Karakter milik Konami.
Tale 2 : We Know Each Other
Lazlo tidak mengerti bagaimana caranya hingga ia dipilih menjadi kapten kapal ini, sementara ada seorang raja! Dia harus memimpin seorang raja, bayangkan! Meski beliau tidak berpenampilan layaknya seorang raja, tapi tetap, dia adalah Lino En Kuldes, raja dari Obel. Dan sekarang, mereka sedang berlayar menuju ke Nest of Pirate untuk mencari bantuan. Beberapa waktu yang lalu, Kerajaan Obel berhasil direbut oleh pasukan Kouluk, mau tidak mau raja harus pergi dari sana. Tetapi dia berjanji untuk kembali, dan akan membebaskan para penduduknya dari tangan Kouluk.
Jika semua hal ini terjadi jauh sebelum Lazlo diusir dari Razlil, pasti dia tidak akan pernah setuju dengan rencana gila ini! Pergi meminta bantuan kepada bajak laut? Seharusnya mereka pergi ke Razlil, berunding dengan Kapten Glen, lalu bersama, mengalahkan Kouluk! Sayangnya, hal itu tidak mungkin terjadi sekarang. Beliau telah tiada, Razlil sudah membuangnya.
Dengan perasaan penuh cemas, Lazlo berdiri di dek kapal, membiarkan rambutnya yang tertiup angin membelai lembut pipinya. Sebuah tepukan di pundak dari belakang Lazlo membuyarkan pikirannya, dia melihat sosok Lino berdiri di sana. Dengan wajah yakin, ia berkata. "Tenang, pasti dia mau membantu kita."
Lazlo tidak tahu harus berkata apa. Selama ini ia dilatih untuk bertarung dan mengalahkan para bajak laut, menjaga agar mereka tidak melukai warga. Tetapi sekarang, dia harus pergi minta bantuan kepada mereka? Ini benar-benar tidak masuk akal untuknya. Perasaannya semakin kacau ketika kapal akhirnya masuk ke dermaga di Nest of Pirate.
Mata para bajak laut mengawasi Lazlo dan kawan-kawan begitu turun dari kapal. Bau alkohol tercium dimana-mana, terlihat banyak bajak laut yang tertawa, bercanda dan tertidur karena mabuk. Dan sosok terakhir yang dilihat Lazlo adalah wanita itu, wanita yang beberapa waktu lalu nyaris membunuhnya. Sosok itu masih sama, tidak berubah sedikit pun. Terlihat tenang, dan dingin. Sangat kontras dengan perapian yang membara dibelakangnya. Ah, mungkin mereka sama-sama membara. Hanya saja, hawa yang keluar dari wanita itu bukan kehangatan, melainkan hawa dingin yang mencekam.
"Aku tidak pernah menyangka kalau kau akan datang dan meminta bantuanku, Kapten Lazlo!" Seru Kika diiringi senyum senangnya. Sebab artinya dia benar, bahwa mereka memang bertemu lagi, dan ada kemungkinan mereka akan berada di jalur yang sama kali ini.
"Hooo, kalian saling kenal?" Tanya Lino terkejut sambil menatap Lazlo dan Kika bergantian.
"Jika definisi kenal untukmu adalah berusaha untuk saling membunuh, maka jawabannya adalah iya, aku mengenalnya." Ucap Lazlo tegas.
Kika tersenyum geli mendengar jawaban Lazlo, lalu menggeleng perlahan. "Ya, kami memang saling kenal. Nah, apa yang bisa aku bantu untukmu kali ini, Lino?"
"Mungkin kau sudah mendengar bahwa pasukan Kouluk berhasil menduduki kerajaanku?" Lino mengambil kursi kayu, duduk di hadapan Kika. "Aku membutuhkan bantuanmu untuk melawan mereka. Dan merebut kembali kerajaanku."
"Apa kau pikir sekelompok bajak laut ini akan berhasil mengalahkan pasukan Kouluk yang terlatih?"
"Tidak juga," Lino mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat ini. Beberapa bajak laut seolah ingin mencekik Lino ketika mendengar jawabannya, tetapi Kika menahannya. Dan meminta Lino agar melanjutkan kalimatnya.
