Tittle : GIVE ME A CHANCE (Sequel)

Cast : DBSK and other

Gernre : ANGST/HURT/COMFORT

Before~

"aku bisa memperbaikinya, Jae" bujuk Yunho.

"itu semua percuma, kau tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah hilang dariku, Jung. Kumohon pergilah dari hidupku. Jangan pernah kau ganggu hidupku lagi" lagi, Jaejoong memberikan note terakhirnya pada Jaejoong dan berjalan menjauh meninggalkan namja bermata musang yang terdiam dan tak dapat melanggar kata-kata mutlak yang Jaejoong tulis.

Mata besar itu tak lagi mengeluarkan airmata, melainkan mata musang dibelakang sanalah yang menitikan airmatanya menatap, punggung orang yang telah dirusaknya dan pergi meninggalkannya menimbulkan jarak yang semakin lama semakin jauh memisahkan keduanya.

BIP BIP BIP BIP

Alarm dalam sebuah kamar berbunyi nyaring, membuat pemilik kamar terbangun dan memandang kearah jam weker yang terpajang dimeja nakas sebelah kasurnya. namja berbibir cherry bangun dari tidurnya dan merenggangkan otot-ototnya. Dia terdiam, merenungi nasipnya, biasanya setelah bangun tidur bersiap untuk bersekolah, namun beberapa hari belakangan ini berbeda. Kenyataan pahit di terimanya, dikeluarkan dari sekolah, karena hamil dan sekolah tidak mau mendapat predikat buruk karenanya. Jaejoong, namja yang mulai kehilangan senyumnya itu keluar kamar dan menuruni tangga menuju dapur. Pagi-pagi sekali sebelum seisi rumah, yakni umma dan appanya bangun Jaejoong sudah menyiapkan sarapan. Setelah selesai, Jaejoong akan kembali kedalam kamarnya meskipun kedua orang tuannya belum bangun. Begitu yang Jaejoong lakukan selama, dia masih merasa seperti diasingkan oleh sang appa. Masih sama, sang appa masih tidak mau meladeninya atau bahkan menyapanya. Berbeda dengan ummanya yang selalu mendorongnya untuk tidak terus merasa terbebani karena kejadian sebelumnya.

CEKLEK

Pintu kamar Jaejoong terbuka, menampakan umma Kim yang berdiri di ambang pintu. Jaejoong yang saat itu sedang duduk berdiam di pinggir ranjang langsung menoleh kearah umma Kim.

"Joongie memasak lagi? Kenapa tidak turun dan makan bersama?" ucap umma sambil menghampiri Jaejoong dan mengusap kepalanya.

Jaejoong jauh lebih pendiam, hanya mau menjawab sesekali dengan bahasa isyaratnya. Seperti biasa umma Kim membujuk Jaejoong yang seperti tidak ingin bertemu dengan appanya. Bukan tidak ingin bertemu, tapi dia tidak tahan melihat sikap dingin yang selalu ditunjukkan appa Kim padanya. Semenjak kejadian itu appa Kim sama sekali tidak pernah menatapnya dengan sayang seperti dulu. Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan menolak secara halus ajakan umma Kim. Seperti hari-hari sebelumnya, Jaejoong akan turun kebawah untuk sarapan setelah appa Kim pergi bekerja.

"Joongie, umma mohon jangan seperti ini, chagi. Umma akan bicarakan ini lagi dengan appamu, sekarang kita turun ne?" Jaejoong melihat sang umma. Umma Kim menganggukan kepalanya memberi keyakinan pada putranya.

Jaejoong pun menganggukan kepalanya. Umma Kim menggandeng Jaejoong keluar kamarnya. Tapi Jaejoong lebih memilih berjalan sedikit di belakang ummanya karena masih merasa takut pada appanya. Terlihat appa Kim yang sudah duduk dimeja makan dengan pakaian kantornya sedang membolak balik lembaran Koran dan sesekali meminum teh hangat di mejanya. Umma Kim dan Jaejoong duduk di sebelah kanan dan kiri appa Kim. Tapi Jaejoong malah menundukukan kepalanya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut appa Kim, dia hanya melipat Koran dan memulai sarapannya.

"kau tahu yeobo? Selama ini Joongie yang memasak semuanya" ucap umma Kim tiba-tiba.

Appa Kim yang mengira sarapan yang selama Jaejoong pulang kerumah, itu semua adalah adalah buatan sang istri, tapi dengan tiba-tiba umma Kim mengatakan bahwa itu adalah buatan Jaejoong. Sontak appa Kim menghentikan makannya kemudian beranjak bangun dan mengambil tasnya.

"aku selesai, aku berangkat" ucap appa Kim dan berbalik untuk meninggalkan meja.

Jaejoong mendongakan kepalanya dan bangkit menghentikan appanya dengan menahan tangannya, appa Kim menengok. Wajah Jaejoong berubah sendu.

"Tidak bisakah kau menghargai apa yang lakukan Joongie?" ucap umma Kim yang langsung bangkit dari kursinya.

Melihat pembelaan yang dilakukan oleh ummanya. Dengan perlahan dan sedikit gemetar Jaejoong menggerakkan tangannya untuk pertama kalinya pada appa Kim semenjak dia pulang 'kumohon appa, makanlah bersamaku, jangan acuhkan aku seperti ini terus. Bisakah kau kembali seperti dulu, appa?'

Appa Kim menghembuskan nafasnya. Melihat Jaejoong memohon dengan menggerakan tangannya dengan ragu, membuatnya merasa bersalah, bagaimana pun, putra semata wayangnya menjadi bisu seperti ini karena dirinya. Namun Jaejoong yang beranjak dewasa dan mengetahui hal yang menimpa dirinya dan keluarganya dulu, tidak pernah sekalipun Jaejoong menyalahkan appanya, Jaejoong hanya menjawab dengan senyuman dan isyarat bahwa dirinya tidak apa-apa dengan kondisi seperti ini.

-Flash Back-

"Joongie sayang pelan-pelan minumnya" ucap umma Kim sambil memegangi botol susu Jaejoong yang saat itu masih berusia 2 tahunan.

Jaejoong kecil asik sendiri dengan botolnya di pangkuan umma Kim. Appa Kim sendiri tengah fokus pada kemudi. Hari itu keluarga kecil Kim hendak pergi berlibur ke kebun binatang berhubung appa Kim sedang libur. Jaejoong kecil dengan pipi gembil itu membuat umma Kim tidak bisa melepaskan pandangannya dari putra kecilnya.

"mmm… hah abiiissyyy" ucap Jaejoong kecil sambil melepas botol susunya.

"habis? Lihat ini perut siapa besar sekali" umma Kim menggelitik perut Jaejoong.

"ahahaha.. mma deeellliii…" kikik Jaejoong memegangi perutnya dan menahan tangan umma Kim.

Appa Kim langsung menoleh, dan tersenyum melihat istri dan anaknya tanpa sadar dia melupakan posisinya yang tengah mengemudi. Saat umma Kim melihat kedepan

"YEOBO AWAS!" teriak umma Kim.

