Annyeong ^^

Kali ini Such a Liar udah balik ke waktu awal (sambungan chap 1), nah di akhir chapter bakalan ada penjelasan mengenai kasus sejauh ini, mian lagi-lagi bikin penjelasan ribet =v=, palagi aku ga ahli bagian kriminal, maunya sih fokus ke hubungan YoonMin atau KookMin aja, tp rasanya perlu dijelasin juga kasusnya, perlu disinggung juga kan ya...

Selamat membaca .

.

.

Begitu bel apartemen dibunyikan, Jimin membuka mata. Tanpa menguap, tanpa peregangan dan tanpa menggeliat malas ia berjalan pelan menuju pintu.

Pintu dibuka. Jimin tak menyapa siapa yang datang, bahkan kepalanya menekuk tidak memandang sosok itu. Jimin berjalan lebih dulu ke dapur meneguk dua gelas air putih dan ikut duduk di meja makan.

Tamu yang sudah mengikutinya sejak pintu masuk masih secara jeli memperhatikan Jimin yang kini duduk di depannya, "Jiminie, kuencana?"tanyanya.

Jimin masih diam. Memainkan dan menatap malas gelas kosong digenggamannya.

Sedang si tamu mendesah panjang dan menatap khawatir, "Jiminnie...?"

"Geunyang..."gumam Jimin.

Sosok di hadapan Jimin memperhatikan benar wajah lesu Jimin, "kalau kau mau berhenti, aku akan memberi-."

"Jangan,"potong Jimin, "aku masih ingin melakukannya. Lagi pula kasus ini belum selesai kan, Hyung."

"Nah, lalu?"

"Kau tahu, hyung,"mulai Jimin dengan nada sendu, "sejak awal aku memang tidak begitu yakin melakukan ini. Menyamar bukanlah hal yang mudah hyung. Apalagi penyamaranku ini bisa dibilang sangat tidak biasa. Tapi aku tetap berusaha agar bisa memberikan yang terbaik. Sudah hampir sebulan berlalu. Tanpa sengaja aku sudah mulai memahami dirinya. Aku mengerti bagaimana sifat dan kelakuannya.

Sebulan memang bukan waktu yang lama, tapi kita akan mudah mengetahui watak seseorang yang bersikap layaknya keluarga. Lambat laun aku mulai menyadari sesuatu, Hyung. Sesuatu yang secara perlahan membuatku merasa tertekan. Aku,"Jimin diam tidak menyelesaikan ucapannya.

Lelaki di depan Jimin memperbaiki posisi duduknya seraya menatap lekat wajah Jimin, "Jiminie, jangan-jangan kau-?

"Aku mulai menyukainya, hyung,"Jimin membalas tatapan lekat lawan bicaranya, "aku sangat menyukainya."

Part.4 Kembali pada masa sekarang, 18 Desemser 2015

Hape Hoseok dan Jimin sama-sama berbunyi, pemberitahuan adanya panggilan masuk. Jimin bersegera memasuki kamar, sedang Hoseok meraih hape dari saku jaket hitamnya dan mengeluarkan laptop serta headset dari ranselnya.

"Oppa,"jawab Jimin dengan nada ceria, duduk ditepian ranjang setelah mengambil hape di meja lampu, "tumben oppa menelpon pagi-pagi begini?"

"Hei. Kau yang tumben absen membanjiriku dengan email penyemangat setiap paginya,"Yoongi diseberang sana berucap dengan nada canda, "kau langsung mengangkat telponku, kau sedang tidak di kelas, ya. Apa kau sakit perut karna kebanyakan makan?"

"Oppa!"

"Haha."

"Oppa sedang di mana?"

Pintu depan terbuka. Jungkook masuk dengan menenteng sebuah kantong belanjaan. Belum sempat ia memanggil Jimin untuk sarapan ataupun menyapa Hoseok yang duduk di meja makan, dirinya lalu bergerak menyembunyikan suara mendapati apa yang sedang dilakukan Hoseok dan menangkap suara Jimin yang tengah menelpon seseorang dari dalam kamar.

