Wanted: Devil by Xrenity
Chapter 3
-ChapterStart-
Nico Robin duduk di samping kasur kakaknya dengan ekspresi sedih di wajahnya, melihat kakaknya terbaring di kasur, tubuhnya dipenuhi oleh perban.
Sejak gempa bumi besar yang terjadi sejak seminggu yang lalu, kakaknya menghilang, hanya untuk tiba-tiba muncul keesokan harinya, sudah terbaring di kasur, perban di seluruh tubuhnya, dan tidak sadar.
Ketika menemukannya, Robin panik. Ia mencoba meminta bantuan kepada tantenya, tetapi tantenya malah terlihat senang melihat keadaan kakaknya. Robin coba meminta bantuan Clover-san, tetapi Clover-san tidak diperbolehkan masuk rumah oleh tantenya.
Robin tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jadi, ia hanya menunggu, berdoa agar kakak tersayangnya bangun. Seminggu tanpa kakaknya, dunianya seolah berubah.
Tidak ada lagi yang bermain dengannya. Tidak ada lagi yang memegang tangannya ketika mereka berjalan keliling kota, tidak ada lagi yang menyuapinya ketika ia tidak ingin menaruh bukunya, tidak ada lagi yang memasak makanannya, tidak ada lagi yang melindunginya dari kata-kata kasar tantenya, yang kini semakin sering terjadi, sekarang dia melihat kakaknya tidak bisa apa-apa.
"Robin!"
Suara kesal tantenya memanggilnya dari luar. Robin mengelap air matanya. Ia akan disuruh mencuci piring dan memberishkan rumah lagi. Jika ia tidak melakukannya, tantenya mengancam akan mengeluarkan ia dan kakaknya dari rumah.
Bangun dari kursinya, Robin melihat kearah kakaknya lagi, harapan tercemin di matanya.
"Onii-chan... Bangun..." Ucapnya dengan penuh kesedihan, sebelum keluar kamarnya
Tepat ketika Robin menutup pintu kamarnya, sebuah figur langsung saja muncul, duduk di kursi yang tadi Robin duduki.
Figur itu mempunyai rambut pendek seleher yang berantakan, dengan mata berwarna merah, sebuah luka sayatan terlihat di lehernya, dan wajah yang lusuh.
Figur itu adalah Kage, alias Takeda Ishiyoshi, seseorang yang dulu pernah ditakuti seluruh dunia dan mendapatkan titel manusia paling mematikan. Kerajaannya memberinya kodenama Kage, sebuah bayangan. Kerajaan lainnya memberinya kodenama Achilles, sang pendekar terhebat dari mitos.
Ia kini sedang menatap anak di depannya, wajahnya yang biasanya mempunyai ekspresi psikotik terganti dengan ekspresi berpikir.
'Ia masih tidak bisa menggunakan Yin dan Yang dengan mahir... Dari apa yang aku lihat, ia mempunyai stamina yang tinggi, dari latihannya, dan juga hampir memasteri gaya bertarung Ninja dasar. Tidak buruk, untuk anak 6 tahun.'
Ia terinterupsi ketika mendengar suara batuk dari anak yang sedang berada di pikirannya tadi.
"Robin!" Teriak anak itu ketika pertama kali dia bangun. Anak itu mencoba melihat sekitar, dan ketika anak itu menangkap figurnya, matanya melebar. Ekspresi takut mulai muncul di wajahnya.
Kage mengeluarkan seringaian yang lebar. Matanya kembali mencerminkan kegilaan.
"Boo."
"AAAHHHHH!" Anak itu berteriak kaget, membuat Kage tertawa terbahak-bahak.
"Bajingan!" Kage menghentikan tawanya, melihat anak tadi kini sudah bisa mengambil komposurnya. "Apa yang aku lakukan disini?! Dimana Robin?! Aku akan menbunuhmu jika kau melakukan sesuatu kepadanya!" Dia berseru dengan penuh kemarahan.
Mendengar itu, Kage tertawa terbahak-bahak, membuat Naruto menberinya sebuah glare yang sangat tajam. Naruto dan ia tahu, kalau Naruto tidak bisa melakukan apa-apa padanya.
"Haa... Manusia yang perduli pada manusia lain? Aku kira jenis manusia seperti itu sudah punah." Kage berkata, dan kemudian tertawa lagi.
Naruto mengepalkan tangannya dengan keras, memberikan pandangan benci kearah Kage. Coba saja ia bergerak, ia akan menghapus seringaian mengejek itu dari orang yang hampir membunuhnya itu.
"Brengsek! Dimana Robin?! Apa dia baik-baik saja?! Jawab aku!"
Teriakan anak kecil itu mulai mengganggu kupingnya, Kage berpikir sambil mengeluarkan ekspresi iritasi di wajahnya.
"Argh, bisakah kau diam? Teriakanmu menganggu kupingku!" Ketika anak itu masih tidak mau diam, Kage melanjutkan, "Jeez! Jika yang kau maksud adalah anak berambut hitam yang daritadi menunggumu disini, dia—"
Naruto melihat kearah Kage, menunggunya untuk memberi tahukan kondisi Robin.
"—mati."
Mata Naruto melebar dengan penuh kebencian.
"Bercanda!" Kage kemudian tertawa terbahak-bahak. "Dia sedang cuci piring di luar. Kyahahaha!"
Urat-urat muncul di dahi Naruto. "Itu sama sekali tidak lucu!" Teriak Naruto kesal.
"Salah sendiri gapunya selera humor."
"Selera humormu itu yang bermasalah! Kau psikopat!"
"KYAHAHAHA! Kau sangat lucu!"
"Aku bahkan tidak mencoba melakukan lelucon, brengsek!"
Urat-urat keluar dari dahi Naruto lagi. Ia kemudian memberikan sebuah pandangan ke Kage. Naruto adalah orang yang perseptif. Melihat seluruh lukanya sudah dibalut dan diperban, dan kemudian Kage, yang sama sekali terlihat tidak ingin membunuhnya sekarang, Naruto tahu Kage adalah yang membalut dan mengobati luka-lukanya. Robin tidak mengetahui pengetahuan medik sama sekali, dan Roji tidak akan menolongnya sama sekali walaupun ia sedang berada di pintu kematian. Ada posibilitas Dokter, tetapi Naruto mempunyai feeling bahwa Kage yang mengobatinya sendiri.
"Apa yang kau mau?" Naruto bertanya dengan kasar, masih tidak mempercayai psikopat yang mencoba membunuhnya.
"Aku memutuskan akan melatihmu. Kau sekarang adalah muridku."
"..."
"..."
"Kau mempunyai cara yang hebat untuk mencoba membuat seseorang untuk menjadi muridmu." Naruto berkata dengan sarkastik.
"Aku tahu. Aku punya banyak talenta."
"Itu sarkasme brengsek! Dan juga, kaya aku bakal percaya dengan omonganmu setelah kau mencoba membunuhku, kau psikopat!"
Kage memutarkan bola matanya. "Kita akan latihan nanti siang."
"Brengsek, jangan coba asal memutuskan! Dan juga, apa kau tidak lihat semua perban disini!"
"Tch, anak jaman sekarang. Di masaku, anak sepertimu yang mengambil luka seperti itu keesokan harinya bisa bertarung seperti macam. Kau sudah seminggu, dan masih aja ngeluh."
"Anak macam apa yang kaya gitu?! Dan juga, seminggu?!"
"Berhenti teriak, bocah! Telingaku sakit!"
Naruto memberi Kage glare lagi. Sudah seminggu? Ia mulai khawatir atas Robin. Apa Robin baik-baik saja? Apa dia bisa makan ketika ia tidak ada? Dan juga, dengan ia pingsan selama seminggu, apa Robin disakiti oleh Roji? Jika Roji berani-beraninya menyentuh Robin, ia akan membunuhnya kali ini!
Naruto menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya. Ia akan menanyakan itu semua ketika ia bertemu dengan Robin. Sekarang...
Naruto melihat kearah orang di sampingnya dengan ketidakpercayaan.
"Kenapa kau ingin aku jadi muridmu?" Tanya Naruto penasaran.
Mendengar itu, Kage menaikan alisnya. "Itu pertanyaan yang bagus." Ia kemudian menaikan bahunya. "Aku bosan. Tersegel di buku itu selama beratus-ratus tahun bisa membuat pikiran orang jadi sengklek, kau tahu."
Urat-urat kembali muncul di dahi Naruto.
"Jawaban macam itu, hah?!" Menyadari kata 'tersegel' dan 'buku', Naruto memiringkan kepalanya. "Apa yang kau maksud dengan tersegel dalam buku?"
Kage melihat kearah Naruto. Mata yang biasanya memancarkan kegilaan, kini berubah menjadi serius.
"Aku..." Naruto menunggu jawabannya. "...lupa pertanyaannya."
Naruto sweatdrop.
"BRENGSEK! APA KAU MENGERJAIKU?! PSIKOPAT!"
Kage menghela nafasnya, seolah kecewa. "Jeez, gapunya selera humor." Mendengar ini, urat-urat dahi Naruto kembali muncul. "Apa yang kau tahu soal Ninja?" Kage bertanya, kali ini serius.
Naruto memiringkan kepalanya. "Yang aku tahu, Ninja adalah sebuah pasukan yang spesialisasi dalam assasinasi, espionase, dan lainnya."
Kage mengangguk. "Kau benar. Ninja adalah pasukan yang dibentuk untuk objektif itu. Namun, kita juga dibentuk untuk menjadi prajurit sempurna." Kage mengambil nafasnya. "Ratusan tahun yang lalu, kerajaan Barnabara terkenal karena pasukan militer mereka. Mereka adalah Kerajaan yang paling ditakuti dalam seluruh dunia. Mereka memimpin kerajaan mereka dengan tangan besi, dan idealisme fasis. Penduduk menderita di bawah mereka. Dipaksa untuk menaati peraturan, kalau sampai ketawan mematahkannya, langsung dibunuh di tempat. Anak laki-laki yang berumur 10 tahun wajib mengikuti program militer, sementara perempuan hanyalah dijadikan sebagai penghibur."
"Warga mereka sangat menderita, sampai-sampai salah satu warganya mulai patah. Dia sadar, untuk menghadapi kegelapan, dia harus menghadapinya dengan kegelapan. Dia mempunyai sebuah ide. Dia mencoba untuk mempunyai pasukan, pasukan elit, pasukan tak tertandingi, untuk menjatuhkan kerajaan Barnabara. Dia mulai menculik 10 bayi. Dia adalah dokter dan juga ilmuwan. Dia mulai bereksperimen dengan bayi itu, untuk memastikan bayi itu menjadi pendekar yang kuat. Memberikan banyak suntikan, obat-obatan yang berbeda untuk semua bayi. Dari 10 bayi itu, hanya satu yang selamat. Dari eksperimen itu, bayi itu mendapatkan sebuah kekuatan unik. Dia jadi tidak mempunyai hawa keberadaan sama sekali."
