Saruhiko X Misaki

[K] Project - SPEICHERN

Last Part

zZenSan

Hanya butuh beberapa tahun untuk seorang belajar bicara dan butuh seumur hidupnya untuk menjaga bicaranya. Manusia itu bodoh, mereka bicara setiap hari bisa saja melupakannya dengan mudah hal sepele yang ia bicarakan. Padahal sebenarnya bagi beberapa orang itu bukanlah hal terlupakan, entah menyakitkan atau membahagiakan.

Misaki masih menatap Saruhiko yang sedikit aneh memandangnya dengan cara seperti itu. Ia tidak bisa menyimpulkan apapun dari kalimat Misaki, ia hanya mendengarnya dan demikianlah. "-kau memang tak mengenalku." Saruhiko tersenyum sedikit lirih dengan warna matanya yang biru itu Misaki bisa melihat refleksi dirinya disana. Saat seseorang yang ia kenal dimasa lalu itu hanya seperti oasis yang terlihat nyata padahal sangat berbeda.

"Kita tidak bisa lagi menjadi teman atau musuh. Sejak awal kita hanya orang asing yang menghabiskan waktu bersama dan memiliki kenangan yang sama." Saruhiko hanya mengulang apa yang ia dengan memahami bagaimana Misaki melihatnya selama ini. Ucapannya terdengar tenang, berusaha menyembunyikan kebimbangan dengan diam.

"Jika kau melihatku seperti itu aku akan memukulmu." Misaki membuang wajahnya tak ingin melihat Saruhiko yang seperti, ah sudahlah. Saruhiko seharusnya menentangnya, seharusnya ia melakukan apa yang ingin ia lakukan seperti biasanya keras kepala dan egois. Membiarkan semua dalam kendalinya, jika Saruhiko kembali seperti dirinya yang dulu. Tak mengenal Merah ataupun Biru, membiarkan Misaki berkeliaran di kehidupannya dan menguasai alam sadar dan ilusinya. Waktu-waktu berharga itu baru di sadari setelah melewatinya. Selalu seperti itu.

"Apa kau membenciku?" Saruhiko tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya akan selalu salah apapun yang ia lakukan. Misaki tak bicara apapun juga enggan memberi jawaban.

"Hmm.."

"-jika kau diam, aku tidak akan tahu bagaimana maumu yang sebenarnya. Kita bukan lagi anak sekolah yang saling mempertahankan ego masing-masing. Aku tidak akan mengalah, bahkan jika kau memintanya aku hanya-" Saruhiko bermaksud meraih jemari yang tergeletak di sisinya itu. Mendekati Misaki, wajahnya yang tak berubah. "Kau harus berkaca sebelum mengatakan itu padaku,-" Misaki menolak diperlakukan semesra itu, membuatnya hanya tersipu malu.

"Jadi? Menurutmu aku ini apa? Jangan melihatku seperti aku ini hanya pembuat masalah, ah maksudku aku memang hanya membuat macam-macam masalah. Tapi kau selalu senang melibatkan dirimu dan itu membuatku kesal, kau sudah meninggalkan Homra begitu saja, meninggalkanku dan mengkhi-" ocehan Misaki yang cepat, bicara sebelum memikirkannya itu terhenti dibungkam satu kecupan. Misaki tahu, mereka bukan teman, bukan juga dalam hubungan yang lebih serius kan?

Misaki tak bergeming, teman tidak melakukan hal semacam itu. Teman tidak tidur bersama, dan hal ini dan hal itu. Teman tidak akan menciptakan perasaan yang busa mengganggunya siang dan malam.

"Bodoh sekali kau selalu berfikir aku mengkhianatimu. Pergi atau tetap di Homra aku akan akan tetap jadi seperti ini." Saruhiko kembali pada sifatnya yang pandai memanipulasi perasaannya sendiri. Ia yang dulu ataupun yang sekarang itu tetap sama, "-jika kau menjadi terlalu bersinar di Homra, dan aku tetap di sana. Aku akan buta karena silaunya." Saruhiko mengusap pipi yang masih tertinggal beberapa bekas luka di sana. "Apa? Apa maksudmu?"

