Chapter 2
WARNING : TYPO, OOC , EYD, Ide pasaran.
DON'T LIKE, DON'T READ.
Sasuke masih senan tiasa melumat bibir mungil sang gadis yang di tindihnya di atas sofa ruang tamu. Tangannya masih bergerak liar menjelajahi tubuh Hinata, membelainya penuh sayang, ciuman bibir Sasuke berpindah pada leher jenjang sang gadis menjilatnya dan menggigit kecil, meninggalkan bercak merah disana. Hinata terus memberontak, mendorong dada bidang Sasuke agar menjauh darinya, penolakan Hinata seolah tidak berarti bagi Sasuke, dia masih asik menjelajahi leher jenjang sang gadis, menghisap dan kembali menggigitnya kecil, meninggalkan kissmark di sekujur leher jenjang sang gadis. Merasa puas dengan hasil karyanya, ciuman Sasuke berpindah kembali pada bibir munggil Hinata melumatnya kembali, ciuman yang semakin menuntut dengan hasrat menggebu.
Tangan Sasuke mencoba melepaskan cardigan rajut dan baju dalam yang di kenakan Hinata secara paksa, membukanya dengan brutal tanpa menghiraukan rontahan perlawanan dan isak tangis yang mulai terdengar dari sang gadis, melepaskannya secepat yang ia bisa. menanggalkannya cardigan rajut dan baju dalam dengan brutal dan membuangnya sembarangan. Satu tangan Sasuke meremas payudara kiri Hinata yang masih terbalut bra dengan kasar, sedangkan tangan kanannya sibuk membuka kaitan bra berenda berwarna ungu yang Hinata kenakan, melepasnya lalu membuangnya sembarangan. Tangan Sasuke segera meremas payudara sang gadis dengan kasar. Hinata mencoba melepaskan tangan Sasuke yang meremas bukit kembarnya dengan kasar. Sadar akan penolakan Hinata, Kedua tangan Sasuke segera mencengkram erat kedua pergelangan tangan Hinata, menghimpitnya di atas kepala Hinata. Lalu dengan cepat bibir Sasuke mengulam daun telinga sang gadis, menggigitnya lembut, menjulurkan lidahnya membuat jejak basah dari daerah leher sampai payudara sang gadis. Sedangkan Hinata hanya terus memberontak tidak terima dengan perlakuan Sasuke padanya. Tangan Sasuke yang bebas kembali meremas payudara Hinata, meresapi benda kenyal yang ada di cengkraman tanganya, sedangkan bibirnya mulai berani menjilat puting susu gadis yang di tindihnya, memasukan puting susu Hinata kedalam mulutnya, menghisapnya seperti bayi yang sedang menyusu. Tangan Hinata mendorong bahu Sasuke, untuk menjauhkan mulut Sasuke dari payudaranya, tapi tidak berhasil, bahkan mulut Sasuke tidak berpidah sejengkalpun dari payudara sang gadis.
"MmmHmm..." Hinata menahan desahannya.
"Cup...cup...cup..." Terdengar bunyi decapan lidah Sasuke, yang masih asik dengan kegiatanya menyusunya.
"Ahahaa...ah...S...sshasukeh...khunn... t...toloong he...hentikan.. Ah..ahha..." Hinata memohon dengan desahan yang tidak bisa ditahannya, tubuhnya baru pertama kali merasakan sensasi aneh seperti ini, rasanya seperti disengat listrik tegangan tinggi, tubuhnya terasa panas dingin disaat bersamaan.
"Hiks...hiks...hiks...t...toloong he...hentikan.." Ujanya terus menohon, mendorong bahu Sasuke untuk menjauh dari tubuhnya. Sasuke menulikan telinganya, ucapan Hinata dan isak tangis gadis itu tidak di gubris olehnya yang sudah dibutakan oleh nafsu.
"Cup...cup...cup..." Bunyi decapan lidah Sasuke mengema di dalam ruang tamu.
Sasuke yang masih asik, dengan kegiatanya, tidak perdulih dengan rontahan dan perlawanan Hinata, tangannya bergegas cepet menyibak rok Hinata, mencoba membuka celana dalam yang di kenakan sang gadis, secara paksa dan buru-buru.
