Disclaimer : Naruto belongs toMasashi Kishimoto

Genre : Romance, Drama, Family, Humor#mungkin?

Pairing : SasuFemNaru, slight others.

Rate : M

Warning : GenderSwitch, AU, mengandung unsur GL dan BL,OOC, Tipo(s), humor garing, alur loncat-loncat, bikin pusing/pening, EYD ancur berantakan, dan segala kekurangan lainnya.

.

Red Chain

Chapter 3 : You are My Neighbor?

Story By : Uchy Nayuki

.

Don't Like? Don't Read, please!

.

Kiba dilanda malu berat. Sudah setengah hari ini dia mengasingkan diri dari para sahabatnya. Dia bahkan tidak masuk kelas untuk menghindari mereka. Selain karena Sasuke Uchiha yang diketahui berorientasi belok selalu berada disekitar Naruto, dia juga belum punya keberanian tinggi untuk bertatap muka dengan si rusa Nara setelah kejadian tadi siang.

Sungguh, Kiba hanya reflek. Pada saat itu kepalanya bekerja secara otomatis memutar kejadian beberapa tahun lalu yang kini masih menjadi trauma. Mendapat pernyataan cinta dari seorang laki-laki saat dirimu masih menjadi murid di sekolah Junior High jelas membuat Kiba merana. Dan karena itulah, dia sama sekali tidak bisa mengontrol tubuh dan pikirannya saat tahu jika Sasuke berorientasi menyimpang. Kiba hanya tidak ingin kejadian itu kembali terulang.

"Aku malu sekali…"

Kiba mengusap wajahnya kasar, berusaha mengurangi rasa panas yang ada disana. Mulutnya kemudian mengeluarkan helaan napas lelah. Mungkin dia akan menjaga jarak dengan Shikamaru untuk beberapa hari kedepan.

Dia mendongak menatap langit dengan wajah penuh derita. Tidakkah kau menyayangiku, Tuhan? Tanyanya miris dalam hati. Harus aku bawa kemana wajahku ini saat bertemu Shika nanti? Tambahnya lagi, resah.

"Oi, Puppy! Apa yang kau lakukan di atas sana?"

"UWAAA…"

Bruk!

"Aduh! Punggungkuu…"

Shikamaru, selaku sosok pemanggil berjalan cepat mendekati Kiba yang sukses terjun bebas dari dahan pohon. Dia berjongkok di depan pemuda itu seraya menggenggam bahu Kiba disertai tatapan khawatir. "Kau tidak apa?"

Kiba menunduk, enggan menatap langsung sosok Shikamaru. "Ugh, ti-tidak. Aku baik-baik saja," jawabnya dengan suara kecil.

Shikamaru melepas napas panjang yang entah sejak kapan ditahannya. "Ceroboh!" serunya penuh penekanan. "Apa yang kau pikirkan sampai termenung di atas pohon? Syukur kau tidak apa-apa. Jika seandainya kakimu patah, siapa yang akan bertanggung jawab?" tanyanya lagi panjang lebar, masih dengan nada suara yang terdengar kalut.

"Tentu saja kau!" Kiba menuding cepat. Sesaat kepalanya melupakan kejadian memalukan tadi siang. "Kau datang tiba-tiba dan hampir membuatku jantungan. Jelas kau yang jadi akar permasalahan jika seandainya kakiku patah!" tambahnya terdengar kesal.

Shikamaru terdiam lama, sebelum helaan napas kembali meluncur mulus dari belahan bibirnya. "Baiklah, aku yang salah," katanya seraya memutar bola mata, dan Kiba bisa mendengar jelas pemuda Nara itu menggumamkan kata merepotkan untuk beberapa kali.

Shikamaru akhirnya berdiri. Tangannya terjulur kedepan, hendak memberikan Kiba bantuan. "Naruto dan Gaara mencarimu," katanya menjelaskan seraya menarik tangannya saat Kiba menerima ulurannya. "Kau membuat mereka khawatir."

"Uh, maaf," Kiba menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku hanya…, yah, kau tahu-… ummm."

"Sudah, tidak perlu dijelaskan," Shikamaru memutar badannya untuk berjalan terlebih dahulu, membuat Kiba lantas mengekor di belakangnya. "Kau punya masalah dengan orientasi Sasuke? Bukannya aku sok tahu atau apa, tapi sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dari kami," kepalanya sedikit berpaling, menatap Kiba dengan mata kuacinya.

Kiba diam. Dia menggigit bibir bawahnya gugup, bertanya-tanya akankah dia bisa menceritakan rahasianya pada Shikamaru. Tapi, bukankah mereka sudah menjadi teman mulai dari Senior High? Pantaskah dia tetap menyembunyikan hal ini dari temannya?

"Aku tidak memaksa jika kau keberatan."

"Ti-tidak, kau salah paham." Kiba bersuara cepat, membuat Shikamaru menoleh padanya dengan dahi berkerut bingung. "Aku hanya sedikit malu," dia menggaruk pipinya salah tingkah, matanya menatap apapun selain sosok sang Nara.

Shikamaru terdiam dengan wajah yang menghadap lurus kedepan. "Meski merepotkan, tapi aku tidak keberatan untuk menjadi pendengar," dia melirik Kiba seraya melempar senyuman kecil.

