Hello ^^ akhirnya apdet juga : CHAPTER 3! xD betewe, makasih ya yang sudah mampir, nge-fav dan follow, apalagi yang ripiu. Makasih banyak, banyak, banyakkk!
.
.
.
Colorful
By MeganeBabayan
Kuroko no Basuke milik Fujimaki-sensei!
Summary Chapter 3: Balon Akashi hanyut ke sungai dan nyangkut di hutan bambu di pinggir sungai! Akankah Akashi berhasil diselamatkan kawan-kawan Kisedai-nya? Inilah perjuangan kelima anak pelangi─Murasakibara gak ikutan, Momoi diitung :v─dan kakak sepupu dari si biru muda demi mengembalikan Akashi ke wujud semula!
Genre: humor, adventure, a little horror?, friendship, fantasy?. (maafin yahh kalo misalnya salah hehe. Saya gak pandai nentuin genre! ;-;")
Warnings: OOC, jelek, gaje, lebay, humor garing?, dll…
.
Selamat membaca! :D
.
.
.
[Akashi POV]
Aduh, aduh, aduh! Sumpahhh aku gak nyangka aku bakalan kena ramuan aneh di rumah Daiki, dan bakalan jadi balon gini! Udah mah jadi balon… tapi aneh banget! Meskipun lagi ada dalam wujud balon gini, aku tetap merasa kelaparan, ngantuk, dan puyeng gara-gara kepentok batu sana-sini. Ples dipatokin soang pula. Nasib deuh nasiiib…
Hah?! Apaan itu… yang banyak batu dan arusnya deras… RIVER RIVER RIVER! Ayo Akashi Seijuuro… BUANGLAH KERAGUANMUUU! TUNJUKKAN NYALIMU! Tapi sebagai balon… apalah dayaku yang Cuma bisa hanyut dibawa air, terbang dibawa-bawa angin dan resiko untuk nyangsang di pohon sangatlah besar.
"WUAAAA!" teriakku ketika aku mulai hanyut dibawa arus sungai. Aduh aku mau dibawa ke mana ini? Jangan sampai aku bermuara dan terdampar di lautan sampah nantinya. Mana banyak batu tajem ginih, masih untung kata Daiki aku gak bakalan meledak. Fiyuuuuh…
DUK!
Ketika kepalaku kepentok sebuah batu besar di sungai untuk kesekian kalinya, aku pun kehilangan kesadaranku…
.
[End of Akashi POV, change to Normal POV]
"Hah…" Midorima langsung mengerem langkahnya ketika melihat sungai melintang di depannya. "Sungai-nanodayo?!"
"Wah, ada sungai-ssu? Yak, tepat di depan matamu, ada sungai mengalir…" Kise malah asik nyanyi-nyanyi.
"Masalahnya, si Akashi ke mana coba? Ini jembatan runtuh, lagi… adeuh…," Aomine memijit kepalanya puyeng.
"Ada dua kemungkinan sih. Pertama, Akashi ketiup angin sampe ke seberang sana. Kedua, Akashi jatuh ke sungai dan kebawa arus ntah ke mana!" kata Mayuzumi.
"Hmmm… kira-kira yang mana yang bener nih?" tanya Momoi. Suasana hening sejenak.
"Eh, teman-teman aku melihat Akashi-kun!" teriak Kuroko tiba-tiba, semuanya langsung nengok ke arah yang Kuroko tunjuk yaitu SUNGAI. Di sana bisa terlihat balon merah alias Akashi yang sudah tak sadarkan diri.
"Wah! Dia udah jauh banget-nanodayo!" seru Midorima. "Bahh tusuk gigiku yang jadi lucky item hari ini ilang siiih… nasibku jadi sial gini!"
"Mana sih, Akashi-nya mana, Tetsu?" tanya Aomine, sedikit maju sampai di ujung jembatan yang runtuh itu. "Gak ada ah─WUAAAA!"
