We Got Married 3
.
Kini Hangeng dan kedua putrinya berdiri di depan pintu kamar utama keluarga Shim. Mereka bertiga menatap penuh harap terhadap pintu itu.
"Eomma dan oppa tidak akan bertengkar, kan?" tanya Jiyeon takut, mengingat sifat Ibu dan kakaknya itu sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah.
Keluarga Shim sudah hafal betul apa yang akan terjadi jika Heechul dan Changmin berdebat. Jika Changmin pulang ke rumah, pasti ada saja satu hal yang Heechul bahas dan menuai komentar dari Changmin, kemudian Heechul membalas komentar anaknya dengan kalimat yang sedikit pedas, tentunya Changmin tidak pernah mau kalah, dan terus seperti itu sampai mereka lelah sendiri.
"Tapi ini beda lagi masalahnya." ujar Sooyeon tiba-tiba.
Hangeng mendesah pelan, ia tahu Changmin sudah dewasa dan bisa menyikapi ini. Ia yakin Changmin bisa menghadapi Heechul dengan baik.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan sosok tinggi kebanggaan keluarga Shim dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kalian sedang apa disini?" tanya Changmin yang sadar diperhatikan oleh tiga pasang mata yang ia kenal.
Hangeng menghampiri Changmin, ia menepuk pundak Changmin sambil tersenyum, "Kau sudah melakukannya dengan baik." ucapnya kemudian masuk ke kamar.
Changmin tersenyum tipis, lalu ia melihat dua gadis yang tersisa disana.
Jiyeon terlihat takut dan bersembunyi di balik tubuh Sooyeon, ia tahu kakaknya akan marah karena mereka sudah menguping pembicaran tadi, kakaknya ini galak seperti ibunya.
Sooyeon mengerti ketakutan adiknya kemudian menatap kakaknya dengan berani, "Marahi aku saja, jangan Jiyeon! Aku yang pertama kali menguping tadi."
Changmin tersenyum, "Aku tahu, itu pasti ulahmu. Kalian tidak mengantuk? Tidurlah." kemudian pergi meninggalkan kedua adiknya yang menatapnya heran.
"WE GOT MARRIED"
Hangeng masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di samping sang istri, "Sudah tidur?" tanyanya pelan.
Heechul membuka matanya perlahan.
"Belum tidur?" kembali Hangeng bersuara. Namun, sang istri hanya terdiam sambil menatap langit-langit kamar mereka.
"Jadi semua desas-desus yang beredar sejak lama itu benar? Kalau Changmin..." Heechul tidak melanjutkan kalimatnya, ia masih belum bisa percaya dengan apa yang sudah ia dengar malam ini.
Selama ini Heechul dan Hangeng sering mendengar dari rekan-rekan mereka yang menyekolahkan anaknya di sekolah yang sama dengan Changmin, bahwa Changmin memiliki hubungan dengan seorang pria. Tapi mereka tidak mau menelan mentah-mentah gosip murahan itu, mereka baru akan percaya jika Changmin sendiri yang mengatakannya langsung. Sayangnya, Changmin tidak pernah membicarakan hubungan itu, begitupun dengan Heechul dan Hangeng yang tak pernah membahas gosip itu dengan Changmin.
"Harusnya sejak awal kita tidak membiarkan Changmin tinggal di asrama," sesal Heechul, "Aku merasa sudah gagal menjadi seorang ibu."
Hangeng melirik istrinya yang sudah mengalirkan setitik air mata, "Yeobo, tidak ada yang perlu disalahkan atas semua yang telah terjadi terhadap Changmin. Kau tidak perlu menyesali apa yang terjadi di masa lalu."
"Kau tidak mengerti perasaanku sebagai ibu." Heechul menutup mata, masih merasakan sakit di hatinya.
"Tapi aku mengerti perasaan Changmin sebagai seorang ayah."
Heechul menoleh menatap suaminya, "Lalu kita harus bagaimana?" tanya Heechul dengan suara yang bergetar.
"Entahlah," Hangeng memiringkan tubuhnya menghadap sang istri, "Yeobo, bukan maksudku ingin melimpahkan semua keputusan kepadamu. Tapi, aku yakin kamu tahu keputusan apa yang terbaik untuk anak kita."
