Annyeong haseo ~

Kembali bersama saya hoho

Aku ga pernah capek bilang 'GAMSAHAMNIDAAAAA' ! v untuk yang udah nyempetin baca dan kasih review. Makasih byk ^^

Chapter kali ini masuk ke part baru (lanjutan adegan terakhir chap 2), sori beberapa kali flashback, setelah part ini, alurnya bakal aku bikin majuuuu terus ke depan, buat yang haus akan YoonMin semoga dapat melepas dahaganya, tapi momennya sebentar sih, mian hehe

Selamat membaca ^^

.

.

"Ya, diduga,"ucap Jungkook menatap lurus ke depan, "bahkan sampai detik ini kami belum juga bisa membuatnya menjadi seorang tersangka."

Suasana hening. Jimin terbawa keseriusan Jungkook yang kini terdiam memikirkan sesuatu. Ia memang baru mengenal Jungkook beberapa hari ini, namun ia tahu benar Jungkook yang meskipun sedikit santai adalah seseorang yang berambisi kuat untuk dapat memecahkan kasus yang ditanganinya. Matanya yang sedari tadi melihat Jungkook kemudian beralih pada berkas-berkas yang berserakan diatas meja di depan sofa.

Min Yoongi, 21 tahun.

Ulasan pada berkas-berkas itu mulai membayang di pikiran Jimin.

Part. 4 Hari pertama penyamaran Park Jimin, 24 November 2015

"Well, kita makan siang dulu,"Jungkook berdiri dan melangkah keluar kamar, "satu hal yang harus selalu kau ingat, Jimin."

Jimin mengikutinya dan ikut duduk di meja makan.

"Ne, Jungkooksshi,"ujarnya menatap lesu potongan pizza di depannya, "jangan pedulikan orang-orang sekitar, aku harus percaya diri memanggil Min Yoongi dengan sebutan 'oppa'."

Jungkook melirik Jimin, "kau bisa melatihnya saat bersamaku,"ujarnya santai.

"Tidak akan, Jungkooksshi,"potong Jimin cepat.

Jungkook acuh, "hei, apa salahnya? Ah!"kemudian tersenyum nakal pada Jimin, "sebaiknya mulai sekarang kau juga menjadi Min Tae Hee di depanku. Haha"

"Tidak akan, Jungkooksshi."

.

.

Sambil menutup kedua mata, Jimin menghembuskan napas panjang secara perlahan. Beberapa kali ia melakukan itu dibarengi teriakan penyemangat dalam hati.

"Masih gugup?"tanya Jungkook di sebelahnya.

Jimin membuka mata, mengangguk mengiyakan,"tapi sudah lumayan, Jungkooksshi. Aku siap sekarang,"ujarnya membalas pandangan Jungkook.

"Well,"kata Jungkook,"ingat, jangan khawatir. Kami sudah memasang dua alat penyadap padamu, satu di kaos dalammu dan satu di dalam tasmu. Ada empat petugas, termasuk aku dan Hoseok serta satu orang sniper yang mengawasimu. Jika terjadi hal yang mencurigakan, sekecil apapun itu- hei, tenanglah tak akan terjadi apa-apa, kami hanya berandai-andai saja kok, aku yakin rencana ini akan berjalan lancar- kami akan langsung bergerak mengamankanmu. Nah, Jimin, tatap kedua mataku,"Jungkook memutar badannya ke arah kiri, satu kakinya naik ke kursi dan kaki lainnya menyentuh stir mobil, memposisikan tubuhnya benar-benar berhadapan dengan Jimin.

Jimin membalas serupa. Ia menatap lekat kedua mata Jungkook.

"Siapa kau sekarang?"tanya Jungkook.

"Aku Min Tae Hee,"jawab Jimin.

"Kau laki-laki atau perempuan?"

"Perempuan."

"Berapa umurmu?"

"16 tahun."

"Kepribadianmu?"

"Aku manja, sedikit cerewet, ceria, supel, mudah merajuk."

"Apa lagi?"

"Aku sangat suka es krim, aku benci Matematika, aku senang membicarakan banyak hal, kecuali tentang pelajaran dan setiap kali bersama Yoongi-oppa aku sangat memperhatikannya, sampai ke hal yang terkecil."

"Hari ini apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan ke menunggu Yoongi-oppa di depan kampusnya, mengajaknya ke cafe, lalu memintanya untuk mengantarku ke asrama."

"Well,"Jungkook tesenyum memperbaiki posisi duduk, "kurasa hari pertama ini akan berjalan lancar, Jimin,"polisi muda itu kemudian melihat jam tangannya, "nah, kurasa sebentar lagi kuliah terakhir Min Yoongi hari ini akan selesai, dia memang ada part time sore nanti, tapi, setelah apa yang terjadi, pasti dia lebih memprioritaskanmu sekarang. Ingat, semua part time yang dia ambil sudah sebulan dia lakukan dan seorang Min Tae Hee tahu benar kegiatan oppa-nya sehari-hari. Sejak kemarin kau sudah menghapal semuanya kan?"

