Akhirny berhasil update fic ini *nangis bahagia*. Maaf lama updateny, soalny mood saia untuk fic ini tiba2 hilang begitu saja *digebuk*

Anyway, selamat membaca

Suikoden milik Konami, saia cuma minjem


Tale 6 : Goodbye

Agar tidak membuang-buang waktu, Lazlo memutuskan untuk segera berangkat menuju Na-Nal. Untuk memastikan sendiri apakah benar Na-Nal sudah jatuh ketangan Kooluk. Setelah kejadian tadi sore, Kika tidak keluar dari kabinnya di Grishend. Hervey dan Sigrud berada di kapal yang sama, sementara Dario berada di Dauntless, mengingat dia akan ikut ke Na-Nal. Wanita berambut pink itu berdiri di dekat jendela kecil di dalam kabinnya yang ia biarkan terbuka. Sebuah ketukan membuatnya berhenti melamun.

"Ada apa?" ia bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari permukaan laut yang bercahaya karena mendapat sinar dari bulan purnama.

"Aku tidak mengerti sikapmu tadi sore, Kika..."

Kika menghembuskan nafas saat menyadari siapa pemilik suara itu. "Apa yang kau inginkan, Elenor?"

"Teman untuk mengobrol." terdengar suara botol saling beradu. "Aku punya minuman yang cukup enak, dan rasanya sayang jika aku sendiri saja yang minum."

"Kenapa kau tidak mengajak Lino?"

Elenor menarik kursi tanpa dipersilahkan oleh Kika. "Ada apa? Katakan yang sesungguhnya, Kika."

Kika menghela nafas, nampaknya sikap acuh tak acuhnya tidak berpengaruh untuk Elenor. Ia pun menyerah. "Mengenai apa?"

Sebelum menjawab, Elenor menuang minuman tersebut ke gelas yang ia bawa. "Alasan atas sikapmu tadi sore."

Kika ikut duduk, tetapi dia menolak minuman yang ditawarkan Elenor. "Tidak ada alasan khusus."

"Merindukan Edgar?"

Wajah Kika sempat membeku beberapa saat, tetapi Kika berhasil kembali mengendalikan emosi. "Aku tidak mengerti. Apa maksudmu?"

Yang ditanya hanya mengangkat bahu dan menunjukkan sikap acuh sambil kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong. Membiarkan Kika terus menatapnya dengan tatapan penasaran, namun wanita berambut cokelat itu tidak memberi jawaban apa-apa, dan sibuk minum. Kika merasa kesal, dan berjalan keluar dari kamarnya. Dia hanya bisa berharap bahwa keputusannya untuk menyuruh Dario menemani Lazlo tidak salah. Setidaknya ada Jewel. Kika tahu dia bisa mengandalkan Jewel untuk meredam emosi Dario dan Lino yang menggebu-gebu.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Hari sudah hampir sore, tetapi belum muncul tanda-tanda dari Lazlo dan mereka yang turun tadi pagi. Beberapa kru Dauntless menjadi gelisah. Tetapi Elenor masih terlihat tenang, dan mengatakan bahwa mereka harus percaya kepada Lazlo dan yang lainnya dengan menunggu sedikit lebih lama. Karena sifat chief yang keras kepala, mungkin butuh waktu yang lebih untuk membuat mereka bergabung.

.

.

.

.

Beberapa waktu yang lalu...

"Lazlo, apa kau gila?!" bentak Jewel ketika Lazlo menerima tawaran pemimpin Na-Nal untuk meminjam sebuah penawar racun dari para Elf yang tinggal di sisi lain pulau ini.

"Tapi Jewel, kita harus melakukannya."

"ARGH!" Jewel menarik rambutnya karena frustasi. "Dia pasti memiliki rencana tersembunyi di balik semua ini!"

"Hei, nona. Kalau kau tidak mau ikut, lebih baik jangan berisik!" Dario angkat bicara. Dia sedikit kesal karena harus berada di dalam penjara (atau yang disebut sebagai 'penginapan' oleh Chief). Bukannya Dario tidak pernah dipenjara, hanya saja, berada di dalam sel dengan tiga orang yang saling adu mulut, membuatnya sedikit pusing. Mungkin ini juga karena sebelum berangkat tadi dia sempat minum beberapa gelas, walau sudah dilarang oleh Kika.

