Annyeong ~
GAMSAHAMNIDA! GOMAWO! THANK U! ARIGATOUUUU! Buat yang selama ini udah nyempetin baca and kasih review ^^
.
.
Haah, udah mendekati ending nih,,,, hu hu apa cuman aku yang ngerasa sedih ya TT TT
Well, selamat membaca ^^
.
.
Jungkook sudah menutup telponnya. Ia menggigit kuku lalu menatap Hoseok dan Jimin bergantian, "kita bicara sambil jalan,"ujarnya cepat meraih jaket yang tersander di punggung kursi lalu bergegas pergi.
Jimin dan Hoseok langsung mengikutinya.
"Kim Taehyung pasti langsung tahu bahwa penyamaran Jimin adalah rencana polisi. Untuk apa seseorang harus repot-repot menyamar sebagai adik Min Yoongi kalau bukan karena ingin menyelidiki keberadaan Min Yonhwa dan Min Tae Hee. Berarti dia tahu bahwa polisi sedang mengawasi Min Yoongi. Dan tadi pagi dia langsung sadar bahwa posisinya sudah tidak aman lagi. Tidak perlu ia menunggu Min Yoongi bangun untuk meminta penjelasan, sebelum sempat polisi melacak dirinya dan menemukan mayat Min Yonhwa dan Min Tae Hee maka ia harus ke Kamar Mayat Rumah Sakit Universitas S secepatnya, guna menghapus bukti yang ada. Aku yakin ia kabur lewat jalan belakang dan sudah ada di Rumah Sakit Universitas S sekarang."
Jungkook, Hoseok dan Jimin sudah ada di parkiran sekarang.
"Hyung, kita berpisah di sini,"sambung Jungkook, "kau dan Jimin pergi ke rumah Min Yoongi, tetap di sana sampai ada kabar selanjutnya dariku. Aku akan ke rumah sakit. Oke, Hyung?"
Dua orang di depan Jungkook mengangguk cepat. Hoseok langsung bergerak menuju mobilnya, sedang Jimin terhenti sebentar karena di tarik Jungkook.
"Jimin, kau baik-baik saja, kan?"tanya Jungkook khawatir dan penuh perhatian.
Jimin sempat terdiam, tentu saja, karena sejatinya Jimin memang tidak bisa berbohong. Namun ia mencoba tersenyum lembut pada Jungkook, "ne, aku baik-baik saja, Jungkooksshi."
Jungkook tak percaya, mana bisa ia mengiyakan raut kesedihan yang terpampang jelas di wajah Jimin. Tapi ia harus berpura mengerti, ia harus mengesampingkan perasaan pribadinya dulu, di saat sekarang, ketika kasus ini sudah mencapai titik terangnya dan Jungkook tentu tak ingin kehilangan cahaya itu.
"Ada Hoseok-hyung dan Joshua, jadi kau tak perlu khawatir. Jika aku sudah selesai, aku akan langsung menemuimu,"Jungkook melepas enggan lengan Jimin.
Jimin kembali tersenyum dan mengangguk mantab, "ne, Jungkooksshi."
Jungkook bergegas ke mobilnya, langsung menghidupkan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan penuh.
.
.
"Halo, Hoseok-hyung."
"Ne, Jungkook-a."
"Yang akan masuk menemui Min Yoongi adalah Jimin. Tugas Jimin hanyalah mencegah Min Yoongi pergi ke mana-mana. Kau dan Joshua tunggu saja di luar. Dengar, belum ada kabar pasti mengenai Kim Taehyung ini, jika kita yang lebih cepat, bagus sekali, kau tinggal menyusul Jimin dan langsung mengamankan Min Yoongi. Jika tidak, belum boleh ada satu polisipun yang bisa menemui Min Yoongi, bukti kita lemah, hanya akan merugikan pihak kita, Hyung."
"Okeh, okeh. Aku mengerti."
Panggilan ditutup.