Appa Kim yang kaget dan tersadar, melihat ada sebuah truk yang melaju kencang di depannya, appa Kim langsung membanting stir dan naas. Mobil minibus yang mereka tumpangi justru menabrak minibus yang juga muncul tiba-tida. Mobil mereka terguling Jaejoong kecil terpental keluar dan terguling di tengah jalan dengan tubuh dan mulut mengeluarkan darah. Tidak jauh berbeda dengan pasangan Kim yang sudah tidak sadarkan diri dalam minibusnya, termasuk dengan beberapa orang yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.

Sejak kejadian itu dokter mengatakan bahwa telah terjadi kerusakan fatal pada pita suara Jaejoong. Dan membuat keluarga Kim terpukul, terlebih dengan appa Kim yang sangat-sangat merasa bersalah dengan apa yang menimpa putra kecilnya.

-Flash Back End-

Appa Kim masih melamun dan memandang Jaejoong. Pikir Jaejoong appanya tidak mau makan bersama dengannya. Jaejoong kembali menggerakan tangannya 'gwaenchana, jika appa tidak mau makan bersama Joongie, Joongie akan dikamar sampai appa selesai sarapan' Jaejoong menyudahi ucapan dengan gerakan tangannyanya dan berbalik menuju kamarnyadengan gontai.

Appa Kim masih berdiam diri larut oleh lamunannya sendiri. Umma Kim menghampiri sang suami dengan mata yang berkaca-kaca.

"kau keterlaluan, tidak bisakah kau menerima ini semua? Jika Joongie bisa memilih ia juga tidak mau seperti ini" desis umma Kim pada suaminya. "sadarlah!" teriak umma Kim sambil menggoyangkan lengan sang suami.

Seketika appa Kim tersadar dan mengusap kasar wajahnya. Umma Kim yang sudah kesal meninggalkannya dan menuju kamar Jaejoong. Appa Kim kembali duduk dan memijat keningnya. 'apa yag sudah aku lakukan, pada anakku sendiri, ya Tuhan' ucap appa Kim dalam hati. Dilihatnya kamar Jaejoong yang sedikit terbuka. Seketika wajahnya berubah sendu. Tapi egonya masih bertahan tidak menerima keputusan putranya saat itu. Appa Kim memilih untuk berangkat ke kantor.

.

"Joongie.." umma Kim menghampiri Jaejoong yang menangis dalam diam. "sudah chagi, appa hanya masih dalam emosi yang tidak stabil, maafkan dia ne?" ucap umma Kim yang langsung memegang pundak Jaejoong.

'aniyo umma, ini salah Joongie, appa seperti ini karena Joongie, mian umma Joongie tidak berguna' ucap Jaejoong dengan bahasa isyaratnya dan memandang sang umma dengan wajah basah.

"tidak ini bukan salahmu, umma mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri" sambil menangis umma Kim langsung memeluk putranya. Jaejoong semakin terbawa emosinya yang memuncak dan menangis meluapkan seluruh kesedihannya dipundak sang umma.

.

Di luar rumah, seseorang dengan mata musangnya tengah memperhatikan rumah Jaejoong. Yunho pemilik mata musang itu turun dari motornya dan memasuki halaman rumah Jaejoong. Cukup lama Yunho berdiri di depan pintu dan hendak memencet bell, namun mengurungkannya. Yunho meletakan sebuah bucket bunga di depan pintu dan pergi begitu saja meninggalkan kediaman Kim.

Yunho melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi sampai berhenti di suatu tempat yang sudah menjadi kebiasaannya melepas penat terutama pada kehidupan keluarganya. Yunho duduk dibawah sebuah pohon maple. Menutup matanya, dalam beberapa menit wajah Jaejoong yang tengah tersenyum muncul begitu saja. Bibir hati itu terseyum, tapi beberapa detik mata musang yang terpejam itu terbuka, wajah dalam bayangannya berubah sendu. Penyesalan Yunho dimulai saat pemilik wajah tersebut dikeluarkan dari sekolah terlebih karena perbuatannya Jaejoong kehilangan bayinya yang berarti juga anaknya. Bagaimanapun juga ada rasa penyesalan sebagai seorang appa yang seharusnya bertanggung jawab, bukan membuat calon anaknya pergi. Jika saja bukan karena kondisinya yang sedang emosi dan Jaejoong sudah tidak ada di sekolah siang itu mungkin ini tidak akan terjadi.

-Flash Back-

Suasana sekolah sudah sepi sejak beberapa jam yang lalu, Yunho yang setelah bell menandakan pelajaran telah berakhir belum meninggalkan kelasnya. Cukup lama Yunho, duduk didalam kelasnya melihat kearah luar dari lantai 3 gedung sekolah. Merasa bosan, Yunho mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas, tanpa diduga dirinya melihat Jaejoong yang baru saja keluar dari dalam ruang perpustakaan tanpamenyadari kehadirannya. Entah setan apa yang yang merasuki Yunho, sehingga saat melihat Jaejoong di hadapannya dan berjalan menjauh, Yunho mengikutinya hingga masuk ke dalam sebuah kelas yang dia ketahui itu adalah kelas Jaejoong, dan disanalah Yunho melampiaskan semuanya pada Jaejoong yang sama sekali tidak tahu apapun.

-Flash Back End-

Yunho pikir, dia akan melakukan tindakan dengan mengakui bahwa dialah orang telah membuat Jaejoong terjerembab dalam masalah. Tapi Yunho pikir tidak semudah itu untuk melakukan pengakuan, katakan kalau dirinya pengecut. Terlalu takut, bahkan Jaejoong sendiri telah mengatakan untuk pergi dari kehidupan namja manis itu. Yunho merebahkan tubuhnya pada rumput yang di penuhi oleh guguran daun maple dan memejamkan kembali matanya hingga larut kedalam mimpinya.

.

Pintu rumah Jaejoong terbuka dari dalam, menampakan wajah cantik yang saat ini terlihat suram. Jidatnya berkerut mendapati sebuah bucket bunga lily di depan pintunya. Jaejoong mengambilnya dan mencari siapa pengirim bunga tersebut. Pasalnya tidak ada nama pengirim. Jaejoong kembali masuk mencari sebuah vas bunga kosong dan meletakan bunga itu. Lama Jaejoong memandangi bunga itu 'apa Yunho yang memberikan ini?' ucap Jaejoong dalam hati. Sebenarnya hati Jaejoong tidak yakin bahwa Yunho yang menyimpan bunga tersebut di depan pintu rumahnya. Pasalnya Jaejoong telah menolak Yunho mentah-mentah, tapi jika bukan Yunho, orang bodoh mana yang akan meletakan bunga itu. Jaejoong baru ingat, dirinya masih belum berkomunikasi dengan Junsu, hari ini dia memutuskan untuk pergi kerumah Junsu. Biasanya Junsu akan langsung pulang jika sudah selesai sekolah.

.

