Saruhiko X Misaki

[K] Project - SPEICHERN Chap 8

zZenSan

Tiga hari, rasanya seperti tiga tahun bagi Misaki terus berada di rumah sakit. Banyak temannya datang mengunjungi, sebagian dari mereka hanya menertawai dan yang lebih menjengkelkan adalah yang lebih menasehati. Sempat kehilangan banyak darah tidak membunuhnya, itu artinya hanya satu tusukan pisau tidak akan bisa membuatnya mati.

Hampir setiap hari ada anggota Homra yang mengunjunginya. Misaki merengek ingin minum bir sampai mabuk hingga lupa rasa sakit. Sekuat apapun seseorang berdarah itu tetap saja rasanya sakit, walau tidak menangis.

Setiap pemeriksaan tiga hari sekali ia selalu bertanya kapan bisa keluar dari rumah sakit. Perawat sampai bosan memberi jawabannya. Susah meminum obat, tapi keinginannya cepat keluar dari kamar rawat inap tersebut aneh sekali. Wajahnya yang lebam-lebam sudah lebih baik sekarang. Perban di kepalanya sudah di lepas, banyak permintaan dan keinginan memang sifat anak ini setiap ia jatuh sakit. Ia hanya menurut pada ibunya, walau sesekali mencibir.

Ia sering sulit tidur jika mulam datang, karena ia hanya berbaring saja sepanjang hari. Rasa lelah menunggu dan bosan adalah hal yang paling ia benci sekarang. Tidak itu bohong, sebenarnya Misaki berharap Saruhiko bisa menemaninya. Tapi mau bagaimana? Ia tidak berhak meminta hal yang semacam itu, apalagi itu akan membuat Saruhiko besar kepala dan semakin senang. Tapi tentu saja Misaki tetap menginginkannya.

Ia sudah tahu menjadi petugas yang melindungi orang-orang itu pasti merepotkan apalagi untuk tipe seperti teman baiknya itu. Semakin ia memikirkannya ia semakin kesal, kesal karena mereka hanya sebatas teman.

Hari ke Lima, saat Saruhiko akhirnya kembali mengunjunginya membawakannya puding coklat dengan fla yang Misaki minta di hari pertamanya di rumah sakit. "Lama sekali, mungkin aku akan mati duluan." Misaki kesal, setengah melampiaskan pada janji Saruhiko. Saruhiko mengabaikannya, bukankah tidak jarang hari liburnya selalu mendapat panggilan tugas mendadak oleh atasannya yang egois itu.

"Yata San! Wah kau sudah makan dengan lahap ya." seorang perawat cantik dengan rambutnya yang di cepol rapi memeriksanya. Saruhiko hanya memperhatikan dari sudut ruangan agar ia mengganggu.

"Mungkin kau bisa pulang sore ini atau besok." dokter yang mengawasi suster tersebut turut masuk ke ruangan. Misaki berbinar-binar, ia sudah tak sabar kalau begitu. Tentu saja sudah dua minggu berlalu.

"Kau harus tetap meminum obatnya, aku sudah melihat riwayat kesehatanmu." sambil memegang stetoskopnya yang terasa tak nyaman di lehernya dokter itu memberi sedikit nasihat untuk pemuda itu.

Menerima banyak wejangan membuat Misaki ingin sesegera mungkin meninggalkan rumah sakit, ia akan kembali ke rumah orang tuanya. Ibunya akan melarangnya jika ia ingin tinggal sendiri di apartemennya. Ia belum cukup dewasa walau sudah kepala dua. Tidak bisa mengurus dirinya dengan benar dan selalu menimbulkan masalah.

"Aku bisa merawatmu, di rumahku hanya ada aku." Saruhiko menyela di antara obrolan ibu dan anak itu.

"Benarkah?" seperti lupa apa yang sudah terjadi sebelumnya diantara mereka Misaki nampak antusias.

