"—The villains were always ugly in books and movies. Necessarily so, it seemed. Because if they were attractive, if their looks matched their charm and their cunning, they wouldn't only be dangerous.
They would be irresistible."
Despair
Jung Jaehyun x Lee Taeyong
NCT © SM Entertainment
Alternate Universe
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai pegawai magang di Jung Group.
Dan sangking gugupnya aku, aku tidak bisa tidur sejak akemarin malam. Karena itu, aku terpaksa berangkat kerja dengan kantong mata yang tebal, yang kusembunyikan mati-matian dengan menggunakan concealer.
Sebelum berangkat tadi, aku berulangkali mengecek penampilanku di depan cermin, takut-takut bahwa ada yang salah, bahwa aku akan memberikan kesan pertama yang buruk melalui penampilanku pada orang-orang di tempat kerjaku yang baru. Aku bahkan sengaja mengenakan pakaian baruku—kemeja putih pas badan, celana bahan berwarna hitam, dan sepatu oxford mengkilat yang berwarna hitam pula.
Pada awalnya, semua berjalan dengan lancar. Aku tiba tepat waktu di kantor, ikut berbaris rapi dengan para pegawai magang lainnya, yang kemudian dibawa ke departemen atau bagian masing-masing. Aku sendiri diterima sebagai pegawai magang di bagian keuangan, sesuai dengan apa yang kupelajari di kuliah dulu.
Bahkan dalam waktu singkat, aku sudah mendapat dua teman baru, sesama pegawai magang di bagian keuangan. Hal ini merupakan sebuah rekor untukku, karena aku tak pernah berhasil mendapatkan teman baru secepat ini sebelumnya.
Teman baruku yang pertama adalah Doyoung, seorang pria seumuranku dengan rambut cokelat muda dan wajah yang benar-benar memberikan kesan seperti kelinci. Ia baik, dan ia mengingatkanku akan Ten, seseorang yang mudah akrab dan gemar berbicara. Tak butuh waktu lama bagiku untuk merasa nyaman dengannya.
Yang kedua adalah Taeil, satu tahun lebih tua dariku, dengan rambut pirangnya yang mencolok. Meskipun ia memiliki rambut mencolok seperti itu, kepribadiannya benar-benar kebalikan dari warna rambutnya. Ia agak canggung dengan orang baru, dan juga agak pendiam. Tapi karena Doyoung yang tak pernah kehabisan topik dan terus-menerus berbicara, tak pernah ada momen canggung atau hening di antara kami.
Manajer bagian keuangan membawa kami dalam sebuah tur, memperkenalkan semua orang yang berada di bagian keuangan, menunjuk ruangan-ruangan yang berada di lantai tempat kami berada, dan juga menunjukan kubikel-kubikel kecil tempat kami akan bekerja. Ia menjelaskan sedikit tentang cara kerja dan apa saja yang kami akan kerjakan, dan setelahnya, datanglah timbunan kertas-kertas yang harus kami kerjakan se-segera mungkin.
Aku hanya-lah seorang pegawai magang, dan ini adalah hari pertamaku, tapi aku sudah memiliki tumpukan kertas di atas meja, yang kelihatannya tak akan pernah selesai dikerjakan olehku.
"Taeyong, mau ikut makan siang?"
Aku mendongakan kepala dari apa yang sedang kukerjakan, menatap Doyoung dan Taeil yang sudah berdiri di depan kubikelku, lalu melirik jam kecil yang terletak di atas meja. Ah, ternyata memang sudah jam makan siang.
"Ya, aku ikut, tunggu sebentar," Aku bergumam, yang masih bisa didengar oleh kedua teman baruku itu, menyelesaikan apa yang sedang kukerjakan tadi, yang hanya membutuhkan satu pembetulan kecil lagi. Setelah menyelesaikannya, aku tersenyum puas, sebelum bangkit dari dudukku, mengikuti langkah Doyoung dan Taeil yang sudah berjalan beberapa langkah lebih dulu.
"Taeil hyung, Taeyong, apakah kalian tahu bahwa hari ini, anak dari Jung sajangnim akan mulai bekerja menggantikan ayahnya?"
"Huh?"
