Annyeong ~
Kembali lagi bersama saya hehe
Gamsahamidaaa! yang udah nyempetin baca and kasih review ^^ SARANGHE! Hoho!
Chapter kali udah part baru, so balik lagi ke author's pov
Nah, dr awal Mphi belum muncul2 kan, di chapter ini mulai disinggung peran si alien (oops) itu dalam Such a Liar ini.
Well, itu brarti kita kembali membahas kasus dulu,,,,
Selamat Membaca ^^
.
.
Hening. Sudah tak terdengar apa-apa lagi dari headset Jungkook. Pemuda itu lantas tidak melepaskannya karena bagaimanapun juga selama Min Yoongi masih ada di dekat Jimin, ia harus memastikan segala sesuatunya. Kini Jungkook hanya bersikap lebih santai, berbaring sambil menutup mata pada bangku yang telah disetel paling miring.
Namun kedua alis Jungkook masih menyatu. Tangisan Jimin barusan masih terngiang-ngiang jelas di telinganya. Ia marah, kesal, geram pada dirinya sendiri. Bagaimanapun juga semua ini bermula dari Jungkook dan orang yang Jimin sukai bukanlah dirinya, melainkan Min Yoongi. Tak pernah sekalipun terlintas di pikiran Jungkook bahwa rencananya ini dapat melibatkan urusan perasaan yang sentimentil. Kenapa Jimin bisa menyukai Min Yoongi. Dan kenapa dirinya bisa menyukai Jimin.
Jika saja ia tidak menyukai seorang Park Jimin, tentu yang ia rasakan sekarang bukanlah amarah seseorang yang tak bisa menghapus penderitaan orang yang disayanginya, melainkan hanya sekedar simpati kepada seseorang yang ia anggap sebagai kenalan biasa dalam sebuah kasus.
Mendengar suara Jimin yang gemetar membuat Jungkook langsung bergerak dengan sendirinya. Dia tidak berbohong, dari awal ia memang sama sekali tidak berencana menemui Min Yoongi untuk kedua kalinya sebelum surat penangkapan Min Yoongi keluar. Yang ada di kepala Jungkook tadi hanyalah bayangan Jimin yang mati-matian bersikap tegar, yang mati-matian berjuang menahan tangisan, yang terdengar lemah, yang membuat batinnya seketika bergejolak dan langsung bertindak tidak didasari oleh logikanya sendiri. Setelah kembali ke mobilpun bahkan Jungkook menerima begitu saja diomeli oleh Hoseok.
Dan mendengar Jimin akhirnya menangis, berhasil membuat perasaannya lebih kacau lagi. Belum lagi ditambah dengan fakta bahwa Min Yoongi mengetahui siapa dirinya.
-Beberapa menit yang lalu-
"Tidak ada yang bisa kau dapatkan dari adikku,"ujar Yoongi setelah menutup pintu.
"Apa maksudnya, Hyung? Aku tulus menyuka-"
"Jika kau ingin ingin menyelidikiku,"potong Yoongi cepat, "kau bisa mengawasiku saja. Berhenti menyamar sebagai teman sekelasnya."
Jungkook yang barusan masih bisa tersenyum perlahan menatap tajam ke arah Yoongi, "sejak kapan kau tahu?"
"Semirip apapun wajah kalian, kalian tak akan memiliki tahi lalat di tempat yang sama. Jungsook? Hmp. Kau tidak tahu ya, aku cukup pintar mengingat orang dan namanya. Bau kalian juga sama, bau polisi keparat yang seenaknya mengira bahwa aku membunuh keluargaku sendiri. Kalian tidak bisa membedakan antara 'hilang' dan 'mati' ya,"ejek Yoongi. Mengambil satu langkah mendekati Jungkook dengan tatapan dingin, seolah ingin mengintimidasi sosok di hadapannya itu.
Jungkook terdiam sebentar, memang ia merasa kalah karena Yoongi ternyata masih mengingat jelas siapa dirinya, tapi di sisi lain Yoongi hanya menekankan penyamaran Jungkook saja, Yoongi sama sekali tak mempermasalahkan mengenai Min Tae Hee.
"Kau sendiri tidak perlu repot-repot menyuruhku berhenti jika aku memang tidak akan mendapatkan informasi apapun dari adikmu,"balas Jungkook.