Dan Kiba cukup untuk tahu jika dirinya memang tidak bisa menolak sosok si rusa Nara, apalagi jika Shikamaru bahkan dengan tidak keberatan menarik sudut bibir yang selalu menukik itu dihadapannya.

.

.

.

"Hari pertamamu menyenangkan, Sasuke?"

Sasuke melirik sang Paman yang mulai mengajak bicara. Dia sebenarnya tidak berminat untuk menjawab, tapi mengingat jika Obito semenjak tadi bergerak gelisah dalam duduknya membuat Sasuke sedikit tak tega. Dia pun menjawab dengan sekenanya. "Hn."

"Tadi aku sempat melihatmu bersama dengan Naruto Namikaze," Obito melirik Sasuke, sebelum kembali fokus menyetir. "Aku tidak tahu kau bisa sedekat itu dengan seorang wanita," dia memasang senyum lebar. Ah, Itachi pasti senang mendengar ini, batinnya.

Sasuke terdiam cukup lama, mencari-cari alasan. "Dia membantuku," ujarnya kemudian. "Dia memperkenalkan beberapa lelaki manis yang menurutnya cocok untukku," Sasuke melirik Obito, memperhatikan perubahan raut wajah sang Paman. "Aku tidak mungkin menolak tawaran menggiurkan itu, bukan?" tanyanya balik, mengangkat sedikit ujung bibirnya, membentuk seringai.

Obito mempelototi sang keponakan. "Naruto melakukan itu?!" suaranya memekik, cukup untuk membuat telinga Sasuke berdenging. "Kenapa?"

Sasuke mengedikkan bahu tak acuh. "Hanya agar wanita-wanita jalang itu tidak mendekatiku," katanya santai. Sedetik kemudian dia menoleh, menatap Obito datar. "Kurasa kau tahu alasannya apa."

Sosok yang ditatap terdiam, matanya berkedip beberapa kali. "Ah, bodoh sekali aku melupakan hal sepenting itu," lidahnya berdecak karena kesal. "Jadi sekarang kalian berstatus patner in crime, begitu?"

Sasuke mengedikkan bahu tidak peduli.

Untuk beberapa lama kesunyian mendominasi diantara mereka. Uchiha yang lebih muda mengarahkan tatapannya ke luar jendela, sementara yang lebih tua mencoba fokus menyetir meski terlihat jelas ketidaknyamanannya dengan keadaan sunyi seperti ini. Sementara di dalam hati dirinya mulai merutuk soal kesialannya karena memiliki keponakan yang sejenis dengan patung batu.

Obito memarkirkan mobilnya dalam basement saat dia dan Sasuke mencapai gedung yang akan ditinggali dua Uchiha bersaudara itu. Dia mematikan mobilnya dan mulai mengikuti Sasuke yang sudah berjalan duluan. Mereka terdiam lama di depan pintu lift yang tertutup bersama dengan banyak orang lainnya, sebelum akhirnya masuk ketika pintu terbuka.

Saat lift itu berdenting untuk yang kelima kali, mereka keluar dan Obito mengikuti kearah mana Sasuke berjalan. Mereka berhenti di depan sebuah pintu bernomor 304, sebelum Sasuke masuk dengan tidak bertata krama.

"Ah, kau sudah datang, Otouto."

"Hn."

Obito melongok sedikit melalui sisi pintu, kemudian tersenyum ketika dia bertemu tatap dengan sepasang obsidian hitam yang sejenis. "Hai," sapanya seraya melambai kearah si Uchiha Sulung yang kini terduduk di depan televisi.

"Oh, Paman?" Itachi melempar senyum kecil. "Kenapa berdiri disana? Ayo masuk," ujarnya ramah, dia meletakkan remot tv di atas meja sebelum mengalihkan pandangannya kearah sisi lain ruangan. "Sasuke! Benahi barang-barangmu!"

"Diam, Bodoh!"

Obito yang baru saja melepaskan sepatunya, tertawa dengan canggung. "Kalian selalu terlihat akrab, ya," ujarnya seraya melangkah, lantas menduduki bagian sofa disisi kiri Itachi. "Bagaimana keadaan Ayah dan Ibumu?" tanyanya kemudian.

Itachi menatap Obito skeptis. "Aku dan Sasuke akrab? Bisa saja hujan uang turun besok pagi." Ujarnya malas seraya memutar bola matanya bosan, menuai tawa lebar dari pria disampingnya. "Dan untuk keadaan Ayah dan Ibu, mereka baik. Sepertinya Paman sibuk sekali sampai tidak punya waktu menjenguk mereka berdua, ya?"

"Ah, itu…" Obito terlihat menggaruk belakang kepalanya yang Itachi curigai mulai dihuni makhluk menjijikkan sejenis kutu. "Kau tahu problemnya," ujarnya pelan seraya menghela napas. "Ayah dan Ibumu bukan tidak mungkin mendepakku keluar bahkan meski aku baru menapakkan kakiku disana."

Itachi mengedikkan bahu santai, terlihat sama sekali tidak berempati. Dan untungnya Obito bukan sejenis pria cengeng, atau mungkin dia akan berderai air mata sekedar hanya untuk menangisi nasibnya yang dikaruniai dua keponakan tidak punya hati.