Saruhiko tersenyum mendekatkan wajahnya, tanpa kacamatanya ia bisa lebih dekat dengan Misaki begini. "Kau bodoh sih? Makanya tidak mengerti ku jelaskan bagaimanapun."

"Diam!"

Antara malu dan kesal Misaki berusaha menyembunyikan wajah bersemunya.

"Bisakah aku menciummu lagi?"

Misaki menutup mulut Saruhiko, ia benar-benar malu. Ia tak suka diperlakukan seperti ini, "hmm…" membuat ucapan Saruhiko hanya jadi gumaman. "Kau sudah membohongiku,-" Misaki menjauhkan dirinya sedikit. "Kau membuatku melakukan ini itu sampai aku berfikir kau dan aku adalah." ia menghentikan ucapannya, yang justru membuat Saruhiko semakin senang menggodanya karena sikap malu-malunya itu.

"Hm.. Jadi kau masih kepikiran soal itu ya." seringai kemenangan seperti berhasil membuat Misaki mengatakan hal itu.

"Jika menurutmu kita butuh status yang lebih untuk melakukan ini dan itu, aku tidak keberatan." Saruhiko tersenyum, manis sekali penuh makna dan bagai menyimpan niat jahat.

"Hn.. Bodoh! Jangan bicara aneh begitu." Misaki menghalangi wajah Saruhiko yang mendekatinya. "Kau tidak tahu apa-apa, jangan dekat-dekat." Misaki menolak ia tak tahu lagi kapan waktunya serius atau bercanda, yang jelas sejak tadi ia sangat serius.

"Aku tahu, jika itu tentangmu aku tahu semuanya. Aku tahu kau menyukaiku, aku tau kau ahmmm.." Misaki menutup mulut Saruhiko dengan telapak tangannya, tak ingin mendengar hal yang bisa membuatnya malu.

"Jangan mengatakan hal memalukan begitu."

Saruhiko menyingkirkan tangan itu dengan lembut, Misaki kini tak menghindar mendapat kecupan dari lelaki itu. "Saru-"

"hmm, sekarang kau berharap aku melakukan lebih padamu?" goda Saruhiko yang berakhir mendapat tendangan di perutnya membuatnya hampir terjungkal. "Ku bilang jangan lakukan hal mesum padaku. Dasar cabul!" Misaki memalingkan tubuhnya menyembunyikan diri dalam selimut menahan malu, setengah horny.

Saruhiko mematikan lampu meja dan mengambil posisi nyaman nya memeluk Misaki dari belakang memastikan ia tak menyentuh luka di tubuh Misaki. "Kau terluka parah sekali, melihatmu hampir mati rasanya menakutkan sekali." Saruhiko merengkuhnya, tak erat namun cukup hangat. "Kau pikir aku akan mati dengan mudah."

Saruhiko melayangkan pikirannya kemasa lalu, setiap waktu hanya pertengkaran demi pertengkaran yang ia ingat.

"Kau itu hanya lilin kecil yang menerangi suatu tempat tapi bisa saja padam kapanpun." Gumam Saruhiko sebelum akhirnya ia tertidur pulas. Getaran ponsel tak membuatnya terbangun, Misaki yang memejamkan mata sejak tadi sebenarnya tidak tertidur. Rupanya memiliki seluruh ingatannya membuat dirinya jadi berfikir lebih berat sebelum mengambil tindakan. Mengetahui apa saja yang telah ia lalui, ia akan berfikir dua kali sebelum mengambil keputusan seperti itu.

"Bisakah aku dan dirimu membuat banyak ingatan baru?"

