Saruhiko X Misaki

[K] Project - SPEICHERN Chap 6

zZenSan

Ruangan kerja yang masih kosong membuat Saruhiko kesal diawal hari seperti ini. Kenapa ia harus datang lebih pagi dari bawahannya? Ia meletakan tas berisi berkas-berkas yang sedang ia tangani soal pengejaran beberapa buron yang masih dalam pencarian. Membuka file di komputer kerjanya, wajahnya sudah seperti ikan mati di pagi hari yang cerah ini.

Kenapa aku harus bekerja untuk orang bodoh? Mengurusi masalah konyol! Mengapa orang-orang bodoh hidup untuk kehidupan bodohnya. Sial, sial, sial, kenapa aku harus jadi terlibat untuk masalah-masalah bodoh yang setiap hari terjadi di kota bodoh ini. Cerutunya sampai terdengar dari pintu masuk ruangan tersebut.

Aura hitam memenuhi ruangan dingin itu saat seorang gadis tinggi bertubuh sekal masuk dan kaget mendapati mayat hidup yang sedang bekerja sambil mengucap kutukan itu sudah ada di meja kerjanya. "Jangan bicara padaku." Saruhiko baru saja memutus pembicaraan yang bahkan belum dimulai. Wanita itu hanya menggelengkan kepala dan memberikannya selembar kertas berisikan perintah dari pemimpin mereka.

oOo

Suara lonceng angin gemerincing, pemandangan jalanan yang panas itu bagai menguap ke udara. Langit cerah sekali, matahari bisa semenyakitkan ini. Langkah gontai, dengan pandangannya yang hampa. Misaki bosan sekali di rumah dengan keadaan hatinya yang sedang seburuk ini.

"Permisi!" Suara Misaki terdengar dari arah pintu masuk. Kusanagi seperti satu-satunya orang yang sudah tahu ia akan datang. Ia memberikan sebuah minuman ringan segar dengan es batu yang mengapung sangat menggoda mata untuk hari sepanas ini.

"Bagaimana keadaanmu?" Kusanagi bisa membaca wajah murung yang tak bersemangat itu. Misaki hanya melamun, ia merasa ada yang salah dengan dirinya.

Misaki tak menjawab ia hanya menggeleng pelan, helaan nafas panjang sesekali memperjelas perasaannya saat ini. Kusanagi hanya memperhatikannya, sangat jarang sekali pemuda itu terlihat lesu seperti ini. Bahkan saat ia baru keluar dari rumah sakit ia sudah nampak riang seperti ia sebelum-sebelumnya.

Tuk!

Kusanagi meletakan botol obat yang ia temukan, ia tahu itu milik Misaki. Misaki sampai lupa ia harus mengambilnya, bahkan ia sempat berfikir Saruhiko akan marah padanya.

"Ah, terimakasih." Misaki mengambilnya dan menyimpannya ke saku.

"Dengarkan aku Misaki!" Kusanagi nampak sedikit lebih serius, ia melipat ke dua tangannya ke depan. "Hm…"

"Begini, apa kau tau? Obat yang baru saja ku berikan padamu." Kusanagi menatap lurus pada pemuda yang hanya mendengarkannya sejak tadi. "Kau tau, aku pernah melihat obatmu itu sebelumnya… Apa dokter yang memberikannya untukmu?" Kusanagi menunggu jawaban Misaki yang hanya mengangguk pelan sambil terus menatapnya.

Kusanagi sedikit bingung mendapati fakta yang harus ia beritahukan pada pemuda ini.

"Itu adalah pil khusus, milik Scepter 4. Obat penenang, jika kau mengkonsumsi nya terus menerus itu akan menghilangkan fungsi obat lain yang kau minum." lanjut Kusanagi, ia mendekati Misaki memastikan pemuda itu mengerti maksud ucapannya. Misaki nampak heran, menatap sedikit curiga namun ingin tahu. "Berarti…." Ucapan Misaki terdengar amat lemah. Kusanagi membakar seputung rokok, dan menyiapkan asbak.

