"Apa? Kau tidur dengan si anak ingusan itu?"
Luhan menutup kedua telinganya saat mendengar pertanyaan Minseok yang menurutnya mampu membuat gunung himalaya meledak karena kekuatan teriakannya itu.
"Bagaimana bisa?"
Luhan menghela nafasnya "Saat pernikahan Yixing dan Joonmyeon, aku tak sengaja mabuk dan dia juga! Jadi yah begitulah..." lirihnya.
"Kau yakin hanya tidur saja? Maksudku, kalian dalam keadaan tidak sadar kan? Dan juga dia laki-laki dan kau perempuan berada dalam satu kamar hotel dan you know what I mean kan, kalian itu dalam keadaan mabuk, ingat Luhan, MABUK!"
Luhan melangkahkan kakinya ke arah dapur dan mengambil minuman dingin dari dalam kulkasnya lalu ia kembali duduk bersama Minseok yang datang bertamu ke appartementnya "Aku yakin, pakaianku masih lengkap saat itu.." meski aku tak yakin karena Sehun hanya mengenakan boxer nya...
"Lu? Kenapa ? Kau memikirkan sesuatu?" tanya Minseok yang menyadari Luhan menggantungkan kalimatnya.
"Aku yakin Tae Rin eomma!"
"Lalu kenapa si anak ingusan itu..."
"Sehun namanya.." potong Luhan
"Ah yah Sehun atau siapapun itu kenapa lengket sekali denganmu?"
Luhan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya melanjutkan perkataan "Entahlah, dia selalu mengatakan akan bertanggung jawab karena kejadian itu"
"OMO! Mungkin kau memang tidak sadar, tapi sepertinya dia memang melakukan sesuatu padamu jadi..."
"Jangan berfikiran macam-macam nyonya Kim! Aku baik-baik saja" potongnya dan membuat sahabatnya menutup mulutnya.
Luhan menyandarkan punggungnya di sofa, ia cukup lelah karena tadi Sehun mengekornya hingga ke appartementnya dan jika bukan karena Minseok yang datang tepat waktu mungkin Sehun masih mengekor pada Luhan.
Luhan melirik Minseok yang menyalankan televisi dan tengah asik pada acara berita.
"Kau meninggalkan Tae Rin di rumah ibu mertua mu lagi?" tanya Luhan yang baru menyadari Minseok datang tidak bersama anaknya.
"Anakku seperti bukan anakku, dia sangat dekat dengan eommonim, sudah dua hari dia tinggal disana, sore nanti aku dan Jongdae akan menjemputnya" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
Luhan hanya mengangguk mengerti. Ia memainkan ponsel pintarnya membuka galeri photo dan melihat tingkah Jongsoo yang sering menghabiskan weekend bersamanya karena kesibukan Tao yang tengah melanjutkan kuliahnya. Dan kadang Jongsoo bersama Luhan dan Kris. Yah, Kris pria yang dicintainya sejak SMA hingga kini telah memiliki keluarga kecil yang bahagia. Luhan cemburu? Tentu saja, hanya karena pengakuan cintanya pada Kris saat itu membuatnya harus kehilangan Kris dan juga persahabatnya dan kemudian setelah 7 tahun Kris kembali bersama Tao dan Jongsoo –keluarga kecilnya-. Bahkan hingga kini, Luhan belum menemukan pengganti Kris dihatinya. Meski Kris sudah memiliki istri dan anak, Luhan masih tetap mencintainya. Mungkin Kris tidak menyadari itu. Luhan tersenyum kecil dari sudut bibir tipisnya.
"Omo! Daebak!" teriak Minseok tiba-tiba membuat Luhan memfokuskan pandangannya pada Minseok
"Ada apa?"
"Kau lihat? Gadis itu akan menikah dengan cucu presiden kita" serunya sambil menunjuk ke arah televisi.
Luhan mengikuti arah pandang sahabatnya dan melihat acara yang memberitkan seorang pengusaha muda yang terkenal di Jepang-Korea akan menikah dengan cucu presiden Korea. Mereka baru saja mengumumkan pertunangannya.