"Tapi untuk sementara waktu, kau punya tenaga manusia yang aku butuhkan jika aku ingin membangun kekuatan untuk mengalahkan mereka. Dan oleh karena itu, aku membutuhkan bantuanmu. Jika kau tidak mau, Kouluk akan menguasai kita semua. Dan sebetulnya, secara tidak langsung, kalian bisa mengalahkan Kouluk. Tanpa kalian, tidak akan ada pasukan yang akan mengalahkan mereka."
"Apa kau kapten kapalmu?" Kika tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Bukan," Lino menunjuk sosok Lazlo yang berdiri di belakangnya. "Dialah kapten kapalku. Jadi yah sebetulnya..."
"Kalau begitu kau tidak punya hak untuk meminta bantuanku." Kata Kika.
Lazlo mengeritkan keningnya. "Tunggu, kenapa begitu?"
"Sebab kau adalah kaptennya. Orang yang memegang kendali kapal, dan orang yang akan menjadi patnerku jika aku setuju untuk menolong kalian." Kika menyilangkan kaki. "Jadi, seharusnya kau yang bicara, Kapten Lazlo."
"Aku bukan..." Lazlo tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menghela nafas panjang. "Aku... Aku meminta bantuan anda, Lady Kika. Tanpa anda, kami tidak mungkin bisa menang!" Lazlo membungkukan badannya. Untuk saat ini, mau tidak mau dia harus bersikap baik kepada Kika.
"Apa keuntungan yang akan aku dapat?" Tanya Kika dengan nada datar.
"Kau bisa menendang pantat para prajurit Kouluk itu untuk kembali ke tempat asal mereka," jawab Lino sekenanya. "kurang lebih sih begitu..."
"Aku sedang tidak ingin menendang bokong orang," sahut Kika tidak antusias. "Tapi mungkin aku akan menendang bokong kalian."
"Yang benar saja!" Teriak Lazlo kesal. "Situasi sekarang sedang genting, Kouluk berhasil menguasai Obel, dan kau masih sempat-sempatnya bertanya apa keuntungan yang kau dapat bila membantu kami?!"
"Hei bocah, jaga mulutmu!" Hardik Hervey tidak senang.
Kika memberikan tanda kepada Hervey untuk diam menggunakan tangannya. "Tentu saja, itu wajar. Aku bajak laut, aku tidak melakukan sesuatu dengan gratis."
"Oh? Lalu bagaimana dengan membebaskan sahabat-sahabatmu yang telah berkhianat kepadamu?" Lazlo tiba-tiba mengungkit sesuatu yang membuat ruangan yang tadinya ramai menjadi sepi. "Padahal mereka telah mengkhianatimu, tapi kau tetap menyelamatakan mereka. Dan aku rasa, kau melakukannya dengan gratis kan? Atau kau mendapat kepuasaan tersendiri?"
Kika tertawa ditengah bisik-bisik para bajak laut, wajah Hervey merah padam, tangannya terkepal.
"Maafkan kami, sungguh!" Lima bajak laut tiba-tba bersujud dihadapan Kika. "Lady Kika, kami tidak pernah bermaksud untuk mengkhianatimu! Tapi dia, si Reinbach menyebalkan itu terus mendesak kami! Dan dia, dan dia mengancam akan membunuh keluarga kami. Karena itu..."
"Kalian, bedebah kurang ajar..." Kepalan tangan yang tadinya tertuju kepada Lazlo sudah berganti target. Jika bukan karena cengkraman Sigurd dan teriakan Kika, mungkin kelima bajak laut ini sudah mendapatkan bogem mentah Hervey.
"Darimana kau tahu soal itu?" Tanya Kika pelan. "Bahkan anak buahku saja tidak ada yang tahu mengenai hal itu."
"Aku mencari tahu."
"Hooo, apa kau sebegitu tertariknya kepadaku sampai-sampai kau menyelidikiku?" Kika kembali menyilangkan kakinya, kali ini kaki yang kanan.
