"Jung Michun Present"
An Alternative Universe
WE GOT MARRIED
A Romance story
Chaptered: 2 of ?
Changmin | Yunho
Heechul, Hangeng as Changmin's parent
Shim Sooyeon, Shim Jiyeon as Changmin's sister
Others
Rate : T
Desclaimer : karakter di dalam milik Tuhan Yang Maha Esa. Ide cerita milik saya sendiri yang entah datang dari mana.
Warning: TYPO! Alur absurd! HOMIN! BoyxBoy. Changmin!boy Yunho!boy and GENDERSWITCH for Eomma! DLDR
"WE GOT MARRIED"
"kita nikah yuk"
Sinar matahari pagi perlahan memasuki celah-celah jendela kamar apartemen Changmin. Changmin berdiam diri menatap layar laptop, gemericik air yang berasal dari kamar mandi terdengar sayup-sayup olehnya.
"kita nikah yuk"
Kalimat singkat yang 30 menit lalu terlontar dari bibir seorang pria pemilik hatinya terus terngiang dalam benak Changmin.
Ia tersadar dari lamunan ketika pintu kamar mandi terbuka menampakan Yunho yang berbalut handuk putih di pinggang.
"Kenapa?" tanya Yunho yang sadar diperhatikan oleh Changmin.
Changmin hanya terdiam kemudian menggeleng. Orang ini baru saja melamarku, tapi apa yang harus aku katakan pada eomma dan abeoji?
Changmin menghela napas, tiga tahun mungkin lebih ia berpacaran dengan Yunho tanpa sepengetahuan keluarga masing-masing. Sering Changmin berpikiran untuk mengenalkan Yunho sebagai kekasihnya kepada orang tuanya, tapi ia tidak pernah yakin bahwa orang tuanya akan menerima hubungan mereka. Changmin pun sudah tidak mau ambil pusing tentang semua itu, ini masalah hatinya.
Tapi pada akhirnya waktu seperti ini pasti akan tiba juga.
"Changmin-ah." Yunho memanggilnya.
Changmin menoleh, mendapati Yunho yang sedang mengancingkan kemeja putihnya. "Kamu tidak sedang berpikiran kalau aku sedang bercanda 'kan?"
"Ani, hanya saja..." Changmin terdiam.
Tidak. Changmin tidak pernah berpikir kalau Yunho sedang bercanda. Walaupun mereka sama-sama tidak membicarakan hubungan ini kepada keluarga mereka, bukan berarti Yunho dan Changmin tidak serius menjalani hubungan ini.
Changmin memang bukan tipe orang yang mudah memperlihatkan perasaannya. Tapi bagi Yunho, hanya sekali menatap mata Changmin, ia dapat melihat segala perasaan di balik hubungan ini.
Begitu pun dengan Changmin, ia tahu Yunho orang yang seperti apa. Yunho adalah orang yang selalu serius dalam melakukan apapun, termasuk menjalani hubungan mereka yang sudah berjalan selama tiga tahun ini. Changmin dapat merasakan segala ketulusan dari setiap perlakuan Yunho terhadapnya.
Tapi, Changmin ragu untuk beberapa hal.
"Hyung... apa kau sudah memberi tahu orang tuamu?" tanya Changmin tiba-tiba.
Yunho berpikir sejenak, "Belum sih." jawabnya ringan.
"Bagaimana kalau mereka menolak diriku?" tanya Changmin bimbang.
Yunho berjalan menghampiri Changmin, "Eomma tidak akan tega menolak namja manis seperti mu." ucapnya sambil menyentil hidung Changmin.
"Hyuung~ aku serius" rengek Changmin.
"Aku juga serius, Min. Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkan orang tua. Kalau tidak direstui tinggal kawin lari saja, apa susahnya?"
Changmin melotot mendengar gurauan Yunho yang garing.
"Ya sudah, sekarang fokus saja sama tugasmu ini supaya cepat selesai. Kemudian kamu bisa menemaniku sepanjang hari, oke?" ucap Yunho sambil memutar tubuh Changmin agar kembali menghadap laptop.
"Sekarang hyung harus pergi, tiba-tiba eomma minta diantar ke pesta rekannya nanti malam"
Nanti malam 'kan masih lama, grutu Changmin dalam hati.
Sepeninggal Yunho, kini apartemen Changmin kembali sepi. Ia masih belum bisa berkonsentrasi mengerjakan tugasnya, "Benar, harus kubicarakan sekarang juga."
Changmin merasa ia benar-benar harus membicarakan hubungan mereka kepada orang tuanya. Cepat atau lambat orang tua mereka pasti mengetahui tentang hubungan ini, tapi lebih cepat memang lebih baik.