"J...jangan.., a...aku mohon... Hiks...hiks...hiks...S...sashukeh...k..kun... J...jangan... Hiks...hiks...hiks..." Hinata berucap, dengan tangan yang mencengkram erat celana dalamnya yang akan dilapas Sasuke, kepalanya terus bergeleng-geleng kekanan dan kekiri dangan air mata yang terus berlinang dan isak tangis khas anak kecil.
"Hah...huh...hah... Tidak Hime, aku tidak bisa mengambulkan permintaanmu yang satu ini, kau harus menjadi miliku seutuhnya sekarang juga,...huh...huh...hah..." Ujarnya dengan nafas berburu, menolak keinginan sang gadis.
Tangannya menarik celana dalam yang di cengkram Hinata, meloloskanya dari kaki jenjang sang gadis dengan sangat cepat, lalu membuangnya sembarangan. Kaki Hinata beningsek merosot turun dari sofa, dengan sigap Sasuke segera menaikan kembali kaki Hinata, memaksanya kembali berbaring di atas sofa kemudian menindih tubuh mungilnya, tangan Sasuke menekuk kedua kaki Hinata, membukanya lebar, menghimpitnya dengan tubuh besarnya yang tepat berada didepan selangkangan sang gadis, bibir Sasuke kembali ingin mencium bibir mungil sang gadis, tapi Hinata membuang mukanya menolak ciuman Sasuke, Sasuke yang tidak sabar mencengkram rahang Hinata, lalu menariknya dengan kasar, menghadapkan wajah Hinata pada wajahnya, dan segera melumat kembali bibir Hinata dengan kasar dan menuntut.
"HMMPPPHH…."
Hinata terus mendorong dada bidang Sasuke untuk menjauh dari tubuhnya, tapi tidak berhasil, malah membuat Sasuke, semakin bernafsu melumat bibirnya. Puas dengan bibir Hinata, wajah Sasuke beringsek turun kedepan selangkangan Hinata, membelai selangkangan Hinata dengan tangannya yang agak kasar, mendekatkan wajahnya, tepat di hadapan vagina Hinata, bibirnya membelai bulu-bulu halus yang menumbuhi sekitar labia mayor sang gadis. Lidah Sasuke aktif mencari benda sensitif sang gadis, setelah Sasuke menemukan benda bulat sebesar biji kacang, dirinya langsung melumat klitoris Hinata, mengulamnya dengan lembut, lalu menggigit kecil, dan kembali mengulamnya. Setelah puas bermain dengan klitoris Hinata, lidah Sasuke mulai bermain dengan lubang vagina sumber kenikmatan bagi banyak lelaki, memasukan lidahnya yang lunak, kedalam lubang vagina Hinata, dengan gerakan, in-out dengan tempo yang teratur.
"Aah...ahhaaa...ah...ahhaaa.., S..shasukheh...j..jangann..ah..."
Densahan Hinata terdengar, tubuhnya mungilnya melengking keatas saat merasakan bedah lunak masuk kedalam lubang vaginanya, tangannya sibuk mendorong kepala Sasuke agar menjauh dari benda sensitivnya, sedangkan kakinya terus berusaha dirapatkan agar Sasuke menjauh dari benda sensitivnya. Sasuke yang menyadari penolakan dari Hinata, segera mencengkaram kedua paha mulus Hinata membukanya lebar, agar tidak menjepit kapalanya yang sedang bermain di bagian lubang sensitiv gadis yang di cintainya.
"Cup...cup...cup..." Bunyi decapan lidah kembali terdengar, saat Sasuke mengerjai bagian sensitiv sang gadis.
"Ah...aahh...ahah..." Desahan sexy kembali lolos dari bibi Hinata, pelipisnya bersimbah peluh, mulutnya terbuka tutup seperti ikan yang berada di darat.
Di sadari lubang vagina Hinata semakin berdenyut berusaha menjepit lidahnya dengan kuat, Sasuke menyadari bahwa sebentar lagi Hinata akan klimaks, Sasuke mengeluarkan lidahnya untuk menjauh dari lubang vagina sang gadis, menggantikannya dengan jari tangannya. Satu jari tengah Sasuke di masukan ke dalam vagina Hinata secara perlahan.
"Aaahh….ahh... S-sasu s-sakit...hiks...hiks...hiks..." Hinata berteriak kesakitan disela-sela desahanya dengan isak tangis yang mulai kembali terdengar dari bibir munggilnya yang bergetar hebat. Rasa Sakit mulai terasa ketika Sasuke memasukan jarinya.