.
.
"Yeoboseo, hyung... aku pesan pizza yang biasa."
"..."
"Iya, satu saja. Aku ada di apartemen sekarang. Cepat, ya."
Changmin menutup sambungan telepon setelah ia memesan di restoran pizza milik temannya. Kemudian duduk di lantai ruang TV yang beralaskan karpet, Changmin terdiam menatap laptop di hadapannya, berniat mengerjakan tugas lagi.
Tiba-tiba tombol pintu apartemennya berbunyi, oh tidak! orang itu datang!
Changmin berlari ke arah pintu dan melihat Yunho sudah ada di sana. Yunho menatap Changmin kaget, "Akhirnya aku menemukanmu, Shim Changmin!"
Changmin buru-buru mendorong Yunho dari sana, mengusirnya tanpa sepatah katapun.
"Changmin-ah, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" heran Yunho yang masih menahan tubuhnya karena didorong oleh Changmin.
"Changmin-ah... tiga hari ini kamu kenapa 'sih? Susah di hubungin dan ga ada di apartemen." ujar Yunho yang mulai kewalahan dengan tingkah Changmin.
"Hyung, kita putus saja!"
Yunho terdiam dan akhirnya Changmin berhasil mendorongnya keluar, Changmin buru-buru menutup pintu dan mengganti password pintunya.
"CHANGMIN-AH!" panggil Yunho sambil menggedor pintu sekeras mungkin.
Changmin pergi tanpa mengindahkan panggilan Yunho, ia menuju ruang TV dan memasang earphone-nya dengan volume full. Ia tidak ingin berurusan dengan Yunho untuk saat ini.
.
Yunho terduduk di lantai samping pintu apartemen Changmin. Changmin minta putus?
Pikiran Yunho menerawang ke tiga hari yang lalu, tiba-tiba Changmin menghilang dan sulit dihubungi. Ia sudah mencari ke kampus tapi hasilnya nihil, ia juga sudah mencari Changmin ke agensi tempatnya bekerja, staffnya bilang tidak ada, di apartemen juga kosong. Sebenarnya ada apa dengan Changmin, tiba-tiba menghilang tanpa kabar, dan saat bertemu malah memutuskannya.
"Yuhuuu~ Pizza~"
Yunho melirik seorang namja muda yang berjalan menuju arahnya sambil bersenandung kecil dengan satu kotak pizza di tangan.
"Hyung, kenapa kau duduk di sini?" tanya namja berpizza itu yang menatap Yunho heran.
"Diusir (dan diputusin) sama yang punya apartemen." jawab Yunho sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ah~ kasihan sekali~" ejek namja itu kemudian mengetuk pintu memanggil sang empunya apartemen.
Tiga menit sudah, tapi tidak ada yang keluar dari apartemen ini, "Percuma mengetuk sekencang apapun, tidak akan ada yang membuka."
Namja itu mendelik ke arah Yunho kemudian kembali mengetuk pintu.
"Hey, hey, hey, kau mau merusak pintu itu atau membuat tanganmu patah?" kini Yunho yang mengejek.
"Ish... diam kau, hyung!" ia berusaha memanggil sang empunya tempat tinggal. Ini demi kelangsungan hidupnya, jika ia menyerah, siapa yang akan membayar pizza ini.
"Sini, aku saja yang bayar." ujar Yunho sambil berdiri berhadapan dengan namja itu.
"Aniyooo! kau bukan pemesan pizza ini!" tolaknya keras sambil menjauhkan pizza-nya dari tangan Yunho.
"Aku akan memberikan pizza itu padanya. Minseok-ah, kau masih memilik pesanan yang belum diantarkan, 'kan?" tebak Yunho sekenanya.
"Ah..." namja itu berpikir, "Ya sudah, mana uangnya?" dari pada ia dimarahi bosnya gara-gara terlambat mengantarkan pesanan.
.
Changmin melihat jam di laptopnya, harusnya pizza-ku sudah datang tapi kenapa tidak ada juga, ya?
Ia memegangi perutnya, ini sudah jam makan siang tapi sarapan saja belum, di kulkasnya juga kosong karena sudah tiga hari ini ia tidak mengisi persediaan makanan.