"Pernikahan karena perjodohan, ck! Tidak menutup kemungkinan terjadi di kalangan orang kaya kan?" komentar Minseok
"Mungkin mereka saling mencintai, Seok-yah!"
"Tidak mungkin, kau lihat saja gadis itu, dia tersenyum tidak tulus" lanjutnya.
Luhan ikut memperhatikan gadis yang tengah duduk disamping pria muda tampan yang yang tengah melakukan prescon itu. Gadis yang cantik, tunggu, sepertinya aku pernah melihat gadis itu... bukankah dia... Oh Hye Rin? Kakak perempuan Oh Sehun? Yah, Luhan ingat sekarang, wajah gadis manis yang ditelevisi itu pernah bertemu dengannya sekali saat Sehun masih sekolah dulu.
Luhan mengaduk coklat panas yang baru dibuatnya untuk menghangatkan tubuhnya. Malam ini hujan deras dan mampu membuat siapapun yang berada diluar akan menggigil karena suhunya.
"Ah, dingin sekali..." gerutunya sambil menyeruput coklat panas di mug putihnya.
Teng..Tong...Teng...Tong...
Luhan meletakkan mugnya dan berjalan ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang bertamu.
"Oh Sehun?" Luhan tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat pria berkulit pucat itu tengah menggigil kedinginan karena bajunya yang basah kuyup "Kau? Apa yang terjadi denganmu, eoh?"
Sehun mengangkat kepalanya yang menunduk dan menatap sendu Luhan, ia melangkah dua langkah untuk mendekati Luhan "Nunna..." lirihnya sambil memegang pundak Luhan dengan kedua tangannya "Tolong, aku!" lanjutnya.
Belum sempat Luhan menjawab, pria pucat itu sudah meletakkan kepalanya dipundak Luhan. "Omo! Apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil mencoba menahan beban di pundaknya.
"Aku kedinginan, nunna!" lirihnya lagi.
Luhan menghela nafas panjang "Masuklah..."
Sehun terpaku di dekat sofa, sementara Luhan sudah menghilang dikamarnya dan meninggalkan Sehun setelah meminta pria yang lebih muda darinya itu masuk ke dalam appartementnya.
"Kenapa hanya berdiri? Duduklah..." Luhan datang dengan membawa handuk kecil dan beberapa pakaian ganti.
"Disana? Nanti sofa nunna basah.."
Luhan mendengus, bocah ini kenapa malah memikirkan hal yang tidak penting sih? Apa dia tidak kedinginan dengan keadaannya sekarang? "Terserahlah, ini" Luhan menyerahkan handuk putih yang terlipat rapi dengan selembar kaos oblong abu-abu berbahan katun Jepang dan juga celana training. "Ganti pakaianmu dikamar mandi, jika kau mengenakan pakain itu kau bisa demam! Hanya ini pakaianku yang mungkin muat dibadanmu dan gunakan celana training ini" titahnya.
Sehun hanya mengangguk mengerti lalu membawa handuk dan pakaian tersebut ke arah kamar mandi.
Luhan berjalan ke arah dapur dan membuat teh gingseng untuk Sehun, setidaknya minuman tersebut mampu mencegah demam nantinya.
Beberapa menit kemudian Luhan melihat Sehun yang keluar dari kamar mandi dengan setelan yang sedikit membuat Luhan terkikik, bagaimana tidak? Sekarang badan Sehun terlihat sangat kurus karena pakaian yang ia kenakan sedikit membuat bentuk tubuhnya terlihat dan juga celana training yang ia gunakan terlihat sangat menggantung di atas mata kakinya. Tinggi badan Sehun dan Luhan memang terlihat sangat kontras jadi bisa bayangkan sendiri bagaimana jadinya jika Sehun mengenakan pakaian Luhan.
"Minum ini" katanya smabil menghampiri Sehun yang masih terpaku di depan pintu kamar mandi dan menyerahkan mug berisi minuman hangat "Minuman itu bisa menghangatkan tubuhmu..." lanjutnya lalu berjalan ke arah tv dan melanjutkan aksi minum coklat hangatnya.