Suara gemerisik angin menari, dan cahaya bulan yang hanya separuh karena diselimuti awan. Udara malam yang dingin dan suasana yang sepi, Misaki jadi ingat Saruhiko pernah bilang malam adalah waktu yang paling ia sukai. Perlahan menautkan jemarinya, tangan Saruhiko terasa dingin seperti biasanya. Jika itu tentang Saruhiko, ia tahu semuanya. Tetapi ia masih bisa bilang ia tak mengenal lelaki kolot menyebalkan ini, senangnya membuat orang lain kesal.

Misaki memutar tubuhnya, menyembunyikan wajah dalam selimut. Lilin kecil yang membakar dirinya hingga habis menerangi sebuah tempat. Kadang butuh telapak tangan untuk melindunginya dari angin dan hujan. Cahaya yang setitik dan berkerlip di kejauhan itu, kini bertambah banyak menjadi titik-titik cahaya. Mimpinya soal Mikoto san, ia hanya memulai perjalan baru menjadi api yang tak akan pernah padam lagi. Warna merah yang selalu membuatnya membara, kekuatan penghancur untuk melindungi orang-orang. Sepertinya ia sudah mulai mengerti maksud ucapan Mikoto padanya di masa lalu. Ia sadar betapa kekanakannya ia dimasa itu.

Ia sangat membenci Saruhiko yang memuakkan, sampai ia hanya dikuasai kebencian. Di kuasai oleh Saruhiko sepanjang waktu, memalukan sekali. Saat seseorang meninggalkanmu bukan berarti ia mengkhianatimu. "Baka Saru-" Misaki membalas pelukan yang hangat itu, seandainya saja ia bisa kembali ke masa lalu kemudian mengatakan apa yang ia rasakan tanpa sedikitpun beban.

Ah tidak sekarang atau di masa lalu bahkan di kemudian hari, ia tahu ialah yang paling tak mengenal isi hatinya sendiri. Bagaimana lagi, ia hanya bisa mengakui dirinya itu bodoh.

oOo

Pagi tiba begitu cepat, rasanya nyaman sekali saat tertidur pulas karena kelelahan.

"Ah? Kau tidak bekerja?" Misaki mendapati Saruhiko duduk membaca koran di meja makan dengan secangkir kopi dan roti panggang.

Sarapannya sendiri juga sudah tersaji di sana. "Aku libur sampai besok. Ah tidak ini jatah liburanku, memangnya aku ini robot ingin dipekerjakan sampai mati."

"Hehehe, orang jahat sepertimu tidak akan mati hanya karena pekerjaan seperti itu." Misaki tersenyum, membuat Saruhiko terdiam memandanginya yang tak tahu betapa berserinya wajahnya itu. "Misaki, kau pendek sekali astaga."

"Hah? Kau mengajakku berkelahi pagi-pagi begini." Misaki memakan sarapannya dengan cepat, setelah itu berniat mengganti perbannya.

"Kenapa kau senyum-senyum begitu?" Misaki semakin kesal, ia berfikir ada hal yang lucu darinya hingga membuat Saruhiko tertawa. "Ah tidak, minumlah." Saruhiko membantu menuangkannya teh dan memberikan cangkirnya.

"Bagaimana kakimu?" Saruhiko sedikit khawatir, Misaki hanya diam ia baik-baik saja.

"Ah aku ingin segera menidurimu dengan sangat kasar." Saruhiko menggumam membuat Misaki hampir tersedak, sepanjang hari ia bisa mati malu mengubur diri jika ia bersama Saruhiko.

"Baka! Aku tidak akan melakukan itu denganmu lagi." Misaki meninggikan nada suaranya. "Haha, orang bodoh sepertimu memang sangat keras kepala." Saruhiko berlalu meninggalkannya ke kamar. Misaki melanjutkan makannya, ia benar-benar malu padahal. Bagaimana Saruhiko jadi sangat konyol begitu.