"Dengar-dengar, anak dari Jung sajangnim baru saja kembali dari Amerika, setelah mengenyam pendidikan di sekolah bisnis terbaik di sana, beberapa minggu yang lalu," Doyoung berkata dengan semangat, dan aku bisa melihat kilatan di dalam matanya ketika ia mengucapkan kalimat tadi dengan begitu berapi-apinya. Tampaknya ia tipe yang seharusnya menjadi jurnalis atau wartawan, bukannya pegawai magang di bagian keuangan seperti aku. "Dan memang sudah direncanakan sejak dulu bahwa ketika anak Jung sajangnim kembali dari Amerika, ia akan langsung ditunjuk untuk menggantikan ayahnya."
"Bukankah Jung sajangnim masih cukup kuat untuk memimpin perusahaan? Untuk apa ia digantikan oleh anaknya?"
"Ya, tapi tampaknya ia ingin pensiun lebih dini. Lagipula, aku yakin anaknya sudah benar-benar mampu untuk memimpin perusahaan dalam usianya yang masih sangat muda. Ia lulus dari sekolah bisnis terbaik di dunia, hyung."
Aku hanya diam mendengarkan percakapan Doyoung dan Taeil di sampingku, berpikir betapa enaknya untuk lahir sebagai anak dari pendiri sekaligus pemimpin salah satu perusahaan terbesar di Korea Selatan. Sejak kecil pasti hidupnya sudah sangat enak, dan ketika sudah besar, hidupnya juga masih terjamin karena ia pasti akan menggantikan ayahnya di kursi pemimpin.
Benar-benar beruntung. Mereka pasti tidak pernah merasakan rasanya hidup susah sama sekali.
Aku hanya mengambil semangkuk salad dan sebotol air putih untuk makan siangku, yang membuat Doyoung serta Taeil menatapku heran, karena mereka sendiri mengisi penuh piring mereka dengan lauk dan nasi. Aku sendiri hanya membalas tatapan mereka dengan tawa canggung, sedang tak ingin menjelaskan bagaimana aku tak suka nasi pada kedua teman baruku itu.
Kami duduk di salah satu meja yang berada di dalam kafetaria di gedung Jung Group, yang kini terisi oleh banyak orang dari berbagai departemen, dan tampaknya jumlah orang yang berada di kafetaria besar ini bisa mencapai ribuan.
Oh, mungkin itu terlalu berlebihan. Biarkan aku memperbaikinya.
Ratusan.
Percakapan di meja kami kebanyakan diisi oleh Taeil dan Doyoung, karena aku bukan tipe orang yang senang berbicara ketika sedang makan, walaupun aku sendiri hanya memakan semangkuk salad yang tak akan membuatku kenyang dalam waktu lama.
Aku butuh cokelat, tapi sialnya hari ini aku lupa membawa persediaan cokelatku sangking gugupnya.
Percakapan di meja kami terhenti begitu seseorang tiba-tiba datang, mendudukan diri di samping Doyoung, yang kebetulan memang kosong. Tangannya langsung melingkar di sekeliling pundak Doyoung, membuatku dan Taeil menatap keduanya dengan bingung.
"Ini kakakku," Doyoung berkata, melepaskan rangkulan pria itu, kakaknya, dengan sedikit kasar dari pundaknya. "Dia bekerja di bagian personalia. Gongmyung hyung, ini Taeyong dan Taeil hyung, temanku sesama pegawai magang."
"Halo," Kakak Doyoung, Gongmyung, melambaikan tangannya kearahku dan Taeil dengan senyum lebar di wajahnya, sebelum ia kembali melingkarkan lengannya di pundak Doyoung, jelas-jelas tak mempedulikan raut terganggu di wajah adiknya itu. Interaksi di antara mereka entah kenapa mengingatkanku dengan interaksi antara aku dan Jeno, apalagi kalau Jeno sedang marah padaku, dan aku berusaha keras untuk membuatnya memaafkanku dengan cara menempel padanya dan terus-terusan mengucapkan kata maaf setiap detik. "Doyoung-ah, anak dari Jung sajangnim akan masuk ke kafetaria ini sebentar lagi. Tadi aku bertemu dengannya di koridor, ia sedang berjalan kemari bersama dengan asisten Choi. Aku penasaran apa yang membuatnya ingin makan di kafetaria? Biasanya Jung sajangnim memilih untuk makan di luar. Dan—ah, itu dia!"