Hoseok melirik Jimin, "Jimin, kau temui Min Yoongi dan tahan dia di rumah. Jangan sampai dia ke mana-mana sampai aku atau Jungkook menelponmu."
"Ne, Hyung."
"Apa kau akan baik-baik saja hm? Maksudku, dari ceritamu tadi Min Yoongi sepertinya pingsan karena bertengkar dengan Kim Taehyung. Berarti gilanya muncul kan. Orang yang sedang terganggu begitu mungkin saja membahayakan."
Jimin mendesah pelan, menunduk lesu, memandangi jari-jarinya yang berkeringat dingin, "aku sendiri tidak tahu, hyung ..."
"Aku akan standby tepat di luar pintu, begitu terdengar-ah! Kau tidak memasang kembali alat penyadapmu ya?"
"A! Kure,"dongak Jimin, "kita buru-buru tadi, setelah mandi aku lupa memasangnya kembali. Tapi, Hyung, tasku kan masih di rumah Min Yoongi."
"Dan hanya Jungkook yang mendengarnya."
"Akan aku taruh hape di saku celana, Hyung. Jika ada apa-apa aku akan langsung menelponmu. Panggilan cepatku masih nomor hyung, kok."
"Kure, begitu saja."
.
.
"Jungkook!"
Jungkook setengah berlari begitu sosok Taehyun sudah tertangkap pandangannya. Ia mendongak, memastikan ruangan yang ditujunya itu memang memiliki plang penanda yang bertuliskan 'kamar mayat' atau tidak
"Ada apa? Kenapa kau terdengar panik saat menelponku?"tanya Taehyun.
"Sudah berapa lama Hyung di sini?"Jungkook balik bertanya dengan cepat.
"Skitar setengah jam."
"Pertama tadi apa hyung sudah ke sini?"
"Tidak, aku hanya menyelidiki di bagian administrasi dan ruangan Dr. Ahn."
"Agh! Kenapa Hyung tidak ke sini dulu?"
"Itu-"
"Tidak bisa dibuka. Mana kuncinya?"
"Kang Maru sedang ke sini."
"Sudah setengah jam, kan. Mana dia? Dr. Ahn mana?"
Sebentar Taehyun menatap heran pada Jungkook yang terlihat tak sabaran, "Dr. Ahn sedang bertugas,"jawabnya, "Kang Maru baru brangkat dari apartemennya, karena sekarang shift-nya Kim Taehyung. Lagipula kau meminta dia membawakan data mayat, kan. A! Itu dia sudah datang."
"Maaf, menunggu lama Taehyunsshi,"Maru membungkuk sopan ia menyodorkan sebuah map pada Taehyun, "ini berkas yang an-"
Jungkook meraihnya kasar, buru-buru ia membalik-balik berkas, mencari sesuatu. Lalu sibuk sendiri bergumam-gumam tak jelas.
Taehyun semakin heran, lalu mengisyaratkan Maru untuk cepat membuka pintu.
Pintu terbuka.
Jungkook langsung menghambur masuk, tergesa-gesa memeriksa satu-persatu nomor yang tertera pada pintu kabinet penyimpanan mayat.
Taehyun dan Maru sama-sama menatap bingung melihat Jungkook.
"Jungkook apa yang kau lakukan?"
"Aku mencari mayat Min Yonhwa dan Min Tae Hee,"jawab Jungkook, "aku takut Kim Taehyung sudah ke sini tadi."
"Jungkook-"
"Hyung,"sela Jungkook, "nama mereka tak ada di dokumen ini, tapi lihat ada foto mereka berdua,"Jungkook mengangkat berkas di tangannya.
"Jika itu yang kau-"
"Tidak ada!" Batin Jungkook. Matanya bergerak cepat menelusuri kembali isi berkas, "nomornya memang ini... Sial! Benar! Kim Taehyung sudah ke sini, hyung!"gusar Jungkook.
"Ya! Jungkook dengar dulu-"
"Hyung!"Jungkook masih mengacuhkan ucapan Taehyun, "CCTV! Kita ke ruang keamanan sekarang, Hyung!"