Changmin terkesiap, apa jangan-jangan!?
Ia pun buru-buru melepas earphonenya kemudian berlari kearah pintu, ia membuka pintu dan mendapati Yunho masih berada disana sambil memakan pizza miliknya.
"Astaga pizza-ku!" pekik Changmin kemudian merebut box pizza yang isinya tinggal setengah itu.
Yunho kaget kemudian berdiri. Baru ia akan berbicara, Changmin sudah menutup pintu lagi. Tidak, kau sudah membuat Changmin marah, Yunho.
Yunho menghela napas beratnya, mungkin lebih baik dia pulang dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Changmin. Baru ia berbalik meninggalkan tempat itu, Changmin membukakan pintu untuknya, "Masuklah."
.
Yunho bersidekap menatap datar Changmin yang sedang melahap habis pizza-nya, sebenarnya Changmin sudah menghabiskan sisa pizza yang tinggal setengah. Changmin marah dan meminta Yunho mengganti pizzanya, dan tentu saja Yunho menurutinya dengan membelikan satu lagi pizza berukuran besar untuk Changmin.
Changmin meneguk habis air minumnya setelah sebelumnya ia menghabiskan potongan pizza terakhir.
"Nah, jadi Shim Changmin aku mau bertanya padamu." ujar Yunho yang sedari tadi menahan semua pertanyaan yang berputar di otaknya.
Changmin tersadar. Urusan perut selesai, tinggal urusannya dengan Yunho yang belum.
"Jadi kenapa kamu minta putus? Ah, tidak. Jangan bertanya itu dulu. Hmm, jelaskan apa yang sudah terjadi selama tiga hari ini!"
Changmin menatap Yunho bingung, ia mulai dari mana, ya?
"Hmm... hari Senin kemarin aku pulang ke rumah," Changmin menatap Yunho, "Aku.. aku mengatakan tentang hubungan kita kepada orang tuaku, hyung."
"dan orang tuamu tidak merestui hubungan kita, kemudian kamu menghindariku dan memutuskanku?" tebak Yunho tepat sasaran.
Changmin mengusap tengkuknya, ia merasa sedang disidang saja.
"Ani, aku tidak menghindarimu," elak Changmin.
"Lalu?"
"Aku hanya membutuhkan waktu."
Yunho menghela napas berat, "Kan udah hyung bilang, kamu ga perlu mikirin orang tua dulu, kita pikirin ini bareng-bareng, Min"
Changmin menatap Yunho. Benar, harusnya ia tidak bergerak sendiri dan berbagi dengan Yunho.
"Masalah orang tuamu, akhir pekan nanti antar aku ke rumahmu, ya?"
Changmin terkesiap, "Kamu serius, hyung?"
Yunho mengangguk sambil tersenyum meyakinkan Changmin.
"Tapi hyung, eommaku tidak seperti yang kau pikirkan. Dia itu keras kepala."
"Kamu juga keras kepala." balas Yunho dengan cepat.
"Tapi, eommaku galak."
"Kamu juga galak."
"Ish~ hyung. Omongan eommaku itu pedas. Cerewet, kau tahu?!"
"Kamu juga begitu." kembali balas Yunho yang berhasil membuat Changmin kesal.
"Hyung~ aku dan eomma itu berbeda. Eommaku itu cewek!"
"Kamu juga—" Yunho terdiam.
Changmin menatapnya kesal, "Apa? Mau menyebutku cewek?"
"Ani.. tapi kamu itu kaya cewek." ucap Yunho sambil terkikik.
"Hyung! Berhenti bercanda! Aku serius!"
Yunho bangkit kemudian berdiri di samping Changmin, "Aku juga serius, Changmin-ah. Dengar, hyung sudah berhasil meluluhkan hati namja keras kepala, galak, dan cerewet kaya cewek ini. Percayalah, hyung juga pasti bisa mendapatkan hati eomma dari namja tersebut." Yunho sedikit membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan tingginya dengan Changmin yang sedang duduk di kursi meja makan. Meraih dagunya kemudian mengecup bibir Changmin yang sangat ia rindukan.
