Saruhiko X Misaki

[K] Project - SPEICHERN Chap 7

zZenSan

Matahari sudah tinggi teriknya bagai memanggang jalanan, selain terjebak kepadatan lalu lintas dan dihambat seorang pengganggu Saruhiko masih harus berhadapan dengan kapten yang bertanggung jawab atas divisi yang ia kepalai. Masalah seperti muncul satu persatu bertubi-tubi tanpa ampun menghajarnya hingga tak bisa membuatnya sekedar beristirahat.

Kehidupan adalah serangkaian peristiwa bodoh yang dijalani orang-orang bodoh dengan cara yang bodoh. Saruhiko selalu menganggap semua orang di dunia ini selain dirinya, mungkin keluarganya juga termasuk hanya sekelompok orang yang hidup untuk mempersulit orang lain. Mengesampingkan itu semua, laporan hasil kerjanya harus selesai sore ini juga. Melepaskan masalah di rumahnya, ia tidak ingin buang waktu untuk pekerjaan yang melelahkan ini. Ia harus fokus dan teliti agar tak perlu melakukan pekerjaan dua kali.

"Fushimi San." seorang bawahannya meletakan secangkir kopi di mejanya, sementara si lelaki yang wajahnya sekarang seperti mayat hidup itu hanya terfokus pada layar komputernya.

Mobilitas yang selalu sangat ramai di divisinya, Reishi tak pernah memberikannya tugas yang ringan satu kalipun. Tentu saja itu membuatnya muak dan sama sekali tidak ada rasa senang mendapat kepercayaan dari pemimpinnya itu. Jika kau pikir Kepercayaan adalah hal yang berharga, maka bagi Saruhiko kepercayaan hanya simbolis yang mengikat dua orang untuk saling menjaga jujur saja itu merepotkan.

"Fushimi San, ada laporan baru." seru seorang petugas yang terus mengetik dan mengeratkan hands free yang ia kenakan untuk mendengarkan video yang baru masuk ke emailnya.

"Buronan menampakkan diri di jalan besar dekat stasiun, ia terlibat perkelahian." lanjut lelaki itu masih memperhatikan layar komputernya. "Suara ini? Yata San?! Ia terlibat perkelahian dengan Klan Merah." lelaki itu sangat kaget, melihat video yang baru saja selesai ia tonton.

"Kirim beberapa orang ke sana, kalau perlu datangi Homra. Pastikan buronan itu tetap di kota ini." Saruhiko mengomando, ia menerima melihat berkas Video yang juga diteruskan kepadanya. Memang benar Misaki terlibat di sana, bahkan anak itu masih membawa tas dan skate boardnya mungkin mereka berpapasan dan bentrok di tempat kejadian. Pertarungan yang sangat tidak imbang, Saruhiko sendiri sedikit kaget tak menyangka sisa anggota Jungle ada yang sekuat lelaki itu.

Sementara si Homra, Misaki sedang duduk di bangku sambil meminum jusnya dan mengecek ponselnya. Memar di pipi dan luka di lengannya terlihat walau sudah mendapat pertolongan. Ia sangat kesal dengan seorang lelaki mencurigakan yang mengintip dan mengawasi seorang gadis diam-diam. Itu bisa disebut tindak kriminal kan? Misaki sangat kesal dan wajah marahnya terlihat jelas setiap kali ia menyibak rambutnya.

"Kepalaku sakit-" gerutunya.

"Permisi!" suara tenang, diiringi lonceng angin yang tersentuh pintu. Orang-orang dengan seragam biru, Misaki sudah geram sendiri melihat mereka. Membuatnya mengingat Saruhiko yang menjengkelkan itu.

"Permisi! Aku ingin bertanya sesuatu tentang orang ini?" sambil menunjukan selembar foto, lelaki yang nampak familiar tapi namanya tak bisa Misaki ingat itu berusaha ramah. Misaki nampak curiga dan memberi jawaban yang bisa menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan dari orang-orangan itu. Anna yang berada di sana hanya memperhatikan dengan tenang, ia yakin tidak akan ada masalah lagi antara kelompoknya dan Scepter 4.

