Disclaimer oleh Masashi Kishimoto
Hyuuga Hinata X Uzumaki Naruto
#
#
#
#
#
Devilish Lips
#
#
#
#
-Happy Reading-
Chapter 2 : You!
"Oh, Hinata okaeri. Bukankah kau datang terlalu cepat?" ujar calon kakak iparnya yang masih setia duduk didepan tv untuk menonton acara tv kesayangannya. Ia sedikit heran karena tak ada ucapan 'aku pulang' saat Hinata masuk kedalam rumah, Tenten tak begitu mengubrisnya dan meanjutkan menonton acara kesyangannya sedangkan Hinata memilih untuk berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Blam
"Kami-sama." Tenten mengelus dadanya pelan, ia tersentak kaget mendengar suara pintu kamar tertutup dengan keras dari lantai atas. "Apa yang terjadi pada gadis itu?" tanya Tenten menatap kearah tangga.
.
.
Hinata POV
Aku membuang tasku begitu saja dan tanpa mengganti bajuku serta menghapus make up langsung menjatuhkan diriku pada kasur berukuran queen size, aku sudah tak bisa menahan tangisku lagi. Aku menelungkupkan wajahku dibalik lengan mungilku, aku menangis meluapkan kekesalanku. Aku tak bisa menerima apa yang dikatakan pria berkacamata itu. Dia benar-benar menyebalkan! Kenapa semua orang selalu mengatakan itu? Semua memperlakukanku seperti anak kecil, Terus kalau seperti itu bagaimana bisa aku mendapatkan pacar? Dan pria itu...
"Apakah kau siswa sekolah dasar? Bukankah ini waktunya anak kecil pergi tidur?"
"Siapa dia yang mengatakan hal tidak sopan padaku?" ujar Hinata disela isakkan tangisnya. "Aku ini sudah besar hanya saja..." aku tak bisa lagi melanjutkan perkatakanku.
Kini aku menangis dibalik bantal, biar aku tegaskan lagi. Aku sudah 17 tahun dan aku juga duduk dibangku kelas tiga SMA. Aku benar-benar muak dengan perkataan yang sama setiap orang memandangku sebagai anak kecil.
Hinata POV END
.
.
.
Semua ini gara-gara minuman tadi malam, lihatlah sekarang Hinata hanya bisa menempelkan pipi putih porselinnya pada meja tempat duduknya. Pelajaran Iruka sensei telah berakhir lima menit yang lalu dan selama jam pelajaran bisa ditebak Hinata tak dapat konsentrasi. Hinata mengalami hangover akibat minuman itu, walaupun dirinya sudah menelan aspirin dengan dosis kecil tetap saja sakit kepalanya tak bisa hilang begitu saja. Apakah ia harus meminum aspirin denga dosis tinggi agar hangovernya hilang.
Begitu Iruka sensei keluar kelas, kedua sahabat Hinata langsung mendekati gadis bersurai indigo yang terlihat hangover itu. Mereka berdua menarik kursi yang tak jauh dari bangku Hinata, deritan kursi itu membuat Hinata yang menempelkan pipinya kini ia menopang wajahnya di meja dengan dagunya.
"Hinata-chan daijoubu?" tanya Sakura khawatir melihat kondisi Hinata yang mengalami hangover.
"Kau terlihat tidak baik Hinata-chan." Tambah Ino yang juga mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Ah, aku baik-baik saja. Kepalaku hanya sedikit pusing." Terang Hinata yang tak ingin melihat kedua temannya merasa khawatir dengan kondisinya.
Mendengar ucapan Hinata itu kedua gadis dengan warna rambut berbeda hanya menghela nafas, "Kau tahu, aku mengkhawatirkanmu semalam, kau pergi begitu saja setelah kembali dari toilet." Jelas Sakura yang kini melipat kedua tangannya didada.
"Ah, gomenne." Ujar Hinata sekenanya.
"Hinata, ada apa?" tanya Ino menatap Hinata yang seperti menahan sesuatu.