"Aomine-kun/Aomine/Dai-chan/Aominecchi!" mereka berlima ikutan teriak tatkala mendengar teriakan Aomine.
Aomine ternyata udah jatoh ke sungai karena kepeleset kerikil yang ada di ujung jembatan.
"Ka-kalau gitu kita juga harus lompat-ssu! Masa Cuma Aominecchi sama Akashicchi aja yang hanyut? Kan kasian mereka-ssu!" kata Kise.
"Dan kita juga harus cepet-cepet ngebatalin efek permanen ramuannya Akashi-kun sebelum lebaran!" tambah Kuroko.
"Kenapa, Tetsu-kun?" tanya Momoi bingung. Kan lebaran masih ada sekitar 3 bulan lagi? Kok dari sekarang udah nanyain aja si Kuroko nih.
"Ya iyalah! Ntar siapa yang ngasih kita THR pas lebaran-nodayo?!" giliran Midorima yang nyahut.
Beuh jadi karena itu. Gumam Momoi dalam hati sambil sweatdrop.
"Ihh tapi masa kita semua harus masuk ke sungai ini sih? Gimana kalo ini sungai ada banyak 'itu'nya…" kata Mayuzumi jijik.
"Ihh udahlah Chihiro-nii kalo gak mau mah… sana!" berikutnya, Mayuzumi juga kejebur ke sungai sambil berkata 'aaaaa' dengan nada datar dan wajah juga datar.
Momoi, Midorima dan Kise pun menyimpulkan, Kuroko itu adek sepupu yang kejam terhadap Mayuzumi.
"Ayo siapa lagi yang mau nyusul mereka bertiga? Atau mau kuceburin?" tanya Kuroko. Glup. Tiga temannya menelan ludah melihat Kuroko memancarkan aura jahat bin jahil.
"Mi-Midorin aja… gih…," Momoi nyenggol-nyenggol Midorima.
"Gak mau. Nanti gimana kalau kacamataku pecah atau rusak atau hanyut-nanodayo─!" Midorima terlambat untuk mengamankan kacamatanya karena Kuroko sudah terlebih dulu menceburkannya.
"Maafkan aku Midorima-kun. Ini semua demi THR dari Akashi-kun saat lebaran…" kemudian Kuroko juga menceburkan diri kayak orang bunuh diri di sungai. Kenapa coba gak di rawa-rawa aja. Biar lebih keren, gitu. Padahal kan gak ngaruh sama sekali. Ujung-ujungnya juga mati toh.
"Tidak! Tetsu-kuuuun~ jangan tinggalin akuuu!" teriak Momoi lebay gak rela ditinggalin Tetsu-kun-nya sendirian. Padahal kan masih ada Kise tuh, yang sibuk karokean seorang diri di pinggir sungai.
"Uwoooo… uhuhuuuuu… yeeeiii… wooooh─eeeh?! Kurokocchi, Midorimacchi, Momocchiiii! Kalian semua di mana-ssu?" teriak Kise menyadari semuanya sudah hanyut meninggalkannya.
"Apa boleh buat… sepertinya semuanya nyebur ke sini demi menyusul Akashicchi… oh benar-benar teman yang setia-ssu!" kata Kise, dia berjalan ke ujung sungai dan mengepalkan tangan, "Tapi sebelum aku terjun juga-ssu… ijinkanku berikan… senyum terakhir… ijinkanku berikann… KYAAAK!" Kise tidak sempat memberikan nyanyian terakhirnya karena dia telah jatuh diseruduk ayam.
Sejak kapan ayam bisa nyeruduk? Bisa aja sih, tapi yang penting… keempat pelangi ditambah warna pink, biru muda dan abu-abu muda itu sudah hanyut ntah ke mana… betewe ini penting gak sih?
.