"Gomawo, hyung." beban hatinya sedikit berkurang sekarang, Yunho memang yang terbaik dalam mengatasi urusan hati. Changmin hanya sedikit merutuk saja, kenapa ia harus bertindak terlalu cepat.
Yunho masih tersenyum, kemudian ia teringat sesuatu, "Lalu selama ini kamu tidur dimana? Kok ga ada di apartemen?"
Changmin memutar bola matanya berpikir, "Aku tidur di kantor, hyung."
"Kantor agensi? Staff bilang kamu tidak ada disana? Ah, Staff itu membohongiku karena disuruh kamu, 'kan?"
Changmin hanya nyengir mendengar tebakan Yunho yang lagi-lagi tepat sasaran.
Yunho kembali terlihat berpikir, Changmin memang bekerja sebagai asisten produser musik di sebuah agensi ternama di Korea, tapi apa asisten produser punya kamar di kantor agensi?
"Kamu tidur dimana? Jangan bilang di ruang latihan." tanya Yunho sedikit khawatir.
"Aku tidur di ruang rekaman kok hyung, ada sofa dan selimut punya Jaewon-hyung di sana." jawab Changmin mengerti kekhawatiran Yunho.
"Hhh..." Yunho menghela napas untuk kesekian kalinya. Kali ini Changmin benar-benar berhasil membuatnya khawatir tingkat tinggi.
"Jangan lakukan itu lagi. Kau membuatku khawatir." ujar Yunho lembut.
"Inikan salahmu!"
Yunho menatapnya heran, sekarang Changmin menyalahkanku atas dasar apa?
"Kenapa kau mengajakku menikah ketika aku sedang sibuk mengurus ujian akhirku? Itu membuatku tidak fokus, tahu?!" kata Changmin kesal kemudian bangkit meninggalkan dapur yang damai itu.
Dasar, tidak mau disalahkan dan pengennya nyalahin orang terus.
Tapi, Changmin ada benarnya juga. Harusnya Yunho tahu kalau Changmin sedang fokus menyelesaikan gelar Masternya di jurusan "Film and Arts" tapi Yunho malah nyari gara-gara.
"WE GOT MARRIED"
Keesokan harinya, pagi hari yang damai sudah dihiasi teriakan manis putri pertama Shim Hangeng dan Kim Heechul, "Jiyeonie... ppali-ppali!"
Sooyeon dan Hangeng sudah berdiri di samping mobil, bersiap untuk melakukan kegiatan mereka setiap harinya.
"Changkkaman.." ujar Jiyeon berlari kecil di ikuti Heechul dari belakang. Adiknya itu selalu saja membuatnya hampir terlambat ke sekolah. Ia tidak ingin terlambat, apalagi ini adalah tahun terakhirnya di SMU.
"Eomma.. kami pergi dulu, ya." pamit dua gadis muda itu kemudian memasuki mobil.
"Yeobo, aku pergi." pamit Hangeng sambil mengecup dahi istrinya.
"Ne, hati-hati, yeobo. Sooyeonie, Jiyeonie.. setelah pulang jangan kelayapan, langsung ke rumah."
"Siap Nyonya!" jawab mereka kompak.
Heechul menatap kepergian mobil sang suami, memang sudah menjadi kebiasaan Hangeng untuk mengantarkan kedua putrinya itu ke sekolah. Ia melangkah memasuki rumah kemudian duduk di sofa ruang tamu.
Heechul membuka buku telepon yang ada di meja telepon samping sofa. Ia melihat nomor telepon milik sahabat yang baru ia temui minggu lalu setelah sekian lama tidak berjumpa. Ia menekan digit demi digit pada telepon rumahnya.
'Yeoboseo?' sapa orang di sebrang sana.
"Yeoboseo, eonnie. Ini aku, Heechul."
'Ooh.. Heechulie, ada apa?'
Heechul sempat terdiam, haruskah ia menanyakan perihal ini kepada sahabatnya.
"Eonnie, aku ingin bertanya sesuatu. Ini tentang anakmu." ujar Heechul sedikit ragu.
'Anakku? Kenapa memangnya?'
"Eonnie, maafkan aku jika pertanyaanku menyinggung dirimu. Tapi aku ingin tahu, kenapa kau mengijinkan anakmu berpacaran dengan sesama?"