"Hm, tidak. Kau sudah merepotkannya orang lain dan hanya bisa menimbulkan masalah." Ibunya sudah pasti menolak, wanita itu nampak dingin dan lebih keras kepalan sekarang. "Ayolah ibu,-" Misaki sedikit merajuk.

"Cukup ibu yang kau buat susah, jangan orang lain lagipula Saruhiko kun punya pekerjaan sendiri, tidak seperti kau. Bermain dan membuat onar setiap waktu." wanita itu sedikit meninggikan nada bicaranya memarahi anak sulungnya itu. Saruhiko hanya tertawa kecil, ia bisa sekali bersikap tenang seperti itu saat ada orang lain di antara mereka.

"Aku bisa menanganinya saat dia kembali membuat masalah. Bagaimana jika sesekali kami menahannya." Saruhiko tersenyum, menyentuh punggung tangan ibu Misaki yang sedang membereskan pakaian kotor dan perlengkapan milik Misaki. Wanita itu memandang Saruhiko memendam sedikit rasa penasaran.

"Kalian ini! Lakukan apa yang kalian inginkan."

Sambil menutup tasnya, ia tak ingin berdebat. Ia melarang seperti apapun jika sudah bersama Saruhiko anak lelakinya yang nakal satu itu pasti selalu keras kepala. Ia sendiri tak tau ada hubungan apa di balik persahabatan mereka yang ia ketahui.

ooOoo

Misaki POV

Ini adalah hari pertama akhirnya aku kembali ke rumah Saruhiko. Luka di tubuhku masih terasa saki, apalagi jahitan di pinggangku. Aku tidak tau kenapa aku langsung senang ketika temanku ini, ah bukan aku menganggapnya lebih dari teman walau hanya sepihak dariku mengajakku kembali ke rumahnya.

Aku membuat banyak sekali masalah, ibuku terus berceloteh dengan wajah ketusnya. Bayangkan tinggal bersamanya, setiap hari aku hanya akan dimarahi. Lalu kenapa hal ini terjadi padaku, berakhir konyol di rumah sakit berkali-kali.

Aku marah besar pada Saruhiko hati itu, aku belum minta maaf. Kenapa harus aku yang meminta maaf? Semua ini bukan salahku. Saruhiko menyembunyikan sesuatu dan aku tidak bisa membuatnya bicara. Ah tidak, jujur saja aku setengah berharap ia meminta maaf padaku. Sepertinya tidak mungkin, dia terlalu egois dan picik.

"Misaki-" Saruhiko mengambil segelas air dan menyaksikannya padaku. Jus jeruk, aku meminumnya sedikit. Aku tak bergeming, sadar ruangan apartemennya sudah di perbaiki. Wallpaper putih gradasi biru serasi dengan gordynnya sewarna langit. Sofanya juga, tidak sebesar yang dulu tapi cukup empuk saat aku duduki. Televisinya masih sama, meja kacanya berubah menjadi meja kayu.

"Aku mengganti properti dengan uang pribadiku." seperti menyindir, si bodoh ini sadar aku memperhatikan ruangan tersebut.

"Aku ingin tidur di ruang tidur tamu saja." Aku menatapnya sedikit jengah bosan dengan sikapnya yang sering menyebalkan.

"Hm? Boleh saja. Itu ruangan sempit yang tidak ada pendingin ruangannya." Saruhiko tersenyum sinis sialan bisa mati pengap aku. "Ack-"

"Lagi pula lampunya belum diganti, memangnya kau bisa tidur tanpa lampu."

"Hah? Kau pikir berapa umurku." sombong sekali dia, memangnya aku bocah.

"Hmm, kau kan yang bilang tidak masalah jika aku bersamamu walau tanpa lam-" ucapannya belum selesai aku menutup mulutnya tidak ingin mendengarnya.

"Hmm aku akan menyiapkan makan malam,-" Saruhiko bangkit dari posisinya. Ia meninggalkan ku sendirian. Aku harus mengirimi pesan untuk ibuku, juga teman-teman di Homra aku sudah sampai dengan selamat. Belakangan ini orang-orang sangat memperhatikanku, aku jadi terharu.

