Naruto Masashi Kishimoto
Happy Reading
Twin's Sister Present
" Kembalikan Tawa Hinata "
Pertemuan
"Mama..." teriakan bocah umur tujuh tahun itu membuyarkan lamunannya. Hinata melihat bocah itu lari menghampirinya.
"Mama jadi lihat pertandingan Riyu, kan ?" tanya bocah bernama Riyu itu pada Hinata.
"Tentu saja." jawab Hinata sambil berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Riyu.
"Mama bahkan telah membatalkan janji mama hari ini." lanjutnya sambil menepuk pundak anaknya.
"Yeee...terima kasih ma." ucap Riyu girang sambil memeluk Hinata. Bocah tujuh tahun itu senang sekali karena ia dan mamanya sangat jarang menghabiskan waktu bersama mengingat Hinata yang terlampau sibuk di toko kue miliknya. Riyu senang mamanya bisa melihat pertandingan perdananya tapi ada sesuatu yang ia rasa kurang.
"Papa." gumannya lirih. Mendengar ucapan anaknya Hinata melepas pelukannya.
"Kenapa ?" tanya Hinata lembut membelai rambut anaknya.
"Semua teman Riyu yang melihat pertandingan adalah papa mereka." jawabnya polos. Tentu saja bocah itu merasa ada yang kurang, karena selama ini Riyu tidak pernah bertemu dengan Papanya. Riyu bahkan tidak tahu bagaimana wajah papanya, ia juga tidak memiliki satu pun lembar fotonya. Hinata bilang papanya tidak suka berfoto itu lah alasan kenapa ia tidak pernah melihat foto papanya. Riyu janji jika papanya pulang nanti ia akan memaksanya untuk berfoto dan akan memasangnya di kamarnya.
"Hey kan ada mama yang melihat Riyu." Hinata menarik tubuh Riyu dalam pelukannya.
Hatinya hancur melihat kesedihan di wajah buah hatinya. Ia tau apa yang di rasakan Riyu tapi ia juga belum siap menceritakan semuanya.
"Seperti apa wajah papa ?" tanya Riyu dalam pelukan Hinata. Ia sedikit merasa tenang dengan belaian di punggungnya.
"Kemarilah." Hinata mengajak Riyu menuju cermin yang ada di lemari kayu miliknya.
"Kau lihat siapa yang ada di sana ?" tanya Hinata yang berdiri di belakang Riyu menghadap ke cermin.
"Mama dan Riyu." jawabnya polos.
"Kau ingin tau seperti apa wajah papa kan.? Ya seperti ini." ucap Hinata sambil menentuh hidung Riyu.
"Benarkah ? Papa kecil sekali."
"Ya itu karena Riyu sangat mirip sekali dengan Papa. Tampan, hidungnya mancung, senyumnya manis ya pokoknya papa sangat tampan. Nanti kalau Riyu sudah besar pasti Riyu akan lebih tampan dari papa." ucap Hinata menerangkan sambil menyentuh setiap bagian wajah Riyu.
"Benarkah papa Riyu sangat tampan ? Apa papa juga bisa sepak bola ?" tanya Riyu antusias.
"Tentu saja, papa bahkan jadi kapten nya." Jawab Hinata semakin membuat Riyu gembira.
" Benarkah ?Benarkah ? Papa Riyu pasti hebat." Ucap Riyu di jawab dengan anggukkan oleh Hinata.
" Kalau begitu Riyu juga akan menjadi kapten seperti Papa." Ucapnya sambil menghadap ke cermin dan mengepalkan tangannya dengan semangat.
Melihat pantulan wajah Riyu yang bersemangat mengingatkan Hinata akan sosok yang pernah memberi warna dalam hidupnya. Yang pernah membuat hidup Hinata benar-benar bahagia. Hinata menatap cermin pikirannya jauh menembus bayangan waktu dimana pertama kali Hinata bertemu dengan dia.
Flash Back Nara'POV
"Selamat pagi semua, hari ini kita dapat teman baru." Ucap Kakashi guru Fisika pagi ini.