Kini Heechul merutuki dirinya sendiri, kenapa pertanyaan seperti itu keluar dari mulutnya dengan begitu mudah?
'Hahahahaaaa... ternyata kau ingin bertanya itu.'
Heechul terdiam, mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang keluar dari sahabat baiknya itu, yang mungkin akan membantunya dalam mengambil keputusan tentang hubungan Changmin.
.
.
"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi "beef"
Beef."
"Changmin-ah, hyung sudah ada di depan rumahmu. Kalau udah denger pesan ini, langsung telepon, hyung."
Setelah itu, Yunho memasukan kembali HPnya ke dalam saku celana. Ini hari Sabtu, kenapa Changmin sulit dihubungi. Jangan-jangan Changmin kabur lagi.
Yunho menatap jam tangannya, tengah hari di depan rumah pacar. Sungguh ajaib.
.
Changmin pergi ke perpustakaan, ia baru saja selesai melakukan bimbingan dan sekarang ia mau mengembalikan buku.
Ia membuka HPnya yang mati, ia harus mengabari Jaewon kalau ia akan datang terlambat ke kantor SMent, tempatnya bekerja. Banyak yang harus ia urus di sana menjelang debutnya NCT, Neo Culture Technology apalah itu namanya.
Demi apapun, bekerja sambil kuliah begini bukan yang Changmin inginkan. Tapi, semua orang tahu, semakin hari gelarlah yang dijunjung tinggi dikehidupan ini.
"Noona.." panggil Changmin kepada petugas perpustakan yang sekarang sedang berjaga.
Wanita dewasa itu menatap Changmin, "Apa?"
"Aku pinjam chargeran-mu, ya?" pinta Changmin, "Hapeku mati." ia mengacungkan HP tidak berdaya itu.
"Ya sudah, tuh." tunjuk wanita itu ke bawah meja tempatnya bertugas.
Changmin berjongkok di balik meja, ia melepas HP milik wanita itu dan digantikan dengan HP miliknya.
Changmin menghidupkan HPnya dan mendapati beberapa pesan teks dan pesan suara. Satu pesan teks dari rekannya, Jaewon. Sisanya dari Yunho semua. Ia membuka satu pesan suara dari Yunho.
"Changmin-ah, hyung sudah ada di depan rumahmu. Kalau udah denger pesan ini, langsung telepon, hyung."
Changmin terkesiap, Yunho sudah ada di depan rumahnya? Buru-buru Changmin menelepon Yunho dan untungnya langsung diangkat.
"Hyung.. kok hyung udah ada di rumah aku?" tanya Changmin tidak sabar.
'Kan hyung udah bilang mau ke rumahmu, Min.'
Changmin menepak kepalanya, ia lupa.
"Ya sudah, hyung jangan masuk dulu. Tunggu aku, ya." ucap Changmin rusuh kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Ah, Taeyeon-noona, terima kasih untuk chargerannya."
.
Hangeng turun dari mobilnya. Hari ini sudah tidak ada kelas lagi, jadi ia pulang lebih awal. Ia berjalan melewati seorang pria yang tak ia kenal tengah menatap rumahnya.
"Eh, ada tamu."
Yunho menoleh kaget kemudian tersenyum ramah, "Em, Anyeonghaseo. Saya Jung Yunho." Ucap Yunho sambil membungkukan tubuhnya.
Hangeng terdiam, jadi dia yang namanya Jung Yunho. Hangeng mengangguk, "Aku sudah mendengar tentangmu. Ayo masuk"
Yunho mengikuti pria ramah itu sambil tersenyum, ini adalah awal yang baik.
.
Tidak! Bukan awal yang baik.
Yunho duduk dengan kaku di hadapan kedua orang tua Changmin dengan suasana yang cukup menegangkan.
Changmin benar tentang ibunya. Yunho dapat merasakan aura mematikan yang menguar dari ibu pacarnya itu. Tapi, bukan Yunho jika ia menyerah sampai sini saja.
"Eommonim.. saya datang kesini—"
"Aku bukan ibumu!" potong Heechul tiba-tiba.
"Ah.. maafkan saya, Ahjumma.."