Dalam diam Jungkook duduk di samping Hoseok. Mengambil satu cabang headset dari telinga Hoseok dan memakainya.

"Oppa sedang di rumah sekarang.". Begitu suara yang didengar Jungkook. Ia lalu melihat layar laptop yang menampilkan hasil ketikan jemari Hoseok.

Di mana posisi Min Yoongi sekarang? email dari Hoseok untuk Joshua, partnernya dalam mengawasi setiap pergerakan Min Yoongi yang menggantikan posisi Jungkook.

Masih di dalam rumah Hyung. Dari Hyung pergi sampai sekarang dia belum keluar sekalipun. balasan dari Joshua.

"Kau sendiri di mana sekarang? Asrama? Atau di ruang kesehatan?"

"Aku sedang tiduran di ruang kesehatan hehe."

"Dari suaramu, aku yakin kau baik-baik saja. Membolos seperti biasanya hm?"

"Matematika sangat menyebalkan oppa."

"Hei. Sudah kubilang kau harus rajin belajar kan."

"Ya. ya. ya."

"Tae Heeya..."

"Ya oppa?"

"Ani. Sudah dulu ya. Aku ingin istirahat total hari ini."

"Ne, oppa."

"Bye."

"Bye."

"Ah! Oppa!

"Ne?"

"Saranghe ..."

"Nado."

Jungkook melepaskan headset, cabang sebelah kiri itu kemudian diambil alih lagi oleh Hoseok. Lelaki berambut hitam pekat itu berdiri, melangkah memasuki kamar, "aku membeli sesuatu. Makanlah,"ujarnya memandang Jimin.

"Aku belum lapar, Jungkooksshi. Silahkan anda makan duluan,"jawab Jimin pelan tanpa melihat Jungkook. Karena matanya masih terpaut pada hape di genggamannya.

Jungkook lalu duduk di samping Jimin, "kuencana?"tanyanya tetap memandang Jimin.

"Un. Tadi malam aku sudah makan terlalu banyak, Jungkooksshi. Bahkan sisa yang aku bawa, hampir semuanya aku yang habiskan, kan,"Jimin tersenyum lembut, berusaha menampilkan aura seseorang yang baik-baik saja.

Jungkook malah terdiam cukup lama. Senyum Jimin yang terlihat ringkih berhasil melemahkannya. Tautan jemarinya semakin erat, menahan diri agar tidak memeluk sembarangan pemuda manis yang menjadi tanggung jawabnya dalam misi kali ini.

Seminggu terakhir ini semua hal mengenai Jimin cukup menyita perhatian Jungkook. Perhatian yang bukan berhubungan dengan pekerjaan tentunya. Jauh lebih kuat dari itu. Semula biasa saja, namun terlepas dari kebersamaan mereka yang terkadang nyaris 24 jam sehari, sifat Jimin, pembawaan Jimin, visual Jimin, semuanya, perlahan masuk menelusuri perasaan Jungkook.

Sebenarnya seorang Jimin sudah tak asing lagi bagi Jungkook. Beberapa minggu sebelum mereka bertemu, Hoseok sudah terlalu sering membicarakan teman masa kecilnya itu. Maka pertemuan pertamanya dengan Jimin malah seperti pertemuan yang kesekian kalinya bagi Jungkook. Membuat Jungkook merasa cukup mengenal Jimin dan tidak perlu terlalu sungkan pada pemuda manis ini.

Jimin ramah, baik, polos dan sangat perhatian pada sekitarnya. Pribadinya hangat dan sangat penyayang. Persis seperti yang selalu dibanggakan Hoseok. Tinggal bersama dengan Jimin membuat Jungkook merasa yakin perkataan Hoseok selama ini belum ada apa-apanya dibanding interaksi langsung dirinya dengan seorang Jimin.

"Jungkooksshi?"

"Eh?"

"Maaf, apa kali ini aku kurang mengorek informasi dari Min Yoongi?"

"Eh? Ani. Apa yang kau lakukan sudah sangat bagus."

