Annyeong ^^
Gamsahamnida! Buat yang baca dan kasih review ^^ Love You! (virtual hug ... sending ... hehe)
Kali ini masih masuk dalam part. 5, jadi masih Jimin's POV. Ketebak kan siapa yang datang hehe, siapa lagi kalo bukan si ksatria berkuda- bermobil hitam ...
Karena udah puas membahas kasus, mari kita break sejenak, membayangkan Jimin ditengah-tengah Dua Seme-nya. Hoho. Tapi sayang sih, Jiminnya lagi jadi Min Tae Hee soalnya...
Selamat membaca ^^
.
.
Terdengar perdebatan di pintu depan. Suara Min Yoongi mulai bernada marah sedang suara yang lain, tunggu, sepertinya aku mengenal suara ini.
Aku bergegas menuju pintu. Tak mungkin-
Jungkooksshi! pekikku dalam hati.
"Malam, Tae Hee."
Dari balik tubuh Min Yoongi kudapati sosok Jungkook yang sedang berdiri di luar pintu. Dengan buket bunga dan sekotak kue tart ia tersenyum menyapaku- menyapa penyamaran diriku. Langkahku kagok mendekati mereka berdua. Untuk apa dia ke sini?
"Dia si brengsek Jungkook itu ya?"tanya Min Yoongi ketus.
"Eh? Ah! Iya, Oppa."
"Katanya kau mengundangnya ke sini?"
"Eh?"
Sekilas aku melirik Jungkook lalu berpikir cepat dalam sepersekian detik, "eee, benar Oppa,"aku bergerak menghampiri Jungkook, mengarahkannya untuk masuk.
Dua tanganku bergerak-gerak di depan dada mencoba menyusun kata, "maaf, Oppa. Aku lupa memberitahumu. Aku pikir semakin banyak orang akan semakin seru. Aku sudah mengajak Hyorin dan Boram, tapi ternyata mereka tidak bisa datang. Dan,"sekilas aku melirik Jungkook lagi, "karena akhir-akhir ini aku sudah banyak merepotkan Jungkook. Ee..., jadi, aku juga mengundangnya, Oppa."
Ugh. Senyumku pasti kacau sekali. Jemariku saling meremas dibelakang pungggung. Wajahku penuh harap agar Min Yoongi menerima alasanku.
"Terserah kau sajalah,"tandas Min Yoongi berbalik dan kembali ke ruang tengah.
Haah.
"Permisi,"bungkuk Jungkook sopan membuka sepatu.
"Kenapa anda tidak memberitahuku, Jungkooksshi?"protesku berusaha berbisik sepelan mungkin.
"Maaf, aku sendiri juga tidak mengerti. Aku sama sekali tidak merencanakan ini."
Aku melempar tatapan heran. Kemudian mulai menjaga ekspresi karena kami sudah berada di dapur untuk mempersiapkan kue tart yang Jungkook bawa. Sedangkan Min Yoongi kembali menghias pohon natal dengan tatapannya yang tak pernah lepas dari kami berdua.
"Tepat ketika aku mendengar suara mirismu itu, tiba-tiba saja tubuhku sudah bergerak sendiri dan ternyata aku sudah memencel bel rumah Min Yoongi."
"Eh?"
"Kau seperti itu lagi, Jimin. Terdengar seperti anak kecil yang sedang ketakutan. A, ani. Bukan takut, tapi seperti,"Jungkook menatap lamat kedua mataku, "seseorang yang putus asa, seseorang yang sudah siap untuk menangis."
"Ya! Kau."
Min Yoongi datang.
"Ne, Hyung?"
Min Yoongi menyipitkan matanya ke arah Jungkook, "kau polisi yang pernah menanyaiku itu kan."
Deg.
"Oh, hyung sudah bertemu Jungsook-hyung ya?"jawab Jungkook santai, "kure, hyung-ku itu polisi, wajah kami sangat mirip, Hyung. Bahkan banyak yang mengatakan kami ini kembar. Padahal umur kami beda 4 tahun, Hyung. Apa wajahku terlihat tua ya, haha."
"Benar, wajahmu terlalu tua Jungkooksshi,"candaku menimpali perkataan Jungkook, "bahkan sifatmu seperti kakek-kakek."
Aku menilik sebentar wajah Min Yoongi lalu fokus kembali memotong StrawberryCake. Sepertinya Min Yoongi percaya. Tapi wajah dinginnya tetap terpasang untuk Jungkook. Tentu saja, pasti Min Yoongi tidak suka pria lain mendekati adik kesayangannya ini.