Changmin kembali mencoba fokus kepada laptopnya tapi hasilnya, "hhhh..." gagal deh buat fokus di hari minggu. Sekarang Changmin menyesali sudah menolak ajakan Yunho untuk pergi jalan-jalan.
*WE GOT MARRIED*
Pukul 5 sore di hari Senin. Changmin berdiri tepat di depan pintu sebuah rumah yang lumayan besar. Ia membuka pintu itu dan disuguhi oleh tatapan heran dua gadis muda yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumah mereka.
"Oppa?" seru kedua gadis tersebut.
Gadis yang paling muda berlari kecil menghampirinya kemudian merangkulnya, "Oppa, kenapa pulang? Tidak biasanya oppa pulang di hari Senin. Ah, harusnya 'kan akhir pekan kemarin oppa pulang. Tapi kenapa oppa pulang hari ini? Ini sangat aneh, iya 'kan eonni? Tidak biasanya oppa seperti ini..."
"Jiyeonie..." Changmin menghentikan pertanyaan bertubi-tubi yang menyakitkan telinganya itu.
"Ne?" kini Jiyeon adik perempuan termudanya itu menatap Changmin dengan polos.
Changmin menghela napas, "Oppa perlu bicara dengan eomma dan abeoji, jadi oppa pulang hari ini, arraseo?"
Jiyeon mengangguk mengerti, "Dimana eomma dan abeoji sekarang?" tanya Changmin.
"Appa belum pulang dari kampus, dan eomma sedang memasak di dapur. Biar ku panggilkan." ucap Jiyeon sambil berlari ke arah dapur.
"Eomma... oppa pulang, dia ada di depan. Aneh bukan?" teriaknya memenuhi seisi rumah yang sepi.
Changmin dapat bernapas lega, sekarang suara Jiyeon tidak mengganggu pendengaran yang membuat kepalanya semakin pusing. Ia melempar tasnya sembarangan ke arah sofa.
"YA!" seru gadis muda lainnya yang terkena lemparan tas.
Changmin duduk di samping gadis yang sedari tadi acuh dengan kehadirannya dan terus memainkan smartphone miliknya itu, setidaknya anak ini tidak akan seberisik Jiyeon.
"Mian." ucap Changmin pelan.
"Mau minta restu, ya? Sampai-sampai orang yang paling anti buat pulang ke rumah datang di hari Senin yang sibuk ini" tebak gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari smartphone miliknya.
Changmin menatap sebal adik pertamanya itu. Oh tidak lagi.
"Jangan omong kosong." ucap Changmin lelah.
Changmin beranjak dari tempatnya, harusnya dari tadi ia langsung ke kamarnya saja.
"Jadi benar mau minta restu sama appa dan eomma? Siapa calon kakak iparku?" tanya Sooyeon menghentikan langkah Changmin. Ternyata Sooyeon lebih parah dari Jiyeon. Pikirnya geram, kemudian meninggalkan tempat itu tanpa kata.
*WE GOT MARRIED*
Malam kian menyapa. Changmin berbaring di atas kasurnya yang dingin—mungkin karena baru ia tiduri lagi setelah satu bulan tidak pulang— Changmin belum mengutarakan maksud dan tujuan ia pulang di hari Senin yang sibuk ini, tidak mungkin 'kan saat makan malam tadi ia tiba-tiba mengatakan akan menikah. Bisa-bisa Ayah, Ibu dan adik-adiknya tersedak sendok masal, 'kan repot.
Changmin bangkit dari tidurnya. Ia mengambil sekantong plastik berisi cemilan favorite adik-adiknya, ia sengaja sebelum pulang ia mampir dulu ke mini market dekat rumahnya untuk membeli semua cemilan itu.
Ia pun keluar dari kamar dan dapat ia lihat Ayah, Ibu beserta kedua adiknya tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Sooyeon-ah, Jiyeon-ah.. kemarilah." titah Changmin dari kejauhan.
Mereka berempat yang ada di ruang keluarga menatap Changmin heran. Beberapa detik kemudian Jiyeon berdiri menghampiri Changmin.
"Eonnie!" seru Jiyeon yang melihat Sooyeon tidak beranjak sedikit pun. Sooyeon memutar bola matanya malas kemudian menghampiri Oppanya, apa lagi sih?
"Ini untuk kalian." Changmin menyodorkan plastik berisi cemilan kepada mereka berdua.
"Uwaa... selain Oppa pulang di hari Senin, Oppa juga membawa banyak makanan." seru Jiyeon bahagia yang langsung menerima kantong itu dengan senang hati.
