Annyeonggg ...

Kembali lagi bersama saya ~ chapter kali ini edisi spesial Jimin's POV ... di chapter sebelumnya langsung dicritain aja kan Jimin suka sama Yoongi, nah mungkin melalui Jimin's POV ini bisa diliatin gmn Jimin ke Yoongi ...

Selamat membaca ^.^

.

.

"Jimin."

"Ne?"

Aku segera menoleh pada Jungkook yang baru saja mematikan mesin mobil. Ia membuka seltbet dan memandangku sayu, "ini terakhir kalinya aku bertanya,"ujarnya lebih halus dari biasanya, "apa kau yakin akan merayakan natal berdua saja di rumah Min Yoongi?"

Part. 5 Merry (Late) Christmast 26 Desember 2015

Aku memilih diam sebentar, mencoba memahami sikap Jungkook yang seperti ini sejak kemarin-kemarin. Ya, dia sudah puluhan kali menanyaiku tentang itu. Seharusnya Jungkook terlihat bersemangat, karena akhirnya aku bisa masuk dan menyelidiki rumah Min Yoongi pasca dikembalikan kepadanya, yang tentunya dapat memberi petunjuk baru dalam kasus ini. Tapi malah sebaliknya, Jungkook sama sekali tak menunjukkan sebuah antusiasisme. Dan entah mengapa akhir-akhir ini sikapnya kepadaku seperti Hoseok-hyung, sangat perhatian, mudah khawatir dan memperlakukanku jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

"Aku akan baik-baik saja, Jungkooksshi,"senyumku untuk Jungkook. Karena aku memang sangat yakin bahwa tak akan terjadi apa-apa antara aku dan Min Yoongi.

Terlihat Jungkook membuang napas dan mengiyakan perkataanku. Lalu aku membuka pintu mobil dan bergerak untuk pergi, "baiklah, Junkooksshi, aku per-"

Jungkook menarik tanganku. Setengah badanku kembali masuk ke dalam mobil.

"Jungk-"aku menelan ludah. Sorot mata Jungkook tajam sekali, ia menggenggam erat pergelangan tanganku. Wajahnya mendekat dan ekspresinya itu, aku tak begitu mengerti, tapi seolah berkata bahwa aku tak boleh bergerak sedikitpun. Membuatku hanya bisa menunggu dalam diam.

Untuk kedua kalinya Jungkook membuang napas, terdengar lebih kasar dan lebih berat. Matanya lalu ditutup sedang kedua alisnya menyatu. Jungkook?

"Haaah,"Jungkook akhirnya melepas tanganku dan beralih memegang stir, "maaf, kau boleh pergi sekarang,"ujarnya menatap lurus ke depan.

"Eh? A, kure,"anggukku canggung, tidak mengerti benar maksud perlakuan Jungkook barusan, "aku pergi, Jungkooksshi."

.

.

Aku menatap terus pada pintu gedung dua lantai itu. Puluhan remaja berseragam SMA dan SMP sudah mulai banyak yang keluar, namun Min Yoongi belum muncul juga dari sana. Sepertinya ia tertahan oleh permintaan salah satu atau beberapa murid yang ingin bertanya kembali mengenai pelajaran.

Ugh. Dingin sekali, aku menggosok-gosok telapak tanganku yang sudah terbungkus sarung tangan tebal. Kakiku berjalan di tempat, sandaranku pada pohon kulepas guna membungkuk menahan dingin.

"Kau itu memang tak tahan udara dingin, ya,"Yoongi akhirnya muncul di depanku mengalungkan sebuah syal di leherku, "hei, kau seperti ninja Min Tae Hee,"senyumnya mendekatkan wajah dengan tatapan yang berusaha menarik fokus pandanganku. Aku senang setiap kali dia seperti ini. Mempersempit jarak dan menatapku tepat ke kedua bola mataku. Dan senyumnya, aku suka saat dia tersenyum karenaku.

