Suikoden sepenuhny milik Konami, saia cuma minjem aja...


Tale 5 : The Choice Is Yours

Lazlo merenggangkan tangannya ke atas, dia baru saja selesai membaca surat-surat untuknya dari kotak saran. Dirapihkannya surat-surat tersebut, lalu ia masukan ke dalam lemari di kamarnya. Lazlo terdiam sejenak, menatap ruangan yang menjadi kamarnya selama berada di Dauntless. Entah sejak kapan dia mulai merindukan kamarnya di Razril, bagaimana kabar Tal dan Paula, juga yang lainnya. Suara ketukan di pintu membuatnya tersadar.

"Lazlo, rapat tidak akan bisa dimulai kalau kau belum ke sana." itu suara Jewel. Dan terdengar suara Keneth disusul keluhan Chiepoo.

Sudah banyak orang yang bergabung dengan pasukan ini, dan sekarang rasanya untuk mulai menyerang. Sebuah rapat pun diadakan untuk memutuskan langkah mereka selanjutnya. Sang pemimpin pun berkata bahwa dia akan segera ke sana. Pikirannya sedang melayang entah kemana ketika dia menabrak seorang kru kapalnya.

"Ah, ma, maaf..." Lazlo buru-buru minta maaf tanpa melihat wajah orang yang ditabraknya.

"Sebagai seorang pemimpin, kau harus lebih berhati-hati."

Lazlo tahu siapa pemilik suara ini. "Ah, um, maaf... Kika."

Wanita yang menggunakan pakaian berwarna merah itu tidak memberikan reaksi apa-apa, dan segera berjalan menuju tangga. Lazlo mengikutinya di belakang. Keduanya tidak bicara apa-apa lagi semenjak malam setelah Elenor bergabung dengan mereka, dan Kika entah kenapa selalu menghindar dari Lazlo. Baru kali ini setelah kejadian waktu itu Kika berada di Dauntless, sebelumnya dia selalu di kapalnya sendiri. Apa ada yang salah?

"Uhhh..." Lazlo ingin bertanya, tetapi pertanyaan itu berhenti di tenggerokannya.

"Kenapa?"

"Uh, um, tidak apa-apa. Bukan hal yang penting." katanya gugup.

Kika yang berjalan di depan Lazlo hanya melirik dari balik bahunya dan tidak mengubris ucapan Lazlo. Sedangkan pria itu terus memikirkan pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan agar tidak menyinggung perasaan Kika. Tak terasa keduanya telah sampai di War Room, Desmond membukakan pintu, beberapa orang melihat ke arah mereka dengan tatapan tanda tanya.

"Nah, dan sekarang pemimpin kita sudah ada," suara tegas Lino menghentikan suara bisik-bisik yang terdengar. "kita bisa mulai rapatnya."

"Baik, sekarang waktunya untuk merebut Middleport." Elenor membuka rapat dan langsung ke inti permasalahan.

"He, kau serius?" Hervey terlihat ragu.

"Tentu saja." Elenor melipat kedua tangannya. "Baru setelah itu kita menyatukan pulau-pulau kecil lainnya."

Hervey bebisik-bisik kepada Sigrud, membuat wajah pria berambut hitam itu menjadi bingung. Entah apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Sang tactician tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu, dan mengarahkan pandangannya ke Lazlo. Menunggu persetujuan darinya.

"Baiklah kalau begitu, kita akan menyerang Middleport!"

"Huuum, Middleport yah..." Ramada bersuara. "Kalau aku tidak salah ingat di sana ada monster laut. Kita harus berhati-hati."

"Waktu dulu kita patroli di sana tidak monster." Keneth berusaha mengingat apakah mereka pernah bertemu dengan monster yang dimaksud oleh Ramada. Tapi nampaknya memang belum pernah. Jewel mengatakan hal yang sama.

"Ah, monster itu..." Hervey melirik ke arah Sigrud, lalu ke Dario dan berakhir di Kika.

"Ada apa memangnya?" Lazlo menatap Hervey dengan bingung.

"Monster itu sangat menyebalkan, kita tidak bisa menyerangnya menggunakan pedang. Hanya bisa menggunakan Rune dan senjata sejenis panah." Hervey menggaruk-garuk kepalanya.

"Tidak bisa pakai Rune Cannon?"

"Tidak, monster itu biasanya selalu berada di dekat pelabuhan. Jika kita menggunakan Rune Cannon dan meleset, bisa-bisa kita malah menghancurkan kota, bukannya mengalahkan monster tersebut." Kika memberi penjelasan.