"Itu salahmu sendiri, Paman," suara Itachi terdengar datar. "Kau menularkan orientasi mengerikanmu itu pada Sasuke," tambahnya kejam, matanya melirik Obito dengan kilat menakutkan.

"Oh Tuhan, harus berapa kali aku mengatakan hal ini padamu, Itachi!" Obito menjerit, dia dengan beringas mencengkram lengan Itachi dan menggoyangkannya kuat. "Itu bukan salahku! Sasuke sendiri yang memilih jalan yang searah denganku. Aku sama sekali tidak bertanggung jawab dengan beloknya orientasi Sasuke, Bodoh!"

"Begitukah?"

"Ak-"

"Itachi, berhentilah menggoda Obito," Sasuke keluar dari kamarnya dengan masih menggunakan pakaian yang sama. Dia menuju sudut ruangan dan mulai mengangkat kardus berisi barang-barangnya. "Aku sudah menceritakan semuanya padamu, bukan?"

Itachi menghela napas. Hilang sudah kesenangannya. "Hm, aku mengerti," balasnya seraya memutar mata, menghiraukan Obito yang jelas-jelas melempar pelototan tidak terima kearahnya.

Sasuke mengangguk sekali, merasa telah menjadi orang bijak. Sebelum akhirnya dia memasuki kamarnya kembali dan Itachi bisa melihat punggung Sasuke menghilang saat pintu telah di tutup rapat.

"Kau harus menjelaskan semuanya padaku Itachi."

Dan ketika Itachi menoleh keasal suara, matanya menemukan raut serius seorang Uchiha yang sangat jarang terpasang pada wajah Obito. Jika sudah seperti ini maka sungguh sangat mustahil untuknya mengelak, walaupun itu akan membuatnya mendapat dampratan keras dari Sasuke.

.

.

.

From : DeidaraDuck-neesan

Pulang sekarang juga atau kau akan kehilangan bagian paling menyenangkan!

Naruto yang saat ini sedang berduel game bersama Kiba harus dengan rela menekan tombol 'pause' hanya untuk menampilkan kernyitan penuh kebingungan, begitu pula Kiba yang dengan sangat usil mencuri pandang kearah layar ponselnya.

"Apa maksudnya dengan bagian paling menyenangkan?" tanya Kiba penasaran. "Apa Deidara-nee punya kejutan untukmu?" tambahnya seraya mulai mengecek layar ponselnya. "Tapi ini bukan hari ulang tahunmu 'kan?"

"Bukan," Naruto menggeleng dengan wajah yang masih terlihat bingung, mengecek layar ponselnya sekali lagi untuk berjaga-jaga jika seandainya dia salah baca, namun tulisan disana sama sekali tidak berubah. "Apa menurutmu Deidara hanya berniat mengerjaiku?" tanyanya seraya menatap Kiba, mengabaikan game seru yang baru sesaat lalu dia mainkan.

"Entahlah," Kiba mengedikkan bahu, sebelum menoleh kearah Shikamaru yang tertidur di belakangnya. "Hei, Rusa, bagaimana pendapatmu?" tanyanya seraya mengguncang lengan pemuda itu.

Shikamaru mengerang pelan, lantas mengangkat kepalanya dengan malas-malasan. "Apa?" tanyanya dengan suara serak, sebelum sedetik kemudian merebahkan kepalanya kembali.

"Ah, bodoh sekali aku bertanya padamu!" Kiba mengerucutkan bibirnya kesal.

"Jangan berpikiran negative, mungkin saja Deidara-nee memang punya kejutan untukmu," mengabaikan duo Rusa-Anjing yang kini terlihat mulai berdebat kecil, Garaa yang duduk pada sofa di sampingnya menimpali. "Kau berniat pulang? Aku bisa mengantarmu," tambahnya lagi seraya menutup buku bacaannya.

"Ah, jangan merepotkan dirimu, Gaara," Naruto tersenyum seraya mencapai tasnya, memutuskan untuk pulang. Sementara kepalanya mulai menyusun rencana-rencana brilliant untuk membalas Deidara jika seandainya wanita itu memang hanya berniat mengerjainya. "Lagipula, bukan tidak mungkin dua orang ini akan menghancurkan rumahmu jika seandainya kau menurunkan pengawasan pada mereka," ujarnya seraya melirik Kiba yang melempari pelototan tidak terima kearahnya.

Tampang Gaara datar, terlihat tidak menerima argument yang dilontarkan Naruto. "Kau pulang denganku. Tidak ada bantahan!"

Naruto meringis kesal, sedangkan Kiba tertawa jenaka disampingnya, mengejek nasibnya yang dianugerahkan seorang teman super protektif. Sementara Shikamaru yang semenjak tadi hanya melirik tidak minat, berniat tidur kembali setelah sebelumnya mengucapkan kata merepotkan.

.

.

.

"Tadaima."

Naruto melepas sepatu kets bergradasi orange-hitam miliknya sebelum meletakkannya di atas rak sepatu. Gadis itu mengernyit ketika merasakan tidak ada suara sang Kakak yang membalas salamnya.