Yoongi mendengus kasar dan memandang remeh, "terserah kau saja. Aku hanya tak suka seseorang berbohong pada Tae Hee-ku. Tugas kalian melayani masyarakat, bukan menjadi seorang penipu."
Yoongi langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah. Sedang Jungkook juga langsung berbalik dan bergegas menuju mobil.
.
.
Hati-hati Yoongi mengangkat Jimin yang tanpa sadar tlah tertidur dalam pelukannya. Ia menjaga langkah menuju kamar Min Tae Hee agar tidak membangunkan Jimin yang digendongnya.
Dibaringkannya Jimin baik-baik, ia posisikan benar apakah kepala Jimin sudah nyaman pada bantal atau belum, lalu menyelimuti Jimin dan menepuk-nepuk lambat bahu Jimin, kebiasaan Yoongi untuk membuat adiknya agar tertidur lebih pulas.
Setelah dirasa cukup, Yoongi menyapu kepala Jimin dan mencium lembut kening pemuda manis yang ia yakini sebagai adik kesayangannya itu, "selamat malam, Tae Heeya..."gumamnya.
Yoongi keluar kamar, tepat setelah ia hati-hati menutup pintu hapenya bergetar, seseorang menelponnya.
Part.6 Hadiah Natal dari Kim Taehyung 27 Desember 2015
"Ada apa, Taehyung-a?"
"Kau sedang di mana?"
"Di rumah."
"Aku ke rumahmu ya sekarang."
"Hha?"
"Ayolah... mumpung Natal, aku ingin memberikan hadiah balasan untukmu."
"Aku tak butuh hadiah."
"Aku akan datang dengan membawa anggur."
"Kalau kau ingin ditemani minum, kita bertemu di luar saja."
"Tadi kau bilang kau sedang ada di rumah kan?"
"Ne. Tapi, adikku sedang ada di rumah."
"Eh? Kau bilang apa barusan?"
"Adikku sedang ada di rumah. Dia butuh istirahat yang cukup malam ini. Kehebohanmu akan mengganggunya."
"Adikmu? Maksudmu Tae Hee?"
"Kau sudah minum ya? Kau pikir siapa lagi kalau bukan Tae Hee?"
"Eeh?"
"Kau di mana sekarang? Aku saja yang ke sana."
"Eee, aku baru keluar dari lab."
"Ya sudah, kau tunggu di warung Nyonya Yoon saja. Bye."
"Aa, okeh okeh. Bye."
.
.
Jungkook terkesiap. Cepat ia meraih hapenya yang sudah beberapa kali menunjukkan panggilan tak terjawab dan satu panggilan masuk.
"Ne, Hoseok-hyung?"
"Ya! Sedang apa kau! Kenapa baru mengangkat telponku?!"
"Maaf, Hyung. Aku ketiduran."
"Tidak biasanya kau- ah! sudahlah. Temui Jimin sekarang juga."
"Apa yang terjadi, Hyung?"
"Aku dan Min Yoongi sedang di luar sekarang. Satu setengah jam lalu ia pergi ke daerah kampusnya. Dia menemui seseorang di sebuah warung minum, kita tidak tahu siapa itu, tidak ada dalam catatan kita. Mereka hanya mengobrol sebentar, lalu mereka pergi ke rumah sakit Universitas S. Kami hanya bisa mengikutinya sampai beberapa lorong saja, karena di sana hanya ada mereka berdua, bisa-bisa kami ketahuan kan. Lalu beberapa saat kemudian tiba-tiba saja muncul Mn Yoongi seorang diri berlari kencang dengan wajah ketakutan. Kami-"
"Aku mengerti, Hyung."
"Eh? Ya! Jungkook! Aku belum-"
Panggilan diputus.
Jungkook bergegas keluar dari mobil dan berlari kencang menuju rumah Min Yoongi. Buru-buru ia mengedor pintu, menekan bel dan mencoba menelpon Jimin.
"Ah!"Jungkook teringat sesuatu lalu bergerak memutari setengah bagian rumah. Ia berhenti di depan sebuah jendela. Jungkook mengetuk-ngetuk kaca jendela itu, "Jimin! Jimin. Ini aku! Jungkook."
Belum ada respon sama sekali dari dalam. Jungkook tahu persis ini jendela kamar Min Tae Hee dan ia yakin Jimin sedang tertidur di dalam sana. Karena dari yang ia dengar tadi setelah Jimin menangis, sepertinya ia tertidur tanpa sadar, seorang Min Yoongi pasti akan menggendong adiknya untuk tidur di dalam kamar. Satu lagi, Jungkook masih ingat terakhir kali ia lihat hape Jimin tergeletak di dekat pohon natal di ruang tengah. Makanya ia di sini sekarang memanggil-manggil Jimin tanpa menelponnya lagi.
