Saruhiko X Misaki
[K] Project - SPEICHERN Chap 4
zZenSan
Suara alarm memecah keheningan, udara di kamar terasa lebih dingin. Misaki mengerjapkan mata sesekali sebelum mendapatkan pandangannya yang jelas. Tangannya menggapai-gapai mencari seseorang yang sudah beranjak dari kasurnya. Sementara suara televise dari ruang utama terdengar samar. Sambil berusaha merai alarmnya, Misaki masih memeluk bantal dengan mesranya. Piyama yang kebesaran menunjukan ruas tulang selangka dan beberapa tanpa merah muda di dada. Rambutnya berantakan dan matanya sedikit berair, cepat sekali pagi dating. Ia beranjak menemukan seseorang di ruang utama.
"Ohayou."
"Ohayou Misaki…"
Cuaca sepertinya akan cerah hari ini, ramalan cuaca juga menunjukan tak ada tanda-tanda hujan. Wajah yang masih mengantuk dengan rambut nya yang acak-acakan. Misaki mencuci muka dan menggosok giginya setengah sadar bagai masih mengumpulkan nyawa yang masih mengudara. Aroma teh dan susu menggoda manis, Saruhiko sudah seperti orang tua saja yang setiap pagi mendengarkan berita terbaru. Misaki berjalan mendekatinya di ruang utama.
"Hoamh…" sesekali ia masih menguap dan meregangkan ototnya, "-padahal aku sudah tidur lebih dari tujuh jam." Misaki duduk dihadapkan dengan susu segar yang sebenarnya membuatnya mual.
"Kenapa hanya aku?" Misaki menggerutu, memang begitu hobbynya jika ia merasa tak perlakukan sama. Hanya ia yang minum susu di runah itu. "Agar kau bertambah tinggi." komentar Saruhiko membuatnya misuh membuang muka, mengerucutkan bibir.
Misaki ingin membuat omelet jadi ia memeriksa lemari pendingin mereka, "Kenapa kau masih pakai piyama?" Misaki melirik heran, sepengetahuannya Saruhiko akan ada pertemuan siang ini di kantornya. Saruhiko hanya menggumam tak jelas, ia malah mendekati Misaki yang sedang sibuk menyiapkan mangkuk kecil dan berniat mengambil telur.
"Awh!" Misaki terkejut nyaris meloncat. Merasakan bahunya digigit lelaki mesum, dengan cepat ia mengambil pengaduk telur yang masih bersih dan memukulkannya pada wajah Saruhiko membuat kacamatanya hampir jatuh.
"Diamlah Saru! Duduklah!" Misaki bertolak pinggang, menyingsingkan lengan piyamanya yang kebesaran. Sambil, meraih celemek di atas lemari pendingin.
"Ah, aku hanya ingin menyentuhmu." tidak bisa di perintah, hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan sekarang membuat Misaki jengkel.
"Hyah… Ba- baka! Dimana kau menyentuhku!" Misaki menggeliat menolak memutar tubuhnya. Dadanya di cubit tepat di puncaknya membuat ia setengah mati kaget.
"Hah, aku merasakan ada sesuatu di sini sekarang." Saruhiko meraba pahanya sendiri, ereksi dipagi hari kerap kali terjadi untuk lelaki seusia mereka.
"Bodoh! Soalnya kau menggodaku terus!" Misaki jadi malu sendiri, ia tak ingin di tertawai Saruhiko lagi. Si empat mata ini sangat menyebalkan jika sikap mesum sedang muncul.
"Jadi, kenapa kita tidak saling membantu." sambil tersenyum merencanakan niat isengnya, Misaki bisa melihatnya dengan jelas bagaimana ia selalu bisa menguasai pembicaraan dan itu membuatnya lebih kesal. "Bo- Bodoh! Lakukan dengan cepat." Misaki membuang muka merasakan pipinya memanas karena semu merah di wajah hingga telinganya merekah sedemikian rupa.
Saruhiko meletakan bibirnya dengan lembut, "Hei, buka bibirmu untukku." Saruhiko menarik wajah lelaki yang tubuhnya lebih kecil darinya itu. Ia tidak ingin hanya sebatas kecupan, ia ingin mencium dengan hasrat. Ciuman, berliat lidah dan membuat Misaki tak berdaya kehabisan nafas.
