WE GOT MARRIED 4
.
Changmin mengusap lembut tangan Yunho yang tengah melingkar pada pinggangnya.
"Kau serius akan melakukannya, hyung?"
Yunho mengeratkan pelukannya pada tubuh polos Changmin, "Tentu saja."
Kini Yunho tengah bersandar pada kepala kasur dengan memeluk Changmin dari belakang yang juga tengah bersandar pada dada bidangnya. Keadaan Yunho sendiri tidak jauh berbeda dengan Changmin, tubuh bagian atas yang tak tertutup sehelai benang pun dan hanya selimut putih milik Changmin yang menutup tubuh bagian bawah mereka berdua.
Siang tadi, setelah menyelesaikan urusan mereka di rumah Changmin, mereka memilih berpisah jalan. Changmin pergi ke kantor SMent, dan Yunho kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang pimpinan perusahaan besar milik keluarga ayahnya.
Lalu, di sore hari, mereka kembali bertemu di apartemen Changmin dan berakhir dengan kegiatan panas mereka yang mungkin dalam waktu dua bulan ini tidak akan mereka lakukan.
"Terus hyung mau ngapain buat nyari uang sebanyak itu dalam dua bulan?" tanya Changmin penasaran sambil memainkan jemari Yunho yang ada di atas perutnya.
Yunho berpikir sejenak, "Ga tau, menurut kamu mending ngapain?"
Changmin terdiam, otaknya juga buntu, bingung pekerjaan apa yang cocok untuk Yunho.
"Kalau bekerja di restoran pizza punya Sungmin-hyung, gimana?"
Yunho mengangguk, "Boleh juga."
"Tapi gajinya besar atau tidak, hyung? Terus dibayarnya per-jam atau per-bulan? Memangnya cukup buat beli cincin pernikahan dengan bekerja dalam waktu dua bulan?" kini ia merasa seperti seorang wanita yang mempertanyakan penghasilan calon suaminya.
Yunho memejamkan matanya, "Mollaseo..." ia sudah cukup lelah dengan pekerjaannya hari ini, ditambah siang tadi harus berhadapan dengan sang calon mertua, dikasih persyaratan yang macam-macam pula.
"Mianhae.." ujar Changmin tiba-tiba, ia tak pernah menyangka kalau ibunya akan memberikan syarat aneh seperti itu.
Yunho mencium pucuk kepala Changmin, "Gwenchana, hyung hanya lelah."
"Kenapa, ya, eomma tiba-tiba ngasih syarat kaya begitu?" keluh Changmin sambil memajukan bibirnya manja, mungkin saja Yunho akan segera menerkam bibir yang berpose manis itu jika ia melihatnya.
"Ini 'kan demi kebaikanmu juga, Min."
"Demi kebaikanku apanya? Jelas-jelas itu cuman pengennya eomma nyiksa kamu, hyung." Sambar Changmin.
Yunho mengusap perut Changmin yang mulai terbentuk, bisa-bisanya anak ini rajin nge-gym di tengah kesibukan bekerja dan kuliah, "Mungkin eomma kamu pengen tahu kualitas calon suami anaknya ini."
Changmin memutar bola matanya, "Memangnya kualitas yang mana lagi yang dipertanyakan darimu?"
Tidakkah ibunya tahu kalau Yunho memiliki pekerjaan yang menjanjikan? Anak orang kaya, pewaris perusahaan besar se-Asia, dan uangnya juga ga bakal habis sampai tujuh turunan.
"Bukan masalah materi, Shim Changmin." Ujar Yunho sambil mencubit perut Changmin dengan gemas, sepertinya ia tahu isi kepala pacarnya itu.
Changmin memukul tangan nakal Yunho sambil meringis pelan.
"Tapi, ini masalah hati. Eomma kamu pengen tahu sampai dimana kesungguhan aku buat perjuangin hubungan kita, Min."
Changmin mendecak pelan, "Kok hyung so' tahu banget, sih?"
"Karena aku sudah terbiasa menghadapi orang seperti eomma kamu, Min." Ucap Yunho sambil tersenyum bangga.
Changmin memasang wajah malasnya mendengar jawaban itu.
"Tapi hyung!"
Yunho terkaget dengan suara yang tiba-tiba itu, nyaris saja ia jantungan.
