Saruhiko X Misaki

[K] Project - SPEICHERN Chap 5

zZenSan

Perbincangan ringan terdengar sayup-sayup samat dari ruang periksa. Langit-langit putih nampak lebih terang dengan lampu yang menyala sebegitu terang disiang hari. Saruhiko nampak duduk memangku kaki sambil memegang ponselnya. Sesekali orang lalu lalang melintasi ruangan. Beberapa perawat sering ia dapati sedang memperhatikannya.

Lima belas menit menunggu rasanya jadi sangat lama. Tak lama nampak gagang pintu berputar dan daunnya terbuka. Saruhiko memberi salam pada dokter paruh baya yang menangani Misaki. "Bagaimana?" tanyanya singkat.

Dokter belum menemukan perkembangan yang signifikan dari kondisi ingatan sementara Misaki. Selama obat dari dokter terus ia konsumsi peningkatannya akan terus berlanjut.

Juga nasehat agar tidak terlalu stress dan memaksakan dirinya.

"Terimakasih banyak."

Berusaha bersikap sopan san bersahabat Saruhiko memberi salam. Misaki tak berkata apapun, mungkin ada sesuatu yang mereka bicarakan di dalam ruang periksa yang disembunyikan darinya. "Kau ingin pergi ke suatu tempat." Saruhiko seiring dengan Misaki menyusuri koridor rumah sakit yang hanya lurus menuju lift. Seperti melamun, Misaki hanya mengangguk pelan.

"Kenapa? Kau nampak bingung begitu?" Saruhiko memperhatikan lelaki yang tidak lebih besar darinya itu. "Entahlah, aku merasa ada yang aneh. Tapi aku tidak tau itu apa. Hehehe-" ia tertawa canggung menggaruk kepala yang tak gatal.

"Rasanya aneh sekali berjalan berdua begini denganmu. Aku tidak terlalu yakin apa masalahnya?" lanjut nya lagi sambil mengira-ngira apa yang sebenarnya membuatnya merasa terganggu. "Ayo pergi ke rumah lamaku. Aku ingin memberikan beberapa barangmu yang tertinggal." Saruhiko berjalan lebih cepat. Mengenakan sweater hitam membalut kulit pualamnya. Handband yang tak pernah ia lepaskan dan kacamata menyebalkan bagi Misaki kelamaan sepertinya sudah terbiasa dengan penampilan Saruhiko.

Mengikuti kemana langkahnya dibimbing Misaki tidak banyak bertanya. Sebuah rumah sederhana berlantai dua di komplek yang tidak jauh dari sekolahnya dulu. "Wah…. Sudah berapa lama aku tidak berkunjung." Misaki berdiri dibelakang punggung Saruhiko mengikutinya dengan tenang.

Belum menekan tombol bel pintu mendadak sudah terbuka. Seorang gadis keluar dengan wajah datar bertatap muka dengan Saruhiko. Wajahnya memang tidak mirip tapi sikap ketus dan acuhnya membuat Misaki sedikit mengingat wajah Saruhiko saat sekolah.

"Hah? Ada angin apa yang membuatmu kemari?" sambil mengibas twintailnya. Gadis dengan seifuku merah itu membuka gerbang. Ia baru saja akan pulang ke rumahnya sendiri, "-masuklah." Saruhiko memberi isyarat agar Misaki masuk ke rumahnya Seperti menjaga jarak dengan gadis ketus yang langsung berlalu tanpa mengatakan apapun lagi.

"Tadaima-" Saruhiko masuk dengan tenang melepas sepatunya.

Tidak ada jawaban, seperti biasanya. Ayah dsn Ibunya tidak di rumah di jam kerja seperti ini.

"Siapa perempuan tadi?" Misaki ingin tahu, ia ingat Saruhiko tak punya kakak atau adik.

"Aya… Dia sepupuku, dia tinggak bersama orang tuaku." Saruhiko menjawab singkat.