Jaejoong menekan bell lrumah Junsu. Junsu sedikit menyikap gorden yang menutupi jendela untuk mengintip dari dalam siapa yang menekan bell rumahnya. 'Joongie' ucapnya dalam hati dan kembali menutup gorden tersebut dan menyandarkan tubuhnya pada tembok. Junsu memejamkan matanya, sebenarnya dirinya merasa bersalah pada Jaejoong karna telah memperlakukannya seperti ini, meninggalkannya ketika Jaejoong dihadapkan oleh cobaan terberatnya. Namun Junsu juga tidak bisa terus bersama Jaejoong, pasalnya Junsu sudah mengetahui desas-desus bahwa Jaejoong akan di keluarkan dari sekolah, dan itu artinya tidak ada teman lagi untuk Junsu, dan Junsu bisa di sudutkan sendirian oleh penghuni satu sekolah, dan Junsu tak mau hal itu terjadi padanya.

"Nona, kenapa tidak dibuka pintunya?" tanya Lee ahjumma yang memandang bingung Junsu.

"ah Lee ahjumma, tolong katakan pada orang diluar sana jika aku sedang tidur dan tidak bisa diganggu ne?" ucap Junsu membuat yeoja tua yang sudah bekerja di rumahnya sejak Junsu kecil itu merasa bingung.

"memangnya siapa yang datang, Su-ie?" Lee ahjumma memang sudah biasa memanggil Junsu dengan sebutan itu karena Junsu sendiri yang memintanya. Junsu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian Le ahjumma ikut mengintip dan dia terkejut dengan orang yang berada diluar. "tapikan, itu Joongie? Kenapa kau tidak menemuinya?" lanjut Lee ahjumma.

"aku sedang tidak ingin ahjumma" ucap Junsu pelan. "kumohon temui dia dan katakan aku tidur dan tidak bisa di ganggu" ucap Junsu lagi.

"tapi kenapa? Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Lee ahjumma bingung.

"kumoho ahjumma~"

"ne, baiklah" ucap Lee ahjumma pada akhirnya dan membukakan pintu. Junsu masih setia memperhatikan dari dalam.

"Joongie?" tanya Lee ahjumma kemudian Jaejoong menganggukkan kepalanya.

Jaejoong langsung menulis pada note yang dibawanya. 'apa Junsu ada didalam ahjumma?'

"ah, Junsu baru saja tertidur, sepertinya dia terlihat lelah sekali"

'bisa tolong bangunkan dia ahjumma? Katakan aku menunggunya, chebal'

"ahjumma tidak berani membangunkannya, jika diganggu dia akan marah padaku" ucap Lee ahjumma bohong dengan wajah yang dibuat memelas.

'baiklah, tapi jika dia sudah bangun katakan padanya ya ahjumma, kalau aku kesini dan aku ingin bicara dengannya nanti'

"ne, nanti akan ahjumma sampaikan" Jaejoong langsung membungkukkan badannya dan berbalik menjauhi pintu itu.

Sebentar Jaejoong memandang kebelakang dan melihat pada gorden tempat Junsu bersembunyi. Junsu yang kaget melihat Jaejoong berbalik langsung menutup gorden itu. 'aku tau kau pasti masih marah, tapi aku ingin menjelaskannya padamu Su-ie' ucap Jaejoong dalam hati dan menitikan air matanya kemudian menjauh dari rumah Junsu.

.

Jaejoong berjalan sendiri dengan wajah yang murung dan sedikit melamun. Dia berjalan menuju taman kecil tempat biasanya dia bermain bersama Junsu. Junsu hanya Junsu sahabat yang dia punya, dan Jaejoong tidak ingin kehilangan Junsu. Baik Junsu maupun Jaejoong sudah seperti saudara yang melepas canda, tawa, sedih dan susah. Tapi sekarang Junsu menjauhinya, Jaejoong tidak tahu harus berbuat apa selain menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Jaejoong juga di liputi kebingungan kenapa Junsu tiba-tiba saja menjauhi dirinya.

Jaejoong duduk di sebuah ayunan yang dapat diisi oleh dua orang. Biasanya akan ada Junsu yang duduk di sebelahnya. Kali ini berbeda. Jaejoong terdiam dan wajahnya yang dapat sulit diartikan bagaimana perasaannya saat ini. Kakinya terayun bebas menemani kesepiannya di taman itu.

Hingga hari mulai gelap Jaejoong masih setia ditempatnya. Sebenarnya Jaejoong berharap Junsu akan datang menemuinya. Tapi percuma saja Jaejoong menunggu, Junsu masih tidak muncul. Awan sudah berubah warna menjadi orange, Jaejoong memutuskan untuk pulang.

.

Keesokannya sepulang sekolah, Yunho kembali menyambangi rumah Jaejoong. Heran kenapa Yunho masih berada di sekolah? Itu semua karena tidak ada yang tahu bahwa Yunholah penyebab ditendangnya Jaejoong dari sekolah yang padahal tinggal menunggu hitungan minggu lagi diadakan ujian sekolah. Dengan ragu Yunho menekan bell rumah Jaejoong. Tak berapa lama, appa Kim membuka pintu dengan wajah yang datar.

"nugu?" ucapnya pendek dan datar.

"aku.. Yunho, Jung Yunho" ucap Yunho terbata.

"ada perlu apa kau kemari?"

"aku teman Jaejoong, aku ingin menjenguknya ahjusshi"

"masuk, Joongie ada di dalam" ucap appa Kim mempersilahkan Yunho masuk yang sepertinya belum mengetahui siapa Yunho.

Pasalnya Jaejoong tidak pernah mengatakan atau menuliskan siapa yang membuatnya hamil dan mengalami keguguran bahkan pada umma Kim sekalipun Jaejoong tidak pernah mau mengatakannya.

Yunho menurut dan masuk kedalam rumah itu. Sedikit merinding dengan suasana yang sepi.

"duduklah dulu akan aku panggilkan dia" ucap appa Kim kemudian meninggalkan Yunho.

Appa Kim menuju dapur tempat dimana Jaejoong tengah membantu umma Kim untuk memasak.

"ada yang menunggumu di depan" umma Kim dan Jaejoong langsung menoleh kearah suara appa Kim di belakang mereka. Appa Kim memandang Jaejoong dan member isyarat untuk meninggalkan dapur. Jaejoong mengangguk dan membersihkan tangannya kemudian berlari kecil meninggalkan dapur.

Yunho langsung bangkit dari duduknya ketika melihat Jaejoong muncul. Sebaliknya Jaejoong justru menghentikan langkahnya ketika melihat orang didepannya yang dia pikir adalah Junsu.

"mm, bagaimana keadaanmu?" ucap Yunho berusaha bersikap biasa.

Jaejoong masih tidak bergerak dari tempatnya. Sungguh tidak diduga, Yunho datang, dan apa yang akan dia lakukan. Appa Kim dan umma Kim muncul dari dapur karena melihat Jaejoong tidak merespon teman didepannya.

"Joongie apa yang kau lakukan disini? Temani dia" ucap umma Kim mendorong tubuh jaejoong perlahan agar menghampiri Yunho.

