Wanted: Devil by Xrenity

Chapter 2

-ChapterStart-

Sudah seminggu sejak 'latihan' pertama Naruto dengan Dragon. Naruto bisa bilang, Dragon sangat brutal dalam mengajar, seperti yang bisa dilihat saat pertama kali Dragon mengetes Naruto. Walaupun menghormati Dragon, Naruto masih sedikit tidak bisa memaafkan orang itu karena kata-katanya.

Ia kini sudah bisa mendasari ketiga Haki. Walaupun tidak selevel dengan Haki milik Dragon, kecepatan Naruto memasteri dasar Haki bisa dibilang sangat cepat, karena orang biasa membutuhkan berbulan-bulan untuk memasteri dasarnya.

Dragon sedikit terkejut ketika disaat salah satu sesi latihan mereka, Naruto mengeluarkan Haoshoku Haki secara tidak sadar. Haki yang hanya bisa digunakan untuk beberapa orang.

Salah satu alasan kenapa Naruto cepat memasteri Haki adalah, kemiripannya dengan Chakra yang memgalir di dunianya. Naruto familiar dalam menggunakan Chakra, walaupun ia masih 5 tahun, karena ia harus menggunakannya untuk selamat dari kerumunan orang yang sangat ingin membunuhnya.

Karena ia sudah memasteri dasar Chakra, memasteri dasar Haki menjadi lebih mudah. Walaupun begitu, ini masih dasar. Naruto masih sangat jauh untuk memasteri Haki.

Selama seminggu ini, Naruto juga mencoba untuk memakai Chakra. Ia kira ia tidak akan bisa melakukannya, karena ia sekarang mempunyai Haki, tapi betapa terkejutnya ia ketika ia menyadari ia masih bisa melakukan Chakra. 3 teknik dasar Ninjutsu, Henge, Bunshin dan Kawarimi dengan mudah ia lakukan.

Entah kenapa, memasteri dasar Haki, membuat control Chakra Naruto lebih bagus dan membuat Naruto lebih mudah untuk memakai Chakra. Naruto tidak tahu kenapa, tetapi ia mempunyai teori kalau Chakra dan Haki miliknya terhubung.

Karena ini sudah seminggu, Dragon sayangnya harus pergi dari Ohara. Sebelum meninggalkan Ohara, Dragon memastikan untuk memberi Naruto instruksi untuk memasteri Haki-nya. Dragon juga menyarankan untuk melihat di perpustakaan soal Haki, karena Dragon yakin, perpustakaan terbesar di dunia pasti mempunyai buku soal Haki.

Setelah seminggu itu, hidup kembali normal. Yang berbeda hanyalah, sekarang ia menjadi sangat giat berlatih. Dengan Haki atau Chakra, Naruto mencoba bertarung dengan kombinasi dua energi itu. Tetapi tanpa seorang guru, semuanya menjadi lebih susah karena ia harus mencari tahu semuanya sendiri. Ia tidak yakin ada orang di Ohara yang bisa mengajarkannya bertarung. Ohara adalah pulau terpencil yang damai. Hanya terkenal karena perpustakaannya. Pulau ini tidak menarik perhatian banyak Bajak Laut maupun Angkatan Laut. Karena itu, tidak ada orang yang bisa melatihnya dalam bertarung.

Karena pekerjaan Olvia yang membuatnya jarang ada di rumah, Naruto lebih menghabiskan waktunya menjaga Robin daripada latihan. Kadang mengajak Robin jalan-jalan, dan membiarkan Robin melihatnya selagi ia latihan.

Naruto menghela nafasnya sambil tersenyum. Ia sedang berada di kamar Robin, menyuapinya makanan sementara Robin membaca salah satu buku cerita yang selalu dibawakan oleh Olvia.

Melihat semuanya sangat sempurna ini, membuat Naruto mengingat masa-masanya sebelum bertemu dengan Olvia. Ia tidak tahu Dewa mana yang memberikannya kebaikan ini... Tapi, ini adalah hadiah terbaik yang pernah ia dapatkan. Sebuah keluarga.

"Onii-chan,"

Suara panggilan Robin mengalihkan perhatiannya.

"Mmhm?" Gumamnya, selagi menyuapkan Robin makanan lagi. Robin membuka mulutnya dan memakan makanan yang disuapi Naruto lagi.

"Awa vita gia he verpusakan hanti?"

Naruto terkekeh mendengar itu. "Jangan berbicara selagi mulutmu penuh, Imouto."

Robin cemberut sedikit mendengar nasihat dari Naruto. Ia tahu itu! Ia tidak perlu dinasihati. Ia sudah besar!

Menelan makanannya, Robin melihat kearah Naruto sambil memberi glare.

"Apa kita bisa ke perpustakaan nanti?" Tanya Robin lagi, kali ini lebih jelas.

Naruto tersenyum. Ia kemudian mengusap-ngusap rambut Robin. "Tentu saja," Jawabnya. "Aku tidak bisa tidak menuruti permintaan Imouto-ku tersayang, bukan?" Naruto melanjutkan, senyuman besar di wajahnya.

Pipi Robin bersemu merah sambil memberikan senyuman besar ke Naruto.

"Kau yang terbaik, Onii-chan!"

Naruto terkekeh mendengar itu. Ia mengusap rambut Robin lagi, setelah itu kembali menyendok makanan Robin dan membawanya ke mulut Robin.

"Tapi kau harus menghabiskan makananmu dulu, jangan lupa itu."

Robin hanya memberikan Naruto senyuman besar, dan memakan makanan suapan Naruto.

"Apa.. Apa Kaa-chan akan ada di perpustakaan?" Robin bertanya, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

Naruto menghela nafasnya. Akhir-akhir ini Olvia sangat jarang ada di rumah, sangat sibuk dengan pekerjaannya. Olvia tidak mengabaikan mereka berdua, tetapi karena pekerjaannya, ia harus selalu meninggalkan mereka berdua. Naruto selalu melihat wajah sedih Olvia jika pekerjaan Olvia harus membawanya ke pulau lain.

"Sepertinya tidak," Jawab Naruto pelan. Wajah Robin terlihat sedih, tetapi Naruto memberikan senyuman menenangkan kepada Robin. "Tetapi tenang saja, ia akan pulang besok pagi. Jika kau tidur cepat nanti, mungkin besok ketika kau bangun Kaa-san sudah pulang."

Robin tersenyum, moodnya kembali ceria lagi. Senyuman kakaknya adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya ceria ketika ia sedang sedih.

-LineBreak-

"Ohoho! Naruto-kun dan Robin-chan! Kesini lagi?"

Naruto dan Robin tersenyum kepada pria eksentrik di depan mereka ini. Clover-san adalah salah satu staff perpustakaan ini. Ia adalah pria yang baik, dan sangat pintar juga. Ia selalu bersedia membantu Naruto dan Robin.

"Kalian berdua ingin buku tentang apa? Aku akan mencoba membantu kalian menemukannya!" Serunya semangat.

Robin tersenyum lebar. "Clover-san! Aku ingin buku tentang Arkeologi lagi!" Robin berseru semangat, membuat Naruto dan Clover terkekeh atas keantusiasannya.

"Ah, Arkeologi lagi? Ma, Robin-chan! Semakin hari kau semakin mirip dengan Ibumu!" Serunya.

Robin mengangguk dengan tersenyum lebar. "Aku ingin menjadi arkeologis hebat seperti Kaa-chan!"

Naruto mengusap rambut adiknya dengan senyuman bangga karena mimpi adiknya, sementara Clover terkekeh, melihat sifat Robin makin lama makin seperti Olvia.

"Hmm, baiklah kalau begitu!" Clover-san berseru. "Karena kau sudah menyelesaikan Arkeologi Volume 1, mungkin ini saatnya kau membava Volume 2! Arkeologi Volume 2 ada di lantai satu, Seksi 1, Rak A." Mendengar itu, Robin langsung menuju ke tempat yang dikatakan oleh Clover, sudah familiar dengan sistem penamaan perpustakaan.

Clover kemudian mengalihkan perhatiannya kearah Naruto, "Dan untukmu, apa ada suatu buku yang ingin kau baca, Naruto-kun?"

Naruto membuat ekspresi berpikir. Saran Dragon untuk mencari buku tentang Haki mulai muncul di pikirannya.

"Apa ada buku tentang Haki?" Tanya Naruto sambil memiringkan kepalanya.

Mendengar kata 'Haki' dari mulut Naruto, mata Clover melebar. Terkejut kalau Naruto mengetahui tentang Haki. Haki bukanlah suatu rahasia, tetapi itu bukanlah pengetahuan umum juga.

"Darimana kau tahu itu?" Tanya Clover, aura cerianya hilang.

Naruto terdiam. Memikirkan bagaimana untuk membalasnya. Ibunya, Olvia sudah mengatakan kepada Naruto untuk tidak berbicara kepada orang lain soal Dragon, karena Dragon adalah salah satu kriminal yang paling dicari di dunia. Naruto tidak tahu kenapa Dragon adalah seorang kriminal. Walaupun begitu, orang itu terlihat baik.

Menghela nafasnya, Naruto memikirkan respon yang ia pilih.

"Kaa-san menceritakannya padaku. Aku hanya penasaran." Naruto menjawab singkat.