"Terimakasih atas waktumu." sambil menutup filenya, lelaki dengan wajah tenang dan rambut nya yang jatuh diwajahnya begitu elegan. Sebenarnya Misaki sedikit bertanya-tanya tentang masalah yang sedang dialami mereka, penuntasan pekerjaan yang melelahkan.

"Yata San, apa kau bertengkar dengan Fushimi San?" suara seorang pemuda membuat Misaki menatapnya dengan intens. "Ha?"

"Hm, jika diperhatikan Fushimi San sudah seperti mayat berjalan sejak kemarin. Biasanya ia hanya pemimpin regu yang suka menggerutu tapi belakangan ini-"

"Domyoji! Berhenti menanyakan hal diluar kepentingan." lelaki yang selesai bicara dengan Misaki meninggikan suaranya membuat pemuda berambut orange dengan wajah nya yang masih nampak remaja itu terkatup.

"Ah? Lagipula memangnya sejak kapan kami akrab." Misaki menekuk kaki, ia kesal dan membuang arah pandangan Anna dan Kusanagi hanya saling tatap seakan mengerti sikap merajuk lelaki keras kepala itu.

"Ho.. Syukurlah, ingatanmu sudah kembali ya kalau begitu…" komentarnya lagi sebelum akhirnya salah satu dari mereka memohon undur diri. Sikap sopan dan keteraturan yang sangat mencolok. Misaki sudah terbiasa menghadapi orang-orang kaku seperti mereka.

Anna memberi titip salam untuk Reishi, ia tak ingin ada perselisihan atau semacamnya dengan Scepter 4. Sementara Misaki masih berusaha nampak tidak peduli dan kembali serius dengan ponselnya.

"Kau serius kau baik-baik saja?" Kusanagi menutup pintu mereka. Hari semakin sore belum Dua Belas jam Misaki meninggalkan apartement Saruhiko namun ia mulai merasa bersalah. "Tentu saja, aku sangat baik." lanjutnya sambil dengan santai melanjutkan aktifitas malas-malasannya.

Hingga malam datang, malam pertama Misaki akan menghabiskan malamnya di Homra dengan ingatannya yang sudah hampir pulih sepenuhnya. Tempat itu jadi ramai dengan orang-orang dari klan mereka. Sebagian ia kenali dengan baik, kabar tentang kecelakaan yang menimpanya dalam penugasan itu cukup mendapat simpati.

"Kau serius akan bermalam di sini." Kusanagi tidak bermaksud menunjukan ia keberatan sesekali pemuda itu bermalam di sana. Misaki hanya menatap masam, sebenarnya ia ingin pulang ke rumah orang tuanya saja kalau begini.

"Ah, sepertinya aku akan kembali ke apartement ku saja. Aku tidak mood sekarang." Misaki memutuskan menghindari keramaian sekarang ini. Rikio yang sedikit khawatir berniat mengantarnya namun malah mendapat jawaban yang kurang menyenangkan dari pemuda itu.

Membiarkannya sendirian saat ini sebenarnya sedikit mengkhawatirkan memang.

Langkahnya sangat santai untuk anak muda sepertinya. Membawa tas berisi pakaiannya dan skate boardnya, ia meninggalkan Homra malam ini. Perjalanan menuju apartemen lamanya terasa membosankan. Ia sadar ia meninggalkan headsetnya di apartement Saruhiko. Ia tak ingin memikirkan itu lagi sekarang.

Sesampainya di sana, meletakan tasnya sembarangan dan mengganti pakaiannya setelah mandi. Ia menghiraukan rasa lapar, jadi ia hanya merebahkan badannya yang sedikit ngilu. Tendangan Saruhiko menyakitkan sekali.

Melihat langit-lamgit kamarnya yang tak setinggi ruangan Saruhiko membuatnya merasa lebih mengantuk.

"Apa yang sedang si bodoh itu lakukan." Misaki menggumam. Dan tanpa sadar menangis.

"Memangnya aku kelaparan sampai bisa menangis seperti ini ya? Bodoh sekali sih…" gumamnya menyeka air mata, lemari pendingin kosong dan tak ada makanan instan. "Aku akan makan besok pagi saja."