Lazlo menghembuskan nafas. "Jewel, tenanglah. Kita hanya akan meminjam, bukannya merampok."

"Lazlo, kau pasti..."

"Ok, ok, aku rasa ini sudah lebih dari cukup." Lino berusaha menengahi adu mulut antara Jewel dan Lazlo. Tindakannya ini mendapat tatapan tajam dari Jewel, dan tatapan terima kasih dari Lazlo. "Kalian dengar kan apa kata Chief? Kita harus segera tidur agar nanti malam kita bisa pergi ke tempat para Elf."

"Dan orang macam apa yang bertamu pada larut malam?" gerutu Jewel.

"Jewel..." Lazlo hanya bisa memandang pasrah sahabatnya ketika dia memilih untuk tidur di salah satu pojok ruangan.

Hari sudah semakin malam ketika mereka berempat keluar dari penjara, seorang penjaga mengatakan bahwa mereka harus cepat. Jewel hanya memutar bola matanya, tapi paling tidak sekarang dia sudah tidak menggerutu lagi seperti sebelumnya, dia berjalan paling belakang.

"Itu dia," gumam Lazlo ketika melihat sebuah botol berwarna hijau yang berada di tengah-tengah ruangan besar yang mereka masuki.

"Ini, terlalu, mudah..." kata Lino.

"Sudahlah, yang penting kita sudah dapat apa yang kita inginkan!" teriak Dario. "Ayo cepat berikan obat itu kepada Chief, agar dia segera bergabung dengan kita."

Terbesit rasa ragu sebelum Lazlo mengangkat botol tersebut, tetapi dia harus melakukan ini. "Tidak akan lama, kami pasti akan mengembalikannya." ucap Lazlo.

.

.

.

.

Matahari pagi sudah nampak saat Lazlo dan kawan-kawan keluar dari wilayah Elf. Terlihat beberapa prajurit Kooluk tengah berpatroli, entah apakah mereka menyadari kehadiran Lazlo atau tidak. Tapi semoga saja tidak, agar mereka bisa tiba ke rumah Chief tanpa harus bertarung di tengah kota.

Seorang prajurit Kooluk terlihat sedang bercakap-cakap dengan Chief ketika rombongan Lazlo tiba, Lazlo sempat menaikkan sebelah alisnya. Apakah yang dikatakan Jewel betul? Bahwa Chief tengah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan mereka?

"Wah-wah, ternyata kau memang benar-benar seorang pemimpin pemberontak, huh?" Chief bertolak pinggang. "Nah, sekarang berikan aku obat itu."

"Lazlo, jangan..." bisik Jewel frustasi.

Ketika Lazlo ingin menggerakkan tangannya ke depan, teriakan penduduk dari luar membuat gerakannya terhenti.

"Ada apa?" tanya Chief bingung.

Lima prajurit Kooluk masuk menerobos pintu rumah Chief. "Kau telat! Sekarang berikan obat itu!"

Wajah Chief berubah menjadi pucat pasi, ketika prajurit di dekatnya ingin melukainya, Axel yang berdiri tidak jauh dari ayahnya langsung melindungi sang ayah. "Ayah!"

"Cih, dasar kalian semua menyebalkan! Bunuh mereka!"

Lazlo yang awalnya bingung dengan apa yang sedang terjadi memutuskan untuk membantu Axel melawan tentara Kooluk. Meski mereka berlima, mereka tetap kalah jumlah. Dalam keputus asaan, Lazlo ingin menggunakan Rune miliknya, Jewel dan Lino melarangnya, dan bersumpah bahwa mereka pasti bisa menang tanpa bantuan Rune milik Lazlo sekalipun.

"Uaaaaaaaaaaaaa!" seorang prajurit yang menggunakan panah terpental jauh ke belakang hingga tubuhnya menghantam tembok rumah Chief. Ternyata yang menendang prajurit itu adalah Selma, Elf yang tinggal di Na-Nal.

"Dasar kalian manusia bodoh! Sudah berapa kali kami katakan, Kooluk tidak pernah datang secara baik-baik. Mereka pasti menginginkan sesuatu!"

Semua yang ada di ruangan terkejut melihat sosok Selma. Apakah ini hanya ilusi? Tapi nampaknya tidak, ini nyata. Para Elf membantu manusia...