Clover mengangguk. "Ah, baik baik! Jarang sekali ada yang mencari buku tentang itu, jadi bukunya mungkin sangat berdebu." Clover kemudian mengusap-ngusap dagunya, mencoba mengingat dimana buku seperti itu berada. "Jika tidak salah, itu terletak di lantai 3, seksi 32, Rak L. Seksi itu penuh dengan buku tentang energi, perang, pertarungan dan sebagainya. Jika tidak ada di rak itu, pasti ada di sekitar seksi itu."

Naruto mengangguk mengerti, merasa tidak sabar ketika mendengar seksi itu penuh dengan perang, pertarungan dan semacamnya.

Mungkin ini karena darah Shinobinya, tetapi Naruto selalu tertarik dengan apa yang namanya peperangan. Saat dia di Konoha, ia menghabiskan waktunya membaca sejarah peperangan dunia. Saat zaman Peran antara Klan, sampai Perang Dunia Shinobi ke-3, ia dengan senang membaca semuanya.

Naruto tidak tahu apa yang membuatnya, anak kecil seperti dia, sangat tertarik membaca buku soal perang. Naruto selalu tahu ia bukanlah anak 5 tahun yang normal, hidupnya sebagai seorang monster adalah contohnya. Tidak ada anak 5 tahun sangat senang membaca buku tentang pengetahuan dunia.

Tidak lupa berterimakasih kepada Clover, dan meminta Clover untuk menjaga Robin sebentar, sementara ia mencari bukunya, Naruto langsung menuju ke bagian perpustakaan yang dikatakan Clover.

Walaupun ini perpustakaan terbesar di dunia, perpustakaan ini sangat sepi. Salah satu halnya karena Ohara adalah pulau terpencil di West Blue, dan yang lainnya adalah, majoritas orang tidak terlalu tertarik dengan yang namanya pengetahuan. Orang yang datang kesini biasanya hanya untuk melihat perpustakaan yang terkenal ini, dan pergi, dan juga para Sarjana, yang jumlahnya tidak bisa dibilang banyak di dunia ini.

Ketika sampai di seksi yang dimaksud Clover-san, Naruto tersenyum lebar. Benar apa yang dikatakan, bagian perpustakaan ini penuh dengan segala macam buku tentang pertarungan. Ia sangat penasaran bagaimana orang di dunia ini bertarung. Apa seperti para Shinobi, mereka memakai energi? Atau seperti Buddha, lebih memilih pertarungan tangan?

Tidak lupa tujuan awalnya, Naruto menuju kearah rak yang dimaksud Clover. Sesampainya disana, benar apa yang dikatakan Clover, ada sebuah buku. Buku itu tidak mempunyai cover sama sekali, dan besarnya sebesar buku jurnal biasa. Hanya ada kata judul 'Haki' di buku itu. Mengambil buku itu, Naruto melihat ke sekelilingnya untuk melihat buku lainnya.

Ia mengambil buku dengan judul yang menarik. 'Perang Yang Mengguncang Dunia', 'Taktik Perang Tradisional dan Modern', 'Bela Diri Kuno', dan satu-satunya yang terlihat menarik adalah, sebuah buku berwarna silver berjudul, 'Assasin: Ninja'.

Buku itu membuat Naruto berpikir. Apakah di dunia ini ada yang namanya Ninja? Shinobi? Apakah Ninja yang dimaksud sama dengan apa yang berada di Konoha?

Memilih buku-buku itu mudah, tetapi membawanya ke lantai satu untuk membacanya di samping Robin, adalah hal sulitnya.

Naruto hanya menghela nafasnya, dan membawa semua buku itu dengan dua tangan, dan berharap tidak ada yang terjatuh.

-LineBreak-

Menaruhnya dengan kasar di meja, Naruto mencoba mengambil nafasnya sambil meregangkan tubuhnya.

Debu-debu yang keluar karena ditaruh dengan kasar oleh Naruto, membuat Robin terbatuk.

"Nii-chan!" Robin memberi glare kepada Naruto, sementara Naruto hanya memberikan senyuman apologetik.

Duduk di samping Robin, ia langsung mengintip buku yang dibaca Robin. Seperti biasa, buku itu tentang Arkeologis. Naruto mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan beberapa perkataan di buku itu.

"Apa kau mengerti semua ini, Imouto?" Tanya Naruto sambil mengerutkan dahinya, karena dia sendiri tidak mengerti.

Melihat ekspresi Naruto, Robin tersenyum bangga, bisa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui kakaknya.

Robin mengangguk dengan antusias. "Mmhm! Kaa-chan sudah mengajarkannya padaku!" Serunya dengan bangga.

Naruto terkekeh mendengar itu, ia kemudian mengusap rambut Robin dengan penuh kasih sayang.

"Sepertinya Imouto-ku akan menjadi lebih pintar dariku, hm?"

Robin mengangguk dengan bahagia. "Tentu saja!" Robin kemudian menjulurkan lidahnya ke Naruto. "Baka nii-chan!"

"Oy oy!"

Terkekeh atas perilaku adiknya, Naruto mulai membuka buku awalnya. Haki. Membuka halaman pertamanya, Naruto melihat nama penulis bukunya.

Ford D. Marin

Naruto mulai membacanya. Apa yang dijelaskan tentang Haki di buku ini, seperti apa yang dijelaskan oleh Dragon. Kekuatan yang ada di dalam diri manusia. 3 macam Haki. Dan sebagainya. Yang membuat Naruto tertarik adalah, Haki bisa 'menetralkan' para pengguna Buah Iblis tipe Logia. Satu-satunya kekuatan yang bisa dipakai untuk melawan pengguna Buah Iblis tipe Logia.

Pengguna Buah Iblis tipe Logia selalu dikatakan sangat kuat, karena mereka bisa mengontrol elemen sesuka hati mereka. Tubuh mereka sendiri bahkan menjadi elemen. Tidak ada yang bisa melawan mereka, karena tubuh mereka bisa berubah menjadi elemen.

Menemukan informasi ini membuat Naruto sadar kalau semua kekuatan pasti memiliki kelemahan.

Membaca bukunya lagi— buku ini lebih terlihat seperti jurnal daripada buku, Naruto kemudian menyeringai mendapatkan sesuatu yang bisa membantunya memasteri kekuatan 'Haki' ini.

Haki seperti otot, adalah apa yang aku temukan hari ini. Semakin sering kau memakainya, akan semakin terbiasa dimana kau bisa menggunakannya diluar otak. Semakin jarang menggunakannya, maka akan semakin kaku. Semakin aku berlatih dengan Haki-ku, semakin mudah mengontrolnya. Yang membuat semua ini sangat sulit adalah, bagaimana menginkorporasikan Haki ke dalam gaya bertarungku. Apakah aku bisa membuat sebuah teknik baru, berdasarkan Haki, seperti apa yang pengguna buah iblis lakukan? 3 dasar Haki yang aku temukan itu sepertinya masih hanya pintunya saja. Jika aku bisa membuka pintunya, mungkin aku bisa memakai potensial penuh dari kekuatan yang aku beri nama Haki ini.

-Ford D. Marin

Naruto membacanya dengan penuh perhatian, ingin mengetahui cara orang ini melatih Haki-nya, membuatnya terbiasa dengan Haki miliknya.

Semakin dirinya membaca, semakin tidak sabar Naruto untuk mencobanya.

-LineBreak-

Tanpa disadari keduanya, Robin dan Naruto hampir menghabiskan seluruh hari mereka di perpustakaan. Naruto sudah menyelesaikan buku Haki-nya, mengingat segala hal penting yang ia temukan disana di otaknya. Ia kini berada di buku ke-3nya, 'Taktik Perang Tradisional dan Modern'. Clover-san bilang kalau buku ini disumbangkan oleh salah satu strategis terbaik Angkatan Laut, seorang mantan Admiral, pada 30 tahun lalu. Clover bilang kalau buku originalnya adalah buku wajib yang diberikan kepada seluruh calon Angkatan Laut saat mereka masuk. Buku itu eksklusif untuk AL, tapi pemerintah membolehkan Ohara memiliknya, mereka mengira tidak akan ada orang yang berpikir buku seperti ini akan ada di tangan Ohara, terkenal sebagai pulau yang damai. Ini adalah salah satu kopi bukunya.

Membaca ini, Naruto serasa mencoba menjadi Angkatan Laut, karena selain mendiskusikan strategi, buku ini juga mendiskusikan prinsip dan aturan yang harus diikuti para Angkatan Laut.

Keadilan Absolut.

Adalah prinsip buku ini. Menegaskan kepada semua calon Angkatan Laut, apapun yang terjadi, kalian harus menaati Keadilan Absolut. Pemerintahan selalu benar, dan siapapun yang tidak patuh pada pemerintah adalah kriminal yang tidak pantas berada di dunia.

Naruto tidak tahu, mungkin ini pikiran anak kecilnya, tapi, bukankah itu terlalu ekstrim? Pemerintahan selalu benar? Semua yang tidak patuh adalah kriminal? Entahlah. Naruto coba mengabaikannya dahulu.

Selain tentang prinsip, buku ini sangat bagus. Mendiskusikan taktik dasar, tradisional dan modern. Taktik yang didiskusikan biasanya adalah taktik perang antar kapal perang. Yah, melihat mereka adalah Angkatan Laut, tentu saja sebagian besar adalah taktik seperti ini.