"Hehe,"aku hanya bisa tertawa manis. Dengan topi rajut yang sedikit kebesaran dan dua syal yang menumpuk di bahu, wajahku memang nyaris tak terlihat kini. Aku kemudian merangkul lengan Min Yoongi, Min Tae Hee selalu seperti ini, dan kami mulai berjalan menyusuri trotoar kota.

"Mantel dan sepatumu bagus sekali, Tae Heeya."

Aku melirik senyuman Min Yoongi. Lalu ikut tersenyum, "seseorang yang selama ini jahat kepadaku tiba-tiba berbaik hati, Oppa."

"Siapa yang jahat ha?"

"Hehe. Apa kita langsung pulang, Oppa?"

"Memangnya kau mau ke mana?"

"Eopso. Oppa sendiri? Mau ke suatu tempat dulu?"

"A. Kure. Kita ke supermarket dulu, ya. Aku belum menyiapkan apapun, aku hanya sempat membeli pohon natal. Kau mau masak apa?"

"Daging! Yang banyak!"

Min Yoongi menjentil keningku pelan, "jangan yang mahal-mahal bodoh. Lagipula sejak kapan kau bisa mengolah daging ha?"

"Aku sudah bisa kok, Oppa. Kadang aku membantu tukang masak di asrama lho, Oppa."

"Hooo. Apa kita memesan makanan china saja, ya?"

"Begitu juga tidak apa-apa, eh Oppa."

"Hm?"

"Apa kita berdua saja, Oppa? Apa Ayah tidak pulang malam ini?"

Pagutanku merasa ditarik. Selangkah di belakang Min Yoongi mematung dengan wajah bingung, "ayah...?"gumamnya pelan.

Aku langsung menguatkan diri. Berjuang agar air mata tak lolos dari kedua mataku. Tenggorokanku tercekat. Aku menggigit bibir, berusaha agar tetap menjadi seorang Min Tae Hee. Min Yoongi di sampingku tampak linglung, ekspresinya menunjukkan ia tengah berpikir keras mencerna pertanyaanku barusan. Bukannya ia tidak bisa menjawab ataupun tahu jawabannya dan tak ingin mengatakannya padaku, Min Yoongi hanya tidak mengerti, hanya terlalu heran mengapa ia tiba-tiba tidak tahu apa yang dipikirannya sendiri.

Beberapa hari terakhir kondisi Min Yoongi sepertinya memburuk. Jika semula ketika kami membicarakan Min Yonhwa dia hanya bersikap acuh dan menjawab dengan jawaban dingin, namun selanjutnya ia mulai terlihat blank dan bingung harus berkata apa. Bukan berniat menyembunyikan sesuatu tapi lebih kepada seseorang yang sama sekali tidak paham apa yang ada di dalam benaknya dan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Tentu aku merasa bersalah, bahkan aku terpuruk dan membenci perkataanku sendiri. Tapi ini memang tugasku. Meski aku merasa tertekan karena tidak bisa menenangkannya sebagai Park Jimin, aku berjuang keras untuk tidak bersikap egois.

"Oppa! Lihat!"teriakku menunjuk asal salah satu toko.

Min Yoongi tersadar, "eh? Ne?"gagapnya mencoba fokus kepadaku.

"Ani! Hehe."

.

.

"Sudah lama sekali sejak kau terakhir pulang, kan."

"Un."

Min Yoongi memutar kunci, diikuti olehku akhirnya kami masuk ke dalam rumah setelah satu jam berjalan kaki dan menghabiskan waktu di supermarket.

Sepatu dibuka, lampisan baju terluar dilepaskan dan menyeret langkah dalam gelap, Min Yoongi menghidupkan semua lampu sedangkan aku sudah berada di dapur. Aku masih ingat ciri-ciri rumah ini, tata ruangnya, perabotannya, seluruh isi kamar Min Tae Hee, semuanya, sudah aku pelajari sehari sebelum penyamaranku dimulai. Setelah menaruh belanjaan barulah aku mengekor Min Yoongi, meletakkan mantel dan syal di sofa ruang tengah lalu ikut duduk di lantai mengamati pohon natal berukuran mini yang masih polos.