Ia kembali berbaring dan memandangi layar ponselnya. "Tch, aku memesan Pizza saja." ia berubah pikiran lagi dan segera memesan Pizza, ia tak peduli jika tidak habis maka esok pagi ia akan sarapan Pizza.

Setelah memesan beberapa menu yang ia inginkan, terlalu banyak untuknya sendiri ia hanya membayangkan makanan itu ada di hadapannya sekarang. Entah bagaimana nanti mungkin ia akan langsung merasa kenyang hanya dengan mencium aromanya. Sebuah pesan singkat masuk.

"Di mana kau sekarang?" tanpa bertele-tele. Saruhiko langsung menanyakannya, "Jangan melakukan hal konyol! Kau tidak tau apa yang sedang kau lakukan!" bermaksud mengabaikan pesan singkat Saruhiko, tapi lelaki mata empat itu terus mengiriminya pesan.

"Megumi bilang kau tidak di rumah! Aku sudah ke Homra! Apa kau di apartement mu sekarang?"

Misaki gusar, ia tak ingin menerima kata-kata apapun dari lelaki itu. Ia mematikan ponselnya, juga jam yang ia kenakan yang biasanya ia gunakan untuk menghubungi Homra. Ia terlalu lapar, malas berdebat dan tak ingin apapun sekarang kecuali makan.

Maka tidak lama berselang kira-kira satu jam pesanannya datang. Potongan daging dan pasta, aromanya membuatnya semakin kelaparan sekarang.

Menghabiskan setengah pizza large size sendirian, dan Pasta dengan potongan sosis yang sudah bersih. Minuman bersoda, hanya perlu sepuluh menit untuk pemuda yang kelaparan memuaskan perutnya.

"Kenyang sekali, aku ingin tidur." Misaki menyimpan sisanya kedalam kulkas dengan sembarangan. Ia dengan malas menuju kasur dan sembunyi dibalik selimutnya. Tidur sendiri memang menyenangkan, tidak ada yang memelukmu tiba-tiba atau menciummu sampai kau setengah horny.

"Hm?" Misaki jadi ingat, Saruhiko masih bertanggung jawab atas dirinya. Tapi masa bodohlah, pemuda itu menyebalkan sih. Paling tidak itu yang ia pikirkan.

oOo

Lalu seminggu berjalan begitu saja. Misaki kembali pada aktifitas kelompoknya, menghindari Saruhiko selama satu minggu bukan hal sulit untuknya. Toh selama ini bagi Misaki ia menangani semua masalahnya sendiri.

"Yo! Yata San." Rikio menghampiri pemuda dengan jaket gelap yang sedang berjalan sendirian membawa sebuah bat bersamanya. Bat besi yang cukup untuk membuat kepala seseorang remuk. "Hei. Aku tidak menemukan hal ganjil di sini, apakah lokasinya salah?" Misaki mengecek ponselnya, ia sedang mengemban tugas untuk menangkap penguntit yang cukup meresahkan. Tetapi setelah dua hari mereka melakukan pengamatan Misaki dan sekelompoknya di lapangan tak mendapatkan apapun.

"Ah.. Yata San, tidakkah menurutmu orang itu aneh?" Rikio sedang memakan keripik kentang , menunjuk pemuda dengan masker yang mengendap mengikuti seseorang.

"Ah, kau benar. Ayo kita hajar dia,-"

"Eh, Izuma San bilang kita harus memastikan dulu orangnya." Rikio membuka slide ponsel dan mencari gambar tang telah dibagikan ke seluruh regu timnya.

"Bagaimana? Apa dia orangnya?" Misaki mengeceknya sendiri, ciri-cirinya memang mirip tapi ia jadi sedikit curiga mengapa ada penguntit yang sebodoh itu.

Mengambil jalan lain untuk menyergap lelaki bermasker itu, Misaki dan Rikio berpisah agar mangsanya tak bisa lari.