Baik aku, Doyoung, maupun Taeil langsung menoleh ke arah pintu kafetaria begitu mendengar seruan tertahan Gongmyung, begitu juga dengan sebagian besar lainnya yang sedang makan di kafetaria. Tampak seorang pria tinggi, dengan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan begitu rapi, serta celana bahan yang menunjukan kaki jenjangnya, berjalan memasuki kafetaria dengan seorang pria paruh baya yang berada di sisinya. Kafetaria yang awalnya penuh dengan obrolan, langsung sunyi senyap begitu pria itu berjalan masuk.
Tatapanku sendiri tak pernah lepas dari sosok itu, dengan mataku yang membola kaget.
Karena aku mengenali pria itu.
Dia adalah pria yang kutemui di klub kemarin malam, si mempesona yang lalu berubah menjadi si berbahaya.
Oh, sial.
Dari banyaknya orang di kafetaria, kenapa matanya harus membuat kontak dengan mataku?
.
.
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam dan aku masih berada di dalam kubikel kecilku, saat seharusnya aku sudah dalam perjalanan pulang sejak satu jam yang lalu. Salahkan manajer bagian keuangan yang memilihku, bukan Doyoung atau pun Taeil, untuk mengedit beberapa laporan pengeluaran perusahaan yang seharusnya dikerjakan olehnya, yang harus selesai malam ini juga.
Bahkan lantai tempatku berada ini sudah kosong melompong, semua orang sudah berjalan pulang dengan raut kelelahan sejak satu jam yang lalu.
Kim Heechul sialan.
Kenapa dia harus memilih hari ini, hari pertamaku dari semua hari, untuk menjadwalkan makan malam dengan kekasihnya?
Dan kenapa dia harus menyuruh seorang pegawai magang? Kenapa dia tidak menyuruh juniornya yang lain, yang merupakan pegawai tetap dan lebih berpengalaman?
Kenapa dia harus memilihku, dan bukan Taeil atau Doyoung?
Aku tidak henti-hentinya menggerutu sebal selama mengedit laporan pengeluaran perusahaan, dan butuh 30 menit lainnya sampai aku benar-benar selesai mengerjakan semuanya, dan mengirimkan hasil pekerjaanku kepada Heechul melalui email kantor. Aku melirik jam, dan menghela napas karena Jeno pasti sudah menungguku di rumah dengan cemas. Aku janji padanya bahwa aku akan pulang paling lambat jam setengah delapan hari ini, dan sekarang sudah jam setengah sembilan. Saat sampai di rumah nanti, ia pasti akan marah padaku.
Aku mematikan komputer, lalu keluar dari kubikelku, menuju ke lift. Selama menunggu lift yang sedang meluncur turun dari lantai teratas gedung raksasa tempatku bekerja ini, aku mengecek ponselku, kalau-kalau ada pesan dari Ten. Dan memang ada, ia menanyakan kapan aku pulang karena dia sudah berada di rumahku, siap untuk merayakan hari pertamaku bekerja.
Kenapa sahabatku ini selalu ingin merayakan semua hal, bahkan hal-hal kecil nan tak penting sekalipun?
Aku sedang mengetikan pesan balasan untuk Ten ketika pintu lift berdenting terbuka, membuatku mendongakan kepala dan bersiap untuk berjalan memasuki lift.
Namun langkahku terhenti, ketika mataku bertemu dengan sepasang netra karamel yang terlihat sama terkejutnya, namun dengan cepat mengendalikan diri dan memasang wajah tanpa ekspresi.
Jaehyun adalah satu-satunya orang yang berada di dalam lift.
Masih dengan jas hitamnya yang kini terbuka semua kancingnya, tangan yang dimasukan dengan santai ke dalam saku celananya, dan bagaimana ia bersandar di dinding lift, tampak seperti seorang model yang sedang melakukan pemotretan. Aku lagi-lagi terpesona karenanya.
Aku melangkah mundur, dalam hati memutuskan bahwa aku akan mengulur waktu pulangku sedikit lebih lama.
Menunggu kedatangan lift berikutnya tidak akan membuatku kehilangan waktu banyak. Mungkin Jeno akan sedikit lebih marah padaku, tapi dengan satu pelukan dan raut bersalahku, aku yakin dia akan memaafkanku.
Pintu mulai menutup, dan yang membuatku sedikit terkejut adalah bagaimana Jaehyun segera melangkah maju, menekan tombol di panel untuk menahan pintu supaya tetap terbuka. "Ada cukup ruang untuk kita berdua, Taeyong."