Walaupun begitu juga, banyak juga taktik yang tidak khusus untuk di kapal saja, melainkan sedikit taktik dan nasihat untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat dengan kepintaran. Naruto membacanya dengan penuh perhatian.

Di tengah-tengah waktu membaca mereka, Clover-san dan para staffnya dengan baik memberikan ia dan Robin makan siang. Robin tidak mau menaruh bukunya untuk makan, Naruto harus menyuapinya lagi.

Walaupun sudah berjam-jam, Robin masih membaca buku yang sama. Walaupun sangat pintar, Robin masih anak satu tahun. Kemampuan membacanya masih kurang, kadang Naruto membantu mengartikan kata yang tidak dimengertinya. Robin-pun juga tidak malu untuk menanyakan arti kata kepada Naruto, sangat tahu bahwa kakaknya tidak akan menertawainya.

Tanpa disadari, malam sudah tiba. Robin sudah tertidur sambil membaca bukunya, membuat Naruto terkekeh.

Ia melihat Robin, yang tidur dengan kepala di atas salah satu halaman bukunya yang terbuka. Ia tahu Robin melakukan semua ini demi Olvia. Entah kenapa, Robin berpikir jika ia mengetahui hal yang sama dengan Olvia, Olvia akan menghabiskan semakin banyak waktunya dengan Robin.

Ia menghela nafasnya, memikirkan tentang Olvia. Beberapa hari ini, sepertinya Olvia terlihat mempunyai masalah. Ketika Naruto bertanya ada apa, Olvia selalu mencoba menutupinya. Naruto mulai berpikir masalah apa yang Olvia dapatkan.

Ia tidak ingin keluarganya ini menjadi pecah. Ia tidak ingin merasa kesepian lagi.

Pandangan matanya mengeras, ia akan melindungi Olvia dan Robin. Ia sudah berjanji.

Menghela nafasnya, Naruto melangkah kearah Robin dan menggendongnya dengan hati-hati, tidak ingin membangunkannya.

"Clover-san," Naruto memanggil. Tidak lama kemudian, orang yang dimaksud muncul. "Aku dan Robin akan pulang. Apa aku boleh meminjam salah satu bukunya?" Naruto bertanya, sambil menyengir malu, merasa tidak enak karena selalu meminjam buku perpustakaan yang biasanya tidak pernah dipinjamkan.

Clover mengangguk. "Tentu saja, Naruto-kun! Pastikan kau kembalkan besok dalam keadaan baik. Jika aku boleh tanya, buku yang mana?"

Naruto dengan sulit menunjuk kearah buku berwarna silver. Kedua tangannya masih terpakai untuk menggendong Robin di belakangnya untuk memastikan Robin tidak jatuh.

Melihat buku yang ditunjuk Naruto, Clover melihat kearah judulnya.

Assasin: Ninja

Melihat judulnya, mata Clover melebar, terkejut. Ini tidak terlewati oleh Naruto.

"Apa ada masalah, Clover-san?"

Clover menggeleng, keringat dingin mengucur di wajahnya, sementara mengangkat tangannya dengan postur defensif.

"Tidak, hanya saja... Aku terkejut buku itu masih ada.." Melihat pandangan penasaran Naruto, Clover melanjutkan. "Buku ini adalah salah satu buku pertama perpustakaan, sudah ada sejak beratus-ratus tahun yang lalu, bahkan sebelum jaman dimana Pemerintahan Dunia terbentuk. Banyak yang bilang buku ini terkutuk."

Mendengar itu, mata Naruto mempunyai pandangan tertarik. Clover menghela nafasnya, gagal untuk menakuti Naruto dengan perkataan terkutuk. Anak 5 tahun lainnya akan ketakutan mendengar itu.

"Buku ini ditulis oleh seseorang bernama Kage." Clover melanjutkan. "Sebelum adanya Pemerintahan Dunia, tidak ada peraturan atau undang-undang resmi di dunia ini. Hanya ada kerajaan. Masing-masing kerajaan ini mempunyai teritori, dan mereka saling berperang untuk mendapatkan teritori kerajaan lain. Salah satu kerajaan mempunyai suatu unit, unit yang ia namakan 'Ninja'. Unit ini adalah sebuah grup, yang dilatih sejak mereka bisa berjalan untuk satu hal. Membunuh siapapun yang raja mereka inginkan. Tetapi, yang membuat unit ini spesial adalah, mereka bukanlah petarung utama. Mereka membunuh diam-diam, tidak terlihat, tanpa suara. Cepat, tak diketahui, dan efektif. Dalam waktu singkat, unit ini mulai ditakuti oleh seluruh kerajaan. Buku itu ditulis oleh salah satu Ninja, bernama Kage, yang mengkhianati kerajaannya, dan menjadi pembunuh bayaran. Aku belum pernah membacanya, tapi, menurut legenda, siapapun yang membaca buku itu, keesokannya akan mati." Clover menyelesaikan. "Apa kau masih tertarik untuk meminjamnya?"

Ketika Clover ingin Naruto merasa takut atau apa, ia menghela nafasnya ketika melihat Naruto menyeringai tertarik. Ia harap legenda itu hanyalah legenda, karena ia kini yakin Naruto semakin menginginkan bukunya.

Menghela nafasnya, Clover menyerah. "Baiklah, Naruto-kun." Ucapnya.

Keluar dari perpustakaan, Robin di punggungnya dan sebuah buku di tangannya, Naruto menuju ke rumah.

Tidak menyadari, ada sepasang mata yang memerhatikannya dari kegelapan, pandangan psikotik terlihat terefleksi di matanya.

'Masih terlalu muda...'

Ketika angin malam menyapu, sepasang mata itu menghilang, bagaikan terbawa angin.

-LineBreak-

Satu tahun.

Ini sudah satu tahun sejak Naruto dengan misterius terbawa kesini. Satu tahun sejak ia mendapatkan sebuah keluarga.

Selama satu tahun itu, ia membuat progress dengan Haki-nya. Radius Kenbunshoku Haki miliknya, yang tadinya hanya beberapa meter, kini memanjang menjadi 5 Kilometer. Naruto bisa mengetahui apa yang terjadi di radius 5 KM dengan Haki-nya. Kalau bisa dibandingkan, Kenbunshoku Haki ini campuran dari Byakugan dan Sharingan. Kemampuan melihat Kenbunshoku Haki lebih seperti kemampuan sensor daripada kemampuan melihat Hyuuga. Haki ini lebih seperti mendeteksi Haki di sekitarnya, dan memprediksi jarak, lokasi, spesifik lainnya. Tidak seperti mata Byakugan yang bisa melihat semuanya dengan jelas, Kenbonshoku Haki lebih seperti sensor. Karena kemampuan sensor dan prediksi ini, membuat Naruto menyamakan Haki ini dengan Sharingan, karena dengan Haki ini, seseorang bisa memprediksi serangan lawan. Walaupun radiusnya Kilomoter, Kenbonshoku Haki miliknya masih kalah dengan Dragon, radiusnya melebihi satu pulau Ohara sendiri, jika klaimnya bisa dipercayakan.

Sementara itu, Bushosoku Haki miliknya juga semakin kuat, sampai-sampai Naruto bisa meretakan batu besar dengan sentilan jarinya. Tanpa seorang lawan yang bisa diajak sparring, Naruto jadi tidak bisa mengetahui kemampuan penuhnya.

Itu adalah hal lain yang membuat frustasi Naruto. Tentu ia latihan setiap hari dengan giat, mencoba cukup kuat untuk melindungi keluarganya, tetapi tanpa seseorang yang bisa dilawan, membuat Naruto frustasi karena tidak ada seseorang yang kekuatannya bisa Naruto bandingkan dengan dirinya.

Kadang ia sedikit kesal Ohara itu sangat damai.

Di sela satu tahun ini, sepertinya Olvia semakin sibuk. Ia makin jarang ada di rumah, tidak pulang hampir lebih dari seminggu, dan juga selalu dalam stress, seolah tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Naruto mencoba menanyakan apa yang salah kepada Olvia, mencoba mengetahui apa yang membuat ibunya sangat stress, tetapi setiap ia menanyakannya, Olvia hanya memberikannya senyuman palsu kepadanya dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.

Naruto tidak percaya itu, dan Olvia tahu. Naruto terlalu perseptif untuk anak seumurannya.

Karena Naruto sangat persisten, pada akhirnya Olvia mengatakan yang sesungguhnya kepada Naruto.

Flashback

Melihat Naruto sedang membaca salah satu buku pinjaman dari perpustakaan dengan penuh konsentrasi di ruang makan, Olvia menghela nafasnya dengan capai dan menjatuhkan tubuhnya di sebrang Naruto.

Naruto mengalihkan perhatiannya dari bukunya, menatap kepada Ibunya dengan khawatir di matanya.

"Apa semua baik-baik saja, Kaa-san?"

Pertanyaan itu sekarang sudah terlalu sering untuk ditanyakan, kadang membuat Olvia marah pada dirinya sendiri karena sudah membuat anaknya khawatir.

Merasa kalau setidaknya, Naruto butuh sebuah eksplanasi karena Olvia tidak ingin membuat Naruto lebih khawatir, Olvia kemudian memutuskan untuk memberi tahu Naruto bebannya.

"Aku harus pergi.."

