Chapter 3
WARNING : TYPO, OOC , EYD, Ide pasaran.
DON'T LIKE, DON'T READ
Isakan tangis memilukan terdengar di ruangan kamar bernuansa violet, dengan cat berwarna ungu muda yang menghiasi dinding kamar, dengan prabotan kamar yang tertata rapi dan bersih.
"Hiks..hiks…hiks…"
Sesosok wanita cantik dengan tubuh meringkuk di pojok kamar menekuk kedua lututnya memeluknya dengan wajah di tenggelamkan di atas kedua lututnya yang tertekut. Rambut panjang berwarna ungunya berantakan, dan terkesan acak-acakan, tubuhnya polos di tutupi selimut yang melingkar di tubuhnya, dengan tangan yang mencengkram erat selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.
Sasuke yang merasa terusik dengan suara isak tangis wanitanya, segera mengerjapkan matanya, membukanya perlahan, untuk melihat apa gerangan suara berisik yang mengusik tidurnya, tanganya bergesas mengucek matanya yang masih kabur. Mata onyx nya menangkap sosok seorang wanita yang menangis di pojokan kamar.
"Hime, kau sedang apa?" Tanya Sasuke dengan suara serak khas orang baru bagun tidur.
Sadar tidak ada jawaban dari wanita yang dipanggilnya, Sasuke menuruni ranjang, demi menghampiri tubuh sang wanita yang masih meringkuk di pojokan kamar, kakinya perlahan berjalan menghampiri Hinata.
"Hey, Hime? Ada apa?" Ujarnya menjulurkan tangannya menghusap pucuk kepala wanita cantik di depannya.
Tangan Hinata segera menepis tangan Sasuke dengan kasar. "J-jangan s-sentuh ak...aku!...hiks..hiks...hiks..." Ujarnya tergagap dengan tangisan yang semakin terdengar piluh.
Sasuke yang menyadari penolakan yang di lakukan Hinata, hanya bisa memasang wajah kecewa dan sedih, "Maaf." Ujarnya dengan suara lirih.
"Hiks...hiks...hiks..., kau p-pikir dengan meminta m-maaf... Hiks...hiks...k-kau bisa mengembalikan kesuciku... Hiks...hiks...hiks.." Hinata tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya tangisnya pecah, dengan air mata yang semakin deras keluar, membasahi pipi chabby nya.
Sasuke sadar dirinya sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, sehingga wajar bila Hinata membencinya, tapi dia tidak mau semua itu terjadi, dia tidak mau Hinata membencinya bahkan menjauhinya.
"J...jangan...men...dekat!, m-mau a-apa kau... Hiks...hiks...hiks... M-mau memperkosaku l...lagi? Hiks...hiks.." Teriak Hinata histeris semakin menenggelamkan kepalanya dengan tubuh bergetar takut.
Matanya terpejam merasakan sakit di hatinya, akan kata-kata Hinata yan menudingnya telah memperkosannya.
Sasuke kembali menjulurkan kedua tanganya untuk memeluk tubuh mungil Hinata, tubuh Hinata bergetar di pelukan tubuh polos Sasuke.
"L-lepas... J-jangan s-sentuh aku.." Teriak Hinata histeris saat tubuh Sasuke memeluk tubuhnya erat, tangan Hinata berusahan mendorong tubuh Sasuke, untuk menjauh dari tubuhnya, tapi ngihil Sasuke semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Hinata.
"Hime, maaf, sungguh aku benar-benar khilaf, itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintaimu." Ucap Sasuke memohon maaf dengan bibirnya yang terus mencium pucuk kepala Hinata. Mata onyx nya berkaca-kaca dan menitikan air mata.
"Hiks...hiks...hiks...hiks..." Hinata hanya bisa menangis dipelukan Sasuke, sehingga tidak menyadari bila pria yang memelukanya sedang menangis, menyesali perbuatannya, yang telah merusak wanita yang di cintainya.
"Maaf Hime." Ulang Sasuke lirih, memohon penuh penyesalan, dengan air mata yang membasahi pipi tirusnya.
Wajah Hinata mendongak menatap wajah tampan Sasuke, yang sekarang terlihat menyedihkan di matanya, matanya terbelalak kaget melihat jejak cairan bening yang menghiasi pipi tirus Sasuke. Hinata tidak mampu lagi berkata apapun, bahkan isak tangisnya hilang sudah. Tangan Hinata terjulur menyentuh pipi tirus Sasuke, menghapus jejak air mata di pipi Sasuke dengan ibu jarinya.
Sasuke memengang punggung tangan Hinata, meremasnya lembut telapak tangan Hinata dengan tangan besarnya yang berada di atas jemari lentik sang wanita, yang masih mengusap air matanya. Mata Sasuke terpejam meresapi kelembutan tangan sang gadis, yang masih berada di pipinya.
"Hime, aku sangat mencintaimu." Ujar Sasuke mengelus punggung tangan Hinata, mencium telapak tangan Hinata yang masih berada di pipinya.
"..."
"Ayo kita menikah?" Ujak Sasuke tiba-tiba.
