Kuroko no Gakuen

Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.

Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.

Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC

/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./

'…..' (Pikiran karakter)

"….." (Pembicaraan karakter)

/…../ (Pesan Penulis)


Terima kasih banyak buat yang udah baca, nge-follow, dan nge-favorite cerita sebelumnya.

Dan makasih juga buat yang udah nge-review chapter sebelumnya: AulChan12, Dewi15, outofblue, dan Angel810.

.


Chapter 16: Musuh dan Ciuman Pertama

Pada hari Minggu jam sepuluh pagi terlihat seorang pemuda dengan rambut berwarna merah cerah terlihat sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah sederhana. Pemuda tersebut membunyikan bel rumah untuk memberitahukan kedatangannya. Tak lama kemudian pintu rumah tersebut terbuka dan keluarlah seorang pemuda dengan rambut biru muda. Pemuda rambut merah lalu tersenyum hangat dan masuk ke dalam rumah tersebut.

"Ayah, hari ini temanku berkunjung untuk belajar jadi Aku akan berada di dalam kamar terus sampai waktu makan siang." Si pemuda berambut biru berkata di depan Ayahnya yang sedang membaca koran.

Pandangan sang Ayah jatuh kepada pemuda berambut merah yang berdiri tidak jauh dari anaknya. Selama beberapa saat sang Ayah memperhatikan tamu anaknya yang baru pertama kali dilihatnya.

Pemuda berambut merah lalu maju mendekat dan memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Selamat pagi Kuroko-san. Perkenalkan, nama Saya Akashi Seijuurou, teman Tetsuya di sekolah. Hari ini Saya minta izin untuk belajar bersama Tetsuya."

Ayah Kuroko menatap wajah tamunya dengan wajah datar. Setelah itu Ia memperkenalkan diri dan mempersilahkan tamunya untuk berkegiatan di dalam rumah tersebut. Ayah Kuroko terus memperhatikan tamu tersebut sampai Akashi naik ke lantai dua. Ia kemudian melanjutkan kembali kegiatan membaca koran yang sebelumnya tertunda.

'Oh, jadi ini yang namanya Kepala Strawberry.'

oOo

Akashi masuk ke dalam kamar Kuroko lalu meletakan tas yang dibawanya di dekat meja belajar Kuroko. Pandangannya lalu tertuju ke deretan foto yang terpajang di atas meja belajar tersebut. Sekarang dirinya bisa melihat dengan jelas kalau foto dirinya bersama Kuroko sudah terpajang disana. Akashi lalu tersenyum dan mengambil foto tersebut.

"Tetsuya, kenapa kau pilih foto yang ini?" Akashi menunjukan foto yang dipegangnya pada Kuroko.

Pada foto tersebut terlihat gambar Kuroko dan Akashi dari sudut samping depan. Kuroko sedang memandang ke langit sore sambil sedikit tersenyum dan di samping Kuroko terdapat Akashi yang mulutnya sedang terbuka untuk memakan semangka di tangannya. Foto itu diambil saat mereka sedang liburan musim panas di penginapan milik Paman Aomine.

"Pada foto itu diriku terlihat lebih keren dari Akashi-kun."

"Hm, Tetsuya memang terlihat lebih manis. Tetapi, kita berdua punya foto yang lebih mesra dari ini. Kenapa tidak pajang yang itu saja?"

"Justru karena itu, Aku tidak mau memajangnya Akashi-kun. Dan Aku terlihat keren bukan manis."

Akashi lalu tersenyum kemudian mencubit pipi Kuroko. "Kau harusnya merasa senang Tetsuya. Sampai kapanpun dirimu akan terlihat manis di mataku."

"Kalau mau yang manis, Akashi-kun sebaiknya makan gula saja. Rasa manisnya pasti akan lebih terasa, tetapi jangan terlalu banyak."

"Tetsuya Manis sudah cukup bagiku. Aku tidak butuh yang lain lagi. Sekarang Tetsuya mau melakukan apa? Kau bisa pilih, mau belajar teori cinta atau cara bermesraan dengan seorang Akashi Seijuurou."

Kuroko lalu membuka buku yang sudah dipersiapkannya di atas meja tanpa menghiraukan Akashi. "Hari ini kita cuma belajar Matematika, Akashi-kun."