Sampai di kamarnya, ia membiarkan temannya itu melihat-lihat. Kamar yang rapi san tidak ada apapun yang bisa dimainkan.

"Ini." Saruhiko memberikan sebuah keychain, "-punyamu. Juga, hah benda tidak berguna ini." Saruhiko membuka pintu lemari. Sebuah papan seluncur darat jatuh ke lantai.

"Skate board?" Misaki memungutnya, rodanya sudah sedikit bergoyang pada bagian engselnya.

"Ah? Ku pikir benda ini sudah hilang waktu kita naik ke menara?" Misaki nampak semringah berseri-seri. Sementara lelaki yang menemaninya hanya tertawa kecil, baru saja Misaki tanpa sadar mengingat kejadian beberapa bulan lalu.

"Kau ingat, benda itu jatuh waktu kau datang dengan bodohnya menolongku. Syukurlah kita tidak mati melawan bocah hijau itu." Saruhiko menjelaskan apa yang ia pikirkan sepintas membuat Misaki terdiam.

"Eh? Ya aku ingat. Kau bersama seorang anak dari… Ehmm siapa itu Nagare?" Misaki menelisik matanya memancarkan penasaran.

"Raja klan hijau. Jangan memaksakan dirimu, dia sudah mati oleh klan Silver."

Misaki mengatupkan bibir mencoba mengerti, setidaknya ia tidak kehilangan gambaran pembicaraan mereka. Ia seperti menyimpan sesuatu untuk dikatakan pada Saruhiko tapi ia hanya mengunci mulutnya soal masalah itu.

"Kau tau, kemarin aku ke Homra." Misaki nampak merasa bersalah, terlihat dari tatapannya yang kesana kemari tak bisa dijelaskan.

"Aku tau, kau membeli ponsel baru juga." Saruhiko mengambil minuman ringan dan memberikan Misaki kaleng baru dari lemari pendinginnya.

Misaki mengangguk pelan, '-Heh? Bagaimana kau bisa tahu?" Saruhiko tak ingin menjawab pertanyaan itu.

"Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun?" selanya dengan tanya.

"He…. Memang kau itu ibu ku?" jawab Misaki sedikit meninggikan suara mendengar Saruhiko yang mulai berlebihan. Pemuda berkacamata itu bermaksud menghentikan pembicaraan mereka yang akan menjadi perdebatan sebentar lagi.

"Setelah ini akan kemana? Aku bosan melakukan apapun." Misaki membaringkan tubuh berputar di ranjang single Saruhiko membuat Spreinya jadi berantakan. "Aku akan membereskan beberapa benda yang bisa ku bawa ke apartementku. Kau bisa istirahat sebentar,-" Sambil menarik sebuah tas biru tua dengan kedua tangannya. Saruhiko membuka laci dari meja belajarnya mengeluarkan beberapa benda elektronik dan buku catatan. Ia tak menyangka menyimpan dokumen begitu ceroboh saat ia naru masuk ke Scepter 4. Sementara ia sibuk membereskan bukunya, Misaki yang tak bisa menahan dirinya untuk tertidur sudah terlelap di ranjang yang tak terlalu besar itu.

Matahari yang mulai tergelincir hampir tenggelam. Bukan karena Saruhiko terlalu lama membereskan bendanya, ia hanya tak membangunkan Misaki dan membiarkannya tidur senyeyak itu di hari liburnya. Maka ketika Misaki terbangun dan mendapati matahari sudah tenggelam ia menjadi kesal. Ia berencana membeli beberapa sayur di swalayan untuk makanan mereka. Jika sudah se sore ini biasanya antrian menumpuk karena jam pulang kerja.

Saruhiko membawa tasnya yang tak terlalu besar itu. Ia tak ingin bertemu keluarganya, ia ingin segera pulang ke apartemennya sebelum ibunya sampai.