Hinata benar-benar takut dengan perlalukaan Sasuke padanya, dulu Sasuke tidak pernah seperti ini padanya, bahkan dia selalu melindungi Hinata disaat Hinata di bully oleh teman-temannya, saat masih sekolah SMA dulu. Tapi sekarang dia sudah tidak mengenal Sasuke lagi, baginya Sasuke seperti orang lain dimatanya.
"Huh...huh...huh...huh..." Nafas Sasuke berburu, mencoba menahan hasratnya yang menggebu, dia tidak ingin melukai Hinata-nya.
Sasuke menarik jarinya keluar dari vagina sang gadis, yang benar-benar terasa sempit, bahkan satu jarinya pun tidak muat di dalam lubang kenikmatan Hinata. Sasuke memasukan jarinya ke dalam mulutnya dan menjilatinya agar jarinya basah, lalu kembali memasukan lagi jarinya kedalam vagina Hinata, bergerak memutar-mutar mencoba meregengangkan lubang vagina gadis itu dengan jarinya, saat di rasa jarinya tidak lagi di cepit terlalu kuat, Sasuke kembali menambah satu jari lagi untuk masuk kedalam vagina Hinata, menariknya sampai jarinya setengah keluar, lalu memasukan kembali, dengan gerakan sedikit lebih cepat dan berulang-ulang.
"Ahah...ah...ahaah... S...sashukeh.. Ah..mmptmtpppmm." Hinata membekap mulutnya sendiri dengan tangannya, Sadar Hinata tidak lagi mengeluarkan desahan Sexy nya, Sasuke mendongakan kepalanya ke atas untuk melihat wajah cantik Hinata.
Tangan Sasuke menyingkirkan tangan Hinata yang terus membekap mulutnya sendiri. "Jangan di tahan Hime, aku suka desahanmu.." ujarnya terus meng in-out kan jarinya, keluar masuk dari vagina gadisnya.
Saat kedua jari Sasuke di jepit kuat oleh vagina Hinata, Sasuke sadar sebentar lagi Hinata akan klimaks, dia semakin mempercepat jarinya keluar masuk kedalam vagina Hinata, dengan tempo gerakan yang sangat cepat.
"AHGHHH...ah..." Teriak Hinata saat orgasme menghampirinya, tubuhnya langsung lemas terkulai seketika.
Vagina Hinata menyemburkan cairan cintanya, di tangan Sasuke, Sasuke hanya bisa menyeringai segera menarik tangannya keluar dari vagina Hinata, lalu memasukan jarinya kedalam mulutnya, menjilati jarinya yang basah karena cairan bening gadis yang di cintainya. setelah kedua jarinya bersih, tidak ada lagi cairan yang tersisah, tanpa merasa jijik Sasuke segera melumat vagina Hinata dengan mulut dan lidahnya, membersikan cairan bening yang berceceran di sekitar vagina Hinata. Sedangkan Hinata hanya bisa pasrah, tenanganya sudah habis, tubuhnya terkulai lemas di bawah tubuh besar Sasuke, nafasnya tersengal tidak beraturan dengan mata terpejam, merasakan klimaks pertamanya.
Sasuke menyeringai, melihat tubuh munggil gadis yang di cintainya, tidak bisa lagi memberontak. Dirinya segera melepas celana jeans panjang dan baju kemeja putih yang di kenakannya, membuangnya sembarangan. Tangan Sasuke segera mencengkram pergelangan tangan munggil Hinata, membibimbing tangan Hinata untuk menyentuh kejantanannya yang sudah mengalami ereksi semenjak pertama kali menyentuh Hinata. Kejantanannya yang masih terbalut celana dalam Hitam dengan tojolan besar di tegahnya, meremasnya dan memijat lembut tonjolan yang semakin besar dan ereksi dengan tangan mungil Hinata.
"AHH...remas sayang, ahah...huh...huh...huh..." Desahan Sasuke mulai terdengar, saat tangan mungil Hinata meremas gundukan yang semakin menengang didalam celana dalam hitamnya yang mulai basah oleh cairan pra orgasme yang keluar dari kepala penisnya. Matanya terpejam meresapi remasan tangan gadisnya dengan nafas berburu, menahan nikmat.