"Tetsuya, tidak ada gunanya kau menghitung besar cintaku sekarang. Ukurannya akan terus membesar seiring berjalannya waktu. Atau justru perasaanmu yang mau dihitung?" Akashi mengambil beberapa buku yang ada di tasnya. Ia sudah mempersiapkan bahan – bahan yang akan dipelajari oleh Kuroko. Baik itu bahan pelajaran yang sesuai dengan kurikulum sekolah maupun yang sesuai dengan kurikulum Akashi Seijuurou.

"Bagaimana kalau kita menghitung seberapa besar kesabaran yang Aku punya Akashi-kun? Aku tidak akan memberikan toleransi hari ini. Aku sudah tahu kalau tes Matematika besok pasti sangat sulit."

"Baiklah, kita akan mulai belajar sekarang. Tetapi, satu hal yang perlu kau tahu adalah tes untuk mendapatkan hati seorang Kuroko Tetsuya dengan nilai seratus jauh lebih sulit dari pada tes Matematika manapun yang pernah Aku kerjakan."

Kuroko hanya bisa memutar bola matanya setelah mendengar perkataan dari Akashi. Kuroko tidak pernah habis pikir bagaimana bisa seorang Akashi Seijuurou yang sangat tegas dan disiplin bisa menggoda dirinya yang jelas – jelas tidak begitu menarik di mata orang banyak (Iya, kalau Kuroko-nya lagi kelihatan).

oOo

"Selamat siang!"

Akashi segera memutar kepalanya ke belakang setelah mendengar suara yang tidak familiar di telinganya. Di depannya berdiri seorang pemuda yang lebih tinggi darinya dengan rambut pendek dan mata berwarna abu – abu muda. Wajah dari pemuda tersebut tidak menunjukkan ekspresi apapun.

/Kuroko saat ini sedang membuat minuman dan cemilan untuk mereka berdua di dapur./

Dalam hati Akashi berkata, 'Ternyata, hawa keberadaannya sama tipis dengan Tetsuya.'

Akashi sudah menduga siapa orang tersebut sehingga Ia langsung memperkenalkan dirinya. "Selamat siang! Namaku Akashi Seijuurou, teman dari Tetsuya yang sedang berkunjung untuk belajar bersama." Di dalam hati Akashi tidak lupa untuk menambahkan perkataannya. 'Tentu saja statusnya adalah penjaga dan pemilik Kuroko Tetsuya.'

"Salam kenal, namaku Mayuzumi Chihiro, kakak sepupu Tetsuya." Mayuzumi lalu menatap Akashi sebentar. "Hm… ternyata hanya teman. Aku tadi berpikir kira – kira siapa orang yang bersikap sedekat itu dengan Tetsuya. Ia tidak pernah bercerita denganku mengenai seseorang dari sekolahnya yang sangat dekat dengannya sampai ingin melebihi status teman."

"Kami berdua sebenarnya cukup dekat. Hanya saja Tetsuya belum siap untuk mengatakan hal itu." Akashi lalu memberikan tatapan serius kepada Mayuzumi.

"Hm, jadi menurutmu dirimu cukup dekat dengan Tetsuya. Baiklah, semoga saja Tetsuya bisa memberikan jawaban yang sama sehingga harapanmu tidak salah." Mayuzumi menatap tajam orang yang berdiri di depannya walaupun Ia tahu kalau tatapannya mungkin akan tetap terlihat kosong.

Akashi bisa merasakan suasana yang sedikit tegang diantara mereka berdua, tetapi dirinya tetap bisa tenang. Dirinya sudah mempersiapkan situasi seperti ini. Ia tahu kalau suatu saat Ia akan bertemu dengan orang – orang yang akan bersikap possessive terhadap Tetsuya walaupun Tetsuya sudah dianggap sebagai miliknya.

"Hm, sepertinya anda cukup dekat dengan Tetsuya. Oh ya Mayuzumi-san, apa anda bersekolah disini? Saya tidak melihat anda saat menginap disini tempo hari."