Sebuah jalan kecil, antara toko dan gang yang gelap walaupun itu siang hari. Rikio menyekap laki-laki aneh itu dan menyeretnya ke dalam tempat yang lebih sunyi. Misaki mengejarnya, ia juga ingin memastikan menangkap orang yang tepat.

"Baka! Baka! Aku jadi kehilangan penguntit nya…."

Benar saja, yang ia tangkap adalah seorang wanita yang sedang menyamar. Misaki tersentak menyadari pemuda lain yang diikuti oleh orang dari pihak korban yang mengawasi keamanan si korban. Korbannya adalah seorang Putri milyader yang bersekolah di sekolah putri dan mengalami masalah sosial dengan penggemarnya.

Misaki berlari menyadari sesuatu pasti sudah menunggunya. Suara decit ban mobil, Misaki sedikit terlambat. Orang-orang biru sudah mengepung tempat yang ia curigai untuk menangkap pelaku.

"Tch,- pekerjaan macam apa ini?" Saruhiko turun dari mobil bersama rekannya. Menyergap seorang lelaki yang di duga adalah penguntit yang sedang mereka incar. Berbeda mangsa dengan Misaki, walau maksudnya sama. Misaki justru mencurigai lelaki lain yang terlihat mirip oleh gambar yang ia terima.

"Oraaaa….." Misaki yang tidak pernah setengah-setengah itu langsung menimbulkan keramaian. Tidak menyerah dengan mudah, orang yang terlihat biasa saja itu punya kecepatan yang cukup dan percaya diri tinggi.

"Jangan ikut campur,-" ia mengeluarkan sebuah pistol dan pisau lipat. Serangannya sangat awam, mungkin ia memang penguntit yang tak ahli bertarung.

"Hei! Lihat sekitarmu?" Saruhiko menyela perkelahian. Misaki menatapnya kesal dan membuang muka dengan cepat. "Kau pikir aku ini bodoh?" lelaki itu membuka ponselnya, tak ada yang mengerti apa yang terjadi. Hampir setengah dari sipil yang berada di wilayah itu jadi berontak.

Penguntitnya rupanya bukan hanya satu, karenanya laporan Scepter 4 dan yang Misaki terima adalah dua orang berbeda. Rupanya justeru lebih dari itu, tapi Saruhiko sudah memperkirakannya maka dari itu ia membawa beberapa pasukan bersamanya.

Satu hal lagi yang cukup aneh dari kasus tersebut, mereka adalah orang-orang biasa yang memiliki kekuatan aneh. "Pasti ada yang memberi mereka kekuatan, Tch." Saruhiko tak bisa menangani gerakan super cepat orang yang mengetuai kelompok tersebut. Sementara anak perempuan yang harus dilindungi itu sudah diamankan oleh Scepter 4 dengan sistematis yang mereka buat.

"Howa…..! Darimana ia dapat pukulan kuat begitu." Misaki kaget, menerima pukulan mendadak dari orang yang terlihat tidak bisa bertarung.

Saruhiko menyalakan alat deteksinya memastikan siapapun yang sedang melihat medan pertarungan itu, mencari dimana orang yang memberikan kekuatan mereka berada. Menyambungkan informasi pada rekannya yang lain.

"Apa yang kalian incar dari wanita itu?" Saruhiko siap dengan kuda-kuda berpedangnya. Ia harus tau alasan ia bertarung dan mengapa ia harus melakukannya. "Jalan itu harus menerima hukuman atas tindakannya."

Saruhiko berkicap kesal mendapat jawaban tak memuaskan, motif balas dendam konyol sekali.

Melihat situasi semakin rumit, Misaki masih bertarung dengan rekannya yang lain melumpuhkan orang-orang itu. Saruhiko mengomando timnya mencari seorang yang bekerja di balik ini semua.

"Tunggu!" Misaki mengejar orang yang mencurigakan menyaksikan pertarungan mereka. Lelaki dengan pakaian serba hitam wajah nya ditutup masker dan larinya sangat cepat.

BUM!

Bukan hanya bisa meledakan sesuatu, musuh ternyata lebih merepotkan karena bisa memindahkan kekuatannya. Mendengar suara ledakan, dan kehilangan Misaki dari pandangannya. "Anak bodoh itu!" Saruhiko bergegas menuju tempat lain, menghindari keramaian dan bubungan asap justeru mengundang masyarakat.