"Ah… Saru… Baka… jangan keras begitu." Misaki menolak, moodnya sedang tidak baik untuk melakukan hal seperti ini pagi-pagi begini. Menurutnya itu hal yang memalukan, walau dilakukan dengan pasangan sendiri.
"Kalau begitu,-" Saruhiko menarik tangan Misaki agar melingkari pinggangnya. Kakinya menyangga di pangkal paha membuat Misaki yang mulai horny lebih bergairah lagi. Tangan dengan jari-jarinya yang panjang itu menelusup perlahan menyentuh permukaan kulit punggung mengibakan piyama maroon yang Misaki kenakan.
"Saruhiko… Hei, tanganmu…" Misaki merasa malu saat merasakan bokongnya sedang di gerayangi. Sementara Saruhiko sedang menikmati reaksinya, jika Misaki kesal atau marah ia pasti akan merasa lebih senang. Pemuda itu menyumpahi dirinya, "-argh… Biarkan aku yang mengatasinya." Misaki melepas pelukannya kini memojokan lelaki berkacamata itu diantara dinding dan was basin di dapur mereka.
Misaki merangsek perlahan, membuat Saruhiko tertawa kecil merasa geli mendapati kecupan di leher dan dadanya. Ia ingin tahu keahlian apa yang bisa dilakukan anak ini. Awalnya Misaki ragu dan berniat menghentikan tindakannya, akan tetapi ekspresi Saruhiko yang meremehkannya itu membuatnya sangat kesal dan ingin membuktikan bahwa ia juga bisa memuaskan lawan mainnya.
"Hap-"
"Fvck! Matilah aku!" Saruhiko mendorong kepala Misaki dari vitalnya yang sudah menegang dan masuk ke bibir mungil merekah merah mudah itu. Misaki jadi kebingungan melihat Saruhiko meringis kesakitan. "Eh?" tanpa rasa bersalah Misaki ingin tahu apa yang terjadi.
Niatan blowjob pertamanya.
"Perhatikan gigimu, ah… Rasanya aku akan mati karena impoten." Saruhiko menggelengkan kepala sambil meraba dadanya memang bermain dengan yang berpengalaman itu kadang sangat beresiko seperti saat ini.
"Heh? Maaf! Biarkan aku melakukannya sekali lagi." Misaki, sedikit memaksa ia begitu yakin kali ini bisa melakukannya dengan benar. Namun lelaki itu sudah cukup kapok dengan permainannya pagi ini.
"Ah, tidak perlu. Aku harus ke kantor. Bisa-bisa aku tak mampu berjalan karena lemas nanti." Saruhiko menolak ia bisa melihat sedikit tatapan kecewa dari Misaki sekarang.
"Huh, terserah." Misaki membenarkan pakaiannya dan kembali pada aktifitasnya. Saruhiko tersenyum sendiri masih sedikit miris menutupi pangkal pahanya melihat pemuda itu nampak lebih kesal dari sebelumnya. Ia sibuk mengaduk telur dan memastikan teflonnya panas.
Suara percikan minyak dan aroma telur yang mulai matang, mentega tipis dan tomat cherry yang di belah menjadi dua bagian.
Saruhiko selesai mengganti pakaiannya setelah lima belas menit. Menyemprotkan parfume dan menyisir rambutnya lagi. Meraih pedangnya dan duduk menunggu sarapannya datang.
"Jangan sisakan sayurnya." Misaki meninggalkan gelas kosong di samping piring Saruhiko. Menyiapkan jar air mineral dan duduk di kursinya sendiri.
"Jika aku pulang terlambat tidurlah lebih dulu. Besok pagi kita harus bertemu doktermu." Saruhiko memakan Sarapannya dengan tenang. Sementara Misaki tak memberi jawaban hari ini ia berencana pulang ke rumah orang tuanya untuk mengambil beberapa barang miliknya.
Selepas Saruhiko meninggalkan rumah menuju kantornya, Misaki juga bergegas menyiapkan dirinya untuk beraktifitas setelah membereskan alat makan mereka. Mengambil jam dan menyimpan ponselnya di saku. Mungkin ia akan membeli ponsel baru juga hari ini. Ia mengenakan topi hitamnya, rompi kulit dark purple dan kausnya yang maroon.
"Aku merasa ada yang kurang, tapi sudahlah…" Misaki meninggalkan apartement itu selisih satu jam dari Saruhiko.