"Tidak, Aku hanya sedang berkunjung sekarang. Hm, Tetsuya jarang sekali mengajak temannya untuk menginap. Apa saat itu ada keperluan yang mendesak?" Mayuzumi menatap curiga Akashi. 'Cukup dekat katamu? Diriku ini lebih dekat dengan Tetsuya daripada dirimu.'

"Saat itu kami sedang liburan musim panas. Saya menginap disini supaya bisa mengerjakan tugas bersama dengan Tetsuya, akan lebih mudah kalau dikerjakan secara bersama – sama." Akashi berkata sambil mengeluarkan senyuman bangga dengan sengaja untuk meningkatkan emosi Mayuzumi.

"Oh begitu rupanya. Tapi Aku yakin kalau hal itu sepertinya tidak mendesak bagimu. Kau tidak terlihat seperti anak kecil yang kesulitan mengerjakan tugas sekolahnya. Apa kau melakukan itu untuk Tetsuya? Atau ada hal lain?"

"Saya yakin Tetsuya pasti bisa mengerjakan tugas liburannya sendiri. Saat itu Saya juga mengajarinya hal – hal lain yang sudah pasti akan berguna untuk masa depannya jadi anda tidak usah khawatir Mayuzumi-san." Akashi kemudian meletakan tangan kanannya tepat di depan dada dan berkata dengan tegas. "Aku tidak akan mengecewakan Tetsuya."

Mayuzumi lalu diam sejenak. Ia kemudian menyilangkan tangannya di depan dada. "Kau tahu, kau orang pertama yang tertarik dengan Tetsuya sampai seperti ini. Tetsuya sebenarnya sudah pernah bercerita sedikit tentangmu walaupun Ia tidak menjelaskannya secara detail. Tetsuya bukan tipe pengadu. Ia akan terlebih dahulu berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia hanya akan meminta saran tanpa memintaku terlibat untuk membantunya." Mayuzumi lalu maju selangkah mendekati Akashi menatapnya dengan serius. "Oleh karena itu, Aku harus bertanya sendiri pada masalah itu, Akashi Seijuurou."

Saat itu bisa terlihat bahwa ada api imaginer yang sedang menyebar di belakang Akashi dan Mayuzumi. Mereka berdua hanya diam dan seolah – olah bisa berkomunikasi menggunakan pikiran masing – masing.

'Aku harus memastikan dengan baik orang yang akan bersama dengan Tetsuya.' Mayuzumi imaginer menendang Akashi imaginer keluar dari rumah Kuroko. Disebelahnya Kuroko imaginer hanya terdiam saja sambil minum vanilla milkshake.

'Kau harus sadar bahwa sudah waktunya Tetsuya lepas darimu, kakak sepupu Chihiro.' Akashi imaginer yang ditendang keluar lalu menangkap dan mengurung Mayuzumi imaginer. Dari luar kurungan Akashi imaginer tertawa dengan keras. Sebagai hukuman bagi Kuroko, vanilla milkshake miliknya diambil lalu disembunyikan.

Mayuzumi imaginer kemudian tersenyum kejam dan menunjuk bom yang sebelumnya sudah dipasang di tubuh Akashi imaginer. 'Kau masih belum bisa apa – apa bocah merah! Tetsuya tidak akan semudah itu jadi milikmu. Aku tidak akan membiarkan adikku diatur begitu saja.'

Melihat bom yang terpasang di tubuhnya, Akashi imaginer langsung menelpon Kuroko imaginer. Pasukan Rainbow Head lalu datang untuk menjinakan bom tersebut. Kuroko imaginer berhasil mendapatkan vanilla milkshake kembali dengan ukuran yang lebih besar. 'Aku sudah menyerang Tetsuya sebelum ini. Dirimu tidak akan bisa membalikan keadaan Chihiro.'

Setelah diam yang berlangsung selama beberapa saat, Mayuzumi lalu menengok ke belakang dan beberapa detik kemudian Kuroko muncul dengan membawa minuman dan cemilan untuk dirinya dan Akashi.

"Ah, halo kak Chihiro." Kuroko lalu masuk dan meletakkan bawaannya di atas meja kayu yang kecil dan pendek. Ia lalu menoleh ke arah Mayuzumi. "Apa kakak ada perlu denganku?"