Misaki tidak ingin tahu mengapa ia bersikap seperti itu. Ia hanya sudah terbiasa dengan Saruhiko yang kadang memang bertindak menyebalkan begitu. Sebelum malam larut setelah melewati kepadatan lalu lintas dan akhirnya sampai ke rumah dengan selamat.

"Ah, apa ada yang bisa dimakan?" Misaki segera menuju dapur yang tak jauh dari ruang utama. Memeriksa laci dan lemari pendingin yang tersisa beberapa sayuran. Ia berfikir untuk membuat sup, atau apapun menghabiskan sayuran yang mulai terlihat layu itu.

"Aku akan mandi duluan." Setelah menyimpan tasnya Saruhiko berlalu menuju kamar mandi. Sementara Misaki mulai membuat makan malam untuk mereka.

"Hm… Sayuran lagi?" Saruhiko dengan piyamanya masih mengeringkan rambut dengan handuk bisa melihat menu makan malam mereka. "Aku tidak menerima komplain tuan!" Misaki masih meniriskan Nasi dan menata mangkuk dan sumpit.

"Hmm…" Saruhiko mengambil kursi dan membantu Misaki. Meja yang tak terlalu besar cukup untuk mereka berdua. Tumis sayuran dan sup, Misaki sebenarnya tahu Saruhiko tidak suka makan sayur. Justeru itu ia membeli banyak sayuran, orang dewasa mana yang masih pilih-pilih makanan.

"Sekarang aku akan mandi, kau harus membereskan sisanya." Misaki selesai lebih dulu. Tidak protes atau apapun, Saruhiko masih melanjutkan mkannya sendiri dengan tenang. Ia menyadari sesuatu, sedikit terlambat untuk menyadarinya memang.

"Misaki, siang tadi kau tidak meminum obatmu." suara Saruhiko masih terdengar saat Misaki melepas bajunya untuk dimasukan ke mesin cuci.

"Iya! Setelah ini aku akan meminumnya!" Sahutnya lantang sambil meneruskan aktifitasnya. Kalau ia pikir sejak obatnya tertinggal di Homra sudah dua hari ia tak meminum obatnya. Tak heran jik tak ada perkembangan apapun darinya, memikirkan itu saja sudah membuatnya tertawa.

Saat Misaki selesai mandi den mengenakan bajunya, Saruhiko nampak sibuk dengan laptopnya di atas kasurnya. "Kau selalu sesibuk itu ya…" Misaki meminum air dari botol kecil yang ia ambil. Sementara pemuda berkacamata itu hanya tertawa kecil, "-kau tau. Aku ini bagian penting dalam kelompokku tahu!" sedikit menyombongkan diri Saruhiko meletakan gadgetnya. Ia menjulurkan tangan, Misaki meraihnya. Saruhiko bermaksud mengeringkan rambut Misaki yang masih basah itu.

"Hm…. Saruhiko. Apa kau ingat saat aku kecelakaan?" Misaki memulai topik yang sedikit berat, sementara Saruhiko tak menjawab apapun. Ia hanya menggerakan tangannya dan mulai dengan pengering rambutnya yang mengeluarkan suara sedikit gemuruh.

"Belakangan aku seperti melihatmu, apa saat kita sedang bertengkar? Karena apa? Kenapa aku bisa jadi begitu?" tanya nya lagi lebih mendetail. Saruhiko malas membicarakan ini, pura-pura tidak mendengar menurutnya keputusan yang cukup mudah dan tak beresiko.

"Kenapa kau diam saja?" Misaki memukul pelan kaki pemuda berambut hitam itu karena kesal tidak mendapat respon yang bagus.

"Ah, aku juga mulai melupakan itu sih." jawabnya singkat, Misaki jadi memikirkan hal lain untuk mencairkan suasana.