Misaki dan orang berjaket hitam itu sampai di sebuah persimpangan. Tak ingin melepaskannya dengan cepat Misaki memberi pukulan yang bisa dihindari dengan mudah. Menarik tangan Misaki dan membantingnya menghantam mesin penjual minum. "Aw… Sakit…" Misaki berusaha bangkit.

"Kemana dia?" Saruhiko yang sedikit terlambat membantunya, Misaki terlalu fokus dengan pertarungannya. Keduanya kembali mengejar pelaku tersebut, tak habis akal Saruhiko menyalakan alat deteksinya.

Menghadang jalan dan menyerang dengan satu tebasan yang cukup dalam melukai bagian tubuh orang misterius tersebut. Suara rintihannya sedikit terdengar. "Seorang perempuan?" Misaki melihat kuda-kuda wanita itu sama seperti akan membuat sebuah ledakan. Itu sangat bahaya, ia lompat membumbung menangkap wanita yang sudah siap dengan ledakannya. Maka hanya dengan itu, seperkian detik setelahnya karena terlalu cepat.

BAM!

Misaki terpentaling, tubuhnya yang kurus telak menghantam dinding. Ledakannya dipatahkan tetapi masih menimbulkan daya hancur. Aspal berlubang, gadis itu terluka karena senjatanya sendiri. Saruhiko terbelalak tak sempat berfikir, segera memfokuskan dirinya meraih borgol dan menyuntik bius pada tersangka.

"Misaki,-" ia ingat seseorang. Beberapa rekan timnya menyusul dengan cepat membawa mobil dan beberapa anggota regu. Saruhiko mendekati Misaki, ia tak bergerak sedikit ragu dan penasaran.

"Misa-" nafas lemah terlihat dari punggung yang masih bergerak. Saruhiko tidak ragu memanggulnya dan segera melakukannya ke rumah sakit terdekat. Separuh badannya dibalut darah, nafasnya terlalu lemah dan nadinya hampir tak terasa. Tempat kejadian segera di kelilingi garis polisi. Ledakan itu memang tidak menghancurkan apapun tapi cukup untuk membunuh seseorang yang berada di dekatnya.

Saruhiko setengah mati menahan dirinya, ia tak bisa tenang sekarang. Padahal saat kejadian Misaki berada tepat di depan matanya, tapi ia tak bisa melakukan apapun. Saat ia ke kamar kecil untuk membasuh mukanya. Ia bisa melihat wajahnya di cermin, aroma obat tercium sampai toilet rumah sakit dengan sinar lampunya yang putih terang. "Shit-" Saruhiko meremas tangannya sendiri yang jadi gemetaran. Badannya terasa panas, dan pikirannya melambung tak bisa ia tangkap untuk tetap fokus memikirkan pekerjaannya.

"Fushimi San-" seorang temannya datang menghampiri memberikan telepon seluler padanya. Dari Reishi yang membutuhkan laporan secepatnya.

"Aku akan mengirimnya sore ini." Setelah tiga menit bicara Saruhiko menutup teleponnya. Wajahnya jadi sangat pucat, ia berniat kembali ke kantornya sekarang. Tidak tidur dengan benar, tidak makan teratur dan bekerja seperti zombie siang dan malam.

Berusaha tidak peduli dengan beberapa lelaki anggota klan merah menunggu di depan ruang operasi. Saruhiko kembali ke kantor pusat untuk memberikan laporan terakhir.

Bertemu dengan kaptennya jadi terasa menyebalkan jika ia pikirkan sekarang. Sore sudah datang dengan matahari yang sudah di seperempat langit. Masih terang, namun udara musim dingin seperti sudah siap menyergap malam yang akan bersalju hari ini. Saruhiko menghela nafas panjang di mejanya. Ia menyesap kopinya, menunggu laporannya yang sedang dicetak.