"Waaah~ Mamah, lihat itu, ada pelangi di air… tapi yang merah kok wujudnya balon… sisanya manusia... gak ada warna ungunya lagih!" seorang anak kecil menunjuk Akashi, Kise, Midorima, Aomine, Kuroko, Momoi dan Mayuzumi yang hanyut di sungai dan sekarang lagi berenti. Mungkin bahan bakarnya habis atau lagi mangkal dulu, kali.
"Hah, masa ada pelangi malem-malem gini, nak…" balas si ibu sambil ikut melihat ke sungai. Kemudian ia terkejut.
"Nak! Ayo masuk nak! Cepat! Kita tidur saja…" kata ibunya, kemudian menggendong si anak masuk ke dalam rumah.
Si ibu mengira, kalau ketujuh anak itu tuh korban pembunuhan yang dibuang ke sungai… ya kan sekarang lagi banyak tuh kasus kejahatan terhadap anak. Ibu mana sih yang mau anaknya jadi korban kasus macam itu?
"Uuukh… udah malam yah… brrr dingin!" Momoi yang paling duluan sadar setelah mimpi indahnya bersama Kuroko. Eh sayang Cuma mimpi. "Ini… di mana?!"
Momoi memandang sekelilingnya, sungai penuh bebatuan, rumah-rumah yang ada di atas sepanjang sisi sungai, dan…
…hutan bambu!
"Hiiii…," Momoi bergidik ngeri melihat hutan bambu di atas sebelah kanan sungai ini. Serem banget dah… dan… kok, kayaknya ada sesuatu nyangkut di sana?
Momoi memberanikan diri mengamati sesuatu yang bulat dan merah di pohon bambu. "Are… itu kan…," Momoi sepertinya tau itu benda apaan…
Dan tiba-tiba saja si bulat merah membelalakkan matanya yang berwarna merah-kuning…
"AKASHI-KUN?!"
Akashi merasa dirinya dipanggil seseorang yang dia kenal. Tapi… ini kok tinggi amet si?! Daun… hah? Bambu?
"AH! Aku dibawa angin sampe ke sini… loh itukan Tetsuya, Daiki… Shintaro, Satsuki, sama Mayuzumi… kok kayaknya mereka kecil banget..?" Akashi ngoceh kebingungan.
Kemudian dia sadar kalau dia lagi ada diantara puluhan atau bahkan ratusan pohon bambu…
"GYAAAAK KOK GUE BISA NYANGSANG DISINI?!" teriaknya. "SIAPAPUN TOLONG AKUUU…" Akashi berteriak pasrah.
"Gak bisa, Akashi-kuuuun… ketinggiaaaan! Turun sini!" teriak Momoi, memandangi balon Akashi yang berurai air mata buaya.
"Ugh… ini di mana? Hah? Satsuki? Kenapa, ada apa?" tanya Aomine yang baru bangun. "Hiks… telur bikinan emaaak… huhuh… mimpi doaaang!" tangis Aomine sedih mengingat mimpinya dimasakin telur dadar oleh emaknya.
"Dai-chan… itu Akashi-kun nyangkut di sana! Gimana kita mengambilnya, ya?" Momoi nunjuk balon merah yang putus asa tersangkut diantara pepohonan bambu.
"OADOH! AKASHI! KOK BISA KAMU NYENGSOL DI SITU? TURUNN OIII!" teriak Aomine kaget.
"Huhuhuuuu Daiki… aku gak bisa… apa yang harus kulakukan ini… huhuhuuuu!" Akashi masih berurai air mata menangisi nasib sialnya.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan yah… selain nungguin Akashi jatuh dan kembali dihanyutin… huhh…" Aomine menghela napas.
Kemudian, Midorima juga terbangun. "Hah? Kok burem ya-nanodayo?!" tanyanya.
"Midorin/Midorima?!" Momoi dan Aomine menoleh ke Midorima yang ternyata…
"KACAMATAKU ILAAAAANG!" jerit Midorima panik. "Tidaaaak… Kacamata… dimanakah kau berada… kacamata… kacamata… suatu saat pasti ketemu…" Midorima sibuk nangis sambil nyanyi. Gak guna sih.