"Kau tau, ada seseorang yang ingin menghambat pemulihanmu. Bisa dibilang seperti itu…." sambil menghembuskan asap dari mulutnya. Lelaki berambut blonde dengan kemeja itu menunggu reaksi Misaki yang masih dengan bingung ia tak bisa menemukan sesuatu yang harus ia lakukan sekarang. "Lalu harus bagaimana?" ia bertanya pada dirinya sendiri setelah semalaman ini ia tak akan bisa lagi tidur dengan tenang.

"Hanya kaulah yang bisa memutuskan apa yang ingin kau lakukan."

oOo

Matahari sudah tenggelam saat Misaki kembali ke rumah. Ia bersiap-siap untuk membuat makan malam. Ia sama sekali tak bisa fokus dengan apa yang ingin ia lakukan sekarang. "Curry,-"

Bagaimana ia membicarakan ini? Jika ia yang biasanya pasti sudah memarahi Saruhiko dan melihat penjelasan darinya soal ini. Tapi tidak semudah itu, sama sekali berbeda.

Jauh di dasar hatinya ia tak ingin memperburuk situasi ini. Kejadian semalam benar-benar membuatnya tak habis pikir bagaimana ia menunjukan wajah saat makan malam ini.

Selesai dengan makan malamnya, ia bergegas mandi dan membereskan pakaiannya ke dalam tas. Ia berfikir sementara ini mungkin ia akan menghindari Saruhiko. Ia mengurungkannya, lalu membulatkan tekadnya lagi untuk hengkang dari apartement itu. Tapi hubungannya dengan Saruhiko sekarang tidaklah semudah dulu, ia sendiri tidak bisa bertanggung jawab untuk kegelisahan nya hari ini, apakah kegelisahan tersebut akan hilang dimasa depan.

Malam mulai larut dan Saruhiko belum kembali, mungkin menelponnya bukan pilihan yang buruk. Walau sebenarnya ia takut untuk berbicara dengan orang itu.

"Halo?-" Misaki akhirnya melakukan panggilan tanpa pikir panjang. Mendapati suara di ujung sambungan telepon itu sangat sengau, ia jadi sedikit khawatir jika Saruhiko terkena demam atau semacamnya.

"Kau pulang jam berapa?"

Setelah mendapati jawabannya, Misaki menutup teleponnya dengan tenang. Jadi lelaki itu kemungkinan pulang pagi atau bahkan tidak pulang sama sekali. Menjadi petugas yang melindungi rakyat sipil memang sangat tidak cocok sebenarnya untuk tipe pria apatis seperti Saruhiko. Sebenarnya Misaki ingin bertemu dengannya sebelum ia kembali ke rumahnya sendiri. Mungkin ia bisa membicarakan soal kepindahannya ini pada Saruhiko esok pagi.

Kasur yang terlalu besar untuknya sendiri. Ruangannya juga terlalu tinggi, tidak ada suara apapun kecuali detik jam. Udaranya sangat dingin sampai lantainya terasa membeku jika Misaki tak mengenakan slipernya untuk berjalan. Ketika ia merasa kesepian dalam pelukan hening, ia mulai merasakan bagaimana jika Saruhiko tetap tinggal di sana sendirian. Bahkan selama ini, berselimut kerindunan yang ujungnya tak bisa ia temui berlabuh pada cinta atau benci. "Aku ingin bertemu Saruhiko."

Sementara masih sibuk dengan urusan pelaporan tentang buron dan kasus lain yang Saruhiko tangani. Ia berusaha keras membuang jauh-jauh Misaki dari pikirannya walau selalu kembali lagi, ia harus konsentrasi dengan pekerjaan kali ini. Ia menyesap kopinya yang terasa sangat pahit di mulutnya ia harus tetap terjaga.

Beberapa rekan kerjanya juga mubat-mabit sibuk dengan laporan dan telepon masuk dari beberapa instansi yang saling bersangkutan dengan kasus yang timnya tangani. Ia tak menyangka hal merepotkan begini terjadi di saat moodnya sedang sangat jelek seperti ini.