"Silahkan perkenalkan dirimu !" Perintahnya pada anak baru yang berdiri di sampingnya.
"Perkanalkan nama ku Namikaze Naruto, kalian bisa panggil Naruto. aku pindahan dari USA karena orangtua ku di tugaskan di sini. Salam kenal semuanya dan mohon bantuannya." ucap anak yang bernama Naruto itu sangat percaya diri, itu yang ada dalam pikiranku.
"Baiklah Naruto kau duduk di sana." guru Kakashi menunjuk kursi kosong yang ada di sampingku. Jantungku berdetak cepat, keringat dingin mulai turun dari pelipisku saat semua mata tertuju ke arahku. Pandangan yang menunjukan keterkejutan dan ketakutan di saat bersamaan. Benar saja selama ini aku selalu duduk sendiri belum pernah ada yang mau duduk di dekatku tapi itu tidak masalah karna aku juga tidak menginginkannya. Tapi...tapi sekarang akan ada yang duduk di sampingku, apa yang harus aku lakukan.
"Guru, biar Naruto duduk di sini saja." Ucap salah satu teman sekelasku. Ku lihat semua tampak setuju dengan usulannya tapi tidak dengan anak baru itu, ia tampak sedikit terkejut dan mengeritkan alisnya bingung sambil melihat ke arah ku yang membuatku harus mengalihkan pandanganku ke taman di luar sana.
"Tapi itu tempat duduk Shino, dia tidak masuk hari ini karena sakit. Naruto kau boleh duduk di samping Hinata." Ucap guru Kakashi memutuskan saat ia membaca surat izin Shino di atas meja.
"Terima kasih,pak." Setelah mengucapkan terima kasih dia...dia berjalan ke arahku. Astaga apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa untuk tidak menatapnya saat ia berjalan ke arahku, aku harap dia akan takut dengan tatapanku.
"Kasihan sekali anak baru itu."
"Apa tidak apa-apa dia duduk dengannya ?"
"Kasihan sekali."
"Dia pasti akan kesulitan."
Lagi-lagi bisik-bisik itu terdengar di telingaku. Aku sudah terbiasa mendengarnya aku tidak peduli, tapi entah kenapa ada rasa sakit saat mendengar mereka berbicara seperti itu di depan seseorang yang belum mengenalku.
Ada apa denganku, aku bahkan tidak peduli jika mereka tidak pernah mengenalku tapi kenapa ada sesuatu di hatiku yang menginginkan dia untuk mengenalku. Aku yakin dia juga pasti mendengarnya, mendengar bisik-bisik itu ahh...dengan begitu dia tidak akan mau duduk denganku. Kenapa aku merasa kecewa.
Tapi ku lihat dia tetap berjalan ke arah ku. Kenapa dia tidak berhenti. Kenapa dia tidak meminta guru Kakashi untuk pindah tempat duduk. Kenapa dia terus menatapku. Kenapa, apa dia tidak takut denganku. Apa dia tidak mendengar bisik-bisik itu. Kenapa dia terus berjalan ke arahku.
"Hei, namaku Naruto. Boleh aku duduk di sini ?" Astaga kenapa dia bicara padaku.
"Si...silahkan." Jawabku gugup sambil sedikit menggeser kursiku ke arah tembok.
"Terima kasih, namaku Naruto. Aaahh...aku sudah tiga kali memperkenalkan diri lalu siapa namamu?" Tanyanya lagi. Aku tidak tau kenapa dia mau berbicara padaku dan aku juga tidak tau kenapa aku tidak bisa mengabaikannya. Selama ini tidak ada yang mau bicara padaku jika tidak ada yang penting. Kenapa ?
" Na...namaku Hi- hinata."
"Nama yang bagus. Salam kenal Hinata. Aku harap kita bisa jadi teman baik." Ucapannya begitu ringan seringan kedua ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman yang entah kenapa begitu hangat sehangat matahari pagi.
"Hu'um." Jawabku mengangguk meng-iya-kan ucapanya.
'Teman ? Teman ? aku tidak pernah punya teman sebelumnya. Tapi kenapa mendengarnya ingin berteman denganku membuat hatiku hangat.'