"Nee-san?" Naruto masuk lebih dalam dan melihat tv masih menyala dengan menayangkan film animasi. Gadis itu kemudian memutar langkahnya menuju dapur ketika dia mencium aroma yang menggiurkan.

"Ah, Naruto. Kau sudah pulang?" Deidara menegakkan badannya yang membungkuk di depan oven, sementara tangannya terlihat memegangi loyang berisikan pie berkepul asap. "Oh ya! Okaeri," tambahnya lagi seraya tersenyum.

Naruto membalas seyuman itu dengan semangat. "Hm, jadi apa hal menyenangkan yang Nee-san maksudkan itu?" tanyanya buru-buru. Dia menatap pie buatan Deidara dengan pandangan lapar.

Deidara masih tersenyum, namun kini jauh lebih lebar. "Sebelum itu kau mandi dan ganti bajumu dulu," ujarnya ringan. "Dan untuk sesuatu yang menyenangkan, kau akan tahu sendiri nanti," tambahnya lagi seraya mulai meletakkan pie buatannya diatas meja.

"Uh, begitukah?" Naruto menaikkan kedua alisnya ragu. Perasaannya saja atau memang senyuman Deidara tadi terlihat menakutkan?

Deidara mengerling jenaka kearah Naruto yang mendadak berkeringat. "Sudah, cepat masuk kamarmu sana. Nanti kau menyesal, lho," ujarnya manis, kedua ujung bibirnya naik penuh misteri.

Naruto meneguk ludah, mulai merasakan firasat buruk. Berharap saja Dewi Fortuna masih betah berada di sisinya selama beberapa waktu kedepan.

.

.

.

"Apa?!"

Satu kata bemakna tanya keluar dari belahan bibir Naruto dengan nada sedikit agak melengking. Sedangkan matanya melotot, secara tidak langsung mengirimkan protes kepada wanita pirang pucat di hadapannya.

"Apanya yang apa?" Deidara memasang wajah pongah, semakin terlihat menyebalkan bagi Naruto. "Telingamu tidak tuli untuk mendengarkan perkataanku, bukan?" tanyanya sinis. "Tapi baiklah, untukmu akan kuulangi sekali lagi," jeda sesaat sebelum dia kembali melanjutkan. "Cepat ambil bungkusan pie ini dan berikan pada tetangga baru kita!"

Hening terjadi selama Naruto membuka mulutnya dengan ekspresi tidak terbaca, sebelum kemudian dia menggeleng nyaris terlalu kuat. "Tidak! Aku tidak mau!" jeritnya keras. "Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja?" tanyanya kesal.

Deidara mengangkat sebelah alisnya, menantang. "Kau yakin tidak mau mengantarkan ini pada tetangga baru kita?" dan saat dilihatnya Naruto mengangguk tegas, dia bergumam mengiyakan. "Baiklah, aku tidak memaksa. Tapi sebelum itu, ucapkan selamat tinggal pada semua Ramen instanmu di dalam lemari."

Naruto berkedip. Sekali. Dua kali. Dan kemudian Deidara bisa melihat sepintas cahaya kuning melesat dihadapannya.

"KEMANA SEMUA RAMENKU?!"

Deidara yang nyaris jantungan menyaksikan kecepatan super Naruto, mengusap dadanya gagap. Meski sudah seberapa sering dia mengancam Adiknya menggunakan taktik ini, dia tetap sama sekali belum terbiasa dengan respon yang diberikan Naruto. Adiknya itu benar-benar seorang Ramen-freak.

Wanita pirang itu berdehem sekali, lantas mulai bicara. "Kau ingin Ramenmu kembali?" tanyanya dengan tampang yang diusahakan semenyebalkan mungkin. "Lakukan apa yang aku katakan!"

Suara gemertak keluar dari belahan bibir Naruto yang mengeram. Seharusnya dia percaya pada instingnya bahwa wanita sialan ini hanya berniat mengerjainya. "Kau menyebalkan sekali, DeidaraDuck!"

Ujung alis Deidara berkedut. Naruto sialan dengan mulutnya yang sama sialannya! Maki wanita itu dalam hati. "Sudah, kau berniat mendapatkan Ramenmu kembali tidak?" suaranya terdengar kesal. Dia memang paling benci dengan sebutan yang satu itu.

Naruto terdiam, sebelum akhirnya membuang napas keras. "Setelah aku mengantarkan ini, tidak ada alasan untukmu untuk tidak meletakkan Ramenku kembali ke tempatnya!" ujarnya seraya melangkah mendekat, dan merampas bungkusan pie dalam genggaman Deidara, kasar.

Deidara tersenyum senang. "Tenang saja Adikku yang manis- (Naruto mempelototinya ketika mendengar sebutan nista Deidara yang ditujukan padanya) –aku pastikan kau tidak akan kecewa," ujarnya seraya mengangkat jempol.

Aku sudah melihat fotonya, Naruto. Sasuke itu tidak kalah tampan dari Kakaknya. Deidara membatin, sedikit mulai sinting.

Naruto mulai melangkah, tidak berniat untuk berlama-lama. Dan tepat ketika langkah Naruto berderap untuk yang kelima kali, Deidara mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

To : Itachi

Rencana kita berjalan sukses. Target sedang menuju ke tempatmu sekarang!