Saruhiko mematikan layar monitor komputernya, ia merebahkan badan di kursinya merasakan kepalanya sangat sakit sekarang. Wajahnya yang sejak pagi seperti ikan mati sekarang lebih mirip seperti zombi. Matanya memerah dan kantung matanya tebal menghitam di kulitnya yang putih. Rambutnya tak lagi serapi saat ia datang pagi ini. Juga sesekali ia meregangkan ototnya, ia sangat muak terus bekerja seperti ini.

Ia melihat ke arah jam, sudah hampir pagi. Tidak ada kereta untuknya pulang ke rumah, mungkin ia akan menggunakan fasilitas kantor untuk mengantarnya sampai rumah. Jujur saja, ia tidak mengerti apa yang menguasai pikirannya saat ini. Sesekali hatinya berkata tentang tindakannya yang ia rencanakan untuk Misaki memang benar-benar terlalu beresiko. Bahkan dalam perjalanannya, di balik kemudinya ia seakan bisa melihat bagaimana semua akan berjalan hancur perlahan.

Sampai di apartemennya ia berniat segera mandi dan tidur, ia akan bermalas-malasan besok untuk bangun siang. Namun ia sedikit ragu jika masih ada ganjalan di hatinya. Ia menemukan kare dan sup yang diwraping dengan rapi di meja makan. Ia bermaksud mengintip ke kamarnya. Mendapati Misaki yang bersembunyi dibalik selimut nampak nyenyak. Ia menyelinap masuk berusaha tak membuat suara, ia bisa memandang wajah lelap yang setiap malam untuk sebulan terakhir ini selalu menemaninya.

Saruhiko menyentuh wajah Misaki yang terasa hangat. Merasakan jemari dingin Saruhiko membuat Misaki terjaga dan membuka mata mengerjap berusaha memperjelas penglihatannya.

"Saru-" suaranya sedikit parau khas orang baru bangun tidur. "Maaf, aku membangunkanmu." Saruhiko melepas beberpa atribut seragamnya dan meletakannya di meja.

"Apa kau sudah makan?" Misaki terduduk, melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul empat pagi.

"Ah, tidurlah. Aku akan makan sebentar lagi." Saruhiko menyentuh rambut halus chestnut itu dengan sangat lembut.

"Kau akan tidur denganku hari ini?" Misaki kembali membaringkan badannya, manis sekali. Saruhiko menahan dirinya untuk tidak menyerang lelaki ini. Berhenti menjadi tipe yang Misaki tak sukai.

"Hm…" Saruhiko berlalu meninggalkan kamarnya dan menutup pintu. Meninggalakan sisa cahaya dari lampu meja yang cahayanya redup.

oOo

Misaki terbangun karena alarmnya sudah berteriak-teriak di sampingnya. Ia mematikannya dan dengan malas bangun dari kasurnya. Ia tak mendapati siapapun di ruangan tersebut, ia pikir Saruhiko akan melupakan masalah mereka dan kembali bersikap normal. Sedikit kesal ia membersihkan muka dan sikat gigi, setelah itu berniat membuat sarapan.

"Saru-" Misaki sedikit kaget, Saruhiko sudah siap dengan seragam biru bodohnya dan baru saja akan meninggalkan rumah.

"Ini baru jam tujuh, kau akan bekerja lagi?" Misaki meninggikan suaranya membuat Saruhiko memperhatikannya. "Kenapa? Ini pekerjaanku." suaranya yang sengau itu terdengar lebih jelas.

"Bukan soal itu, tapi kau sama sekali belum istirahat. Kau mau mati saat bekerja?" Misaki menarik tangan Saruhiko, sementara lelaki itu menepisnya dengan cepat.

"Ah, maaf. Tapi ini darurat, pekerjaanku sudah menunggu." Saruhiko mengambil kunci dari meja makan dan berniat pergi saat itu juga.

"Saruhiko! Aku ingin mengatakan sesuatu paling tidak-" Misaki mencoba berbicara, ia ingin membicarakan soal kepindahannya.

"Bisakah sampai malam nanti? Aku benar-benar sibuk." Saruhiko mengenakan sepatunya dan entah mengapa ia sangat yakin pembicaraannya ini akan berbuah perdebatan. "Aku sudah menunggu sejak kemarin!" Misaki sedikit berteriak, wajahnya menunjukan kekesalan dan kekecewaan.