Ada sedikit rasa kecewa di wajah Lazlo. "Baiklah kalau begitu... kita harus menggunakan tim yang memiliki Rune dan senjata yang bisa menjangkau jarak jauh..."

"Lazlo."

"Ya, ada apa, Kika?"

"Jangan menggunakan Rune milikmu, kau mengerti?!" kata Kika dengan tegas, membuat suara-suara bisikan orang disekitar mereka berhenti. "Biarkan yang lain menggunakan Rune mereka."

"Aye, aye, cap'!" Lazlo memberi hormat ala militer, membuat beberapa orang tersenyum. "Baiklah, kalian sudah mendengar perintah kapten! Sekarang waktunya mengalahkan monster!"

Setelah semua keluar dari War Room, Kika yang masih di dalam bersama Lino dan Elenor hanya bisa menggelengkan kepala.

"Aku pikir monster itu tidak terlalu kuat, jadi Sir Lazlo tidak perlu menggunakan Rune miliknya." ucap Ramada yang ternyata masih ada di dalam.

"Yah, kita lihat nanti," Elenor menatap Lino yang sudah berdiri di depan pintu. "aku minta kau berjaga-jaga. Jangan sampai dia menggunakan Rune."

"Uh, aku rasa kau salah orang, aku juga tidak bisa berbuat banyak di pertarungan nanti," Lino menggaruk kepalanya.

"Tenang, ada Jeane, Pablo dan Katarina. Lalu ada beberapa orang yang senjatanya bisa menjangkau jarak jauh." kata Kika dengan suara yakin. "Dan aku akan memastikan dia tidak akan menggunakan Rune itu."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Huaaa, apa-apaan ini, kenapa tentakelnya tumbuh lagi?!" teriak Hervey kesal.

Sigurd yang baru saja menggunakan Water Rune untuk menyerang monster berbentuk menyerupai pulau itu melempar pandangan kesal ke sahabatnya. "Hervey, jangan banyak bicara! Kalau tidak cepat bisa-bisa akan ada yang terkena tentakel itu!"

Dan benar saja, tentakel monster tersebut nyaris menghantam Sigurd jika Lazlo tidak menebas tentakel tersebut dengan tepat waktu.

"Hati-hati, Sigurd!" Lazlo melirik ke belakang. "Sekarang, Jeane!"

Sang Rune Master segera menggunakan Thunder Rune miliknya, kilatan petir terlihat bersamaan dengan suaranya yang menggelegar, menghantam monster tersebut. Tetapi monster masih belum kalah, dan serangannya semakin brutal, dek Dauntless rusak parah. Sebuah potongan kayu melayang ke arah Jeane, namun Kika berhasil menghancurkannya. Ia pun segera melindungi Jeane.

"Kau tidak apa-apa?"

"Ya, terima kasih, Kika." Jeane tersenyum ramah, dilanjut dengan tawa khasnya.

"Simpan terima kasihnya untuk nanti, pertarungan belum selesai!" seru Kika. "Dan Lazlo, JANGAN gunakan Rune itu!"

Tangan kiri Lazlo yang tadinya sudah naik setinggi kepalanya langsung diturunkan. Lazlo pun hanya bisa melempar wajah seperti pencuri yang tertangkap basah.

"Ya, Lazlo, jangan gunakan Rune itu. Ada kami di sini, ok?" Keneth menepuk pundak Lazlo.

Lazlo menatap ke sekelilingnya, terlihat wajah orang-orang yang siap untuk membantunya. Mereka semua mengangguk.

"Terima kasih kawan-kawan!" Lazlo mengacungkan dual sword miliknya ke atas. "Ayo kita kalahkan monster ini bersama-sama!"

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Langit mulai berwarna orange ketika Lazlo kembali ke kapal setelah berdiskusi dengan Lord Reinbach II, cukup sulit untuk mendapatkan Middleport ke sisi mereka. Ditambah lagi bahwa Lazlo baru saja membunuh hewan peliharaan sang tuan tanah, semakin mempersulit keadaan. Dengan berat hati akhirnya beliau setuju untuk membantu pasukan itu, hanya saja tidak secara terang-terangan, selain itu Lord Reinbach II juga mengizinkan anaknya untuk pergi bersama mereka.

Sosok Elenor berdiri di dek, menyambut kembalinya Lazlo. Tapi yang disambut tahu, bahwa ada sesuatu yang salah jika Elenor berada di sini.

"Ada apa?"

"Nampaknya Kooluk berhasil menguasai pulau Na-Nal."

Jewel yang berdiri di belakang Lazlo segera berlari ke depan, menabrak pundak Lazlo dalam prosesnya. "APA?! KAU TIDAK BERCANDA KAN?!"

