Annyeong... Gomawo yang udah baca and kasi review .
Kembali lagi dengan chapter baru, masih masuk k dalam part 3
Selamat membaca ^^
.
.
"Jimin!"
Sebuah teriakan mengagetkan Jimin. Ia yang sedari tadi hanya melamun memikirkan sesuatu melirik cepat ke arah pintu.
"Jiminie! Kau baik-baik saja?"ucap Hoseok kalut di ambang pintu.
"Hyuuungg..."rintih Jimin. Sekujur tubuhnya langsung lemas karena terlalu lega.
Hoseok menghambur memeluk Jimin. Ia mengelus lembut kepala Jimin, menepuk-nepuk pelan punggung Jimin dan mengucapkan kata-kata menenangkan.
"Kuencana, aku sudah di sini, Jiminie..."
"Hyuuung..."
"Heol."
Terdengar desahan kasar milik seseorang yang memasuki ruangan. Hoseok dan Jimin langsung melihatnya tanpa melepas pelukan.
"Kalian hanya terpisah selama dua jam, hyung. Jebal, tidak terjadi apa-apa dengan Jimin. Kalian ini seperti pasangan yang-ADUDUUU DUUU DUUUHHH! Hyung! Sakit, Hyung!"
Jungkook meringis kesakitan, berusaha melepaskan diri dari jeweran Hoseok. Tentu tak berhasil, malah berlangsung lama dan semakin kuat. Bahkan Jungkook mendapat bonus, pukulan telak di kepala belakang.
"Ya! Kau apakan Jimin-ku hah!"
"Aiiish! Jebal, hyung!"protes Jungkook mengusap-usap telinga kirinya, "aku hanya mengamankannya di sini. Mustahil aku melakukan sesuatu yang buruk padanya. Lihat, hyung,"Jungkook menunjuk meja, "bahkan aku membelikannya jjajangmyeon dan jus jeruk."
"Kau menceritakan kasus kita kan! Namjoon sudah bertemu dengan Jimin kan?!"
Jungkook langsung memalingkan wajahnya. Hoseok semakin emosi dibuatnya.
"Aish!"Hoseok memukul kepala depan Jungkook kini, "dasar!"
"Hyung!"protes Jungkook, "sakit hyung."
"Hyung, tenanglah,"Jimin menengahi dengan suara lembut, "aku tidak apa-apa, hyung. Aku hanya sedikit letih."
"Jiminie, kita pulang ya,"ujar Hoseok halus.
"Tunggu, tunggu, tunggu,"cegah Jungkook, "Hoseok-hyung, Jimin masih harus di sini. Lagipula, kenapa kau bisa ada di sini, Hyung? Siapa yang mengawasi Min Yoongi?"
"Sudah kuurus, Joshua yang menggantikanku. Hei, kau serius dengan ide gilamu itu hah?"
"Aku serius hyung."
Hoseok memberi tatapan tajam untuk Jungkook. Sedang Jungkook membalasnya tanpa takut.
"Kau sendiri ingin kasus ini cepat selesai, kan, hyung?"
"Tapi tidak dengan Jimin sebagai umpannya. Aku akan membunuhmu jika berani melibatkan Jimin."
"Hyung, dia bukan dijadikan umpan. Dia hanya akan menjadi titik kelemahan Min Yoongi. Kau sadar kan, Hyung sampai sekarang kita hanya jalan di tempat. Kehadiran Jimin sebagai Min Tae Hee akan menjadi salah satu kunci untuk menyelesaikan kasus ini."
"Aku tetap tidak akan menyetujuinya."
"Aku bersumpah, aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk Jimin, hyung."
"Tidak boleh."
"Hyung,"Jungkook merendahkan nada bicaranya, "hyung, jebal. Dengarkan aku dulu. Aku akan menjelaskan semuanya. Apa yang tidak kita harapkan tak akan terjadi. Kita pasti akan mendapatkan petunjuk besar."
"Aku akan mengusahakan cara lain."
"Hyung."
"Aku akan memikirkannya."
Sontak Hoseok dan Jungkook langsung menoleh ke arah Jimin.
Jimin yang dari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan Hoseok dan Jungkook, akhirnya bersuara dan menatap keduanya bergantian, "beri aku waktu untuk berpikir. Aku akan benar-benar mempertimbangkannya."