YUNHO POV

Sungguh aku sangat gugup, melihatnya. Melihat kedua orang tua Jaejoong. Aku melihat kedua orang tuanya meninggalkan kami di ruang tamu. Tidak ada pembicaraan di antara kamu selama beberapa menit. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku katakana padanya saatnya. Bibirku terasa kelu tidak mampu mengatakan apapun. Ku lihat dia juga diam dan menundukan kepalanya dan memainkan jemarinya.

"Jaejoong-ah"

Jaejoong langsung mendongakkan kepalanya melihat kearahku. Tapi kembali diam aku tidak tahu harus apa. Jaejoong masih melihat kearahku seperti menuggu apa yang selanjutnya akan aku katakan.

"ah ini, hanya ada sirup dan beberapa biscuit, ahjumma belum sempat berbelanja beberapa hari ini, mian ya" ucap umma Jaejoong sambil menaruh sirup dan beberapa biskut dari nampan yang dibawanya.

"ahjumma-" tiba-tiba saja aku memanggilnya.

Bodoh, mengapa aku memanggilnya. Bahkan aku saja sebenarnya belum siap melakukan pengakuan ini.

"iya?" tanggapnya kemudian memandangku. Aku langsung bangun. Detak jantungku terasa seperti berpacu dengan sangat cepat.

Kulihat Jaejoong yang ikut berdiri dan memandangiku dengan ekspresi yang sulit diartikan. DIAM. Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Ku lihat lagi Jaejoong yang memandangiku. Kemudian aku melihat ummanya.

"ada..ada yang ingin..aku bicarakan" ucapku gugup.

"apa itu? Sambil duduk saja, tidak enakkan jika sambil berdiri"

"ani ahjumma, aku.." lagi, aku merasakan bibirku kelu. "aku..akulah yang bertanggung jawab dengan apa yang menimpa Jaejoong"

YUNHO POV End

Jaejoong dan umma Kim sama-sama membulatkan matanya nampaknya mereka seperti tidak percaya dengan pengakuan Yunho. Jaejoong bukan tidak tahu, tapi dia terkejut dengan pengakuan Yunho langsung didepan ummanya, dan itu tepat seperti dugaannya.

"apa maksudmu?" Tanya umma Kim tidak percaya. Jaejoong memandang khawatir pada ummanya yang mulai menunjukan wajah yang merah padam.

"aku..yang telah membuatnya hamil dan..dan kehilangan bayi..nya" ucap Yunho terbata-bata memandang takut pada umma Kim.

Umma Kim memandang tidak percaya pada Yunho. Sedetik kemudian…

PLAAKK!

Wajah umma Kim seketika memerah menahan amarah. Tangan yang hendak untuk menampar Yunho lagi langsung di tahan oleh Jaejoong. Jaejoong menggelengkan kepalanya.

"kenapa kau tidak mengatakan kalau dia orang yang membatmu begini Joongie!" bentak umma Kim tiba-tiba. Ini adalah kali pertama umma Kim membentak Jaejoong, "dan kau! Pergi dari rumah ini sekarang juga!" bentak umma Kim pada Yunho.

"ada apa ini?" tiba-tiba saja appa Kim muncul karena mendengar keributan.

"ahjusshi..aku-"

"dia yang telah menghamili Joongie!" ucap umma Kim memotong ucapan Yunho.

"kau?" wajah appa Kim ikut memerah dan langsung menggampar Yunho. Saking kuatnya gamparan Yunho langsung tersungkur. Appa Kim menarik kerah baju Yunho dan membuat Yunho tertarik bangun untuk menatapnya.

Terlihat sudut bibir Yunho yang kini mengeluarkan darah segar. Yunho tak melakukan perlawanan apapun. Dirinya pasrah dan merasa pantas mendapatkan perlakuan ini dari keluarga Kim.

"ppaaaa!" Jaejoong langsung menarik tangan sang appa untuk melepaskan cengkramannya dari kerah baju Yunho.

Jaejoong tidak setega itu, dan tidak menyangka bahwa appanya akan melakukan kekerasan terhadap namja yang telah merusaknya. Tidak pernah melihat appanya sampai seperti ini.

"minggir!" appa Kim mendorong langsung mendorong Jaejoong. Appa Kim langsung meninju pipi Yunho.

"akh!" Yunho kembali tersungkur dan membuat Yunho sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya. "aku mohon ahjusshi, aku akan bertanggung jawab atas semua ini, beri aku kesempatan" ucap Yunho langsung dengan berani.

"kau fikir aku akan dengan mudah mengabulkannya begitu?! Itu tidak akan pernah terjadi! Kau hanya orang berengsek! Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" ucap appa Kim lagi.

"aniyo ahjussih aku-" lagi appa Kim langsung menghajar wajah Yunho.

"ppa! Dwae! (appa! Andwae!)" teriak Jaejoong berusaha menahan appanya.

"Joongie!" umma Kim menahan Jaejoong. "kembali kekamarmu sekarang juga!" Jaejoong menggeleng cepat.

Appa Kim sendiri sudah menyeret Yunho keluar dan mendorongnya. "jika kau masih berani muncul disini, kuhabisi kau!"

"ppa-" PLAK! Jaejoong yang kembali ingin menahan appanya justru mendapat tamparan dari ummanya.

"kembali kekamarmu sekarang juga!" Jaejoong kembali menggeleng.

"aku mohon ahjusshi aku janji aku akan bertanggung jawab" Yunho memelas dan memegangi kaki appa Kim. "menyingkir dari sini!" appa Kim langsung menendang Yunho dan tanpa sengaja mengenai wajahnya. Appa Kim langsung menutup dan mengunci pintu.

"ahjusshi! Buka pintunyaaa aku mohon" teriak Yunho dari luar.

Jaejoong yang sudah menangis hanya bisa diam.

"apa yang kau lakukan hah! Membela laki-laki berengsek yang sudah merusakmu kedalam rumah?! Apa kau sudah gila!" umma Kim masih tidak bisa mengontrol emosinya.

Jaejoong menggerakan tangannya dengan gemetar 'aku tak suka melihat appa melakukan kekerasan, umma. Dan dia berjanji akan mengembalikan keadaan seperti semula' Jaejoong sebenarnya masih menyimpan amarah pada Yunho.

Tapi melihat apa yang Yunho lakukan sampai berani mengakui perbuatannya di depan orangtua Jaejoong secara langsung, itu membuat hati Jaejoong sedikut luluh dan mencoba untuk mempercai ucapan Yunho.

"mengembalikan keadaan seperti semula?! Apa dia bisa mengembalikan kesucianmu hah!" bentak umma Kim lagi.

"sekarang masuk ke kamarmu!" ucap appa Kim kemudian. Jaejoong hanya diam "aku bilang masuk!" tidak ingin appanya semakin marah. Jaejoong menurut dan berjalan menuju kamarnya sambil menangis.

Dalam kamar Jaejoong hanya bisa menangis. Jaejoong menangis dengan memegang pipinya. Sedangkan Yunho sendiri masih tetap berada di luar tanpa berdiat untuk pergi, sesekali dia meringis menahan sakit di tubuh dan wajahnya. Lama Yunho berdiam, pada akhirnya dia menyerah dan meninggalkan rumah Jaejoong.

.