Elenor terlihat sedikit kesal, tapi dia menjawab. "Aku tidak bercanda. Maka dari itu aku ingin Lazlo pergi ke sana dan jika bisa, menarik Na-Nal ke pihak kita."

"Ketua Na-Nal orang yang mudah emosi, akan lebih baik jika aku menemanimu." tambah Lino yang tidak ikut turun ke Middleport.

"Lazlo, aku juga ikut!" Jewel mencalonkan diri secara sukarela untuk menemani Lazlo ke Na-Nal.

"Tentu saja, Jewel, itu kan kampung halamanmu." Lazlo tersenyum.

Elenor sempat melirik Kika yang sedari tadi hanya berdiam diri di anjungan kapal. Kika mengerti arti tatapan Elenor, dia pun menghembuskan nafas sebelum berkata. "Aku rasa kau akan baik-baik saja tanpaku di sana."

Lazlo memutar kepalanya dengan cepat, dan melihat sosok Kika yang tengah bersandar di pagar pengaman sambil melipat kedua tangannya didepan dada, bibirnya terkatup rapat, sementara matanya terlihat begitu awas, rambut pink panjangnya tergerai seperti biasa dan berterbangan karena tertiup angin. Cahaya matahari tenggelam menjadi latar belakangnya. Dan itu adalah, pemandangan terindah yang pernah dilihat oleh Lazlo. Dia sempat terdiam beberapa saat.

"Apa kau yakin, Kika?"

"Ya. Dario akan menggantikan posisiku untuk menemaninya."

"APA? Dario?!" Hervey menunjukan rasa tidak suka, sedangkan yang ditunjuk merasa bangga.

"La, Lady Kika..."

"Keputusanku mutlak, Sigurd. Aku harap kau paham." kata Kika sambil berjalan menuruni tangga.

"Uh, Lazlo, ada apa?" Jewel bertanya dengan bingung.

"Ah, oh," Lazlo tersadar dari lamunannya. "tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu, sekarang kita langsung pergi ke Na-Nal?"

"Ya. Butuh waktu cukup lama untuk tiba ke sana." Elenor menatap Lazlo dengan serius. "Maaf, padahal Razril sudah berada di depan mata."

Lazlo menggeleng. "Tidak apa-apa, aku mengerti."

Setelah semuanya beres, Jewel, Keneth dan Chiepoo langsung menarik lengan Lazlo sampai-sampai dia nyaris terjatuh. "Hei-hei, ada apa ini?!"

Jewel langsung mengunci leher Lazlo agar pria itu tidak kabur. "Kau suka Kika yah?" tanya si gadis berambut silver, membuat yang ditanya berteriak.

"Pertanyaan macam apa itu Jewel?" Lazlo balik bertanya. Air mukanya sempat panik dan kaget untuk beberapa saat.

"Ayo, mengaku saja!" Keneth ikut bicara.

"Iya, iya!" Kali ini Chiepoo.

"ARGH, apa-apaan kalian ini?!" Lazlo melepaskan tangan Jewel. Dan meninggalkan sahabat-sahabatnya sambil menggerutu tidak jelas.

Jewel dan Keneth saling lirik, kemudian tertawa senang.

"Ah, dari dulu Lazlo memang tidak bisa bohong." wajah Jewel memancarkan rasa puas.

"Yup, kau benar." tambah Keneth disela seringainya.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Lazlo menutup pintu yang menghubungkan Saloon di lantai dua dengan dek kapal dengan perlahan-lahan. Langit sudah hitam sekarang, dan Lazlo kembali tidak bisa tidur, disaat yang lainnya sudah terlelap. Dia baru saja mengobrol dengan Nico, yang waktu jaganya akan diganti orang lain. Kemudian dengan Brek dan Django yang mendapat tugas malam untuk mengemudikan kapal serta berjaga-jaga. Mereka menyarankan Lazlo untuk pergi ke dek dan menghirup udara malam, siapa tahu angin malam bisa membuat pria berbandana merah itu mengantuk. Walau dirasa alasan itu tidak begitu masuk akal, Lazlo tetap melaksanakannya.

"Belum mengantuk, huh?" Tanya seorang pria dari belakang.

"Ah, King Lino..."

Lino menggerakan tangannya untuk memberi tanda kepada Lazlo agar dia berhenti bicara. "Aku saat ini bukan raja, kau lah rajanya."

Lazlo tertawa pelan. "Ah ya, kau benar."