Oke, bagaimana dia tahu namaku?
Aku menggerakan kakiku dengan kaku masuk ke dalam lift, berusaha untuk berdiri sejauh mungkin dari sosok pria dengan rambut cokelatnya yang membuatku ingin mengulurkan tangan dan menyentuhnya, ingin mengetahui apakah rambutnya terasa sama halusnya ketika disentuh seperti visualisasinya.
Aku bahkan tidak tahu mengapa aku merasa begitu canggung dengan pria ini. Kami hanya sekali bertemu di klub beberapa malam yang lalu, ia berubah dari si mempesona menjadi si berbahaya dalam hitungan menit, dan ketika aku berpikir bahwa aku tak akan pernah melihatnya lagi, ia muncul tiba-tiba sebagai anak dari pemilik sekaligus pendiri perusahaan tempatku bekerja, yang kini bekerja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan.
Singkatnya, dia bosku, meskipun secara tidak langsung.
Ketika tatapan kami tak sengaja bertemu di kafetaria tadi, aku buru-buru mengalihkan tatapanku, dan dia sendiri tidak melakukan apa pun, hanya mengambil makanan dan makan dengan cepat di meja yang berjarak cukup jauh dari meja yang kutempati.
Aku pikir dia akan pura-pura tak mengenalku, namun nyatanya dia malah sudah tahu namaku tanpa perlu kuberitahu.
"Kenapa kau baru pulang sekarang? Kukira pegawai bagian keuangan dijadwalkan pulang jam tujuh?"
Bagaimana dia tahu kalau aku pegawai di bagian keuangan? Apa dia menghafal semua nama dan data dari para pegawainya?
Dan meskipun ia sudah tidak terdengar berbahaya seperti waktu itu, suaranya masih belum terdengar sama menyenangkan dan sama ramahnya seperti pada awal-awal pertemuan pertama kami.
"Err, aku, eh, saya, err, diberikan tugas tambahan," Aku menjawab dengan kikuk, tak mengira bahwa ia akan memulai pembicaraan. Bahkan aku tak sengaja berbicara dalam bahasa informal kepadanya, karena di pertemuan pertama kami waktu itu, kami sudah berbicara dengan satu sama lain menggunakan bahasa informal, karena bukankah itu yang semua orang lakukan di klub? Bersikap terlalu bersahabat, sok kenal dan sok dekat?
Jaehyun menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum tipis, setelahnya hanya ada keheningan di antara kami. Aku sendiri kerap melirik nomor lantai yang tertera di bagian kanan atas lift, tak sabar untuk segera mencapai lantai dasar dan memisahkan diri dari pria yang entah kenapa keberadaannya membuatku merasa benar-benar canggung.
Ketika pintu lift akhirnya terbuka di lantai dasar, aku menghela napas lega, dan dalam hati kembali merutuki sosok manajerku ketika melihat lantai dasar yang sudah benar-benar sepi tanpa orang, hanya tersisa seorang petugas keamanan yang berjaga di depan pintu gedung.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam lift, dan mengangkat alisku heran ketika melihat Jaehyun mengikuti langkahku, bahkan berjalan di sampingku. Bukankah seharusnya ia masih turun satu lantai lagi, ke basement tempat mobil-mobil diparkirkan?
"Bagaimana kau pulang? Dijemput kekasihmu?"
Huh?
Seingatku, aku tak punya kekasih.
Bahkan seumur hidupku, aku tidak pernah punya satu kekasih pun.
"Kekasih?"
"Iya, kekasihmu yang waktu itu bersamamu di klub."
Astaga, dia mengira kalau Ten adalah kekasihku?
Membayangkannya saja sudah membuatku merinding sendiri. Aku dan Ten sudah terlalu dekat dengan satu sama lain, dan aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Tidak pernah terlintas di kepalaku untuk memiliki perasaan yang lebih dari itu untuknya.
Tanpa bisa ditahan, aku mengeluarkan tawa dari mulutku, membuat Jaehyun langsung menatapku, dan entah kenapa ia seperti terdiam sesaat ketika melihatku tertawa, seakan-akan ia terpesona.
Aku tahu itu tidak mungkin. Makanya aku bilang seperti dan seakan-akan.
