Tidak ada yang berubah. Seperti biasa, tidak ada yang menarik dari kehidupan sekolah Yoongi.

Kecuali ketika jam pelajaran Bahasa Inggris.

.

"Jadi, kau mulai menyukai Bahasa Inggris?"

"Hm?" Yoongi menyeruput kopi minuman yang sebelumnya diberikan oleh Jimin. Keduanya tengah berada di halte bus.

"Kau memperhatikan pelajaranku, kan? Kkk."

"Memangnya ada yang salah?" Lagi-lagi, Yoongi memalingkan wajahnya. Entah sudah kesekian kalinya Jimin membuat murid didiknya yang satu ini salah tingkah.

"Tidak ada yang salah." Jimin tersenyum, kemudian menepuk-nepuk kepala Yoongi pelan, "Tapi kau perlu belajar banyak, jawabanmu masih banyak yang salah dari soal yang kuberikan tadi."

Yoongi hanya menunduk, sebelum akhirnya Jimin melanjutkan kalimatnya, "Kalau ada yang tidak kau mengerti, aku bersedia menjadi guru privat khususmu."

"Hmm. Bolehkah?" Tanya Yoongi kemudian dijawab dengan anggukan Jimin.

"Tentu saja, murid spesialku."

.

Setelahnya Yoongi dan Jimin semakin sering bertemu diluar jam sekolah selain di halte bus maupun didalam bus, mereka juga bertemu di tempat-tempat umum lainnya seperti di kafe- Atau bahkan di apartemen Jimin.

Semula mereka berdua hanya membahas pelajaran Bahasa Inggris, yang kemudian dilanjutkan dengan sekedar menghabiskan waktu berdua bahkan hingga larut.

Padahal baru saja dua hari yang lalu Yoongi bertemu dengan Jimin, tapi ia merasa sudah mengenal Jimin lama sekali.

Terlebih dengan kegiatan rutin yang selalu mereka lakukan bersama sepulang sekolah- Entah mengapa belajar Bahasa Inggris menjadi semenyenangkan ini. Yang Yoongi tahu pasti bukan karena pelajarannya, tapi karena Jimin.

.

Dan seperti biasanya, sepulang sekolah, Yoongi bergegas menuju halte bus untuk menemui Jimin.

"Sae-" Suara Yoongi tertahan ketika ia melihat sosok Jimin berdiri didekat halte bus- Tepat bersebelahan dengan seorang murid perempuan. Mereka terlihat mendiskusikan sesuatu dari sebuah buku- Dan yang terlebih penting, mereka terlihat begitu dekat.

Sesak. Yoongi merasa dadanya berdenyut. Kenapa selama ini ia merasa begitu spesial- Padahal Jimin mungkin saja hanya menganggapnya sebatas murid, tak lebih.

"Bodoh." Yoongi tersenyum kecut, "Jangan terlalu berharap, Yoongi." Kemudian Yoongi membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari halte.

.

Keesokan paginya, Yoongi memilih untuk duduk di bangku yang jauh dari Jimin. Tapi justru Jimin malah meninggalkan bangkunya semula dan duduk di bangku disebelah Yoongi.

"Hei." Sapa Jimin, tak dijawab oleh Yoongi.

"Kemarin aku menunggumu di halte, kau pulang duluan?" Yoongi hanya mengangguk, tanpa melirik kearah Jimin sedikitpun.

"Yoongi? Ada a-" Belum sempat Jimin menyelesaikan kalimatnya, Yoongi langsung memotong.

"Umm. Seonsaengnim, sebaiknya setelah ini kau tidak perlu repot-repot menjadi guru privatku lagi." Yoongi berdeham, "Ah, maksudku- Masih banyak murid 'spesial'mu yang harus kau ajarkan, aku tidak ingin mengganggumu lagi." Jelas Yoongi kemudian berlalu meninggalkan Jimin yang masih berada dibangkunya, tepat ketika bus tiba di halte tujuan.

.

Yoongi tak lagi memperhatikan pelajaran Bahasa Inggris, sekalipun Jimin terus menegurnya yang sengaja tidur.

Yoongi merasa semuanya sudah tak perlu lagi- Selama ini ia mengikuti pelajaran dengan giat karena Jimin.

Yoongi bahkan melupakan fakta bahwa Jimin termasuk populer di kalangan murid perempuan. Dan jika Jimin bisa memilih sekalipun, tentu saja ia pasti lebih memilih murid perempuan manapun ketimbang dirinya.

Kesalahan Yoongi karena memendam perasaan kepada Jimin.

Kesalahannya karena berharap terlalu banyak.

Bsgaimanapun caranya, Yoongi hanya akan menjauhi Jimin. Sama halnya yang ia lakukan sepulang sekolah setelahnya, ia menghindari halte bus dan memilih untuk pulang jalan kaki.

.

Sudah terhitung tiga hari sejak Yoongi menghindari Jimin. Tapi hari ini ada yang berbeda, ia sama sekali tak bertemu dengan Jimin dimanapun. Tidak di halte maupun di bus, dan tidak juga mengajar di kelasnya.

Hingga secara tidak sengaja ia mendengar pembicaraan para guru di ruang guru bahwa Park-seonsaengnim tidak hadir sejak kemarin karena terkena demam.

Perasaan bersalah bercampur dengan penyesalan menyelimuti Yoongi. Bagaimana tidak? Besok adalah hari terakhir Jimin mengajar. Bagaimana jika besok Jimin belum sembuh? Bagaimana jika ia tidak akan bisa bertemu dengan Jimin lagi setelahnya?

Tidak seharusnya Yoongi melakukan ini. Tidak seharusnya Yoongi membeli buah-buahan, minuman kaleng, beserta obat. Tidak seharusnya Yoongi berada di depan apartemen Jimin.

Yoongi tahu kebiasaan Jimin tidak mengunci ruang apartemennya, membuat dirinya dapat leluasa keluar masuk. Seperti sekarang ini.

Langkah kaki kini membawanya memasuki ruang apartemen Jimin. Dengan langkah penuh keraguan, Yoongi masuk kedalam ruang tidur Jimin.

Dan disanalah Jimin berbaring dibalik balutan selimut.

Yoongi berjalan mendekat, meletakkan plastik berisi buah-buahan, minuman kaleng, beserta obat diatas meja nakas disamping tempat tidur Jimin. Ia kemudian duduk dipinggir ranjang, menatap wajah Jimin yang dibasahi oleh bulir keringat.

Entah apa yang dipikirkan Yoongi.

Yoongi memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya dan- Mencium bibir Jimin.

.

.

.

TBC