"Kure? Barusan anda memikirkan sesuatu kan, Jungkooksshi."

"Ne. Tapi tidak berhubungan dengan kasus. Kau bisa membedakan saat aku memikirkan kasus atau tidak, kan. Seharusnya aku yang bertanya, apa kau merasa kami terlalu menuntut? Sungguh, jangan merasa tertekan saat kau sudah sangat membantu kami. "

Jimin kembali tersenyum, terlihat lebih tulus dari sebelumnya, "Ani, kalian sangat baik. Gowamo, Jungkooksshi."

Jungkook ikut tersenyum, menepuk lembut punggung Jimin, "kalau begitu kau istirahat saja sekarang. Semalaman kau tidak bisa tidur, kan,"ucapnya halus.

"Eh? Anda tahu kalau,"

"Well, aku cukup tahu, Jimin. Istirahatlah."

Jimin mengangguk pelan sedang Jungkook bergerak keluar dan menutup pintu kamar.

.

.

"Sumpah! Aku harus menuntaskan semua ini secepatnya,"celetuk Hoseok entah ditujukan untuk siapa, karna kedua mata dan telinganya masing-masing masih terfokus pada layar laptop dan mp3 hape yang berisi puluhan rekaman. Wajahnya serius sekali, kadang menatap tajam kadang terlihat geram akan sesuatu.

"Hyung,"timpal Jungkook dari arah dapur, "semuanya juga ingin begitu, hyung."

"Kure. Tapi kali ini aku akan benar-benar melakukan apapun. Aku tak akan tidur, aku tak akan memikirkan apapun kecuali Min Yoongi. Aku tak ingin melihat Jimin-ku lebih menderita lagi."

"Benar, hyung."

"Waaah. Ternyata kau cukup peka juga ya. Aku pikir kau akan cuek ketika menyukai seseorang."

"Aku suka seseorang, hyung?"

"Ne."

Jungkook mematung sebentar, lalu bergegas duduk di kursi seberang Hoseok, "kelihatan jelas ya hyung?"tanya Jungkook bernada selidik.

"Ne. Sangat jelas sekali kau menyukai seorang Park Jimin, Jeon Jungkook. Dan jangan harap aku akan memberi restu."

"Hha?"

"Aku hyungnya, Jiminku yang manis tak akan aku serahkan pada seorang Jeon Jungkook."

"Aiish, hyung. Semuanya tergantung Jimin. Jangan mengekang Jimin seperti itu. Kau menyayangi Jimin kan, Hyung."

"Wah, wah,"Hoseok melirik sebentar pada Jungkook, "yakin sekali kau bisa merebut hati seorang bidadari,"ujarnya remeh.

"Seorang Min Yoongi saja bisa, masa aku tidak bisa."

"Jimin hanya 'mulai menyukai'nya, belum benar-benar menyukainya."

"Aku akan berusaha, hyung."

"Bbuh."

"Hyung."

"Mwo?"

"Aku serius."

Hoseok berhenti. Membuka headset dan akhirnya memfokuskan diri untuk lawan bicaranya. Menghargai Jungkook, karna sepertinya ia tahu benar apa yang akan dikatakan Jungkook.

"Aku bersungguh-sungguh, hyung,"ujar Jungkook dengan sorotan tajam dikedua matanya, "aku akan membuat Jimin melupakan Min Yoongi."

.

.

Jungkook diam, berharap Hoseok membalas perkataannya walau cuman sekedar sindiran atau apa. Tapi, Hoseok malah kembali dengan dunianya sendiri, laptop dan mp3 hape. Suasana hening untuk beberapa lama.

"Ee, kau tidak ingin mengatakan sesuatu, hyung? Barusan kata-kataku cukup keren kan."

"Keren apanya. Mereka berdua berkirim email setiap sebentar, setiap hari tak pernah absen menelpon dan asal kau tahu, sekalinya Jimin mulai menyukai seseorang, dia terlalu baik dan polos untuk melupakannya. Apalagi ka-"

"Jimin pernah menyukai seseorang Hyung?"kaget Jungkook.