Perkataan Olvia membuat Naruto menaikan alisnya, tidak mengerti apa yang dimaksud. Melihat ekspresi kebingungan Naruto, Olvia mengelaborasikan perkataannya.

"Aku harus meninggalkan kalian berdua, kau dan Robin.." Mendengar itu, mata Naruto melebar. Pertanyaan mulai muncul di kepalanya, tetapi sebelum sempat untuk menanyakannya, Olvia melanjutkan. "Beberapa bulan ini, aku dan timku sedang menyelidiki sesuatu. Abad Kosong." Olvia mengambil nafasnya. "Informasi tentang Abad Kosong hanya ada di Poneglyph, yang ditulis dengan bahasa Kuno. Poneglyph ini adalah satu-satunya artifak yang bisa memecahkan misteri pada Abad Kosong."

Naruto diam, membiarkan Olvia berbicara. Ia sudah mengetahui informasi ini dari buku yang ia baca.

"Beberapa bulan yang lalu, Dragon datang dengan sebuah Poneglyph pada dirinya. Tidak bisa melewatkan untuk memeriksa artifak langka ini, aku dan Timku langsung saja mencoba mengartikan kata-kata yang ditinggalkan di Poneglyph. Tidak mudah, karena kita harus belajar sebuah bahasa baru untuk memecahkannya." Olvia menarik nafasnya dengan dalam, dan mengeluarkannya. "Informasi di Poneglyph itu sangatlah besar, jika berada di tangan yang salah, informasi ini bisa dipakai untuk membuat dunia hancur."

Mata Naruto melebar mendengarnya. Sebuah informasi yang bisa membuat dunia hancur?!

"Itupun masih hanya dalam satu Poneglyph. Masih banyak Poneglyph lainnya yang tersebar di seluruh dunia. Jika satu Poneglyph saja mempunyai informasi sebesar itu, aku tidak bisa membayangkan apa informasi yang ada di Poneglyph lainnya. Dan bagaimana jika seluruh informasi itu disatukan. Informasi seperti itu, jika dipakai oleh orang yang salah, bisa menghancurkan dunia." Ekspresi Olvia kemudian berubah menjadi sedih. "Aku tidak ingin informasi itu dipunyai oleh orang lain dengan niat buruk. Jika kita bisa mempelajari seluruh Poneglyph, mungkin kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi di Abad Kosong." Olvia kemudian mengambil nafasnya dengan panjang. "Dragon menawarkan aku dan Timku untuk menyelidiki Poneglyph. Ia bisa memberikanku kapal, modal, keselamatan, dan lain-lainnya jika aku ingin benar-benar memecahkan misteri Abad Kosong ini."

Sebuah realisasi mulai muncul di wajah Naruto. Olvia tersenyum sedikit, Naruto terlalu pintar untuk anak seumurannya.

"Poneglyph tersebar di seluruh dunia, dan mencarinya bisa sangat sulit, apalagi memecahkan semuanya. Ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun, belasan tahun, bahkan mungkin puluhan. Yang membuat semuanya lebih sulit adalah, Pemerintahan Dunia beberapa tahun lalu sudah memberikan sebuah peraturan, bahwa adalah sebuah pelanggaran jika menginvestigasi tentang Abad Kosong, dan hukuman yang diberikan adalah hukuman mati."

Mata Naruto melebar. Ketakutan telihat tercermin di matanya.

"Kaa-san bisa menolaknya.. Kan? Ya kan?" Naruto bertanya dengan khawatir, berharap jika ibunya tidak akan ikut dengan ekspedisi yang sangat berbahaya ini.

Olvia tersenyum sedih. "Aku harus, Naruto-kun." Matanya mulai basah melihat wajah Naruto yang kecewa, khawatir, dan takut. "Ini adalah satu-satunya kesempatan. Jika aku bisa memecahkannya, ini mungkin bisa menjadi penemuan besar. Pemerintahan Dunia jelas sekali tidak ingin orang-orang mengetahui apa yang terjadi pada saat itu.. Jika aku bisa memecahkannya, ini mungkin bisa membuat seluruh dunia tahu, apa sebenarnya Pemerintahan Dunia. Apa motif dibalik Pemerintahan Dunia, dan alasan kenapa mereka ada. Kau adalah anak yang pintar, kau pasti menyadari Pemerintahan Dunia terbentuk tepat setelah Abad Kosong. Apa yang terjadi saat itu mungkin adalah alasan kenapa dunia sekarang seperti ini. Aku harus tahu, Naruto-kun.. Maafkan aku karena sangat egois..." Air mata kini mulai mengalir dari mata Olvia. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil menundukan kepalanya. Tidak berani untuk melihat reaksi anaknya yang kecewa.

Ia sangatlah egois. Lebih mementingkan dirinya sendiri daripada anaknya. Ibu macam apa... Seorang ibu harusnya bisa lebih mementingkan anaknya daripada dirinya sendiri. Ia adalah ibu yang buruk, mungkin Robin dan Naruto lebih pantas bersama orang lain. Ia tidak pantas menjadi ibu mereka..

Matanya melebar ketika merasakan tangannya dipegang. Olvia melihat kearah Naruto, tangisan juga keluar dari matanya, tetapi ia tetap memberikan Olvia cengiran khasnya.

"Jika itu sangat penting... Kaa-chan lebih baik pergi, daripada nanti menyesal. Tenang saja, aku akan menjaga Robin!"

Walaupun berkata seperti itu, Olvia masih bisa merasakan kesedihan yang coba disembunyikan. Olvia tersenyum sedih, dan tanpa berkata apapun, memeluk Naruto dengan erat dan menangis. Naruto melakukan hal yang sama.

End Flashback

Naruto tahu keputusan yang diambil Olvia bukanlah keputusan yang mudah. Kesempatan seperti ini tidak akan ada lagi sepanjang hidupnya, dan anaknya masih anak-anak, tidak ada yang bisa menjaganya.

Karena pekerjaannya, Olvia jarang bersosialisasi dengan penduduk Ohara, ia tidak mempunyai orang yang bisa ia percayakan untuk menjaga Naruto dan Robin. Ohara sebenarnya adalah kampung halaman suaminya. Mereka pindah kesini setelah menikah, karena kedamaian Ohara. Mereka tidak ingin membesarkan anak di pulau yang selalu dihampiri Bajak Laut dan Angkatan Laut dimana akan banyak kekerasan. Ketika suaminya meninggal, beberapa bulan setelah Robin lahir, Olvia lebih memilih untuk tetap tinggal dan membesarkan Robin di Ohara. Meninggalkan anaknya di sebuah tempat dimana ia tidak mempunyai orang yang dipercaya sangat sulit untuk Olvia.

Satu-satunya orang yang bisa Olvia percayakan Naruto dan Robin adalah Clover dan staff perpustakaannya, tetapi mereka sudah terlalu sibuk.

Beberapa bulan setelah ulang tahun Robin yang kedua, sebelum mereka sadar, ini adalah hari kepergian Olvia.

Olvia menatap kedua anaknya. Tangisan sudah keluar dari wajahnya. Ia membelai wajah Naruto sambil tersenyum sedih, mengingat anak kecil yang lemah, haus akan kasih sayang, dan menderita. Naruto bukanlah anak kandungnya, tetapi Naruto sudah seperti anaknya sendiri selama setahun. Ia sudah berubah dari anak kecil yang paranoid dengan sekelilingnya, menjadi seseorang yang kuat.

"Naruto..." Olvia menggumam. Naruto mencoba untuk setidaknya terlihat tidak sedih, mencoba ingin menjadi lelaki dewasa, tetapi air mata Naruto menunjukan Olvia kalau Naruto akan sangat merindukannya. "Jadilah anak yang baik, jujur, dan selalu menjaga apa yang kau sayangi. Jangan biarkan apa yang dikatakan orang mengubahmu, jadilah dirimu sendiri. Abaikan mereka, dan buatlah jalan untuk dirimu sendiri." Ucap Olvia, mengingat masa lalu Naruto, yang pernah Naruto ceritakan, dimana Naruto selalu menerima kata-kata kasar. "Jadilah lelaki yang kuat. Peran lelaki adalah untuk melindungi perempuan, jadi, lindungilah Robin dan tolong jaga Robin." Naruto mengangguk sambil mengelap air matanya dengan tangannya.

Olvia kemudian melihat kearah Robin, yang mempunyai ekspresi sedih di wajahnya. Olvia tidak memberitahu Robin, jadi Robin menyangka ini hanyalah seperti biasanya, dimana Olvia hanya pergi beberapa hari dan kembali lagi.

Olvia membelai pipi Robin, wajahnya terlihat nostalgik. "Kau mirip sekali dengan ayahmu." Ucao Olvia. Robin hanya tersenyum sedikit. "Kau akan tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik, Robin. Maafkan ibumu ini karena tidak bisa melihatmu tumbuh untuk menjadi wanita yang pintar, dan cantik."

Olvia kemudian memeluk Naruto dan Robin, air matanya kini keluar tanpa henti.

"Kalian berdua adalah keluarga. Jadi, janjilah padaku, kalian akan selalu bersama, dan saling membantu satu sama lain."

"Janji.." Naruto dan Robin keduanya menggumam.

"Oy, Olvia! Jika kau sangat ragu, kau tidak usah ikut, kami mengerti." Teriakan salah satu anggota dari tim Olvia dari kapal, membuat Olvia, dengan berat hati melepas pelukannya dari Naruto dan Robin.