Sambil membawa tasku dan masuk ke kamar utama mengeluarkan beberapa baju aku berniat menyiapkan air panas. Ah, ruang kamar lenggang ini masih semerbak tercium aroma parfum yang Saruhiko kenakan. Aku kesulitan berjalan jadi harus merambat pada dinding. Aku jadi tak yakin bisa mandi sendiri, tapi aku tak mau minta bantuan siapapun.

"Saru, kau bisa siapkan air panasnya sendiri kan!?" seru tanyaku dari dalam kamar, perutku jadi sakit saat berteriak.

"Hmm…"

"Ada apa?" ia datang, lengan kemejanya tergulung dan menghampiriku.

"Aku tidak bisa jalan-jalan, jadi kau siapkan air panasnya sendiri. Aku akan jadi tamu yang bermalas-malasan mulai sekarang." aku tersenyum menyembunyikan rasa tak enak hatiku.

"Hanya itu, aku akan membantumu mengganti perban di kaki mu nanti." ia kembali berlalu meninggalkanku sendirian. Aku menyadari betisku juga dapat beberapa jahitan karena terkena ledakan wanita aneh itu.

Sambil membaringkan tubuh bermaksud mengistirahatkan tubuh yang kelelahan menahan sakitku. Awang-awang yang terlihat kosong dengan lampu yang temaram sedikit terang dari terakhir kali aku di sini. Aku memang bilang padanya aku tidak suka tempat yang gelap. Jadi ia menganti lampu kamarnya dengan yang sedikit lebih terang. Walau bagiku itu cukup gelap sebenarnya.

Saat aku dilarikan kerumah sakit, ada bayangan Mikoto San. Punggung yang besar dan gagah itu, seperti melindungiku. Keren sekali seperti biasanya. Kepulan asap rokok yang menyerbak lalu menghilang, aku melihatnya yang sangat terang berjalan menjauh semakin redup lalu menghilang di ke gelapan. Tidak, aku masih bisa melihat kerlip kecil walau tak terlalu terang, kerlip itu terlihat karena dikelilingi kegelapan. Aku tidak tau artinya apa, saat aku menoleh aku bisa merasakan apa yang terjadi dengan tubuhku.

Dadaku sesak nafasku tercekat dan kepalaku sakit bagai dipaku. Aku bisa merasakan cairan merah menghangatkan tubuh dan merendamku. Darah dari tubuhku sendiri, sirine ambulan hingga bau obat lalu aku merasa kedinginan. Aku ingin ke tempat Mikoto san, ia selalu bersinar memberikan kehangatan. Tapi titik kerlip itu kian menjauh sampai aku tidak bisa melihatnya.

Aku bermaksud menghangatkan diri sendiri, tapi tidak bisa. Menggerakan kelopak mata saja aku tak mampu, dari kakiku rasanya membeku. Telapak kaki yang rasanya menjadi es, darah merah itu perlahan menghilang terserap ditanah dan akhirnya cairan lain dari rintik hujan menenggelamkan ku. Aku benci berenang, apalagi aku tak bisa bergerak sekarang.

Pintu menuju masa depan ada di balik pintu menuju masa lalu. Untuk membuka minta kemasa depan, kau harus menutup pintu ke arah masa lalu agar tidak tersesat.

Yang aku lihat hanya lampu bundar terang sekali menusuk mata. Aku masih kedinginan, aku tahu suhu di ruangan memang sedang dingin. Tapi aku merasa sedikit hangat, ada cairan hangat yang ku rasakan seperti merembes dalam kulit dan menyatu dengan darahku. Aku ingin tahu, jadi aku membuka mataku dengan paksa menutup pintu kemana Mikoto San meninggalkanku.