Sehun hanya mengekor dan duduk gelisah disofa yang berbeda dengan Luhan.
Keadaan hening untuk beberapa saat.
"Kau.. bisa ceritakan apa yang terjadi denganmu hari ini?" Luhan membuka pembicaraan.
Sehun meletakkan mugnya ke atas meja, ia duduk dengan menyilangkan kakinya dengan kaki kanan bertumpu di kaki kirinya, Sehun kadang menurunkan ujung kaos yang ia kenakan untuk menutupi 'kebanggaan'nya.
"Kenapa diam, Oh Sehun?" tanya Luhan lagi dan sekarang memfokuskan pandangannya ke arah Sehun.
"Nunna..." lirihnya membuat Luhan mengernyitkan dahinya "Tidak kah kau memikirkan nasib tubuhku saat ini?"
"Maksudmu?"
"Aku tidak nyaman dengan pakaian ini, kau tahu? Aku tidak memakai underwear!" jawabnya polos membuat Luhan membentukkan bibir tipisnya bulat.
Luhan memandang Sehun secara intens dari ujung rambut hingga... fokus ke gaya duduk Sehun yang seperti wanita yang tengah malu-malu.
"Ayohlah..nunna! Kau mengerti maksudku kan?"
"Em..."
"Adikku yang ini sedang bergerak bebas disana dan aku tidak nyaman!" rengek Sehun sambil menunjuk benda di selangkangannya.
Luhan terkejut dengan perkataan Sehun, bingung. Tentu saja meski ia tahu arah kemana Sehun bicara tapi ia tak mengerti apa yang harus ia jawab atau ia lakukan untuk menanggapi rengekkan Sehun.
"Nunna..."
Luhan memalingkan wajahnya ke arah lain saat Sehun menurunkan satu kakinya yang tertumpu pada kakinya yang lain, karena tanpa sengaja Luhan melihat dengan jelas bentuk 'kebanggaan' Sehun yang tercetak di celana training yang ia kenakan. Besar, begitulah pikirnya.
"Nunna... selamatkan adikku!" pintanya lagi dengan nada manja dan mampu membuat Luhan merona.
Ish! Ada apa dengan anak ini sih? Ia bicara dengan tidak formal padaku dan mengarah... ah! sial, kenapa miliknya bisa sebesar itu! Yah, Tuhan apa yang aku pikirkan sih? Kenapa aku jadi seperti ini?
"Nunna... belikan aku celana dalam..."
Uhuk..uhuk... Luhan menutup mulutnya karena terbatuk. Ia memberanikan diri menatap Sehun dan melempar bantal sofa ke arahnya "Tutupi adikmu menggunakan ini! Geli..."
Sehun memangku bantal sofa yang dilemparkan Luhan "Nunna..."
"Aku tidak mungkin keluar malam-malam begini hanya untuk membeli celana dalammu kan?"
"Lalu kau ingin aku keluar dan berjalan dengan mengenakan pakaian seperti ini dan memamerkan bentuk adikku ini?" Sehun balik bertanya.
"Ish! Sejak kapan kau bicara informal padaku?"
"Sejak aku masih sekolah kan?"
Luhan memijat pelipisnya, ia hampir saja melupakan kelakuan Sehun saat sekolah dulu yang tidak pernah bersikap sopan pada staff sekolah.
"Kau juga tidak mungkin kan membiarkan ku memakai celana dalammu,? Celana dalammu yang bergambar hello kitty itu?"
Luhan mendelik "Tau darimana corak celana dalamku itu hello kitty?"
"Kau lupa, malam itu kan kita tidur bersama"
"YAK!" Luhan berdiri dari duduknya dan melihat Sehun yang tengah terkikik geli. Kenapa anak ini tahu celana dalam yang aku kenakan saat itu? Jangan-jangan, memang terjadi sesuatu anatara aku dan dia?
Sehun tidak bisa menahan tawanya saat melihat ekspressi Luhan ketika ia goda. "Nunna... daripada kita berdebat tentang celana dalam, lebih baik kau pinjamkan aku ponselmu! Aku akan menghubungi butik langganan Hye Rin nunna dan memesan celana dalam ku!"