Lima belas menit lalu Reishi meminta laporan akhir dalam bentuk hardcopy, jadi dengan malas Saruhiko menyanggupi permintaan ketuanya itu. Ia tak bisa melepaskan pikirannya tentang Misaki hari ini. Anak itu selalu saja mengkhawatirkan dan merepotkan. Dengan moodmya yang jelek dan tubuhnya yang kelelahan ia masih harus mengkhawatirkan orang lain.

Ia hanya makan sanwich cepat saji, dan kopi agar tidak mengantuk.

Setelah pekerjaannya dianggap tuntas akhirnya dengan saksi matahari yang hampir menghilang Saruhiko sampai di depan ruang operasi yang sudah tidak ada siapapun. Ia mencari petugas yang melintas di sekitar dan menanyakan keadaan pasien tersebut. "Ah, pasien sudah dibawa ke ruang rawat. Operasinya sudah selesai,-" seorang suster memberi jawaban sekaligus mengarahkan ruang rawat inap padanya.

Saruhiko sampai di depan ruang rawat, ia menunggu sesaat di depan pintu terdengar suara is akan seorang wanita dari dalam kamar tersebut. Itu pasti ibunya, Saruhiko jadi ragu ia sangat merasa bersalah karena terakhir kali ibunya tahu Misaki bersamanya. "Fushimi San?" Anna dan Kusanagi seiring datang bersamaan berniat menjenguk.

"Kau tidak masuk?" lelaki tinggi yang nampak trendy itu ikut bicara.

"Aku tidak ingin menganggu, aku akan datang lagi nanti." merasa tak enak hati, ia juga jadi berfikir ia tak ingin berada diantara orang-orang merah ini.

"Hmm…" Kusanagi hanya berusaha mengabaikan orang ini. Membiarkannya berlalu pergi dan bersama Anna mereka masuk ke ruang rawat.

Anna memberi salam pada wanita paruh baya itu, pasti antara marah dan tak tega melihat putranya yang sulung ini. Dokter memang tak bilang ada luka yang cukup serius, ia mendapatkan cukup banyak jahitan kali ini dibanding hasil pertarungan sebelumnya.

Kusanagi dan Anna tidak bisa bermalam menungguinya, lagipula mereka tak perlu mengkhawatirkan Misaki. Mereka percaya orang bodoh tidak akan mati dengan mudah.

"Permisi!" Saruhiko datang membawa beberapa buah yang ia tau tak bisa dimakan pasien tapi ia tetap membawanya. Ia tak bertemu Anna dan orsng-orangnya. Hanya ibu Misaki yang sudah bersiap akan pulang karena masih ada keluarga yang harus ia urus dirumah. "Aku sangat menyesal, padahal aku sudah berjanji akan menjaganya." hanya pada wanita ini, dari sekian banyak manusia yang Saruhiko bisa menunjukan wajah penyesalannya.

"Apa kau juga baik-baik saja? Kau nampak sangat pucat nak." menganggap sahabat Misaki yang satu ini bagai putera sendiri.

"Ia sudah meminum obatnya, setelah sadar sore tadi ia sudah bisa merasa haus." lanjut wanita itu berusaha terlihat tegar, Saruhiko mendengarkan pesannya dengan baik. "Kai harus jaga kesehatanmu juga."

Saruhiko hanya tersenyum, setelah sepuluh menit bicara dan wanita tiga anak itu hingga undur diri untuk segera pulang.

Lampu kota yang terlihat sangat terang dari lantai tujuh rumah sakit tersebut. Saruhiko mendekati jendela yang ada di sisi kanannya, ia menatap wajah terlelap yang mendapat perban dan luka lebam di wajahnya. "Dasar ceroboh! Inilah mengapa aku tidak bisa melihatmu berulah." Saruhiko menyentuh tangan mungil yang sebuah infus terhubung dengannya.