Jimin mengangguk yakin, "aku sudah membaca semua catatanmu, Jungkooksshi. Aku sudah mengingatnya, tapi,"Jimin diam sebentar, wajahnya mulai terlihat keruh.

"Kau takut karena terlalu gugup, bisa saja kau melupakan semuanya?"tebak Jungkook.

Jimin sedikit menunduk.

"Kuencana,"Jungkook berujar dengan lebih santai, "kau tahu bagaimana Min Tae Hee, kan. Saat kau tiba-tiba blank atau tidak terlalu tahu apa yang sedang Min Yoongi bicarakan, tinggal beralih membicarakan hal lain saja."

"Ne."

"Nah, selamat menjalankan hari pertamamu, Jimin."

.

.

Jimin menilik satu persatu wajah yang akan melewatinya. Entah mengapa pandangan angin lalu-sorot acuk tak acuh dari beberapa orang kepadanya malah semakin membuat kegugupannya susah sekali untuk dihilangkan. Gugup. Gamang. Takut. Bahkan Jimin masih belum benar-benar percaya kenapa ia sudah berdiri di sini menunggu seseorang yang belum tentu dengan mudahnya menganggapnya sebagai siswi SMA bernama Min Tae Hee.

Setelah beberapa lama, akhirnya kegugupan Jimin mencapai puncaknya. Jimin tak bisa menyembunyikan debaran jantungnya, ia seakan berpijak di ujung jurang sekarang. Di kejauhan sudah mulai terlihat siluet seorang Min Yoongi.

Min Yoongi. Seorang Min Yoongi. Min Yoongi yang memenuhi kepala Jimin sejak dua hari yang lalu. Min Yoongi.

Mahasiswa Filsafat itu berjalan sendirian, pembawaannya tenang atau lebih tepatnya memiliki aura kalem yang susah didekati dan tidak ingin diganggu. Rambutnya hitam pekat, kulitnya pucat dan untuk ukuran lelaki seumurnya mungkin dia bisa dibilang cukup pendek. Tubuhnya kurus, dibalut dengan kaos hitam polos berlapis kemeja kotak berwarna biru dongker, jins hitam, converse hitam dan ransel hitam. Derap langkahnya tak begitu kuat dan terlihat pelan, khas orang pemalas. Sorot matanyapun begitu, tak bersemangat seolah tak ada yang menarik lagi dalam hidupnya.

Jimin menelan ludah. Berjuang membuang semua kecemasannya. Ia tersenyum lebar dan membatin bahwa tak ada yang perlu ia khawatirkan. Jimin menarik napas panjang.

"Yoongi-oppaaaa!"teriak Jimin melambai-lambai pada Yoongi. Sontak membuat beberapa orang di dekatnya menatapnya heran.

Tenang. Tenang. Batin Jimin. Terserah orang mau bilang apa. Yang penting fokus pada reaksi Min Yoongi.

Yoongi melihatnya. Yoongi melihat ke arah Jimin yang berlari kecil mendekatinya. Kedua matanya tak berkedip sekalipun.

"Oppa,"senyum Jimin. Kontras sekali dengan keadaan hatinya yang kacau dan tak menentu.

Yoongi menatap lekat sosok semeter darinya itu. Beberapa detik sarafnya memproses cukup lambat hingga akhirnya kedua tangannya memutuskan untuk langsung mendekap erat sosok itu.

"Tae Hee,"bisik Yoongi lembut. Namun segera melepas pelukannya, "kau tidak apa-apa ha? Ke mana kau selama ini? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Siapa yang membawamu kemarin itu ha? Kenapa kau tidak pernah menghubungiku?"tanyanya terburu pada Jimin.

Jimin tersenyum manis, "aku baik-baik saja Oppa. Hmm, aku hanya sedikit stress. Jadi, aku memutuskan untuk kabur sementara waktu. Yang kemarin itu Jungkook, teman sekelasku yang sangat menyukaiku, aku sudah menolaknya, Oppa. Tapi, kadang dia masih bersikeras mendekatiku."

Jimin lancar mengatakannya. Namun jujur, perasaannya masih belum membaik sedikitpun. Bagaimana jika Yoongi secara tiba-tiba mengisyaratkan tatapan asing untuknya. Bagaimana jika Yoongi berbalik melangkah mundur dengan ekspresi heran untuknya.

"Kenapa selama ini kau tidak menghubungiku, Tae Heeya...?"

Jimin terkejut dalam hati. Sumpah, kenapa Yoongi percaya begitu saja padanya. Jimin langsung teringat perkataan Jungkook, sepertinya benar kejiwaan Min Yoongi sedikit terganggu, sampai-sampai tak bisa membedakan Jimin dengan adiknya sendiri.