Taehyun meraih Jungkook yang akan melewatinya, ia memutar bola mata dan menatap malas pada Jungkook.
"Ada apa Hyung?"
"Kau itu yang ada apa?"
"Hha?"
"Kenapa kau panik begini? Mayat mereka berdua sudah diamankan di kantor polisi."
"Eh?"
"Kau kira kami itu bodoh ya. Tadi pagi aku memang tidak ke sini, karena aku pergi berdua dengan Seungyoon-hyung, begitu mendapat berkas ini, Seungyoon-hyung yang langsung ke sini, sedangkan aku pergi ke ruangan Dr. Ahn. Lalu Seungyoon-hyung menelpon kantor untuk mengirimkan Tim Forensik."
Jungkook terdiam, "aaah,"suaranya kemudian, mulutnya terbuka lebar-lebar, Jungkook mengangguk-angguk mengerti.
"Apa Seungyoon-hyung belum memberitahumu?"
Jungkook mendesis memiringkan kepala, "n, ntahlah, sepertinya aku terlalu cepat menyudahi laporan Seungyoon-hyung tadi pagi. Haha. Mian, Hyung,"Jungkook tertawa miris, sadar akan kebodohannya sendiri.
Bzzt. Bzzt.
Hape Jungkook bergetar, dengan sigap Jungkook menjawab panggilan.
"Halo, hyung?"
.
.
Hati-hati Jimin melangkah masuk. Perhatiannya kini mencari sosok Yoongi. Tak ada suara sama sekali, sepertinya Yoongi belum sadarkan diri.
Selang beberapa detik dari pintu masuk, Jimin terpaku sejenak, kini ia menatap khawatir ke arah Yoongi yang sedang berbaring di sofa ruang tengah. Jimin langsung bergerak ke sana, duduk di atas karpet tepat di samping sofa. Tangannya diulurkan menyentuh jemari kurus Yoongi. Raut wajahnya khawatir sekali.
Kelopak mata Yoongi bergerak sedikit. Perlahan pemuda pucat itu membuka kedua matanya. Yoongi berkedip-kedip cepat, mencoba terbangun secara total. Ia menoleh pelan dan akhirnya sadar sudah ada Jimin yang sedang tersenyum lembut kepadanya.
"Siapa kau?"
"Eh?"
"Siapa kau?!"Yoongi menepis tangan Jimin dan berangsut menjauh, "Siapa kau?"
Sesuatu menghujam dada Jimin. Sontak cairan bening menggenang di kedua matanya, "ini aku, Tae Hee..."lirihnya. Napasnya mulai sulit diatur sekarang.
"Tae Hee? Siapa Tae Hee? Aku tak mengenal yang namanya Tae Hee! Kenapa kau ada di rumahku?"
Oh, Tuhan. Apa yang harus kulakukan...Sekujur tubuh Jimin melemah. Yoongi di hadapannya benar-benar membuatnya pangling dan tak tahu harus berbuat apa.
"Benar!"Yoongi tiba-tiba bangkit, turun dari sofa, "ini rumahku kan?"ia berputar pelan untuk menilik ke seluruh penjuru ruangan. Lalu terkekeh sendiri dan menatap tajam ke arah Jimin, "siapa kau?"
Hening.
Mulut Jimin mengering sedang pipinya basah oleh air mata. Ia menatap lekat sosok Yoongi yang tampak kebingungan bercampur gusar. Napasnya terengah-engah. Sumpah, batinnya perih sekali. Perasaannya benar-benar terguncang. Jimin memang masih duduk, tapi tetap saja merasa lemas untuk sekedar menjawab Yoongi.
Sedetik kemudian secara kasar Yoongi meraih kerah baju Jimin dan menariknya ikut berdiri, "apa yang kau lakukan di sini!?"
Jimin hanya menangis.
"YA! Kenapa kau malah menangis!?"