"Saruhiko, kapan kita mulai menjalin hubungan aneh seperti ini? Apakah sejak lulus sekolah? Atau lebih cepat dari itu?" Misaki menyandarkan kepalanya di salah satu kaki Saruhiko yang memijak tanah.

"Bagiku… Lebih cepat dari itu." Saruhiko menjawab singkat. "Kau pasti terkejut jika mengingat bagaimana ini terjadi." lanjutnya lagi. Misaki bangkit, duduk di pangkuan pemuda itu sambil menghadap ke arahnya.

"Apa yang membuatku terkejut?" Misaki mengaitkan tangannya merangkul leher itu dengan lembut.

"Bisa jadi marah." perjelas Saruhiko membalas dengan meletakan tangannya di pinggul Misaki. Pinggangnya seperti semakin kurus, tulang leher dan selangkanya terlihat semakin menonjol.

"Hahaha? Benarkah. Aku jadi ingin tahu itu hal seperti apa." Misaki tertawa kecil, sementara Saeuhiko sudah menatapinya sejak tadi. Mengincar bibir ranum yang ada di hadapannya saat ini.

Tanpa aba-aba ia mengecupnya pelan dan bersambut dari Misaki yang sedangmood hari ini.

"Bolehkan? Aku mengecup-" ucapannya belum selesai, "-kau bertanya setelah melakukannya. Apa kau ini bodoh?"

Seperti mendapat lampu hijau sambil melepaskan kacamata dan meletakannya di meja, "-ahn…" Misaki merasa dirinya sedang digoda. Saruhiko bisa menghirup aroma sabun yang segar dari kulit kecoklatan yang selalu terasa hangat setiap ia menyentuhnya. Pundak yang kecil, dan wajahnya yang selalu tersenyum membuatnya sedikit merasa hangat. Matahari yang hanya ingin disimpan sendiri.

Misaki melepas kasusnya membiarkan dirinya telanjang diri. Saruhiko memandangnya dengan sedikit sayu dan kepiluan yang terus ia sembunyikan. Yang ia nikmati segala yang ada di dunia ini hanya kebohongan.

"Hmm…" Ia melenguh pelan mendapati pemuda berambut chestnut berada di antara kedua kakinya. "Serahkan padaku…" Misaki sangat yakin dengan dirinya. Sementara Saruhiko hanya tersenyum melihat tingkah lelaki yang begitu ia sayangi.

"Saruhiko, apakah kita pernah pergi onsen bersama?" Misaki menanyakan sesuatu yang seperti itu disaat seperti ini. "Jika kau ingin mencoba Yukata Sex kita bisa melakukannya minggu depan." Saruhiko tertawa menggoda menarik tubuh yang lebih ramping itu melekat padanya.

"Hah? Bodoh! Aku tak bilang begitu." Misaki memukul pelan pundak Saruhiko sedikit kesal mengerucutkan bibirnya.

"Hmm…. Aku hanya bercanda." ia menarik dagu itu untuk ia kecup di bagian pipinya yang menggembung.

Tangannya yang nakal memulai foreplay tanpa Misaki sadari membuat libidonya ikut meningkat. Sesekali lengguhan tertahan dari bibirnya justeru membuat Saruhiko lebih berhasrat padanya. "Ah… Sa- Saru…" Misaki mengerang meringis sedikit ngilu sambil tertawa sesekali. Ia selalu merasa kesakitan di awal aktifitas mereka ini.

"Hnyaa…. perutku penuh…" rintihnya, sambil memeluk Saruhiko erat-erat dengan kukunya yang mencakar-cakar.

Saruhiko memberikan waktu untuknya mulai terbiasa, sebenarnya ia sudah tak tahan lagi ingin menghajar tubuh yang terlihat ringkih itu sekuat-kuatnya.

"Ha… Ah…" menunggu reaksi Misaki yang menggerakan pinggulnya sendiri membuat tempo lambat. Sambil tersenyum menatap Saruhiko begitu dekat dengannya.