"Ah? Itu karena, dia hanya menjadi apa yang dia inginkan. Melakukan apa yang ingin ia lakukan." Misaki meminum tehnya dengan hati-hati. Ia tidak bisa lagi, menganggap dirinya dan Saruhiko hanya teman sudah tidak mu gkin lagi.

Semua yang sudah berlalu, maka demikianlah tidak bisa dirubah. Ia hanya perlu melanjutkan semuanya, membawa dirinya kemana dan dengan siapa ia menuju. Ia dan Saruhiko yang berjalan di jalur yang berseberangan, menuju ke ke tempat yang sama. Memikirkan itu saja membuatnya sangat merasa malu.

Hari semakin siang, Saruhiko menuntun Misaki duduk. Ia nampak sangat telaten dan lembut tak seperti ia yang biasanya.

"Apakah sangat sakit?" Saruhiko menyentuh luka di perut Misaki yang masih dilindungi kapas.

"Kadang-kadang sakit." jawabnya singkat.

Sambil mengusapnya dengan sangat hati-hati, melihat Misaki yang tak bisa bisa pergi kemanapun dengan leluasa seperti ini sangat membuatnya senang. "Hmm?" Saruhiko mengecup dahi Misaki dengan lembut, ah Misaki nampak masam orang ini mulai lagi.

"Hmpp-" Misaki membalas kecupan singkat di bibir Saruhiko membuatnya kaget. "Misaki?"

"Tch- kau pikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama padamu?" gerutu Misaki sambil misuh-misuh mengerucut bibir lucu sekali.

Saruhiko merasa tertantang sekarang, "Saru?" mendapati tatapan aneh dari si empat mata itu membuat Misaki jadi menyesal sekarang. "Aku tidak akan meminta maaf, apalagi menyesal." Saruhiko mendorong Misaki ke belakang, bersiap-siap melepas kaus yang ia kenakan.

"Saru? Kau gila. Ini masih siang!" Misaki seperti berusaha melarikan diri.

"Jadi jika malam itu tak masalah?" Saruhiko tersenyum menarik Misaki agar kembali lebih dekatnya. Maka setelah itu hal ini dan itu terjadi, Saruhiko akan membuatnya menyesal memberi umpan yang semanis itu.

"Hnn…. Ah.. Ba- baka! Dimana kau menyentuhku?" Misaki menahan sesuatu yang menyerangnya namun tak berdaya. "Kau mencoba memperkosaku?" Misaki menggeliat, "Ha? Jika ini pemerkosaan seharusnya kau melarikan diri. Jadi jika kau tetap di sini aku tak bisa menganggap ini pemerkosaan, hanya sedikit memaksa." Misaki setengah tertawa, ia benar-benar ketakutan sekarang.

"Bertindak sebelum berpikir seperti biasanya,- Mi sa...ki." Saruhiko tidak akan menaruh kasihan lagi.

"Monyet sialan! Mati kau." Misaki menyiku perutnya. "Ha? Kau pikir aku akan melepaskanmu. Mati pun, aku tidak akan melakukannya."

Sambil menahan kaki yang bisa membuat perutnya kesakitan karena tendangannya, telapak tangannya yang lain membelai surai chestnut halus yang membalut wajahnya. Ia sangat percaya diri sekarang.

"Misaki-"

Suaranya dalam, lembut, rasanya sangat nyaman berada dalam pelukannya seperti ini. Dari sudut pandang ini, Misaki bisa melihat dengan jelas kulit pucatnya, sera jemari yang selalu terasa dingin. Tatapannya sedikit sendu dengan gurat wajah yang tak bisa ia artikan. Sambil meraik lembut dagu pemuda kurus itu, Saruhiko memberi kecupan. Kali ini tak ada penolakan apalagi perlawanan, ia tersenyum kecil melihat Misaki yang bertemu malu-malu dalam dekapnya.