"Sekarang waktunya serangan balasan!" teriak Lino sambil berlari ke luar.

Selma melirik ke arah Lino sesaat, kemudian beralih ke sosok Chief yang terjatuh. "Kami para Elf akan membantu kalian."

"Tapi, tapi kenapa...?" tanya Chief dan Axel bersamaan.

"Pulau ini bukan hanya milik manusia, kau tahu? Kami para Elf juga memiliki kewajiban untuk melindungi pulau ini dari serangan musuh."

Lazlo tersenyum bahagia. Sebab dia yakin, semua akan baik-baik saja mulai sekarang. Para penduduk Na-Nal akan bekerja sama dengan para Elf yang tinggal di sini. Dan semoga, mereka mau bergabung untuk melawan Kooluk.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Hum, jadi ada tanda bahwa dulu ada Rune dengan kekuatan yang sangat besar bersemayam di sini?" seorang pria berambut agak kecokelatan berdiri di dekat sebuah batu nisan.

"Ya benar, Sir Troy." jawab si Rune Master yang dibawa khusus dari Kooluk.

Troy menghembuskan nafas. "Berarti apa yang terjadi di Razril waktu itu benar. Orang itu tidak memberikan informasi yang salah..."

"Hei, bisa tolong jelaskan apa yang kau lakukan?!" Flare berteriak dari belakang.

Troy memutar tubuhnya, dan menatap lurus ke mata Flare. Membuat sang tuan putri sedikit ketakutan. Belum pernah sebelumnya dia melihat tatapan setajam ini.

"Seperti yang anda lihat, saya sedang meneliti mengenai True Rune yang pernah ada di Obel."

"Rune of Punishment memang pernah ada di sini, bertahun-tahun silam! Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, jadi bisa tolong kau pergi dari sini?"

Rune Master yang sedari tadi diam akhirnya bergerak, dia mengarahkan tangannya ke Flare.

"Hentikan." perintah Troy. "Jika kau melukai dia, aku akan membuatmu menyesal."

Sang Rune Master menurunkan tangannya sambil menggerutu.

Troy menghembuskan nafas. "Tentu saja aku tidak bisa melakukan itu. Jangan pernah berkata yang tidak-tidak." dia berjalan ke arah pintu keluar. "Aku tidak suka dengan kekerasan, tapi jika kau tidak bisa diajak kerja sama, aku tidak akan segan-segan untuk menyakitimu." ucapnya dingin.

Flare terdiam. Dia tahu itu bukan sekedar gertak sambal. Dia tahu bahwa Troy akan melakukan apa yang dikatakan tadi.

"Kita kembali ke istana sekarang." Troy memberi perintah. Diliriknya Flare yang masih mematung. "Tapi aku harap, aku tidak harus menyakitimu."

Flare hanya bisa menatap punggung Troy yang terlihat semakin menjauh darinya.

.

.

.

.

.

"Ah, jadi begitu yah?" Elenor yang sedang mengamati peta di atas mejanya mengangguk. "Aku punya firasat bahwa hal itu akan terjadi."

"Dan kenapa kau tidak mengatakannya kepada kami?" Lino sedikit marah.

Elenor mendelik. "Aku tidak punya bukti apa-apa mengenai firasatku. Niat kita baik, dan aku tidak bisa memberikan sebuah rencana yang berdasarkan perasaanku semata."

"Sudah-sudah, yang penting sekarang kita sudah tidak apa-apa kan?" Lazlo berusaha mengakhiri argumen antara sang raja dengan tacticiannya.

Lino tidak bicara apa-apa dan langsung keluar.

"Kau lebih baik beristirahat, Lazlo." Elenor berkata. "Dan, kerja bagus membuat para Elf juga mendukung kita. Besok kita akan merebut Razril, dan itu bukan hal yang mudah."

Lazlo mengangguk, kemudian undur diri. Dia melirik ke arah kamarnya yang terletak tidak jauh dari kamar Elenor, tetapi hatinya memerintahkan untuk pergi ke tempat lain. Dan Lazlo mengikuti kata hatinya. Toh dia juga belum terlalu lelah, jadi belum saatnya untuk tidur. Dia turun ke bawah, melihat pintu War Room terbuka sedikit. Penasaran siapa yang ada di dalam, Lazlo melangkah ke sana. Dia melihat Lino tengah berdiri memunggungi pintu masuk. Lazlo menutup pintu, membuat Lino menyadari kehadiran orang lain di ruangan ini.