"Kau seperti orang mau mati." Tambah Sakura yang mulai panik melihat kondisi sahabatnya.
"Kepalaku sangat sakit, rasanya kepalaku mau pecah." Jawab Hinata yang terlihat suram.
"Hinata-chan." Kini Ino juga ikut panik seperti Sakura. "Lebih baik kau segera pergi keruangan perawatan sekolah, setidaknya kau bisa beristirahat disana." Saran Ino.
"Iya Hinata chan, apa yang pig katakan benar. Lihatlah, kau terlihat sangat pucat." Tambah Sakura yang tak kalah khawatirnya melihat Hinata.
"Ya." Hinata bangkit dan mendorong pelan kursinya kebelakang agar dia bisa berjalan.
"Kau mau kami antar?" tawar Sakura yang kini mendekati Hinata.
Hinata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku bisa sendiri, lagipula sebentar lagi bukankah jam pelajaran Kurenai sensei." Tolak Hinata halus.
"Baiklah, hati-hati Hina-chan."
.
.
Ah, aku merasa sakit dan terlihat sakit. Tentu saja itu yang dikatakan Ino-chan dan Saku-chan. Semua karena minuman Kiba. Hinata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, ia berjalan menyusuri lorong menuju ruang perawatan yang berada dilantai satu. "Kejadian semalam membuatku menangis dan marah sehingga aku tak bisa tidur nyenyak." Keluh Hinata menghela nafas beratnya.
Hinata sedikit tersenyum, ia ingat mungkin dengan menceritakan hal menyebalkan semalam pada Shizune –dokter sekolah- membuat hatinya tenang dan sakit kepalanya hilang.
Langkah Hinata terhenti tepat di nurse office, gadis dengan mata amethyst itu menggeser pintu ruangan. "Shizune-nee, ku harap kau mau mendengarkan curhatanku hari-." Ucapannya terpotong ketika ia tak mendapati dokter yang ia cari tapi amethystnya kini jatuh pada punggung lebar dengan surai kuning layangnya matahari.
Amethyst itu tak bisa berpaling dari tiupan angin yang menggerakkan surai kuning itu. Kirei. Seketika hatinya merasa tenang dan teduh.
Pria bersurai kuning itu memutar kursinya yang bisa memutar, "Huh?" Hinata seketika mematung ketika kilatan shapirre itu menatap amethyst nya, tubuhnya seolah tak dapat bergerak.
"Hm, kau." Ujar pria berjas dokter itu dengan santainya ia kembali memutar kursinya menghadap meja kerja yang berserakan oleh kertas.
Tiba-tiba sekelebat ingatan tadi malam muncul dipikiran Hinata, "Ahhhh!" Hinata menuju pria yang membelakanginya.
Dia pria berkacamata tak sopan itu. Tidak! Hinata langsung memegang kepalanya yang bertambah sakit dengan kedua tangannya. "Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin." Gumamnya terus, gadis bersurai indigo itu tak percaya dengan apa yang dia lihat dihadapannya.
"Oh, jadi kau siswa sekolah ini? Hm, aku pikir kau adalah siswa sekolah dasar." Ucap pria itu memutar kembali kursinya dan menghadap Hinata.
"Apa... apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Hinata menahan sakit kepalanya.
"Dokter Shizune sedang pergi training, jadi aku disini menggantikannya." Jawab pria itu.
"Eh, kau dokter? Kau bahkan tidak terlihat seperti itu." Kaget Hinata menatap pria kuning itu dari ujung kaki hingga ujung surai pirangnya.
Di jas dokter itu tertulis nama pria itu, Hinata menyipitkan ametyhstnya dan membaca bordiran yang tertulis disaku jas dokter dibagian dada.
Uzumaki Naruto, RS Fak Konoha University.
Ya pria bersurai pirang itu adalah dokter sebuah rumah sakit terkenal di Jepang. Naruto mengelus dagunya dengan jari sepertinya ia sedang berpikir entah apa yang dipikirkan oleh pria berkacamata itu.