"Kau pikir dia tidak punya hati apa! Ya, pernahlah."

"Siapa Hyung?"

"Bukan urusanmu."

"Hyuuung..."

Bel berbunyi.

Jungkook melirik jam tangannya, "pasti Seungyoon-hyung,"gumamnya mendekati pintu.

"Pagi, Jungkook, Hoseok,"sapa Seungyoon begitu masuk ,"kita langsung saja,"ujarnya langsung duduk di samping Hoseok.

"Mengenai pemeriksaan limbah rumah tangga yang kau minta Jungkook, sudah terlalu terlambat jadi kami tidak bisa memberikan hasil apapun,"lanjut Seungyoon setelah memberikan lembaran yang sama, masing-masing untuk Jungkook dan Hoseok, "sama halnya dengan pencarian di sungai, danau dan hutan sekitar, kami tidak menemukan apapun."

"Benar-benar,"timpal Jungkook, "padahal kita sudah memperluas radius pencarian, tapi tetap saja tidak menemukan apa-apa. Apa berkas ini berisi semua yang sejauh ini sudah kita dapatkan, Hyung?"lekaki paling kecil diantara mereka bertiga itu menunjuk lembaran di atas meja, Hoseok membacanya, tapi sepertinya Jungkook lebih senang mendiskusikannya daripada harus memanjakan mata pada yang namanya bacaan.

"Ne,"angguk Seungyoon, "kau menyuruhku untuk merunut semuanya satu-satu kan. Ditambah dengan catatan darimu dan laporan terbaru tim Hoseok kemarin, aku baru menyelesaikan ini tadi malam. Setelah memberikannya pada Seokjin aku langsung ke sini."

"Lanjutkan, Hyung,"pinta Jungkook. Bergerak menuju sofa lalu berbaring di sana sambil menutup mata dan menyilangkan kedua tangan di dada dengan pendengaran yang masih setia untuk Seungyoon tentunya.

"Pertama kita akan membahas kronologinya,"mulai Seungyoon, "24 Oktober, Min Tae Hee izin meninggalkan asrama selama dua hari. 25 Oktober, pagi, petugas kebersihan masih bertemu Min Tae Hee, malam, panggilan terakhir dari Min Tae Hee. 26 Oktober, Min Yoongi masuk kuliah seperti biasa. 28 Oktober, kunjungan Wali Kelas dan Ibu Asrama Min Tae Hee ke rumah keluarga Min. 2 November, laporan dari pihak sekolah. 3-6 November, pencarian Min Tae Hee dan Min YonHwa olehku dan Jungkook. 9 November, dimulai penyelidikan secara resmi, pembentukan tim oleh Namjoon. 12-25 November, penggeledahan rumah keluarga Min. 12 November, Min Yoongi dibawa ke kantor polisi sebagai saksi. 13 November hingga sekarang, pengawasan terhadap Min Yoongi. 22 November, pertemuan pertama Min Yoongi dan Park Jimin. 23 November, reshuffle penugasan tim. 24 November, hari pertama penyamaran Park Jimin sebagai Min Tae Hee. 25 November, rumah keluarga Min dikembalikan kepada Min Yoongi. 6-16 Desember, perluasan radius pencarian,"Seungyoon menatap sebentar Hoseok di sampingnya dan Jungkook yang berbaring di sofa.

Hoseok tetap diam dan Jungkook mengisyaratkan dengan tangan agar Seungyoon tetap melanjutkan.

"Sekarang mengani poin-poin penting dan petunjuk-petunjuk yang ada. Petunjuk pertama-"

"Sebentar, Hyung,"potong Jungkook, "dari tanggal 25 November saja."