"Tapi kalian makannya di kamar saja yah. Oppa perlu bicara dengan eomma dan abeoji, jadi jangan mengganggu." pinta Changmin dengan sangat.
Sooyeon mengangkat alisnya sebelah, "Mau menyogok kami, eoh?"
"Ish.. anak ini!" Changmin benar-benar ingin menjitaknya saat itu juga.
"Sudahlah eonnie, ayo kita makan ini." ucap Jiyeon sambil menarik Sooyeon ke kamar mereka.
Akhirnya... dua, sudah..
Changmin menatap orang tuanya kemudian menghela napas.. pelan-pelan saja.
Kini Changmin duduk di atas sofa di hadapan orang tuanya. Heechul sang ibu sedang fokus melihat berita fashion di PC tabnya, sedangkan Ayahnya sibuk memeriksa kertas-kertas bertuliskan aksara China yang mungkin sedikit ia mengerti, mungkin itu milik mahasiswanya. Maklum, Shim Hangeng ini memang seorang dosen Sastra China di salah satu kampus terkenal di Seoul.
"Tumben, Min." ucap Ayahnya tiba-tiba yang masih fokus dengan kertas di tangannya.
"Ye? Maksud Abeoji?" kaget Changmin yang sedari tadi sedang berpikir.
"Tumben pulang. Terus bawa makanan banyak buat Sooyeonie dan Jiyeonie. Kaya bukan kamu banget." gurau Hangeng sambil diiringi tawa ringan.
"Hehehee..." Changmin hanya bisa tertawa garing menanggapi Ayahnya.
Beberapa menit, Changmin terdiam lagi memikirkan kalimat untuk memulai percakapan. Ia menghela napas kemudian menatap orang tuanya.
"Eomma.. Abeoji." panggilnya sedikit grogi.
"Hmm.." balas Heechul yang masih fokus dengan PC tabnya.
"Ada yang ingin kubicarakan."
Hangeng menatap putra sulungnya itu, "Bicara saja, Min."
"Ada apa?" akhirnya Heechul mengangkat kepalanya menanggapi Changmin.
Changmin meneguk ludah dengan susah payah, Ayah dan Ibunya tidak akan serangan jantung mendadak 'kan?
"Anoo, itu.. aku mempunyai kekasih."
"Ooh.." setelahnya Heechul kembali sibuk update fashion terbaru masa kini.
"Memangnya kenapa, kau 'kan sudah dewasa." Hangeng masih memperhatikan Changmin, sedikit tertarik dengan pembicaraan yang dimulai anaknya itu.
Changmin mengusap tengkuknya, orang tuanya benar-benar tidak akan stroke mendadak 'kan?
"Ya itu, kami ingin menikah..."
Hangeng menaruh kertas-kertas tadi di atas meja, dan menatap Changmin heran "Menikah?"
"Iya, tapi masalahnya..." bagaimana aku mengatakannya ya?
"Tapi masalahnya, eomma, abeoji.. dia seorang nam—"
Seketika Heechul tersadar dari dunia fashionnya dan menatap menatap Changmin horror, "Menikah kau bilang? Bukannya kau sedang sibuk mengurus ujian akhirmu? Kenapa mudah sekali mengatakan untuk menikah?"
Changmin berpikir sejenak, "Ah itu... itu karena dia sudah melamarku kemarin dan..."
"MWO?" seru kencang kedua orang tuanya bersamaan.
Masih dengan wajah horror, Heechul menatap Changmin dengan seksama, "Melamarmu? Bagaimana mungkin seorang wanita melamar pria?"
Hangeng mengusap dagunya dan berkata, "Yeobo, aku baru tahu kalau zaman sekarang wanita benar-benar berjalan di depan pria kkk~"
Heechul menatap suaminya dengan tatapan bukan waktunya untuk bercanda!
"Dia bukan seorang wanita!" seru Changmin tiba-tiba dan berhasil membuat jantung kedua orang tuanya hampir berhenti.
"YE?"
"diaseorangnamjaberusia27tahunnamanyaJungYunho" ucap Changmin dengan satu tarikan napas.
"..."
"..."
Hanya suara dentingan jam dinding yang terdengar memenuhi ruang keluarga ini, sampai akhirnya Hangeng bersuara "Nam..namja?"
Changmin menatap orang tuanya, dapat ia lihat wajah Ibunya langsung berubah pucat setelah mendengar penuturannya.
"Yeobo... kepalaku." ucap Heechul sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit. Anaknya? Changmin? Bagaimana mungkin?
Hangeng langsung merangkul istrinya yang hampir tidak sadarkan diri.
"Eomma?" seru Changmin khawatir.