"Pria di klub itu," Aku berusaha menjelaskan setelah menyelesaikan tawaku, "dia bukan kekasihku. Kau, maksudku, Anda pasti salah paham ketika melihatnya menciumi wajahku, kan? Itu hanya kebiasaannya ketika mabuk. Dia sama sekali bukan kekasihku, dia sahabatku sejak kecil."
"Benarkah?"
Hanya perasaanku saja atau ia memang terdengar senang?
"Ya, dia benar-benar bukan kekasihku," Aku menganggukan kepala, mengosokkan telapak tanganku dengan satu sama lain ketika berjalan keluar dari dalam gedung, udara malam yang dingin langsung menyambutku. Sejak dulu, aku memang tak terlalu tahan dingin. Aku menyesal tak membawa jaket atau hoodie hari ini, padahal aku harus berjalan di tengah udara dingin ini ke halte bus yang berjarak cukup jauh dari gedung Jung Group.
Ketika aku sedang sibuk mengeluh tentang udara dingin di dalam hati, aku merasakan sebuah jas yang tiba-tiba disampirkan di bahuku, membuatku merasa sedikit lebih hangat, karena aku memang belum mengenakan jasnya dengan benar.
"Eh?"
"Kau kedinginan," Jaehyun tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang tampak benar-benar manis. Ia lalu dengan hati-hati merapikan posisi jasnya di tubuhku, membuatku terbalut sempurna dengan jas miliknya, yang kebesaran di tubuhku karena jelas-jelas tubuhku lebih kecil dibandingkan dengan tubuhnya. "Nah, bagaimana sekarang? Sudah lebih hangat?"
"Err, terimakasih," Aku mengucapkannya dengan ragu. Aku tahu pipiku memerah karena perlakuan manisnya padaku, dan aku dapat merasakan bagaimana jantungku tiba-tiba berdebar kencang. "Tapi Anda tak perlu meminjamkan jas Anda, sungguh. Saya bisa—"
"Tidak perlu berbicara se-formal itu padaku kalau jam kerja sudah usai, Taeyong," Jaehyun memotong ucapanku. "Dan lagipula kau lebih membutuhkan jas itu daripada aku, aku tidak merasa kedinginan sama sekali."
"Terimakasih," Aku lagi-lagi mengucapkan kata terimakasih. "Saya, eh, aku akan mengembalikannya besok."
"Tidak masalah, tidak usah terlalu buru-buru," Jaehyun berucap dengan santai. "Jadi, bagaimana kau pulang?"
"Naik bus."
"Bukankah halte bus cukup jauh dari sini?"
"Memang, tapi…" aku tak punya uang yang cukup untuk naik taksi.
"Tapi?"
"Tidak," Aku menggelengkan kepala, memaksakan seulas senyum di wajahku. "Kalau begitu, aku pulang duluan, Jaehyun. Sampai bertemu besok."
Aku sudah berbalik dan berjalan ke arah halte bus, ketika langkahku terhenti dengan Jaehyun yang tiba-tiba memegang pergelangan tanganku.
"Aku membawa mobil."
"Um, oke?" Aku membalikan tubuhku menghadapnya, dan entah kenapa aku merasa kehilangan begitu Jaehyun melepaskan genggamannya pada pergelangan tanganku.
"Aku bisa mengantarkanmu sampai rumah."
Apa?
Sepertinya aku salah dengar.
Tampaknya Jaehyun tahu aku tampak tak yakin dengan apa yang baru saja ia katakan, sehingga ia memutuskan untuk mengulang ucapannya.
"Aku bisa mengantarkanmu sampai rumah, dengan selamat, sungguh."
Oh, wow. Dia benar-benar menawarkan diri untuk mengantarkanku sampai rumah.
Tapi aku ingat dengan nasihat ayahku dulu. Jangan pernah mau diajak oleh orang asing.
Dan karena aku tak tahu apa pun tentang pria di hadapanku ini selain namanya dan statusnya sebagai bosku secara tidak langsung, dia termasuk sebagai orang asing bagiku. Meskipun dia sangat tampan dan membuatku merasakan hal-hal aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," Aku menolak dengan halus, senyuman terdapat di bibirku. "Tapi terimakasih atas tawarannya, Jaehyun."
"Aku menawarkannya dengan sungguh-sungguh, Taeyong."