"Tapi hyung, kalau emang eomma cuman pengen tahu kesungguhan kamu, kenapa aku juga ikut-ikutan kena imbasnya, eomma 'kan ga perlu sampai ngurung aku di rumah!"
Yunho menghela napas, sepertinya masih banyak uneg-uneg Changmin hari ini, ia harus siapin telinga dan ceramahan panjang lebar buat Changmin.
"Eommamu ga ngurung kamu, Min. Dia 'kan cuman pengen kamu tinggal di rumah, itu pun hanya untuk dua bulan saja."
"Iya, sama ajalah hyung. Kalau udah di rumah, ribet kalau mau kemana-mana."
"Mungkin eomma kamu kangen sama kamu, Min. Coba inget aja, paling lama kamu tinggal di rumah paling cuman satu bulan doang. Itu pun waktu kamu baru lulus SMA. Makin kesini kamu malah makin jarang pulang, Min."
Changmin ini butuh pencerah untuk otak buteknya yang selalu mikir negatif tentang apa-apa, dan disinilah Yunho yang dengan senang dan sabar hati bertugas sebagai pencerah itu.
"Hyung 'kan tahu aku selalu ngerasa ga betah kalau ada di rumah." Yunho dapat mendengar nada sedih dari suara Changmin.
"Itu karena kamu masih belum bisa buka hati kamu buat nikmatin suasana rumah. Hyung 'kan udah bilang berkali-kali sama kamu buat coba bergabung di ruang keluarga kalau kamu pulang. Ga pernah, ya?"
Changmin terdiam, mungkin saat ini ia sedang teringat alasan-alasan yang membuatnya tidak betah berada di rumah.
Yunho sendiri mengetahui tentang kehidupan Changmin, karena Changmin sendiri yang bersedia dengan tulus berbagi cerita kepada Yunho.
Yunho tahu, sejak awal keluarga Changmin bukanlah keluarga yang berada.
Shim Hangeng dan Kim Heechul adalah pasangan muda yang tidak direstui oleh keluarga pihak suami, hingga Hangeng lebih memilih meninggalkan negara kelahiran dan keluarganya demi hidup bahagia bersama sang istri di Korea. Tapi, kehidupan mereka tidak sehangat di drama, mereka harus berjuang mencari sepiring nasi walau hanya untuk makan malam, tempat tinggal pun hanya sebuah rumah sewa kecil di pinggiran kota Seoul.
Hingga sampai Changmin lahir, Hangeng masih tidak memiliki pekerjaan tetap, ia hanya seorang guru bahasa Mandarin di sebuah tempat les dengan penghasilan kecil. Heechul yang saat itu juga tidak bisa menamatkan kuliahnya di jurusan Fashion Design membuat semua karya-karyanya tidak diakui dimana pun, dan membuat Heechul berakhir hanya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa.
Keadaan keluarga Changmin semakin buruk ketika Changmin berusia enam tahun. Orang tua Changmin terlilit hutang, juga mereka harus segera menyekolahkan Changmin di sekolah dasar, ditambah saat itu Heechul tengah mengandung anak keduanya, Sooyeon. Keadaan itu membuat Heechul dan Hangeng mengambil keputusan untuk menitipkan Changmin ke ayah Heechul yang bekerja sebagai karyawan di Jepang, setidaknya ayah Heechul masih bisa menghidupi dan menyekolahkan satu anak kecil disana.
Tapi, Changmin kecil tidak berpikir seperti itu. Changmin kecil merasa kalau dirinya sudah dibuang oleh orang tuanya karena mereka akan segera memiliki bayi yang akan menggantikannya. Changmin marah, ia menangis, ia tidak mau pergi. Tapi, sekencang apa pun ia berteriak di bandara saat itu, ayah dan ibunya sama sekali tidak mau menggubris dirinya.
Selama di Jepang, kakeknya mencoba memberi pengertian kepada Changmin kalau orang tua Changmin tidak pernah mencoba untuk membuangnya, tapi Changmin yang keras kepala tidak pernah mau mengerti keadaan orang tuanya saat itu.
Sampai usia Changmin menginjak angka 12, ia pulang ke Korea dan mendapati keadaan keluarganya sudah membaik. Di tambah sudah ada dua anak perempuan yang berlarian di rumah yang sudah bisa dikatakan layak itu, jadi ini dua adiknya yang selalu diceritakan ibunya lewat telepon. Changmin merasa sakit, ketika ia dibuang enam tahun lalu keluarganya malah hidup bahagia seperti ini. Changmin semakin marah, ia tidak ingin berbicara dengan ayah dan ibunya, ia tidak ingin melihat dua anak kecil yang tak ia kenali, ia muak dengan semuanya.