"Ini! Ini kacamata Midorin, kan?" teriak Momoi. Mata Midorima menyipit mencoba melihat benda yang ada ditangan Momoi.
"Oh iya! Alhamdulillah! Kacamataku ketemu-nanodayo!" Midorima bersujud-sujud sambil meluk-melukin kacamatanya. "Mwah mwah! Ay lap yu pul kacamatakuwh!" Midorima menjadi alay, mungkin terkontaminasi dari Kise.
"Akashi mana, apa sudah ketemu-nanodayo?" tanya Midorima.
"Oh, dia di sana─eh… Akashi ilang…" kata Aomine sambil nunjuk ke tempat sebelumnya si balon nyangkut.
"APA?! DIA ILANG!" mereka bertiga langsung berteriak. Waduh, harus ke mana lagi mereka nyari-nyari Akashi…
"Kampret… sekarang ada dua kemungkinan lagi-nanodayo… pertama, Akashi ilang ditiup angin dan masuk lebih dalem ke hutan bambu itu, atau si Akashi jatoh ke sungai terus hanyut lagi?" tanya Midorima.
"Gimana kita berpencar aja?" tanya Aomine.
"Ih gak mau! Ntar gimana kalo kita gak bisa ketemuan lagi?!" jerit Momoi. Bilang aja takut gak bisa ketemu Kuroko lagi. "Masalahnya kan Ki-chan, Tetsu-kun ama Mayuzumi-san belom bangun ini!"
"Udah gampang. Tamparin aja satu-satu. Kan beres." Kata Aomine, mengangkat tangan bersiap menampar pipi tembem Kise.
PLAAAK!
"Ittai-ssu, Aominecchi! Mou~ bisa gak bangunin aku pakai cara yang lebih baik…" teriak Kise kaget sambil memegangi pipinya yang sakit kena tamparan maut dari Aomine. Mematikan bangetlah. Peureus ditambah butiran daki yang bisa menyebabkan koreng. Hiyyy, Kise langsung gosok-gosok pipi pake air sungai─yang untungnya bersih.
"Sudahlah! Sekarang Tetsu bersiaplah!"
PLAAAK!
"Akkh sakit oi Aomine-kunnn!" Kuroko langsung bangun dari mimpi indahnya yaitu dikejar hantu mang-mang Martabak yang meninggal beberapa hari lalu. Indah bangetlah, orang dia mimpinya mau dikasih martabak gratis gituloh.
"Akashi sudah hanyut atau gak terbang lagi Kuroko, kita harus cepetan nyari dia. Aduh mana udah malem ini…," Midorima celingukan memandang sekeliling. Hih serem dah, udah basah dan terdampar ntah dimana, disekitar gelap gini lagi.
"Waduhhh si Akashi tuh ya. Ngerepotin aja. Padahal udah deh mending dia jadi balon aja biar gak terus-terusan sok absolut gitu." Sahut Mayuzumi. "Wahh mimpiku keren banget. Balon Akashi aku meledakin abis itu darah ama organnya mercik kemana-mana hihihi…"
"Keren ndasmu, Chihiro-nii. Yuk ah capcusss cari Akashi-kun! Semua sudah bangun kan! Ini malem loh mestinya tidur!" kata Kuroko sambil berenang lagi di sungai mendahului teman-temannya.
"Iya, memang mestinya tidur! Demi Akashi, yah… males ah bobok aja…" kemudian Aomine sudah ngorok sambil ngapung telentang di air.
Ketika mereka semua lagi asik berenang dengan bermacam gaya yang gak masuk akal (soalnya Midorima berenangnya pake gaya batu karena gak mau liat sekitarnya yang serem, dan Mayuzumi berenangnya sambil main hape rusak barang nemu) kecuali Momoi, arus sungai mendadak jadi deres banget.