Keesokan harinya, Yunho berangkat kesekolah dengan wajah yang lebam. Yunho hanya mengobati luka-lukanya dengan seadanyanya. Orang tuanya? Jangankan mengobati, peduli dengan apa yang terjadi saja tidak. Yunho berjalan gontai dilorong sekolah. Beberapa siswa dan siswi seperti sedang berbisik membicarakannya. Tapi Yunho sama sekali tidak peduli.

"Yo, bro kenapa kau-" Yoochun kaget bukan main karena melihat wajah yunho yang babak belur "apa yang…apa yang terjadi dengan wajahmu?" ucap Yoochun memegang wajah yunho.

"akh! Jangan sentuh aku!" ucap Yunho menghempaskan tangan Yoochun begitu saja dan meninggalkannya.

Yoochun yang memang sedikit keras kepala malah mengikuti langkah Yunho. "kau habis berkelahi dengan siapa? Tidak kusangka, orang yang menghajarmu hebat sekali, biasanya lawanmu yang akan berakhir seperti ini"

"aku tidak berkelahi" ucap Yunho dan menghentikan langkahnya.

"apa?"

"aku mengakuinya" ucap Yunho lagi.

"me..mengakui ap-"

"Jaejoong, aku mengaku pada orang tuanya, aku lah yang membuatnya seperti itu" sontak pernyataan Yunho membuat Yoochun sangat terkejut.

"apa kau bilang?! Dan dan dan jangan katakan kalau kau mendapat ini dari orang tuanya?! A..ani dari appanya kan?! Iyakan?!" cerocos Yoochun dan Yunho mengangguk kemudian berjalan meninggalkan Yoochun.

"hey tunggu aku! Kau harus menjelaskannya!" ucap Yoochun dan berusaha mengejar Yunho sampai kedalam kelas. "apa kau bodoh mengakui hal itu pada mereka, untuk apa?" Tanya Yoochun lagi setelah mereka sama-sama duduk.

"aku merasa bersalah padanya" jawab Yunho singkat.

"bersalah? Itu konyol, kau itu bukan type orang yang seperti itu, lagipula apa tujuanmu melakukan hal itu?"

"aku ingin bertanggung jawab atasnya"

"come on, masih banyak gadis yang normal, tidak seperti dia, kau tahu kan Tifanny yang aku kenalkan padamu itu? Dia jauh lebih baik dibandingkan si bis-"

"tutup mulutmu atau kuhajar kau" seketika Yoochun langsung mengatupkan mulutnya saat mendengar desisan Yunho.

Sedangkan di kelas lain. Junsu memandang sendu kursi disebelahnya yang kosong. Sudah beberapa hari ini dia duduk sendirian. Biasanya akan ada Jaejoong disampingnya. Sebelum pelajaran dimulai mereka saling bercerita dan bercanda. Hati Junsu sakit ketika dia melihat Jaejoong yang menangis saat memandangnya.

Junsu menggeleng, dia harus menjauhi Jaejoong. "kau tahu teman yang biasa kau bela itu adalah pelacur, aku melihatnya saat dia dibawa kerumah sakit, dan aku juga mendengar pembicaraan dokter itu bahwa Jaejoong keguguran. Aku pikir dia adalah orang yang lugu, tapi ternyata wajah polos dengan kebisuan hanya menjadi topengnya saja"

Kata-kata dari mulut Sunny terus terngiang di telinganya. Junsu kecewa karena Jaejoong tidak pernah sama sekali menceritakan hal tersebut. Junsu yang saat itu merasa marah karena Jaejoong tidak jujur padanya, ditambah dengan pengakuan Sunny, membuat dia merasa Jaejoong adalah orang yang bermuka dua, bisa saja Jaejoong membawa dirinya pada kehidupan aslinya, atau dirinya akan di kucilkan seisi sekolah karna masih berhubungan dengan Jaeejoong dan Junsu tidak menginginkan hal itu terjadi. Itu sebabnya Junsu menjauhi Jaejoong dan mengikuti kemana pun Jessica, Tifanny dan Sunny akibat doktrin yang diterimanya.

"hey! Masih memikirkan si bisu? Sudahlah kau sudah tahu kan siapa dia sebenarnya" ucap Jessica sambil merangkul pundak Junsu.

"tidak, aku tidak memikirkannya, lagipula untuk apa" sanggah Junsu.

"sepulang sekolah nanti bagaimana kalu kita pergi shoping? Kau tidak pernah melakukannya kan saat bersama si bisu itu? Ayo lah kau pasti suka" ucap Tifanny.

"tapi nanti kita mampir makan ya" ucap Sunny tiba-tiba.

"baiklah aku ikut" ucap Junsu menyetujui.

.

JAEJOONG POV

Semenjak kejadian kemarin, umma ikut mendiamkanku. Aku tidak tahan, kemana umma yang selalu ada untukku? Daripada aku bosan, lebih baik aku mengunjungi rumah Junsu dan mencoba untuk bertemu denganya. Aku keluar kamar, tidak ada orang, umma dan appa pasti sedang di luar. Aku putuskan untuk keluar tanpa izin terlebih dahulu, lagipula aku hanya sebentar.

Aku berjalan kerumah Junsu yang hanya beberpa blok dari rumahku. Saat aku sampai dan hendak menekan bell, terdengar suara Junsu yang sedang tertawa dengan beberapa suara lainnya. Aku menolehkan kepalaku, melihat Junsu yang sepertinya baru saja pulang, tapi dengan Jessica, Tiffany dan Sunny? Serta beberapa barang di tangannya. Mereka jalan begitu saja melewatiku tanpa meliriku sama sekali. Dengan inisiatifku, aku langsung menahan tangan Junsu.

"apa sih?! Mau apa kau?" ucap Junsu dingin. Dengan sigap aku menulis pada note ku dan sedikit berantakan 'aku ingin bicara, hanya sebentar' aku menyerahkannya pada Junsu dan diterima olehnya. Tapi beberpa detik kemudian dia meremasnya dan melemparnya kearahku.

"aku tidak ada waktu lagi untuk orang sepertimu, lebih baik kau pergi dari sini" ucapnya lagi dan masuk begitu saja dengan ketiganya yang ikut tertawa meledekku.

Aku tidak boleh menangis disini, kau namja Jaejoong! Dengan lemas aku berjalan meninggalkan rumah Junsu. Dari dalam sana masih terdengar suara tawa, mungkin Junsu merasa jijik denganku. Tanpa terasa air mataku jatuh saat aku mulai melangkahkan kakiku.

JAEJOONG POV End

Sepanjang jalan Jaejoong hanya melamun. Pikirannya kosong, Jaejoong terus berjalan dan memasuki rumah. Jaejoong melihat appa dan ummanya tengah duduk di ruang tamu. Jaejoong menyapa umma dan appanya dengan membungkukan sedikit badannya.

"duduklah" ucap appa Kim. Jaejoong menurut saja dan duduk di kursi paling dekat.

"appa sudah memutuskan, kita akan pindah ke Jepang, appa akan pindah tugas disana" ucap appa Kim. Jaejoong langsung membulatkan matanya dan menggerakan tangannya.