Heechul menatap suaminya galak, "Yeobo, apa aku terlihat seperti ahjumma?"
Yunho meringis pelan, salah lagi..
"Em.. Nyo..nyonya?" panggil Yunho hati-hati.
Heechul menatap Yunho dingin, "Baiklah, terserah kau mau memanggilku apa."
Yunho hanya tersenyum kaku menanggapi Heechul, ia jadi lupa tadi mau ngomong apa.
"Baik, aku sudah tahu siapa dirimu dan maksud kedatanganmu kesini," ujar Heechul tiba-tiba.
"Aku akan merestui hubungan kalian."
Yunho dan Hangeng menatap Heechul tidak percaya, "Yeobo?" panggil Hangeng.
Semudah itu 'kah mendapatkan restu dari Ibunya Changmin? Yunho hampir bernapas lega sampai kemudian, "Dengan satu syarat!"
"Ye?" Yunho menatap Heechul dengan tanya.
"Aku dengar kau adalah anak dari pemilik Jung Corp., perusahaan teknologi terbesar di Asia. Benar?" Heechul tersenyum sedikit... sadis?
"Aku tahu kau anak orang kaya. Tapi, untuk bisa menikahi Changmin, aku ingin kau membelikan Changmin sebuah cincin pernikahan dengan uang hasil jerih payahmu sendiri. Kau siap?"
Hangeng menatap istrinya, tidakkah istrinya itu terlalu to the point?
Yunho terdiam mendengar persyaratan yang diajukan oleh Heechul, jadi maksudnya, maksudnya...
"Kau masih belum mengerti? Maksudku, kau pergi cari uang dengan caramu sendiri. Terserah kau mau ngapain. Mau jadi tukang bubur, tukang ojek, supir taksi, atau jual diri juga boleh. Yang penting kau tidak menggunakan uang orang tuamu!" Jelas Heechul yang greget melihat Yunho terdiam.
"Eh, tunggu! Kau tidak boleh jual diri! Nanti kau tidak suci lagi buat Changmin."
Kini Yunho terpana menatap Heechul. Jadi sifat Changmin memang diturunkan langsung dari Ibunya, benar-benar bagai pinang dibelah dua. Ia jadi ingat permintaan aneh Changmin ketika ia menembaknya.
"Yunho-shi. Kau melamun?" tanya Hangeng menyadarkan Yunho.
"Ah.. maafkan saya Abeonim."
"Jadi bagaimana? Kau mau memenuhi persyaratanku? Kalau tidak, kau hanya perlu tinggalkan Changmin." tawar Heechul sekali lagi.
Yunho menatap kedua orang tua Changmin mantap, "Ya, saya—"
"Ah, Changkkam!" Heechul menahan Yunho.
"Shim Changmin! Shim Sooyeon! Shim Jiyeon! Berhenti menguping di balik pintu! Cepat masuk!" perintah sang ibu dengan tegas.
Pintu rumah yang terhubung langsung dengan ruang tamu itu terbuka lebar menampakan tiga kakak beradik yang tersenyum kaku, sudah ketahuan ternyata.
Heechul menatap mereka, "Kalian! Kecuali Shim Changmin, masuk ke kamar masing-masing! Ini adalah perintah!"
"Siap nyonya!" ucap dua gadis disana kemudian berlari kecil menuju kamar mereka yang ada di lantai dua.
"Ternyata lebih tampan dari U-Know, ya?"
"Tentu saja, U-Know 'kan sudah om-om."
.
Setelah ruang tamu kembali damai, kini Heechul dan Hangeng kembali memusatkan perhatian mereka kepada dua sejoli yang sekarang duduk bersampingan di sofa.
"Aku berubah pikiran—"
"Andwee!" Changmin memotong perkataan ibunya dengan rusuh, tadi ibunya sudah memberi restu masa berubah pikiran 'sih?
"Ya! Shim Changmin, aku belum selesai bicara. Diamlah!"
Hangeng menatap mereka pasrah. Yah, ketika istrinya yang memegang kendali seperti ini, apa yang bisa ia lakukan?
"Ini mengenai persyaratan tadi. Shim Changmin, kapan kau wisuda?" tanya Heechul menatap Changmin sambil tersenyum manis.