Hinata berusaha menarik tangannya untuk menjauh dari kejantanan Sasuke yang masih terbalut celana dalam Hitam, dan tangan Hinata sukses kembali di tarik oleh tangan besar Sasuke, untuk kembali memijat kejantanannya yang semakin ereksi.
"AHH...ahaah... Hina...ahh..." Sasuke menahan suara desahan nikmatnya agar tidak sekeras suara desahan wanita.
Puas dengan aksinya, Sasuke membuka celana dalam berwarna hitamnya, dan menampakan kejantanannya yang sudah mengacung sempurna. Tangannya segera menarik kedua paha mulus Hinata untuk mendekat. Mendekatkanya pada kejantanannya yang sudah mengacung sempurna di hadapan selangkangan Hinata. Sasuke menggesekan batang penisnya, dengan belahan bibir vagina Hinata secara cepat dan kasar, membuat cairan peluamas yang di keluarkan Hinata menempel pada batang penisnya yang belum basah. Rasanya benar-benar nikmat. Saat di rasa batang penisnya sudah basah dan siap untuk memakan hidangan utama yang tersaji, Sasuke segera memposisikannya kepala penisnya tepat di hadapan lubang vagina sang gadis yang di tindihnya.
"Ahh...Sashukeh... S...sakit...ah...Sak..kit.." Teriak Hinata ketika kepala penis Sasuke mulai memasuk kedalam lubang vaginanya.
"Huh...hahh... Sabar sayang, tahan...bebentar_" ujarnya berusaha menenangkan sang gadis, dengan nafas berburu.
"S...sakit... Hiks...hiks..., S...sasuke-kun t..tolong keluarkan...hiks...hiks...sa...kit.." Teriak Hinata merontah-rontah memukul-mukul dada bidang Sasuke, dengan kepala yang terus di gelengkan kekanan dan kiri, meluapkan rasa sakit yang di rasakannya, dengan air mata yang semakin deras menetes.
Sasuke mendekatkan wajahnya kepada wajah Hinata, menjulurkan lidahnya untuk menjilati air mata yang keluar dari kedua mata bulan sang gadis, mengecup lembut seluruh wajah cantik Hinata.
"Hushhhh... Tahan sayang..." Ujarnya menenangkan Hinata, lidahnya terus menjilati air mata yang mengalir di pipi chabby wanitanya.
Bibir Sasuke kembali melumat bibir mungil Hinata, dengan lembut dan sayang, sedangkan Sasuke terus mendorong kejantanannya masuk ke dalam vagina Hinata dengan perlahan, saat di rasa ada penghalang yang menghentikan pergerakannya, Sasuke segera menarik sedikit kejantanannya lalu memasukan dengan sekali hentakan, menerobos pertahanan terakhir sang gadis yang di cintainya.
"AGhttttmmmm..."Jeritan tertahan Hinata ketika merasakan perih dan gilu yang dirasakannya, Saat Sasuke menjebol pertahanan terakhirnya, darah keluar dari vagina Hinata, merembes keluar dari sela-sela kejantanan Sasuke yang masih tertanjap didalam vagina Hinata.
Sasuke mengakhiri ciumannya, nafas keduanya tersenggal, dan nafas yang berburu, "Hahh...hah...hah..."
Sasuke mencoba menahan keinginan untuk langsung menggerakan pinggulnya. Dinding Hinata yang menjepit batang penisnya dengan sangat kuat, dan itu membuatnya nikmat dan sakit di saat yang bersmaan. Tidak sabar karena penisnya yang di jepit semakin kuat, Sasuke segera mengerakan kejantananya keluar masuk pada lubang vagina Hinata, mengerakannya secara perlahan dengan tempo lambat dan teratur. Bibir Sasuke kembali melumat puting susu Hinata, menjilatnya lalu mengulamnya, sepeti bayi yang sedang menyusu.
"Ah...ahah...ah...ahah..." Desahan nikmat keluar dari bibir Hinata.
Hinata hanya bisa pasrah dan terkulai lemas akan perlakuan Sasuke pada vaginannya. tubuhnya sudah merasakan lelah dan letih karena Hinata sudah klismaks berulang kali di banding dengan Sasuke, yang bahkan masih terus mengobok-ngobong vaginannya dengan tempo in-out yang semakin cepat dan menjadi-jadi. Sasuke sudah tidak peduli banjir yang ada pada liang kewanitaan Hinata yang disebabkan oleh beberapa kali orgasme yang dialaminya. saat batang penisnya di remas semakin kuat oleh lubang vagina Hinata, Sasuke semakin menambah kecepatan in-out nya di dalam lubang vagina Hinata.