"Tubuhmu selalu dingin,-" Misaki menatap lekat pada wajah tenang yang menatapnya begitu dalam seperti berusaha menembus sesuatu dalam dirinya. "Karena Misaki terlalu hangat, dan bersinar." Saruhiko memejamkan mata mengabaikan rasa bersalah yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Misaki tertawa kecil mengulum telinga Saruhiko memberi gigit mesra, merambat turun hingga leher dan kembali ke bibirnya.

"Aku selalu ingin menggenggam tanganmu yang dingin itu, sampai kita berdua merasa hangat." Misaki masih menggerakan tubuhnya. Nafasnya mulai memburu mengikuti irama yang ia mainkan. Kakinya tak bisa berhenti menggerakan tubuhnya dan ia bisa melihat Saruhiko yang nampak serius hanya padanya di saat seperti ini.

"Hyah-" Merasakan desakan Saruhiko semakin intens.

Misaki membusur menahan nikmat yang masuk ke seluruh aliran darah. "Ha ah…" Ia tak kuat lagi, melihat itu Saruhiko membantingnya ke ranjang dan mengambil persiapan memulai serangan.

"Nya… Ahh Saru… Pelan…" Misaki sudah tak bisa mengomando lelaki yang sudah nyaris sampai klimaksnya. "Ah… Ahn… Aku akan…" decit dari kaki ranjang. Ruangan yang langit-langitnya tinggi. Suaranya memecah hening menggema terus hingga memudar menghilang di kejauhan. "Saru… Aku… Ah…" Saruhiko menghentikan gerakannya membuat lawan mainnya sedikit bingung.

"Sorry-" Saruhiko memutar tubuh Misaki dengan keras, menekan wajahnya ke ranjang dan mulai kembali pada penyerangan nya.

"Tung- Saru, Ahn…." Misaki tak kuasa, tubuhnya di kunci. Kedua tangannya di tarik ke belakang sedikit kasar membuatnya kesakitan. Bertumpu pada dadanya dan Saruhiko kembali memggagahinya. Tubuhnya yang terlonjak mengikuti ayunan yang dimainkan Saruhiko.

"Tch-" Saruhiko berkicap kesal, sesekali hentakan sangat dalam. Misaki sampai kehabisan suara terus mengerang yang semakin lama rasa perihnya terasa lebih jelas.

Saruhiko begitu serius, kembali menarik kaki kurus itu, satu kakinya di letakan pada pundak. Kaki lainnya di tahan membuat Misaki tanpa pertahanan. "Hnnngg… sa sakit…" lebih intens dari sebelumnya. Lebih cepat dan tempo memburu yang menghabisinya perlahan. Kini Saruhiko bisa melihat wajah yang hampir menangis di bawahnya ini. Ia bisa melihat bagaimana tatto merah di dada Misaki mulai mengganggu. Ia meraihnya dengan ujung jari, tanpa melepaskan tempo yang sedang ia jaga stabilitas nya.

"Ha… Ack… Apa yang kau… Arh.. Sakit-" Misaki menahan tangan Saruhiko. Jari-jari panjang yang menyentuh lambang merah di kulitnya yang polos. Saruhiko menekannya dengan keras berharap lambang itu lenyap dari pandangannya. Misaki mulai merasakan panas luar biasa pada kulitnya, tangan Saruhiko mengeluarkan cahaya biru redup yang bagai membakar dari bawah kulitnya. Misaki merintih kesakitan.

Jika tidak bisa mengenyahkan lambang merah itu, maka ia hanya perlu mengenyahkan ingatan Misaki tentang pengelompokan warna konyol yang ia jalani di kehidupannya saat ini. Saruhiko tertawa sinis membuat Misaki lebih takut lagi.

"Agh, hak… ahh… Hg…."

"MISAKI!" dengan wajahnya yang ia sendiri tak tau se mengerikan apa. Melihat Misaki yang tidak berdaya itu sangat menyenangkan, menyiksa pemuda itu melihatnya kesakitan bagai memiliki sensai tersendiri.