"Grooook… fuuuh…" PLOP! Aomine seketika melek lagi saat dia merasa mulutnya keselek air. "Ohook ohok! Aduh kok jadi deres gini, sih… ohoks, orang lagi enak bobok juga! UOOOHOK OHOK UOOOK!"
"Aomine-kun, batuk itu gak perlu lebay." Kata Kuroko yang stay lempeng meskipun setengah badan udah kerendem air dan menyisakan kepalanya di permukaan.
"Oy Aomine, kau ini paduan suara atau batuk-nanodayo?" tanya Midorima sambil menaikkan kacamata.
"Suaramu sumbang gitu Dai-chan, gak usah dipamerin deh mendingan." Momoi ikut meledek batuknya Aomine yang kelewat alay.
"WHOY INI AKU BENERAN KESELEK AER YANG ADA KEPITINGNYA TAUK!" marah Aomine sambil ngusapin tenggorokan yang sakit kena capit kepiting.
Bohong sih, sebenernya Cuma keselek batu aja. Dianya aja yang lebay, tau-tau keselek ikan lele goreng, wuah sedappp. Author juga pengen ni udah ngiler. OKE INI GAK NYAMBUNG TOLONG ABAIKAN.
"Loh… kok kerasanya luas ya? Airnya," tanya Midorima kemudian, melihat sekelilingnya berubah jadi air. Ada pohon sih tapi keliatannya jauh banget.
"Hmmm… iya yah! Eh itu lihat, ada bidadari lagi mandi!" teriak Aomine, muezhumnya kambuh nih. "Wah bibi bidadari yang itu cantik banget! Bohay gitu lagih!"
"Preeet… bibi ndasmu toh! Aku ini Nawang Wulan! Bidadari yang turun dari kahyangan! Aku ini masih 20 tahunan loh! Enak aja aku dipanggil bibi," protes si bidadari yang cantik─kata Aomine.
"Hmmm… kalau ini airnya luas, berarti kita di danau… kalau di danaunya ada bidadari lagi mandi, berarti… wooh ini di danau Tayawening ya!" teriak Momoi tiba-tiba inget drama 7 Bidadari. Kok ini Cuma satu?
"Benar sekali! Tapi sayang, Tayawening-nya KW! Karena aku juga KW!" ujar Nawang Wulan.
Hei bukannya ini kesempatan bagus buat nanya apakah Akashi lewat sini? Kali aja ntuh bidadari punya hawk eye macam si Bakao… gumam Midorima rada ngawur dalam hatinya.
"Emmm teteh bidadari aku mau nanya, ada balon merah terbang lewat sini-nanodayo?" tanya Midorima.
"Oh! itu, iya sih tadi aku liat… tapi dia dibawa burung gagak dan masuk ke hutan tempat Jaka berburu itu!" Nawang Wulan menunjuk hutan bambu yang ngeri itu. "Coba kalian masuk ke sana saja… mungkin kalian bisa ketemu Jaka dan bertanya ke dia…," sarannya.
"HAH?! JADI… AKASHI KE SANA?! KAMFRET MASA KITA KUDU KE HUTAN GITUAN MALEM-MALEM SI?! SEBEL BANGET YAK NGEJAR BALON, KABUR DIBAWA ANGIN MULU!" teriak Mayuzumi frustasi. Udah mah hape rusaknya hanyut ntah kemana, lagi. Padahal kan mending kalau hapenya masih punya aplikasi senter gituuu…
"Tau nih, salahin aja burung gagaknya! Ngerepotin amet sih si Akashi ni…" Aomine ikut ngomel.
"Iya yah balon mana punya kaki! Coba kalo punya pasti dari tadi kita udah sampe ke dukunnya! Huhuuu!" jerit Momoi kesel. Kzl kzl kzl adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya ke Akashi sekarang.