Luhan duduk kembali dengan mendengus kesal. Harusnya ia mengatakan dari awal tentang niatnya dan tidak berbelit-belit hingga membahas soal celana dalam.
"Nih!" Luhan melemparkan ponselnya ke arah Sehun dan mendapati Sehun tersenyum.
Luhan terlihat kesal dan hingga akhirnya ia melupakan pertanyaan awalnya tentang keadaan Sehun.
Luhan melirik nakas saat jam sudah menunjukkan pukul 07.00 KST, ia sedikit terlambat bangun hari ini. Ia berjalan keluar dari kamarnya dan melihat Sehun yang tertidur nyenyak di sofa dengan pakaian pria yang sudah semestinya. Semalam Sehun memang memesan beberapa pakaian yang ia butuhkan dan jangan lupakan juga Luhan yang membayar semuanya.
"Selamat pagi, nunna..." Sehun bangun dari tidurnya dengan sedikit mengucek matanya.
"Bangunlah, kau harus kuliah kan?" balas Luhan sambil menuju dapur dan meneguk minuman dingin dari kulkas.
"Nunna... aku minta password appartmentmu!" teriak Sehun
"Mwo? Untuk apa?"
"Bagaimana jika aku pulang dari kampus lebih dulu, aku tidak mungkin kan menunggumu di depan pintu?"
Luhan menghampiri Sehun "Kau berniat menginap disini lagi?"
Sehun mengangguk dengan polosnya.
"Yak! Kau memiliki rumah yang besar Oh Sehun!"
Sehun bangkit dari duduknya "Aku tidak peduli"
"Duduklah, kita perlu bicara sebentar"
Sehun duduk berhadapan dengan Luhan.
"Sehun, kau tahu kan? Aku tinggal sendiri disini dan aku perempuan, bagaimana bisa aku membiarkanmu tinggal bersama ku dan kita tidak memiliki hubungan apapun!"
Sehun menghela nafas nya malas "Kalau begitu resmikan saja hubungan kita?"
"Mwo?"
"Jadi aku bisa tinggal di appartement nunna"
Luhan menarik nafasnya dalam-dalam "Tidak semudah yang kau pikirkan Sehun! Alasan nya apa kau tidak ingin pulang?"
"Hye Rin nunna sudah tidak peduli lagi padaku" jawabnya lalu menundukkan wajahnya menatap ubin.
Luhan melihat perubahan wajah Sehun yang menggambarkan kekecewaan "Kenapa kau berfikir seperti itu?"
"Kau tidak pernah menonton televisi?" ejeknya yang mampu membuat Luhan sedikit terperanjat karena sindirannya "Hye Rin nunna akan menikah dengan cucu presiden itu, dan sejak ia berkencan dengan pria brengsek itu dia jadi mengabaikanku! Bahkan sekarang dia tidak mencariku karena aku tidak pulang ke rumah" lanjutnya lagi.
Oh Tuhan, bisakah kau jelaskan padaku berapa umur Sehun sekarang? Kenapa dia sangat manja dan kekanakan sekali? Apa migrasinya ke Cina beberapa tahun lalu membuat otaknya sedikit bergeser? Kenapa aku selalu berurusan dengan bocah tengik ini? Seandainya dulu aku tidak terlalu perhatian dengannya, mungkin dia tidak akan mengekor padaku! Ah, bocah ini sangat menyebalkan! Pantas saja jika Kyungsoo lebih memilih Jongin daripada anak ini!
"Kau tidak tahu kan jika hidupku sangat bergantung dengan Hye Rin nunna, sekarang setelah dia akan menikah dan mulai mengabaikanku! Aku benci situasi seperti ini" lanjutnya lagi membuat Luhan menatap Sehun dalam-dalam.
Ah, aku yakin bocah ini memiliki syndrom sister complex!
"Hanya kau tempat buat aku bersandar sekarang, hanya kau tempat yang mau menerima ku..." lirihnya lagi
Luhan menghela nafas, "Kau masih memiliki orang tua Sehun-ah! mereka..."