Rasanya ingin menangis, ah sudahlah. "Tidak akan ada yang mengerti-" berapa dalam rasa yang ia gali mencoba menemukan namanya dari perasaannya. Benci berkecamuk melihat Misaki membuat dirinya sendiri dalam bahaya. Amarah membakar dada mengingatnya tidak bisa dikendalikan dan berujung pada peristiwa seperti ini. Saruhiko setengah tersenyum, ia senang melihat Misakinya kembali tidak berdaya, tidak bisa melakukan apa-apa akan membuat Misaki hanya membutuhkannya. Seulas kebahagiaan melihat Misaki bagai boneka yang hanya akan ia miliki, dan kesedihan mendalam karena selama Misaki dalam genggamannya juga akan tetap terluka. "Bukan salahku-" Saruhiko menggumam, wajahnya dingin bagai es menatap Misaki yang tak bisa membalas tatapnya. "-aku menjadi seperti ini, bukan salahku."

"Mmm…" Misaki menggumam pelan. Bulu matanya seperti gemetar anak ini mencoba membuka matanya. "-air." bibirnya mengucap lemah.

"Ah?" Saruhiko mengambil gelas dan sendok. Ia bermaksud membantu Misaki minum, memang selalu orang sakit itu akan sangat manja.

"Minumlah,-" dengan sangat hati-hati dan lembut ia menyendoki air untuk bibir yang kering dan pecah-pecah itu. Misaki berusaha duduk menahan sakit di sekujur tubuhnya. "Gunakan ini." Sambil membantunya duduk, Saruhiko memberinya sedotan agar memisahkannya minum.

"Mmm….-" masih menggumam tak jelas, Misaki memegangi tangan yang ada didepannya menyangga gelas. Hangat, tidak seperti biasanya. "Hm? Saru?" Misaki menatap lelaki itu. Terakhir kali saat ia sadar ia ingat ibunya berada di sampingnya. "Ibuku?" tanyanya dengan suara parau.

"Sudah pulang, kembalilah tidur." Saruhiko meletakan kembali gelas yang ia pegang. Misaki hanya melamun memandang hampa tertunduk. "Hah, aku disini lagi? Ibu akan membunuhku." Misaki bicara sendiri pelan namun cukup jelas diruangan yang tak terlalu besar itu.

"Kau bodoh makanya berakhir disini lagi." Saruhiko mengomentari apa yang ia dengar, "-anak perempuannya?"

Saruhiko menghela nafas panjang, Misaki tidak kehilangan ingatan lagi rupanya ia masih ingat kejadian terakhir kali. "Dia sudah ditangani, entah dia dapat kekuatan itu darimana masih dalam penyelidikan. Sebaiknya jangan pikirkan itu, masalahnya sudah selesai." Saruhiko menutup topik itu paksa. Ia bosan membahas itu selama dikantor dan menerima banyak pertanyaan dari atasannya. Nampak sedikit kelegaan di wajah Misaki yang separuhnya memar.

"Aw! Aw! Sakit banget, ngapain sih?" Misaki memukul tangan Saruhiko yang menyentuh wajahnya. Warna keunguan dan darah dibawah kulitnya. "Hmm, parah sekali kau jadi tambah jelek." Saruhiko menarik tangannya.

"Jika aku sehat, aku akan menendangmu! Bodoh!" Misaki kesal mendengar ucapan Saruhiko.

Sesaat kemudian kembali hening, Misaki tidak bisa tidur. Ia merasakan kepalanya yang pusing dan tubuhnya yang sakit. Sampai tak punya tenaga untuk mengeluh.

"Aku mau puding,-" Misaki bicara sendiri. Saruhiko yang masih duduk di sampingnya membaca buku berusaha nampak tak peduli. "-coklat, dan fla rasa buah." lanjut Misaki lagi seperti ingin mendapat perhatian.

"Aku akan membelikannya buatmu besok, aku mengambil liburku setelah kemarin terus bekerja." Saruhiko menyetujui permintaan Misaki yang masih berbaring itu.

"Hm, kemarin aku membuatnya. Ada di kemari pendinginmu. Tadinya aku ingin memakannya bersamamu. Lalu aku jadi malas jika melihat wajah mengenalkanmu itu."

Saruhiko tertawa kecil mendengar celoteh orang sakit ini. "Seorang pasien harusnya tidak banyak bicara." ujarnya tenang. "Aku akan membawanya besok," Saruhiko melanjutkan kalimatnya.