BWOSSHH!

sebuah api merah membara nyaris membakar mata Saruhiko membuatnya terlonjak. Menanggalkan perjalanan ya menuju ejakulasi, Misaki nyaris membakar wajahnya. Kilatan cahaya yang begitu menyilaukan seperti biasa.

"Uerrghhh…." Misaki hampir muntah, Saruhiko tidak sadar sejak tadi ia tengah mencekik leher kurus itu. Semua itu terlihat dari bekas merah yang membekas di leher Misaki. Pemuda itu tersedak dan terbatuk-batuk. Matanya nanar, ia benar-benar kehabisan nafas rasanya nyawanya akan diangkat dengan segera.

"Misaki?" Saruhiko kembali mendekat membantu pemuda itu. Mengambilkannya gelas dan memberikannya air.

"Maaf-" Saruhiko berusaha menyentuh tubuh itu, tapi Misaki jelas-jelas menolaknya. Tepisan tangannya yang kasar dan cepat membuat Saruhiko sedikit.

"Shit.." Saruhiko mengutuk dirinya bagaimana ia bisa melakukan itu tanpa kesadaran.

Ia memaksa Misaki menerima pelukannya. Erat dan tak ingin ia lepaskan, "Maaf, maaf…" Saruhiko tak bisa memikirkan kata-kata lain lagi. "Kau mencoba membunuhku!" Misaki meronta, melepaskan pelukan lelaki yang baru beberapa menit lalu sedang tengah mesra-mesranya. Nampak dengan jelas ekspresi Saruhiko yang kompleks, "-maaf." ucapnya lemah. Ia bisa melihat tatap mata benci, kerutan alis dan wajah penuh amarah Misaki. Sudah lama sekali, ia tak melihatnya.

"Apa yang kau pikirkan?" Misaki masih nampak sangat kesal, sebenarnya ia tak begitu marah ia hanya kaget pada perlakuan Saruhiko yang berubah drastis seperti itu. Sementara wajah yang mematung masih penuh tanya yang ia sendiri tak menemukan dalam dirinya, Saruhiko tidak mengerti selalu saja ia dikuasai sesuatu yang akhirnya menyakiti seseorang yang ia cintai.

Ia bangkit dari kasurnya, beranjak pergi mengenakan kasusnya menuju kamar mandi. Misaki membiarkannya berlalu, menatapi punggung yang terlihat sedikit memerah karena cakaran Misaki yang berusaha melepaskan diri. Sedikit perasaan yang masih tak bisa ia jelaskan tetiba meletup dalam benaknya, '-apa aku menyakiti Saruhiko?' jujur saja Misaki tidak bisa melihat ekspresi Saruhiko sekarang ini.

Setelah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan kamarnya. Saruhiko menuju dapur, terdengar suara gelas yang bersinggungan, mungkin ia akan membuat sesuatu. Misaki membersihkan dirinya dengan cepat, kembali mengenakan pakaiannya dan mengambil posisi di tempat tidurnya. Rasa panas yang masih tersisa, sakit luar biasa mulai merajalela. Sakitnya bukan karena kakinya yang lemas, tapi hatinya yang tak bisa ia mengerti itu amat menyesakan dada.

Maka sampai malam berakhir, dan hari telah berganti. Ia tak menemukan Saruhiko di sampingnya. Misaki bangun lebih pagi dari biasanya, tetapi ia sudah tak bisa menemukan Saruhiko di rumah tersebut. Lelaki itu pasti sudah pergi lebih dulu untuk bekerja. Ia melihat sandwich yang masih nampak segar, pasti Saruhiko yang membuatkannya. Sedikit rasa bersalah mulai mekar di dalam hatinya. Bunga yang sangat indah da menyakitkan mengakar mengikuti aliran darah.

Chap 5