"Gah! Kau menyusahkan saja sih!" Olvia melirik ke samping, melihat perempuan yang Naruto dan Robin akan ia titipkan.

Roji adalah adik perempuan suaminya, dan satu-satunya anggota keluarga yang Naruto dan Robin punya. Itulah alasan Olvia menitipkan Naruto dan Robin kepadanya. Roji awalnya tidak tinggal di Ohara dan tidak mau pindah ke Ohara untuk menjaga mereka berdua, tetapi setelah banyak persuasi dan janji untuk mengirimkan uang setiap bulan, akhirnya dia setuju.

Roji bukanlah orang yang baik, Olvia tahu itu. Tetapi setidaknya, suaminya dan anaknya bukanlah orang yang buruk. Olvia setidaknya berharap Roji melihat Naruto dan Robin sebagai keponakan, dan tidak memperlakukan mereka berdua dengan kasar.

"A-ah.. Iya, maaf." Olvia berkata, kepada Roji dan salah satu anggota timnya yang sudah ada di kapal.

Olvia menatap kearah Naruto dan Robin untuk yang terakhir kalinya.

'Tidak. Bukan yang terakhir kalinya. Kita akan bertemu lagi..'

Olvia mulai menaiki kapal, dan kapal itu pergi, berlayar. Walaupun Ohara sudah tak terlihat lagi, Olvia tetap menatap kearah Ohara dengan tangisan yang mengalir dari matanya.

-LineBreak-

Naruto membuka pintu kamarnya dengan frustasi. Roji dan keluarganya akan tinggal di rumah keluarganya. Awalnya, Naruto merasa tidak apa-apa, karena ini adalah tantenya dan keluarganya.

Tetapi, ketika Roji mulai berbicara kasar pada dirinya dan Robin, menyuruh Naruto seolah Naruto adalah pembantu, Naruto mulai kesal. Suami dari Roji sepertinya tahu bahwa ini salah, tetapi dia terlalu takut dengan istrinya. Dan ini semua terjadi dalam selang waktu beberapa jam setelah Olvia pergi.

Karena hanya ada tiga kamar disini, Roji dan suaminya mengambil kamar Olvia, sementara anak mereka yang hanya 1 tahun mengambil kamar Robin. Ini membuat Robin dan Naruto harus tidur di kamar yang sama. Naruto tidak terlalu bermasalah dengan itu, karena dengan adanya Roji, ia tidak akan membiarkan Robin sendiri.

Dan yang membuat Naruto makin marah adalah, perempuan itu berani-beraninya menyuruh Robin. Naruto masih sabar dengan mereka sebelumnya, menaham amarahnya, tetapi dimomen mereka menyuruh Robin untuk membelikan bahan makanan dengan kasar, Naruto mengeluarkan Haoshoku Haki miliknya.

Yang membuat Haoshoku Haki milik Naruto unik adalah, seperti yang bisa Dragon katakan, Haki Naruto bukan saja memberikan tekanan kepada orang, tetapi tekanan itu memberikan perasaan takut yang sangat besar.

Karena terlalu lama selalu hampir dibunuh dan dengan satu desa membencinya, Naruto sangat familiar dan terbiasa dengan yang namanya Killing Intent. Setelah eksplanasi bagaimana cara melakukan Haoshoku Haki oleh Dragon, Naruto yang diinstruksikan untuk memberikan sebuah feeling yang membuat dirinya merasa terintimidasi ke sekelilingnya, tidak sengaja mengeluarkan Chakranya juga, mencampurnya dengan Haki, dan secara tidak sengaja, mengeluarkan sesuatu seperti Haoshoku Haki dengan efek Killing Intent. Memberikan tekanan kepada seseorang, sekaligus membawa rasa takut kepada mereka yang sangat besar, sampai-sampai membuat orang ingin bunuh diri untuk lepas dari tekanan seperti itu.

Pertama kali Naruto menggunakannya pada Dragon, Dragon benar-benar berpikir untuk membunuh dirinya sendiri.

Kekuatan ini, karena dicampur oleh Chakra dan Haki, mempunyai efek 10 kali lebih poten dan kuat daripada Killing Intent dan Haoshoku Haki biasa.

Ketika Naruto menggunakannya kepada Roji, Roji sangat takut. Terlihat dari ekspresi wajahnya. Roji bahkan sampai pipis di celana, saking takutnya. Tetapi Naruto tidak menambahkan tekanannya untuk sampai membuat Roji ingin bunuh diri.

Hanya dengan itu, Naruto mengucapkan, "Jika aku mendengar kau menyuruh Robin seperti itu lagi, kau akan sangat menyesal." Dengan itu, Naruto menghilangkan Shosoku Haki-nya.

Inilah alasan kenapa Robin kini tidak berada bersama Naruto, walaupun daritadi mereka selalu bersama sejak kepergiannya Olvia. Naruto tahu ia menakutkan Robin. Ini sangat membuatnya takut. Ia tidak ingin adiknya sendiri melihatnya sebagai monster..

'Aku harus meminta maaf kepada Robin..'

Bukannya Naruto tidak tahu kemana Robin berada, dengan Kenbonshoku Haki Naruto bisa tahu sekarang Robin berada di perpustakaan.

Yang Naruto takutkan adalah, bagaimana reaksi Robin padanya, sekarang ia melihat sisi ini pada dirinya. Apa Robin akan takut padanya, menganggap dia seorang monster? Apa Robin akan benci padanya, menganggap dia sebagai seorang Iblis?

Ini membuat Naruto kembali mengingat konfrontasinya dengan 3 'mantan' temannya, yang berakhir dengan kematian Kazumi dan orang-orang menyalahkannya lagi atas kematian Kazumi.

Naruto menghela nafasnya, mencoba mengeluarkan pikirannya dari itu.

Ketika masuk ke kamarnya, Naruto langsung menyadari ada sesuatu yang tidak sesuai. Naruto melihat ke sekeliling kamarnya, mencoba mencari tahu apa yang tidak sesuai.

Kamarnya, masih sama sejak ia keluar tadi. Kasur, lemari baju, meja belajar..

Naruto menaikan alisnya, melihat sebuah buku, yang tadinya tidak ada di meja belajar, kini berada di sana.

'Siapa yang meninggalkannya disini?'

Ia tidak ingat pernah menaruh buku disitu. Robin selalu menaruh buku ceritanya di rak yang tepat ketika ia selesai membaca. Dan mungkin adalah sebuah keajaiban jika Roji tahu apa namanya buku, dan kemudian menaruhnya di kamarnya.

Naruto berjalan kearah buku itu. Buku itu berwarna silver, dan di depannya tertulis sebuah judul.

Assasin: Ninja

Dan sebuah memori muncul di kepalanya. Bagaimana ia menemukan buku itu, mengambilnya karena ia penasaran dengan kata 'Ninja' yang ada di buku itu, dan karena belum sempat membacanya, izin kepada Clover-san untuk membawanya ke rumah, dan bagaimana Clover-san menceritakan kutukan buku itu, dan bagaimana ia tetap ingin membaca buku itu.

'Tapi... Itu sudah setahun yang lalu! Aku bahkan baru ingat ada buku dengan judul seperti itu!'

Pertanyaan mulai muncul. Naruto mengingat, keesokan hari setelah hari itu, Naruto merasa biasa saja, dan tidak melupakan sesuatu. Hari yang normal. Bahkan Clover juga tidak mengatakan apapun yang bersangkutan dengan bukunya. Seolah...

Bukunya hilang dari memori.

Naruto menggelengkan kepalanya memikirkan sesuatu yang tidak mungkin seperti itu. Mungkin ia dan Clover-san lupa soal buku itu. Ya, pasti.

Naruto mengangkat bahunya, tidak perduli. Nah sekarang bukunya ada, kenapa tidak membacanya?

Ketika Naruto membacanya, Naruto tahu, ada yang salah dengan buku ini.

Buku ini seperti sebuah buku instruksi. Buku pelajaran.

Untuk memastikan tidak ada bukti fisik, lepaskan segala pakaian yang ada pada target, dan kemudian potong kepalanya dengan bersih. Buang tubuhnya ke laut, sementara itu bakar kepala dan bajunya. Jadi, jika dengan kesempatan kecil, seseorang menemukan tubuhnya di laut, tidak ada bukti bahwa orang itu memang si 'target'.

Dan tidak mempunyai moral juga. Apa buku ini dibuat oleh psikopat?! Buku ini menjelaskan berbagao macam cara membunuh orang tanpa suara dan tidak meninggalkan bukti.

Tapi semakin Naruto membacanya, semakin matanya tertempel pada bukunya dan membaca seluruh kata dengan konsentrasi.

Hayauchi. Ini adalah teknik yang dipakai Ninja, jika memang pertarungan langsung tidak bisa dihindari lagi.

Naruto membaca apa itu tekhnik Hayauchi, dan latihan yang diberikan calon Ninja untuk memasterinya. Naruto melebarkan matanya.

10000 skipping, 500 kali lari keliling gunung, dan lari nonstop 2 hari penuh tanpa instirahat. Jika calon tidak bisa melakukan ini, maka hukuman diharuskan. Jika pingsan, kematian diperlukan.