"Kalau begitu katakan sekarang." Saruhiko membuat Misaki jadi sedikit takut bayangannya tentang lelaki yang pernah berniat mencekiknya itu seakan kembali. Dari wajahnya Saruhiko tak ingin membuang-buang waktunya lagi. "Aku, ehmm sepertinya.. Aku sudah bisa kembali mengingat masa lalu ku pelan-pelan." Misaki menghaluskan suaranya, ia tak ingin memecahkan suasana jadi lebih berantakan lagi.

"Kalau begitu besok aku akan mengantarmu ke dokter besok-"

"Tidak perlu! Aku akan pergi sendiri, dan hari ini. Aku akan pindah kembali ke apartement ku atau rumah orang tuaku." Misaki memperjelas kalimatnya tak ingin membuat Saruhiko menunggu. Saat itu juga Saruhiko merasa gantinya bagai di sayat sesuatu yang tak terlihat namun amat sakit. "Kau jadi takut padaku karena malam itu?" Saruhiko menatapnya lekat-lekat lebih serius dibanding sebelum-sebelumnya. "Ah, bukan. Maksudku.." Misaki sedikit bimbang bagaimana mengatakan hal yang sebenarnya.

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Saruhiko sedikit mendesak. Membuat Misaki tak enak hati padahal temannya ini sudah membantunya untuk beberapa hal.

"Aku ingin kau menjelaskan sesuatu." Misaki mengeratkan genggaman tangannya membuang arah pandangannya ke tempat lain. Ia mengambil sebuah benda di kamarnya dan kembali berbicara dengan Saruhiko di dekat pintu masuk apartemen mereka.

"Kenapa kau memberikan ini padaku." Misaki memberikan sebuah botol kaca kecil, berisi beberapa pil yang sebelumnya ia kira sebagai obat. Saruhiko hanya diam sangat hati-hati memberikan responnya sepertinya ia sudah paham masalahnya sekarang.

"Jadi kau sudah tau benda apa itu." Saruhiko tersenyum memincingkan mata menatap Misaki yang masih menatapnya dengan kesal. "Kau berpura-pura membantuku? Sebenarnya kau tidak ingin aku bisa ingat kembali semua masa laluku kan.." Misaki meletakan botol kecil itu di meja dengan wajah marahnya yang terus menatap Saruhiko.

"Bagaimana jika jawabanku, tentu saja. Dengan ingatan atau tanpa ingatan kau tetaplah kau. Bodoh dan tak berpikir panjang, melakukan apapaun sembarangan dan merepotkan orang-orang." Saruhiko menatapnya dengan serius aura darinya sangat berbeda dengan Saruhiko yang biasanya. Misaki sangat kesal, ia menarik kerah Saruhiko ia sendiri tak menyangka ia melakukan tindakan semacam itu pada temannya ini.

"Apalagi hal yang kau inginkan? Apakah selama ini kau mengambil keuntungan dari membohongiku?" Misaki memukulnya dengan ragu. Tidak terlalu keras karena ia tak sepenuh hati, cukup membuat pipi Saruhiko memerah.

"Kau ingin berkelahi denganku?" Saruhiko menarik pedangnya dengan sangat yakin seolah ia tak ragu menyakiti pemuda itu.

"Kau pikir aku takut melawanmu…" Misaki tanpa sadar mulai mengeluarkan api merah dalam genggamannya. Ia sangat kesal pada Saruhiko yang juga sedang tidak bisa mengendalikan emosinya.

Perkelahian tak dapat dihindari. Misaki melompat dengan sekuat tenaga bermaksud menumbangkan Saruhiko yang juga melawannya dengan serius berniat menyakitinya. "Kenapa kau melakukan itu padaku?" Misaki masih menghujaninya dengan serangan seolah saling melukai seperti ini adalah hal yang wajar bagi mereka.