Mayuzumi kemudian menjawab dengan santai. "Tidak, Aku hanya ingin menyapa temanmu yang satu ini."

Pandangan Kuroko lalu berpindah kepada Akashi. "Jadi, kalian berdua sudah berkenalan satu sama lain?"

"Sudah Tetsuya. Kami bahkan sudah sedikit mengobrol. Bukan begitu, Mayuzumi-san?" Pandangan Akashi yang awalnya teralihkan oleh Kuroko kembali pada Mayuzumi.

"Benar, obrolan yang cukup menarik." Mayuzumi lalu bergerak ke depan Kuroko dan mengelus kepala Kuroko sesaat lalu bergerak menjauh. "Aku kembali ke kamarku, Tetsuya."

Mayuzumi bergerak ke arah pintu tetapi tiba – tiba pergerakannya terhenti sebelum keluar dari kamar. "Oh ya Tetsuya, Aku menemukan ini di kamarmu saat kau pergi keluar dari rumah tadi pagi." Mayuzumi memasukan tangannya ke dalam saku celana lalu mengeluarkan sekumpulan benda yang berukuran kecil.

Kuroko lalu mendekati Mayuzumi dan melihat benda – benda tersebut. Beberapa detik kemudian Kuroko mengambil benda yang ada di tangan Mayuzumi lalu mengucapkan terima kasih dan menutup pintu geser kamarnya.

"Akashi-kun?"

"Ya?"

Kuroko membalikan badannya, mendekati Akashi dan bertanya kepadanya. "Bisa kau jelaskan kenapa benda ini bisa ada disini?" Dari tangan Kuroko terlihat ada enam kamera kecil berwarna hitam dengan kabel pendek, yang tentu saja terlihat mencurigakan.

"Oh itu adalah kamera yang waktu itu Aku tunjukan padamu. Aku memasang kamera – kamera itu kembali di tempat yang berbeda saat kau sedang tidak ada di kamar Tetsuya." Akashi lalu menyentuh dagunya dengan tangan kanan dan mengambil posisi berpikir. "Mayuzumi-san ternyata cukup lihai, Aku belum memeriksanya hari ini sehingga Aku belum sadar kalau benda – benda ini sudah dicabut."

"Entah kenapa Aku tidak merasa kaget dengan hal ini. Maafkan Aku Akashi-kun, sepertinya Aku tidak bisa menyembuhkan dirimu dari penyakit stalking. Yang bisa kulakukan sekarang hanya meladenimu sambil menjaga jarak." Kuroko lalu mulai memperhatikan dengan seksama benda – benda kecil yang sudah cukup lama terus berada di kamarnya tapi tidak pernah disadari oleh dirinya sendiri. Kuroko merasa kalau benda – benda ini mirip dengannya.

"Tetsuya, ada kalanya sesuatu kegiatan yang terlihat negatif bisa menyelamatkan dirimu atau orang lain. Kau hanya perlu melihat sisi positif dari hal tersebut."

"Akashi-kun, apa kau bisa menyalakan dan mematikan benda ini secara manual? Mungkin ada suatu tombol agar Aku bisa menyalakannya." Kuroko terlihat sedang membolak – balikan salah satu benda ditangannya.

Akashi lalu menatap Kuroko dengan heran. "Apa maksudmu? Apa kau sudah mau menerima hal ini?"

"Tidak, Aku hanya berpikir bagaimana kalau kita gunakan kamera ini untuk mengobrol atau semacamnya. Kita berdua bisa menentukan waktu yang tepat lalu Aku akan menyalakannya dan kita bisa melihat satu sama lain."

"Hm, Aku sebenarnya sudah pernah memikirkan hal itu tetapi Aku pikir kau masih belum mau melakukan hal itu. Dan perlu kau sadari kalau apa yang kau tawarkan itu sangat berbeda dengan apa yang biasanya Aku lakukan dengan kamera ini. Aku tidak mau hanya melihatmu saat kita berdua mengobrol. Aku juga mau melihatmu melakukan kegiatan yang lainnya."

"Bagaimana jika Akashi-kun meminta izinku terlebih dahulu jika mau melakukan pengintaian? Kemudian Aku baru akan menyalakan kamera ini, kita tidak perlu mengobrol kalau memang sedang tidak ingin."