"Obat? Ponsel? Apa yang ku lupakan ya?" Misaki masih berusaha mengingat sekali lagi. Sampai ia menemukan toko telepon selular. Ia mencari tipe yang sama dengan miliknya terdahulu yang rusak parah. Setelah mendapatkannya, selanjutnya tinggal pergi ke rumahnya dan mengambil beberapa barang yang ia perlukan.
"Yata San?" suara berat dari arah belakang membuat Misaki menoleh.
"-erh… Hmmmm Rikio? -San?" Misaki ragu-ragu ingatannya sangat payah. Lelaki dengan jenggot dan rambut mohawk mengenakan stelan training cream itu sangat nampak familiar.
"Yo! Aku tak menyangka bertemu kau di jalan begini." Kusanagi muncul membawa beberapa barang belanjaan.
"Kusanagi San." Misaki termenung sejenak.
Alhasil ia Misaki berakhir di Homra dengan dua orang yang ia temui tersebut.
"Saruhiko melarangku ini dan itu. Ia pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak tahu.." Misaki benar-benar menceritakan masalahnya. Sementara Kusanagi dan Rikio yang menemaninya hanya saling pandang tak ingin mengungkap apapun.
"Mungkin memang waktunya belum tepat." lelaki dengan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku itu mengomentari. Rikio tak bisa mengatakan apapun juga, ia tak ingin memperkeruh suasana memang sejak awal hubungan Saruhiko dan Misaki memang tidak baik. Jika ini adalah salah satu cara agar hubungan mereka sebagai teman membaik maka membiarkan situasi tetap seperti ini juga keputusan yang bijaksana.
"Hah… Kalau begitu aku harus pulang sekarang. Ngobrol dengan kalian benar-benar seru sampai aku lupa waktu. Si empat mata itu pasti marah-marah kalau aku pergi bermain begini." Misaki mengotak-atik ponsel barunya. Menyingkronisasi data dengan beberapa gadgetnya. Hari juga sudah sore, ia bisa membeli beberapa bahan makanan sebelum sampai ke rumah.
Ia memutuskan mampir ke sebuah swalayan sendirian membeli beberapa sayuran dan makanan instan. "Ah? Dimana aku menyimpan obatku?" Misaki merogoh saku setelah membayar barang belanjaannya.
"Ahh… Pasti tertinggal di meja Kusanagi San." ia hanya menepuk jidat menyadari kecerobohannya. Ia tak mungkin sempat jika kembali lagi ke sana. Jadi mungkin besok atau lusa ia baru akan mengambilnay sementara ini ia hanya mengirimi pesan pada Kusanagi memastikan bendanya itu akan aman di sana.
Sampai di rumah dan memasak makan malam untuk dirinya sendiri. Makan malam sendiri dan tidak peduli apapun, lagipula Saruhiko bilang jika ia pulang terlambat maka ia harus segera beristirahat.
"Hehehe…." niat nakal muncul, Misaki masih penasaran dengan skill nya sendiri dalam hal blowjob. Setelah makan malam ia membuka ponselnya memeriksa file yang dikirimkan oleh Rikio padanya. Ia memang meminta AV pada temannya itu, '-akan ku buktikan pada Saru kalau aku juga bisa melakukannya.' tekadnya membulat dan berniat mempelajari bagaimana cara melakukan itu. Kali ini dengan cara yang benar.
Maka setelah dua jam berlalu.
"Sialan, aku malah tegang begini."
Ia menyumpahi dirinya sendiri, melihat wanita-wanita bertelanjang dada begitu sensual membuatnya jadi horny sendiri. Bagaimana caranya mempelajari itu jika bathinnya sendiri lemah.
"Jadi harus berhati-hati pada gigi." gumamnya sendiri memperhatikan sangat serius video yang ia miliki.
Misaki memutuskan ia tidak akan tertidur, tidak akan sampai hari ini ia bisa melakukan itu pada Saruhiko. Setelah tadi pagi mendapat penolakan darinya. "Aku akan membuat kopi."
Ia membulatkan tekad akan melakukannya malam ini. Maka setelah membuat kopi dan memakan beberapa cemilan sambil menonton televisi sendirian di ruangan besar. Ia akan menunggu Saruhiko sampai pulang.