"Kau tidak butuh ingatan itu!" Saruhiko membalasnya, ruang utama rumah itu menjadi arena tarung bagi mereka. Misaki berusaha tak merusak apapun tapi akhirnya ia tak peduli sampai ia mendapatkan jawaban yang memuaskan nya. "Kau! Monyet Sialan!" Misaki semakin geram tak ragu-ragu berniat melakukan serangan habis-habisan. Saruhiko hanya tertawa, melihat Misaki yang seperti dikendalikan orang lain dengan bodohnya.

"Apa kau ingat darimana kau dapat kekuatan itu?" Saruhiko tertawa sinis, angkuh ekspresinya yang menyebalkan sekali.

"Mikoto San, Homra!" Ujar Misaki sangat yakin.

Saruhiko masih meladeni amarah Misaki yang membara. "Kau selalu menggunakan kekuatan itu untuk membuat kekacauan dan memberikanku pekerjaan untuk mendisiplinkan kalian!" Saruhiko berhasil melukai Misaki meninjunya di bagian perut sedikit keras.

"Sial.." Misaki bermaksud membalas pukulan itu.

"Kau dengan kebanggaan tololmu itu!" Saruhiko terus membalas dan menghindar dengan cepat. "Diam! Pengkhianat!" Misaki memotong gerakan Saruhiko dan berhasil membalas pukulan nya.

"Tunggu-" Misaki mematung melihat Saruhiko yang terpelanting nyaris menabrak meja karena pukulannya. Jika selama ini yang Misaki jalani hanya sebuah kebohongan. Saruhiko pasti melakukan itu semua dengan maksud tertentu. "Kenapa kau melakukan itu padaku?" Misaki mencoba meraih jawab dari dalam dirinya, menemukan sebuah jalan menuju akhir yang ingin ia ketahui.

"Bohong, katakan padaku kau berbohong,-" Misaki mendekati lelaki itu, ia masih dalam mode bertarungnya. Rasa penasaran dan rasa siap tidak siap dengan jawaban yang akan diberikan Saruhiko.

Pemuda itu meraih pedangnya, berusaha berdiri lagi tertawa melihat bagaimana wajah penuh tanya Misaki sangat tertekan.

"Ya! Itu memang sebuah kebohongan! Misaki, aku yang membuatmu terluka. Akan kubuat lebih terluka lagi, sudah pasti kita bukan teman. Sudah pasti, kau tidak akan percaya lagi kau yang sekarang ataupun yang dulu tetaplah bodoh dan tidak tau mana yang teman dan mana yang harus kau lawan- Misaki…." Saruhiko menerjang dengan cepat kembali bertarung dengan teman sekolahnya itu. Misaki yang saat ini sedang dikuasai keraguan.

Ia tidak bisa membedakan lagi, yang mana kenyataan dan kebohongan. Itu berarti perasaannya selama ini, keseharian yang singkat ia jalani. Saat terlintas sesaat waktu indah dalam balutan kawat duri. Ingatan tentang bagaimana lelaki ini begitu baik dan mencintainya, dan ingatan itu terbakar nyala api merah hingga menjadikannya abu.

Sesaat yang lalu ia menghentikan serangan, Saruhiko menjatuhkannya dan menguncinya agar tak melakukan penyerangan. Tubuh yang tiarap dengan kedua tangannya yang Saruhiko pegang erat tak akan ia lepaskan. "Apakah, perasaanmu padaku selama ini juga kebohongan?" Misaki menyembunyikan wajahnya, tatap berlinang dan suaranya bergetar.

"Kebaikanmu? Semua ucapan manis itu hanya kemunafikan? Saru-" Misaki terus berbicara, tatapnya yang hampa dan tenaganya yang melemah. Perkelahian mereka merusak wallpaper ruang utama, sofa dan beberapa furniture hiasan di sana.

"Aku berbohong, dan terus berbohong sampai tidak bisa membedakan kebohongan dan kebenaran." Saruhiko melepaskan kunciannya, Misaki sedikit lebih tenang sekarang walau kebingungan nya sejak tadi sama sekali tidak berkurang.