Hinata membelalakan matanya kaget mendengar pertanyaan Sasuke kepadanya, tubuhnya mengegang, jantungnya berdetak semakin cepat dari biasanya.
"..a...aku..." Hinata menarik tanganya yang ada di pipi tirus Sasuke.
"Aku mohon jangan menolaku lagi, Saat aku melakukannya, aku benar-benar tidak menggunakan pengaman apa pun, bagaimana bila kau hamil anakku." Racau Sasuke terus membeo tidak jelas.
Hinata kembali terisak piluh, benar apa yang di ucapkan Sasuke padanya, bagaimana bila Itachi tau, bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi, dan bagaimana jika kedua orang tuanya tau.
"Hiks...hiks... Hiks..." Hinata kembali menagis.
"Hey, jangan menangis lagi_" Ujarnya mengusap air mata Hinata dengan ibu jarinya. "Aku akan bertanggung jawab, dan aku akan mengaku pada Itachi dan semua keluargamu bila aku telah memperkosamu." Sambungnya serak mencoba menyakinkan Hinata.
"Hiks...hiks...hiks... J...jangan... Ss..sasuke-kun aku m-mohon...hiks...hiks...hiks..." Ujarnya kembali terisak.
"Hanya dengan cara ini, aku bisa memilikimu Hinata, aku mohon mengertilah." Sasuke memohon pada Hinata, dengan kedua tanganya yang terkatup memegang kedua pipi chaby Hinata.
Hinata mengeleng, tanda bawah dia tidak setuju dengan keinginan Sasuke. "Hiks...hiks...hiks.. "
Sasuke menghembuskan nafas berat, tanda dia kecewa dengan penolakan Hinata, "apa kau tidak mencintaiku?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"A...aku..., a..ak..aku hiks...hiks...hiks..."
"Jawab Hinata, aku hanya butuh jawabanmu." Ujar Sasuke dengan nada geram yang melihat Hinata hanya bisa menangis.
"Hiks...hiks...hiks..." Hinata hanya terus menangis, tanpa berusaha menjawab pertanyaan Sasuke padanya.
Sasuke benar-benar kecewa dengan sikap Hinata yang memilih bungkam tanpa berniat menjawab pernyataan cintanya sama sekali.
Dirinya segera bangun dari hadapan Hinata, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Hinata, menutup pintuhnya dengan kasar, sehinga berbunyi 'BRAK.' Saat pintu kamar Hinata tertutup dengan kasar. langkanya menuju kamar Itachi yang berada di sebelah kamar Hinata. Sasuke membuka knop pintu kamar Itachi lalu menutupnya kasar 'BRAK'.
"Dasar wanita sialan!." Umpatnya kasar, membuang nafas berat.
'Lihat saja Hinata, akan ku buat kau menerimaku, mau pun dengan cara halus, atau pun cara kasar.' Ujarnya dalam hati menyeringai dengan sorot mata yang tidak normal.
Segera melangkahkan kakinya, kedalam kamar mandi.
.
.
.
SJ
.
.
.
Hari berganti menjadi malam, seorang lelaki dengan rambut berwarna revlan masih betah membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Seolah tidak terusik dengan gelapnya malam.
Tubuhnya beringsek mencoba bagun dari tidurnya, menuruni ranjang, dan bergegas melangkah ke arah pintu, membukanya lalu keluar dari kamar kakanya, menuju kamar Hinata yang terletak tidak jauh dari kamar yang di tempatinya sekarang.
Saat tiba, Sasuke bergegas mengetuk puntu kamar Hinata. Demi melihat dan memastikan keadaan Hinata.
Tok
Tok
Tok
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, dan sukses membuat Sasuke cemas.
"Hinata?" Panggilnya kemudian dengan tangan yang terus mengetuk pintu di depannya.
Tok
Tok
Tok
tidak ada jawaban.
"Hinata! Kau di dalam?" Ujar Sasuke berteriak panik.
Tok
Tok
Tok
"Hinata buka pintunya!." Perintah Sasuke dengan nada suara meninggi.
Sasuke merasa cemas, belum pernah Hinata mengacukannya seperti ini, apa Hinata benar-benar membencinya dan tidak mau bertemu dengannya lagi.
BRUG...BRUG...BRUG...
"Hinata, aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi. Jadi tolong jangan marah lagi, aku sungguh menyesal, Hinata aku mohon, jangan perlakukan aku seperti ini, hatiku sakit. Jadi aku mohon buka pintunya." Teriak Sasuke semakin geram.
Tetap tidak ada jawaban.
"Aku akan menelpon Aniki, dan mengakui semuanya, bahkan bila perluh mengakui aku telah memperkosamu." Ancam Sasuke panik.
BRAK
Suara pintu terbuka dengan kasar, menampakan sosok gadis mungil dengan penampilan yang berantakan.
"A-aku m-mohon j-jangan... Hiks...hiks...hiks..." Ujarnya terisak piluh.
"Baiklah, tapi tolong jangan mengacukan aku lagi. Hinata." Ujar Sasuke, menghembuskan nafas lega, menjulurkan tanganya untuk meraih tubuh wanita yang di cintainya.