"Jimin! Ya! Ini aku!"ulangnya semakin keras mengetuk kaca jendela.
Akhirnya Jimin terbangun. Awalnya ia agak pangling, namun setelah yakin bahwa suara Jungkook yang di luar jendela, ia bergegas ke sana meski kesadarannya belum penuh.
Jendela dibuka.
"Jungkookshi?"
"Dengar Jimin, waktu kita tidak banyak,"ujar Jungkook.
Jimin mengangguk cepat.
"Min Yoongi sedang di luar, tapi sepertinya ia dalam perjalanan pulang sekarang. Ia akan tiba di sini sebentar lagi dengan seseorang. Ingat, dengan seseorang. Nanti akan aku jelaskan, yang penting, seseorang ini kemungkinan besar mengenal Min Tae Hee. Kau-"
"Aku harus kabur!"potong Jimin langsung berbalik namun sempat di cegah oleh Jungkook. Tangan Jimin yang refleks ia raih membuat Jungkook menungging dan meringis sakit karna perutnya terhentak keras oleh dinding jendela.
"Ya! Pabo! Dengar dulu,"geram Jungkook, "kalau kau harus kabur,"ujarnya kemudian langsung melunak, "kita pasti sudah ada di mobil sekarang, kan."
"Aa. Kuree..."
"Sekarang dengar baik-baik,"lanjut Jungkook, "aku memang belum tahu pasti apa yang akan dilakukan kenalan Min Yoongi ini. Tapi, setelah ini kau hanya perlu kembali tidur. Aku akan tetap standby di sini, jadi kau tak perlu cemas aku akan datang terlambat ketika terjadi kemungkinan buruk.
Jika begitu datang ia langung membangunkanmu bersama Min Yoongi, tetap menjadi Min Tae Hee, perlihatkan sikap kau mengenal kenalan Min Yoongi itu dan tanyakan pada Min Yoongi-kenapa kenalannya itu tiba-tiba tidak mengenalimu. Lalu Hoseok-hyung akan datang, kalian berdua pergi dengan alasan Boram mendadak masuk rumah sakit. Akan tetap sama jika ia baru membangunkanmu bersama Min Yoongi nanti pagi.
Nah, jika ia baru membangunkanmu nanti pagi tidak bersama Min Yoongi, tunjukkan sikap bahwa kau benar-benar tidak mengenalnya, kau bingung, kau takut lalu langsung mencari Min Yoongi. Jika ia menahanmu keluar dari kamar, berteriaklah, panggil Min Yoongi sekeras mungkin. Pokoknya jangan mengatakan apapun sebelum kalian sudah bertiga bersama Min Yoongi. Baru ketika sudah bersama Min Yoongi, seperti tadi kubilang, tanyakan pada Min Yoongi-kenapa kenalannya itu tiba-tiba tidak mengenalimu. Sekali jangan cemas, Min Yoongi pasti akan memihakmu. Dan Hoseok-hyung akan cepat datang.
Terakhir, tinggalkan tasmu ketika kau pergi. Apa kau mengerti semuanya, Jimin?"
Jimin mengiyakan. Memberi pandangan yakin untuk Jungkook.
"Nah, sekarang tidurlah."
"Ne."
"Jimin."
"Ne?"
Baru saja Jimin hendak menutup jendela, Jungkook yang sudah melepas tangannya, meraih tangan Jimin kembali. Jungkook hanya diam. Meski Jimin membelakangi lampu kamar, meski di tempat Jungkook berdiri ini gelap, wajah Jimin masih bisa Jungkook lihat. Setelah beberapa menit mengutamakan kasus, kini Jungkook memilih untuk menyinggung urusan pribadinya.
"Jungkooksshi?"heran Jimin. Memang belum ada tanda-tanda kedatangan Min Yoongi, tapi tetap saja-mengapa Jungkook terdiam cukup lama memandang wajah Jimin seperti itu. Seperti pandangan sedih bercampur marah.
"Jungkooksshi?"ulang Jimin.
Jungkook hanya bisa mendesah kasar, melepas tangan Jimin dan mengisyaratkan agar Jimin segera menutup jendela.