Tiba-tiba sesuatu menghantam kapal, menyebabkan guncangan yang sangat hebat. Dua pria yang berada di War Room nyaris kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

"A, apa itu tadi?!" teriak Lino.

Mereka langsung berlari menuju dek untuk melihat apa yang terjadi. Dengan kasar Lino membuka pintu menuju dek, dan berteriak dengan lantang. "Hei, tadi itu apa?"

"Ada sebuah kapal yang muncul entah dari mana dan menabrak sisi portside!" Nico menjawab dari menara pengawas.

"Yang benar saja..."

Lazlo mengedarkan pandangannya, kabut menyelimuti kapal mereka. Dan ya, ada kapal lain. Ia berlari mendekati beberapa orang yang berkerumunan di dekat tepi kapal yang bersebelahan dengan kapal yang menabrak kapal mereka.

"Lazlo, apa yang akan kita lakukan?" tanya Hervey.

Yang ditanya mengepalkan tangan.

"Mereka cari masalah!" teriak Lino dari belakang Lazlo. "Kita harus melihat siapa yang bertanggung jawab atas semua ini. Bagaimana, Lazlo? Kita pergi ke kapal itu. Jika berbahaya, kita bisa kembali lagi."

"Ya, aku rasa kita harus pergi dan melihatnya."

"Aku dan Lazlo akan pergi..."

"Aku juga," sela seseorang.

Semua melihat sumber suara. Yang tidak lain adalah Kika.

Sigurd menolak keputusan kaptennya. "Tapi, Lady Kika. Kita tidak tahu apa-apa tentang kapal itu, dan..."

"Justru karena kita tidak tahu apa-apa mengenai kapal itu, kita harus mencari tahu." Kika berkata. "Bagaimana, Lazlo?"

Sebetulnya dia masih sedikit risih berada di dekat Kika, semenjak waktu dia melihat Kika di dek kapal setelah mereka merebut Middleport. Tapi jika dia menolak Kika sekarang, dia tidak punya alasan cukup kuat untuk melakukannya. Akhirnya Lazlo mengangguk setuju.

Mereka bertiga berdiri dengan tegap, dari kapal lainnya muncul sesosok berjubah. Tidak tahu apakah dia manusia atau monster, jubahnya menutupi seluruh tubuhnya.

"Mari, kapten telah menunggu..."

Ketiganya saling tatap, sebelum akhirnya mengikuti sosok berjubah itu memasuki kapal misterius yang menabrak mereka.

.

.

.

.

.

Entah apakah memang ada kapal sebesar ini di luar sana, atau hanya perasaan saja. Rasanya bagian dalam kapal ini seperti bagian dalam sebuah gua atau sejenisnya, begitu gelap dan dingin. Hanya memiliki satu jalur, dan di pinggirnya merupakan jurang yang seolah tidak memiliki dasar, begitu dalam. Satu-satunya sumber cahaya hanya obor yang dibawa oleh sosok berjubah di depan mereka. Tidak ada yang berkata apa-apa, semua sibuk dengan pikiran masing-masing, atau terlalu segan untuk menyuarakan pikiran mereka. Setelah melawan monster yang menghalangi langkah mereka, sosok berjubah yang memandu mereka bertanya.

"Kutukanmu, Rune of Punishment. Pernah kau bertanya 'Kenapa aku?'"

Lino dan Kika melemparkan pandangan ke Lazlo yang berdiri di depan mereka. Entah bagaimana ekspresi wajah pria itu.

Lazlo menghirup udara baru sebelum membuang yang lama. "Terkadang aku pernah bertanya-tanya seperti itu. Tapi..."

Belum selesai kalimat Lazlo, sosok berjubah sudah kembali berjalan. Lazlo yang terkejut akhirnya hanya bisa mengikuti sosok berjubah itu. Hatinya sedikit gundah dengan jawabannya sendiri. Apakah itu benar? Tapi, dia tidak mau munafik. Terkadang dia pernah bertanya seperti itu. Kenapa harus dia? Dua teman perjalanannya tidak mengatakan apa-apa sebagai reaksi dari jawaban barusan. Entah apakah itu pertanda baik atau buruk.