"Kau urus yang di sana,"Min Yoongi menunjuk ruang tengah, "Tae Hee dan aku saja yang di dapur,"perintahnya dingin mulai bergerak mengeluarkan barang belanjaan kami tadi.
"Beres, Hyung,"Jungkook langsung ke ruang tengah. Menaruh jaket dan buket bunga di sofa, lalu menyelesaikan urusan pohon natal dan mulai bersiap membereskan ruang tengah.
Buket bunga dan Kue Tart? Ini rencana dadakan kan? Kenapa Jungkook sudah mempersiapkannya?
.
.
"Tadaaa! Makanannya sudah siaap!"ujarku ceria, meletakkan hidangan terakhir di lantai berkarpet ruang tengah. Aku tersenyum riang, karna Min Tae Hee memang seorang gadis pecinta makan.
"Bocah! Berhenti menatap Tae Hee seperti itu."
Aku yang baru saja duduk di sebelah Min Yoongi langsung melihat ke arah Jungkook.
"Aku tahu kau menyukai adikku. Kau belum pernah kena hajar ya."
Wah. Nada Min Yoongi kasar sekali. Baru kali ini aku mendengarnya.
"Jeosonghamnida, Hyung."
Jungkook berpura ciut. Lalu seperti kami berdua mengambil alat makan dan mulai menikmati masakanku ini. Ya, pasti Jungkook sudah memperhatikanku daritadi, tentu saja, selama ini dia hanya mendengar dan melihat aktingku dari jauh, melihat dari dekat seperti ini, aku yakin Jungkook akan semakin mempermainkanku setelah ini. Sejak aku menyamar, Jungkook sering sekali memperlakukanku layaknya siswi SMU. Dia tak bosan menyuruhku untuk memanggilnya Oppa.
"Tae Heeya, masakanmu semakin enak,"Min Yoongi tersenyum mengelus kepalaku. Aku ikut tersenyum, lebih lebar dan dengan tulus. Karena Min Yoongi memang memuji kemampuan memasak seorang Park Jimin kan.
"Kau asli darimana?"
Masih dengan nada dingin Min Yoongi bertanya pada Jungkook.
"Daegu, Hyung."
"Anak ke berapa?"
"Anak kedua, bungsu, Hyung."
"Orang tuamu?"
"Ayah dan Ibuku mengelola restauran, hyung."
"Tae Hee sudah menolakmu kan? Untuk apa kau ke sini? Tae Hee itu memang merepotkan, tapi kalau sudah ditolak kenapa kau masih mau direpotkan Tae Hee hha?"
"Ee, itu Hyung-"
"Oppa!"sergahku,"jangan berkata seperti itu ah."
Tentu Jungkook secara spontan bisa menjawab semua pertanyaan Min Yoongi. Tapi aku merajuk seperti ini karena Min Tae Hee pasti akan mengatakan itu. Jujur, jika aku seorang Park Jimin, sebenarnya aku merasa senang mendengar ini, menikmati rentetan pertanyaan yang ditujukan guna memastikan seseorang apakah pantas mendekatiku atau tidak. Mengingatkanku pada sikap protektif Hoseok-hyung. Dalam batin aku tertawa kecil, namun di luar aku menampakkan protes yang dibuat semanis mungkin.
"Oppa, ish. Aku jadi merasa tak enak kan pada Jungkook."
"Memangnya salah apa kalau kau merasa tak enak pada bocah ini."
"Jungkook, acuhkan saja Oppa-ku ini ya."
Min Yoongi mendecak, "terserah kau saja."
"Jungkook, kue tartmu enak sekali! Di mana kau membelinya?"aku tersenyum manis pada Jungkook. Haah. Aku tahu anda berpura-pura menyukai Min Tae Hee, Jungkooksshi. Tapi berhenti menatap dan tersenyum padaku seperti itu. Apa aku benar-benar terlihat menggelikan ya?
"Bocah! Sudah kubilang berhenti bersikap itu."
.
.
Min Yoongi langsung menyuruhku mencuci piring begitu Jungkook hendak pamit untuk pulang. Dia bilang dia saja yang akan mengantar Jungkook keluar.