Misaki berusaha memejamkan mata menahan kepalanya yang pusing, "-tidak bisa tidur." suaranya semakin lemah.

"Hm…" Saruhiko satu-satunya yang mulai mengantuk. Terlihat dengan jelas di wajahnya yang polos dibalut rambut hitamnya itu.

"Apa aku harus mematikan lampunya?" Saruhiko menyarankan sesuatu berusaha membantu Misaki. Lelaki itu hanya menggeleng pelan, "-aku benci gelap."

"Tch, memangnya berapa umurmu? Kau tidur dikamarku yang gelap berhari-hari." Saruhiko berkicap kesal dan heran dengan sifat kekanakannya. "Karena aku bersama temanku." jawab Misaki membungkam Saruhiko menatapnya sedikit dengan lirikan kesal. Jadi sekarang ia sedang tidak bersama temannya ya? Saruhiko membuang muka berusaha tidak peduli. Ia menatap ke luar jendela yang dari sana ia bisa lihat beberapa gedung tinggi dan jalan raya.

"Misaki, sepertinya pudingnu sudah habis beberapa hari yang lalu." Saruhiko teringat sesuatu, "ha?-"

"Siang itu aku sangat lapar dan tak menemukan apapun selain puding coklat dengan potongan buah kan?" lanjut Saruhiko lagi. "Aku habiskan semuanya, jadi aku akan membelikan yang baru saja." sambil membenarkan letak kacamatanya Saruhiko kembali duduk di kursinya.

"Baka! Kau menghabiskan itu semua sendirian? Kau pasti makan sembarangan." Misaki melirik sambil mencibir.

"Hm… Aku hanya makan mi instan, roti sandwich dan kopi." sambil mengangguk ia tanpa sadar menceritakan dirinya sendiri.

"Kau akan cepat mati jika begitu."

Saruhik otidak terima mendapat ucapan seperti itu dari Misaki. "Kau pikir orang yang keluar masuk rumah sakit bisa lebih hidup lama dari pada orang yang makan sembarangan. Lagipula ini semua salahmu," Saruhiko bicara tak berhenti menanggapi ucapan Misaki. "Kalau begitu sebelum aku mati aku akan membunuhmu." Misaki tertawa kecil sesekali meringis sakit menahan luka lebam di wajahnya.

"Huh? Tidak bisakah kau tidak membuat siapapun khawatir?" Saruhiko menghela nafas panjang sedikit tersenyum. Sama sekali ia tak membayangkan ia bisa bicara seperti ini lagi dengan Misaki. "Hm…" Misaki tak bisa menjawab apapun. Memang selama ini sebagian besar tindakannya selalu berakhir merugikan dirinya. Sebenarnya ia masih kesal dengan Saruhiko karena ia belum menerima permintaan maaf. Juga pertemuan terakhir mereka di rumah adalah pertempuran hebat, jadi ia sendiri tidak bisa memulai lebih dulu untuk meminta maaf.

"Ruang utama rumahku harus di reparasi." keluh Saruhiko tak bermaksud mengungkit perdebatan mereka saat itu. "Aku akan bantu tanggung jawab rumah horormu itu." Misaki sedikit kesal melirik Saruhiko. Sementara Saruhiko menatapnya lekat saat mata mereka bertemu. "Apa?" Misaki heran, ia tak suka jika Saruhiko sudah menatapnya begitu.

"Sekali kau masuk ke dalam rumahku aku tidak akan melepaskanmu."

Misaki terkatup, ia tak tau apa yang ia rasakan sekarang mungkin karena kepalanya pusing. Jadi ia menolak membahas itu dengan serius. "-baka!"

Kisuhnya sedikit sebal kalimat Saruhiko sangatlah egois. Ia berusaha memejamkan mata lagi, entah seperti apa esok yang akan terjadi. Sambil mengingat kekesalannya dengan Saruhiko ia baru tersadar tidak pernah seharipun ia melewatkan untuk memikirkan si empat mata itu.

"Aku benci gelap dan dingin, sesuatu seperti dirimu. Membuatku takut. Aku benci, benci sekali."

Chap 7