"Aku akan menghias pohon natal, kau memasak sana."

Aku belum ingin membalas ucapan Min Yoongi. Mataku sibuk memperhatikan setiap sudut tubuhnya, "kau tambah kurus, oppa..."ujarku prihatin. Tulus dari hatiku sendiri, bukan sekedar menjiwai Min Tae Hee.

"Benarkah?"Min Yoongi tampak tak peduli, ia mulai membuka kotak kardus berisi hiasan pohon natal.

"Iya, oppa kurus sekali, padahal setiap hari aku sudah mengingatkanmu untuk makan yang banyak dan teratur,"sekilas aku melempar tatapan ke arah dapur, "oppa hanya makan makanan cepat saji..."

Min Yoongi mulai memasang satu persatu hiasan pada pohon natal. Aku mengambil beberapa dari dalam kardus dan mulai membantu, "oppa juga sering minum, ya?"

"Aku sudah cukup umur Tae Heeya."

"Tapi tidak bagus juga terlalu sering, kan Oppa. Di dapur banyak sekali bekas botol dan kaleng minuman keras."

"Daripada itu, kenapa di supermarket orang-orang menatap aneh ke arah kita berdua?"

Untuk sesaat tanganku berhenti, lonceng merah tak jadi aku gantungkan karena tanganku perlahan turun dipangku kedua kaki. Aku menunduk. Tuhan, kuatkan diriku agar tidak menangis.

"Apa salah satu di antara mereka ada yang mengenalmu?"

Lagi. Entah untuk keberapa kalinya pertanyaan serupa ia ajukan kepadaku. Selalu. Selalu menanyakan hal yang sama setiap kami bertemu.

"Oppa salah lihat dan salah dengar mungkin."

Haah. Pasti Jungkook kecewa sekarang. Ucapanku barusan terdengar bergetar karena menahan tangis. Tidak seperti Min Tae Hee saja. Sungguh, aku sudah tak kuat lagi untuk membahas ini.

"Hei, tak ada yang kau sembunyikan kan? Tatapan mereka seperti mengejek saja. Apa aku terlalu tampan untuk menjadi oppa-mu. Haha."

"Atau aku yang terlalu cantik, haha. Mereka hanya iri dengan kemesraan kita saja Oppa."

Kenapa mulutku malah diam. Kenapa kalimat itu hanya sampai ditenggorokanku saja. Kenapa bibirku mulai gemetar sekarang. Tertawa Jimin, Tae Hee akan tertawa jika Oppanya sedang becanda seperti ini. Tertawa, aku mohon.

"Kasir supermarket juga tertawa geli melihatmu. Aku tidak tahu, apa mungkin wajahmu itu mirip dengan seorang pelawak terkenal. Haha."

Jimin, tertawa. Balas ucapan Min Yoongi. Atau merajuk seperti biasanya. Jangan diam dan menunduk saja. Katakan sesuatu. Aku mohon. Bodoh! Kenapa air mataku mulai berlinang sekarang. Kau bodoh Jimin. Jangan sampai kau menangis.

Bel berbunyi.

Sontak aku mendongak. Dan seperti Min Yoongi menatap heran ke arah pintu.

Lagi. Bel berbunyi.

"Siapa yang datang malam-malam begini hha?"Min Yoongi bangkit dan bergerak malas menuju pintu.

Siapa? Siapa yang datang? Siapa yang datang ke rumah Min Yoongi malam-malam begini?

.

.

TBC

Gomawo, yang udah baca sampai sini ^^

Mian, agak pendek, biar nge gantung gitu hehe

Siapa? Siapa yang datang?

Review juseyooooooo