"Ha ahhn-" desah tertahan, jemari dingin itu menyusur kebelakang telinga sangat lembut, kecupan Saru lembut liar melumat bibir. Tangan Misaki menahan sedikit bahu Saruhiko tak terlalu kuat, ia memejamkan mata ini adalah hal yang memalukan baginya.

"Ah…" Saruhiko tersenyum lagi melepas taut lidahnya, melihat bibir mungil merekah itu membuatnya kian bergairah. Sambil menyelinap menyentuh perut yang masih dilindungi kapas putih yang batu diganti. Perlahan merambat, membuat sekujur tubuh Misaki bergidik belum mengerti sensasi yang ia terima.

"Hyah-" erangannya tertahan, sangat manis membuat Saruhiko hampir tak percaya. Dengan kaki Saruhiko yang mengganjal di pangkal paha, kelelakiannya yang ereksi sudah siap bertempur di sana.

"Saru-" Misaki menyentuh wajah Saruhiko, ia bisa merasakan tangan yang menjamahi dada. Misaki memejamkan mata, ia tak tau lagi seperti apa ekspresinya saat ini. Saruhiko kembali membungkamnya dengan ciuman, lebih kasar dari sebelumnya. Gigit kecil-kecil dan hisapan yang tak bisa Misaki sempat membalas. "Hn… Sa- ah.."

Wajah Saruhiko sangat serius, tatapannya membuat Misaki minder sendiri sampai ia meneguk ludah. Ia merasakan tangan yang bukan miliknya menggenggam kesejatiannya, gelitik yang dalam diri yang tak bisa ia tolak lagi.

"Hnn- ah…"

Entah sejak kapan celana pendeknya sudah di ujung kaki, Misaki menekuk tubuh ingin tahu apa yang terjadi. Benda asing masuk dalam dirinya membuatnya sedikit takut setengah nikmat. "Hmmpp ah.." desahnya tak lagi tertahan, matanya yang nanar itu mengundang birahi. Lengkungan alis memelas dan bibirnya yang pasi.

Saruhiko ingin membuat pasangan mainnya ini lebih senang lagi, ia sangat baik melakukan foreplay kali ini, tentu saja beberapa kali bercumbu hanya dengan orang ini ia sudah tahu apa saja yang Misaki sukai. Termasuk gigitan kecil-kecil di pucuk dadanya yang membuatnya menggelinjang sambil menggenggam lengan Saruhiko kuat-kuat.

Merasa sudah siap, ia ingin segera menggagahi orang ini sekarang juga, dengan kasar, menyentuh dengan keras sampai ia memohon untuk berhenti. Sayangnya ia tak cukup kejam untuk membuat orang yang sedang kesakitan ini sampai sebegitunya, biarlah ia simpan hasratnya itu untuk lain kali jika terjadi lagi. "Hm… Aahn.." Misaki mulai merasakan benda yang lebih besar tiba di bibir intimnya. Sambil memejamkan mata sambil menangis bukan karena sedih atau sakit, Saruhiko kembali mengecup keningnya yang mulai berkeringat. Sementara anak lelaki itu membuka mata tak kuasa menahan diri.

"Saru-" Misaki menyentuh lambang yang menghitam dengan bekas luka di tulang selangka Saruhiko sangat lembut.

"Kenapa kau diam saja, kau membuatku sedikit takut." sempat-sempatnya, ia menyadari itu. Saruhiko berkicap, ia harus konsentrasi sekarang agar bisa membuat situasi ini. Jika ia bicara pasti hanya kalimat busuk yang akan keliar, dia sendiri menyadari itu. "Katakan sesuatu, apapun." Misaki setengah merajuk, tubuhnya sedikit kaget saat tanpa aba-aba Saruhiko memulai serangannya.