"Serem aja kali balon punya kaki-ssu! Yuk ah kita ke hutan itu! Mana mau aku di sini nunggu pagi! Kelamaan, chuyyy…" kata Kise, "Yok ah! Buruan!" dia pun pergi menepi ke danau. Tapi kemudian berenti.
"Kise, napa berenti?" tanya Aomine heran.
"Kejauhan-ssu! capekk ah berenangnya… kira-kira kan 50 meter tuh ke ujung sono!" kata Kise sambil cemberut.
"Lah terus mau gimana?" tanya Mayuzumi.
"Iya ya bingung… gimana kalau… hhhmmm," Kuroko masang tampang lagi mikir, "Oh! mbak Nawang Wulan bisa anterin kita ke sana gak? Betewe kan mbak pastinya datang dari tepi danau juga… kok bisa sampe tengah sini."
"Oh! Itu mah tenang saja, dedek-dedek yang unyu bin manis asem-asem! Sini biar gue tendang…" Nawang Wulan menarik Kuroko supaya berada di hadapannya, dan berikutnya Kuroko mental ke tepi danau berkat tendangan maut khas seorang bidadari. (eh?)
Sedangkan si biru, hijau, merah, kuning, pink dan abu-abu muda sedang sweatdrop melihat kejadian itu.
"OOI, TETSU! KAU GAK APA-APA?!" panggil Aomine pada Kuroko yang melambai-lambaikan tangan─ntah nyerah atau lagi ngebuktiin kalau dia masih idup─sambil tangan satunya sibuk ngusapin pantat.
"IYA, AOMINE-KUN! AKU GAK PA-PA! MBAK BIDADARI TOLONG TENDANGIN SEMUANYA KE SINI DONG! MAKASI YE!"
"Hohoho~ tenang saja, tenang sajaaa… ayok sini kalian semua! Biar saya tendhang sekaligosss!"
Dan si bidadari menendang keenam anak itu semuanya sampe kesungkur di tepian danau.
"Daaah kak Bidadari~ maaf mengganggu! Makasih ya!" teriak Kuroko. Tapi Nawang Wulannya ilang gitu aja bagaikan saiton di malam hari.
Gak mungkin! Bidadari apaan dia nih?! Nendang sampe jantungku naik ke idung! Gak! Jantungku masih… oh masih ada di situ! Apa dia ini jelmaan saiton? Kerabatnya si Akashi? Gak deh… gak mungkin ada setan secantik dan sebohay itu! Gumam Aomine dalam hatinya.
"E-etto… hutannya… ini yah…?" tanya Kuroko menunjuk jalan kecil yang kanan kirinya pohon bambu semua.
"GYAAA! CHEYEM BANGEUDH-SSU!" jerit Kise lebay.
"Sudahlah! Kalian pikir ini dongeng apaan? Yang ada setannya di tengah hutan? Ini bukan hutan Aokigahara, tau!" ujar Mayuzumi. Eh aku juga takut deng, dalam hatinya berkata begitu.
"Iya, iya! Chihiro-nii sok tau ah! Gimana juga tetep aja serem." Ujar Kuroko. "Seandainya ada tukang jualan vanila shake di sana aku gak akan takut!"
"Ngarep lu Kuroko. Dah yok ah! Cari balon merah, balon merah…" Midorima duluan memasuki hutan bambu diikuti oleh kelima anak lainnya.
Sepanjang perjalanan di hutan mencari Akashi, mereka ditemenin suara ga'ang dan ngoroknya jangkrik. Atau hewan-hewan malam. Banyak burung gagak di dalem hutannya, apalagi ada onyet-onyet gitu.
"Wow! kita kayak lagi ada di antara pohon-pohon spruce! Dan, cocok untuk kemah!" Kise mulai ngoceh.
"Diem oy Kise! Jangan ngawur mulu deh, ini bukan dunia Mincraft, tau!" omel Aomine.