Flash Back Off
"Ma- mamaa..." Panggil Riyu membuyarkan lamunanya lagi.
"Ahh...ada apa sayang ?"
" Kenapa mama senyum-senyum sendiri ?" Tanyanya polos melihat sang mama yang tersenyum sendiri.
"Hehehe benarkah ? mama hanya tidak sabar melihatmu jadi kapten nanti." Jawab Hinata tidak sesuai dengan yang ia rasakan.
"Mama pasti akan melihatnya !" Ucap bocah tujuh tahun itu semangat.
"Tentu... sekarang yang harus Riyu lakukan adalah mandi sebentar lagi pertandingannya kan ?biar mama yang siapkan seragamnya."
"Siap kapten." Riyu memberi hormat layaknya prajurit. Riyu berlari keluar kamar Hinata, ia bergegas mandi tidak mau ada kata terlambat untuk hari yang penting baginya ini.
"Naruto...bagaimana kabarmu ?" Hinata bermonolog sambil meremas kuat baju bagian dadanya seakan menyimpan rasa sakit yang teramat sangat. Namun jika di lihat lebih jelas ia pun juga tersenyum menunjukan bahwa ia memiliki luka yang membuatnya bahagia.
Hinata kenapa kau tersenyum ? Apa yang membuatmu tersenyum ? Bayangan masa lalu kembali terlintas olehnya.
Teng Teng Teng
Suara bel menggema di seluruh penjuru SMA Koujo menunjukkan bahwa jam istirahat di mulai. Semua siswa beranjak dari kelas mereka masing-masing untuk pergi ke kantin, perpustakaan, atau hanya sekedar ke toilet. Tapi ada yang sedikit berbeda di kelas 2 IPA-2, beberapa siswa tampak berkumpul di pojok belakang kelas tepat di mana Hinata duduk. Mereka tidak sedang mengerubungi Hinata, tentu saja bukan dia. Mereka sedang mengerubungi siswa baru yang kebetulan duduk di sebelah Hinata, sibuk memperkenalkan diri pada Naruto siswa baru di kelas mereka dan mengabaikan Hinata yang jelas-jelas duduk di samping Naruto sambil menundukkan kepalanya.
"Naruto, perkenalkan namaku Shion."
"Aku Sarah dan ini Karin."
"Ahh...salam kenal semuanya." Jawab Naruto dengan senyumannya.
"Naruto, ayo kita ke kantin." Ajak Rico.
"Iya...kita bisa berkeliling sebentar." Ucap Sarah menambahkan.
"Tentu. Hinata kau mau ikut ?" Tanya naruto mengulurkan tangannya pada Hinata.
"Ti- tidak terima kasih. Aku bawa bekal." Hinata sepertinya tidak siap menerima ajakan dari Naruto, ia sedikit terkejut ada orang yang mau mengajaknya.
"Baiklah kalau begitu aku duluan ya." Ucap Naruto sambil melambaikan tangannya.
" Hu'um." Jawab Hinata dengan anggukkan.
"Naruto, kenapa kau mau mengajaknya ?" Tanya Karin.
"Siapa ? Hinta ?" Tanya Naruto bingung.
"Iya siapa lagi." Jawab Shion.
"Memang kenapa ? Bukan kah dia juga teman kita ?" Tanya Naruto semakin bingung.
" Dia bukan teman kita." sambung Sarah
" Eehh...?"
Meski samar Hinata tetap bisa mendengar percakapan mereka yang berjalan keluar kelas. Tanpa ia sadari air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya menetes. Dadanya terasa nyeri seperti ada ribuan jarum menusuk habis jantungnya.
Hatinya ingin berteriak pada mereka, ingin membantah semua ucapannya. Hinata tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, ia merasa ada sesuatu yang menikam jantungnya membuat rasa nyeri yang teramat sangat menyesakkan dada. Ini sama seperti saat Hinata melihat pertengkaran orang tuanya, sama seperti saat Hinata kehilangan sosok ayah dalam hidupnya, sama seperti saat Hinata menerima setiap kata kasar dan pukulan dari kakaknya. Semuanya terasa begitu menyesakkan. Kata-kata dari teman sekelasnya yang Hinata tidak ingin Naruto untuk mendengarnya terus terngiang dalam otaknya.