Astaga, kenapa dia terdengar begitu serius? Bahkan ada kilauan heran di matanya, seakan-akan dia tidak percaya bahwa ada seseorang yang menolak tawaran untuk diantarkan pulang olehnya.
"Aku bisa pulang sendiri, sungguh," Aku lagi-lagi menolak. Meskipun tawarannya terdengar begitu menggoda, menghabiskan waktu dengannya untuk sedikit lebih lama dan tak perlu menderita karena udara dingin, aku tetap memegang teguh nasihat ayahku. "Uh, aku benar-benar harus pulang. Aku sudah ditunggu di rumah. Aku duluan, Jaehyun."
Tanpa menunggu lebih lama, aku berbalik, mulai melangkahkan kaki menuju halte bus, dan kini Jaehyun tidak menahanku.
Namun aku bisa merasakan tatapan intens yang mengikuti diriku, perasaan yang sama seperti yang aku rasakan di klub beberapa hari yang lalu.
.
.
Jeno masih marah padaku, dan hari ini aku terlambat datang ke kantor karena bangun kesiangan. Benar-benar cara yang baik untuk memulai hariku.
Ketika aku berjalan memasuki daerah para pekerja di bagian keuangan, aku hampir saja berteriak ketika seseorang tiba-tiba muncul di depanku, membuatku kaget, terutama dengan caranya yang langsung mendekatkan wajahnya pada wajahku.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi, Taeyong-ssi," Sosok itu, yang ternyata manajerku alias Kim Heechul, berkata dengan wajahnya yang masih berada sangat dekat dengan wajahku. "Sesungguhnya terlambat di hari kedua bekerja itu benar-benar tidak profesional, tapi karena kau tampan, aku akan membiarkannya kali ini."
Aku menjauhkan wajahku, berdiri sambil menundukan kepala di depan manajerku yang tertawa setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Aku memang sudah mendengar desas-desus bahwa Heechul adalah seseorang yang nyentrik dan susah untuk dimengerti oleh orang-orang normal, dan awalnya aku tidak percaya.
Tapi sekarang aku percaya.
Manajer mana yang menyapa pegawainya yang telat dengan cara tiba-tiba muncul di depannya, lalu mendekatkan wajahnya? Hanya Heechul seorang, apalagi dengan komentarnya tentang ketampananku. Dan tawanya setelah mengucapkan hal itu.
Astaga.
"Terimakasih untuk laporannya kemarin, Taeyong-ssi. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," Heechul mengedipkan matanya, menepuk-nepuk bahuku dengan keras. Aku harus menggigit bibirku agar aku tidak mengeluarkan seruan kesakitan. "Karenamu, pekerjaanku terselesaikan dan kencanku berjalan dengan lancar. Apa kau mau mendengar detail tentang kencanku dengan kekasihku tersayang?"
Tidak, terimakasih.
Aku sangat ingin mengatakan dua kata tersebut, tapi kemudian aku sadar bahwa Heechul adalah bosku, seorang senior yang posisinya lebih tinggi diatasku, dan aku harus bersikap hati-hati padanya.
Jadi, aku hanya tersenyum canggung, tanpa mengatakan apa pun.
"Aku sangat ingin bercerita kepadamu, tapi lalu aku ingat bahwa aku harus membawamu ke suatu tempat," Heechul menghela napas, lalu ia menggamit lenganku, membuatku mengikuti langkahnya. "Kau harus tahu bahwa aku benar-benar senang dapat bekerja denganmu selama satu hari, Taeyong-ssi. Menyedihkan sekali kita hanya dapat bersama selama satu hari."
Apa?
Tunggu dulu.
Apa maksudnya?
Apakah aku akan dipecat?
Hanya karena terlambat?
Aku bahkan belum menerima gajiku karena sudah lembur kemarin.
Aku berjalan dengan kaku mengikuti Heechul, ketakutan di dalam diriku akan kemungkinan dipecat membuatku berjalan dengan begitu pelan, hingga bahkan Heechul memutuskan untuk menarik tanganku agar dapat berjalan dengan tempo yang sama dengan dirinya. Aku terlalu sibuk memikirkan tentang pekerjaan sambilan yang akan aku ambil setelah ini, sampai-sampai aku tidak mendengarkan satu kata pun yang dikeluarkan oleh Heechul, dan aku tidak sadar kemana ia membawaku.
"Aku membawakan Lee Taeyong untukmu, asisten Choi."