"Aku harus mengenal musuhku lebih baik." Jawab Lazlo masih dengan tanpa emosi.
Kika berpikir sejenak. Menatap lurus tepat ke manik-manik mata pria yang berdiri dihadapannya. "Baiklah. Aku akan membantumu. Toh kami tidak punya kegiatan yang berarti sekarang."
Lino yang sedari tadi terdiam akhirnya bisa menghembuskan nafas lega. Lazlo juga begitu, ia pun membungkuk sekali lagi.
"Terima kasih, Lady Kika."
"Padahal kau membenci bajak laut, tapi masih bisa bersikap sopan kepadaku," Kika menghela nafas. "cukup panggil Kika saja. Kau bukan anak buahku, jadi tidak perlu memanggilku Lady segala."
"Ah, baiklah, jika itu mau mu, Kika."
Kika mengangguk sekilas, kemudian menanyakan apa langkah mereka selanjutnya.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Hari sudah cukup malam ketika Lazlo keluar dari gua dan berdiri di bibir pantai, menikmati hembusan angin malam. Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan, mengenai sosok ahli strategi yang akan dimintai tolong oleh Lino untuk menjadi bagian dari pasukannya, hingga pertanyaan tidak penting, seperti sedang apa Snowe sekarang? Bagaimana keadaan para Ksatria Razril? Apakah Wakil Komandan Katarina yang menggantikan Komandan Glen? Atau mungkin Snowe? Lazlo menghela nafas karena tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang terlintas dibenaknya.
"Kau tidak bisa tidur?" Sebuah suara terdengar dari belakang.
Sosok Sigurd terlihat di sana, Lazlo hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Aku mau minta maaf, atas sikap Hervey kepadamu. Dia memang mudah terbawa emosi, oleh karena itu..."
"Aku rasa kau tidak perlu minta maaf," Lazlo menggeleng. "reaksinya itu wajar. Aku bisa memakluminya."
"Dan aku juga ingin berterima kasih."
Kening Lazlo berkerut. Jika Sigurd datang untuk meminta maaf, dia masih bisa memikirkan alasannya, tapi berterima kasih? "Untuk apa?"
"Karena kau sudah membuat Lady Kika terlihat sedikit ceria."
Kerutan di kening Lazlo semakin bertambah. "Aku tidak melihat sebuah keceriaan dari dirinya."
Sigurd tertawa. "Yah, kau kan baru mengenalnya, jadi tidak bisa membedakannya. Sementara kami yang sudah lama bersamanya, bisa mengetahui perubahaan sekecil apa pun dari Lady Kika."
"Kalau aku tidak salah ingat, Kika itu temannya Edgar dan Brandeau?"
"Iya."
Lazlo menunduk sedih. "Aku, aku sudah membunuh Brandeau..."
"Ya, kau memang membunuhnya, tapi paling tidak, kau telah melepaskannya dari Rune itu."
"Lady Kika!" Sigurd terhenyak. "Kenapa anda..."
"Sigurd, tolong kau urus Dario dulu. Dia mabuk, dan aku sudah kesal mengurusnya."
"Baik Lady Kika."
Mereka berdua terdiam hingga sosok Sigurd menghilang. Kika menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu kalau dia banyak omong."
"Dia khawatir kepadamu, wajar kan?"
Kika sempat melirik ke tangan Lazlo, dia ingin mengatakan sesuatu, namun ditahannya. "Sudah malam, lebih baik kau segera tidur atau besok kau akan ditinggal."
"Apa awak kapalku akan meninggalkan kaptennya?" Lazlo bertanya dalam tawa.
"Bisa saja, kan?" Kika berjalan masuk. "Kita tidak pernah tahu."
"Kika."
Panggilan Lazlo menghentikan ayunan kaki Kika. "Ada apa?"
"Aku..." Lazlo menghela nafas. "Terima kasih, karena telah mau membantu kami."
"Ya, ya," Kika mengibas-ngibaskan tangannya. "sekarang lebih baik kau tidur sana."
"Selamat malam, Kika."
Air muka Kika sempat terlihat sedih. "Selamat malam juga, Lazlo..."