Jimin tetap menangis.
"Kenapa kau tak menjawabku hha!?"
Jimin semakin menangis.
"Aish! Bocah keparat,"geram Yoongi. Tangannya berbalik meremas salah satu lengan Jimin dan menyeretnya menuju pintu depan.
"An dwae!"Jimin bertahan kali ini. Ia langsung menarik tubuhnya ke bawah, merangkul erat kaki Yoongi, "hiks... izinkan aku tetap di sini... hiks. Jebal..."
"HHa?! Siapa kau sebe-"
"Jimin! Hiks! Aku Park Jimin,"Jimin menengadah untuk Yoongi, "kita bertemu dua bulan lalu hiks..."
"Hha? Apa yang kau bicara-"
"Kita berteman! Hiks.. kita berteman, kumohon hiks... percayalah padaku..."suara Jimin semakin serak, hidungnya memerah, matanya mulai bengkak dan paru-parunya berang meminta udara. Tapi dua tangannya tetap memeluk erat kaki Yoongi, "hiks... jebal... hiks."
Yoongi terdiam. Mencerna baik-baik perkataan Jimin. Sorot matanya yang berfikir keras menangkap sekilas deretan bingkai foto di sudut ruangan. Alisnya mengerut. Menajamkan penglihatan untuk belasan foto yang tergantung rapi di dinding ruangan.
Jimin yang menengadah memutar kepalanya mengikuti arah pandangan Yoongi, rangkulannya melonggar. Kebetulan sekali, sehingga Yoongi tak kesusahan untuk memulai langkah. Kaki Yoongi bergerak sangat pelan, bahkan terlihat seperti diseret. Dua matanya belum berkedip sekalipun, pajangan di dinding itu seolah menghipnotisnya. Eksistensi Jimin tiba-tiba lenyap bagi Yoongi.
Tangisan Jimin mulai berhenti. Sambil menghilangkan sisa terakhir dari isakannya ia hanya termangu memperhatikan Yoongi.
Entah mengapa tangan Yoongi begitu hati-hati, nyaris gemetar, menggapai salah satu foto dengan gamang. Jemarinya menyapu perlahan kertas potret berisi empat wajah itu. Empat wajah yang sedang tersenyum, apalagi yang paling kecil, seakan pamer dengan deretan gigi atas dan bawahnya yang terlihat menggemaskan. Raut wajah Yoongi berubah, seperti sedang melamun kini.
"Eom,ma,"gumamnya terbata.
Jemarinya bergerak sedikit.
"Ap,pa."
Jemari tadi bergerak lagi.
"Yoon,gi."
Jemarinya tetap bergerak lalu terhenti cukup lama. Yoongi memiringkan kepalanya.
"Tae..."
"Oppa!"
Sebuah suara memekik di benaknya.
Yoongi menyipitkan kedua mata.
"Tae..."
"Ya! Oppa! Ish! Kenapa kau tidak bisa bersikap lembut padaku hha!"
Bibir Yoongi terkatup.
"Oppa, aku sudah meminta izin, Sabtu besok aku akan pulang."
"Kure, kau pulang."
Jimin menatap bingung, Yoongi seperti sedang berbicara sendiri.
"Kali ini biar aku yang membelikan bunga untuk Ibu, aku sudah menabung."
"Hah, sejak kapan kau punya tabungan?"
"Besok, setelah kita menemui Ibu, kita akan jalan-ja-"
"AAARGHH!"
Jimin tersentak.
"WAAAAA!"
Cepat-cepat Jimin berdiri, tergopoh mendekati Yoongi yang berteriak histeris.
Yoongi meremas rambutnya sekuat tenaga. Ia hempas begitu saja tubuhnya sendiri ke dinding, ke rak buku, ke dinding lagi kemudian tersungkur di atas karpet. Lelaki pucat itu meringkuk menahan sakit.
"Ke mana?! Ke mana kita akan pergi!? Bahkan kita tidak jadi menemui ibu! Ke mana kau?!"