.
.
"Istirahatlah,"kata Hoseok dari dalam pada Jimin yang barusan keluar dari mobil, "sekarang aku akan berganti shift dengan Joshua. Jangan terlalu memikirkan perkataan Jungkook. Aku akan pulang secepatnya, kita akan ke tempat Bibi Kim besok pagi. Ingat, jangan pernah keluar sekalipun. Dan sekali lagi, jangan ambil pusing masalah Jungkook. Kau sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus ini, Jiminie."
Jimin mengangguk sambil tersenyum manis, "ne, hyung."
"Bye, Jiminie."
"Bye, hyung."
Lama Jimin mematung menatap mobil Hoseok sampai benar-benar hilang dari jangkauan matanya. Menatap langit senja yang kemerahan, ia menghirup napas panjang lalu menghembuskannya untuk merilekskan diri. Dengan ekspresi letih Jimin mulai mengambil langkah. Pertama kalinya dalam hidup Jimin ia mengalami hal yang seperti ini.
Ya, setelah pertemuannya dengan Min Yoongi dan dirinya yang dibawa ke kantor polisi untuk pertama kalinya, tadi, sesudah berbicara dengan Jimin, Jungkook membelikan Jimin makanan dan membiarkan Jimin makan siang seorang sendiri sambil diberi waktu untuk mencerna baik-baik apa-apa yang telah Jungkook katakan. Kemudian Jungkook kembali bersama Namjoon dan Seokjin, sekretaris Namjoon. Namjoon dan Seokjin hanya datang untuk sekedar menyapa Jimin lalu mereka bertiga pergi ke ruangan Namjoon. Cukup lama Jungkook di sana, karena banyak yang harus ia jelaskan dan ia diskusikan dengan Namjoon. Lalu Jungkook kembali lagi ke tempat Jimin setelah Hoseok sudah ada di sana.
Jimin membuka pintu perlahan, dengan langkah gontai ia langsung berbaring di tempat tidur. Meski Hoseok sudah memberitahunya jangan memikirkan perkataan Jungkook, tetap saja ia kepikiran. Tak pernah sekalipun kehidupan Jimin berhubungan dengan semua itu.
Dan yang paling Jimin pikirkan adalah sosok Min Yoongi. Min Yoongi. Hanya Min Yoongi yang ada di benak Jimin. Kenapa dia harus secara tak sengaja bertemu Min Yoongi. Kenapa dia harus memiliki wajah yang sangat mirip dengan adik Min Yoongi. Kenapa Hoseok-hyung-nyalah yang menyelidiki Min Yoongi. Kenapa kehidupan Min Yoongi bisa seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga Min Yoongi.
Dan kenapa Jimin merasa pada pertemuan pertamanya itu, ia tlah ditarik oleh sesuatu yang ada pada diri Min Yoongi.
.
.
"!"
Jimin terbangun dari tidurnya. Napasnya tak beraturan, keringat dingin bercucuran dari keningnya. Kesadarannya masih bercampur dengan sesuatu yang mengerikan.
Benar, Jimin habis bermimpi buruk. Dan sosok Min Yoongi menjadi pembunuh kejam dalam mimpinya itu.
"Kau mimpi buruk ya? Mimpi Min Yoongi?"
Jimin berkedip-kedip cepat. Di depan wajahnya sudah ada Jungkook yang menjongkok sambil memegang segelas air putih. Jimin segera bangkit, langsung merasakan kering dirongga mulutnya. Mimpinya tadi benar-benar menakutkan.
Jungkook duduk di sampingnya memberikan air, "kuencana?"
Jimin minum dengan sekali teguk, "un, kuencana..."ujarnya pelan.
Jungkook mengangguk-angguk kecil sedang Jimin hanya diam karna tidak ditanyai kembali. Keduanya lalu hening tanpa suara. Sepertinya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Bahkan membuat dentang jam dinding cukup terdengar. Menggema keseluruh ruangan, hilang timbul bersama suara mesin penghangat ruangan. Kosan sementara milik Hoseok dan Jungkook ini hanya terdiri dari satu ruangan dan satu kamar mandi. Memang sangat sempit untuk ditinggali berdua, tapi bagi Jungkook dan Hoseok ini sudah lebih lumayan daripada kasus pengintaian mereka sebelumnya, di mana selama hampir sebulan mereka berdua harus menghabiskan hari hanya dalam mobil.