"Hiks..hiks..hiks..."
Hinata menjawab dengan angukan kepala, tanpa berniat membalas ucapan Sasuke padanya.
.
.
SJ
.
.
"Makanlah. Kau pasti lapar." Ujar Sasuke menyodorkan makanan pada sang wanita yang sejak tadi hanya duduk terdiam di hadapannya.
"..." Hinata tidak bergeming, bahkan mencoba menjawab apa yang dikatakan Sasuke.
"Aku suapi." Ujar Sasuke mengambil makanan yang tersedia dengan sumpit, menyodorkannya pada mulut sang gadis.
Hinata menengokan wajahnya, menolak perlakuan Sasuke padanya.
"Ck, keras kepala..." Sasuke berdecak kesal, "Wanita sialan!." Makinya membuang makanan di tangannya dengan kasar.
Hinata kembali terisak, "hiks...hiks...hiks..." Semakin menundukan kepalanya dalam.
"Kenapa kau hanya bisa menangis, aku muak, mendengarnya..." Ujarnya ketus, tanganya menyapu bersih makanan di mejan makan yang berada di hadapanya, membuangnya kelantai. "Sudah bagus, aku tidak memberitahu Itachi dan keluargamu, seharusnya kau bersyukur." Ujar Sasuke ketus, mebuang nafasnya kasar, mendudukan tubuhnya kembali pada kursi di hadapan Hinata. Memijit kepalanya yang terasa pening menghadapi sikap keras kepala Hinata.
.
.
.
SJ
.
.
.
Setelah sekian lama terdiam menahan amarahnya, Sasuke bangkit menghampiri Hinata, yang masih duduk terdiam dengan kepala tertunduk dalam. Tangan Sasuke segera menarik pergelangan tangan Hinata, menyeretnya untuk mengikuti langkah kakinya, yang menaiki tangga lantai atas rumah Hinata, membuka kamar Hinata, melangkahan kakinya ke arah ranjang, membaringkan tubuh Hinata di atas ranjang, lalu Sasuke segera membaringkan dirinya bergabung dengan Hinata, meneluk tubuh Hinata dengan posesif, tanganya melingkari pinggang ramping Hinata, sedangkan kedua kakinya menjepit kaki jenjang wanita yang dipeluknya.
Suara getaran Smartphone mendominasi ruangan yang sunyi.
Drrrrrtttt...Drrrtttttt...Drrrrrtttttt
Hinata yang menyadari handphone nya bergetar mencoba melepaskan pelukan Sasuke pada tubuhnya, untuk mengambil Smartphonenya yang tergeletak apik di meja samping ranjang, saat Hinata hendak menjulurkan tangannya, dengan cepat Sasuke segera mengambil smartphone milik Hinata. Membaca siapakah gerangan yang mengusik ketenangannya dengan Hinata-nya.
Itachi calling
Dengan kesal Sasuke membanting Smartphone Hinata, menarik kembali tubuh Hinata utuk berbaring disampingnya, tanpa menghiraukan protes yang akan dilayangkan sang wanita kepadanya.
"S-sasuke apa_" ucapa Hinata di potong oleh gerakan Sasuke yang menarik tubuhnya kasar.
"J-jangan coba-coba kau menghianatiku atau berfikir untuk meninggalkanku! Atau aku akan memberitahunya tentang hubungan kita, dan_" jeda cukup lama "jangan penah kau menghubungi itachi atau kau akan tau akibatnya Hime!." Acam Sasuke berbisik, dengan nada tajam penuh ancaman dan seringai menakutkan yang tercetak diwajah tampannya.
"..." Hinata hanya terdiam dengan tubuh bergetar hebat, dirinya tidak berani memperotes ataupun menetang perkataan Sasuke padanya.
Sasuke yang menyadari wanitanya takut, mencoba menenangkannya, tangannya membelai surai indigo Hinata dengan sayang. "Tidurlah! Turuti kataku, kalau kau tidak mau aku hukum." Acam Sasuke, mencium pucuk kepala Hinata lembut.
Sedangkan Hinata hanya bisa diam, dan mecoba menuruti semua keinginan Sasuke, dia tidak mau bila nanti Sasuke memberitahu kejadian tadi pada Itachi selaku tunangannya dan pada keluarganya. Hinata tidak ingin membuat mereka kecewa, dan semakin menyakiti Sasuke.
TBC.
Hayhay...
Ketemu lagi minna-san bersama akuma.
Akuma mau menjelaskan, Sasuke itu memesan makanan dari lestoran, yang mengantarkan makanannya di rumah.
Tidak mau banyak cincong, akuma mengucapkan terima kasih kepada semua yang mau membaca fanfic akuma yang abal ini,
Special Thanks :
Uchiha Cullen738, AelindahyuuQ, CheftyClouds, sasuhina69, orang(?), oortaka, Zuzu-chan, Guest(?), ryeovy621, Baby niz 137, ade854 II, sushimakipark, dan silent reader.
Mohon Review nya Minna-san.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Jaa-ne~
SJ: 11-05-2016 (23:33)