Setelah jendela ditutup perlahan. Cepat-cepat Jungkook menepis emosi yang ia rasakan karena Jimin. Jujur, daritadi, sejak jendela terbuka yang langsung menampilkan wajah Jimin dengan mata yang bengkak, sebenarnya Jungkook menahan diri untuk tidak langung masuk ke dalam dan menghambur memeluk Jimin.
Dan kini, setelah sempat beberapa saat menggubris perasaannya, nyaris saja ia lupa pada salah satu rencananya malam ini. Jungkook meraih hape, menyambungkan nomornya dengan nomor seseorang.
Panggilan terjawab.
"Jungkook?"
"Hyung, aku ingin kau menyelidiki sesuatu."
.
.
Perlahan Jimin membuka kedua matanya. Dalam penglihatannya yang masih samar dari bangun tidur, ia dapati siluet seseorang yang sedang duduk di kursi dekat ranjang.
"Kau sudah bangun?"
Mata Jimin membulat. Cepat-cepat ia mengumpulkan kesadaran dan langsung bangkit begitu mendengar sebuah suara asing. Di hadapannya sudah duduk seorang lelaki yang menatapnya penuh selidik. Jimin langsung teringat perkataan Jungkook.
"Kau siapa?"tanya lelaki asing itu.
Jimin berpura bingung, menggenggam erat selimutnya.
"Kenapa kau mengaku-ngaku sebagai Tae Hee? Kau itu laki-laki kan."
Benar kata Jungkook. Dia mengenal Min Tae Hee.
"Anda..."gagap Jimin.
"Aku Kim Taehyung, teman kampus Yoongi. Jelaskan apa yang terjadi. Kenapa kau bisa ada di ruman Yoongi. Kenapa Yoongi bisa menganggapmu sebagai Tae Hee?"
Jimin langsung bergerak menuju pintu. Belum sempat meraih kenop pintu, lelaki bernama Kim Taehyung itu menarik lengan Jimin dan mendorong Jimin ke dinding pintu, "kenapa kau tidak menjawabku?"geramnya.
Tentu Jimin takut, terlepas dari suruhan Jungkook. Tatapan lelaki itu tajam sekali. Ia bahkan sekarang mengurung Jimin di pintu dengan dua tangannya. Jimin masih mengingat perkataan Jungkook.
"Yoongi-oppaaa!"teriak Jimin menutup kedua mata, mengedor-ngedor pintu yang dipunggunginya. Sontak lelaki yang bernama Kim Taehyung itu menautkan dua alisnya.
"Oppa!"teriak Jimin mengedor-ngedor pintu, "Yoongi-oppaaaa!"
Kedua alis Taehyung semakin menyatu. Kekesalannya berubah menjadi bingung, tidak mengerti dengan sikap Jimin.
"Tae Hee!"
Akhirnya terdengar suara Min Yoongi. Kenop pintu diputar-putar paksa, pintu kamar dipukul-pukul dari luar, "ya! Kim Taehyung! Kau apakan adikku hha?! Buka pintu! Ya!"
Masih dengan tatapan bingung Taehyung melepas Jimin. Ia mundur beberapa langkah.
Pintu terbuka.
"Oppa!"Jimin langsung memeluk Yoongi.
"Tae Hee! Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Oppa,"ujar Jimin melepas pelukannya dan bersembunyi dibelakang punggung Yoongi, "tapi Taehyung-oppa tiba-tiba aneh sekali."
Yoongi menatap tajam pada Taehyung, "apa yang kau lakukan?"
Taehyung menelan ludah, membuang napas, ekspresinya perlahan berubah menjadi tenang namun serius. Bergantian ia memandang wajah Yoongi dan Jimin.
Bel berbunyi.
Membuat suasana di dalam kamar Min Tae Hee semakin hening untuk beberapa saat.
Lagi. Hoseok kembali membunyikan bel rumah keluarga Min. Jimin kemudian bergegas menuju pintu, meninggalkan Taehyung yang tampak berpikir keras memikirkan cara agar Yoongi tidak lagi mengacuhkan ucapannya yang sudah puluhan kali ia katakan sejak tadi malam.
.
.
TBC
Gamsahamnida! Buat yang udah baca sampai sini ^^
Love U! Saranghe! Aishiteru!
Review juseyeoooooooo ^^
Sampai jumpa di next chapter ^^
Once again, gamsahamnidaaaaa