.

.

.

Itachi yang kini sedang duduk bosan diatas sofa ruang utama seraya memeriksa dokumen kiriman Ayahnya meyangkut cabang perusahaan Uchiha di Konoha, dibuyarkan oleh ponselnya yang berdering menandakan pesan masuk.

From : Deidara

Rencana kita berjalan sukses. Target sedang menuju ke tempatmu sekarang!

Itachi berkedip, sebelum sedetik kemudian memasang seringaian cerah.

Tok! Tok!

Pria itu menoleh cepat. Itu pasti Adik Deidara! batinnya semangat. Dia menoleh ke belakang, lalu berseru. "Sasuke, bisa kau buka pintunya? Sepertinya kita kedatangan tamu."

Sasuke yang menampakkan diri dari arah dapur melangkah malas kearah pintu utama seraya menyeruput jus tomatnya. Dia memutar handle pintu dengan wajah yang sebenarnya ogah-ogahan.

Namun, seorang yang berdiri di depannya nyaris membuat Sasuke menyemburkan jus tomat yang belum sempat dia telan.

Itachi curi-curi pandang dari tempatnya berada.

"Ah, maaf mengganggu. Aku hanya-"

Suara Naruto tenggelam pada dasar tenggorokan. Dia berkedip, sebelum kemudian memasang tampang shyok.

"Sasuke?!"

"Apa yang kau lakukan di sini, Naruto-dobe?!"

Itachi mengangkat kedua alis, takjub. Mereka sudah saling kenal?

Naruto menggeleng beberapa kali. "Tidak! Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu," dia menunjuk Sasuke tepat dihidung. "Apa yang kau lakukan disini?"

Sosok yang ditanya menatap telunjuk Naruto dengan mata menyipit, merasa terganggu. "Aku tinggal disini, Bodoh!" dia menyingkirkan tangan Naruto dengan sekali kibas. "Dan aku ingat tidak pernah memberikan alamatnya padamu," matanya menampilkan kilat mengerikan.

Seorang Uchiha lainnya yang terlupakan, berdiri dan mulai menggerakkan kepala ke berbagai arah. Berusaha mencuri lihat ekspresi Sasuke yang kiranya bisa dia jadikan kenangan indah.

Naruto membuka mulutnya lebar-lebar, merasa mendapat kejutan besar. "Ja-jadi kau…" matanya berkedip berkali-kali, kemudian beralih menatap flatnya dan kembali pada Sasuke. "Kau… KAU SI TETANGG BARU?!" suaranya melengking penuh hysteria.

Dahi Sasuke berlipat, gabungan antara bingung dan kesal. "Apa maksudmu dengan tetangga ba-" suara Sasuke tertahan, lalu dia berkedip dengan mulutnya yang terbuka kecil. "Oh…" Seriously? Apa dia bisa memaksa Itachi untuk pindah sekarang juga? Jujur, meski dia sangat ingin berterimakasih atas kebaikan Naruto yang bersedia mencarikan Uke idaman untuknya, tapi setelah melewati waktu setengah hari dengan perempuan ini, rasanya Sasuke akan sangat mustahil untuk bertahan.

Keberadaan Naruto itu sangat berbahaya bagi kesehatan jantung dan akal sehatnya.

"Kau juga tinggal di sini…" suara Sasuke kecil, nyaris terbawa sapuan angin.

Hening menyelimuti, sebelum sebuah tawa mengerikan memecah suasana.

"Nyahahaha, sepertinya kita telah ditakdirkan berjodoh, Sasuke-teme!" Naruto mendekat ke sisi Sasuke, lantas merangkul leher pemuda itu erat, nyaris membuat Sasuke tercekik. "Dengan ini, kita akan punya waktu lebih banyak mencarikan Uke manis untukmu!" cengiran Naruto terlalu lebar untuk dikatakan normal.

Sasuke berdesis, wajahnya muram terselimuti awan hitam. "Ba-ka-do-be!" umpatnya kesal.

Dan seorang Itachi yang mendengarkan percakapan mereka mulai dari nol, memasang tampang shyok dan nyaris saja menjatuhkan ponsel dalam genggamannya.

.

.

.

From : Itachi

Keluarlah! Kau harus melihat ini.

Dahi Deidara dengan otomatis membentuk lipatan. Sebelum akhirnya dia memilih mengikuti saran Itachi, kemudian berdiri tepat di depan pintu flatnya.

"Dengan ini, kita akan punya waktu lebih banyak mencarikan Uke manis untukmu!"

Deidara berkedip. Sekali. Dua kali. Dan untungnya dia masih memiliki pengendalian diri tinggi untuk tidak menjerit lebih dari sekedar di dalam hati.

APA-APAAN INI?!

.

.

.

Jika seandainya tetangga Naruto bukan Sasuke, dia pasti akan dengan sangat tidak keberatan minggat dari hadapan pintu flat si tetangga baru. Tapi karena realita menyatakan sebaliknya, Naruto malah dengan tidak sopan masuk kemudian duduk di samping Itachi yang masih berdiri mematung.