Ia memutuskan untuk tinggal di asrama sekolahnya, sampai ia bertemu dengan seorang pria yang kini—
"Changmin-ah..."
Changmin menutup mata ketika Yunho menyadarkannya dari masa lalu.
"Kamu nangis?" tanya Yunho yang melihat pergerakan tangan Changmin yang tengah menyeka pipi basahnya.
"Ga apa-apa kok, hyung."
"Seriusan ga apa-apa?" tanya Yunho khawatir.
"Mm, aku ga apa-apa. Aku cuman lagi mikir, harusnya kita kawin lari aja, hyung."
Bohong, Yunho tahu Changmin tidak pernah bisa dengan mudah mengutarakan isi pikirannya.
"Dari pada kita ga ketemu selama dua bulan, mending kita kawin lari aja, hyung." Changmin mencoba untuk tertawa.
Yunho mengelus perut Changmin, "Sudahlah, jangan berpikiran macam-macam. Kita jalani ini berdua." Changmin terdiam, "Dibanding memikirkan semua itu, lebih baik kita melajutkan yang tadi, hmm?"
Changmin merinding merasakan hembusan napas Yunho yang menerpa lehernya.
"Hyungh~"
Yunho tersenyum kemudian mulai menggerayangin tubuh bagian bawah Changmin.
"Ahh..." Changmin merutuki suara yang lolos dari mulutnya ketika Yunho hampir menyentuh pusat gairahnya, dan itu membuatnya hampir terbangun jika saja ia tidak dengan cepat menahan tangan Yunho. Sudah cukup untuk hari ini, ia tidak ingin terbangun lagi.
Yunho semakin tersenyum jahil mendengar lenguhan Changmin, ia semakin ingin menyentuh tubuh Changmin sampai getaran ponsel di meja nakas mengganggu kegiatannya.
Yunho menoleh dan mendapati ponsel Changmin yang berbunyi, "Eomma kamu nelepon, nih." ujar Yunho sambil menyodorkan ponsel itu kepada Changmin.
Changmin terbangun dari dada Yunho yang menjadi tempat sandarannya sedari tadi, "Eomma? Ada apa?"
'Ya! Shim Changmin!' Changmin menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar suara nyaring sang ibu. 'Bukannya aku sudah bilang mulai saat ini kau harus tinggal di rumah! ga usah pakai acara malam mingguan, sini pulang!'
"Siapa yang malam mingguan 'sih, eomma?"
'Alah.. Sekarang lagi bareng sama pacarmu itu, kan?'
Changmin dan Yunho saling menatap.
'Kalau mau direstuin, cepet pulang sini!'
Changmin memasang wajah malasnya, sepertinya mulai saat ini kalimat itu akan menjadi senjata andalan sang ibu untuk mengancam dirinya.
"Iya, iya, pulang." Changmin menutup teleponnya begitu saja kemudian menatap Yunho, "Hyung, aku pulang duluan, ya? Males ribut sama—" ucapan Changmin terhenti ketika kini ponsel Yunho yang juga berada di nakas berbunyi, Yunho melihat nama sang pemanggil, ibunya juga.
"Yeoboseo, eomma?"
'Yunho-ya, bisakah kau menjemput eomma? Sekarang eomma sedang berada di rumah teman.'
Yunho tersenyum mendengar suara lembut ibunya. Ia teringat sejak seminggu yang lalu sopir pribadi ibunya sedang cuti karena anaknya sakit, "Tentu, eomma ada dimana sekarang?"
'Nanti alamatnya eomma kirim lewat pesan.'
"Baiklah, tunggu aku, ya"
'Iya, berhati-hatilah.'
"Wah~" Changmin terpana melihat hubungan anak dan ibu yang harmonis itu. Changmin mengerti, Yunho harus segera menjemput ibunya itu.
"Aku mau duluan aja, ga perlu dianter, bisa naik bus." Ucap Changmin yang sedang mencari-cari celana dalamnya yang mungkin terselip di bawah selimut.
"Ga apa-apa?" tanya Yunho meyakinkan.
