanan yang sangat murah hati itu, kau tetap mau protes?" Akashi imaginer menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memberikan ekspresi angkuh kepada Kuroko.

Kuroko lalu merasa kalau dirinya cukup tertantang dengan tawaran itu. Tetapi karena Akashi Seijuurou itu tak terkalahkan, Kuroko ingin hadiah yang lebih besar. "Aku akan menerimanya tetapi dengan hadiah yang lebih besar." Kuroko lalu diam sejenak. "Hadiahnya adalah Akashi-kun harus berhenti memata – mataiku selama sebulan dan satu hari dimana kau menuruti semua keinginanku."

"Apa kau gila, Tetsuya? Aku perlu menjamin keselamatanmu setiap hari. Aku tidak mau melepasmu walau hanya tiga hari."

"Akashi-kun menantangku untuk mengalahkanmu dalam Shogi jadi Aku juga akan menantangmu. Lagipula Akashi-kun terlalu berlebihan. Kau tidak memiliki kewajiban untuk selalu melindungiku." Kuroko sengaja mempertegas suaranya agar Akashi bisa menerima tawarannya dengan cepat.

"Justru karena Aku belum mempunyai itu makanya Aku terus memata-mataimu. Kalau Aku sudah mendapatkannya, Aku bisa melindungimu secara langsung. Dan tidak boleh ada orang lain yang mengisi posisi tersebut di masa depan." Akashi sekarang merasa ingin sekali menuju tempat Kuroko untuk menegaskan kata-katanya secara langsung.

"Sudah kubilang kau terlalu berlebihan Akashi-kun. Aku pasti akan berusaha untuk membuat diriku aman. Itu sudah menjadi hal dasar yang tertanam pada diri manusia. Akashi-kun memang temanku tetapi bukan berarti pandanganmu harus selalu tertuju padaku."

Kemudian terdengar helaan napas yang panjang dari handphone Kuroko. "Bagaimana kalau pandanganku memang selalu tertuju padamu? Dirimu seperti mempunyai magnet tertentu yang selalu bisa menarik perhatianku."

"Mmmm, itu magnet yang aneh Akashi-kun. Apa menurutmu Aku bisa menghilangkannya?"

"Tetsuya, apa kau sedang mengajakku bercanda?"

"Aku tidak bercanda. Akashi-kun sendiri yang menggunakan kata-kata aneh."

"Baiklah, Aku anggap pembicaraan ini selesai. Keputusanku sudah bulat. Aku menolak tawaranmu dan tidak ada tawar-menawar lagi jadi pikirkan hadiah yang lain."

Wajah Kuroko lalu memberikan ekspresi sedikit cemberut. "Dasar Akashi-kun pelit! Bilang saja kalau kau tidak bisa menghilangkan kebiasaan stalking-mu." Di dalam kepala Kuroko terlihat kalau Kuroko imaginer sedang diseret oleh pelayan Akashi imaginer agar keluar dari ruangan untuk menghentikan protesnya.

"Tetsuya apa kau bisa memfoto mukamu sekarang? Aku ingin sekali melihatnya."

"Tolong jangan minta hal seperti itu Akashi-kun. Kau seperti sedang meremehkan diriku yang sedang marah."

"Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya penasaran dengan semua ekspresi yang bisa dibuat oleh wajahmu." Kuroko lalu terdiam sejenak setelah mendengar perkataan dari Akashi.

"Kalau Akashi-kun merasa penasaran denganku berarti kau pasti akan merasa lebih penasaran lagi dengan Kise-kun, atau mungkin Takao-kun dan Momoi-san. Mereka lebih banyak menunjukan ekspresinya Akashi-kun."

"Bukan ekspresi wajah yang membuatku penasaran. Aku penasaran dengan Tetsuya. Mereka bukan dirimu jadi jangan tanyakan hal seperti ini lagi. Apa Tetsuya sudah mengerti?"

"Aku mengerti tapi Akashi-kun tidak boleh mengaturku terus. Sifat seperti itu tidak baik."

"Kau memang keras kepala ya. Sepertinya Aku harus menggunakan palu untuk masuk ke dalam kepalamu. Seperti perkataanku sebelumnya, Aku akan mengajakmu bermain besok jadi tunggu saja telpon dariku. Sehabis ini, setelah urusanmu selesai, beristirahatlah, kau harus tidur yang cukup setiap hari."

"Hah… baiklah, Aku akan menurutimu. Dan sekarang yang sedang sakit adalah Akashi-kun jadi seharusnya Aku yang mengatakan hal itu. Sudah waktunya Akashi-kun untuk beristirahat. Sehabis ini Aku akan menutup teleponnya, selamat malam dan semoga bermimpi indah Akashi-kun." Kuroko berkata sambil sedikit tersenyum walaupun Ia tahu kalau senyumannya tidak akan bisa dilihat oleh penerima telpon.

"Selamat malam Tetsuya. Aku akan memimpikanmu malam ini, jadi jangan kaget kalau tiba – tiba dirimu bertemu denganku dalam mimpi. Mimpi indah bagi kita berdua adalah mimpi dimana kita bisa selalu berduaan." Akashi sengaja membuat senyuman terdengar untuk menggoda Kuroko.

Kuroko lalu kembali teringat dengan mimpinya tempo hari dimana Akashi mengejar dirinya sambil melempar pisau. "Akashi-kun tolong jangan pancing Aku untuk berdebat denganmu. Selama ini Aku selalu merasa kelelahan jika kau muncul di mimpiku."

"Hm, Aku penasaran dengan hal itu. Kita akan membahasnya besok. Sampai jumpa besok sayang!"

"Sampai jumpa juga Akashi-kun. Dan jangan panggil Aku Sayang!"

Kuroko lalu menjauhkan benda yang dipegangnya dari telinga lalu menyudahi telpon tersebut. Kuroko merentangkan tangannya dan pikiran di dalam kepalanya mulai terbang ke berbagai arah. Beberapa lama kemudian dirinya sadar kalau percakapan yang Ia lakukan tadi sedikit mirip dengan percakapan yang pernah dibacanya di novel. Setelah itu dirinya segera menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan terhadap apa yang baru saja dipikirkannya. Kuroko juga teringat kalau dua orang yang melakukan percakapan itu adalah sepasang kekasih.

.

.

.


Author Message:

Maaf ya chapter ini banyak dialognya dan ceritanya cuma sedikit sehingga kurang memuaskan. Makasih!

*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.

*Jangan lupa review-nya, saran & kritik pasti diterima