Akashi lalu berjalan mendekati Kuroko. Ia memegang kedua pundak Kuroko dari depan dan menatapnya dengan serius. "Tetsuya, sepertinya Aku perlu mengajarkan satu hal kepadamu. Pengintaian bisa terasa menyenangkan karena orang yang kita intai tidak tahu mengenai keberadaan kita." Akashi lalu melepaskan pegangannya pada pundak Kuroko dan mulai bergerak mendekati tas sekolahnya. "Aku rasa kita tidak perlu membahasnya sekarang. Untuk saat ini Aku akan membawa pulang kamera – kamera ini."

"Tapi Aku mau minta satu Akashi-kun?"

"Percuma Tetsuya, kamera ini cuma bisa terhubung dengan PC yang ada di rumahku. Kau tidak akan bisa menggunakannya."

Kuroko akhirnya mengurungkan kembali niatnya dan mulai meminum minuman yang sebelumnya sudah Ia bawa dari dapur. Ia memang merasa sedikit kecewa tetapi mau bagaimana lagi, dia memang tidak bisa melakukannya.

"Tetsuya, apa hubunganmu dengan Mayuzumi-san sangat dekat?" Akashi sekarang sedang merapikan kamera – kamera tersebut di dalam tasnya agar tidak tertimpa oleh barang lain yang dibawanya.

"Um, sejak kecil Aku memang paling dekat dengan Kak Chihiro jika dibandingkan dengan saudaraku yang lain. Mungkin karena kita berdua sama – sama anak tunggal."

"Apa kalian sering mengobrol tentang kehidupan sekolah kalian? Atau mungkin main bersama."

"Tidak begitu sering, toh kehidupan sekolah kami biasa – biasa saja. Kami sering bersama kalau Ia sedang berkunjung atau Aku yang pergi ke rumahnya, walaupun itu tidak bisa dibilang main. Memangnya ada apa Akashi-kun?"

"Tidak ada apa – apa. Aku cukup tertarik dengannya." Akashi lalu duduk di depan Kuroko untuk meminum minumanya sendiri. 'Tidak ada salahnya kalau kita berusaha untuk mengenal musuh kita secara lebih dekat.'

"…" Setelah mendengar perkataan Akashi, Kuroko menundukan kepalanya dan berubah menjadi diam. Ia hanya meminum minumannya saja.

"Ada apa? Kenapa kau tiba – tiba menjadi diam?"

"Pada dasarnya Aku memang pendiam Akashi-kun."

"Tetsuya, jawab pertanyaanku."

Kuroko lalu menegakkan kepalanya dan menatap Akashi. "Aku tidak suka perhatian Akashi-kun tertuju pada Kak Chihiro. Seharusnya perhatianmu tertuju padaku saja."

'Aku bisa repot kalau Akashi-kun sampai ribut dengan Kak Chihiro. Kak Chihiro pasti akan jadi cerewet nanti.'

Mata Akashi melebar setelah mendengar perkataan pemuda berambut biru muda yang sangat disukainya tersebut. Dirinya tidak menyangka kalau sekarang Kuroko sangat ingin mendapatkan perhatian darinya. Akashi berpikir kalau Kuroko belum sampai ke tahap itu tapi ternyata perkembangannya berjalan lebih cepat.

"Tentu saja Tetsuya adalah pusat dari perhatianku. Kau tidak perlu khawatir, Tetsuya akan tetap menjadi orang nomor satu yang akan terus Aku ganggu atau ajak ribut. Dan seharusnya kau mengatakan hal ini lebih awal. Aku pasti akan memberikan perhatian yang lebih banyak kalau Aku tahu."

"Aku tidak membutuhkan perhatian yang lebih dari ini Akashi-kun. Aku cuma ingin agar Akashi-kun tidak mengganggu Kak Chihiro. Kak Chihiro lebih tidak penyabar jika dibandingkan dengan diriku."

Akashi lalu tersenyum hangat kepada Kuroko. "Tetsuya kemarilah. Aku akan memberikan sesuatu padamu." Akashi meminta Kuroko untuk mendekat lalu duduk di sebelah kanannya. Akashi kemudian menyentuh tangan Kuroko lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Kuroko untuk berbisik.