Naruto menaikan alisnya.
"Langkahnya juga jadi tidak mempunyai suara, sementara itu, energi Yin dan Yang-nya menjadi lebih banyak 10 kali lipat daripada orang biasa. Bayi itu diberi nama Ninja, berdasarkan sebuah mitologi tentang seorang Assasin. Menyadari betapa suksesnya Ninja, sang dokter bereksperimen lagi pada bayi yang lainnya, kali ini memberikan seluruh bayi hal yang sama dengan Ninja. Itulah bagaimana terbentuknya Generasi Ninja pertama."
"Kita dilatih sejak kita bisa berdiri, dilatih berbagai macam teknik bertarung. Ilmuwan ini dibantu oleh salah Admiral dari kerajaan di pulau tetangga. Sang Admiral mengajarkan seluruh bentuk bertarung kepada bayi-bayi itu. Dari mulai strategi, pertarugan tangan, senjata, infiltrasi, espionasi, assasinasi, kita diajarkan semuanya. Ketika kita 20 tahun, tiba saatnya untuk menyerang. Kita membantai pasukan Barnabara dalam hitungan detik, karena kemampuan spesialis kita untuk tidak memberikan bunyi dan hawa keberadaan kita yang tidak ada. Dengan kecepatan secepat kilat kita, pasukan Barnabara seolah dibantai oleh hantu."
"Ini semua menarik," Naruto menginterupsinya. "Tapi apa hubungannya denganku?"
Kage memutar bola matanya. "Oke, memajukan waktu bertahun-tahun kedepan, karena kita dipimpin oleh Ninja, dan hanya Ninja yang dikenal namanya, kita mulai dikenal sebagai pasukan Ninja. Pasukan Ninja adalah kebanggaan kerajaan Barnabara yang baru. Dalam beberapa tahun, bukan hanya orang spesial saja yang boleh bergabung menjadi Ninja, tetapi orang lain juga. Ninja menjadi sebuah harapan, sebuah prinsip.
Kita adalah kegelapan untuk menyapu kegelapan lain. Moral tidaklah penting, yang penting hanyalah kebaikan dunia. Kita membunuh 100 orang untuk menyelamatkan 1000 orang. Kita menghancurkan sebuah kota untuk menyelamatkan sebuah negara. Kita menghancurkan negara, untuk menyelamatkan dunia."
Mata Naruto melebar mendengar itu. Melawan kegelapan dengan kegelapan.. Bersedia mengorbankan banyak orang demi lebih banyak orang? Apa itu bukanlah.. Brutal?
"Kita bagaikan iblis untuk satu orang, dan kita bagaikan malaikat untuk orang lain. Itulah... Yang namanya seorang Ninja." Nada suram menyelimuti perkataan Kage. "Semakin sering aku menjalani misi, aku menjadi semakin muak. Aku melihat ratusan orang tak bersalah mati aku korbankan. Aku selalu mencoba berpikir bahwa ini untuk kebaikan, tetapi aku menyadari sesuatu. Apakah ini adil? Siapa kita untuk mempermainkan nyawa manusia? Apakah kita berhak untuk memutuskan siapa yang mati siapa yang hidup? Tujuan Ninja untuk pertama kalinya adalah untuk menebas kegelapan, untuk memberikan cahaya kepada Barnabara, kenapa menjadi seperti ini? Tugas kita bukanlah menebas kegelapan untuk menyelimutinya dengan kegelapan lain. Aku keluar dari Ninja, lari dari kerajaan Barnabara dan menjadi pembunuh bayaran."
Naruto memberikan deadpan. "Aku kira kau akan suka dengan Barnabara dan Ninja.. Kau tahu, melihat kau adalah, ah, psikopat."
"Jangan memotong, bocah!" Kage memberikan Naruto jitakan. "Lanjut kembali. Aku menemukan seseorang yang aku cintai, seseorang yang mempunyai dendam padaku mengetahuinya, membunuh istriku untuk dendam, dan aku akhirnya patah, dan menjadi seperti ini. Satu hari yang buruk. Satu hari, untuk merubah orang paling waras di dunia menjadi gila."
Naruto memberikan pandangan simpatik pada Kage. Entah Kage tidak perduli atau tidak menyadarinya, ia melanjutkan.
"Pada saat itu Kageda menemuiku. Kau tahu, beberapa tahun yang lalu aku menulis buku pelajaran, buku instruksi untuk akademi Ninja. Kageda sudah menyadari betapa berubahnya Ninja sekarang. Dia memintaku untuk membantunya mencari orang lain untuk diajari prinsip seorang Ninja yang benar. Melihat keadaanku saat itu, masih haus akan dendam, menolaknya. Versi pendeknya, kita bertarung, dan Kageda menyegelku di buku yang aku tulis sendiri, berharap aku bisa sadar kembali dan meneruskan prinsip seorang Ninja." Tepat pada saat itu, Kage mengeluarkan sebuah buku berwarna silver yang Naruto sudah familiar.
Realisasi terlihat di wajah Naruto. "OOH! Maksudmu buku itu?!"
Urat-urat muncul di dahi Kage.
"Apa kau baru sadar?! Lambat!"
"Kalau begitu... Kenapa kau baru muncul sekarang? Buku itu sudah ada sejak beratus-ratus tahun!"
"Aku membunuh semua yang pernah membuka buku itu. Makin lama, aku semakin bosan, aku membuat taruhan dengan diriku sendiri, jika ada orang bisa selamat dari dua seranganku, aku akan melatihnya. Selamat, kau orang yang terpilih." Kage menaikan bahunya.
Naruto sweatdrop.
"Aku tidak tahu harus merasa beruntung untuk dilatih oleh psikopat apa tidak." Naruto berkata dengan deadpan.
-LineBreak-
"Onii-chan!"
Ketika Robin membuka pintu kamar, ia mengira ia akan disambut oleh kakaknya yang masih tidak sadar di kasur. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat kakaknya sudah bangun, ekspresi lega terlihat di wajahnya.
Robin tidak menghabiskan waktu lagi untuk langsung lari kearah Naruto dan memeluknya, walaupun Naruto masih terbaring di kasur, terlalu bahagia melihat kakaknya sudah kembali.
"Kau membuatku takut, Onii-chan! Setelah gempa bumi itu terjadi, kau menghilang dan kemudian besoknya tiba-tiba disini dengan semua perban yang ada di tubuhmu! Aku merasa takut, aku mencoba meminta tolong kepada Roji-obaa-san, tetapi dia tidak mau! Dia juga tidak membiarkan Clover-san untuk memeriksamu! Aku tidak tahu harus apa, aku kira kau akan meninggalkanku seperti Kaa-chan! Aku menunggumu bangun setiap hari, tapi kau tidak bangun-bangun juga. Aku sangat takut—"
"Wow wow, lambatkan sedikit Imouto-chan, kau berbicara terlalu cepat, aku tidak mendapatkan hampir seluruh perkataanmu." Naruto berkata dengan senyuman, tangannya mengelus-ngelus punggung Robin yang kini sudah mengeluarkan tangisan di dadanya.
Awalnya hanya pelukan, Robin kini terbaring di sampingnya, tangannya memeluknya sementara kepalanya berada di atas dada Naruto, menangis bahagia bisa mendengar suara kakaknya lagi.
Tersenyum sedih karena sudah membuat adiknya seperti ini, Naruto mengusap punggung Robin, mencoba menenangkan tangisannya.
"Sssh... Aku tidak akan meninggalkanmu, kau tahu itu. Aku akan selalu bersamamu, ingat? Lagipula, aku sudah berjanji kepada Kaa-san untuk selalu melindungimu." Naruto berkata, mencoba menenangkan Robin.
"Aku takut..." Robin berkata, memeluk tubuh Naruto makin erat dan menguburkan kepalanya di dada Naruto, tidak ingin meninggalkannya, takut jika Naruto akan tiba-tiba pingsan lagi.
"Sshhh..." Naruto mengusap-ngusap rambut Robin dengan penuh kasih sayang, menyingkirkan rambut Robin yang menutupi wajahnya, agar ia bisa melihat jelas wajah Robin. "Maafkan aku. Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Bisik Naruto.
"Jan... Janji?"
Suara Robin tersumbat sedikit karena ia menguburkan wajahnya di dadanya, tetapi Naruto tetap bisa dengan jelas mendengarnya.
"Janji seumur hidup!" Naruto berkata dengan senyuman besar. Ia bisa merasakan Robin tersenyum mendengar proklamasinya.
"Baka nii-chan.." Gumam Robin, membuat Naruto terkekeh.
"Jadi, apa saja yang terjadi selama aku tidur?"
Robin melepaskan kepalanya dari dada Naruto dan kini melihat kearah Naruto dengan eksoresi berpikir.
"Penduduk mencoba membangun kembali bangunan yang rusak dari gempa besar itu. Untung saja, perpustakaan hanya menerima kerusakan kecil." Disini Robin berhenti, ragu apakah harus melanjutkan atau tidak. Melihat kakaknya memberikan senyuman, Robin melanjutkan, "Roji-obaa-san berkata kasar padaku... Dia menyuruhku mencuci piring dan membersihkan rumah terus. Bukan seperti ketika Onii-chan memberikanku tugas untuk mencuci piring atau membersihkan rumah.." air mata mulai terkumpul di mata Robin. "Roji-obaa-san selalu memarahiku, aku tidak tahu kenapa... Dia juga memukulku... Onii-chan.. A-apa.. Apa Robin melakukan sesuatu yang buruk?" Robin kini menatap kearah Naruto dengan tangisan di wajahnya, bingung kenapa tantenya, yang adalah keluarganya, memarahinya dan memukulnya.
Naruto mengepalkan tangannya mendengar ini.
'Si brengsek... Ketika aku sudah bisa berjalan lagi, akan aku ingatkan kenapa mereka tidak boleh menyentuh Robin...' Pikir Naruto sambil mengepalkan tangannya dengan marah. Ia kemudian kembali mencoba menenangkan Robin.
"Kau tidak melakukan hal yang buruk, Robin..."
"Lalu kenapa...?"
"Di dunia ini, ada orang seperti Roji. Dia adalah orang yang buruk, orang egois yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang disekitarnya. Orang yang selalu komplain tentang apapun dan tidak pernah puas dengan apapun. Orang seperti itu membuatku muak." Naruto kemudian cemberut. "Janganlah jadi orang seperti Roji yang selalu mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain. Manusia adalah makhluk sosial, tanpa orang lain kita tidak bisa apa-apa. Kau tidaklah melakukan hal yang buruk. Kau sudah menaati segala sesuatu yang di katakan. Roji lah yang salah, untuk tidak bisa mengapresiasikan seluruh kerja kerasmu."