Semakin masuk ke dalam, muncul benda aneh yang melayang di udara. Benda itu berada di pinggir, mengeluarkan cahaya yang tidak terang. Monster-monster di sini lumayan kuat, tetapi bukan masalah bagi mereka bertiga. Setelah sekian lama tidak ada percakapan apa-apa, sosok berjubah kembali mengajukan pertanyaan.

"Bukankah kau sudah kehilangan banyak karena Rune itu?"

Lazlo tersentak mendengar pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang selalu ia hindari, tetapi pada akhirnya akan selalu kembali kepadanya. Dia tersenyum. "Ya, memang. Tapi aku tidak bisa lari dari takdirku."

"Kau bilang, takdir?"

"Ya. Aku sudah menganggap bahwa Rune ini adalah takdirku. Dan aku tidak bisa lari darinya," Lazlo berhenti sejenak. Dia menatap lurus ke arah sosok berjubah di depannya. Dia tidak tahu apakah sosok itu bisa melihat sorot matanya yang penuh dengan keyakinan. "Meski pun bisa, aku tidak mau. Karena aku telah menetapkan hatiku. Rune ini adalah takdirku, dan aku tidak akan kabur dari takdir yang telah ditetapkan untukku."

Sosok berjubah itu tidak bicara apa-apa lagi dan kembali berjalan. Lino akhirnya tidak bisa menjadi bisu terus-terusan, dia bicara.

"Apa maksudnya ini? Sebuah tes atau apa?"

Lazlo menoleh, dia tersenyum sambil mengangkat bahu.

"Kita akan mengetahuinya nanti. Lebih baik untuk sekarang kita terus berjalan." Kika angkat bicara. Lazlo mengangguk setuju dan mereka kembali berjalan.

Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan yang cukup besar, dan nampaknya ruangan ini adalah bagian ujung dari jalan yang mereka lalui barusan.

"Kita sudah sampai," sosok berjubah itu berkata. "Kapten sudah menunggu."

Lazlo menajamkan matanya, berusaha mencari sosok yang dipanggil 'kapten'. Tapi dia tidak melihat apa-apa, selain gumpalan hitam di ujung sana. Gumpalan hitam, yang semakin mendekat... Secercah cahaya dari obor berhasil menyinari sebagian sosok sang kapten. Yang ternyata berwujud seperti monster melayang-layang di udara. Yah, seharusnya tidak mengejutkan kan? Meingat kondisi kapal ini.

"Kau, yang memiliki Rune terkutuk. Ikutlah denganku, maka kau akan terbebas dari semua penderitaan."

"Apa... Apa yang dia katakan?" Lino maju selangkah.

Tangan kapten terus bergerak, seolah mengajak untuk ikut dengannya. "Ikut denganku di kapal ini. Dimana waktu tidak menguasai kita. Di kapal ini, kita abadi."

Hawa dingin langsung menyergap Kika, tubuhnya mengigil. Gigi Kika bergemeletuk saat sadar bahwa kapten kapal ingin mengajak Lazlo, dan itu tidak bagus. "Lazlo..."

Yang menjadi pusat perhatian maju satu langkah, kedua tangannya terkepal di samping. Dia mengangkat kepalanya sedikit agar bisa melihat wajah sang kapten. "Jika aku ikut denganmu, hidupku tidak akan berakhir?"

Lino dan Kika terkejut mendengar kalimat Lazlo.

"Ya." Terdengar rasa puas dari suara sang kapten. "Bagaimana?"

"Aku..." Lazlo berhenti sejenak. "Tidak akan pernah mau hidup di sini selamanya!" Ia menarik senjatanya keluar dan mengarahkannya ke kapten kapal.

Lino menghembuskan nafas lega, begitu juga Kika.

"Dasar bocah!" Lino menyengir lebar sambil meletakkan satu tangan di pinggangnya.

Kika menundukan wajahnya. "Aku kira kau akan menerima tawarannya."

Lazlo tertawa, ia menurunkan senjatanya ke samping. "Tentu saja itu tidak mungkin. Aku sudah memantapkan hatiku untuk menerima takdirku."

"Kau... menolak tawaranku?" Kapten kapal berbicara. "Sungguh disayangkan..."