"Berhenti-nanodayo! Di depan kita ada genangan besar." Kata Midorima sambil berenti berjalan. Yang lain pun ikutan ngerem.
"Belok kanan aja yok," ujar Mayuzumi.
"Gak! Ke kiri aja!" bantah Momoi.
"B-b-balik lagi aja, y-yukkk…" Kuroko ketakutan. Sebenarnya, dia sudah meminum obat anti-takut sebelum memasuki hutan ini, tapi kayaknya dia kelebihan obat sampe menyebabkan ke-OOC an yang seperti ini.
"Tapi sepertinya… ini danau kecil-nanodayo! Dan aku bisa liat ada merah yang ngambang di situ…" Midorima menajamkan penglihatan,
Di tengah danau kecil itu ada bulet berwarna merah dan ngambang… di gelapnya hutan bambu di malam hari.
"Apa ya itu…" gumam Kuroko.
"Sepertinya aku tau-ssu…" tambah Kise.
"AH! Itu kannn… AKASHI!" teriak Aomine.
Semuanya langsung mangap.
"Ayo Midorima buruan ambil sebelum si Akashi nyasar lebih jauh lagi! Itu kan bakalan ngepek ke kita juga!" suruh Aomine.
"Lah kok situ nyuruh-nyuruh saya-nanodayo!" gerutu Midorima, "Bukannya aku takut, tapi aku tidak mau!"
"Sudahlah… kalian gak mau, aku saja…,"
Semua menengok ke sumber suara, yaitu Mayuzumi dengan muka madesu-nya.
Rupanya inilah superhiro kita.
Yang akan membantu untuk menyelamatkan Akashi.
Dengan begitu, mereka bisa secepatnya pergi ke dukun itu…
Dan kalau Akashi udah balik jadi manusia lagi, mereka bakalan dikasih THR pas lebaran ntar…
YEAAAY!
"Loh kenapa berenti?" tanya Momoi. Gak jadi deh semangatnya. Melihat Mayuzumi yang baru maju lima langkah tiba-tiba berhenti.
"Gak jadi ah." Katanya terus balik lagi dengan muka datarnya.
"YAH KENAPA!" teriak Aomine, Midorima, Kise, Kuroko dan Momoi barengan.
"Takut! Gimana kalo itu tuh pasir mengisap terus aku keisep terus aku gak tau di mana terus aku─"
"Chihiro-nii gak usah ngawur deh! Itu buktinya Akashi-kun sama daun-daun aja gak keisep," tunjuk Kuroko ke balon yang nyangkut diantara daun gugur. Lagian itukan air bukan pasir.
"Hahh ya udah deh. Demi THR apapun akan kulakukan…"
"Yeeeeiiii…" lima manusia warna-warni kembali bersorak ketika si madesu mulai jalan ke danau kecil untuk mengambil balon Akashi.
Sementara itu, Akashi sudah melek dari tidurnya.
"Apa?! Wujudku masih balon… rupanya aku mimpi…" gumamnya. "Huh udah bagus-bagus aku kembali jadi manusia… eh mimpi…"
Mari kita lihat gimanakah mimpi Akashi itu….
.
"Wow! inikah dukunnya?" Akashi melihat rumah yang terletak di tepi jurang. Rumahnya kecil abis itu ada tulisan nama si dukun.
Kemudian balon Akashi terbang dan masuk ke dalam rumah itu.
"Oh, korban ramuan balon permanen kah?" tanya si dukun yang pake masker ples kacamata item.
itu dukun kenapa sih, orang aku gak sakit apa-apa, juga. emangnya, efek ramuan itu nular yak? batin Akashi heran melihat si dukun sok gaya pake kacamata item. Masker pula.
"Iya, saya bisa balik jadi wujud semula gak mbah?"
"Oh bisa, bisa!" kemudian dukunnya membanjur Akashi pake minyak telon Kon*ker.