"Aku menyukaimu Kuroko Tetsuya. Cuma kau, pria yang akan mendapatkan hal ini dariku."

Akashi lalu mencium pipi kiri Kuroko. Setelah itu, Ia memutar wajah Kuroko ke kiri sehingga berhadapan dengan wajah miliknya dan mencium dahi Kuroko. "Karena itu, jangan membuatku menunggu terlalu lama Tetsuya."

Kuroko yang masih terkejut hanya bisa diam dan tidak berbuat apa – apa. Kuroko hanya membiarkan begitu saja Akashi yang sekarang sedang mencium pipi kanannya. Setelah pandangan Akashi kembali pada mata Kuroko. Kuroko akhirnya tersadar dan langsung menundukan kepalanya. Wajahnya sedang memanas sekarang dan Ia tidak ingin Akashi melihatnya.

"Aku malu Akashi-kun." Wajah Kuroko semakin memerah dan semakin tertunduk ke bawah.

"Tidak apa – apa, Aku menyukai reaksi seperti ini. Jadi kau tidak perlu menundukan kepalamu, biarkan Aku melihat ekspresimu, Tetsuya." Akashi lalu sedikit menarik dagu Kuroko untuk membuatnya mendongak.

Melihat ekspresi Kuroko yang sekarang membuat Akashi sedikit tersipu malu. Di mata Akashi, Kuroko terlihat sangat manis dan dirinya ingin sekali mencium bagian lain di wajahnya yang belum pernah disentuhnya. Akashi lalu mendekatkan wajahnya untuk melihat dengan lebih jelas bagian tersebut.

'Eh?!'

Wajah mereka berdua sekarang hanya berjarak lima centimeter. Kuroko mulai panik melihat wajah Akashi yang terus mendekat. Dirinya mau lari tetapi matanya terlalu terpaku pada mata yang terus menatapnya. Kuroko baru sadar sekarang kalau mata yang berbeda warna tersebut ternyata terlihat sangat indah dan membuat dirinya ingin menatapnya terus.

'Indah… Dan keindahan tersebut terus mendekat.'

Kuroko bisa merasakan napas Akashi mulai mendekat dan sebentar lagi hidung mereka berdua akan bersentuhan. Akashi mulai membelai wajah Kuroko dan seakan ingin menariknya maju ke depan.

.

.

"Duk… Duk… Duk…"

"Tetsuya… keluarlah sebentar!"

Pergerakan mereka berdua langsung terhenti. Mereka berdua sama – sama terkejut dengan suara yang ada di balik pintu geser kamar Kuroko. Sekarang yang terdengar adalah suara detak jantung yang berdetak dengan kencang. Entah itu jantung milik siapa, mereka sama sekali tidak peduli.

Setelah sadar dari keterkejutannya, Kuroko langsung mendorong tubuh Akashi untuk menjauh sehingga Ia bisa bangkit berdiri dan bergerak ke arah pintu. Kuroko bergerak dengan cepat lalu menggeser pintu, keluar, dan menutup pintu itu lagi.

"Daaak!"

"Ada apa Kak Chihiro?" Kuroko bertanya dengan cepat.

"Ini sudah waktunya untuk mengangkat futon yang tadi dijemur."

"Ah, baiklah, Aku akan langsung mengangkatnya." Kuroko langsung mulai bergerak untuk turun ke bawah. Tetapi pergerakannya segera tertahan oleh sebuah tarikan.

"Kenapa mukamu merah sekali Tetsuya?" Mayuzumi menarik tangan Kuroko untuk menghentikan pergerakannya.

"Eh? Ah… Aku… Aku hanya kepanasan Kak Chihiro. Kami tadi… um, bermain sebentar sambil istirahat." Kuroko sengaja tidak mendongakkan kepalanya agar mata mereka berdua tidak bertemu. "Sekarang ayo kita turun ke bawah!" Sekarang giliran Kuroko yang menarik tangan Mayuzumi agar segera berjalan maju.

Mayuzumi menatap curiga Kuroko yang bergerak di depannya. 'Cih! Bocah itu pasti sudah melakukan sesuatu kepada Tetsuya.'