"Sialan, kenapa acara horror semua?" Misaki kesal acara televisi yang ditayangkan adalah semua hal yang ia benci tentang dunia lain. Misaki menoleh ke kanan dan ke kiri sesekali sambil mengeratkan selimut yang ia bawa. Walau kehilangan sebagian ingatannya ternyata rasa takutnya pada hal-hal seperti itu belum juga hilang. Ia jadi ingat saat ia sekolah, festival olahraga dan kelasnya membuat rumah hantu. Ia tersenyum sendiri mengingat bagaimana ia takut dengar hantu palsu yang ia buat sendiri.
Sofanya terlalu empuk, udaranya dingin dan selimutnya amat nyaman memeluknya. Matanya sayu-sayu terpejam memeluk dirinya sendiri. "Hoamh-" setelah tiga kali menguap akhirnya justru terlelap karena kamtuknya sendiri. Kau tau umpama orang bodoh tidak terpengaruh cafein.
Wajahnya yang bersembunyi di dalam selimut. Meringkuk membentuk bulatan manis dengan wajah polos yang terpejam. Lampu ruang utama sudah mati hanya entrance yang redup menyala warna orange.
"Tadaima…"
Tapak kaki pelan hampir tak bersuara, helaan nafas berat dan wajah lelah dengan kantung mata. "Tengah malam…" Saruhiko memasuki ruang utama mendapati televisi menyala dan penonton yang bagai kehilangan nyawa.
Saruhiko tidak ingin membangunkannya, melihat wajahnya yang manis itu hanya membuat Saruhiko tergelitik untuk mencumbunya. "Haaa…" Saruhiko mematikan televisi berniat membopong pemuda dengan piyama itu ke kamar.
Saruhiko melihat makan malam yang dibungkus wrap di meja makan. Ia akan segera memakannya lalu mandi sebelum tidur. "Hnn…. Saru-" Misaki terbangun sebelum Saruhiko membawanya.
"Eh, kau jadi bangun…" Saruhiko mengurungkan niatnya. Misaki menguap sesekali, sepertinya ia sudah lupa rencana awalnya untuk begadang malam ini.
"Kau ingin mandi? aku akan menghangatkan makan malammu." Misaki merenggangkan otot punggungnya. Saruhiko mencuri kesempatan untuk mencium keningnya tanpa berkata apapun. "Bodoh-" sikap sok romantis itu membuat Misaki jadi malu sendiri.
Selesai dengan mandinya Saruhiko mendapati Misaki sudah pergi ke kamar. Makan malamnya yang hangat ada di meja dengan rapi. Ia hanya mengangkat bahu dan menghabiskan makanannya.
Misaki berusaha memejamkan matanya seperti ada sesuatu yang nyaman dalam dirinya. Bagian belakang kepala yang terasa sedikit sakit. Mata sayu dengan warna kecoklatan itu seperti menerawang sesuatu di awang-awang. Sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri mencari posisi nyaman.
"Argh…." sepintas ingatan berkelebat kacau di benaknya. Ia terduduk, menahan tekanan seperti naik ke puncak kepalanya. Ia bisa melihat telapak tangannya sendiri yang bergetar. Ia bergidik ketakutan, melihat api yang muncul dari ujung jarinya. Kepulan asap seperti membutakan pandangannya.
Orang-orang yang mati, dan reruntuhan terbakar. Sangat menyakitkan menyekat dada.
"Apa itu?" Misaki berkicap masih memegangi kepalanya, pandangannya menggelap sesaat sampai sebuah penglihatan dari masa lalu datang padanya.
"Totsuka San? Mikoto San?"
Tanpa alasan yang ia mengerti airmata jatuh begitu saja. Keringat dingin dan tubuhnya yang masih belum bisa ia kendalikan. Api yang membara, pedang-pedang di angkasa. Prasasti yang membuatnya ketakutan tanpa alasan.
"Saruhiko!" Misaki berjalan sempoyongan melihat lelaki berkacamata itu selesai membereskan makan malamnya.
"Ada apa, Misaki?" Saruhiko mendekatinya, tetiba tangannya dicengkram kuat dan Misaki meringis terlihat sangat kesakitan hampir jatuh.
"Hei! Kau kenapa?" Saruhiko kebingungan membantunya kembali ke kamar dan mengambilkannya air mineral. Ia tak menemukan obat Misaki di manapun. Ia sangat panik dan kesal sekaligus.
Sesekali menggeratakan gigi akibat kesalnya sendiri.
"Ah… Tidak apa-apa!" Misaki menarik Saruhiko ia tak ingin merepotkan orang lain waktu seperti ini. "Sudah, aku cuma kaget. Mimpiku seram sekali." Ia tertawa kecil setelah berhasil mendapatkan stabilitas tubuhnya. Ia memeluk tangan Saruhiko erat, bagaimanapun dilihat Saruhiko tahu ia sedang ketakutan.