"Sooyeon-ah, Jiyeon-ah, dari pada kalian menguping disana lebih baik kalian kemari. Bantu eommamu ke kamar" ujar Hangeng yang sedari tadi mengetahui kalau kedua putrinya berada tidak jauh dari sana.
Sooyeon dan Jiyeon berlari kecil menghampiri mereka, "Nde appa." mereka berdua pun membantu Heechul berjalan ke kamarnya.
"Eomma," kembali panggil Changmin yang berniat mengikuti Ibunya ke kamar.
"Changmin-ah" panggil sang Ayah yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Changmin menunduk, tidak berani menatap mata sang Ayah.
"Kau tahu 'kan itu tidak benar?" tanya Hangeng, tidak ada nada menyalahkan dari kalimatnya. Itulah yang membuat Changmin mengaggumi sosok sang Ayah.
"Arrayeo." masih tidak berani menatap sang Ayah.
Hangeng kembali duduk di sofa, tidak bersuara. Ia tahu, pasti masih ada yang ingin Changmin sampaikan.
"Tapi aku sudah terlanjur menyukainya. Kami sudah terlalu jauh." suara Changmin sedikit bergetar, terdengar sedikit penyesalan di suaranya. Menyesal, kenapa ia tidak membicarakan ini sejak awal.
"Sejak kapan?" masih dengan suara Hangeng yang meneduhkan hati Changmin.
"Aku sudah bertemu dengan Yunho sejak tahun pertama ku di SMU, kami satu asrama. Tapi baru menjalin hubungan tiga tahun terakhir ini." jelas Changmin hati-hati.
"Aku mengerti."
Changmin menatap Ayahnya heran "Abeoji?"
*WE GOT MARRIED*
"Eomma? Gwenchana?" tanya Jiyeon khawatir.
Heechul tersenyum, tidak mau membuat anak bungsunya khawatir, "Eomma baik-baik saja"
Pintu kamar terbuka dengan Sooyeon yang datang membawa segelas air untuk Ibunya, "Tapi eomma pucat sekali." ujarnya.
Tiba-tiba, pintu kamar kembali terbuka, ada Changmin di sana dan Hangeng di belakangnya.
"Sooyeonie, Jiyeonie.. bantu appa sebentar yuk." pinta Hangeng untuk menarik kedua gadisnya keluar.
"Nde appa." seru mereka berbarengan.
Setelah pintu tertutup, Changmin melangkah semakin dalam, "Eomma" panggilnya pelan.
Heechul hanya diam kemudian membalikan tubuhnya membelakangi Changmin.
Changmin duduk di ujung kasur sambil menatap punggung Ibunya.
"Eomma, kau tahu 'kan, sejak kecil aku sudah tinggal jauh dari kalian. Kau ingat waktu aku 6 tahun, aku ikut harabeoji ke Jepang?" Changmin memulai pembicaraan dengan mengingat masa kecilnya.
Heechul masih tetap dengan pendiriannya, diam.
Changmin tersenyum pahit mengingat masa kecilnya, "Lalu saat pulang ke Korea di usiaku yang ke-12 aku sudah tinggal di asrama, dan sampai sekarang pun aku tinggal di apartemen terpisah dari kalian."
Heechul tetap diam, tapi matanya mulai berlinang mengingat masa kecil Changmin yang penuh tangisan. Penyesalan-penyesalan itu mulai kembali menghantui hatinya.
"Eomma, walaupun sebenarnya aku yang menginginkan tinggal jauh dari kalian, aku tidak bisa menyangkal kalau aku sangat merindukan kalian." kini air mata Heechul benar-benar jatuh. Changmin hampir tidak pernah membahas ini.
"Aku juga tidak memiliki begitu banyak teman. Aku sedikit kesepian. Tapi orang itu datang, dia menawarkan apa yang kubutuhkan sebagai teman. Kadang aku merasa dia seperti abeoji yang mengarahkanku dengan baik. Dia juga terlihat seperti eomma yang penyayang, walaupun sebenarnya dia tidak bisa memasak kkk~, dia memberikan kehangatan yang jarang kudapatkan. Dia seperti hyung yang aku butuhkan."
Changmin menunduk mengusap setitik air matanya, ini kali pertamanya ia mengutarakan isi hatinya kepada Ibunya. Kemudian ia tersenyum mengingat bagaimana Yunho bisa membuatnya jatuh hati.
Tapi Heechul masih dengan kekerasan kepalanya dan tetap bungkam tidak mau menaggapi Changmin.
"Tapi aku sadar, eomma dan abeoji sangat berharga bagiku lebih dari apapun. Maka dari itu, aku minta maaf padamu.. Maafkan aku, eomma."