"Aku tidak punya mereka, hanya kau yang aku punya..." katanya penuh penekanan.
Luhan menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Kau tenang saja, aku tidak akan tinggal gratis disini! Aku akan ikut membayar sewanya... lagipula aku kan harus berada di dekatmu, aku bertanggung jawab penuh atas dirimu sejak malam itu!"
Luhan mendelik "Jangan ungkit masalah itu OH SEHUN!"
"Ijinkan aku tinggal disini atau aku akan mengatakan pada priamu jika kita pernah tidur bersama?!" ancamnya.
"Priaku?"
"Pria yang ada di galeri ponselmu" katanya datar.
Kris ? "Ah baiklah, tinggallah disini sesuka hatimu!" kata Luhan akhirnya. Luhan sendiri tak yakin dengan keputusannya tapi entahlah ia sendiri tidak tahu kenapa ia memilih untuk membiarkan Sehun tetap tinggal di appartementnya
Kris menatap wajah cantik istrinya yang tengah menyiapkan sarapan. Tao dengan telaten meletakkan peralatan makan di depan Kris.
"Oppa, jangan menatapku seperti itu? Kau membuat makanan di atas meja sana cemburu" omel Tao yang mulai risih karena perbuatan suaminya.
Kris tersenyum "Wajahmu selalu mampu menarik prhatianku, Tao! Bahkan dalam keadaan kau belum mandi sekalipun! Sejak kapan kau menjadi cantik seperti ini?"
Tao mendengus lalu duduk disamping Kris "Ini masih terlalu pagi untuk menggombal, Jongsoo appa!" sungutnya. "Makanlah, kau harus ke kantor kan pagi ini?"
Kris mengangguk "Kau tidak menemaniku makan?" tanya Kris yang melihat Tao hanya diam dan tidak menyentuh makanannya.
"Aku akan makan bersama Jongsoo, nanti!" katanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Jadi Jongsoo lebih penting dariku sekarang?"
Tao tersenyum "Seorang ibu pasti akan mengutamakan anaknya kan?"
"Tapi aku suamimu, sayang!" rengeknya.
"Malu pada usiamu, Oppa! Kau sudah menjadi seorang ayah tapi masih saja bersikap seperti itu.."
Kris tak menjawab, ia melanjutkan makannya.
"Aku memang tidak ikut makan bersamamu, tapi aku akan duduk disampingmu menemanimu makan setiap paginya..." kata Tao mencoba membujuk suaminya,
Kris tersenyum, "Baiklah... jika Jongsoo sudah bangun nanti kau harus makan yang banyak dengannya"
Tao mengangguk "Pasti sayang..."
"Kyungsoo-yah! Terimakasih tumpangannya ne..." kata Luhan sambil keluar dari mobil Kyungsoo malam itu. Sebelum pulang dari sekolah, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan hingga tidak terasa hari sudah malam.
"Tak apa eonni, aku senang akhirnya kita bisa berjalan-jalan bersama, hehe sudah lama kita tidak jalan bersama" balas Kyungsoo dari dalam mobil dan masih setia memegang setir mobilnya.
"Itu karena kau terlalu sibuk bersama suamimu.. sekarang pulanglah, Jongin akan marah jika kau telat pulang"
Kyungsoo menggeleng "Tak akan, kan tadi aku sudah minta ijin dengannya! Baiklah, aku pulang ne..."
"Hati-hati Kyungie..."
Kyungsoo tersenyum lalu menjalankan mobilnya dan pergi dari pelataran luas appartement milik Luhan.
Luhan melangkahkan kakinya menuju appartement yang ia tinggali sejak kuliah dulu.
"K-kau? Bagaimana kau bisa masuk sini?" Luhan tak bisa menutupi keterkejutannya saat melihat Sehun berada didalam appartemenntnya dan tengah asyik dengan stick PS-nya.
"Sepertinya kau melupakan sesuatu?" balas Sehun acuh.