Naruto kemudian memberikan senyuman besar kepada Robin. "Lagipula, kau tetap melakukan semua itu, daripada komplain terus menerus seperti Roka." Roka adalah anak dari Roji. "Jadi, kau harusnya bangga pada dirimu sendiri."
Robin mengangguk, mendengar kata Naruto. Pikiran kecilnya tidak mengerti maksud besar dari apa yang dikatakan Naruto, tetapi satu hal yang ia tahu adalah, kata-kata itu adalah kata-kata untuk membuatnya senang dan tidak sedih lagi.
Mengelap air matanya, Robin kembali menidurkan kepalanya di dada Naruto, senyuman bahagia berada di wajahnya.
"Aishiteru wa, Onii-chan."
Naruto terkekeh mendengar itu. Sebelum ia bisa menjawabnya, ia melihat Robin sudah menutup matanya. Lelah karena kegiatannya tadi.
Naruto tersenyum.
"Anata mo daisuke desu, Imouto-chan."
Naruto kemudian menutup matanya lagi, mencoba bergabung bersama Robin untuk pergi ke alam mimpi.
Bibir Robin melengkung keatas sedikit, mendengar perkataan Naruto.
-LineBreak-
"Jadi..." Menyeringai seperti seorang psikopat, Kage duduk bersila di tanah hutan yang seminggu yang lalu baru saja ia hancurkan. "Coba memaksaku untuk bergerak dari posisi ini." Seringaiannya semakin melebar, ia kemudian menyisipi secangkir teh yang ia bawa, seolah mengejek Naruto.
Urat-urat mulai keluar dari dahi Naruto, dan tangan Naruto mengepal.
"Apa kau meremehkanku, kau psikopat?!" Tanyanya dengan kesal.
Alis Kage berkedut dengan iritasi. "Oy! Tunjukan sedikit hormat pada senseimu!"
"Kaya aku peduli dengan suatu hal yang namanya 'hormat'!" Dengan itu, Naruto meluncur kearah Kage yang sedang duduk bersila dengan tenang.
Menyalurkan seluruh Hakinya ke tangannya, Naruto mengayunkan tangannya ke Kage, yang dengan santai mengangkat lagi secangkir tehnya untuk ia sisipi.
DUAR
Mata Naruto melebar, melihat tinjuannya, yang sudah ia beri Haki, dihentikan dengan mudah dengan secangkir gelas teh. Bahkan cairan teh yang ada di dalam sama sekali tidak keluar atau tertumpah sama sekali. Ia seolah hanya menonjok cangkir biasa tanpa kekuatan apa-apa.
Tetapi ia tahu pukulannya berhasil, karena di belakang Kage, tenaga dan kekuatan pukulan Naruto menabangkan beberapa pohon.
Kage menyisipi tehnya dengan tenang lagi.
"Tch, anak jaman sekarang.." Komplainnya, membuat urat-urat kembali muncul di dahi Naruto. "Yang terpenting adalah kontrol, bukan banyaknya Yin yang disalurkan. Kau hanya akan membuat dirimu capai."
Selesai menyisipi tehnya, Kage menampar tangan Naruto, yang karena shocknya, belum terlepas dari cangkirnya. Ia dengan kasual menaruh cangkir tehnya di sampingnya.
"Lapiskan tubuhmu sebanyak-banyaknya dengan Yin, bocah."
Sudah familiar dengan Kage yang mengatakan Haki sebagai Yin, Naruto menurutinya. Ia melapiskan seluruh tubuhnya dengan Haki, membuat seluruh tubuhnya dilapisi warna hitam. Dengan armor seperti ini, pukulan biasa bahkan akan menyakiti orang yang mencoba memukulnya.
Kage menaikan alisnya, melihat kini seluruh tubuh Naruto berwarna hitam, bisa merasakan Naruto melapiskan seluruh tubuhnya dengan energi Yin.
Melihat itu sudah dilakukan, Kage kemudian menggesturkan Naruto untuk membawa kepalanya kearah Kage yang sedang duduk bersila.
Kage kemudian menyeringai lagi bagaikan psikopat. "Lain kali, jangan melakukan apa yang musuhmu suruh, bocah."
Naruto melebarkan matanya, ketika Kage menyentilnya di dahinya.
Naruto tahu apa yang bisa sentilan itu lakukan. Hari pertamanya bertemu dengan Kage membuktikannya. Tapi... Dengan armor Haki seperti ini, kejadian seperti itu tentu tidak akan terjadi lagi, kan?
Naruto melebarkan matanya. Ia seperti dihantam oleh ratusan tangan milik raksaksa. Walaupun dengan armor Haki-nya, Naruto dengan mudah terpental jauh puluhan meter ke belakang.
Kage menyisipi tehnya lagi, ekspresi iritasi terlihat di wajahnya, melihat muridnya sangat lemah.
'Tch, setidaknya lebih lumayan daripada anak-anak di akademi Ninja.' Ekspresi berpikir kemudian terlihat di wajahnya. 'Kenapa seluruh tubuhnya berubah menjadi warna hitam? Apa dia tidak tahu cara mengontrolnya sama sekali?' Kage kemudian cemberut. 'Tetapi ketika dia memakai Yang untuk bertarung denganku sebelumnya, dia sepertinya bisa mengontrolnya, dan berhasil melakukan tekhnik pertukaran.'
Naruto kini sudah pulih dan berjalan kearah Kage dengan lemah. Darah terlihat mengucur dari dahinya, sementara luka-luka terlihat di seluruh badannya.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu, psikopat?! Aku sudah mengeluarkan seluruh Haki-ku!"
Mengabaikan perkataan Naruto, Kage kemudian memanggil Naruto.
"Oi bocah! Coba pakai salah satu teknik dengan energi Yang!" Kage memerintah.
Naruto memiringkan wajahnya dengan bingung. Ia mengerti kalau Kage bilang Yin, yang dimaksud adalah Haki. Tapi apa itu Yang?
"Huh?"
Kage, mengerti pada saat hari pertama bahwa energi Yin dan Yang sudah tidak dipanggil itu lagi untuk manusia jaman sekarang, mengerti kebingungan Naruto.
"Itu! Energi yang kau pakai ketika kau menghindari serangan keduaku pada saat itu!"
Naruto mengedipkan kedua matanya. Yang ia lakukan adalah waktu itu adalah Kawarimi... Apa yang dimaksud Kage adalah... Chakra?
Tapi, apa memang ada Chakra di dunia ini? Atau, yang dimaksud Kage adalah Haki lagi? Tidak mungkin. Kage memanggilnya Yang... Yang berarti, apakah disini Chakra dipanggil Yang? Apa orang lain bisa memakai Chakra? Dragon hanya bilang energi di dunia ini hanyalah Haki..
"Oi! Apa yang kau lakukan diam saja?!"
Dengan hati-hati, Naruto melakukan segel untuk melakukan Henge.
Kage menaikan alisnya lagi melihat bagaimana Naruto membuat sebuah pose di tangan, sebelum kemudian ia merasakan energi yang di keluarkan, dengan pose tangan Naruto tadi, energi Yang tadi menjadi lebih terkontrol, dan kemudian dilepaskan, menimbulkan asap mengelilingi Naruto dengan bunyi 'Pof'.
'Dia membuat Yang-nya lebih terkontrol dengan pose tangan itu... Aku belum pernah tahu ada cara seperti ini untuk mengontrol Yang. Apa ini bagaimana manusia jaman sekarang menggunakan Yang? Menarik.. Tetapi dengan melakukan pose tangan itu, kekuatan teknik yang dikeluarkan menjadi lebih lemah daripada mengontrolnya seperti biasa.'
Ketika asapnya sudah hilang, kini terlihat duplikat sempurna dari Kage sendiri, tapi wajahnya kini mempunyai ekspresi genit, dengan bibir yang dimancungkan, seolah ingin sebuah ciuman.
Urat-urat mulai muncul di kepala Kage. "Bocah sialan! Jangan pake ekspresi itu di wajahku!"
Dengan itu, Naruto melepaskan Henge-nya, dan kini berbaring di tanah tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk kearah Kage.
"GAHAHAHA! Kau seharusnya lihat wakahmu! Coba saja aku membawa cermin! GAHAHAHA!"
"Bocah kurangajar! Apakah itu kelakuan yang pantas untuk gurumu?!"
"Kau lebih terlihat seperti pengemis daripada seorang guru!"
"Apa kau ingin aku hajar lagi hah?! Seperti hari pertama?!"
"Heh! Siapa takut!"
Kage melepaskan sendal jepitnya, menyalurkannya dengan Haki, ia melemparkan sendal jepit itu kearah Naruto.
Sendal jepit itu mengenai Naruto tepat di muka, dan karena disaluri dengan Haki, membuat Naruto terpental ke belakang beberapa meter.
"Ow! Kau psikopat! Kau mengajak berantem hah?!"
Kage memberikan Naruto sebuah glare. "Sekarang diam dan lakukan apa yang aku suruh!" Naruto akhirnya diam, dengan ekspresi kesal di wajahnya. "Sekarang, lakukan apa yang kau lakukan dengan Yang-mu, tetapi kali ini dengan Yin-mu!"
Naruto mengedipkan kedua matanya terkejut. "Eh? Kau menginginkan aku melakukan Henge dengan Haki?! Apakah itu bisa?! Tapikan, segel tangan hanya untuk—"
Sebelum Naruto bisa melanjutkannya, ia sudah direnterupsi oleh Kage.
"Bisa, idiot! Sekarang lakukan apa yang aku suruh!"
Naruto mengedipkan kedua matanya. Ia tidak pernah berpikiran untuk mengontrol Haki sebagaimana ia mengontrol Chakra. Ide itu tidak pernah terlintas di kepalanya. Dari ajaran Dragon, yang ia tahu hanyalah menyalurkan Haki. Ke tangannya, ke sekelilingnya. Semakin banyak Haki, semakin bagus. Dragon tidak pernah sama sekali memberikan spesifik untuk mengontrol Haki...
Naruto kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya. Apa yang akan terjadi jika ia melakukan Henge dengan Haki? Apa akan sama saja? Naruto melakukan segel Henge selagi menyalurkan Haki ke tangannya. Selesai melakukannya, ia membayangkan figur detail Kage, dan kemudian melepaskannya.
"Henge!"
Naruto membuka matanya. Tidak ada bunyi 'poof' untuk asap, dan bahkan tidak ada asap sama sekali. Ketika ia melihat kearah tangannya, ia melihat kalau ini masih tubuhnya sendiri.