Ah aku tau, air mata ibuku yang jatuh di pipiku. Aku membuatnya menangis lagi, maaf saja aku memang kurang berguna menjadi anaknya. Alih-alih menjadi kuat untuk melindungi orang-orang hanya omong kosong yang akhirnya kami hanya membuat kehancuran. Kekuatan monster yang perusak dan membakar segalanya karena terlalu kuat tak lagi tergenggam. Andai aku bisa. Aku ingin menghapus airmatanya, tapi aku kembali tidak sadarkan diri aku merasakan suntikan di lenganku sakit sekali tapi aku tak bisa melawan. Aku ingat sekali rasanya waktu itu, bau pahit obat membuatku ingin muntah.

Mengingat ibuku, mengingat Mikoto San, mengingat keluargaku dan Homra rasahan aku akan mati saja. Setiap kita adalah lilin kecil yang menerangi jalan yang akan kita lalui, memberi kehangatan dan akhirnya hanya akan habis dibakar api sendiri. Paling tidak aku ingin melindungi seseorang. Kenapa aku ingin melindungi seseorang, ah aku punya seorang teman yang suram. Saat berada di dekatnya setiap hari seperti mendung. Dia sangat baik dan penurut, sedikit jujur jadi omongannya menyakitkan.

Mengingatnya saja membuat tanganku terasa hangat, ingat pada genggaman tangannya. Kulitnya pucat, dan tangannya selalu dingin aku ingin membuatnya sedikit hangat. Bagaimana tangan itu menyentuh dan meremahkanku, akhirnya ia melangkah meninggalkanku. Saruhiko? Sku bisa melihat luka di atas dada, setengah hatinya yang tak pernah aku miliki. Aku ini berisik dan tak mau kalah cocok sekali dengan anak sepertinya, tapi ia memilih pergi mungkin ia lelah dengan sikapku. Aku kesal, kesal sekali rasanya sakit sekarang aku ingin menangis tapi terlalu lemah.

"Misaki?" dalam lamunanku itu rupanya aku setengah tidur.

"Makan malam sudah siap! Kau baik-baik saja?" Saruhiko mendekatiku, menyentuh dahiku memeriksa suhu tubuh, aku mengangguk berusaha duduk dibantu dirinya. "Aku akan ganti baju, jadi keluarlah sebentar." aku tak ingin Saruhiko melihatku ganti baju tentu.

"Aku membawa sedikit air hangat, membersihkan tubuhmu." aku sadar Saruhiko bahkan sudah selesai mandi. Jadi aku melepas kaus ku pelan-pelan.

Setengah sadar, aku mengambil handuk lembab bersih untuk mebasuh tubuhku. Aku sadar ada luka lebam di dekat bahu pantas sakit sekali punggungku. Saruhiko mengambil kotak kesehatan, mengeluarkan perban dan tape, menungguku selesai dengan aktifitasku.

"Aw- sial. Sakit-"

Saruhiko mengambil handuk lembab itu, ia menarik kakiku membantu telapak kakiku tang sulit ku jangkau. "Aku akan ganti perbannya." sambil menggigit ujung perban dan melihat luka di kakiku yang masih terlihat jahitannya.

"Saru- aku memimpikan hal aneh." aku membiarkannya membantuku membalut luka itu. Ia menatapku menunggu ceritaku, "-saat kau membawaku ke rumah sakit aku bertemu Mikoto San."

"Tch-" Kicapnya kesal, ia selalu begitu setiap mendengar nama Mikoto San.

"Saruhiko. Apa kau juga akan meninggalkanku? Ah tidak maksudku…hmm bagaimana mengatakannya." aku mengumpakan mimpi yang ku lihat, tapi tidak bisa ku gambarkan dengan baik. "Suatu hari cahaya seseorang akan mati, Mikoto San atau siapapun lalu menjadi setitik cahaya di kegelapan."