"Naruto, dia itu monster es."
"Tidak ada yang mau berteman dengannya."
"Kau tidak lihat tatapannya yang mengerikan itu."
"Naruto, kau boleh berteman dengan siapa pun tapi aku peringatkan jangan berteman dengan Hinata."
Tidak. Nara tidak ingin mereka berbicara seperti itu pada Naruto. Hinata tidak ingin Naruto menilainya sama seperti mereka. Entah kenapa Hinata ingin Naruto untuk tidak percaya ucapan mereka.
Tapi Hinata tetaplah Hinata. Meski ia ingin membantah semuanya tapi ia tetap bungkam. Ia akan menyembunyikan perasaannya, mengubur dalam-dalam dan menguncinya rapat. Ia tidak ingin semuanya tau kelamahannya. Ia benci jika harus menangis di depan orang lain. Ia benci di kasihani. Dia tidak peduli orang lain menilainnya seperti apa meski kadang itu membuatnya merasakan sakit. Ucapan mereka melukai hatinya, itu tidak terbantahkan. Tapi sudah ku bilang Hinata tetaplah Hinata, ia akan memasang topeng terbaiknnya agar terlihat bahwa ia baik-baik saja..
"Aku pulang.." Ucap Hinata saat memasuki rumahnya.
"Hinata kau sudah pulang, bagaimana sekolahnya ?" Tanya ibunya yang menyambut ke datangan Hinata.
"Seperti biasa, bu." Jawab Hinata sambil berjalan menuju dapur. Setiap kali ibunya bertanya bagaimana harimu, bagaimana sekolahmu, bagaimana teman-temanmu selalu saja jawaban itu yang ia dapat. Ibu Hinata sangat berharap Hinata mau menceritakan harinya, mencerikatan sekolahnya dan teman-temannya.
"Hari ini ada siswa baru di kelas." Tambah Hinata setelah menghabiskan segelas air putih.
"Benarkah ? Seperti apa orangnya ?" Tanya ibunya antusias.
"Seperti matahari." Jawab Hinata enteng.
"Eehh...?"
"Ibu tidak bekerja ?" Tanya HInata enggan untuk menjawab kebingungan ibunya.
"Ahh...toko kue tempat ibu kerja sedang tutup katanya ada saudaranya yang baru pulang dari Amerika." Jawab ibunya berharap Hinata akan menanggapinya.
"Ooo...Kak Neji di mana ?" Tanya Hinata saat sadar keberadaan kakaknya.
"Hari ini Neji mulai bekerja di pabrik dan akan tinggal di mes." Jelas ibunya.
"Baguslah." Jawab Hinata sambil melankah menuju kamarnya.
"Hinata..." Panggil ibunya menghentikan langkahnya.
"Kalau ada yang mau di ceritakan, ceritakan saja pada ibu." Tambahnya.
"Tidak ada yang perlu di ceritakan, bu. Sebaiknya ibu istirahat saja." HInata benar-benar tidak berniat menceritakan harinya, ia lebih mementingkan kesehatan ibunya. Jika ibunya sedang libur lebih baik digunakan untuk istirahat dari pada harus mendengarkan ceritanya. Lagipula ia pikir tidak ada yang perlu di ceritakan.
Hinata kembali ternsenyum sambil menitikan air mata. HInata rindu ibunya, ia ingin bercerita banyak dengannya. Hal yang jarang Hinata lakukan tapi kali ini ia benar-benar ingin menumpahkan semuanya, ia ingin ibunya mendengarkan ceritanya keluh kesahnya semuanya, Hinata ingin menagis di pelukan ibunya. Ada banyak cerita yang ia pikir ibunya lah orang yang tepat untuk mendengarkannya. Bukan kah ibunya selalu ingin mendengarkan Hinata bercerita apa yang dia rasakan.
"Ibu. Hinata rindu. " Ucapnya sendu.
To Be Countinued