Brutal. Sebuah cara bertarung yang sangat bergantung pada kecepatan, untuk menangani musuh. Jika seseorang tidak bisa melakukan itu, maka mereka hanya diberikan cara bertarung dasar. Hayauchi hanya diajarkan pada murid yang bisa melakukan kriteria tadi. Jika tidak, dan diajarkan Hayauchi, tubuh mereka tidak bisa menanganinya dan mati.

Karena itu, seorang calon disuruh memilih ingin bertarung dasar, atau jika mereka pikir mereka bisa mencapai kriteria Hayauchi. Pemimpin tidak menyukai orang yang arrogant, karena itu, jika murid memilih Hayauchi dan gagal, maka hukumannya akan sangat mematikan biasanya mengakibatkan kematian.

Hanya satu orang, selama sejarah, bisa memakai teknik itu.

Takeda Ishiyoshi

Generasi pertama ninja, dan orang yang membuat teknik itu sendiri.

Buku itu langsung skip ke instruksi kuda-kuda gaya bertarung dasar, seolah tahu bahwa tidak ada yang bisa mencapai kriteria Hayauchi, dan tidak menginstruksikan kuda-kuda atau cara bertarung Hayauchi.

Semakin membacanya, semakin Naruto bingung. Buku seperti ini tidak pantas berada di perpustakaan.. Buku ini adalah buku instruksi. Buku pelajaran. Pelajaran untuk orang-orang yang ingin menjadi Ninja. Dan, definisi Ninja di dunia ini, dari yang Naruto tahu, adalah seorang assasin yang tidak mempunyai moral dan hanya mengikuti perintah atasan. Buku seperti ini tidak pantas untuk berada di publik...

Melihat ia tidak mempunyai gaya bertarung –ia hanya asal menendang dan menonjok-, Naruro berpikir, mungkin mempelajari gaya bertarung dasar seorang Ninja dari buku ini adalah sesuatu yang bagus. Iapun langsung menutup buku itu, keluar dari rumah, dan menuju ke hutan untuk berlatih.

Selama Robin masih bersama Clover di perpustakaan, Robin aman. Dan ia yakin Roji tidak akan mengganggu Robin setelah aksi ia tadi.

Melihat ini masih siang, Naruto tahu ia mempunyai banyak waktu untuk latihan.

-LineBreak-

Robin memandang buku Arkeologi-nya sambil mengerutkan dahinya. Ia tidak bisa fokus membaca, pikirannya kembali pada seluruh kejadian hari ini.

Kaa-san pergi meninggalkan ia dan Naruto-nii-chan, wanita yang sangat kasar yang kini tinggal bersamanya, dan kemudian aura menakutkan kakaknya.

Ia merasa sedikit bersalah, langsung lari begitu saja, melihat pandangan sedih dan kecewa kakaknya melihatnya lari.

Robin tidak tahu kenapa ia lari. Ia hanya mengikuti insting, dan lari. Dan satu-satunya tempat aman yang ia tahu, adalah perpustakaan. Ia tidak tahu nanti, bagaimana ia pulang ke rumah dan menghadap kakaknya. Apa kakaknya akan marah? Robin harap tidak. Kakaknya tidak pernah memarahinya, mungkin hanya menasihatinya, tetapi tetap saja.. Ia takut jika kakaknya marah dan memberikan aura tadi lagi.

"Robin-chan.." Suara Clover-san membuatnya mengalihkan perhatiannya dari buku.

"Clover-san..." Jawabnya, tidak sesemangat seperti biasanya.

Clover sepertinya sudah mengetahui ia tidak akan mendapatkan seruan ceria dari Robin, karena ia tetap tersenyum dan duduk di samping Robin.

Melihat buku yang di baca Robin, Clover melebarkan matanya sedikit dengan terkejut.

"Kau sudah sampai chapter 5, Robin-chan?"

Robin mengangguk, hanya menjawab dengan gumaman.

"Itu sangat cepat, bahkan untuk seorang Nico sepertimu." Clover terkekeh. Entah kenapa keluarga Nico semuanya sepertinya bisa membaca dalam waktu dang mengerti dalam waktu yang cepat. Nico Reflan, seorang jenius yang menjadi arkeologis dalam umur 10 tahun, Nico Olvia, yang bisa mengerti satu bahasa baru hanya dalam beberapa hari, Naruto, anak angkat Olvia, yang bisa menyelesaikan 2 buku tebal hanya dalam 2-3 jam. Clover tidak terkejut jika Robin juga mengikuti mereka.

"Arkeologi adalah buku yang sulit. Sudah mencapai Volume 3 chapter 5 dalam waktu sekecil ini.. Kau memanglah jenius, Robin-chan." Mendengar pujian dari Clover, Robin tersenyum, tetapi tidak seperti biasanya, senyuman ini tidak melebar.

"Ah, aku masih ingat ketika Naruto mencoba membaca Arkeologi." Ucap Clover, wajahnya mendongak keatas, sementara jarinya mengucap janggutnya, mencoba mengingat memorinya.

"Eh? Aku kira Nii-san tidak terlalu tertarik dengan Arkeologi. Ia hanya membaca dasarnya saja.." Robin bertanya sambil memiringkan wajahnya.

"Hoo! Dia ingin mengetahui apa yang membuat Arkeologi ini menarik perhatian adiknya dan ibunya." Ucapnya. Perhatian Robin kini seluruhnya menuju ke Clover, ingin mendengar cerita tentang kakaknya yang tidak pernah ia ketahui. "Dia mencoba membaca Volume 1, dia membacanya dengan wajah kebingungan. Belum sampai setengah halaman, ia langsung menutupnya dan mengambil buku lain. Wajahnya sangat frustasi," Robin terkekeh mendengar itu. "Aku menggodanya, berkata kalau spesialisasi keluarga Nico tidak ada dalam dirinya. Aku berkata padanya bagaimana jika ia berada di tempat bersejarah? Seorang Nico akan menginvestigasinya." Clover terkekeh. "Lalu ia berkata, 'Meh, aku hanya tinggal menyuruh Robin untuk memeriksanya. Dia akan menjadi Arkeolog paling hebat dalam sejarah, aku tidak perlu mempelajari itu.'" Clover kemudian tertawa.

Sementara itu pipi Robin bersemu merah, walaupun begitu ia tersenyum besar. Mendengar bahwa kakaknya mempunyai kepercayaan yang sangat besar padanya.. Robin mulai merasakan determinasi.

Ia akan menjadi Arkeologis terhebat dalam sejarah!

-LineBreak-

Malam tiba. Naruto masih berada di hutan, mencoba berlatih dengan gaya bertarungnya. Tetapi walupun begitu, pikirannya kembali ke gaya bertarung Hayauchi. Ia berpikir, apakah ia bisa melakukannya atau tidak? Naruto tahu jawabannya tidak, tetapi, apakah ia bisa berlatih untuk menemui kriteria itu?

Tanpa Naruto sadari, di tengah latihan, daripada melatih gaya bertarung dasarnya, ia malah melakukan push-up, sit-up dan lainnya, untuk menambah staminanya.

Tulisan di buku itu lebih terdengar seperti tantangan, dan Naruto tidak pernah mengabaikan tantangan.

Tetapi, setelah menyelesaikan semua kriteria itu... Lalu apa?

Bukunya jelas-jelas tidak mempunyai instruksi untuk Hayauchi. Memikirkan itu, Naruto menaikan bahunya, tidak terlalu memperdulikan. Ia akan mencari solusinya nanti jika ia bisa memenuhi kriterianya. Mungkin ada buku tentang Hayauchi di perpustakaan. Siapa tahu? Buku instruksi untuk menjadi seorang Assasin saja ada disini.

Menjatuhkan tubuhnya di tanah, Naruto mencoba memakai Haki-nya untuk melacak Robin.

Mengetahui ia masih berada di perpustakaan, Naruto membuang nafasnya lega. Robin lebih aman di perpustakaan. Ia masih tidak percaya dengan Roji dan keluarganya.

Membangunkan dirinya dengan lelah, Naruto berjalan kearah perpustakaan. Sedikit takut atas posibilitas Robin melihatnya sebagai monster, tetapi tetap rindu dengan Robin yang selalu ada di sampingnya.

-LineBreak-

Sepasang mata memandang Naruto dari bayangan. Ekspresi psikotik terpancar di matanya, sementara mulutnya tersenyum sangat lebar, mencapai matanya.

"Kyakyakyakya!" Sosok itu tertawa, mengeluarkan suara aneh selagi dia tertawa.

"Ha... Dia bisa melihat, dibalik kebohongan. Aku jadi ingin membunuhnya." Sosok itu cemberut, memikirkan apakah ia harus membunuh apa tidak. "Bunuh saja, kalau gitu..." Sosok itu berkata dengan pelan, seolah kecewa dengan keputusan yang harus ia buat.

"Mungkin dia bisa memberikanku tantangan!" Dia berseru, kembali terlihat gila. "Ragu." Dia melanjutkan dengan pelan dan cemberut, sebelum tersenyum lebar lagi. "Tapi tetap saja, HIBURAN! Kyakyakyakyakya!"

Sesosok itu kemudian menjentikan jarinya, dan dengan itu, ia menghilang bersama tiupan angin.

-LineBreak-

Dragon memegang den-den mushi berwarna putih ke kupingnya. Eskpresi datar seperti biasa terlihat di wajahnya.