"PLAK...PLAK...PLAK...PLAK..." Suara kulit beradu, menimbulkan suara yang menggema di ruang tamu. Semakin membakar hasrat Sasuke untuk semakin menghujamkan kejantanannya pada vagina Hinata.
Sasuke yang merasakan bahwa penisnya mulai berdenyut cepat dan lebih kaku, semakin mempercepat gerakan pinggulnya.
"PLAK...PLAK...PLAK...PLAK..."
"Ahh...ahhaa... Aha..." Hinata terus mendesah hebat karena perlakuan Sasuke pada tubuh bagian bawahnya.
"Nghh...ahah..." Hinata menjerit saat merasakan kembali sensasi puncak kenikmatan yang dialaminya, liang yang semakin becek membuat suara kecipak basah semakin jelas terlebih Sasuke masih memompanya dengan gerakan brutal dan menjadi-jadi.
"PLAK...PLAK...PLAK..."
Saat Sasuke merasakan desakan gelombang orgasme yang sudah berada diujung kejantanannya. Dirinya Semakin mempercepat gerakan pinggulnya untuk keluar masuk kedalam lubang vagina Hinata, menanamkan kejantanannya dalam-dalam pada lubang sang gadis yang sudah menjadi seorang wanita di tangannya.
"Nghh—Hinata!." Beberapa detik setelah Hinata terkulai lemas, Sasuke ikut menyusul mengeluarkan semua cairan kentalnya memenuhi liang kewanitaan Hinata. Tubuh Sasuke langsung ambruk menimpa tubuh polos wanita yang di cintainya, keadaan yang licin membuat kenjantanannya dengan mudah meluncur keluar bersamaan dengan bunyi "plop" pelan yang menggiringnya.
"Huh...huh...huh...hah...hah..."
Nafas mereka tersenggal bersamaan, Sasuke membaringakan tubuhnya diatas sofa bersebelahan dengan Hinata, memaluk tubuh polos Hinata, mendekapnya secara posesif. Sedangkan Hinata yang merasa kelelahan hanya bisa tertidur pulas di dalam rengkuhan posesif dari tubuh polos Sasuke. Dengan peluh yang masih berceceran di sekujur tubuhnya, dan cairan kental seperti susu yang masih membanjiri lubang kewanitaannya.
.
.
SJ
.
.
Hari berganti menjadi sore, Sasuke yang mulai sadar, segera membuka matanya secara perlahan-lahan, merengangkan tubuh polosnya yang kaku dan terasa sakit di sekujur tubuhnya. Hal pertama yang dilihat Sasuke adalah Hinata, wanita yang di cintainya masih terbaring di sampingnya, dengan mata yang masih terpecam, dan nafas halus dan teratur yang masih terdengar.
Sasuke segera menggendong tubuh polos Hinata, mengendongnya ala bridal style. Kaki jenjangnya melangkah menaiki tangga lantai atas rumah Hinata, membuka knop pintu kamar Hinata, membaringkan tubuh sang gadis yang masih polos di ranjangnya, kemudian Sasuke membaringkan tubuhnya tepat di samping Hinata, menyelimuti tubuh polos mereka dengan selimut tebal yang tersedia di atas ranjang, dengan senyum yang tidak pernah absen dari wajah tampannya dan seringai kemenangan yang tercetak apik.
'Akhirnya kau menjadi miliku Hime.' Ujarnya dalam hati tersenyum.
TBC.
Hay, jumpa lagi minna-san.
Maaf updetnya lama, cz akuma sibuk, dan otak akuma lagi madet, dan mohon maaf bila lemon yang di bikin akuma kurang hot, atau jelek, bahkan gak nyambung, hehhehehhe
Habis akuma gak bisa bikin lemon, bahkan jujur akuma baru sekarang bikin lemon #ragu
Mohon maaf bila ada bahasa yang tidak di mengerti atau kurang jelas, akuma mohon maaf sebesar-besarnya, namanya akuma juga masih belajar.
Dan akuma mengucapkan terima kasih pada reader yang mau baca fanfic abalku ini, dan silent reader.
Mohon Review _nya Minna-san, makasih.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Jaa-ne~
SJ : 10-05-2016 (13:13)