"Hmm.." dan akhirnya ia berhasil menemukan barang kecil itu yang ternyata tertindih oleh tubuh Yunho.
"WE GOT MARRIED"
Yunho menatap bengong ke arah pintu rumah yang dimaksudkan ibunya, ia bahkan mengecek pesan dari ibunya beberapa kali karena alamat rumah yang dikirim terasa familiar bagi Yunho.
Bahkan tadi Yunho sempat merasa mengalami de javu ketika ia membawa mobilnya memasuki komplek perumahan elit di Seoul ini. Tapi, itu bukan de javu, karena memang baru tadi siang ia datang ke tempat ini. Rumahnya Changmin? Ibunya berada di rumah Changmin?
"Hyung?" seseorang di belakang memanggil dirinya, "Hyung ngapain disini?" tanyanya heran. Yunho menatap anak dari pemilik rumah ini sekaligus kekasihnya yang baru sampai, "Eommaku ada disini." Yunho menunjuk pintu rumah Changmin.
"Ye?" Changmin kaget, dan buru-buru ia membuka pintu rumahnya.
"Eomma!"
Tiga orang tua yang duduk di sofa ruang tamu terkesiap kaget dengan munculnya Changmin yang tiba-tiba.
"YA! Anak nakal! Tidak bisa 'kah kau pulang dengan rasa sopan santunmu?" cerca sang ibu yang masih merasakan sensasi kaget di dadanya.
"Eomma?" Panggil Yunho yang mendapati wanita kesayangannya itu tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Yunho-ya.. kau sudah sampai?" ujar wanita itu sambil tersenyum lembut.
Changmin terpana dengan senyum lembut wanita itu, sepertinya wanita itu memang hobi tersenyum, sama seperti anaknya.
"Kenapa eomma ada disini? Eomma dan orang tua Changmin, bagaimana mungkin? Kalian saling mengenal?" Tanya Yunho yang masih kesulitan mencerna keadaan.
"Benar! Kalian saling mengenal?" sambar Changmin tiba-tiba.
"YA! Shim Changmin! Di mana sopan santunmu?!"
.
Yunho meneguk habis air minumnya kemudian menatap sang ibu, "Eomma masih berhutang cerita kepadaku."
Jungsoo membersihkan bibirnya menggunakan serbet, mereka berdua baru saja menyelesaikan makan malam di kediaman mewah milik keluarga Jung. Seorang maid datang untuk merapihkan meja makan, Jungsoo sempat tersenyum kepada maid itu kemudian menatap Yunho.
"Eomma dan appa adalah sahabat baik keluarga Changmin."
Yunho menatap ibunya, "Sahabat baik?"
"Ne, eomma baru bertemu kembali dengan eommanya Changmin minggu lalu setelah beberapa tahun tidak bertemu."
Yunho terdiam, masih penasaran dengan asal mulanya hubungan orang tuanya dengan orang tua Changmin.
"Kau ingat minggu lalu ketika eomma memintamu mengantar ke pesta?"
"Pesta peresmian butik milik Jessica?"
"Ne, ternyata eomma Changmin salah satu desainer yang ikut andil berdirinya butik itu."
Flashback
"Kau benar-benar tidak mau ikut eomma ke dalam?" tanya Jungsoo kepada sang anak ketika mereka baru sampai di sebuah restoran bergaya Eropa.
Mata Yunho menelisik masuk, ia tidak suka suasana pesta, apalagi isinya adalah orang-orang modis semua.
Ia tersenyum menatap sang ibu, "Tidak, nanti eomma telepon saja jika sudah mau pulang."
"Ya sudah, berhati-hatilah."
Yunho pun meninggalkan tempat itu dengan mobil hitamnya.
Jungsoo memasuki ruang restoran yang sudah dipesan untuk merayakan pesta peresmian butik milik keponakkannya itu, ia tahu salah satu dari desainer yang berkumpul malam ini adalah sahabatnya.
"Eonnie.."
Jungsoo menatap seorang wanita yang sangat ia kenal dan rindukan, sahabatnya sejak SMU, Kim Heechul. Ia pun berjalan menghampirinya sambil tersenyum menahan air mata bahagia.
Setelah saling berpelukan untuk menyalurkan kerinduan masing-masing, mereka duduk disana sambil menikmati hidangan Eropa yang disediakan.