"Aku juga, akan meninggalkan tempat ini..." Sosok berjubah itu bersuara.

"Apa tadi yang kau katakan? Ted..."

Tiga orang itu langsung menatap sosok berjubah yang tengah membuka jubahnya. Ternyata dia seorang pria, paling tidak dilihat dari postur tubuhnya. Pria itu membuang obor yang sedari tadi dia pegang ke bawah.

"Melihat mereka... Membuatku tersadar setelah sekian lama... Tidak, bahkan mungkin untuk pertama kalinya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk sekali lagi menghadapi takdirku." Pria yang dipanggil Ted oleh kapten kapal menoleh ke arah Lazlo dan yang lainnya. "Jadi, apakah kau akan mengembalikan Rune terkutuk itu kepadaku? Soul Eater..."

"Bodoh... Kau lupa siapa yang mengizinkanmu masuk ke kapal ini... Aku tidak akan melepaskan Rune ini!"

Semua segera mengambil senjata mereka begitu sadar bahwa kapten kapal tidak akan mengizinkan mereka untuk keluar dari sini hidup-hidup. Kapten kapal menyerang duluan, dia melesatkan sebuah bola api ke arah Lazlo dan kawan-kawan, mereka berhasil menghindar, tetapi kelompok jadi terbagi dua karena api membara di antara mereka. Lazlo dengan Kika, sementara Lino dengan Ted.

"Sial, belum apa-apa!" Lino berlari ke arah kapten kapal.

"Lino, tunggu!" Lazlo berusaha menghentikan Lino, tetapi terlambat. Pria itu sudah berlari cukup jauh. Ia menghunuskan tombaknya ke arah kapten kapal, tetapi hal itu membuatnya terpelanting cukup jauh ke belakang.

"Bodoh. Kalian kira serangan biasa akan mempan terhadapku?" Seketika itu kabut bermunculan, membuat jarak pandang semakin pendek.

Kika yang baru berdiri berdecak kesal karena dikelilingi oleh kabut. Ia mencabut senjatanya dan mempertajam seluruh indranya. Ia berputar sambil terus mengamati keadaan sekitar dan berusaha menemukan temannya. Tetapi tidak ada tanda apa-apa dari mereka, Kika berdecak. Matanya menangkap sebuah sosok. "Lazlo, apa itu kau? Lino?"

Tidak ada jawaban, tetapi terdengar suara langkah kaki mendekat. Kika memperketat pertahanannya. Genggaman di senjatanya semakin erat. Jantung wanita itu nyaris berhenti ketika melihat sosok seorang pria berambut hitam berdiri tidak jauh darinya. Jubah warna merah yang ia kenakan berkibar. Kika ingin memanggil pria itu, namun mulut Kika serasa kaku, dia tidak bisa menggerakkannya.

"Halo, Kika..." Sapa pria itu.

Dengan susah payah, Kika menyebutkan nama pria itu. Nama pria yang sangat dia rindukan... "Ed... Edgar..."

"Apa kabarmu, Kika? Bagaimana kabar yang lain? Kau baik-baik saja kan?"

Kika tidak bergerak dan tidak menjawab. Apa ini nyata? Atau hanya bayangan seperti yang terjadi di tempat Elenor dulu?

Sosok Edgar mengulurkan tangannya. "Ayo ikut denganku, Kika..."

Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Kika, wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar.

"Ikut denganku, dan kita akan selalu bersama."

Kika mengendurkan pegangannya di gagang pedangnya. Bersama. Bersama dengan Edgar.

"Bersama dalam keabadian." Edgar tersenyum. Tetapi itu bukan senyum yang biasa Edgar tunjukkan kepada Kika. Itu senyum orang lain. "Di kapal ini..." Sosok Edgar berlari dengan cepat ke arah Kika yang masih mematung.

Sadar bahwa lawan bicaranya bukan Edgar yang asli, Kika berhasil mengendalikan emosinya dan menahan serangan dari Edgar. "Kau, kau bukan Edgar! Edgar yang aku kenal... Edgar yang aku kenal sudah mati!" Teriak Kika dengan berlinang air mata.