"Bisakah kau ucapkan lebih sederhana? Aku meninggalkanmu? Mengatakan ku pengkhianat lagi, harga diri bodohmu dan kebanggan konyol yang-" Saruhiko bicara panjang lebar menduga isi kepalaku yang sudah tentu tidak ke arah itu. "Sudah jelas sekali, aku pernah meninggalkanmu? Lalu kenapa? Sekarang aku sudah disini kan? Apa masalahnya?" ia menatapku dengan tegas. Wajah bodoh dengan kacamatanya yang menyebalkan itu membuatku ingin tertawa.

Ia selesai dengan perban di kakiku, mendekatiku yang tak bisa mengatakan apapun. Ia memperlakukanku sangat lembut, astaga mencurigakan sekali.

"Suatu hari, ketika cahaya kita habis dan akhirnya padam. Saat itu kita akan, mati?" Aku menatap manik biru gelap yang jika ku perhatikan aku bisa melihat angkasa malam yang sangat indah di sana. "Hm… Kau pikir begitu?" ia menyentuh tanganku dengan hati-hati rasanya ia memperlakukanku seperti kapas, memangnya aku ini wanita?

"Tapi Mikoto San, hingga saat ini pun tetap hidup dalam ingatanmu." suaranya seperti menyentuh suatu titik dalam pikiranku. "Tch, berandal pembuat onar itu memang mencolok dan tak akan mudah dilupakan." Saruhiko mencibir, wajahnya nampak menyepelekan ia memang selalu seperti itu.

"Kau tau, karena ia terlalu bersinar. Api yang besar itu membakarnya lebih cepat dari sewajarnya. Akhirnya orang-orang seperti itu akan mati dengan cepat, lihatlah dirimu." sedikit saja aku bisa melihat ekspresi Saruhiko yang dari sorot matanya memancarkan kesedihan.

"Memangnya kau pikir aku akan mati semudah itu!" aku memukul nya tak terlalu kencang, melihatnya begitu membuatku tak nyaman. Ia menangkap tanganku, memandang tepat lurus padaku, menyentuh luka di wajah dan di bahuku.

"Kau tau, kau atau aku atau siapapun, jika sudah mati tidak akan bisa kembali. Karena itu berhentilah membuat semua orang khawatir." aku menepis tangannya yang mengusap pipiku, ia mulai bertingkah seakan peduli padaku. Padahal aku tahu ia sangat peduli padaku sejak dulu.

"-lapar." balasku tak ingin terhanyut suasana. Aku ingin makan daging dan minum air dingin, aku bosan makan sayur. Tanpa aba-aba aku menuju ruang makan terlebih dahulu, walau Saruhiko akhirnya berjalan lebih cepat dari ku dan sampai di mejanya. "Hah, kau mengabaikan orang yang sedang kesusahan. Jahat sekali…!" membuat kesal saja.

"Ha? Kenapa kau tidak bisa minta tolong dengan baik!" Saruhiko seperti tidak peduli, wajahnya yang kolot seperti orang tua itu justru membuatku makin kesal.

oOo

Satu malam yang berlalu terasa lebih cepat untuk Misaki setiap kali ia bersama Saruhiko. Entah karena ia memang sangat lelah dan menghabiskan malam dengan tidur cepat, atau karena orang tersebut adalah Saruhiko. Ia menerima kunjungan dari teman-temannya, dan membuat Saruhiko jadi sedikit kesal membiarkan orang-orang itu masuk ke apartemennya. Ia juga tak bisa melarang, sejak awal ia yang memberi isyarat agar Misaki kembali bersamanya.

Saruhiko yang menyebalkan dan bekerja seperti mayat hidup itu jadi sedikit terlihat lebih manusia sekarang. Ia tidak terlalu banyak meminum kopi, dan lingkaran mata padanya tak mencolok bulan lalu. Ah mungkin karena tugasnya memang sedikit berkurang. Selalu berdebat dengan Reishi untuk urusan lembur, biasanya ia tidak sesulit ini untuk jam kerja. Reishi tak bisa mentolerir alasan rumah tangga, pekerjaan tetaplah pekerjaan.