"Yoongi! Bertahanlah!"kalut Jimin. Tangannya tak tahu harus memegang apa. Bergerak-gerak ke sana kemari di sekujur tubuh Yoongi yang tak kunjung berhenti menggeliat.
"Tae Hee! Tae Hee!"
"Yoongi-a! Kuatkan dirimu! Yoongi-a..."
"Keparat! Adikku sudah mati! Adikku sudah menjadi mayat! Kau tahu hha?!"tiba-tiba teriakan Yoongi seakan tertuju pada Jimin. Ia berhenti, memandang tajam pada Jimin, "siapa kau? Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau bisa memiliki wajah yang sama dengan adikku?"
Cepat Jimin meraih tangan Yoongi dan menggenggamnya arat, "aku Park Jimin, tenangkan dirimu dulu, aku akan menjelaskan semuanya,"ujarnya tergesa membalas tatapan tajam Yoongi dengan sorot mata yang lembut dan menenangkan.
"Adikku sudah mati!"teriak Yoongi.
Genggaman Jimin semakin erat bahkan ia posisikan dua puluh jari yang saling terpaut itu ke dadanya. Wajahnya menggumbar harap agar Yoongi mempercayainya, "aku Park Jimin. Kumohon, tenanglah, aku akan menjelaskan semuanya."
Tampak Yoongi berangsur tenang. Pemuda yang sesaat tadi masih terlihat frustasi mulai merubah kilat matanya untuk Jimin.
Namun kemudian ia melepas kasar tangan Jimin, belum sempat Jimin merasa surut, Yoongi sudah merangkul kedua bahunya.
"Adikku sudah mati ... "desis Yoongi.
Seketika Jimin merengut pilu.
"Adikku sudah mati, kan," ulang Yoongi, menekan lebih kuat separuh tubuh Jimin untuk lebih merasakan debaran jantungnya yang terburu bukan main, "Tae Hee, dia sudah..."
Dalam diam Jimin membalas pelukan Yoongi, mengalungkan kedua lengannya pada leher Yoongi.
Lama mereka saling berpelukan. Dengan emosi sedih yang bukan main.
Bzzzt. Bzzzt.
Hape Jimin bergetar.
Bzzzt. Bzzzt.
Masih bergetar karena belum dijawab juga.
Yoongi melepas pelukannya, "jawablah, pasti itu penting,"ujarnya datar melihat ke saku celana Jimin.
Jimin sempat heran, Yoongi benar-benar sudah kembali sekarang dan seolah tahu siapa yang menelpon Jimin.
"Hoseok-hyung?"jawab Jimin.
"Jiminie, kalian sedang apa? Aku dan Joshua akan masuk."
"Eh?"
Telpon diputus sepihak. Dan secara bersamaan Yoongi melihat ke arah pintu depan.
"Kau tak perlu menjelaskan apa-apa, Jiminsshi,"ujar Yoongi, "saat aku memelukmu, otakku langsung mencerna baik-baik kejadian dua bulan ini."
Yoongi bangkit, ia tersenyum tipis kepada Jimin, "lagipula, sepertinya mulai sekarang aku akan terlalu sibuk mengurus diriku sendiri."
.
.
"Halo, Hyung?"jawab Jungkook setelah mengaktifkan mode speaker di hapenya.
"Semuanya diminta untuk datang ke kantor sekarang juga."
.
.
Warning! Warning! Endingnya ga bakal aku bikin ribet, karena dari awal, ending cerita ini udah terkonsep dikelapaku (begitu satu pentunjuk besar udah muncul, Jungkook cs ga perlu lama2 lagi untuk mecahin kasus ini), jadi endingnya emang gitu kok... bukannya mau cepet2 namatin atau gmn... jujur! endingnya emang gitu kok...hehe (ntar brdasarkan review, bakal aku pikirin baik2 apa musti bikin bonus chapter atau sequel Such a Liar atau cerita baru hehe)