Naruto tidak tanggung-tanggung melempar senyuman pada pria itu. "Hallo, Nii-san!"

Jika seandainya Itachi tidak ingat kalau bocah sialan ini Adik Deidara, sudah dipastikan pria itu akan melemparnya keluar jendela.

"Uh, hallo?" senyuman Itachi kikuk, mendadak dia lupa etika tersenyum seorang bangsawan.

Sasuke yang bersandar malas di dekat pintu, menghela napas berat. Satu hal yang dia pelajari selama bersama Naruto setengah hari ini; dia tidak akan menang adu kekeras kepalaan dengan gadis itu. Maka percuma saja mengusirnya dari sini.

Masih dengan senyuman yang sama, suara Naruto kembali mengudara. "Perkenalkan, namaku Naruto Namikaze," sebenarnya Itachi ingin memprotes salam perkenalan gadis ini yang tidak ada sopan-sopannya, tapi apa daya, rasa shyok masih melanda pikiran dan jiwanya. "Sasuke pernah bilang jika dia punya Kakak laki-laki. Dan Anda pasti-"

"Naruto!"

Semua pasang mata menoleh. Deidara berdiri di depan pintu sana, melotot pada Naruto. Sebelum tatapannya bertabrakan dengan Itachi, dan dengan secara tidak langsung dia mengucapkan beribu-ribu kata maaf.

Aku tidak menyangka ini akan terjadi, Deidara membatin pilu. Ini pasti akan jauh lebih menyulitkan dari yang aku dan Itachi rencanakan.

Rencana awalnya untuk membuat Sasuke dan Naruto jatuh cinta pada pandangan pertama, hancur sudah.

.

.

.

Deidara memutuskan untuk kembali bertamu ke flat dua Uchiha bersaudara, khusus untuk membicarakan rencana selanjutnya yang akan dia dan Itachi susun.

Dan tepat ketika Itachi melangkah kearah dapur sekedar berniat untuk membuat minuman dan mengambil beberapa cemilan, wanita itu mengekor dibelakangnya. Peduli setan dengan tatapan aneh yang Naruto dan Sasuke lemparkan padanya.

"Aku benar-benar minta maaf," Deidara membungkukkan badan kearah Itachi yang memunggunginya. "Aku sama sekali tidak menyangka ini akan terjadi," tambahnya terdengar lemas.

Itachi menghela napas, kemudian berbalik. "Ini bukan salahmu," ujarnya tegas, lalu dia melipat dua tangannya di depan dada. "Kita harus memikirkan rencana yang lain," Itachi mengangguk membenarkan perkataannya.

Deidara menegakkan badan, lantas mengepalkan kedua tangannya. "Hm, aku setuju!" ujarnya semangat, sebelum kemudian dia melangkah mendekati lemari pendingin dan mengeluarkan dua kotak besar jus tomat dan jeruk. Itachi memang sempat berbelanja sebelum Sasuke pulang tadi.

"Aku akan membantumu menyiapkan minuman."

Itachi mengangguk seraya mencapai satu toples biscuit dari dalam lemari. "Menurutmu, apa yang sebaiknya kita rencanakan untuk membuat mereka saling jatuh cinta?"

Sosok yang diajaknya bicara sempat menoleh sesaat, sebelum kembali fokus menuangkan minuman ke dalam gelas. "Apa pun itu aku setuju saja. Bahkan aku tidak keberatan jika seandainya kita mengunci mereka dalam satu kamar," Apa Deidara cukup waras untuk sadar dengan apa yang dia ucapkan?

Itachi membeku, dia menoleh kearah Deidara dengan terlalu cepat. "Idemu itu terlalu mengerikan."

"Benarkah?" Deidara balik menatapnya seraya berkedip. "Bagiku itu malah terlalu brilliant."

"…"

"…"

Hening melanda nyaris terlalu lama, sebelum sebuah suara cempreng memasuki gendang telinga mereka.

"Bagaimana dengan dia Sasuke? Cantik bukan?"

"Apa kau yakin dia laki-laki?"

"Hahaha, tentu saja! Dia senior kita, namanya Haku. Memang tidak sedikit orang yang tertipu dengan tampang cantiknya, tapi percayalah, dia ini lelaki tulen!"

Itachi dan Deidara mengintip dari balik dinding pembatas dapur dengan ruang utama. Mereka mencengkram sisi dinding gemas saat melihat Naruto dengan gencar menampilkan foto-foto lelaki yang tidak dikenal dalam ponselnya pada Sasuke yang menatap serius.

Mereka melihat Sasuke menggeleng, sepertinya tidak terlalu tertarik. "Yang lainnya?"

Naruto menarik ponselnya, dan menggesekkan jarinya pada layar ponsel sesaat. "Ah, bagaimana dengan dia?" gadis itu kembali mendekatkan ponselnya pada Sasuke.

Dahi Sasuke berkerut serius. "Siapa?"

"Kuroko Tetsuya, Uke paling imut sejagat raya!" mata Naruto mengobarkan api semangat masa muda.

Gumaman yang diperdengarkan Sasuke menunjukkan jika pemuda itu sedang berpikir keras. "Kau yakin jika dia belum punya pacar?"