Lino berdiri di sebelah Lazlo. "Kau tahu, kau bisa saja menolak untuk pergi ke Na-Nal dan langsung menyerang Razril. Kau memiliki pilihan, Lazlo. Semua orang memiliki pilihan. Tergantung kepada orang itu saja, apakah dia mau mengambil pilihan yang disediakan untuknya atau tidak."

"Pilihan, huh?" Lazlo bergumam. "Kau tahu, ketika Flare memutuskan untuk tetap di Obel. Dia mengatakan hal yang sama sepertimu."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Aku tidak akan mengizinkan kau untuk menggunakan Rune itu lagi!" Lino en Kuldes memotong kalimat Setsu yang memohon kepada Lazlo untuk kembali menggunakan Rune of Punishment untuk mengalahkan tentara Kooluk yang semakin mendekat.

"Tapi Yang Mulia..."

"Setsu!" Omel Flare lantang. "Lazlo, tolong jangan dengarkan kalimat Setsu. Tidak akan ada orang yang memintamu untuk menggunakan Rune itu LAGI!"

"Baiklah, kalau begitu sekarang waktunya kita bersiap-siap untuk pergi." Lino memberi titah.

"Aku akan pergi ke kota dan mengumpulkan penduduk." Flare sudah berlari ketika mengatakan hal itu.

"Hei, Flare, tunggu!" dengan susah payah Lazlo mengejar anak perempuan Lino itu hingga keluar dari gua tempat kapal tersebut disembunyikan.

"Jadi, kita akan mengevakuasi para lansia, wanita serta anak-anak saja 'kan?" Flare sudah berjalan di samping Lazlo. Ia melihat ke arah lautan, wajahnya menjadi tegang saat menyadari bahwa kapal Kooluk sudah dekat. "Kita tidak punya banyak waktu, Lazlo! Ayo!"

Dan keduanya pun membagi tugas dan berpisah di jalan menuju ke istana. Flare bertugas mengumpulkan para lansia, sementara Lazlo anak-anak dan wanita. Tidak semua mau ikut dievakuasi, walau sudah dibujuk berkali-kali. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan penduduk yang besikeras untuk tetap tinggal di Obel, dan berjanji bahwa mereka akan kembali ke Obel.

"Ayo, ayo cepat." Flare menuntun anak-anak berjalan menaiki tangga.

"Tuan, apa anda pacarnya Lady Flare?" tanya seorang anak, membuat Lazlo dan Flare terkejut.

"A, apa maksudmu?" Flare balik bertanya dengan wajah bingung.

"Cuma asal tebak!" jawab anak kecil yang sama.

"Ka, kaliaaaaan!" Flare berlari mengejar anak kecil itu. Lazlo dan beberapa orang tua hanya tertawa melihat pemandangan itu.

Ketika rombongan sampai di tebing, Flare berhenti sesaat. "Lazlo..."

"Flare, apa yang kau lakukan? Kita harus cepat..."

Ia menggeleng. "Aku akan tetap di sini."

"Flare!"

"Semua orang memiliki pilihan, Lazlo. Tergantung orang itu saja, apakah dia mau mengambil pilihan yang disediakan untuknya atau tidak. Dan aku, sudah mengambil pilihanku. Aku akan tetap di sini, bersama dengan rakyat Obel yang tidak mau pergi."

"Tapi, Flare!" Lazlo berjalan selangkah, tetapi langkahnya terhenti karena Flare melepaskan panah ke arah kakinya.

"Berhenti, aku mohon. Kau harus cepat, atau semua ini akan sia-sia, Lazlo." Flare tersenyum. "Aku minta tolong, jaga ayah dan orang-orang di kapal, yah? Maaf, karena aku menyusahkanmu."

"Flare, tunggu!"Lazlo berusaha menghentikan Flare, namun sia-sia. Tunggu, Flare, kami pasti akan kembali untuk kalian semua! Seru Lazlo dalam hati.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Lino tersenyum mendengar cerita Lazlo. "Ah, dia memang mirip seperti ibunya..."

Lazlo terdiam, matanya menatap lurus ke arah bulan yang purnama.

"Aku akan tidur. Dan kau sebaiknya juga tidur, Lazlo. Atau paling tidak, masuk ke dalam atau kau akan masuk angin."

"Ya, baik." Lazlo mengangguk. "Selamat malam, Lino."

Hembusan angin malam menjadi teman Lazlo setelah Lino kembali masuk ke dalam. Ia mengepalkan tangan kirinya sekuat mungkin.

Aku, aku sudah memilih! Bahwa aku tidak akan lari dari takdirku sebagai pemilik True Rune ini. Tidak peduli apa yang akan terjadi kepadaku nanti, aku akan menghadapinya. Bersama dengan sahabat-sahabatku...