"Eomma, berhenti memanggilku dengan nama lengkap seperti itu, aku merinding mendengarnya." Changmin menatap ibunya heran, "Dua bulan lagi aku wisuda. Wae?"
Kini Heechul menatap Yunho, "Kau dengar? Aku memberikan waktu dua bulan untuk mengumpulkan uangmu sendiri."
"Eomma kenapa 'sih pakai syarat segala? Ngeribetin tahu! Kalau sudah merestui kami, tidak usah pakai syarat begini." Protes Changmin. Yunho mencoba menenangkannya, ia yang diberi syarat, kenapa Changmin yang rusuh. Ia merasa seperti dilindungi oleh wanitanya saja.
"Siapa yang bilang aku sudah merestui kalian. Aku akan merestui kalian kalau pacarmu itu memenuhi persyaratanku." ucap Heechul final kemudian bangkit dari sofa.
"Ah, dalam dua bulan kalian tidak boleh saling bertemu! dan kau!" Heechul menunjuk Changmin dengan jarinya, "Selama itu juga kau tinggal di rumah! Disini! Bukan di apartemen!"
"Eomma!" Changmin berdiri, ingin mengajukan protes lagi. Tapi, Yunho menahannya, "Sudahlah, Min. Kita jalani ini."
Changmin menatap Yunho kesal, "Hyung mau ga ketemu aku selama dua bulan?"
Engga sih...
Heechul meninggalkan mereka diikuti Hangeng di belakangnya.
"Yeobo, aku ingin bertanya."
Heechul melirik Hangeng yang kini sudah ada di sampingnya, "Kau tahu dari mana Jung Yunho itu anak dari pemilik Jung Corp?"
Heechul berhenti di anak tangga pertama, "Kau tidak ingat anak itu? Dia anak pasangan Jung Kangin dan Park Jungsoo."
Hangeng terdiam, tadi istrinya bilang Yunho anaknya siapa?
"Ah, pantas 'sih kau lupa dengan anak itu. Terakhir bertemu 'kan anak itu masih ingusan dan cengeng."
-ToBeContinued-
Anyeonghaseo...
Apakah ceritanya jadi ngebosenin? Mianhae #bow
Maafin aku juga kalo udah telat berminggu-minggu buat update, padahal chap ini udah selesai dari kapan tau, hanya saja terhalang koneksi internet haha
untuk jalan cerita, aku emang sengaja ga mendeskripsikan tokoh-tokohnya secara langsung, jadi emang bertahap di setiap chapternya. kalo penasaran, nantikan chapter selanjutnya wkwk #maksabanget
Sejujurnya, ga tau kenapa aku jadi ga punya kepercayaan diri buat publish ini. Tapi, aku bakal usahain semampu aku buat selesain cerita ini. yosh..
Tapi, ngomong-ngomong tentang selesain cerita, mungkin untuk satu atau dua bulan kedepan aku ga bisa update, karena sekarang ini aku lagi dalam masa memperjuangkan cita-cita dan masa depan, jadi aku harus fokus dulu wkwk. kalau misalnya aku bisa update dalam waktu cepat itu artinya aku lagi ga fokus wks. teman-teman HMs dimanapun anda berada, doain aku ya, semoga aku bisa lewatin segala serangkaian ujian dengan mudah, doain yaw haha
last, big hug and thanks to : xxx, JungLoveMin, Chwangminnie, angelmax28. am, neko. chan, luvhomin, shiho-kun, hb8
segala review dan komentar teman-teman sangat berarti buat aku. terima kasih juga buat yang udah nyempetin baca tanpa review, itu menjadi sebuah pesan buat aku supaya bisa nulis cerita ini lebih baik lagi agar teman-teman mau review :)
Ya syudah, saya akhiri untuk chapter ini. Tolong berikan pendapat, saran dan kritik teman-teman untuk cerita ini, karena sesungguhnya saya masih membutuhkan bimbingan wks~ (lu kira bimbel!)
Sekali lagi maaf untuk cerita yang ngebosenin dan alur yang lambat wkwks
Dan untuk kali ini ndak ada omake dulu yaw, #bowlagi
ppai-ppai :D