Naruto berkedip, dia mengehela napas dan menatap ponselnya kecewa. "Sebenarnya belum," tampang Sasuke menunjukkan kebingungan saat melihat ekspresi dan jawaban Naruto yang tidak sinkron. "Tapi…"

Sasuke mengangkat kedua alisnya penasaran.

"Ada seekor harimau dan dewa gunting yang tidak akan pernah melepaskan Tetsuya pada siapapun," dia mendongak, menatap Sasuke dengan tatapan lesu. "Percayalah Sasuke, jika aku mengatakan seekor harimau dan dewa gunting, maka mereka memang semenyeramkan apa yang kumaksudkan."

Sasuke diam, secara tidak sadar menahan napas. "Baiklah. Selanjutnya?"

Lalu Itachi beserta Deidara bisa melihat bagaimana Naruto dengan sangat bersemangat mencari foto lain yang akan dia tunjukkan pada Sasuke. Sementara dua orang itu hanya bisa meremat dinding kuat-kuat, menyalurkan rasa frustasi.

"Kurasa rencanamu tidak ada salahnya untuk dicoba."

Deidara mendongak, dan kemudian dia mendapati wajah tampan Itachi terpoles senyuman yang sebenarnya terlalu mengerikan.

Uh, sepertinya dia harus membujuk Itachi untuk tidak terburu-buru. Jujur saja, idenya yang tadi itu hanya bercanda.

.

.

.

Seraya memakai sepatunya, Kiba masih setia mengoceh dan jelas terdengar sangat jengkel.

"Aku benci mengatakan ini," wajah Kiba kesal entah karena apa. "Tapi jujur saja, sama sekali tidak seru jika Naruto tidak ada."

Shikamaru menatapnya dengan tampang malas. "Kau terlihat seperti hanya memiliki Naruto sebagai teman," ujarnya seraya menguap lebar. Dia lantas berdiri tegak setelah usai memakai sepatunya.

"Itu juga karena kalian sangat-sangat membosankan!" Kiba melirik tajam Shikamaru dan Gaara bergantian. "Aku ajak berduel game saja kalian bilang membuang waktu," cibirnya lagi kemudian mengupat.

Gaara memandanginya datar. "Ini sudah larut malam, pulang saja sana," ujarnya menoton yang entah kenapa terdengar seperti mengusir.

Kiba balik menatapnya dengan tampang yang tak bisa diartikan, sebelum kemudian dia menjambak rambutnya dan menjerit putus asa. Pemuda itu segera berbalik dan keluar melalui pintu yang Shikamaru buka untuknya.

"Kekanakan."

Shikamaru menoleh ketika mendengar suara datar Gaara yang khas, lantas mengangguk. "Kami pergi," ujarnya kemudian, lalu menyusul Kiba yang mendahuluinya.

Gaara mengedikkan bahu sebelum berbalik dan melangkah santai.

.

.

.

"Dasar Panda sialan!"

Shikamaru menghela napas saat lagi-lagi dia mendengar Kiba mengupat dengan suaranya yang nyaris terlalu nyaring. Sudah sekitar lima menit mereka meninggalkan rumah Gaara, hendak menuju halte bus yang memang tidak terlalu jauh dari sini.

"Sudahlah, kau juga tahu mulut Gaara itu setajam pisau yang baru diasah," Shikamaru memutar matanya bosan, menghiraukan Kiba yang melempar delikan padanya.

"Kau juga sama saja!"

Shikamaru menghela napas, lagi. Entah kenapa dia merasa emosi Kiba mudah tersulut seharian ini. "Oke, aku menyerah. Aku yang salah," dan dia juga bingung kenapa dia bisa selalu dengan mudahnya mengalah untuk Kiba. "Nah, sekarang aku akan mengantarmu pulang."

Kiba diam, mulai terlihat jinak. "Hufh, meski aku menolak, kau juga akan tetap memaksa 'kan?" tanyanya malas, sudah terbiasa dengan rutinitas Shikamaru yang selalu bersikeras untuk mengantarnya. Dan Kiba tidak pernah tahu alasan pemuda itu, juga tidak pernah berniat untuk bertanya.

Shikamaru tersenyum miring, sebelum kemudian tangan kirinya terangkat lantas menyentil pelan daun telinga si pemuda anjing.

"Hei!?" Kiba protes, matanya melotot garang. Sialan, Shikamaru selalu saja memperlakukannya seperti bocah ingusan.

Shikamaru terkekeh kecil seraya memasukkan kembali tangannya kedalam saku celana. "Yah, harus bagaimana lagi? Tampangmu terlihat menggiurkan untuk digoda," ujarnya diselingi tawa, dan dia meringis ketika Kiba menyikut pinggangnya dengan tenaga keterlaluan.

Kiba mendengus bangga, merasa menang setelah sukses membungkam tawa Shikamaru.

Dan sesuai janjinya, Shikamaru mengantar Kiba sampai rumah dengan selamat. Dia tersenyum ketika Kiba mengucapkan terimakasih padanya, dan mengangguk untuk menanggapi perkataan Kiba agar dia berhati-hati dalam perjalanan pulang. Lelaki itu tetap berdiri di depan pagar rumah keluarga Inuzuka, menatap jendela kamar Kiba yang memancarkan sinar ketika sang pemilik menyalakan lampu, dan baru melangkah pergi ketika cahaya tidak lagi memancar dari sana.