Kami hanya mengobrol ringan malam ini. Tidak ada tanda-tanda kecurigaan sedikitpun dari Min Yoongi. Tadi dia memang sempat bertanya, kenapa tiba-tiba saja aku sudah mengundang Jungkook yang selama ini tak pernah aku bahas setelah pertemuan pertama, padahal seorang Min Tae Hee pasti menceritakan semual hal pada Min Yoongi, cukup mudah mencari alasan untuk itu, meski dari awal kami memang tak pernah membuat rencana melibatkan Jungkook-yang teman sekelas Min Tae Hee- dalam kasus ini.
Aku selesai membersihkan dapur lalu bergerak merebahkan diri ke sofa ruang tengah. Min Yoongi lama sekali. Pasti masih banyak yang ingin dia bahas, perasaan Jungkook, bagaimana Min Tae Hee kepada Jungkook ataupun jangan pernah mendekati Min Tae Hee lagi.
Beruntung sekali Min Tae Hee memiliki Oppa yang sangat perhatian seperti Min Yoongi.
Aku memperhatikan penjuru ruangan. Kali ini aku akan menginap dan akan kembali besok siang. Tak terbayangkan aku akan bermalam berdua saja dengan Min Yoongi. Entah apa yang seharusnya aku rasakan sekarang. Mengingat gambaran kehidupan biasa ini, ternyata terkait dengan dugaan kasus pembunuhan.
"Tidak mengantuk hm?"Min Yoongi sudah kembali lalu duduk tepat di sampingku.
"Belum, Oppa."
"Tidak biasanya."
"Un. Mungkin karena aku terlalu senang, sudah lama kita tidak merayakan natal seperti ini, Oppa. Terkahir kali saat Oppa masih SMP kan,"senyumku menatap pohon natal mini yang berkedip-kedip di sudut ruangan. Aku sudah cukup tahu bagaimana kisah hidup Min Tae Hee dari catatan Jungkook bersadarkan pengakuan Lee Hyorin dan Yoon Boram, dua sahabat terdekat Min Tae Hee sejak kelas 3 SMP.
Min Yoongi mengelus kepalaku lalu berbaring di pangkuanku. Dia tak mengatakan apa-apa, selama beberapa detik hanya tersenyum kepadaku lalu menutup kedua matanya.
"Oppa?"
Tak ada jawaban. Pasti dia sudah tertidur. Aku menatap lekat wajah Min Yoongi yang tengah terlelap ini. Tanganku bergerak dengan sendirinya menyisir poni Min Yoongi.
Haaah. Min Yoongi. Min Yoongi. Min Yoongi. Min Yoongi.
Sakit. Dadaku sakit memikirkan Min Yoongi. Air mataku mulai berlinang sekarang. Aku menyukainya. Aku menyukai seorang Min Yoongi. Aku menyukai bagaimana ia yang ternyata bisa tersenyum tulus meskipun memiliki sisi dingin dan sangat tertutup. Aku menyukai bagaimana ia memperlakukan adiknya secara hangat dan sangat baik. Aku menyukai cara bicaranya. Aku menyukai cara berjalannya. Aku menyukai pembawaannya. Aku masih menyukainya meskipun aku tahu bahwa ia adalah seorang pembunuh.
"Tae Heeya?"
Cepat aku menghapus air mata dan tersenyum. Sepertinya isakanku membangunkan Min Yoongi.
"Kau menangis? Ada apa?"
"Ani. Aku tidak menangis Oppa."
"Ada apa?"
Min Yoongi menyapu sebelah pipiku, "pipimu merah sekali. Kau habis menangis, kan. Ada apa Tae Heeya?"
Aku menunduk. Menyembunyikan tangisan yang sepertinya sudah tidak bisa lagi aku bendung. Aku mohon jangan bersikap lebih baik lagi dari ini. Kalau tidak aku akan-
Min Yoongi memelukku. Mendekapku erat seperti pertama kali kami bertemu. Ia membisikkan kata-kata yang menenangkan.
Aku tersenyum getir, rangkulan yang persis sama namun perasaanku yang jauh berbeda dengan kala itu. Kini jantungku berdebar bukan karena takut tapi karena perasaanku yang seolah-olah akan meledak. Aku tidak membalas pelukannya bukan karena takut tapi karena tak ingin membiarkan diriku terlena lebih jauh lagi. Aku sudah tidak takut.
Tubuhku gemetar dan akhirnya aku menangis sejadi-jadinya.
.
.
TBC
Gamsahamnida! Buat yang udah baca sampai sini.
Makasih buat reviewnya ya ^^
Doain biar aku bisa buat Such a Liar lebih baik lagi ^^
Review juseyeo ~
Once again, gamsahamnida ~