"Kenapa kau mengkhianatiku?" Misaki menyandarkan diri pada dinding, menatap Saruhiko yang memandangnya dengan sinis dan dingin. "Kau bisa saja menyebutku pengkhianat, pada akhirnya aku tidak bisa menyukaimu dan orang-orangan merahmu itu!" Saruhiko memberikannya tatapan kebencian, ingatan terbaik yang Misaki miliki paling tidak sampai saat ini. Sedikit rasa pahit menggigit lidahnya, ia tersadar mungkin memang sebaiknya ia tidak pernah mengingat itu semua.

"Sebaiknya kau memang pergi." Saruhiko berpaling suaranya masih sengau dengan wajahnya yang sangat kelelahan itu. "Jika kau berada di sini, aku… Hanya akan terus melukaimu lagi dan lagi. Melihatmu menangis dan marah dan melihatmu… Melihatmu hanya selalu tertuju padaku itu membuatku terlalu senang." Saruhiko menghela nafas panjang, membuang segala emosi dan mengakui perasaannya.

"Rasa luar biasa ketika kau mencintaiku karena kau tidak mengetahui apapun. Karena aku pernah sangat menyukaimu, dan membuatmu jadi seperti ini…. Misaki, kau kasihan sekali…"

Hanya dengan ucapannya itu, Saruhiko pergi meninggalkan Misaki yang terdiam tak bisa mengatakan apapun. Kenyataan Saruhiko yang mengkhianatinya dimasa lalu, dan luka-luka yang sakitnya seperti di ulang berkali-kali membuatnya kehilangan kendali tubuhnya.

Ia bahkan kembali teringat mengapa ia ingin masuk ke Homra, saat itu Mikoto San keren sekali. Ia melindungi banyak orang dengan kekuatan menghancurkannya. Lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi orang-orang. Misaki terdiam, ia bahkan baru ingat alasan ia mengajak Saruhiko. Alasan ia ingin terus menjadi kuat, alasan mengapa dahulu ia memilih jalan merah itu. 'No Blood, No Bone, No Ash…' dan tentang harga diri juga dunia yang terus menghancurkannya.

Hidup bagai sebuah rangkaian penderitaan yang datang silih berganti tanpa henti.

Misaki sedikit menyesali ingatan yang menyakitkan itu. Saruhiko yang ingin ia selamatkan dari Klan Hijau, dan Saruhiko yang ingin menyelamatkannya. Jika dua orang saling mencintai, maka mereka akan saling melindungi. Misaki menangis, ia merengkuh dadanya yang begitu desak. Api yang membara dalam dada, membakar semua harapan dan hal indah yang pernah ia percayai.

Segalanya hanya akan menjadi abu. Seakan ucapan Saruhiko sangat tepat untuknya, baik dengan atau tanpa ingatan ia hanyalah orang bodoh. "Padahal, aku tidak berbohong saat aku mencintainya." kalimat yang kini baginya tanpa arti tak pernah bisa ia ucapkan.

Ia membiarkan Saruhiko sekali lagi pergi darinya.

Sekuat apapun seseorang dan sekeras apapun hatinya, ia akan jatuh dengan cara yang berbeda.

oOo

"Welcome!"

Satu dari sekian banyak warna yang ada ia memilih warna merah. Api yang indah dan menyilaukan semuanya, menerangi sini walau akhirnya habis membakar dirinya sendiri.

"Selamat datang Yata San! Ingatanmu sudah kembali?" Anna tersenyum, manis disaat yang bersamaan amat mengiris. Misaki membawa tasnya, ia sudah meninggalkan rumah Saruhiko. Sementara mungkin ia akan bersembunyi di sini. Homra, rumah baginya meneduhkan api kecilnya yang nyaris ia padamkan sendiri.

Perpisahan satu persatu akan terus terjadi. Cepat atau lambat, perpisahan itu selalu terjadi di hidup setiap orang. Saat sebelah jiwa berkelana menemukan sebelah jiwanya, saat jantung yang kesakitan itu terus berdegup menasbihkan luka, setiap orang di dunia ini sedang dalam perjalanan.

"Tadaima."

Dari senyuman Misaki yang terefleksi pada pantulan mata merah ruby. Anna tahu ada kesedihan yang bersembunyi di balik sinar matanya.

Chap 6