"Aw… Ah.. Hn.. Ehmm.. Sa- Saru…" Misaki nampak sedikit kesakitan. Tentu saja ini sudah berapa lama sejak hari itu. Ia memeluk Saruhiko erat-erat sampai kukunya menggores punggung pucat itu. Saruhiko mulai bergerak pelan, ia mengabaikan permintaan Misaki yang ia dengar. "Saru…" Misaki memejamkan mata mengulum bibir sendiri menahan suaranya. Saat Saruhiko mendesak nya dengan dorongan yang lebih intens dalam dirinya dan membuat Misaki menangis , merasa amat malu ia menutup wajahnya dengan tangannya tak ingin desahannya semakin menjadi.

Saruhiko semakin cepat, sedikit menahan hentakan karena luka di perut Misaki akan terbuka lagi jika ia terlalu kasar. "Ha- ah.. Ah… Ah…." Saruhiko menarik Misaki agar lebih dekat denganya, Menyingkirkan tangan Misaki yang menghalangi pemandangannya. Melihat wajah yang ekstasi, airmata di pipi dan bibirnya yang sesekali menyebut namanya.

"Tch-" Saruhiko berkicap kesal, ia akan keluar dengan cepat jika Misaki semanis ini padanya.

Biasanya ia akan sangat marah dengan hal-hal yang mesum sedikit saja, tapi kali ini. Rasanya Saruhiko ingin merekamnya dan menyimpannya baik-baik. Bagaimana setetes jaringan dan precum hebat yang Saruhiko membantu memberikan handjob untuknya. Misaki menahan tangan Saruhiko, itu terlalu nikmat, ia akan ejakulasi jika terus berlanjut seperti ini. "Ah…" erangannya kian menjadi dengan wajahnya yang sudah tak karuan bercampur air mata dan keringat.

"Misaki,-"

Tempo Saruhiko semakin kuat saja dan jangkauannya lebih dalam lagi. Ia sudah tak bisa berhenti menggerbangkan pinggulnya lebih keras lagi, "Aku menyukaimu…." Saruhiko berbisik, sangat pelan namun Misaki bisa mendengarnya dengan sangat baik. Sesaat ia berhenti mendesah, matanya terbelalak tak percaya yang ia dengar. Rasanya ada api dalam perutnya yang membakar sangat panas akan membakar dirinya. Misaki berhenti menangis, reaksinya berubah mendadak membuat Saruhiko sedikit kaget.

"Apa?" Misaki ingin memastikan sekali lagi.

"Aku menyukaimu.."

Hanya dengan itu Misaki orgasme, "-apa aku bisa keluar di dalam?" Saruhiko yang masih serius karena ia belum selesai tak mendapat jawaban dari Misaki.

Kecuali wajah manis yang mengangguk pelan setengah tak sadar itu.

Gelap yang mulai datang menghadirkan bintang, suara kendaraan di jalanan yang sesekali terdengar. Misaki masih bersembunyi di balik selimutnya. Malu-malu tak berani mulai bicara, Saruhiko tertidur di sampingnya sejak siang dan belum bangun. Misaki merasakan ada sedikit rasa sakit dalam perutnya sekarang rasanya ia ingin segera mandi. Baru saja berniat pergi, tangan Saruhiko menangkapnya lemah membuatnya terhenti.

"Kau bangun?" Misaki menyentuh lembut punggung tangan itu. Sambil membuka mata lalu tersenyum kecil, "-jangan pergi." bibir pucat yang bergerak lemah itu nampak sangat rapuh.

"Hm…" Misaki kembali menyelimuti tubuhnya, mendekatkan diri pada lelaki itu. "Kau tau, kau mesum sekali-" masih dengan wajahnya yang malu-malu Misaki bisa mengatakan hal itu. Sementara Saruhiko hanya tertawa mengingat apa yang terjadi sore ini. "Kau menyelesaikannya dengan cepat, lucu sekali." Sambil terkekeh membuat teman seranjangnya itu hanya cemberut kesal.

"Kau! Arhh… Itu kan karena-. Ah!" Misaki menghentikan apa yang ia ingin katakan berlalu meninggalkan Saruhiko untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.