"Jadi, berapa lama kau akan sampai?" Dia bertanya dengan datar.

"Seminggu, jika tidak ada masalah." Suara perempuan membalasnya dari den-den mushi itu.

"Dan berapa lama kau bisa memecahkannya?" Tanyanya lagi.

"Tidak lebih dari beberapa detik. Aku sudah mahir dalam bahasa itu. Membaca Poneglyph bagaikan membaca buku sekarang."

"Ah, perkembanganmu memang luar biasa."

"Aku ingin cepat pulang dan menyelesaikan ini. Apa... Apa Naruto dan Robin baik-baik saja?"

Dragon mengangguk, walaupun gesturnya tidak bisa dilihat oleh orang yang dia sedang berbicara.

"Aku sudah mengirim salah satu agenku ke Ohara. Dia akan tinggal di Ohara selama 3 hari, per bulan. Kau harus mengerti Olvia, Ohara adalah pulau terpencil dan hampir terisolasi. Jaraknya sangat jauh dari pulau terdekatnya. Hanya itu yang bisa aku lakukan."

Sebuah keheningan.

"Aku mengerti." Jawab Olvia dari sebrang telfon. "Bagaimana dengan Haki Naruto? Kau bilang ada sesuatu yang salah dengan itu?"

Dragon mengangguk kembali, seringaian terukir di mulutnya. "Percaya padaku Olvia, anak itu akan merubah dunia."

"Huh?"

Dragon kembali menyeringai. Anak itu mempunyai sesuatu yang dunia tidak pernah melihatnya sejak beratus-ratus tahun yang lalu...

-LineBreak-

Berada di depan pintu perpustakaan, dengan plastik yang berisi makanan di tangannya, Naruto menghela nafasnya dan membuka pintu perpustakaannya.

Meja baca di perpustakaan bisa langsung terlihat ketika membuka perpustakaan, Naruto langsung bisa menemukan Robin, masih membaca buku Arkeologinya sambil mengerutkan dahinya dengan konsentrasi.

Gerogi Naruto langsung hilang, ketika Robin menyadari keberadaannya, dan langsung memberikannya senyuman besar.

"Onii-chan!" Ia berseru, matanya seolah berkilau.

Naruto terkekeh dan langsung berjalan ke meja Robin.

"Aku membawakan makanan." Ucap Naruto, menaruh plastik makanan yang dibawanya di meja.

"Onii-chan tidak memasak?" Robin memiringkan kepalanya. Naruto biasanya yang selalu memasak di rumah ketika Olvia tidak ada, tidak ingin menghabiskan uang mereka untuk membeli makanan, jika mereka mempunyai bahan-bahannya di rumah. Karena itu, Naruto selalu memberikan Robin makanan buatannya. Robin juga tidak bermasalah dengan itu, karena ia sendiri sudah familiar dan suka dengan makanan bikinan kakaknya.

"Tidak," Naruto menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sempat." Naruto kemudian mengeluarkan makanan yang ada di plastik.

Ramen untuk Naruto, dan ayam untuk Robin.

Mereka memakan makanannya dalam keheningan yang nyaman. Naruto, terlalu lelah untuk berbicara karena latihannya, dan Robin yang menyadari kelelahan kakaknya.

"Onii-chan," Robin mengerutkan hidungnya, sambil memberi glare kearah Naruto. "Kau bau."

Naruto tertawa mendengar itu. Ia baru selesai latihan dari siang, dan juga belum ganti baju sama sekali.

"Kau hanya harus menahannya, Imouto-chan."

"Mou.."

Hening kembali.

"Maaf kalau aku menakutimu tadi, Robin.." Suara Naruto memecahkan keheningan.

Robin melihat kearah Naruto dengan senyuman lebar. "Kau tadi sangat keren, Onii-chan! Kau tidak perlu meminta maaf!"

Naruto terkekeh mendengar itu, ia kemudian membawa tangannya ke kepala Robin dan mengusap-usapnya.

Robin cemberut dan memberi glare kearah Naruto. Tangannya mencoba menyingkirkan tangan Naruto dari kepalanya.

"Aku tidak ingin tanganmu yang bau itu ada di rambutku!"

"Tehee~"

"Kyaa! Sudah kubilang jangan! Onii-chan, kau jahat!"

-LineBreak-

Seminggu sejak kepergian Olvia, Naruto sudah mengikuti sebuah rutin. Pagi, ia akan membuatkan sarapan untuk keluarga, termasuk Roji dan keluarganya. Tentunya, ia memakai bahan yang hampir kadaluarsa untuk mereka, sementara yang baru hanya untuknya dan Robin.

Pagi menjelang ke siang, ia akan bermain dengan Robin, berusaha menghindari Roji dan keluarganya.

Siang, ia akan membawa Robin ke perpustakaan, sementara ia berlatih di hutan sampai sore. Latihannya biasanya lebih ke menyempurnakan gaya bertarung Ninja dasar, dan meningkatkan staminanya, lagi-lagi berpikir untuk mencoba memenuhi kriteria untuk gaya bertarung Hayauchi. Ia tentunya mencoba meningkatkan Haki-nya, mencoba lebih memasterinya. Dalam seminggu, tidak ada kemajuan yang menonjol, tetapi tetap saja ada kemajuan. Naruto mencoba memikirkan untuk memakai sebuah senjata, tetapi melihat sebuah senjata harganya sangat mahal di Blacksmith kota ini, Naruto tidak bisa mendapatkan senjata untuk dilatih, walaupun banyak instruksi untuk memakai berbagai macam senjata di buku itu.

Dan malamnya, ia akan menjemput Robin pulang, memasak makan malam, dan kemudian tidur bersama Robin.

Sekarang sudahlah siang, yang berarti ini saatnya untuk latihan. Setelah mengantar Robin ke perpustakaan, Naruto langsung berjalan ke hutan.

Hutan ini dipenuhi banyak binatang, ia kadang berlatih memakai binatang. Ia mencoba melawan binatang yang paling ganas, menangkap binatang yang paling lincah, dan lainnya. Kadang Naruto mencoba melakukan Survival Test di hutan, tetapi, masih ragu untuk meninggalkan Robin untuk lebih dari sehari, Naruto belum melakukannya.

Sesampainya di hutan, Naruto melakukan pemanasan seperti biasa, dan kemudian melatih gerakan gaya bertarungnya.

Melakukan tinjuan ke udara, Naruto, merasakan sesuatu akan mengenainya dengan Kenbonshoku Haki miliknya, langsung menghindari meloncat.

Di tanah di tempatnya tadi, tertancap sebuah kunai. Mata Naruto melebar melihat sebuah kunai. Ia tidak pernah melihat sebuah kunai di dunia ini.

"Heee?" Sebuah suara mengalihkan perhatian Naruto. Muncul dari dalam hutan adalah seorang laki-laki yang mempunyai penampilan berantakan. Rambut hitam pendek yang berandakan, wajah yang lusuh, dan pakaian yang mempunyai banyak robekan, orang itu terlihat seperti orang tunawisma. Tetapi yang membuat Naruto merasa terganggu adalah, mata yang memancarkan kegilaan dan mulut yang tersenyum lebar mencapai matanya.

"Kau menghindarinya? Kyakyakya! Dan ini aku kira kau akan mati seperti yang lainnya! Kyakyakyakya!" Pria itu tertawa dengan terbahal-bahak. Suara tertawanya membuat Naruto sedikit takut.

"Siapa kau?" Naruto bertanya, bersiap untuk bertarung.

Orang itu melihat kearah Naruto dengan kegilaan. "Siapa aku? SIAPA AKU?!" Teriakan orang gila itu membuat Naruto bergerinyat. "Hmm... Aku rasa kau bisa memikirkan aku sebagai seseorang, yang sangat, sangat, sangat booosan. Aku terperangkap disini, kau tahu. Menyaksikan banyak orang bodoh mencoba meneruskan suatu kegelapan. Kadang aku langsung membunuh mereka, dan kadang, jika aku memang sangat sangat bosan, aku memutuskan untuk menyiksanya dulu." Jawabnya kasual, seolah membicarakan tentang cuaca. Naruto hanya menyipitkan matanya, tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

"Siapa namamu?" Naruto bertanya lagi, kali ini memakai sedikit Haoshoku Haki, untuk membuat orang itu tertekan.

Senyuman orang itu makin melebar. Naruto menyipitkan matanya melihat Haki-nya tidak mempan pada orang ini.

"Yin? Kyahaa! Kau menjadi semakin menarik! MENARIK! Aku mempunyai spekulasi kau bisa menggunakan Yin, aku tidak terkejut kalau aku benar!" Dia kemudian tertawa lagi dengan terbahak-bahak.

Naruto mengepalkan tangannya. Yin? Apa itu Yin? Apa yang dimaksud orang itu adalah Haki? Kalau begitu, orang itu mempunyai pengalaman nenghadapi orang yang mempunyai Haki.

"Jawab aku!" Seru Naruto kepada lelaki gila itu.

Lelaki itu melihat kearah Naruto. Naruto sedikit terkejut melihat kegilaan hilang dari matanya, diganti oleh spekulasi, seperti menganalisi Naruto.