Seketika senyum licik ala iblis ia keluarkan, Hinata yang menangkap senyuman itu seketika merinding. Ia merasakan akan terjadi sesuatu dari senyuman iblis dari pria tidak sopan ini. "Apakah kau free?" tanya Naruto pada Hinata.
"Why?" tanya balik Hinata dengan heran, apa yang sedang pria tidak sopan ini pikirkan?
"Jadi benar, kau sedang free baguslah." Naruto memutar kursiya lalu mengambil tumpukan kertas yang tadinya berserakkan dimeja kerjanya. Ia bangkit dengan tumpukan kertas yang tinggi lalu. "Aku ingin kau memisahkan surat rekaman medis siswa."
Eh. Hinata hanya bisa bingung, kini gadis itu nampak terlihat bloon dan menerima saja dengan tumpukan kertas yang kini ada dikedua tangannya.
Hinata berjalan mendekati Pria berkulit tan itu "Ap- kenapa aku harus melakukannya?" tanyanya meletakan kertas itu dimeja kerja Naruto. "Bukankah ini pekerjaanmu agar bisa merubah posisi magangmu."
"Kau tidak mendengar, kau harus mengerjakannya?"
Sakit kepala Hinata semakin menjadi, ia memegang kepalanya. Aku kesini untuk istirahat bukan untuk mengerjakan pekerjaannya. "Jadi, bagaimana kalau aku mengatakan ada gadis buruk dari sekolah ini yang sedang hangover karena meminum alkohol di karoke."
DEG
Hinata mematung, tidak sekolah tidak boleh tahu tentang ini. Mereka pasti akan menelpon Neji-nii dan Neji-nii akan membawaku pulang ke Suna lalu mengurungku. Hinata mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap shappire dengan kilatan bak iblis.
"Aku meminum itu hanya kecelakaan dan aku juga tidak tahu." Menjelaskan hal yang sebenarnya.
"Itu bukan urusanku." Naruto menyeringai bak iblis. "Apa tak masalah? Mungkin tidak sengaja mulutku mengatakannya dan memberitahu pada guru lain tentang hal itu." Ia membenarkan dasinya. "Jadi apakah kau mau membantuku? Dari kesulitanku."Apakah dia sedang memerasku? Hinata terlihat tak percaya pada pria bak iblis itu, dia sedang mengancam Hinata dengan kejadian semalam. Hinata hanya diam memikirkan ancaman Naruto padanya, sedangkan sang pengancam hanya tersenyum licik menunggu jawaban dari gadis mungil itu.
.
.
.
.
T.B.C
.
.
.
Maaf minna-san aku tahu ini sangat telat walaupun aku tak menentukan jadwal up nya setidaknya aku bisa up lebih cepat, sebenarnya aku sudah menulis chapter ini sampai selesai tapi karena data itu ada di laptopku dan laptopku dibawa kabur teman dan sampai sekarang ga dibalikin entah sama di jual atau apa. Aku sudah menghubungi dia dan dia hilang T_T padahal seluruh data penting ada disana. #sedikitcurcol sekali lagi terima kasih mau nunggu fic ini.
Special thank's for follow and fav ni fic and review
Itzhuma hikkio : terima kasih masukkannya :D ditunggu masukkan yang lainnya
Baby-Damn : Hehehe, padahal tuh komik ada smutnya hehe tapi keren kok.
Lililala249 : hehehe iya aku ada disini J makasih lililala senpai udah mau baca.
: Yups 100 untuk anda J
Nana-nee : mari kita ramaikan fict NaruHina hehe
Anna Renatana, guest (ana), dziAoi, guest (anonym), Rikudou Pein 007, Helena Yuki : ini udah lanjut kok. Makasih sudah memberi semangat dan menunggu
Sekali lagi tanpa kalian aku tidak akan kuat terima kasih banyak #bungkukbungkuk.