Sementara itu dengan Akashi yang sedang menenangkan dirinya.

'Hah… bagaimana bisa Aku membiarkan diriku terbawa suasana. Sesuatu yang tidak direncanakan memang sering kali gagal. Dan ini bukan tempat yang cocok untuk mengambil ciuman pertamanya.'

oOo

Kuroko dan Mayuzumi sekarang sudah selesai mengangkat semua futon yang mereka jemur secara masal. Sebelum pergi, Ibu Kuroko menitipkan jemuran tersebut karena harus diangkat sebelum udara mendingin. Mereka hidup di musim gugur sekarang, jadi kalau ingin menjemur sesuatu harus dilakukan saat matahari masih bersinar dan diangkat sebelum suhu udara belum terlalu dingin.

Pepohonan di halaman sudah cukup banyak menggugurkan daunnya. Apabila dedaunan tersebut dikumpulkan, rakyat Jepang bisa menggunakannnya untuk membakar ubi lalu dimakan saat masih hangat. Dan pada musim seperti ini waktu luang paling nyaman dihabiskan dengan membaca novel sambil memakai pakaian hangat dengan teh hangat yang tersedia di atas me–

'Stop!'

Kuroko akhirnya menghentikan pikiran – pikiran yang baru saja Ia keluarkan. Pikiran tersebut ada untuk mengalihkan perhatiannya dari kejadian yang baru saja terjadi. Kuroko sadar dengan jelas kalau Akashi ingin menciumnya tadi. Dan Ia juga sadar kalau reaksi yang diberikannya adalah diam tanpa ada perlawanan.

'Untung saja Kak Chihiro datang di saat yang tepat. Aku tidak tahu harus memberikan reaksi apa jika kami berdua benar – benar berciuman. Tetapi, Aku juga tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa sekarang. Walaupun gagal, Aku mengetahui dengan jelas maksudnya.'

"Terima kasih Kak Chihiro. Aku akan kembali ke kamar sekarang." Kuroko menaiki tangga menuju lantai dua dengan perasaan tidak tenang. Ia masih belum tahu harus menanggapi Akashi dengan cara yang seperti apa.

"Sraaak…"

Pintu kamar digeser dan terlihat Akashi yang sedang menunggu kedatangan Kuroko. Kuroko lalu masuk dan menutup pintunya kembali. Ia mengambil tempat di depan Akashi dan diantara mereka berdua terdapat meja kecil yang digunakan sebagai tempat meletakkan minuman dan cemilan. Setelah duduk Kuroko hanya diam sambil mengalihkan pandangannya dari Akashi.

"Tetsuya, apa kau mau melanjutkan yang baru saja hampir terjadi tadi?" Akashi bertanya dengan nada yang santai.

"…"

Kuroko tidak menjawab apa – apa. Ia tidak menyangka kalau Akashi akan menanyakan hal tersebut secara langsung.

"Tetsuya, apa kau ingin Aku menciummu sekarang?"

"…"

"Karena kau hanya diam, maka Aku anggap kalau jawabannya adalah iya." Akashi lalu mulai beranjak dari tempat untuk bergerak mendekati Kuroko.

"Tunggu sebentar! Aku tidak mengatakan apa – apa Akashi-kun!"

Kuroko akhirnya mengangkat kepala dan menatap Akashi. Wajahnya sedikit memerah karena Ia berhasil mengingat kembali kejadian yang sebelumnya.

Akashi sebenarnya tidak berniat untuk melakukannya sekarang. Ia hanya ingin agar Kuroko berbicara sehingga suasana diantara mereka tidak menjadi canggung. Akashi juga sudah tahu kira – kira jawaban seperti apa yang akan Kuroko berikan.

"Jadi, jawabannya adalah…"

"Um, Aku tidak ingin Akashi-kun."

Akashi lalu kembali duduk di tempatnya dan mengambil tehnya untuk diminum. "Baiklah, Aku tidak akan melakukannya sekarang. Maaf, karena sudah membuatmu merasa tidak nyaman."