Changmin menatap punggung eommanya, tidak sabar juga sedari tadi diacuhkan oleh Ibunya
"Eomma, jangan begini.. kumohon, bicaralah."
Kini Changmin benar-benar hampir menyerah dengan sikap keras kepala Ibunya, dan tanpa pikir panjang ia berkata, "Eomma, aku akan melakukan apa saja agar kau mau memaafkanku... Eomma mau aku memutuskannya? Tentu saja, aku akan melakukannya untukmu."
"Tentu! Putuskan dia!"
"Mwo?"
To be continued
a.n: annyeong semuanya... chapter awal seru-seruan, tapi chap 2 ini malah serius gini hahaha :D
special fast update buat teman-teman yang udah dukung FF ini :D
big hug and thanks for : angelmax28. am, luvhomin, Guest, neko. chan., Chwangminnie, minnieluv, xxx
silahkan sampaikan segala saran dan kritik untuk FF ini, sesungguhnya dede masih membutuhkan bimbingan wks~
sampai ketemu di chapter berikutnya ^^~
OMAKE
"Eonnie? Sedang apa?" tanya Jiyeon yang sadar kalau Sooyeon tidak mengikutinya ke kamar. Sooyeon malah berjongkok di samping lemari kaca yang tak jauh dari ruang keluarga.
Jiyeon pun ikut berjongkok di sana, dan mengikuti arah pandang Sooyeon.
"Nanti Oppa marah kalau kita menguping." ucap Jiyeon khawatir.
"Sssttt.. Oppa tidak akan marah kalau kita tidak ketahuan. Makanya diam." Sooyeon kembali fokus mempertajam pendengarannya.
"Anoo, itu.. aku mempunyai kekasih." terdengar pelan suara Changmin dari ruang keluarga. Tuhkan bener aku bilang, batin Sooyeon.
"Oppa punya pacar?" tanya Jiyeon antusias "Sssttt..."
"Ya itu, kami ingin menikah..." kembali suara Changmin terdengar oleh mereka berdua.
"Menikah?" seru mereka berdua.
"Eonnie, apa itu tidak terlalu cepat? Kita kan belum berkenalan. Bagaimana kalau calon istri oppa jahat kepada kita?" bisik Jiyeon takut. "Sssttt... sudah dengarkan saja."
"Ah itu... itu karena dia sudah melamarku kemarin dan..."
Kini keduanya ikut menatap bingung mendengar penuturan Oppa mereka.
"Melamar? Wanita bisa melamar pria?" gumam Sooyeon pelan.
"Eonnie.. mungkinkah itu bisa terjadi? Kalau benar-benar bisa.. aku ingin melamar Chanyeol-oppa sekarang juga, hehehe." ucap Jiyeon nglantur.
"Dia bukan seorang wanita!"
"YE?!" seru keduanya bersamaan.
"Kalau bukan wanita terus apa? Betina? Kok Oppa ada-ada aja sih!" seru Sooyeon kesal.
"Itu berarti namja, eonnie." celetuk Jiyeon.
Sooyeon menatapnya heran, "Tidak mungkin!"
"diaseorangnamjaberusia27tahunnamanyaJungYunho"
Sooyeon benar-benar melotot, walaupun tidak terdengar jelas, tapi diakhir kalimat ia dapat mendengar nama...
"Jung Yunho?" gumam Jiyeon, "Kok namanya ga asing sih?"
"Ga asing gimana?" tanya Sooyeon heran.
"Hmmm.. kaya pernah dengar.. nama siapa ya? Tukang bubur di sekolahku bukan, ya? Atau tukang ojek? Sopir taksi? bukan juga.. terus siapa yah.. ah, nama artis.. U-Know Yunho! Eonnie ingat tidak?"
Sooyeon memutar bola matanya malas, "Jiyeon-ah, sebenarnya itu tidak penting. Yang jadi masalah, Oppamu itu pacaran sama namja! Itu masalahnya Jiyeonie!"
"Eh? Namja? Jangan-jangan, Oppa beneran pacaran sama artis U-Know Yunho? Itu gawat, nanti keluarga kita jadi sorotan publik, eonnie. Bagaimana ini?"
Sooyeon menepuk kepalanya, sebenarnya apa yang ada di otak adiknya ini.
"Sooyeon-ah, Jiyeon-ah" terdengar suara ayah mereka memanggil.
Mereka saling menatap takut "eonnie, bagaimana ini?"
"Dari pada kalian menguping disana, lebih baik kalian kemari. Bantu eommamu ke kamar" lanjut ayahnya.
"Oppa marah tidak, ya?"