Dan tiga hari yang lalu, kosan ini terlihat semakin sempit dengan kedatangan teman masa kecil Hoseok dari kampung, Park Jimin. Hoseok mengajak Jimin ke Seoul untuk membantunya mencarikan pekerjaan setelah dua tahun Jimin habiskan hanya dengan bantu-bantu di ladang kakek dan neneknya.
Tentu Hoseok tak berencana membiarkan Jimin tinggal lebih lama di kosan super berantakannya, (sekarang sudah sangat rapi dan bersih karna Jimin) ia hanya ingin melepas rindu selama beberapa hari, lalu akan mengantarkan Jimin ke apartemennya atau ke tempat Bibinya yang juga berada di Seoul.
Umur Hoseok dan Jimin terpaut 4 tahun. Mereka merupakan teman sepermainan sejak Jimin lahir. Rumah mereka bersebelahan dan keluarga mereka sangat dekat. Hoseok sudah menganggap Jimin seperti adiknya sendiri. Bahkan ia jauh lebih menyayangi Jimin daripada Seungkwan, adik kandung sematawayangnya. Dan Jimin juga sangat menyayangi Hoseok, karna Jimin adalah anak tunggal.
"Maaf."
"Eh?"
Jungkook memecah keheningan dengan Jimin yang secara refleks langsung merespon.
"Aku benar-benar minta maaf,"ulang Jungkook.
"Kenapa anda meminta maaf, Jungkooksshi?"
Jungkook terdiam sebentar.
"Aarrgg!"teriaknya merebahkan diri di kasur. Lengannya terangkat menutupi wajah.
Jimin menatap heran pada Jungkook yang berbaring di sampingnya.
Jungkook mendesah kasar, "maaf, saat kembali ke sini dan melihatmu tertidur, akhirnya aku sadar,"katanya, masih menutupi wajah, "benar kata Hoseok-hyung, seharusnya aku tidak melibatkanmu. Aku terlalu menggebu-gebu tadi. Sudah membiarkanmu ketakutan meski sebentar, lalu seenaknya membawamu ke kantor polisi, menyodorkan sebuah kasus pada orang biasa sepertimu, mempertemukanmu dengan Namjoon dan bahkan tanpa pikir panjang langsung memintamu untuk melakukan sesuatu. Seharian aku bersikap terlalu sepihak kepadamu, Jiminsshi. Aah! Pria macam apa aku ini."
Jimin mendengus dan tertawa kecil. Membuat Jungkook langsung melepas lengannya dan melihat ke arah pemuda berambut coklat tua di sebelahnya.
"Kenapa anda berkata seperti itu Jungkooksshi?"ujar Jimin, "rasa bersalah anda seperti ditujukan pada seorang wanita saja. Anda sendiri yang bilang meskipun aku manis tapi aku ini laki-laki kan. Tidak perlu merasa tak enak seperti itu,"sebentar Jimin tersenyum pada Jungkook, lalu menatap lurus ke depan, "aku mengerti perasaan anda. Pasti anda sudah kewalahan memikirkan ratusan cara untuk menyelesaikan kasus ini. Dan ketika dihadapkan pada suatu kemungkinan yang cukup meyakinkan, anda tentu ingin cepat-cepat memastikannya. Seperti yang aku katakan, aku akan mempertimbangkannya, itu berarti aku sama sekali tidak keberatan dengan sikap dan permintaan anda, Jungkooksshi."
Jungkook terpaku. Ia menatap lekat punggung mungil itu. Sesuatu yang luar biasa baru saja mengalir masuk ke dalam dirinya. Entah apa itu, yang jelas membuat Jungkook membisu menikmati sosok Jimin di sampingnya.
"Jungkooksshi."
"Ne?"
"Saya bersedia melakukannya."
.
.
TBC
Gamsahamnidaaaaaaa! . Buat yang udah baca sampai sini.
Mian, chapter kali ini pendek, krn mau nyocokin ama alur part nya, di next chapter udah part baru soalnya ... next chapter diusahain lebih panjang ^^
Thanks bgt buat review, saya terbantu bgt ama masukan dr semuanya ^^
Semoga Such a Liar bisa lebih baik lagi!
Once again, gamsahamnida o