Naruto mengedipkan kedua matanya bingung.
"Tidak berhasil?" Ia bertanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kage.
Kage menganggukan kepalanya. "Tentu saja tidak akan terjadi, idiot. Yin adalah kekuatan mental, sementara Yang adalah kekuatan fisik. Tekhnik yang dipakai untuk Yang tidak bisa dipakai untuk Yin, dan begitu juga sebaliknya. Salah satu manfaat Yin adalah, Yin bisa membuat kelima indra berfungsi sangat tajam. Kau bisa melihat sesuatu yang harusnya tidak bisa kau jangkau dengan matamu. Kau bisa mendengar sesuatu yang harusnya tidak terdengar. Bahkan Yin juga memberikan indra keenam yang tajam, sebuah insting yang akurat. Yin membuat otak kita bekerja lebih baik daripada saat keadaan normal. Yin juga bisa membuat kau lebih tahan terhadap luka, dan juga menguatkan kulitmu dan ototmu. Karena itu, tinjuanmu bisa membuat batu pecah."
Kage menyeringai. "Sementara Yang, Yang lebih seperti kekuatan elemen. Dengan Yang, kita bisa mengontrol dan membuat elemen yang ada di sekitar kita. Air, angin, api, petir, bahkan elemen molekul seperti gravitasi, nuklir, elektromagnetik bisa dikendalikan. Tentu saja, itu sangat sulit dan membutuhkan banyak waktu. Teknik Henge milikmu itu sebenarnya juga memanfaatkan elemen. Kau mengontrol cahaya yang dilihat oleh targetmu, memanipulasinya agar apa yang dilihat target sesuai dengan keinginanmu."
Naruto mengedipkan kedua matanya. "Eh? Sungguh?"
Urat-urat muncul di kepala Kage, dia kemudian kembali melemparkan sendal jepitnya kearah Naruto, membuat Naruto terpental lagi.
"Idiot! Kau bahkan tidak mengetahuinya?!"
"Hey! Jangan salahkan aku! Aku hanya melakukannya, memikirkan apa yang akan aku lakukan, dan puf! Tada! Orang lain!"
"Idiot! Memahami sebuah teknik sama pentingnya dengan melakukannya! Kalau kau tidak memahami tekniknya, bagaimana bisa kau mengembangkannya?! Sebagai contoh, daripada memanipulasi cahaya untuk membuat seseorang melihatmu sebagai orang lain, kau bisa memanipulasi cahaya untuk menjadi tidak terlihat sama sekali!"
"Hee? Sungguh?!"
"IDIOT!"
Naruto kemudian merenungkan semua yang dikatakan Kage.
"Jadi, secara dasar, Yin dan Yang, atau Haki dan Chakra, adalah dua energi yang sama, tetapi berbeda? Mereka mempunyai elemen yang sama, tetapi bentuk yang berbeda? Seperti minyak dan air?"
Kage menyeringai. "Aku tidak memikirkannya sebagai minyak dan air. Mereka tidak pernah bersatu." Ia kemudian melebarkan seringaiannya lagi. "Lihat semua yang akan aku lakukan dengan baik-baik."
Dan dengan itu, Kage membuka telapak tangannya. Naruto mengedipkan kedua matanya ketika melihat bola-bola yang sangat kecil berkumpul disitu, dan kemudian melebarkan matanya ketika bola-bola kecil itu membentuk sebuah kunai.
Kage kemudian memegang kunainya. Naruto melebarkan matanya lagi ketika kunai itu diselimuti oleh api.
Kage kemudian menutup matanya dengan konsentrasi, dan beberapa detik kemudian, dengan mata tertutup ia melemparkan kunai itu keaatas.
"Headshot." Kage mengguman dengan seringain.
Tepat disaat itu, seekor burung terbang, Naruto melebarkan matanya dengan terkejut, melihat burung itu tertusuk tepat oleh kunai milik Kage.
Ketika burung itu jatuh, di kepalanya terlihat sebuah bolongan dari kedua sisi, tepat dimana kunai Kage tadi melewati.
Naruto menganga. Kage dengan mudah membuat sebuah kunai, menyelimutinya dengan api, dan dengan meram, dengan akurat bisa mengenai burung yang terbang!
"Apa kau tahu apa yang aku lakukan?" Tanya Kage dengan seringaian di wajahnya.
Naruto mengangguk. Sedikit mengerti dengan apa yang terjadi.
"Kau membuat sebuah kunai, yang aku yakin ada hubungannya dengan memakai Chakra, kemudian dengan Chakra, menyelimutinya dengan api. Memakai kekuatan Haki untuk memprediksi dan melihat, kau melempar kunaimu dengan akurat keaatas, sudah mengetahui dengan Haki akan ada burung yang ada di sana." Naruto menjelaskan dengan nada kagum.
Kage mengangguk. "Lebih jelasnya, aku mengubah elemen disekitarku dengan Yang menjadi besi dan mengumpulkannya di tanganku untuk membentuk sebuah kunai. Dengan Yang, aku menyelimuti kunai itu dengan api, kemudian dengan Yin, aku menguatkan kulitku, memastikan kulitku tidak akan terbakar memegang kunai ini. Setelah itu, seperti apa yang kau katakan, memakai kekuatan insting indra keenam dari Yin, aku melihat akan ada burung yang berada di atasku."
Kage menyeringai lebar kearah Naruto yang mempunyai ekspresi kagum di wajahnya.
"Itu, nak, adalah bagaimana Ninja di jamanku bertarung."
Kage menyeringai.
-LineBreak-
"Mungkin ini terlalu cepat, memaksamu untuk mencoba membuatku bergerak." Kage berkata dengan iritasi, salah satu tangannya memegang, atau bisa dibilang memblok, tinjuan Naruto yang dipenuhi oleh Haki untuk yang sekian kalinya, sementara satu tangannya lagi memegang secangkir teh yang isinya sudah habis. "Kau bahkan tidak bisa membuatku memaksa untuk menggunakan tanganku yang satu lagi." Tambah Kage, nadanya lebih kesal lagi.
"Tch! Arrogant psikopat.." Gumam Naruto kesal, melepaskan tangannya dari Kage dan kemudian berbaring ke tanah, jelas kelelahan. "Padahal baru beberapa jam. Memakai Haki yang berlebihan membuatku kelelahan.."
"Bukankah sudah kubilang? Kau tidak bisa mengalahkan semuanya dengan paksaan. Pertarungan bukanlah tentang banyak-banyaknya Yin. Pertarungan adalah sebuah balapan. Yang kelelahan duluan, maka dia yang kalah. Menurutmu, apa yang musuh akan lakukan jika kau sudah kelelahan duluan? Berceramah panjang lebar tentang rencana jahatnya selama kau mencoba pulih? Kau akan dibunuh langsung."
Dengan itu, Kage berdiri. Ia melihat Naruto terbaring, dengan lelah mencoba mengambil nafasnya. Kalau ada satu hal yang Kage sukai dari Naruto, hal itu adalah, Naruto mendengarkan. Dia tidak melawan atau mengoceh jika diberikan suatu nasihat, walaupun nasihat itu diberikan dari seseorang yang tidak ia sukai. Naruto adalah orang yang menghormati pengetahuan orang yang lebih berpengalaman dari dirinya, dan Kage bisa menyukai itu.
Kage berjalan kearah pepohonan. Sesampai disana, ia memetik dua buah daun, dan melemparkan salah satunya kearah Naruto yang terbaring.
Naruto mengedipkan matanya bingung, merasakan daun yang dilempar Kage kini tertempel di jidatnya.
"Apa ini?"
"Jika kau tidak tahu kalau itu daun, aku akan membunuhmu sekarang. Aku akan benar-benar membunuhmu sekarang."
Urat-urat muncul di dahi Naruto. "Brengsek, aku tahu itu! Maksudku, ini untuk apa?"
"Latihan untuk mengontrol energi Yin-mu." Jawab Kage, berbaring di tanah juga dan melihat kearah langit sambil menguap.
"Ah, seperti, latihan mengontrol chakra?"
Mata Kage berkedip kebingungan. "Mengontrol chakra?"
"Ya. Kau tahu, membuat daun ini melayang dengan, um, Yang? Kalau tidak salah aku pernah membacanya di perpustakaan. Salah satu cara untuk mengontrol chakra." Naruto berkata, mengingat sebuah buku yang ia temukan di perpustakaan Konoha.
Kage terlihat mempunyai ekspresi berpikir, memikirkan apa yang dikatakan Naruto. "Hmm.. Aku rasa mengontrol Yang bisa dengan cara seperti itu." Kage mengangguk. "Tapi, yang aku ingin kau lakukan adalah ini. Lihat aku,"
Naruto duduk dari posisi tidurnya untuk mendapatkan pandangan yang lebih bagus untuk melihat demonstrasi Kage.
Naruto melihat Kage menaruh daun yang tadi ia petik di jidatnya. Mulut Naruto terbuka lebar, terkejut ketika tiba-tiba saja daunnya terbelah menjadi dua.
Kage menyeringai lebar. "Jika kau memusatkan Yin-mu dan mengontrolnya dengan tepat, ini yang akan terjadi. Kau bisa merubah kulitmu sendiri menjadi setajam pisau."
"Bagaimana bisa?" Naruto bertanya dengan terheran-heran.
"Pikirkan seperti sebuah angin. Angin yang besar hanyalah bisa menghantam atau menyapu sebuah objek, tetapi angin yang kecil dan terkontrol bisa memotong objek. Mengerti maksudku?" Melihat Naruto mengangguk, Kage melanjutkan. "Yang aku ingin kau lakukan adalah memusatkan energi Yin-mu ke dahimu, dan mengumpulkannya. Terlalu banyak, maka kau hanyalah membuat daun itu terbang, terlalu kecil, maka tidak terjadi apa-apa. Tentu saja, itu bukanlah satu-satunya hal yang harus kau lakukan. Bayangkan dirimu adalah pedang. Pedang yang terlalu tajam memotong segala hal yang ada di hadapannya, memotong teman maupun musuh. Pedang yang terlalu tumpul tidak bisa memotong apa-apa, tidak bisa melindungi diri kita sendiri. Pedang yang sempurna, adalah pedang tajam yang memotong sesuatu yang hanya diinginkan oleh pemiliknya. Memotong musuh, dan melindungi orang yang kita sayangi."
Naruto melihat kearah Kage dengan deadpan. "Apa hubungannya?"
Kage melemparkan sendal jepitnya lagi kearah Naruto. "Jangan menginterupsiku, idiot!" Kage kemudian menarik nafasnya. "Yang aku maksud adalah, ketika memusatkan energi Yin-mu, pikirkan dirimu sebagai pedang. Sesuatu yang tajam. Apalah, aku tidak perduli. Pokoknya sejenis itu. Lagipula.. Kekuatan ini hanyalah dibatasi oleh imajinasi."
