Keesokan harinya, Jimin sembuh dan kembali mengajar di hari terakhirnya. Namun hari ini ia tidak mengajar di kelas Yoongi.
.
"Aah- Kebetulan sekali Anda sembuh di hari terakhir mengajar." Salah seorang guru di ruang guru menepuk-nepuk pundak Jimin.
"Ngomong-ngomong, barusan saya melihat Min Yoongi berjalan menuju UKS. Sepertinya ia sedang tidak sehat-" Ujar salah seorang guru yang lain, Jimin menghernyitkan dahinya.
"Sepertinya Yoongi tertular demam Anda, ahaha." Tutur guru lain, kemudian disusul dengan tawa Jimin yang terkesan dipaksakan.
Tertular?
Tiba-tiba saja Jimin teringat suatu hal- Seperti plastik yang tiba-tiba saja berada di atas meja nakasnya. Tadinya ia sama sekali tidak memikirkan hal itu, namun mengingat isi plastik tersebut- Minuman kaleng- Membuatnya teringat Yoongi.
Kalau dugaannya benar, memang Yoongi mengunjungi apartemennya kemarin dan-
.
Yoongi tertidur pulas di ruang UKS. Ia terbangun ketika petang hari telah menjelang, gerbang sekolah hampir ditutup.
Yoongi merasa begitu lelah, padahal hampir seharian ia habiskan waktu terlelap di UKS. Untuk keadaan tubuh yang tidak sehat, Yoongi merasa ia terlalu banyak bergerak dan menurutnya itu sangat menguras tenaga.
Seharusnya ia tak perlu datang ke sekolah hanya untuk memastikan Jimin datang pada hari terakhirnya. Tak peduli ia datang atau tidak, nyatanya Yoongi tetap tidak bertemu dengannya.
.
Beruntung ia tidak ketinggalan bus. Dalam perjalananan, Yoongi membayangkan kehidupan sekolahnya yang akan kembali seperti semula, ketika sebelum bertemu Jimin.
Maniknya menelusuri tiap sudut bus. Mengingat kembali ketika ia berada dalam bis yang sama dengan Jimin, minum dengannya, berbincang dengannya, bersenda gurau dengannya, belajar dengannya, bahkan hal-hal terkecil yang pernah ia lakukan bersama Jimin di dalam bus.
Yoongi dipertemukan dengan Jimin hanya untuk sementara, bukan untuk dipersatukan, hanya dipertemukan kemudian berpisah.
Maka yang harus Yoongi lakukan hanyalah melupakan Jimin dan kembali ke kehidupan sekolahnya seperti biasa.
Ketika bus tiba di halte tujuan, jantung Yoongi kembali berdegup ketika ia melihat Jimin duduk tepat di bangku halte, menatapnya intens. Jimin terlihat berantakan- Dengan mengenakan kemeja yang beberapa kancing atasnya sudah ditanggalkannya, rambutnya yang acak-acakan, dan sorot matanya yang menatap Yoongi tajam.
"Dasar pencuri penyakit." Desis Jimin.
Yoongi merasa dadanya begitu sesak. Sesaat ketika ia hendak membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh, tiba-tiba saja tangan Jimin mencengkram pergelangan tangan Yoongi dan mencegahnya untuk pergi.
"Kau mau apa?" Tutur Yoongi tanpa menatap Jimin sedikitpun.
Cengkraman tangan Jimin semakin kuat, kemudian ia menarik tubuh Yoongi kedalam dekapannya- Memeluknya erat.
"Seonsaengnim?" Yoongi mendorong dada Jimin guna menjauhkan tubuhnya, namun semakin Yoongi mendorong, semakin Jimin mempererat pelukannya.
Terasa hangat dan menyesakkan disaat bersamaan, tak kuasa Yoongi meneteskan air matanya.
"Apakah salah kalau aku menyukaimu?" Yoongi akhirnya terbiasa dengan dekapan Jimin dan mencengkram kemeja Jimin.
Jimin tak menjawab.
Beberapa saat setelahnya Jimin merenggangkan pelukannya dan melingkarkan lengannya di pinggul Yoongi, satu tangannya yang bebas digunakannya untuk menarik tengkuk Yoongi- Yoongi sudah bersiap untuk melontarkan pertanyaan lainnya, kalau saja Jimin tidak langsung membungkam bibir Yoongi dengan bibirnya- Menekan tengkuknya kala kedua belah bibir bersentuhan kemudian melumatnya.
"Mmhh-" Yoongi kaget bukan main, namun kemudian ia langsung membiasakan diri dan mengimbangi ciuman panas keduanya. Reflek tangan Yoongi bergerak melingkari leher Jimin dan merapatkan tubuhnya.
.
Yoongi tak pernah menyukai kehidupan sekolahnya. Tidak semuanya, setidaknya tidak sampai akhirnya ia bertemu Jimin.
.
.
.
END