Luhan yang yang masih berdiri hanya mengernyitkan keningnya, "Ah, mian aku lupa!" Luhan ingat kejadian tadi pagi dan memberikan keputusan jika Sehun bisa tinggal di appartementnya.
"Kau pulang malam sekali?"
"Ini baru jam 7 Sehun-ah!" jawabnya sambil menuju ke kamarnya.
"Nunna.. aku lapar!" teriakan Sehun mampu membuat Luhan terpaku di depan pintu kamarnya.
"Makanlah ramen!" titahnya.
"Kau kan seorang dokter, makan ramen itu tidak menyehatkan! Masa kau tidak tahu hal seperti itu!" ejek Sehun.
Luhan mendengus kesal "Masaklah sendiri yang kau mau!"
"Aku ingin omurice!"
Sehun tersenyum senang saat Luhan menyodorkan sepiring nasi berbalut telur dadar yang ia sebut omurice. Dengan cepat Sehun langsung melahapnya.
"Minumnya, nunna..." pinta Sehun ditengah-tengah makannya.
Luhan mendengus kesal, lalu beranjak dari duduknya dan menuangkan air putih untuk Sehun.
"Gomawo, nunna!"
Luhan kembali duduk dan menatap Sehun yang tengah kelaparan itu "Apa kau lapar sekali?"
Sehun mengangguk "Aku tadi tidak makan siang nunna!"
"Wae?"
"Aku kehabisan uang... oh yah, nunna pinjami aku uang untuk besok yah!"
"Mwo? Yak! Kau sudah numpang, kemarin malam kau memintaku membayar bajumu, kau makan gratis dan sekarang meminjam uang ?" Luhan menggeram kesal.
"Aku bilang aku meminjam kan? Pasti nanti aku ganti"
Luhan diam, ia enggan berdebat dengan Sehun, jika sudah begini ia akan menuruti kemauan Sehun. Toh, itu lebih baik daripada ia harus berdebat dengan pria yang 7 tahun lebih muda darinya itu.
"Kau diam?"
Luhan melirik Sehun "Jika aku diam itu tandanya aku bilang iya, PUAS?"
Sehun tersenyum lalu mengacungkan jempol tangan kirinya "Kau yang terbaik, nunna!"
Luhan mendecih, tak lama kemudian ponselnya bergetar. Melihat siapa yang memanggil, Luhan melirik Sehun yang tengah menatapnya. Tidak membutuhkan waktu lama, hingga akhirnya Luhan menjawab panggilan tersebut.
Sehun dengan seksama memasangkan kedua telinganya untuk mennagkap pembicaraan Luhan dengan si peneleon.
"Yeobosseo...ah, ne..." Luhan balas menatap Sehun "Ah iyah, em... bisa! Besok sepulang dari sekolah aku akan mengirimkan alamat dimana kita akan bertemu... geure, selamat malam..." Luhan meutup telponnya dan meletakkan ponselnya kembali dimeja "Ada apa denganmu? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Luhan bertanya.
Sehun meletakkan sendok dan garpunya lalu beranjak dari duduknya "Aku sudah selesai, terimakasih makan malamnya..." lalu membungkuk sopan dan menuju ke sebuah kamar kecil yang memang Luhan sediakan untuk Sehun sementara ia tinggal diapartementnya.
Luhan menatap punggung Sehun yang kemudian menghilang di balik pintu "Ada apa dengannya? Apa dia tahu siapa yang menelponku tadi?" tanya pada diri sendiri lalu kemudian menggidikkan kedua bahunya.
.
.
.
.
.
TeBeCe
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kombawa readerdull... hay..hay..hay.. masih ingat ff ini?
Iyah, ini ff lanjutan dari ff 'lonely love' hanya dibedakan main cast saja
mianhae, karena kelamaan update next chap nya :(
aerii harap, readerdull masih ingat sama ff ini dan masih mau baca dan masih mau nungguin kelanjutannya, hehehe
aerii tunggu respon kalian semuaa...
kritik dan saran sangat di butuhkan untuk chap kedepannya
pai...pai... di next chap yah...
XOXO
==aerii==