'kapan kita akan pergi? Apa tidak bisa aku tetap tinggal di sini?'

"kita akan berangkat sekitar 6 hari lagi, sebaiknya kau bereskan barang-barangmu dari sekarang, kau tidak bisa tetap tinggal disini, kau akan melanjutkan sekolahmu disana"

'tapi appa bagaimana dengan Yunho'

"jangan pernah kau temui dia lagi, Joongie. Appa tidak suka, jauhi dia" ucap appa Kim mutlak.

'tap-' "sudah appa katakana kan?! Jauhi dia, dengar itu, Jaejoongie?" ucap umma Kim memotong ucapan/gerakan tangan Jaejoong.

Jaejoong mengangguk lemas pada akhirnya. Di tidak mau emosi orang tuanya yang belum reda kembali memuncak. Jaejoong bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.

Dalam kamar Jaejoong kembali menangis. Tidak ada yang bisa Jaejoong lakukan selain menangis, berteriak? Dia tidak akan sanggup. Tapi tiba-tiba saja umma Kim membuka pintu kamarnya. Dengan cepat Jaejoong menghapus air matanya. Ada perasaan sakit dalam hati umma Kim ketika melihat linangan air mata putra semata wayangnya. Beberapa bulan belakangan Jaejoong jarang sekali menunjukkan senyumannya. Hanya ekspresi datar dan sedih yang terpancar pada wajah cantiknya.

Jaejoong memandang umma Kim yang mendekat. Tapi tiba-tiba umma Kim memeluknya.

"maafkan umma, Joongie. Umma tidak bermaksud untuk memukulmu dan membentakmu" umma sangat emosi kala itu. Kenapa kau tidak mau mengatakannya pada umma Joongie" ucap umma Kim panjang lebar. Jaejoong melepaskan pelukan ummanya dan menggerakan tangannya.

'Joongie takut, Joongie takut dia melakukan hal buruk jika Joongie mengaku. Joongie tidak bisa melakukan apa-apa, Joongie terlalu takut bahkan untuk mengatakannya, sungguh'

"yang terpenting sekarang adalah kau harus memulai hidupmu yang baru, jauhi dia Joongie, umma mohon"

'tapi dia bilang dia..' Jaejoong malah menggantungkan kalimatnya. 'tapi Joongie ingin melihat kesungguhannya umma dia sudah berjanji'

"laki-laki sekali melakukan kesalahan, tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, Joongie" ucap umma Kim mengusap kepala Jaejoong "dan umma tidak ingin dia menyakitimu untuk kedua kalinya" Jaejoong kembali diam "sebaiknya kau bersihkan dirimu, kami menunggumu untuk makan malam" ucap umma Kim dan meninggalkan Jaejoong yang menatapnya.

TING TONG TING TONG

Belum lama umma Kim turun dari kamar Jaejoong, suara bell berbunyi dan umma Kimlangsung bergegas menuruni tangga dan berlari kecil menuju pintu depan.

"ya sia-" umma Kim menggantungkan kata-katanya. "untuk apa kembali lagi? Tidak cukupkah kau mengganggu keluarga kami?" ucap umma Kim datar.

"aku kesini, aku ingin meminta maaf, ahjumma. Aku-" ucap Yunho yang wajahnya masih dihiasi oleh luka pukulan.

"pergi dari sini"

"aku tidak peduli jika aku mendapat pukulan lagi, aku menyesal, aku menyesal ahjumma. Anak.. anak itu, anak dalam kandungannya.. bagaimanapun juga dia adalah anakku. Darah dagingku, biarkan aku menebus kesalahanku" ucap Yunho panjang lebar dengan menahan malu atas kelakuannya.

"tidak ada yang perlu kau tebus, lagi pula anak itu sudah tidak ada kan? Dan itu karenamu" ucap umma Kim pedas. Yunho langsung diam, memang benar anak itu juga telah pergi dan itu adalah karenanya. "pergi dari sini jangan pernah temui putraku lagi" ucap umma Kim dan menutup pitunya.

"ahjumma! Tunggu aku belum selesai bicara" Yunho langsung menahan pintu itu. Yunho melihat Jaejoong yang menuruni tangga dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit.

"Jaejoong-ah! Ini aku!" teriak Yunho dari luar. Jaejoong terpaku di tengah tangga, dia tidak melihat Yunho di balik pintu melainkan melihat ummanya yang sedang menahan pintu. "Jaejoong-ah, aku mohon bantu aku, bantu aku untuk menebus semua kesalahanku" ucap Yunho lagi.

Tapi Yunho sedetik kemudian membelalakan matanya, Jaejoong seakan tidak peduli, dia jalan begitu saja menuju dapur. "Jaejoong-ah.." Yunho pasrah ketika pintu itu di tutup. "apa yang.. Jaejoong-ah.." racau Yunho sendirian.

Jaejoong berjalan cepat menuju dapur. Matanya mulai berair, dengan kasar Jaejoong langsung menghapus air matanya. Umma Kim menghampirinya.

"umma senang kau tidak menanggapinya" Jaejoong hanya mengangguk. "dan umma harap, kau tidak pernah mengharapkan dia" Jaejoong melihat pada sang umma.

Ada benarnya, Jaejoong membenarkan perkataan ummanya, dalam hati kecilnya Jaejoong sedikit berharap jika Yunho memang serius. Pikirnya tidak ada salahnya jika dia memberikan kesempatan pada Yunho.

.

Yunho sendiri sudah pergi dari rumah Jaejoong dengan wajah lesu.

Suasana makan malam masih dingin seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada pembicaraan diantara appa, umma dan putra mereka. Appa Kim yang lebih dulu menyelesaikan makannya langsung meniggalkan meja. Jaejoong tahu, appa Kim masih enggan untuk berhadapan dengannya. Jaejoong hanya menunduk sambil makan untuk menyembunyikan wajah sedihnya.

.

YUNHO POV

Lagi-lagi aku gagal, aku bingung aku harus apa. Tidakah ada celah sedikit untukku? Ku pijat keningku dan memasuki rumah. Kulihat umma dan appa sudah berada di rumah, tapi tetap saja pertengkaranlah yang aku lihat.

"aku ingin cerai denganmu" apa! Yang benar saja umma meminta cerai.

"lalu bagaimana denganku? Tidakkah kalian memikirkan aku? Anak kalian? Apa dimata kalian aku ini tidak dianggap?" ucapku memotong pertengkaran mereka "bahkan kalian tidak peduli dengan kehidupanku, bagaimana sekolahku, kehidupanku, dan bagaimana pergaulanku di luar sana" kedua orang tuaku langsung membungkamkan mulut mereka masing-masing "bahkan kalian tidak peduli dengan wajahku yang lebam akibat pukulan appa temanku kan? Bahkan bertanya saja tidak kalian lakukan. Aku ini siapa sebenarnya dimata kalian?" Ucapku panjang lebar.

"kau bilang kau di pukuli oleh appa temanmu? Apa yang telah kau lakukan?" kulihat appa mulai bertanya.

"aku meghamilinya dan membuatnya keguguran" ucapku santai.