Naruto mengangguk, dan dengan semangat, langsung mengikuti apa yang diinstruksikan oleh Kage.
Naruto menaruh daun tadi di dahinya dan menutup matanya, dan berkonsentrasi.
Beberapa detik kemudian daun yang ada di dahi Naruto terhempas jauh seolah seperti ditempa angin yang kuat.
Naruto mengedipkan kedua matanya bingung.
"Terlalu banyak, IDIOT!" Teriak Kage dengan kesal.
Memandang Naruto dengan iritasi, Kage mengambil nafasnya.
"Masih terlalu lama bagimu untuk bisa menantangku seperti tadi jika kau tidak bisa mengontrol Yin dan Yang dengan bagus sama sekali. Jalanmu untuk menjadi seorang Ninja masih panjang, nak."
"Siapa bilang aku ingin menjadi ninja?!"
"Diam dan lakukan latihanmu, bocah!"
Dan dengan ini, latihan Naruto dimulai.
-LineBreak-
Keesokan harinya...
"Uwoo! Lihat! Aku berhasil!"
"Apaan ini?! Ini hanyalah sebuah bolongan kecil!"
"Tapi, tetap saja—"
"Aku tidak perduli, yang aku mau adalah daun yang terbelah!"
"Arrogant, perfeksionis, psikopat!"
"Makasih!"
-LineBreak-
Hari kedua...
"Pikirkan seperti sebuah secangkir gelas yang diisi air. Air adalah energi kita, Yin dan Yang, sementara gelas adalah badan kita. Jika airnya Cuma setengah, kita akan tetap haus. Jika airnya pas, maka kondisi kita sempurna, tetapi jika airnya berlebihan sampai tumpah, kau membuang-buang energi." Kage menatap kearah Naruto yang hampir pingsan di tanah, terlalu banyak menggunakan Haki.
"Jika kau menambahkan airnya terus sampai tumpah dari gelas, walaupun airnya segalon pun, dalam beberapa menit bisa habis. Itulah tujuan dari mengontrol Yin dan Yang, untuk menggunakan energi dengan efektif, bukan asal menyalurkan sebanyak-banyaknya energi yang kau punya."
"Air..." Naruto menggumam, jelas-jelas kelelahan dan kehausan.
"Inti dari ceritanya, bocah, jangan buang-buang air."
-LineBreak-
Hari ke 5...
"Aku tidak tahu apakah terlalu banyak atau tidak. Daunnya tidak terhembus, tetapi tidak menempel di jidatku juga. Daunnya hanyalah melayang beberapa centi dari dahiku..." Naruto berkata, mendemonstasikannya pada Kage.
"Kau menemukan keseimbangan. Yang kurang adalah imajinasi. Kontrolmu sudah bagus, tetapi jika kau tidak memikirkan dahimu sebagai sesuatu yang tajam untuk memotong daunnya, maka itu tidak akan terjadi. Sudah kubilang, batas kekuatan ini hanyalah imajinasi."
-LineBreak-
Hari ke 7...
"Lihat! Aku berhasil! Lihat itu, psikopat!" Naruto berkata dengan senang, meloncat-loncat sambil memperlihatkan dua potong daun.
"JANGAN PIKIR AKU TIDAK MELIHATMU MEMOTONG DAUN ITU DENGAN TANGANMU, BOCAH!"
"Teheee~"
"Tehe tehe matamu! Jangan curang! Lakukan lagi! Tch, anak jaman sekarang!"
-LineBreak-
Hari ke 10...
"Yahooo! Lihat ini, psikopat-sensei!" Naruto menaruh daun di dahinya, dan kemudian menutup matanya dengan konsentrasi. Dalam beberapa detik, daun itu kemudian terbelah menjadi dua. "Ha! Lihat?! Dengan ini, aku bisa membelah sesuatu dengan jidatku!"
"Kekuatan yang sangat menyeramkan." Kage berkata dengan deadpan.
"Nada apa itu hah?!"
"Aku menyelesaikan itu dalam waktu seminggu." Kage melanjutkan dengan deadpan. "Dan kau baru hanya memotong sebuah daun. Pfft. Baru daun aja udah bangga. Bukan berarti kau bisa memotong apapun dengan jidatmu sekarang."
"Psikopat! Setidaknya kasih selamat atau apa!"
"Selamat. Sekarang kita akan latihan mengontrol Yang."
"Ooy! Selebrasinya gimana?!"
"Diam, idiot!"
-LineBreak-
Hari ke 11..
"Yang adalah energi, yang kekuatan utamanya adalah mengontrol elemen. Memakai segel tangan, seperti yang kau katakan, tentu bisa membantu mengontrol teknik, tetapi ada bayarannya. Teknik yang dilakukan hanya mempunyai setengah kekuatan daripada jika tidak memakai segel sama sekali." Kage menjelaskannya kepada Naruto. "Mulai sekarang, aku melarangmu untuk memakai segel tangan."
"Hee?! Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian. Jika kau terus menggunakannya, kau akan terlalu terbiasa. Apa gunanya melatihmu jika kau hanya mengguanakan setengah potensialmu? Kita akan mulai dari salah satu dari elemen utama dan yang paling mudah, yaitu air."
"Apa aku nanti bisa membuat kunai dari udara sepertimu?"
Kage terkekeh. "Masih sangat jauh untuk itu. Mengontrol elemen itu susah, mengubahnya menjadi elemen lain, itu level yang berbeda. Yang aku lakukan adalah, mengubah oksigen disekitarku menjadi besi dan membentuknya menjadi kunai. Elemen utama, api, angin, air, tanah, dan petir adalah yang paling mudah dikendalikan. Sementara es, kayu, magma, dan sub-elemen lainnya berada di peringkat kedua. Mengontrol elemen seperti gravitasi, cahaya, oksigen, nuklir, elektromagnetik, itu berada di level berbeda. Aku membutuhkan waktu 20 tahun untuk sampai ke level itu, dan 10 tahun lagi untuk memasterinya."
"Umurmu sebelum disegel itu sebenarnya berapa sih, kakek psikopat?"
"Pertanyaan itu tidaklah penting."
"Oy! Tapi aku penasaran! Kau kakek-kakek 80 tahun kan?!"
"Diam dan mulailah latihan, bocah!"
-LineBreak-
Hari ke 20...
"Ini sangat melelahkan.. Aku tidak menyangka mencoba menggunakan chakra tanpa segel tangan akan menjadi sesulit ini..."
Naruto terbaring di tanah. Beberapa genangan air sedikit terlihat di sekitarnya, sementara suara deras air terjun daritadi menempa telinganya.
"Ini masih elemen pertama, dan kau bahkan masih belum bisa mengontrol air sedikitpun.." Kage berkata sambil menggelengkan kepalanya. Ia kemudian jalan ke pinggir air terjun, dan menatap air terjun itu dengan konsentrasi.
Dengan sekejap, air terjun itu berhenti, tidak ada lagi arus air yang terjatuh, seolah airnya ditahan oleh sebuah bendungan.
"Itu yang bisa kau lakukan ketika kau sudah memasteri elemen air." Kage berkata, memberhentikan kendalinya terhadap air terjun dan membiarkan ari terjunnya mengalir lagi. Ia kemudian merentangkan tangannya dan dalam sekejap, air yang berbentuk bola muncul di tangannya. "Dan ini yang bisa kau lakukan, jika kau benar-benar memasteri elemen air. Menarik air dari udara di sekelilingmu."
"Sekali lagi..." Naruto mengangkat badannya, dan kemudian menatap kearah air dengan keras dan penuh determinasi.
-LineBreak-
Hari ke 20...
Swish
Naruto meloncat dari posisinya, tepat ketika sebuah kunai menancap kearah tempat yang tadi ditempati Naruto.
"Apa kau mencoba membunuhku, kakek psikopat?!" Naruto berteriak dengan kesal, sebelum harus kembali meloncat lagi, merasakan kunai dilempar kearahnya.
"Bagaimana aku bisa menghindar jika mataku ditutup seperti ini?!" Teriak Naruto lagi, menunjuk kepada sebuah kain yang menutupi matanya.
"Ini adalah latihan untuk melatih refleksmu, insting indra keenam energi Yin-mu, atau dari bahasamu, Kenbonshoku Haki!"
"Aku yakin kau hanya ingin membunuhku, kau psikopat!" Naruto menghindari kunai yang dilempar kearahnya lagi, tetapi kali ini kunai itu berhasil membaret tangannya. "Aku rasa saat pertama kali aku dilatih untuk menggunakan Haki, latihannya tidak seperti ini!"
"Latihan lain yang tidak seperti ini tidaklah efektif! Dengan hilangnya indra penglihat yang menjadi indra utama seluruh manusia, indra lainmu akan bekerja lebih keras dan lebih efektif! 'insting' indra keenam Yin juga akan semakin tajam jika kau tidak bisa melihat!" Balas Kage dengan seringaian seorang psikopat.
"...aku yakin kau hanya ingin membunuhku, kau psikopat!"
-LineBreak-
Hari ke 30...
"Onii-chan, aku membawa makanan."
Naruto menghentikan latihannya bersama Kage. Mereka kembali berlatih untuk mengontrol chakra, kali ini mencoba untuk mengontrol elemen api.
Bajunya sudah Naruto abaikan, kini hanya memakai sebuah celana pendek cargo berwarna coklat.
Dengan cepat, Naruto langsung berlari kearah Robin.
Kage hanya berdiri di tempatnya, membiarkan Naruto istirahat sebentar. Selama sebulan ini, ia sudah memotong banyak waktu Naruto bersama adiknya, jadi ia rasa membiarkan Naruto menghabiskan waktunya sebentar bersama adiknya bukanlah masalah.
"Kau tidak pantas mempunyai adik seperti dia, bocah."
"Apa kau bilang, psikopat?!" Tetapi Naruto langsung mengabaikannya, lebih memilih untuk memakan bento yang dibuatkan oleh Robin.
Robin tersenyum kearah Kage. "Ojii-san, aku membuat satu untukmu juga."
Mata Kage berkedip kebingungan.
Mulut Naruto menganga terkejut.
"Robin! Dia psikopat! Dia akan membunuhmu jika kau memberinya makanan! Lebih baik buatku saja!"
"Oy! Aku ini masih senseimu! Hormat dikit dong!"
"Kaya aku perduli dengan apa yang namanya 'hormat'!"
"Tch, bocah kurang ajar!"
"Kakek psikopat!"
"Kumis kucing!"
"Pengemis psikopat!"
"Idiot!"
"Psikopat!"
"Apa kau tidak punya hinaan lain selain psikopat?!"
"Kumis!"