"Nama.. Kau bilang?" Orang itu memiringkan kepalanya, dan mengusap-ngusapkan dagunya. "Aku tidak ingat.. Aku mempunyai banyak nama. Railen, Tadeshi, Yuka, Takeda, Matoko..." Ia kemudian berhenti. "Tetapi, aku lebih sering dipanggil sebagai Kage." Dan dengan itu, senyuman gila kembali terukir di wajahnya, dan disaat yang bersamaan meluncur kearah Naruto.

Terkejut dengan kecepatan Kage, yang dalam setengah detik, kini berada di belakang Naruto. Naruto, yang sudah bersiap-siap untuk menyerangnya di depan, melebarkan matanya dengan panik melihat orangnya berada di belakang.

'Sangat cepat! Bahkan Haki-ku tidak bisa memprediksinya!'

Kage memancungkan jari telunjuknya, dan dengan pelan menyentuh kepala Naruto dengan jari telunjuk itu.

Selama beberapa detik, tidak ada yang terjadi, sampai kemudian..

Mata Naruto melebar. "Argh!" Dia memuntahkan darah, sebelum akhirnya terpental ratusan meter. Pohon-pohon yang mencoba menghalanginya menjadi hancur.

"Pelajaran pertama! Seorang Ninja menyerang dari belakang! KYAHAHA!" Kage tertawa terbahak-bahak.

Sementara Naruto terbaring di tanah, hampir setengah badannya tertimbun oleh pohon. Darah mulai mengucur dari tengkuk kepalanya, tempat dimana jari Kage itu menyentuhnya.

Walaupun hanya satu serangan, Naruto merasakan seluruh tubuhnya hancur.

'Tidak salah lagi.. Dia memakai Haki,' Pikir Naruto, merasakan serangan tadi memakai Haki. 'Tapi kecepatannya... Itu kecepatan alami! Bagaimana bisa ada manusia secepat itu! Dan namanya.. Dia bilang Kage? Dan juga seorang Ninja? Apa dia Kage yang dimaksud Clover-san? Penulis buku 'itu'?' Naruto kemudian menggelengkan kepalanya. 'Tidak mungkin. Buku itu sudah berada beratus-ratus tahun... Tidak ada orang di dunia ini yang bisa hidup selama itu, kan?'

Naruto menghela nafasnya. Ia yakin Kage akan kembali menyerangnya, dan dengan tubuhnya yang hancur seperti ini, kemungkinan besar ia akan mati di serangan selanjutnya.

Satu-satunya cara untuk bisa menghindarinya adalah untuk memakai teknik itu.

-LineBreak-

Robin melihat keluar jendela perpustakaan dari tempat duduknya. Perasaan tidak enak mulai muncul di dadanya.

'Naruto-nii-chan...'

Dengan perasaan tidak enak seperti ini, ia tidak bisa konsentrasi dengan bukunya.

-LineBreak-

Kage melihat kearah dimana anak tadi ia pentalkan. Asap-asap karena pohon yang jatuh membuatnya tidak bisa melihat anak itu, tetapi Kage bisa merasakan anak itu masih hidup.

Ia cemberut.

'Tch.. Masih hidup setelah terkena dengan teknik itu? Anak itu melukai harga diriku sebagai seorang ninja.' Senyuman gila kembali muncul di wajah Kage. 'Tidak salah lagi.. Dia memakai Yin Tekkai untuk mengeraskan tubuhnya. Jika itu hanya tubuh biasa, dia sudah akan mati. Kyahaha.. Anak sekecil ini memakai Yin? Ini sangat menyenangkan!'

Sebuah seringaian menggantikan senyuman gilanya. 'Jika dia menghindarinya lagi, aku terpaksa harus membuatnya meneruskan warisan Ninja...' Ia kemudian menatap kearah langit dengan cemberut di wajahnya. Wajahnya mempunyai ekspresi kesal. 'Tch.. Ini rencanamu dari awal kan, Kageda? Kau ingin Ninja tidak punah. Memaksaku menulis buku itu, dan melatih yang pantas. Sayangnya untukmu, aku mempunyai standar yang tinggi.' Senyuman gila kembali muncul di wajahnya. Ia tidak akan mengabulkan keinginan pak tua itu.

Dengan seringaian, ia meluncur kearah anak tadi berada, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Melihat anak itu terbaring tak berdaya tertimpa sebuah pohon, Kage hanya tersenyum gila. Ia mengayunkan tangannya, dan menebaskannya ke sosok figur itu dengan seluruh kekuatannya.

-LineBreak-

Olvia melihat kearah balok Poneglyph di depannya dengan cemberut. Membaca semua yang ada di Pongelyph itu, membuatnya sadar, jika memang informasi ini ada di tangan orang lain, dunia akan hancur.

Olvia mengeluskan jarinya di sebuah paragraf yang menarik perhatiannya.

Dia mempunyai banyak panggilan. Iblis, setan, monster, bahkan dewa. Orang paling mematikan dalam umat manusia. Langkahnya tidak mempunyai suara. Auranya tidak terlihat. Bagaikan sebuah serigala yang menyamar. Kemarahannya menentang takdir sendiri. Satu-satunya makhluk yang bisa melukainya bisa melakukannya hanya karena keberuntungan, karena saat itu dia sedang berdoa disebuah altar, karena tidak ada yang bisa melukainya dalam pertarungan. Jika dia tidak ingin bertarung, kekalahan tidak bisa dihindari. Jika dia ikut bertarung, kemenangan pasti akan terjadi. 10 orang mati ketika dia sekali mengayunkan pedangnya. Dia adalah Takeda Ishiyoshi, kodenama Kage. Sang Achilles. Penerusnya akan membersihkan dunia dari kegelapan yang mengotorinya.

-LineBreak-

Dengan senyuman gila, Kage menebaskan dua jarinya ke tubuh Naruto.

DUARR

Sebuah gempa terjadi, tanah Ohara sendiri retak. Para penghuni Ohara merasakan gempa yang sangat besar. Rumah-rumah roboh, jalanan retak, dan pohon-pohon tumbang.

"KYAHAHAHAHA!"

Tawa gilanya terhenti, ketika asap menghilang, dan ia menyadari bahwa di tangannya, kini tertancap batang pohon, bukan tubuh manusia.

Matanya melebar ketika merasakan energi yang bukan Yin telah terpakai. Seringaiannya makin melebar.

"Tadi energi Yin, dan sekarang Yang?! Nak, kau membuatku tertarik! Aku tidak tahu ada manusia di jaman sekarang yang bisa memakai keduanya!" Teriaknya dengan semangat, langsung mencoba melacak keberadaan Naruto dengan Yin-nya, dan langsung menemukannya.

Sementara itu, Naruto terbaring lemah di balik pohon. Tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali, dan kini ia merasakan matanya sudah ingin menyerah, ingin membawanya ke dunia mimpi.

'Robin...'

Adalah pikiran terakhirnya sebelum ia menyerah dan pingsan.

Kage melihat tubuh anak kecil di depannya yang pingsan, senyuman gila berada di wajahnya.

Ia kemudian melihat kearah langit dan tertawa terbahak-bahak lagi.

"KYAHAHAHA! Kau tahu Kageda? Aku mungkin akan mengikuti permainan bodohmu untuk melatih seseorang untuk meneruskan Ninja!"

Dengan itu, Kage merangkul Naruto, dan dalam sekejap, menghilang terbawa hembusan angin.

-ChapterEnd-

AN: Oke, chapter selesai. Aku entah kenapa gaterlalu puas sama chapter ini.

Peran Kage disini hanyalah seorang guru, untuk Naruto. Kekuatan dia tidak sama saat masa-masa kejayaannya. Dia disegel oleh seseorang bernama Kageda di buku Ninja, untuk melatih orang yang pantas untuk menjadi generasi ninja selanjutnya. Kage gasetuju dengan semua ini, dan dia juga kesel sama Kageda. Karena itu, setiap orang yang mengambil buku itu langsung Kage bunuh untuk bales dendam ke Kageda. Dia terikat di buku itu, Cuma bisa kekuar kalau ada yang ngebuka buku itu. Melihat Naruto bisa menggunakan energi Yin dan Yang, alias Haki dan Chakra, untuk yang masih belum sadar akan itu, Kage memutuskan untuk melatih Naruto, alasan utamanya karena dia sangat bosen.

Tulisan di Poneglyph itu adalah pesan ke masa depan untuk memberitahu bahaya yang ada pada masa Abad Kosong. Jadi ya, Kage hidup di Abad Kosong. Clover dan lainnya, yang tahu Kage sebagai pendekar hebat dari jaman dahulu, gatau Kage itu berasal dari Abad Kosong.

Chapter ini adalah chapter interlude, chapter perantara. Cuma berisi progress Naruto untuk menjadi kuat, ga ada kejadian penting yang terjadi. Jadi, agak membosankan. Plot cerita akan mulai di chapter depan, jadi, kedepannya akan makin banyak aksi dari Naruto~

Oke, sudah resmi. Setelah dipikir-pikir, aku memutuskan untuk ga ngasih Naruto kekuatak buah iblis. Aku ingin membuat Naruto menjadi kuat, tanpa kekuatan buah iblis seperti Mihawk dan Shanks.

Hmm.. Hanya segitu dulu, deh. Kalo ada yang punya pertanyaan dan saran, tolong kasih di review. Kalo bisa, pake akun juga biar aku bisa pm, dan jawab pertanyaan kalian. Ngasih saran juga bisa, kok.

Baiklah, ciao~