"apa kau bilang! Kau tahu kau hanya akan membuat malu! Dasar anak berengsek!" kulihat appa melayangkan tangannya hendak menamparku.

"ayo pukul aku! Pukul aku!" ucapku lantang. Apa langsung mengehentikan tangannya yang menggantung diatas. "kenapa tidak memukulku? Aku seperti ini juga karena kalian! Kalian tidak pernah peduli padaku! Aku mencari pelampiasan! Dan aku melakukannya pada orang yang tidak bersalah tanpa sadar! Kalian yang sama sekali tidak peduli denganku, membuatku seperti orang gila dengan kelakuan kalian yang selalu bertengkar dan bahkan membawa selingkuhan kalian kerumah, itu sangat-sangat membuatku muak hingga aku ingin muntah melihat wajah mereka!" ucapku terengah-engah pada akhirnya.

"Yunho-ah" umma menyerukan namaku. Aku tahu air mataku sudah jatuh mengalir d pipiku. Terserah mau mengatakan aku cengeng atau apa. Aku sudah tidak tahan menahannya lagi. Tapi aku tersentak dengan umma yang memeluku. "maafkan umma chagi-ya" ucap umma lagi dan terdengar sebuah isakan. Kulirik appaku yang masih diam ditempatnya.

"appa, umma, aku mohon hentikan semuanya. Lihat aku disini, aku membutuhkan kalian" pada akhirnya aku menangis juga. Appa mendekatiku dan umma kemudian memeluk kami.

"ayo kita mulai semuanya dari awal" ucap appa mencium kepalaku. Akupun dan umma menangis dalam pelukan appa. Tuhan terima kasih sudah mengembalikan mereka padaku. Tidak habis aku ucapkan kata terima kasihku. Tapi ini semua belum selesai, aku harus bisa membuat orang tua Jaejoong memberiku kesempatan. Aku janji tidak akan menyianyiakan kesempatan yang aku dapat nantinya.

Hingga 2 hari ini keadaan membaik. Keluargaku layaknya seperti keluarga pada umumnya. Tidak ada lagi pertengkaran. Appa dan umma menawariku untuk membantuku, tapi aku menolak, aku ingin mereka berdiri dibelakangku dan mendukungku, selebihnya aku yang akan berjuang sendiri. Sudah aku mantapkan dalam hatiku. Tapi entah mengapa rumah yang aku kunjungi 2 lalu seperti terlihat kosong ditinggal penghuninya. Aku tahu mereka ada didalam dan sepertinya sedang menghindariku. Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku kembali pulang.

YUNHO POV End

Jaejoong yang melihat Yunho berjalan menjauhi rumahnya. Perlahan Jaejoong membuka pintu rumahnya dan berjalan keluar. Seperti biasa, jika keluar rumah rumah, Jaejoong akan mengunjungi rumah Junsu.

.

Sesampainya di sana Jaejoong langsung menekan bell. Dan kali ini umma Junsu yang membukakan pintu.

"eh Joongie, ada apa?" Jaejoong menulis pada notnye lagi.

'Su-ie ada ahjumma?'

"ah itu, Junsu bilang dia akan pulang telat, dia pergi bersama temannya. Kau tidak ikut Joongie?" ucap umma Junsu.

"temannya?" ucap Jaejoong dalam hati.Kemudian jaejoong mnyerahkan sebuah surat.

"apa ini?" Jaejoong menulis kembali.

'tolong sampaikan surat ini pada Junsu, ahjumma. Dan tolong sekali, katakan padanya hari ini aku akan menunggunya di taman'

"kenapa kau tidak menunggu didalam saja Joongie?"

'aniyo, aku akan menunggu saja di taman ahjumma, kalau begitu aku permisi dulu, gomawo'

"ne, nado. Hati-hati chagi" Jaejoong tersenyum sebentar dan berbalik menjauh.

.

JAEJOONG POV

Sudah 3 jam aku menunggu Junsu, langit yang tadinya cerah sekarang sudah berubah mendung. Junsu kemana? Apa dia tidak membaca surat itu? Kenapa Junsu tidak datang? Kurasakan rintik hujan mulai turun. Tidak lama hujan turun semakin deras. Aku kedinginan, tapi aku tidak boleh pergi dari sini, aku yakin Junsu akan datang.

JAEJOONG POV End

.

"Su-ie, ini aku, kau pasti masih marah padaku, aku tidak tahu kenapa kau menjauhiku sekarang, apa karena kau merasa jijik dengan keadaanku sekarang? Tapi tidak bisa kah kau beri aku waktu untuk mengatakannya padamu? Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin ini terjadi, jika saja aku bisa memutar waktu, jika saja saat itu aku pulang bersamamu, jika saja aku bisa berteriak dan meminta tolong, mungkin saja ini tidak akan terjadi Su-ie. Aku tidak melakukan seperti yang lain kira, aku tidak melacurkan diriku Su-ie. Aku, di perkosa, aku takut mengatakannya padamu, aku takut kau malah menjauhiku jika mengetahui aku hamil. Disaat aku sangat membutuhkanmu mengapa kau menjauhiku? Maafkan aku menyembunyikan ini darimu. Karena aku juga tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi ke Jepang. Mungkin aku akan menetap disana. Maka dari itu aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini denganmu. Kumohon aku menunggumu"

JUNSU POV

Aku meremas kertas dalam genggamanku. Di luar hujan deras, apa Jaejoong masih menungguku? Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil payung dan berlari keluar rumah. Tidak aku pedulikan teriakan umma yang melarangku untuk keluar, yang terpenting adalah aku menemuinya.

Aku mulai memasuki taman tempat yang umma katakan padaku sebelumnya. Ku edarkan pandanganku, taman dalam keadaan sepi, tapi di sebuah ayunan tempat dimana aku dan Jaejoong duduk terdapat seseorang tengah memeluk dirinya yang sudah basah kuyup. Aku yakin itu adalah Jaejoong, aku sangat tahu jika itu adalah dia, kudekati dia dengan perlahan.

JUNSU POV End.

Jaejoong mendongakkan kepalanya ketika merasa rintikan hujan tidak lagi mengenai kulitnya. Disitu, dibelakangnya terdapat Junsu yang tengah memayunginya dengan linangan airmata di wajah manisnya.

"Joongie-ah" ucap Junsu dengan senyum pilu disudut bibirnya.

Dengan cepat Jaejoong langsung bangkit dengan tubuh yang gemetar dan pucat dia menatap Junsu dengan senyuman.

"Joongie-ah, apa kau bodoh masih disini?" Jaejoong masih tersenyum dan menggerakan tangannya.

'aku masih menunggu sahabatku yang akan datang, aku tahu dia pasti datang' sedikit banyak Junsu mengerti bahasanya, karena Junsu sudah mengenalnya sejak lama.

Jaejoong masih tersenyum pada Junsu. Junsu menjatuhkan paying yang dipegangnya dan kemudian memeluk tubuh Jaejoong yang sudah menggigil. Junsu menangis di pundak Jaejoong. Sama dengan yang dilakukan Jaejoong, Junsu dapat mendengar isakan kecil yang keluar dari bibir Jaejoong. Junsu mengeratkan pelukkannya pada Jaejoong dan megusap halus punggung yang menggigil itu.