"Kumis bukanlah hinaan, kau idiot! Memangnya kenapa kalau aku punya kumis, hah?!"
Robin memandang kearah pasangan guru dan murid yang berada di depannya dengan deadpan.
"Nii-chan!" Teriakan Robin membuat Naruto menghentikan argumennya dengan senseinya. Ia langsung berkeringat dingin melihat glare yang diberikan oleh Robin. "Jangan berbicara seperti itu kepada Ojii-san yang sudah membantumu. Aku membawa makanan karena Ojii-san telah merepotkan dirinya untukmu."
Naruto menundukan kepalanya.
"Gomenasai, Robin-chan."
Sementara Kage mencoba menahan tawanya, melihat Naruto tidak bisa berkutik jika menghadapi Robin. Keduanya mengingatkan dirinya sendiri dan istrinya. Ia tidak biaa berkutik jika istrinya sedang marah.
"Ojii-san," Suara Robin mengalihkan perhatiannya. "Ayo makan." Lanjutnya, sambil mencondongkan bentonya kearah Kage.
Kage hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kakinya berjalan kearah Robin.
"Tch.. Anak jaman sekarang..." Gumamnya dengan senyuman, melihat kearah Robin dan Naruto.
-LineBreak-
Hari ke 40..
"Aku mempunyai firasat kalau nyawaku akan dalam bahaya lagi, kemanapun kau membawaku." Naruto berkata dengan datar, tidak berusaha untuk menyingkirkan kain yang ada di matanya.
Percuma juga, setiap ia ingin membukanya, orang yang sedang menuntunnya dia jalan ini langsung menamparkan tangannya.
"Kyahahaha, kau tidak boleh percaya apa yang namanya firasat." Kage membalasnya selagi menuntun Naruto.
"Sampai kapan lagi? Aku rasa kita telah berjalan berjam-jam!"
"Hmm, baiklah, kita berhenti disini." Dengan itu, Kage berhenti menuntun Naruto.
Mereka kini tengah berada di tengah-tengah hutan. Kemanapun mata memandang (tentu, Naruto tidak bisa melakukannya karena matanya tertutup oleh kain), hanya ada pohon.
"Apa aku boleh melepas kainnya?" Tanya Naruto dengan kesal.
Kage menyeringai. "Ini latihannya." Ucapnya.
"...aku merasakan kalau firasatku akan benar..."
"Jadi," Kage memulai dengan seringaian yang besar. "Kau akan menjalani survival training disini. Dengan mata tertutup, tentu saja. Saatnya kita mulai bermain level expert, kau tahu? Kita berada di area paling jauh dari desa, salah satu area terpencil di Ohara. Jangan coba-coba melepaskan kainnya, aku sudah memastikan kain itu tidak akan lepas. Ganbatte, dan sampai jumpa minggu depan! Oh, jangan khawatir soal Robin. Aku sudah bilang kepadanya. Ciao~" Dengan itu Kage menghilang.
Hening. Otak Naruto masih memproses semuanya.
"...si brengsek."
Tepat saat itu, Naruto mendengar suara aungan harimau, membuat Naruto langsung lari.
-LineBreak-
Hari ke 50...
"Oh, kau masih hidup?" Kage bertanya dengan terkagum-kagum dari salah satu batang pohon, melihat kearah Naruto yang sedang melawan seekor beruang, tentu dengan mata tertutup.
Naruto menghindari serangan beruang itu, kemudian mengambil bambu runcingnya. Ia langsung meluncur kearah beruang ketika mendapatkannya.
"Ha! Mati kau akhirnya!" Dengan itu, Naruto menusukan bambunya ke kepala beruang itu.
Selesai melakukan itu, Naruto menghadap kearah Kage, menunjukan jarinya kearah Kage, seolah menuduhnya.
Naruto melalukan semua itu dengan kain yang diikat untuk menutupi matanya.
"Kau bilang hanya seminggu, ini sudah 10 hari, kau brengsek! Psikopat! Kakek psikopat! Psycho! Apa kau suka melihat anak kecil menderita hah?!"
Kage menatap kearah Naruto dengan deadpan.
"Darimana kau tahu ini 10 hari? Kau bahkan tidak bisa melihat posisi matahari. Ini masih seminggu."
"Jangan coba untuk berbohong, kau— eh, sungguh?!"
"Tidak. Ini sudah 10 hari. Aku hanya lupa untuk mengecek."
"Aku akan membunuhmu. Sumpah, aku akan membunuhmu." Naruto membalas dengan datar.
"Dan juga," Kage menyeringai. Menunjuk kearah kain yang diikat untuk menutupi mata Naruto. "Kau kasih memakai itu?"
Naruto, yang mengetahui apa yang Kage tunjuk dengan Haki-nya, hanya bisa memiringkan wajahnya bingung.
"Eh?"
"Kenapa kau masih memakainya? Kukira kau akan melepaskannya di hari pertama."
"Eh? Bukankah ini tidak bisa dilepas?!"
Kage menatap kearah Naruto dengan deadpan. "Aku cuma bercanda soal gabisa dilepas. Itu hanyalah kain biasa."
Keheningan menyelimuti mereka.
Naruto mencoba membuka kainnya, dan benar saja, kain itu terlepas bagaikan kain biasa, dan kini ia mendapatkan penglihatannya kembali.
Naruto mengepalkan tangannya. Aura menyeramkan mengelilingi tubuhnya.
"Jadi selama ini..."
"Salah sendiri gapunya selera humor. Itu hanyalah candaan, kau tahu."
Naruto langsung meluncurkan dirinya ke Kage dengan mata penuh amarah.
"MATI KAU, PSIKOPAT BRENGSEK!"
-LineBreak-
Hari ke 75...
"Aku mempunyai firasat buruk." Naruto berkata, melihat kearah jurang yang sangat dalam di depannya.
"Mulai sekarang kau harusnya tahu untuk tidak mempercayai sebuah firasat."
"MALAH AKU MEMPERCAYAINYA JIKA BERADA DI DEKATMU, KAU PSIKOPAT!"
Kage hanya mengabaikan perkataan Naruto. "Karena kau mempunyai sedikit kesulitan dengan elemen tanah, ini solusinya. Energi Yang bekerja lebih baik jika berada di dalam stress."
"Jadi.. Yang harus aku lakukan adalah menutup jurang ini? Ya kan? Dengan elemen tanah?"
"Tidak." Dan dengan itu, Kage menenandang Naruto jatuh kedalam jurang yang sangat dalam.
"BRENGSEEEEEKKK!"
Naruto melihat kebawah, melihat ia sudah semakin mendekat. Ia tidak tahu harus apa, dan ia kini benar-benar sangat percaya ia akan mati.
Apa yang Kage inginkan? Apa ia ingin ia membuat sesuatu dengan elemen tanah?
Tanah sudah semakin mendekat, Naruto tidak mempunyai waktu untuk berpikir lagi. Ia menutup matanya dan mulai konsentrasi.
Di atas, Kage dengan sedikit rasa khawatir menanti keadaan Naruto. Ia mencoba tidak khawatir, tetapi, selama hampir 3 bulan ini, anak itu sudah menjadi orang terdekatnya. Akan sayang jika ia meninggal.
Tentu, mereka berdua sering sekali berargumen dan berkelahi, karena tentu saja, mereka lelaki. Mereka tidak mengekspresi rasa sayang mereka dengan bilang kepada satu sama lain bahwa mereka saling menyayangi.
SPLASH!
"KAU PSIKOPAT! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Kage menaikan alisnya, dan melihat kebawah, penasaran dengan apa yang Naruto lakukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Kage mengedipkan kedua matanya dengan terkejut, melihat di bawah ada sebuah kolam lumpur, dan Naruto berada di dalamnya, seluruh tubuhnya diselimuti oleh lumpur.
'Ah? Dia menyampurkan air dan tanah... Atau mencoba mengubah tanah menjadi air, tetapi gagal dan menjadi lumpur? Apapun yang terjadi, itu cukup kreatif.' Pikir Kage dengan kagum.
-LineBreak-
Hari ke 90...
Naruto bangun dari tidurnya dan kemudian mengusap-ngusap matanya. Ia kini sedang di dalam tenda, karena kemarin Kage mengajaknya untuk berkamping.
Ketika menyadari perjalanannya sangat jauh dan mereka berkamping di entah dimana, Naruto mempunyai firasat buruk lagi.
Naruto mengabaikannya sedikit, ketika pas sampai, mereka masih latihan seperti biasa.
Kini bangun dari tidurnya, melihat dari cahaya yang masuk dari tenda bahwa ini sudah pagi, dan juga futon Kage dan orangnya tidak ada, firasat buruk Naruto kembali lagi.
Sampai Naruto menemukan sebuah kertas berisi pesan. Kemungkinan dari Kage.
Selamat, kau tidak mempunyai kemampuan untuk mendengar! Selamat datang di Survival Game level 2, difficulty Expert! Kali ini, indra pendengaranmulah yang tidak berfungsi!
Naruto mencoba mengatakan sesuatu, tetapi walaupun ia sudah yakin ia mengatakannya, ia tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Ia mencoba meraba-raba telinganya, mencoba mengetahui apa Kage melakukan sesuatu yang bisa ia undo seperti waktu saat Kage membutakan matanya.
Kali ini aku benar-benar menyegel pendengaranmu, jadi jangan menghabiskan waktumu untuk mencoba mendapatkan pendengaranmu balik! Tenang saja, Robin sudah mengetahui kau tidak akan pulang selama seminggu, jadiiii... Ganbatte~!
Naruto langsung mengkresekan kertasnya dan memotongnya dengan Hakinya, ekspresi kesal terlihat di wajahnya.
'...si brengsek.'
-LineBreak-
Hari ke 105...
Merasakan sesuatu di belakangnya, Naruto memutar badannya. Ia langsung mendapatkan figur Kage, berdiri dengan malas-malasan, menatap kearah Naruto dengan santai.
"APA KAU TIDAK TAHU APA YANG ARTINYA SEMINGGU HAH?! INI SUDAH DUA MINGGU LEBIH, KAU PSIKOPAT BRENGSEK! KEMBALIKAN KUPINGKU!"
Naruto berteriak kearah Kage dengan keras, membuat Kage menutupi telinganya. Tidak bisa mendengar suaranya, Naruto tidak tahu apakah omongannya cukup keras apa tidak, karena itu ia memutuskan untuk berteriak sekeras-kerasnya.
"Sheesh, baru juga dua minggu. Anak jaman sekarang..."
Naruto membaca bibir Kage dan dengan bantuan Haki-nya, membuat Naruto tahu apa yang Kage katakan.
"AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU, KAU PSIKOPAT!"
Dan dengan itu, Naruto meluncur kearah Kage.