"Ah. Hapeku hilang, Oppa,"jawab Jimin, "tapi aku sudah punya yang baru, lihat, Jungkook yang membelikannya untukku. Aku memang menolak perasaannya, tapi masih boleh menerima pemberiannya kan. Hehe."

Waah. Jimin bergidik karna aktingnya sendiri. Seingatnya ia tak pernah tertawa sok manis seperti ini. Sewaktu kecil pasti pernah, tapi semenjak remaja Jimin tak pernah secara sengaja menunjukkan sisi manisnya.

Yoongi membuang napas. Tersenyum kecil. Mengusap-usap rambut Jimin hingga berantakan, "mau aku traktir apa sekarang?"

"Es krim!"

.

.

"Jadi, kau bertengkar dengan Hyorin, akhir-akhir ini pelajaranmu semakin menyebalkan, peraturan asrama yang semakin ketat lalu ada si brengsek Jungkook yang tak bosan mengekorimu dan Oppa yang terlalu sibuk part time hingga mental bocahmu itu stress dan kau menghilang seenaknya,"Yoongi melempar ekspresi datar untuk Jimin.

Jimin mempoutkan bibirnya, "aku bukan bocah, Oppa,"protesnya, "menurutku ini masalah berat, aku ingin menenangkan diri dulu, jadi aku pergi ke Busan, aku menginap di rumah teman SMP-ku selama ini."

"Apa kata pihak sekolah?"

"Mereka tidak mengeluarkanku, aku kan cukup disayang guru-guru hehe. Tapi aku dihukum berat, Oppa,"Jimin menyempatkan diri dulu menyuap sesendok besar es vanila kesukaan Tae Hee, "aku harus membersihkan seluruh kamar mandi asrama kelas 2. Heol. Belum lagi aku harus bantu-bantu di perpustakaan, gudang olahraga dan mengikuti kelas tambahan dihari libur. Sial sekali aku ini."

"Kau sial karena ulahmu sendiri, bodoh."

"Tapi tetap saja..."

"Apa akhir-akhir aku memang terlalu sibuk, Tae Heeya?"nada bicara Yoongi berubah halus kini. Ia memandang lembut ke arah Jimin, "maaf, semenjak kuliah oppa memang jarang sekali meluangkan waktu bersamamu."

Jimin terdiam sebentar. Terlepas dari dirinya yang sedang menyamar, Yoongi yang duduk di depannya-dengan wajah sendu dan rasa bersalah-membuat Jimin merasa benar-benar sedih.

"Kuencana, Oppa. Aku maklum kok. Asal jangan sampai Oppa sakit karena terlalu keras bekerja sambil kuliah. Hari ini aku sengaja meminta izin agar dapat menemui Oppa, lain kali giliran Oppa yang membolos demi menemuiku. Hehe."

Yoongi tersenyum. Ya, benar, bagi Yoongi, sosok di hadapannya adalah Min Tae Hee, adik kecilnya yang lucu, yang cerewet, yang manja namun terkadang bisa mengatakan sesuatu yang menenangkannya.

.

.

Setelah dirasa cukup lama, hati-hati Jimin memunculkan diri keluar dari gerbang. Ia bernapas lega mendapati mobil Jungkook yang mendekat dan tampak Jungkook berlari kecil mendekatinya.

"Yoongi sudah naik bis,"kata Jungkook, "kita langsung pulang sekarang."

Jimin mengangguk, mengikuti Jungkook memasuki mobil. Dan mereka berdua bertolak ke apartemen Jungkook.

"Kau sangat mengesankan Jimin,"puji Jungkook.

Jimin hanya tersenyum kecil memandang sayu deretan bangunan di tepi jalan.

"Kau natural sekali, Jimin,"puji Jungkook lagi, "kau pasti merasa aneh jika melihatku beberapa kali melongo ketika mengawasi dan mendengar pembicaraan kalian berdua. Semua diluar perkiraanku. Kau berhasil dalam menjiwai seorang Min Tae Hee."

"Atau Min Yoongi yang memang tidak peduli aku bersikap seperti apa, karena yang penting aku mirip dengan adiknya."

Jungkook melirik sebentar ke arah Jimin. Sedang Jimin tetap memandang ke luar jendela.

"Aku tak percaya Min Yoongi akan menerimaku begitu saja Jungkooksshi,"lanjut Jimin, "bahkan ia sempat bertanya kenapa pelayan kafe tersenyum geli melihatku. Tentu saja karena aku memanggilnya Oppa kan."

"Well,"Jungkook membuka seltbetnya. Mobil tlah berhenti kini. Terparkir rapi di depan apartemen Jungkook, "semua itu membuktikan bahwa salah satu kemungkinanku memang benar, Jimin. Min Yoongi memang mengalami gangguan jiwa karena trauma pasca kematian adiknya."

.

.

TBC

Gomawo, yang udah baca sampai sini ^^

Review juseoyo ^^