"Hm…"

"Dengar ya, aku tidak melakukan ini dengan orang yang tidak ku sukai." Misaki menutup pintu menuju kamar kecil sedikit cepat. Saruhiko terdiam sejenak mengartikan ucapannya, ia bisa melihat pucuk daun telinga Misaki yang merona sebelumnya. "Pfftt-" ia menahan tawa. Itu artinya.

"Misaki! Bisakah kita mandi bersama?!" seruan Saruhiko terdengar samar dari dalam kamar mandi.

"Tidak! Dan tidak akan pernah!" Balas Misaki dari dalam sana.

Setelah hari demi hari yang berganti dan apa yang mereka lalui. Waktu yang membawa kebahagiaan dan kesedihan saling mengisi membentuk harmoni, kehidupan yang berjalan begitu saja dan semua orang tumbuh hingga mati menua. Tidak ada cara lain yang lebih baik selain menghadapi semuanya dengan tangan dan kaki sendiri.

Tanpa orang yang kau cintai dunia sama sekali tanpa arti, tanpa orang yang kau benci dunia hanya padang yang tak ada apapun selain kehampaan. Siapapun orang itu, sudah menjalankan peran yang seharusnya memang ia lakukan. Mengisi kehidupan orang lain dan membuka diri untuk orang lain. Baik atau jahat seseorang itu. Bahkan sejahat apapun yang pernah ia lakukan hingga lukanya tak akan pernah bilang. Walaupun itu bukan hal yang bisa dimaafkan, jangan biarkan lukamu melukai orang-orang yang berharga bagimu.

Maka bagi Saruhiko atau Misaki yang saat ini, mengingat semua yang ada di masa lalu. Luka demi luka yang mereka berikan dan terima, cukup menyimpannya sendiri untuk menjadi lebih bijaksana. Ah mungkin bagi beberapa orang itu hanya hal naif yang memuakan. Tetapi jika kau benar-benar jatuh cinta, kau tidak akan menyakitinya dan menyakiti dirimu sendiri. Jika memang benar itu adalah cinta, tidak akan ada yang terluka. Karena sebagian orang tidak bisa membedakan perasaan ingin memiliki dan ingin membahagiakan.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa ada yang lucu?" meja makan yang kini ia tak sendiri makan di sana. Saruhiko sesekali tersenyum sendiri membuat Misaki sedikit aneh memperhatikannya. "Misaki, habiskan sayuranmu!" Saruhiko mengalihkan pembicaraan mereka.

"Ha? Kau yang suka pilih-pilih makanan."

Tidak ada lagi merah, tidak ada lagi biru jika api itu akhirnya hanya membakar semuanya hingga tak bersisa. Mengantarkannya menjadi abu. Saling menyakiti tidak akan menyelesaikan apapun. Setiap orang akan menjadi tua seiring waktu, itu tak menjamin mereka menjadi dewasa.

Setelah itu, pertengkaran demi pertengkaran atau kebahagiaan yang mereka lalui seperti hari-hari lainnya. Silih berganti saling mengisi dan separuh jiwa yang pernah lagi hilang telah ditemukan. Separuh kehidupan yang bersembunyi di kemunafikan tidak akan berada disitu selamanya. Cinta itu datangnya dari kebiasaan, karenanya beberapa orang tidak bisa membedakan cinta dan sekedar sayang. Bahkan dari pertengkaran pertengkaran yang terlihat konyol.

Misaki sesekali mencuri pandang pada Saruhiko. Sudah waktunya saling menerima, semua orang akan terus melakukan kesalahan seumur hidupnya. Tindakan baik atau buruk yang akan di tentukan di kemudian, akan mengantarkan masing-masing dari kita menuju hal yang sama yaitu masa depan.

Sudah saatnya buku dari masa lalu di simpan, dan memulai buku yang baru untuk pelajari kembali.

SPEICHERN - END