-LineBreak-
Hari ke 115...
"Mengendalikan elemen angin sangatlah berguna, apalagi jika kau adalah seorang pelaut dan lawanmu memakai kapal." Kage berkata. "Mengendalikan angin hampir sama seperti mengendalikan gravitasi. Menghentikan angin, dan mengontrolnya.. Angin adalah salah satu elemen terkuat, kau tahu?"
Kage membuat sebuah kunai, dan kemudian melemparkannya keatas. Kecepatannya sudah habis, kunai tadi meluncur kebawah, tepat kearah Kage.
Kunai itu dengan tiba-tiba berhenti di udara.
"Projektil seperti kunai membutuhkan angin untuk berfungsi. Aku mengendalikan anginnya untuk tidak membuatnya jatuh, maupun bergerak. Aku menekannya dari segala arah, kunainya tidak tahu ingin kearah mana." Kunai itu kemudian terjatuh lagi. "Mengendalikan arah kunai, juga salah satu kelebihan elemen angin." Dengan itu, Kage mengendalikan elemen angin untuk mengarahkan kunainya kearah Naruto.
"Memasteri elemen ini, kau tidak bisa meleset sama sekali."
-LineBreak-
Selama 3 tahun penuh, dengan tanpa henti, Naruto menjalani latihan ekstrim Kage dengan nonstop, walaupun kadang sering komplain dengan cara mengajar Kage yang brutal, Naruto tetap melalukannya.
Mengontrol Haki dan Chakra bukanlah suatu yang mudah. Walaupun sudah 3 tahun, kontrolnya atas Chakra dan Haki biasa-biasa saja, masih jauh dibawah Kage. Kulitnya juga masih berubah warna sedikit ketika menggunakan Haki. Sementara itu, pada awalnya, memakai Chakra tanpa segel tangan sama sekali sangatlah sulit. Tetapi lama kelamaan, ia sudah menjadi terbiasa melakukannya. Ia jauh dari kata master, hanya bisa melakukan elemen angin dengan baik, sementara elemen lainnya hanya sekedar 'bisa'.
Ia juga dilatih untuk memakai senjata. Kage memberinya pilihan untuk memakai berbagai macam senjata, tetapi, sudah terbiasa dengan Kunai, Naruto memilih memakai senjata pedang yang pendek, seperti Kodachi dan Tanto, tidak terbiasa dengan jangkauan katana atau nodachi
Walaupun sibuk latihan, Naruto juga memastikan Robin menjalani hidup yang baik. Ia memastikan untuk selalu berada bersama adiknya itu jika ia sedang tidak latihan. Memastikan Roji tidak berbuat macam-macam kepada Robin. Naruto mencoba membuat Robin untuk bergaul dengan anak-anak desa yang lain, tetapi Robin dijauhi, karena sifat Robin yang pemalu, pendiam, dan terlalu dewasa untuk anak seumurannya. Karena tidak bisa mendapatkan teman, Robin selalu menempel ke Naruto, atau menghabiskan seluruh waktunya di perpustakaan. Naruto tidak tahu harus apa, karena dia sendiri, bukanlah orang yang bisa menklaim bahwa dirinya mempunyai banyak teman.
Walaupun begitu, 3 tahun ini adalah 3 tahun yang tenang, bagi Naruto. Tentu, ia dan Robin setiap hari selalu merindukan Olvia dan selalu memikirkan kapan Olvia akan pulang, tetapi, terpisah dari Olvia selama 3 tahun, mau tidak mau, pikiran anak kecil mereka lama kelamaan mulai tidak memikirkan Olvia sesering dulu lagi.
-LineBreak-
"Bajak laut!"
Naruto memberhentikan jalannya sebentar, mendengarkan teriakan panik salah satu penduduk desa. Tangannya memegang Robin, yang sekarang sudah berumur 5 tahun, sedang memakan es krim sambil memegang tangan kakaknya.
"Dari lambangnya... Tidak salah lagi, dia adalah Edward Condon, salah satu bajak laut menyeramkan yang berdomisili di area West Blue dengan bounty 9 juta Beli!"
Dan dengan itu, seluruh desa langsung panik.
"Apa yang ingin bajak laut lakukan dengan pulau kecil seperti kita?!"
"Kita akan mati!"
"Kita hanyalah pulau terpencil yang tidak spesial! Apa yang bajak laut mau?!"
Mendengar itu semua, Naruto menguatkan genggamannya pada Robin.
Robin melihat Naruto dengan khawatir, mendengar perkataan menyeramkan dari penduduk sekitar. Ia menjadi tenang ketika Naruto memberikannya senyuman.
Kakaknya adalah orang yang kuat. Di pikiran kecil Robin, ia yakin kakaknya bisa mengalahkan semua orang, ia sudah pernah melihat kakaknya bertarung dengan Ojii-san. Kakaknya sangat kuat... Kakaknya akan melindunginya dari bajak laut.
"Semuanya!" Pemimpin desa berteriak, mengambil seluruh perhatian warga. "Cepat masuk ke rumah masing-masing, dan tetap disana sampai para bajak laut. Semoga bajak laut itu akan pergi jika mereka melihat tidak ada yang menarik disini."
Para warga mengangguk, dan langsung menuruti perintah pemimpin desa, tidak lupa memberitahu warga lain yang belum mendengarnya.
"Aku akan mengantarmu ke perpustakaan, Robin." Ucap Naruto, mulai berjalan kearah perpustakaan.
"Nii-chan akan menjemputku pulang nanti? Seperti biasa?"
Naruto terkekeh dan mengangguk. "Ya, tentu saja."
"Nii-chan akan bersama Ojii-san?" Tanya Robin.
Naruto mengangguk. Ia kemudian memberikan senyuman kearah Robin, "Bagaimana denganmu? Sudah menjadi Arkeologis?" Naruto bertanya, mengetahui efek yang terjadi pada Robin ketika membicarakan topik favoritnya.
Mata Robin bersinar, mulutnya tersenyum dengab bahagia.
"Mmhm. Aku sudah hampir menyelesaikan buku volume terakhirnya, tetapi Clover-san bilang aku belum bisa menjadi arkeologis walaupun sudah menyelesaikan seluruh volumenya. Ia akan memberikanku beberapa buku yang lebih sulit dan sebuah artifak langka untuk aku pelajari, jika aku menyelesaikan volume terakhir dan dapat menjawab soal tes yang akan diberikan Clover-san. Aku sudah tidak sabar!"
Naruto terkekeh mendengar Robin. Jika bersama orang lain, Robin selalu terlihat seperti seorang anak yang pemalu, dan pendiam. Tetapi jika bersamanya.. Robin bisa berubah menjadi anak yang sangat aktif, selalu ingin membuatnya kagum, ingin mendapatkan perhatian dari kakaknya, walapun Naruto sudah memberinya banyak perhatian.
Sudah sampai di perpustakaan, Naruto menitipkan Robin kepada Clover, tidak lupa memberikan kecupan di kening Robin sambil mengusap-ngusap rambutnya, membuat wajah Robin merona merah, karena malu diperlakukan seperti itu di depan Clover.
-LineBreak-
"Ada sebuah kapal yang menuju ke pulau ini." Kage berkata sambil menguap. Ia sedang menutup matanya dan bersender di batang pohon, berusaha tidur.
"Bajak laut." Naruto menjawabnya, mencoba menyembunyikan nada senangnya.
Bukannya ia senang karena bisa melihat bajak laut, sebaliknya malah, ia ingin bertarung melawan bajak laut itu.
Bajak laut terkenal dengan perilaku buruk mereka. Naruto tidak sabar untuk setidaknya, bisa bertarung. Bertahun-tahun berlatih, Naruto ingin mengetes kekuatannya melawan seseorang yang bukan bernama Kage.
"Kebetulan sekali..." Kage menyeringai, ia kemudian bangun dari posisi duduknya.
Naruto hanya menaikan alisnya.
"Bajak laut biasanya mempunyai harta karun di kapal mereka," Kage memulai. "Menginfiltrasi dan mencuri suatu barang berharga juga adalah salah satu tugas seorang Ninja..."
"Kau ingin aku mencuri harta karun mereka?" Naruto bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Ya." Kage menyeringai kembali. "Tentu saja, aku tidak ingin membuat ini terlalu mudah bagimu. Kau hanya bisa melakukan Henge, dan mengelilingi kapal mereka tanpa dicurigain. Aku ingin kau menemukan ruang harta karun mereka, mencuri harta karunnya, dan keluar tanpa terdeteksi sama sekali, tanpa menggunakan kekuatan sama sekali."
Naruto melebarkan matanya terkejut.
"Oh, dan jangan coba untuk mengintrogasikan salah satu kru mereka untuk mengetahui dimana harta karunnya. Sudah kubilang, kau tidak boleh terdeteksi sama sekali, tidak boleh ada satu orangpun di sana yang melihatmu. Kau mengerti?!"
Naruto mengangguk, sebuah seringaian terlihat di wajahnya.
"Tantangan diterima, kakek psiko."
-LineBreak-
Salah satu hal yang penting sebelum melakukan sesuatu adalah, untuk mencari informasi. Selain melatih Naruto dalam hal bertarung atau fisik, Kage memastikan kalau Naruto tidak tumbuh besar menjadi idiot yang tidak tahu apa-apa dan akan mati dengan cepat. Dalam sekejap, Kage sudah memaksakan Naruto untuk berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu.
Mencari informasi tentang Edward Condon sangatlah mudah, melihat bahwa bajak laut sepertinya adalah bajak laut yang memamerkan kemampuannya ke dunia dan ingin menjadi terkenal.
Menjadi terkenal mungkin bagus, tetapi lebih bagus lagi jika kau menjadi terkenal, tanpa membuat orang tahu apa kekuatanmu, karena yang membuat seseorang terkenal adalah aksinya, bukan kekuatannya. Edward Condon adalah tipe Bajak Laut yang memamerkan seluruh kekuatannya untuk dilihat dan dicatat oleh Angkatan Laut, atau orang lain, jadi informasi tentang orangnya dan kemampuannya sangatlah mudah didapat.
Lihatlah Gol D. Roger. Dia terkenal sebagai Raja Bajak Laut, tetapi apakah orang-orang tahu seperti apa kemampuannya? Kekuatan yang membuat dia menjadi Raja Bajak Laut?
Naruto lebih suka dengan orang yang membuktikan sesuatu dengan aksi, bukan hanya dengan kata dan pamer.
Mempersuasikan pemimpin desa sedikit untuk memberitahunya informasi tentang Edward, dia langsung mendapatkannya.
Edward Condon adalah Kapten bajak laut 'Tengkorak Hijau', memakan sebuah Buah Iblis yang memberikannya kemampuan untuk membuat bau yang sangat busuk.