"Tenanglah, aku ada di sini." Sambil melepas kacamatanya. Saruhiko membantu Misaki kembali ke tempat tidur, membiarkan satu lengannya dipinjam, bahunya jadi tempat bersandar. Misaki melihat telapak tangannya sesekali membuat Saruhiko turut memperhatikannya. "Ada apa?" ia menarik tangan kecil itu, menjalinkan jari-jarinya.
"Hei, Saru… Apa yang terjadi pada Totsuka San?" Misaki menggumam suaranya sedikit serak. Sedikit merasa terganggu dan bermalas-malasan memberi jawaban Saruhiko hanya menghela nafas panjang.
"Dadaku sakit sekali tadi, aku tidak bisa mengambil sesuatu yang ku lihat di sana." Misaki kembali menggumam, ia memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah Saruhiko lebih dekat mengharapkan jawaban.
"Dia sudah mati, hanya itu." jawaban singkat yang membuat Misaki ingin bertanya lagi, "Bagaimana dia mati? Mengapa? Apa hubungan Totsuka, Mikoto, aku dan kau. Tidak jelas sekali." Misaki menyeka wajahnya yang rasanya ia akan menangis sebentar lagi.
"Misaki! Jangan memaksakan dirimu." sambil mengeratkan dekapannya. Ia ragu bagaimana mengungkapkan apa yang ada di pikirannya sekarang. Ia takut dan merasa bersalah diwaktu bersamaan.
"Aku melihatmu sangat marah. Apa karena aku?"
Saruhiko tidak ingin menjawabnya, ia tidak bisa. "Tolong, mungkin ada sebagian hal yang tidak perlu kau ingat lagi."
"Jika kau yang begitu…" Misaki menggeliat, ia mengeratkan dekapannya.
Perlahan tubuh yang tak lebih besar darinya mendominasi. Ia memeluk Saruhiko dengan lembut, secara perlahan merangsek ke sela kaki. Misaki jadi ingat tujuannya sore tadi. "Apa yang?" Saruhiko sedikit kaget.
"Hehe.. Kau tidak bisa menghentikanku." lelaki itu membiarkan Saruhiko menyisir rambutnya dengan jemari. Perlahan dengan deret gigi kecil-kecilnya itu membuka celana pemuda dengan mata biru gelap itu hati-hati. "Astaga…" Saruhiko menepuk pipinya sendiri teringat kejadian pagi tadi.
"Ah…" lengguhnya pelan samar ketika lidah mungil menari membentuk garis dari pangkal hingga ujung vitalnya. "Darimana kau belajar mesum begini…" Saruhiko tertawa sedikit merintih menahan gelinya. Misaki tak menjawab, ia sedang berfikir bagaimana pemain AV bisa menikmati kulumannya setiap detik. Ia tak percaya bagaimana wanita itu bisa sangat menikmatinya.
"Ahm…" Satu caplokan membuat satu sisi pipi Misaki menggembung. Saruhiko merasa merinding di sekujur tubuh, ia sangat bergairah sekarang melihat tatap berlinang Misaki seperti mengharapkan sesuatu.
"Bes- har...mm" ucapan Misaki tak jelas, merasakan dirinya di oral dengan orang ini membuat hatinya terbang tinggi.
"Misaki… Ah.." Saruhiko yang kelelahan tak ingin menahan orgasme pertamanya.
"Ah…." tapi Misaki yang merasa kesulitan bernafas menyelesaikannya dengan cepat sebelum pasangannya terpuaskan.
"Arg.. Kenapa berhenti?" Saruhiko nampak kesal, "-daguku pegal tahu!" Misaki menggerakan mulut bagian bawahnya. Melihat Saruhiko sudah memakai kacamata kembali membuat hatinya sedikit tergelitik. Ia mendekatinya berniat menggoda dengan ciuman. Belum sampai bibir mungilnya menyentuh Saruhiko ia terhenti lagi. Ia mengecup pipi dengan lembut merambat hingga telinga berusaha memancing pasangannya malam ini.
"-dasar petugas mesum." bisikkan Misaki membuat Saruhiko sedikit geram, ia menarik Misaki jatuh ke ranjang. "Benarkah? Ini salahmu, membangunkan singa yang tertidur." Saruhiko merangsek dari leher hingga dada membuat Misaki menggelinjang di bawahnya. Tangannya di tahan oleh Saruhiko kuat-kuat.