Kiba mengintip dari balik gorden jendela yang disibaknya kecil, mengekori punggung tegap Shikamaru dengan tatapannya, dan melihat lelaki itu memasuki mobil mewah yang menunggu tidak jauh dari kompleks perumahannya. Dia menghela napas, kemudian menoleh kearah ranjang.

"Sebenarnya untuk apa dia melakukan semua ini, Akamaru? Aku sama sekali tidak mengerti sampai sekarang."

Seekor anjing berbulu putih bersih yang bergelung diatas ranjang, menjawab pertanyaannya dengan sebuah gonggongan. "Guk!"

"Aku merasa diperlakukan seperti…" Kiba merebahkan dirinya diatas ranjang, menggantungkan kata-katanya ketika merasa Akamaru mendekatkan moncong pada bahunya. "Pacar. Apa pemikiranku terlalu berlebihan?"

Tidak ada jawaban dari Akamaru. Kiba yakin anjingnya tidak tertidur, hanya kebingungan untuk menjawab, sama sepertinya saat ini.

Dia menghela napas, memejamkan matanya erat. "Kuharap pemikiranku salah," suara Kiba berupa gumaman, kecil dan pelan. "Bisa saja sikap Shikamaru itu sejenis dengan apa yang biasanya Gaara perlihatkan pada Naruto. Bukan begitu, Akamaru?"

Kali ini Akamaru membalas. Suaranya menyerupai rintihan pelan.

Kiba tersenyum, samar. Dia menaikkan selimut dan menutupi seluruh tubuhnya beserta Akamaru.

Benar, sikap Shikamaru hanya berupa keprotektifan seorang sahabat, sama seperti yang ditunjukkan Gaara pada Naruto. Walaupun sebenarnya Kiba tahu jika Gaara tidak pernah menunggu Naruto selama itu, tidak pernah sekalipun.

.

TBC

.

A/N : Yuhuuu, I'm come back! Senang sekali rasanya bisa menyelesaikan ch 3 fict ini^^ Walaupun… yah, tahulah, jadwal updatenya selalu melarat #dilemparkelaut.

Na, na, karena saya tidak tahu harus menulis apa di AN ini, kita langsung saja ke sesi jawab pertanyaan, oke?

Apa ada pair ShikaKiba dalam cerita ini? : Jelas banget jawabannya 'kan? Nyahahaha #ditimpukbotol. Ehem, maksudnya… Yap, benar sekali! Saya memang gatelan pengen buat scene yaoi gitu. Ingat ya, saya nulisnya Yaoi, bukan BL #mesem-mesem. Perhatikan ratingnya, lho, kawan-kawan!

Pasangan Gaara siapa? Akankah ada NejiGaa di sini? : Sebelum itu saya ingin memberitahukan sesuatu, guys. Saya ini sebenarnya lebih suka Gaara ada di posisi dominan. Dan walaupun ada di posisi buttom, hanya Naruto yang boleh jadi Semenya! #ngibarinspandukNaruGaa. Oke, jadi jawaban dari pertanyaan ini adalah; jika saya tidak memasangkan dia dengan sosok Uke manis, yah Gaara harus siap2 jadi jones #dikubur.

Lemonnya ada gak? : Emmm, itu… hehehe. Sebenarnya rating fict ini sangat mendukung. Jadi, kita harap saja saya mood untuk buat lebih dari sekedar lime #senyumnistah.

Author tambahin satu chara cowok yang suka Naruto tapi masuk friendzone dong! : Tenang aja, saya sudah pikirkan kok!^^. Mau tahu siapa? Sorry, saya tidak bisa membocorkan rahasia perusahaan #sungkem.

Apa teman2 Naruto sama kayak Sasuke? : Maybe yes, maybe no~ #diinjek.

Yosh, sepertinya hanya segitu dulu. Untuk semua dukungannya, terimakasih sekali ya nodayo~. Oh, dan untuk para pendatang baru, saya ucapkan terimakasih juga karena telah bersedia mampir. Semoga kalian menikmati fict abal ini^^

P.S : Saya sepertinya akan mempertahankan genre romance-drama sebagai genre utama. Karena ini akan sangat saya butuhkan sewaktu rahasia beloknya SasufemNaru terkuak. Genre humor hanya sebagai selingan saja. Mungkin ini memang bawaan tulisan saya yang pada dasarnya suka melawak #pundung.

Big Thanks to :

Yuko | Arum Junnie | NaYu Namikaze Uzumaki | kaclouds1 | Guest | yuki | rose namikaze | efi(titik)astuti(titik)1 | Narutogaiden | Nara yuki | Kyutiesung | Hiori Fuyumi | d14napink | stlvyesung | uzumaki megami | Indah605 | yuki akibaru | Ayuni Yuukinojo | Ahari | Aiko Vallery | L(titik)casei shirota strain | choikim1310 | lucifer99 | Rin Naoko UchiNami | Uchiha Annie | Hany Hyuuga | Jasmine DaisynoYuki | Double BobB(titik)I

Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama…

Review?