Dan Akashi pun kembali jadi manusia. Gak rame banget sih! terus dia pulang deh!
.
Ya gitu deh mimpinya Akashi tuh. Kemudian, Akashi merasa air di sekitarnya bergoyang. Dan sebuah suara yang berisiknya subhanallah.
"Akashi!" panggil Mayuzumi, "Ayok kita ke dukun! Jangan lupa jajanin kita es krim kalo berhasil balik jadi manusia!"
"Loh? Kamu tau dari mana aku ini Akashi?" tanya balon Akashi kaget. Padahal dia sudah menutupi muka pake daun. Gak sih, daunnya aja yang kebetulan nutupin mukanya. Mengingat dia gak punya tangan dalam wujud balonnya ini dan kalau gitu dia naroh daun pake apa.
"Ya taulah! Suaramu khas gitu! Baunya aja yang udah gak karuan," Mayuzumi mengangkat balon Akashi yang langsung pundung.
"Sudahlah! Yang penting kan kita harus ke dukun sebelum lebaran." Tambah Mayuzumi. Bibir Akashi tambah maju lima senti.
"Yosh! Mayuzumi-san kamu berhasil! Hore hore!" Momoi joget kayak Dora. Dilanjut dengan nyanyi, "Kita lewati sungai dan masuk ke hutan bambu… untuk mendapatkan Akashi-kun dan membawanya ke dukun! Berhasil, berhasil, horeeee~"
"Oy Aomine, mana kresek yang kamu temuin tadi? Buruan masukin dia sebelum ilang lagi!" Mayuzumi menyerahkan balon Akashi yang kemudian dibuntel dalem kresek sama Aomine.
"Wooi, Daiki! Apa yang kau lakukan heh! Keluarin, di sini pengap taook!" protes balon Akashi.
"Udah deh Akashi-kun, kau diem saja. Ntar lepas lagi, kan kamu gak bisa liat jalan soalnya lagi di dalem kresek," ujar Kuroko. "Yang bawa ini Momoi-san saja!"
"Yaaah~ Kurokocchi aku juga mau coba bawa-ssu!" rengek Kise merebut kresek berisi Akashi dari tangan Momoi.
"Kise kau kan tidak bisa tanggung jawab-nanodayo. Yang ada Akashi malah ilang ntah kemana kalau dibawanya sama kamu." Kata Midorima.
"Hueeee! Hidoi-ssu yo, Midorimacchi!" tangis Kise.
"Ayo kita lanjut perjalanan kita ke dukun, Aomine-kun." Kuroko mengabaikan Kise yang berlinang air mata kecoa yang berkilauan bagaikan nutrijel diterpa sinar rembulan kena efek kamera 370.
Kemudian mereka pun mulai mencari jalan keluar dari hutan itu. Tapi yang jadi masalahnya…
"NAH SEKARANG KITA HARUS KE MANA LAGI?!"
.
.
.
TBC!
.
Yap, bagaimana? Semakin gaje kah? Maaf ya… idenya lagi mentok sih. :'3 maafkan juga yah bila ada kesalahan di chapter ini dan yang sebelum-sebelumnya... :'3 /nangisbombay
Hmmm… betewe, ada yang bisa tebak dukunnya siapa? Cluenya, dia itu… hmm… sipit! xD
Terus makasih udah mampir ya! Buat yang ripiu, maaf aku gak bales… aku takut salah ngomong dan malah menyinggung… :')) tapi InsyaAllah kapan-kapan dibales deh. (kapan-kapan itu kapan? :v)
Jadi gimana nih kelanjutannya? Mereka bakalan ke mana lagi setelah masuk ke hutan bambu nih? Bakal nyasar lebih jauh lagi, atau justru berhasil nemuin rumahnya mbah dukun? Atau malah nemu jalan pintas ke bukit itu?
Penasaran kah? Tunggu chapter berikutnya ya… :D