Seungyoon mengiyakan lalu membalik beberapa halaman, "karena Min Yonhwa datang ke tempat judi secara tidak menentu, kita baru dapat memastikan dia menghilang berdasarkan pengawasan kita selama ini terhadap Min Yoongi. Kami sudah menyelidiki keluarga besar Min Yonhwa dan Min Yona, tak ada satupun dari mereka yang tinggal di Seoul. Min Yonhwa anak tunggal, orangtuanya telah meninggal dan dia tidak memiliki keluarga lain. Sedangkan Min Yona, keluarga besarnya tinggal di Jaeju dan mengaku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan keluarga Min semenjak Min Yona meninggal. Pembunuhan berdarah yang kau perkirakan juga belum dapat dipastikan, Jungkook. Seperti kataku tadi, pemeriksaan limbah buangan sudah sangat terlambat. Tapi, pemakaian air di rumah keluarga Min meningkat tajam pada tanggal 11 Oktober."

"Guna membersihkan TKP,"celetuk Jungkook.

"Tak ada yang mencurigakan dari pergerakan Min Yoongi selama ini,"lanjut Seungyoon, "hasil dari penyamaran Park Jimin sejauh ini hanyalah membenarkan bahwa Min Yoongi memang memiliki gangguan jiwa. Pembicaraan mereka berdua juga mengarah pada sosok Ayah yang sedang baik-baik saja dan terkadang masih pulang ke rumah. Min Yoongi berbohong dan secara tidak langsung membuktikan bahwa Min Yonhwa dan Min Tae Hee meninggal bukan menghilang."

"Benar, dia cukup waras untuk hal lain selain yang berhungan dengan ayah dan adiknya,"sela Jungkook, "agh! Saat dia dibawa ke kantor, riwayat panggilan, sms dan email Min Yoongi bersih, tak ada yang mencurigakan. Dan sejak Jimin menyamarpun, setelah dia memeriksa hape Min Yoongi, tak ada petunjuk apapun."

"Urusan email dan nomor telpon bisa kita sadap kan. Dan setelah hampir sebulan, yang kita lihat hanyalah roman seorang oppa yang sangat menyayangi adik perempuannya,"Hoseok bersuara kini, "ya, Jungkook, apa Jimin masih perlu menyamar hha?"

Jungkook yang sedari tadi seperti orang tertidur, membuka mata dan masih tetap berbaring memandang serius ke arah Hoseok, "roman apanya, hyung? Andil penyamaran Jimin cukup besar kan. Setidaknya kita bisa membaca psikis Min Yoongi dan bagaimana pola pikir seorang Min Yoongi. Dari hubungan merekapun kita jadi tahu banyak hal kan. Spontanitas prilaku dan ucapan Min Yoongi juga kita dapatkan dari sana kan, Hyung. Kita tidak akan tahu sejauh itu jika kita menyelidiki Min Yoongi yang seorang diri. Kemajuan yang cukup besar kan. Lagipula,"Jungkook berhenti dengan senyuman lebar yang tiba-tiba melekat di wajahnya, "kita jadi bisa melihat sisi manis Jimin kan, hyung. Hehe."

Sekotak susu berhasil mendarat dikening Jungkook.

"Aw! Becanda, Hyung."

"Heol! Kau serius berpikiran seperti itu kan."

"Becanda, Hyung. Mana mungkin aku rela melihat Jimin bersikap seperti itu di depan Min Yoongi lebih lama lagi. "

"Heol. Kau menikmatinya kan."

"Untuk yang satu itu benar, Hyung. Aku menikmatinya, tapi tak ingin-Hop! Berhasil aku tangkap, hyuuuung."

Dua telur rebus yang dilempar Hoseok mendarat mulus di tangan kanan dan kiri Jungkook. Hoseok hanya mendecak dan memilih untuk membaca kembali berkas-berkas daripada meladeni Jungkook. Sebelum akhirnya berlalih ke layar laptop karena adanya pemberitahuan email masuk.

Tae Heeya, tanggal 26 besok asrama meliburkanmu, kan. Tidak apa-apa telat sehari, kan. Kita akan merayakan natal di rumah, jangan lupa membawa pr-mu.

.

.

TBC

Gamsahamnida ~

Nomu, nomu gomawo yang udah baca sampai sini .

Silahkan direview juseyeo ^^