"Lihat sekarang... Kau benar-benar berhasil Chullie-ah." Ujar Jungsoo setelah meneguk air putihnya.
Heechul menatap sahabatnya itu, "Aku bisa sampai ke titik ini juga berkat bantuan kalian berdua. Tanpa kalian berdua kami tidak akan pernah bisa menghidupi anak-anak kami."
Jungsoo tersenyum mengenang masa-masa itu, "Itulah gunanya persahabatan, Chullie-ah."
Heechul ikut tersenyum mengingat semua jasa-jasa pasangan Kangin dan Jungsoo, andai saja jika saat itu Jungsoo tidak datang dan membantu Heechul mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya, dan Kangin tidak membantu Hangeng untuk bekerja di sebuah universitas, mereka dan ketiga putra-putrinya tidak akan pernah hidup sebaik ini.
"Ah, benar.. Kangin benar-benar tidak datang?" tanya Heechul yang menyadari Kangin tak berada disana, dulu, saking cintanya Kangin terhadap istrinya, ia selalu lengket kemana pun sang istri pergi.
"Tidak. Dia sedang sibuk mengurus cabang perusahan di Amerika."
Heechul sedikit melebarkan matanya, "Kalian mendirikan cabang di Amerika?"
Jungsoo tersenyum, "Iya, karena ini pertama kalinya kami mendirikan perusahaan disana, Kangin menjadi sangat sibuk. Yunho juga."
"Yunho? Yang tadi itu?"
Tadi saat Heechul memerhatikan pintu masuk, ia melihat Jungsoo turun dari sebuah mobil bersama seorang lelaki muda, itu 'kah putranya?
"Benar, kau pasti sudah lupa. Yunho tidak mau ikut masuk ke pesta, mungkin karena besok ia harus bekerja jadi ia butuh beristirahat sekarang. Karena Kangin sibuk di Amerika, Yunho jadi ikut sibuk menggantikan appanya untuk memimpin perusahaan pusat disini." Jelas Jungsoo panjang diikuti anggukan mengerti dari sahabatnya itu.
"Ku pikir anak itu masih saja cengeng dan manja, ternyata Yunho sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang hebat." Kagum Heechul mengingat sifat-sifat kekanakan Yunho dimasa kecil.
Jungsoo tersenyum mendengarnya tapi sesaat kemudian senyum itu hilang, "Aku bangga kepada Yunho yang sudah tumbuh menjadi pria hebat, tapi.." Jungsoo menggantungkan kalimatnya, ia tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tadi pagi Yunho mengatakan sesuatu yang sedikit menyakiti hatiku."
Heechul menyadari perubahaan aura Jungsoo, "Ada apa dengan Yunho, eonni?" tanya Heechul pelan.
Jungsoo berpikir sejenak, tidak ada salahnya 'kan bercerita masalah keluarga kepada sahabatnya sendiri?
"Tadi pagi ia mengatakan ingin menikahi kekasihnya. Tapi, selama ini Yunho tidak pernah membicarakan tentang kekasihnya sebelumnya," Jungsoo terdiam sejenak, "dan ternyata kekasih yang Yunho katakan adalah seorang namja."
"Mwo?" kaget Heechul dengan setengah berteriak.
Jungsoo tersenyum tipis mengerti reaksi Heechul yang seperti itu, "Awalnya aku berpikir, mungkin ini kesalahku karena terlalu memanjakan Yunho sejak kecil hingga membuatnya berbuat semaunya. Tapi, setelah kupikirkan lagi ini bukan karena aku memanjakannya, melainkan itu karena Yunho sendirilah yang sudah menemukan kebahagiaannya."
Heechul masih tidak percaya dengan cerita yang disampaikan oleh sahabatnya itu, setelah sekian tahun tidak bertemu Jungsoo malah membawakan cerita yang cukup... yeah, horror?
"Jadi, eonni merestui hubungan Yunho?" tanya Heechul hati-hati.
Jungsoo terdiam tidak menjawab, tapi dapat Heechul lihat anggukan kecil kepala sahabatnya itu.
"K-kenapa? Kenapa semudah itu?"
Lagi-lagi Jungsoo menampilkan senyum khasnya, baru ia membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Heechul, sebuah teriakan nyaring sudah menghampiri mereka berdua.
"Aunty..." ternyata sang pemilik acara, Jessica Jung.