Setelah melewati pagi yang selalu sibuk, menghadapi laporan yang harus ia periksa dan mengerjakan hal-hal bodoh menurutnya. Membuat laporan hasil kerjanya dan melakukan presentasi, sangat mengukur waktu. Pulang malam saat sudah tak ada siapapun. Tapi kali ini ia tidak akan makan mi instan dan bir seperti sebelum-sebelumnya. Setiap malam untuk mengobati lelahnya ia ingin bermanja-manja dengan orang yang sudah pasti tertidur lelap jika lewat tengah malam.

Maka Saruhiko tak sabar menunggu hari liburnya saat kondisi Misaki juga lebih membaik. Luka di kakinya sudah tertutup, dan jahitan diperutnya masih dilindungi kapas. Setelah makan malam dan selesai dengan aktifitas hari ini, Saruhiko berencana mengantar Misaki pulang ke rumahnya esok hari seperti janjinya.

"Hei! Dimana kau menyentuhku, bodoh!" Misaki menepis tangan Saruhiko kasar ketika tanpa sengaja lelaki itu menyentuh bagian lain di bawah perut Misaki.

"Ha?" Saruhiko memandangnya aneh, "-kenapa wajahmu malah merah begitu?" ia tersenyum sinis seperti bisa membaca apa yang ada dipikiran Misaki.

"Bodoh, aku ingin tidur."

Misaki mengambil posisi nyamannya di kasur besar itu. Menyelimuti dirinya dan mengabaikan Saruhiko yang nampak miris menatapnya. "Hei, kapan luka bodohmu ini sembuh?" Saruhiko berbaring di sampingnya setelah menyimpan kotak kesehatannya. Misaki hanya diam, mana ia tahu lukanya itu kapan pulih total?

Saruhiko mematikan lampu, sudah memeriksa semua jendela sejak sore lagipula di lantai tujuh hanya ada satu balkon di apartemennya.

"Misaki-"

"Hm…."

Saruhiko menghadap pada punggung lelaki yang tubuhnya tak lebih besar darinya itu. Ia ingin orang itu membalas tatapnya juga. "Besok aku ingin menyewa DVD mungkin,-" ujar Saruhiko lagi mengatakan idenya.

"Tentu-" Misaki setuju untuk menemaninya.

"Hei Misaki,-" Saruhiko memanggilnya lagi.

"Bisakah kau berhenti dengan Misaki! Misaki! Misaki" menoleh kesal, terlihat kerutan di kedua alisnya. Saruhiko tertawa beranggapan reaksinya lucu. Saruhiko mendekatkan tubuhnya menyentuh wajah Misaki yang luka lebamnya sudah menghilang tersisa sedikit luka gores di wajah. "Bisakah aku memperkosamu?"

"Mati kau! Cabul!" Misaki menendang pelan kaki Saruhiko dari dalam selimut membuat lelaki itu tertawa lagi.

"Hah?"

Saruhiko duduk di ranjangnya, membuka ponsel dan mengecek beberapa pesan.

"Kau benar-benar mencintai pekerjaanmu ya." tanpa menoleh, Misaki memikirkan sesuatu yang ia tak tau cara menyampaikannya tanpa perlu memancing perdebatan.

"Hmm?" Saruhiko menutup ponselnya.

"Ah, itu karena yang kau layani memang rajamu yang sebenarnya." Misaki mencoba memejamkan mata. Memeluk bantalnya sendiri memunggungi Saruhiko yang menatapinya. "Apa-apaan ini Misaki?" ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, bermaksud memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu. Selalu sangat hangat dan nyaman.

"Apa kau cemburu jika aku mengurusi pekerjaan saat aku bersamamu-" sedikit kasar ia membalik tubuh Misaki yang kini jadi betemu tatap dengannya. "Apa kau gila? Aku bahkan tidak suka padamu." Misaki menepis tangan Saruhiko tak terlalu keras dan usahanya itu gagal. Melihat Misaki yang kesal memang sangat sesuatu sekali.