"Kau harus menuntaskan apa yang sudah kau mulai."
"Ahahaha… Hentikan, itu geli…" Misaki tertawa lepas mendapat godaan dari pemuda yang sudah terlanjur di bakar gairah ini.
"Aku ingin bertanya padamu." Saruhiko berhenti sejenak, berusaha menghibur hatinya sendiri.
"Jika kau mengingat semuanya. Apa kita bisa tetap seperti ini?" suara lirih membekukan udara. Tak lama gerimis turun tipis memukul kaca begitu terasa menganggu. Misaki memandang Saruhiko tak bisa berkata-kata, ia terlalu bingung dengan situasi yang mendadak pemuda yang mencumbunya ini mempertanyakan hal itu.
"Lupakan pertanyaanku." Seperti sadar ia membunuh momentum Saruhiko hanya berdesah berat seperti melepas sesuatu yang membebaninya. "Aku tidak tahu, kalau begitu aku tidak ingingin mengingatnya. Atau… Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk di antara kita. Heheheh…."
Mendengar jawaban yang plin-plan dari orang bodoh itu paling tidak membuat Saruhiko terhibur. Walau hanya sedikit, namun wajahnya masih menyimpan rasa bersalah. "Aku yakin kau pasti menyukaiku." gumamnya berniat Misaki kesal lagi seperti biasanya.
"Aku juga yakin, kau pasti sangat menyukaiku." Misaki semringah, ia tak ingin merusak suasana lagi. "Hmm… ?" Saruhiko memincingkan mata bertanya-tanya mengapa orang ini begitu yakin.
"Karena kau tidak akan melakukan hal ini dengan orang yang kau sukai." Misaki memeluknya, lengan yang melingkar manja. Senyuman yang seperti begitu jauh dari masa lalu yang ia pikir sebelumnya tak akan kembali.
Hujan di luar sana semakin deras riuhnya memukul jendela, rintiknya jatuh memecah udara bagai menggemakan kerinduan dan kebohongan yang fana. Dingin, nyaman, dan segera lenyap dengan cepat. Saruhiko kembali tersenyum, merasa berhasil membodohi dirinya sendiri. Tidak berguna dan sia-sia.
.oOo.
Hari telah berganti rasanya cepat sekali, hujannya sangat menyukai hari ini. Langit tak menunjukan akan cerah. Gerimis tipis dan udara lembab segera menyergap. Saruhiko bangun lebih awal.
Ia merasakan bahunya sedikit pegal sekarang. Melihat Misaki yang terlelap di sampingnya seperti ini. Setiap hari hanya terasa seperti mimpi baginya
Bibir yang mengatup, ingin sekali ia mengatakan seribu kata maaf. Tidak semua orang bisa meminta maaf. Ia terlalu yakin, ia tak termaafkan.
Saruhiko memeriksa ponselnya, ia membuat janji dengan dokter yang menangani Misaki hari ini. Mengenakan pakaiannya yang ia cari-cari ternyata hampir masuk ke bawah bed.
Ia tak ingin membuka gordyn yang sudah pasti cuacanya jelek sekali. Seburuk apapun cuaca dan kondisi lain cerita ketika kau bersama orang yang kau cintai, dan mencintaimu tentunya.
Drrrrrrrrt….
Drrrrrrrrt…..
Getar ponsel lain mengalihkan konsentrasi nya. Saruhiko mengecek ponsel tua milik ibu Misaki yang masih ia bawa bersamanya. Pesan dari seseorang di Homra.
"Kau meninggalkan beberapa barangmu di sini." Saruhiko membacakan pesannya.
Kembali menatap Misaki bertanya-tanya jujur saja perasaannya ini mendadak tidak enak.
Tidak ingin merasa terbebani ia hanya membiarkan dirinya tidak memikirkan rasa tak enak hati itu. Jika saja setiap harinya bisa selalu seperti ini.
Selalu saja ada beberapa orang yang hanya dengan keberadaannya membuat orang lain merasa terganggu. Pikiran manusia yang egois sekali, tapi bagi Saruhiko itu Manusiawi. Ia yakin tidak hanya dia yang merasa itu sendiri, Misaki tidak butuh siapapun juga kecuali dirinya di dunia ini.
CHAP 4