"maafkan aku Joongi-ah, maafkan aku, aku yang bodoh" ucap Junsu menangis keras. Jaejoong mengangguk dengan pelan.

Tapi, Junsu merasakan tubuh yang dipeluknya dan memeluk tubuhnya melemas. Junsu tersentak kaget ketika tubuh Jaejoong tiba-tiba merosot begitu saja. Junsu langsung menahan tubuh itu agar tidak tegeletak di tanah.

"Jaejoongie! Irona!" Junsu mulai panik "siapa saja tolong aku!"

Beberapa orang yang kebetulan melewati taman langsung menghampiri Junsu dan Jaejoong.

.

Kini Junsu tengah berada di dalam kamar Jaejoong. Memperhatikan Jaejoong yang masih memejamkan matanya dengan kompres yang ada di keningnya.

"Su-ie, ahjumma tinggal dulu ne?"

"ne" jawab Junsu pendek. Kemudian umma Kim meninggalkan keduanya di kamar Jaejoong "Joongie-ah, irona.." ucap junsu sesegukan.

"ngghhh" lenguhan kecil terdengar dari bibir kecil Jaejoong.

"Joongie-ah" Jaejoong hanya tersenyum dengan wajahnya yang pucat, senyum itu terus mengembang karena sahabatnya masih berada disampingnya. "maafkan aku ne? aku tidak tahu itu, Joongie" Jaejoong hanya menganggukan kepalanya.

Kemudian Jaejoong bangun perlahan dan mendudukan dirinya dengan bersandar pada kepala ranjang.

"sebaiknya jangan kau paksakan dirimu Joongie" Jaejoong hanya tersenyum. Kemudian menggerakan tangannya.

'aku tidak apa-apa, aku senang, kau masih disini'

"kenapa kau tidak pulang saja? Mengapa kau memaksakan dirimu? Aku jadi menghawatirkanmu" Junsu malah menangis.

Jaejoong langsung menghapus air mata di pipi Junsu. Kemudian menggerakan tangannya bergerak kembali 'jika kau menangis, kau justru terlihat jelek kau tahu?'

"kau jahat sekali mengataiku seperti itu" Jaejoong malah terkekeh mendengar ucapan Junsu. "Joongie, siapa yang melakukan ini padamu?" ucap Junsu tiba-tiba. Terlihat jelas perubahan wajah Jaejoong yang berubah sendu. Jaejoong mengambil notenya. Dan mulai menulis 'Jung Yunho'

"Yunho? Jung Yunho yang anak dari kelas 12-3 itu? Pantas saja saat kau meninggalkan gedung sekolah dia malah mengejarmumu dan kau terlihat bertengkar dengannya" Jaejoong hanya mengangguk. "akan aku habisi dia di sekolah nanti, akan aku katakan pada semuanya dia dalang dari semua ini" Jaejoong langsung memegang tangan Junsu dan menggeleng cepat. Kemudian menulis pada notenya lagi.

'andwae, kumohon jangan, aku sudah memaaafkannya dia datang pertama kali kesini dan dia mengaku pada kedua orang tuaku dan akan bertanggung jawab jika di beri kesempatan, tapi appa malah memukulnya'

"pantas saja appamu memukulnya, dia pantas mendapatkan itu, ternyata saat dia masuk sekolah, wajahnya lebam, ternyata itu adalah hasil karya appamu"

'dia datang terus kesini, tapi tidak pernah di beri kesempatan untuk menebusnya, dan kami menghindarinya. Sejujurnya ada rasa percaya pada hatiku, melihatnya melakukan hal seperti itu. Tapi umma melarangku untuk bertemu dengannya'

"kurasa ummamu benar, tapi aku tidak terima jika dia justru dengan mudah di terima oleh umma dan appamu"

'aku rasa dia berbeda Su-ie'

"itu terserah padamu, Joongie kau tahu apa yang terbaik untukmu"

'tapi sepertinya aku akan menuruti apa kata umma, aku tidak ingin umma kecewa padaku untuk yang kedua kalinya' wajah Jaejoong kembali sendu dan mair matanya mulai menggenang.

"sudah, uljima ne?" Junsu kembali merengkuh Jaejoong dalam pelukannya. "kau serius akan ikut dengan umma dan appamu ke Jepang? Lalu bagaimana denganku disini?"

'aku akan sering-sering menghubungimu Su-ie'

"janji?" Junsu mengulurkan jari kelingkingnya. Dan Jaejoong langsung mengaitkannya.

.

YUNHO POV

Hari ini aku datang lagi kerumah itu. Masih sepi saja, tidak ada perubahan yang berarti. Sepertinya masih menghindariku.

"hey nak, apa yang kau lakukan disana?" panggil seorang ahjusshi padaku.

"aku, aku ingin berkunjung" jawabku berbohong.

"mereka pindah hari ini ke Jepang" apa? Jepang?

"ka..kapan mereka pergi?"

"sudah sekitar 2 jam yang lalu, mungkin saja sedang menunggu pesawat untuk take off"

"ah, gomawo ahjusshi"

Dengan tergesah aku meninggalkan rumah Jaejoong dan memacu motorku dengan kencang. Semoga saja saat aku sampai nanti aku masih bisa bertemu dengannya.

YUNHO POV End

.

"Joongie? Kenapa kau melamun terus, chagi?" Jaejoong hanya menggeleng menjawab pertanyaan sang umma. Sudah hampir lama mereka menunggu datangnya pesawat.

Terlihat beberapa orang berlarian keluar bandara dengan tergesah seperti ada seseuatu yang terjadi diluar. Jaejoong yang tadinya hendak mengikuti kemana arah orang-orang tadi, tapi terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi telah tiba.

"ayo sebaiknya kita bergegas" ucap sang appa dan berjalan lebih dulu dan di susul oleh umma Kim.

"Joongie-ah hati-hati ne? jaga dirimu dan jangan lupa hubungi aku" ucap Junsu memeluk Jaejoong yang kala itu ikut mengantarnya. Kemudian Jajoong mengangguk dan tersenyum dan menggerakan tangannya.

'aku janji akan sering-sering menghubungimu, kau juga harus menjaga dirimu, aku pasti akan mengunjungimu nanti' Jaejoong memeluk Junsu sebentar dan berjalan menjauh dari Junsu. Saat sudah akan memasuki pintu, Jaejoong berhenti dan berbalik.

Disana mashi ada Junsu 'Yunho tidak datang, apa Kang ahjusshi tidak mengatakan pada Yunho? Atau Yunho tidak datang lagi kerumah?' ucap Jaejoong dalam hati.

"Joongie-ah, ayo cepat" panggil sang umma dan jaejoong langsung berlari kecil menyusul ummanya.

Dan beberapa menit kemudian pesawat yang jaejoong tumpangi lepas landas menuju Jepang. Sedangkan Junsu hanya menitikan airmatanya melihat pesawat itu terbang semakin tinggi dan semakin jauh.

_END_