"Tidak apa – apa Akashi-kun." Kuroko lalu lalu terdiam sejenak. "Tetapi sebaiknya jangan lakukan hal yang tadi lagi. Kak Chihiro dulu pernah bilang kalau kita harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin mencium bibir seseorang. Oleh karena itu, Kak Chihiro mengatakan kalau Aku harus menolak siapapun yang mau menciumku secara langsung."

"Heh… ternyata ajaran seperti itu yang kau pahami." Akashi jujur merasa setuju dengan Mayuzumi. Ia juga akan melakukan hal yang sama jika dirinya menjadi kakak Kuroko. Bahkan dirinya akan menyuruh Kuroko untuk memukul orang tersebut sebelum dirinya dicium.

"Tapi, tadi Tetsuya sama sekali tidak menolak, bahkan tidak ada perlawanan."

Kuroko cuma bisa bingung dan menjawab dalam hati. 'Kenapa pembahasannya masih terus dilanjutkan Akashi-kun?!'

"Aku penasaran Tetsuya."

"…"

"…"

"Um, mata Akashi-kun terlihat indah."

Akashi terdiam dan berdialog dalam hati. 'Justru matamu yang lebih indah sayang. Walaupun kenampakannya hampir sama dengan Nigou.'

"Lalu?"

Kuroko kembali mengalihkan pandangannya. "Aku tidak bisa mengalihkan mataku dari tatapanmu Akashi-kun."

"Tetapi sekarang kau sedang mengalihkan pandanganmu Tetsuya."

"Suasananya sudah jauh berbeda Akashi-kun!" Kuroko berbicara dengan tidak sabaran karena merasa terpojok. "Akashi-kun ayo kita lanjutkan lagi belajarnya. Istirahatnya jangan lama – lama!"

"Oh, jadi sekarang Tetsuya ingin menghindar. Padahal biasanya kau sangat keras kepala." Akashi mulai tersenyum nakal sambil memberikan cubitan di pipi kiri Kuroko.

"Anggap saja kita seperti sedang bertukar shift waktu kerja. Biasanya Akashi-kun yang menghindar dan diriku yang keras kepala. Sekarang kita sedang bertukar peran." Kuroko lalu menyingkirkan tangan Akashi yang masih setia memainkan pipinya. "Akashi-kun jangan bermain dengan pipiku!"

"Kau sudah seperti bidak Shogi yang selalu Aku ingin mainkan. Jadi rasanya sulit sekali untuk menahan diri. Dan perlu Tetsuya ingat kalau Aku tidak menghindar, Aku hanya sedikit mengajakmu bermain."

Akashi akhirnya bergerak menuju meja belajar. Ia sepertinya sudah setuju untuk kembali melanjutkan kegiatan belajar mereka (sebenarnya lebih tepat disebut kegiatan belajar Kuroko). Kuroko akhirnya bernapas lega dan duduk di sebelah Akashi. Ia bersyukur Akashi tidak bertanya kepada dirinya lebih jauh. Kuroko lalu mengambil pensil dan mulai mencari soal yang ingin dirinya tanyakan.

"Sekarang kau belajar dulu, sehabis ini kita akan melanjutkan perbincangan tersebut. Seperti yang tadi sudah Tetsuya katakan, kita sedang bertukar peran sekarang."

Kuroko menarik lagi napas lega yang sudah Ia keluarkan tadi. Ia sekarang tahu kalau dirinya tidak akan bisa tenang sampai Akashi pergi dari rumahnya. Kuroko berharap Akashi tidak bertanya hal yang aneh – aneh.


Author Message:

Yak, akhirnya Akashi bertemu dengan Mayuzumi. Dan di cerita ini Author membuat Mayuzumi mempunyai rasa sayang terhadap Kuroko. Ia bersikap seperti kakak yang menjaga adiknya diam-diam. Dari luar tidak terlihat peduli tetapi sebenarnya sangat peduli sampe jadi kakak (hantu) penasaran.

Oh ya, buat chapter depan bakal lama update-nya karena idenya lagi mandek. Belum keluar ide yang sesuai. Jadinya, Aku cuma bakal publish fanfic buat ultah Kuroko. Fanfic-nya udah selesai, ditunggu ya!

*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.

*Jangan lupa review-nya, saran & kritik pasti diterima