Oke. Kemampuan aneh, tetapi hey, itulah yang namanya Buah Iblis, kecuali kau memang mengetahui buah apa yang kau makan, maka semuanya hanyalah taruhan. Mungkin kau mendapatkan kekuatan keren, atau menghabiskan sisa hidupmu menjadi seekor jerapah. Atau manusia sabun. Entahlah. Sangat aneh.
Melihat kapalnya sudah makin mendekat, Naruto memutuskan untuk memasuki kapalnya tepat saat mereka sudah menurunkan jangkar mereka. Tepat disaat itu, seluruh anggota akan mempunyai suasana yang tenang dan relax, merasa nyaman bisa sampai di pulau lain dengan selamat. Mereka sangat mungkin akan keluar untuk mengecek pulaunya.
Memakai penutup kepala hoodienya, Naruto menunggu dari di atas batang pohon, menunggu kapal itu akan melabuh. Ia kini sedang memakai sebuah jaket hoodie berwarna hitam dan silver, penutup kepala hoodienya menutup setengah wajahnya dalam, sementara bagian hidung ke bawah, bisa terlihat. Ia juga dilengkapi dengan cela panjang berwarna hitam.
Melihat kapal itu sudah berhenti di pelabuhan, Naruto mengeluarkan sebuah seringaian.
-LineBreak-
Kapal itu besar, Naruto mencatat di pikirannya. Dan dalam beberapa detik kemudian, banyak orang turun dari kapal, dipimpin oleh seseorang di depan mereka.
Edward Condon mempunyai seringaian di wajahnya. Sebagian giginya terlihat hitam, sementara sebagian besar seperti membusuk dengan warna kuning. Wajahnya seolah seperti tidak pernah terkena dengan air selama lebih dari satu abad. Dan, itu semua belum termasuk dengan badannya...
Dua buah kata yang bisa mendeskripsikan orang ini adalah, sampah busuk. Ia seperti sebuah makanan kadaluarsa yang dibuang ke tempat sampah, tetapi tidak ada petugas sampah atau pemungut yang mengambilnya dalam beberapa tahun karena sangat menjijikan.
Menggelengkan kepalanya, Naruto melompat ke laut, dari posisinya tepat di atas batang pohon. Melihat bahwa ia tidak bisa menyelinap lewat depan, sepertinya ia harus menyelinap lewat belakang.
Berenang ke kapal itu bisa dibilang sulit. Ia hanya baru-baru ini diajarkan berenang oleh Kage. Ia langsung diajarkan untuk berenang oleh Kage, ketika Kage mengetahui ia tidak biaa berenang sama sekali, di dunia ini dimana 90%-nya adalah lautan.
Sampai ke kapalnya, Naruto memanjatnya untuk naik ke deck paling atas, dan kemudian mengintip untuk memastikan apakah ada orang atau tidak.
Ada beberapa orang. Mereka semua terlihat sedang mencoba untuk relax.
Akan menjadi lebih mudah kalau begitu, Naruto berpikir.
Memastikan kakinya tidak memberi suara, Naruto dengan buru-buru masuk ke sebuah ruangan yang ia pikir akan menuntunnya kemana harta karun mereka berada.
"Cklek."
"Eh? Kau mendengar sesuatu?"
"Nah.."
Melihat sebuah ruangan besar, Naruto langsung menghela nafasnya. Ini tidak akan semudah yang ia kira. Ia harus menemukan sebuah ruangan, di kapal besar ini? Ia menghela nafasnya lagi.
Oh well. Semoga harta karunnya sangat berharga.
-LineBreak-
Ia akhirnya menemukannya.
Naruto memberi selamat kepada dirinya sendiri di dalam hatinya, melihat sebuah pintu dengan tulisan 'HARTA KARUN' tertulis besar di depannya.
Apa semua ruang harta karun bajak laut seperti ini? Kalau iya, mungkin ia akan menambah mencuri dari bajak laut sebagai salah satu hobinya jika semudah ini.
Tanpa hesitasi, Naruto membuka pintunya.
...
Naruto mengedipkan matanya.
...ia menduga banyak hal. Sepertinya banyak emas, atau silver, berlian, dan lainnya. Mungkin mayat juga. Yang ia tidak duga adalah, di ruangan ini hanya terdapat sebuah kotak kecil.
Ah, jadi.. Bajak Laut miskin? Pikir Naruto, membuang nafasnya dengan kecewa.
Naruto kemudian berjalan kearah kotak itu, memikirkan mungkin ada sebuah berlian langka atau apa. Ia semakin dibingungkan, ketika ia membukanya, disana terdapat sebuah buah.
Buah yang terlihat sangat aneh, tetapi tetap saja, buah.
Naruto mengedipkan kedua matanya bingung, dan kemudian menaikan bahunya tak perduli.
-LineBreak-
"Jyahaha! Pertama, aku akan mencari apakah di pulau ini ada sebuah tempat melelang!"
"Boss, ini Ohara. Mereka tidak mempunyai orang kaya disini untuk membeli Buah Iblis kita..."
"Diam, kau idiot! Aku tahu itu!" Condon menampar orang yang mengatakan itu dengan ekspresi marah di wajahnya. "Kau pikir aku bodoh, hah?! Iya?! Kau pikir aku bodoh?!"
"Ti-tidak, Kapten..."
Condon mengabaikan perkataan orang itu. Ia menyeringai dan tertawa lagi. "Melelang Buah Iblis! Aku akan pensiun dengan kaya! Jyahahaha!"
-LineBreak-
"Nii-chan?" Robin berkata dengan bingung, mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca, kepada kakaknya yang membuka baru masuk ke perpustakaan, kotak kecil di tangannya dan ekspresi iritasi di wajahnya.
Naruto tersenyum ketika melihat Robin dan langsung jalan kearahnya. Sesampainya disana, ia tidak lupa mengusap-ngusap rambut Robin, membuat Robin cemberut dengan pipi yang merah karena malu.
"Apa itu, Onii-chan?" Robin bertanya, melihat kotak kecil yang dibawa kakaknya.
"Sebuah buah. Kau boleh memakannya jika kau lapar." Jawab Naruto dengan kasual, menjatuhkan dirinya di kursi di sebrang Robin, dan menutupkan matanya.
Robin membuka kotak kecil itu, melihat sebuah buah aneh di dalamnya, dan mengambilnya.
"Buah ini terlihat aneh..." Robin berkata dengan sebuah cemberut.
"Yup." Naruto menjawab sambil menutup matanya, mengingat masa-masa latihannya dengan Kage.
"...dan berwarna pink. Buah ini juga sedikit berkilau. Apa ini wajar?"
"Yup." Naruto berkata, mengingat sebuah momen dimana Kage menjelaskan sesuatu tentang Buah Iblis kepadanya.
'Buah Iblis biasanya gampang diidentifikasi. Kau melihat buah aneh, itu buah iblis. Kau merasakan aura jahat disana, itu buah iblis. Aku sarankan kau memakannya... Akan keren jika kau mempunyai kekuatan sepertiu itu. Jika kau beruntung, tentu saja. Jika tidak, kau mungkin akan menjadi manusia sabun.'
"...dan juga, ini memberikan aura jahat. Apa ini bisa dimakan?" Robin kembali melanjutkan, menatap dengan tajam kepada buah di tangannya, sebelim akhirnya menaikan bahunya dan memakannya.
"Hueek! Buah apa ini?!"
Naruto membuka matanya, dan mengedipkannya dengan terkejut melihat Robin yang terbatuk-batuk karena rasa tidak enak buah yang ia makan.
Kata-kata Kage terdengar lagi di pikirannya.
'Biasanya mempunyai warna yang aneh, dan berkilau sedikit. Dan oh, rasanya seperti pipis sapi.'
Realisasi muncul di kepala Naruto.
"...aku sudah menduga ada sesuatu yang aneh dengan buah itu."
-ChapterEnd-
AN: Aku sudah mengeceknya berkali-kali, aku harap tidak ada typo yang tertinggal.
Sekarang... Darimana aku mulainya ya..
Ah ya, Kage. Sulit banget untuk nulis karakter psikotik yang menjadi guru.. Begitulah jadinya Kage. Scene latihan Naruto terinspirasi dari latihan yang diberikan Garp kepada Luffy.
Sifat Naruto, walaupun sedikit dewasa, dia masih anak-anak juga. Ceroboh, cerewet, dan kadang ga mikir dulu. Jadi... Canon Naruto. Tetapi, semakin dia bertumbuh dan semakin banyak tragedi yang dia terima di dunia ini, sifatnya juga lama-lama semakin berubah. Ada alasan kenapa aku menulis 'slightly-dark Naruto' di summary.
Pertanyaan yang sering aku dapat... Robin yang 1 tahun dan 2 tahun, apa emang bisa kaya gitu?! Alasannya adalah... Oke, maaf, ga ada alasan. Aku juga agak ragu untuk menulis anak satu tahun atau dua tahun seperti itu, tetapi aku juga ingin ada scene bonding antara Naruto dan Robin dari kecil. Sepertinya, aku gabisa nulis sesuatu tentang bayi. *sigh*
Btw, endingnya terlalu dirush banget ya? Haha, ada yang ngira Naruto bakal makan buah iblis ga? Karena cerita bagaimana Robin memakan buah iblis gapernah ada, jadi itulah yang terjadi.
Tentang teori Haki, itu teoriku sendiri ketija selalu melihat kalo Luffy memakai banyak Haki, dia langsung kecapean gabisa gerak sama sekali. Jadi, itu teoriku.
Apalagi ya? Hubungan Naruto dengan Kage? Aku memikirkan hubungan mereka berdua seperti Sanji dan Zeff. Perduli dan menghargai satu sama lain, tetapi karena harga diri yang tinggi, gapernah mengakuinya dan pura-pura membenci. Ya, begitulah.
Pakaian Naruto... Pakaiannya terinspirasi dari Assasin's Creed Black Flag. Kalau kalian main game itu, kalian pasti tahu. Kalau kalian tahu Assasin's Creed itu seperti apa, kalian pasti bisa membayangkan pakaian apa yang Naruto pakai.
Kurasa sudah semuanya. Jika ada pertanyaan, berikan di review. Aku akan membalasnya. Kalau aku ga bales, berarti pertanyaan kalian menyangkut topik yang jika aku berikan jawabannya, maka menjadi spoiler.
Misalnya, 'apa Naruto akan jadi anggota Mugiwara?' jika aku jawab ya, maka yang bertanya bakal tahu, kalau aku jawab tidak, maka ketika ada scene dimana aku ngasih hint Naruto akan join Mugiwara, dia akan tahu Naruto gabakal join. Jadi... Ga seru. XD
Sooo, sampai jumpa di chapter kedepan~