Heechul memejamkan matanya, si cerewet ini datang.
"Aunty, kenapa sendirian saja, dimana Uncle? Yunho juga? Jihye tidak ikut?" tanya perempuan manis ini membrondongi sang bibi.
"Ya! Kau ini sudah tinggal di Korea! berhenti so' Amerika begitu!" ucap Heechul menginterupsi.
.
"MWO?!" Teriak Changmin sekencang yang ia bisa.
"YA! Shim Changmin, kau sudah cukup banyak berteriak hari ini. Kepalaku sakit, kau tahu!" ujar sang ibu kemudian meninggalkan anak sulungnya yang terdiam melotot di sofa ruang keluarga.
Changmin melihat kepergian Heechul kemudian mengikutinya, "Jadi, waktu hari Senin itu, waktu aku bilang aku dilamar sama Yunho, eomma sudah tahu kalau Yunho itu anaknya Jungsoo-imo?"
Heechul berjalan cepat menuju kamarnya, "Ya iya, emang kenapa, sih?"
"Emang kenapa!? Sih?!" Changmin masih mengikuti Heechul dari belakang, "Eomma tidak tahu kalau aku hampir putus sama Yunho-hyung? Terus juga kenapa malam itu eomma seakan-akan tidak tahu apa-apa?"
Heechul membuka pintu kamarnya kemudian berbalik menatap sang anak, "Dengar ya Shim Changmin, malam itu aku sendiri kaget mendengar kalau ternyata kau namja yang dimaksud yang berpacaran dengan si Yunho itu, dan saat itu kau sendiri 'kan yang menawarkan akan memutuskan dia, jadi jangan salahkan aku." Kemudian Heechul masuk dan menutup pintu.
"Tunggu eomma!" Changmin menahan daun pintu yang hampir tertutup itu, "Bagaimana dengan persyaratan konyol itu? Apa eomma akan berubah pikiran?"
Heechul terkekeh sambil kembali membuka daun pintu kamarnya, menatap sang anak dengan senyuman manis, "Berubah pikiran? Dalam mimpimu!"
Blam!
Changmin menghela napasnya pasrah, tidak ada gunanya juga sih berkompromi dengan sang ibu. Ia kembali memikirkan cerita Heechul yang memberitahunya kalau Yunho adalah anak dari Jungsoo-imo dan Kangin-samchonnya, paman dan bibi yang baik hati itu. Berarti ia pernah bertemu dengan Yunho dulu?
Changmin terkesiap, jadi Yunho adalah hyung yang manja itu?!
Tiba-tiba Changmin merasakan sebuah getaran pada saku depan celananya, seseorang meneleponnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan tanpa pikir panjang langsung menggeser tombol berwarna hijau.
"Hyung!" / 'Changmin-ah!'
-ToBeContinued-
a.n : Annyeonghaseo semuanyaaa /kecup satu-satu/
belum 3 Juni, jadi ga nyampe 1 bulan kan aku menghilang wkwk
aku berterima kasih banget buat kalian yang udah bilang cerita ini unik, seru, lucu, hehe aku mah emang udah lucu dari lahir #bukan lu cun! Bukan anjer!
O iya, masalah lucu. Awalnya ketika pertama publish ff ini aku emang berniat ngasih label genre comedy, cuman setelah dipikir lagi aku jadi takut ga bisa mertahanin genre comedy itu sampai tamat. Soalnya buat nulis cerita comedy itu butuh penghayatan yang mendalam juga #apasih! Maksudnya butuh mood yang baik gitu loh. Karena sudah dipastikan mood lawak ga bakal datang setiap hari, jadi aku ngasih ff ini genre family sama romance.
Aku sih takutnya ada yang mulai berpikiran "Kok sekarang ga lucu sih"
"kok garing sih"
"aneh ah.."
"garing krenyes-krenyes deh ceritanya"
Ini genre Family sama Romance ya... So' kedepannya cerita yang katanya lucu ini bakal lebih fokus ke genre family, okew?
Mohon maklum...
Last, big hug and thanks to : neko chan. 75470, luvhomin, Minnie Chwangie, Lennie239, angelmax28. am, Raizel JungShim, chwangmeannie.
Makasih sudah setia baca dan review cerita absurd ini, berkat kalian juga aku masih teringat buat lanjutin cerita ini wkwk
Bye /peluk satu-satu/