"Berada sedekat ini denganmu yang mengingat semuanya membuatku sedikit ..." Saruhiko memincingkan senyum sedikit senang dan tergelitik berbuat hal nakal lainnya.

"Apa sebenarnya yang kau lakukan, bodoh sekali membuatku beranggapan kita adalah…." Misaki memalingkan wajah, sedikit bertemu manis sekali di kulit tubuhnya yang jadi kecoklatan itu. Saruhiko tahu yang ia lakukan kemarin adalah hal yang sangat konyol dan sia-sia.

"Hah,-" Saruhiko duduk sedikit menjauhi Misaki seperti ingin beranjak dari tempat tidurnya. "Aku tidak ingin meminta maaf lebih dulu, tapi karena kau terlihat sedih dan seperti menungguku memulainya jadi, maafkan aku." Saruhiko memunggungi Misaki yang juga tak ingin menatap ke arahnya. Menatap ke arah lain tak berani saling mengatakan kejujuran. Sesuatu yang dekat padahal sebegitu jauhnya, sesuatu yang jauh dan bermimpi sampai ke tempat yang sama.

"Kita memang bukan lagi teman,-" Saruhiko menundukan wajahnya memikirkan kalimatnya dengan benar. "-juga bukan musuh ku rasa." Misaki mencoba untuk duduk ia seperti tau pembicaraan mereka semakin serius. Saruhiko menoleh mendapati Misaki yang memandangnya dengan wajahnya yang selalu nampak bersinar itu, keyakinan atau kepercayaan yang pernah ia tinggalkan.

Meninggalkan sesuatu itu bukan berarti mengkhianatinya.

"Kau terlihat sangat jauh,-" Misaki mengalihkan pandangannya lagi, ia terlalu gugup menatap wajah yang selalu nampak menyebalkan baginya itu. Sedikit ingatan terakhir yang paling menyakitkan, ia sadar Saruhiko yang tak pernah kembali lagi ke Homra. Tak pernah lagi memanggil namanya, tak pernah lagi mengirim pesan padanya itu adalah waktu yang paling memberikannya sedikit sesak mengentalkan aliran darah yang mengaliri raganya. Ia memiliki begitu banyak teman, namun selalu terasa kurang sangat berbeda dengan hubungan yang ia miliki di masa sekolahnya. Tapi bodoh sekali tak ada gunanya menyesali tanaman yang sudah mati.

"Jika kau tidak bergerak ke mari, aku akan tetap sejauh ini." Saruhiko membuka suara. Misaki mengurungkan niatnya mendengar ucapan Saruhiko.

"Hmm, aku tidak mengenalmu."

Mendengar ucapan Misaki, melihatnya yang seperti biasa. Acuh, paling tidak untuk orang seegois Saruhiko ia bisa menggolongkan Misaki ke orang-orang yang cukup egois. "Jadi? Sekarang setelah kau tau siapa aku, kau mengingat semuanya dengan benar. Bukan temanmu, bukan musuhmu, lalu aku ini apa bagi-" Ucapan Saruhiko terhenti mendapatkan sebuah bantal melayang tepat ke wajahnya menjatuhkan kacamatanya ke lantai. Tidak pecah, namun ia yakin pasti ada bagian yang tergores. Sama seperti hatinya di masa lalu.

"Bukan teman, bukan musuh kau itu hanya orang asing. Orang yang tak ku kenali,-" Misaki menatapnya dengan serius namun ia menahan dirinya agar tetap tenang. "-orang yang baru ku temui, memiliki ingatan yang sama tentang kita. Kau memberikan ingatan baru lagi dan lagi namun tetap aku tak pernah bisa mengenal dirimu."

"Itu membuatku takut."

Misaki menatap lurus, seperti berusaha menemukan sesuatu pada manik shapire biru itu. Sementara Saruhiko hanya mematung tidak bisa mengatakan apapun. Ia tahu, ada sesuatu yang tak ia kenali dalam dirinya sendiri.

Chap 8