"Terimakasih, Heechul-ssi. Sekarang kau bisa kembali bekerja."
Aku tersadar dari lamunanku ketika Heechul melepaskan pegangannya pada lenganku, dan meninggalkanku sendirian bersama dengan seorang pria paruh baya yang kini tengah menatapku dengan tatapan penuh selidik.
Ah, aku mengenalinya. Dia pria yang sama yang menemani Jaehyun makan di kafetaria kemarin siang.
Aku menatap ke sekeliling, tersadar bahwa aku kini berada di bagian gedung yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Bahkan aku ragu aku masih berada di lantai yang sama dengan lantai bagian keuangan.
"Lee Taeyong-ssi," Pria paruh baya itu, yang dipanggil asisten Choi oleh Heechul, menyapaku dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. "Tuan Jung sudah menunggu Anda."
Tuan Jung?
Tunggu, jadi aku tidak dipecat?
Ini masih pagi dan aku sudah dibuat berpikir keras seperti ini, astaga.
Asisten Choi membawaku masuk ke dalam ruangan besar dengan pintu kaca, dan ketika aku berjalan memasuki ruangan tersebut, yang pertama tertangkap oleh penglihatanku adalah sosok Jaehyun yang sedang duduk di kursi yang berada di belakang meja kayu berwarna cokelat gelap, sedang mengerjakan entah apa, dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Tuan Jung, Lee Taeyong sudah di sini."
Jaehyun langsung mendongakan kepalanya dari pekerjaannya, tersenyum tipis ketika melihat sosokku yang berdiri kaku di samping asisten Choi.
"Terimakasih, asisten Choi. Sekarang kau boleh pergi."
Asisten Choi membungkukan tubuhnya singkat pada Jaehyun, sebelum ia melangkah keluar dari ruangan, meninggalkanku sendirian bersama dengan Jaehyun di dalam ruangan besar yang tampaknya merupakan kantornya.
"Duduk, Taeyong."
Oh? Dia masih menggunakan bahasa informal denganku.
Aku mendudukan diri di kursi yang berada di depan mejanya, duduk berhadapan dengan sosok Jaehyun yang kini tengah menatapku dengan kacamata yang masih bertengger di hidungnya.
Jaehyun terlihat lebih tampan ketika mengenakan kacamata.
Astaga Lee Taeyong, fokus! Kau sedang berada di tempat kerja.
"Jadi, Taeyong, terlambat di hari kedua bekerja, eh?"
Sial.
"Uh, maaf," Aku berkata dengan suara pelan, tiba-tiba merasa begitu kecil di bawah pandangannya, merutuki diriku yang lupa memasang alarm tadi malam, karena terlalu fokus mencari cara agar Jeno mau memaafkan diriku.
"Apakah kau bisa menggunakan komputer?"
Eh?
"Ya, bisa."
"Apakah kau rela dipanggil ke kantor kapan pun bosmu membutuhkanmu?"
Aku mengerutkan dahiku heran, tapi tetap menjawab dengan suara yang mantap. Apapun akan aku lakukan demi mendapatkan uang, meskipun aku harus merelakan waktu tidurku. "Ya, tentu saja."
Jaehyun tersenyum miring. "Bagus."
Aku baru saja akan bertanya apa maksudnya memanggilku ke ruangannya, ketika ia tiba-tiba membuka laci mejanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang kukenali sebagai kotak ponsel model terbaru, smartphone dengan touchscreen yang menjadi pilihan model ponsel sebagian besar orang, kecuali aku, karena aku lebih memilih untuk menghabiskan uangku untuk keperluan yang lebih penting seperti bahan makanan dan kebutuhan Jeno, daripada untuk ponsel dengan harga selangit seperti itu.
"Ini," Jaehyun membuatku membulatkan mataku ketika ia dengan santainya menyodorkan kotak ponsel tersebut padaku. "Kau harus menerimanya, tidak ada penolakan. Ponsel lamamu itu tidak bisa lagi digunakan mulai sekarang, sejak detik pertama kau resmi menjadi asisten pribadiku."
Tunggu.
Jung Jaehyun baru saja memberikanku sebuah ponsel model terbaru dengan harga yang sangat mahal dengan begitu santainya, dan apa tadi dia bilang?
Asisten pribadi?
Huh?
TBC.
Makasih banyak buat yang udah review, fav&follow!