"Ho," Edgar menatap Kika dengan tatapan merendahkan. "akhirnya kau sadar juga!" Seketika itu tubuh Edgar diselimuti oleh kabut, dan berubah menjadi sosok kapten kapal. Kika terkejut saat melihat perubahan itu. "Aku kira jika berhasil membujukmu untuk bergabung denganku, dia mau ikut juga."

Kika mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk menahan tangan kapten kapal yang mengincar kepalanya. Tapi dia kalah kuat, kekuatannya tidak berarti apa-apa dihadapan sang kapten kapal.

"KIKAAA!" Dari samping terdengar derap langkah kaki. Tidak butuh waktu lama untuk sosok Lazlo muncul, dia menebas kapten kapal, yang ternyata hanya ilusi.

Seketika itu Kika terjatuh di atas kedua lututnya. Seluruh energinya seolah baru saja diserap.

Lazlo langsung berlari ke arah Kika. "Kika, kau tidak apa-apa kan?" Ia menyentuh kedua pundak Kika.

Dengan mata berkaca-kaca dia melihat sosok Lazlo di hadapannya, tubuhnya setengah menunduk. Dia terlihat cemas. Tapi kenapa? "Apa yang, terjadi...?"

"Kapten kapal menggunakan ilusi untuk membuat kita bingung. Aku berhasil lolos darinya, dan kemudian aku melihatmu diserang oleh kapten kapal." Lazlo membantu Kika berdiri. "Kau sudah tidak apa-apa? Lino dan Ted sedang bertarung melawan kapten kapal yang asli."

Kika menghembuskan nafas. "Aku tidak apa-apa."

"Baiklah, ayo!"

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Matahari senja muncul dari sebelah barat, mengubah langit biru menjadi penuh dengan warna jingga dan oranye. Kapal berkabut yang menyerang Dauntless sudah menghilang setelah Lazlo dan kawan-kawan mengalahkan kapten kapal. Ted setuju untuk bergabung karena dia merasa berhutang kepada Lazlo. Semua kembali seperti sedia kala...

Tapi tidak untuk dia... Yang sedang berdiri di ujung dek.

Kika menatap permukaan laut dengan tatapan kosong, pikirannya masih terjebak di kejadian saat ia melihat sosok Edgar untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini, dia bisa mengatakannya. Edgar yang dia kenal... Sudah lama tewas... Kika merasa beban yang selama ini dia tanggung menghilang, dan kesedihan menghampirinya. Kesedihan yang sama ketika dia melihat peti dengan jubah Edgar di atasnya di Nest of Pirate beberapa tahun silam.

"Aku senang ketika kau kembali kepadaku..." Kika berbisik kepada dirinya sendiri. "Tapi sekarang, aku yang harus pergi." Ia mengangkat wajahnya. "Selamat tinggal, Edgar. Aku, aku harus menyambut masa depanku." Kika tersenyum tulus.

Tidak ada suara selain nyanyian lautan dan hembusan angin.

Dari belakang terdengar langkah kaki. "Ummm, kau baik-baik saja, Kika?"

Yang ditanya memutar tubuhnya. Dia melihat sosok Lazlo berdiri di sana. Wajahnya terlihat khawatir. Sama seperti ketika Kika pertama kali melihat bayangan Edgar di tempat Elenor, sama seperti ketika kapten kapal menggunakan ilusi untuk menciptakan sosok Edgar di kapal berkabut barusan.

Lazlo yang sekarang, sudah mulai beranjak dewasa seiring dengan waktu yang mereka lalui.

Mungkin, hanya mungkin, Lazlo yang dilihat Kika sekarang bukan hanya sekedar Lazlo...

"Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih untuk bantuanmu, Lazlo."

Yang diberi ucapan terima kasih terkejut, wajahnya memerah. Dia merasa ada yang berbeda dari Kika yang sekarang dengan Kika yang sebelumnya. Dia, Kika yang sekarang, terasa lebih, bebas?

"Hoooooi, Lazlo, kau harus cepat istirahat!" Lino berteriak dari anjungan. "Besok kita akan merebut Razril! Kali ini pasti!"

Lazlo memutar tubuhnya dan melambaikan tangan. "Iya, aku tahu!" teriaknya.

Kika melihat punggung Lazlo yang terkena terpaan sinar matahari tenggelam. Setelah ini, semuanya tidak akan sama lagi...

Selamat tinggal, Edgar...