"Do you think the universe fights for souls to be together? Some things are too strange and strong to be coincidences."

Despair

Jung Jaehyun x Lee Taeyong

NCT © SM Entertainment

Alternate Universe

Menjadi seorang asisten pribadi Jung Jaehyun benar-benar bukanlah sebuah pekerjaan yang buruk.

Aku hanya harus mengikutinya ke semua pertemuan yang perlu ia datangi, menuruti semua permintaannya, dan melakukan semua perintahnya. Oh, dan juga mengatur dan mencatat semua jadwal pertemuannya, tugas yang menurutku seharusnya menjadi tugas seorang sekretaris. Tapi Jaehyun sendiri berkata bahwa asisten Choi memiliki tugas tersebut, sehingga aku pun hanya menurut saja. Lagipula aku tidak punya hak untuk protes, terutama setelah mendengar nominal gaji yang akan ia kirimkan ke rekeningku setiap bulannya, yang sukses membuat mulutku terbuka lebar dan mataku membulat kaget.

Namun tetap saja, aku masih tidak mengerti, masih kebingungan dengan perubahan posisiku yang begitu tiba-tiba. Kemarin, aku hanya-lah seorang pegawai magang di bagian keuangan dengan masa kontrak kerja satu tahun, tapi sekarang aku adalah asisten pribadi dari CEO muda Jung Group. Ketika aku bertanya pada Jaehyun dengan hati-hati tentang alasan dibalik perubahan posisiku yang begitu tiba-tiba, ia hanya mengulum sebuah senyum, enggan untuk memberi jawaban.

Dan aku juga tidak bisa sepenuhnya tenang menjalankan pekerjaan baruku, semua karena sepasang mata elang yang terus mengikuti setiap pergerakanku, meskipun pemilik sepasang mata sehitam jelaga itu sendiri berusaha sekuat tenaga untuk menunjukan sikap seolah-olah ia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiranku.

Sejak aku mendudukan diriku di meja kerjaku yang baru, meja yang berukuran lebih luas dari meja di kubikel kecilku, aku sudah dapat merasakan tatapan asisten Choi yang sarat dengan kecurigaan dan kewaspadaan, ditujukan hanya padaku. Aku berusaha keras untuk mengabaikan perasaan tak nyaman yang ditimbulkan oleh tatapannya, tapi lama-lama aku jadi tak tahan.

Aku mengerti, mungkin beliau merasa heran dengan perubahan posisiku yang begitu tiba-tiba, sama seperti diriku. Aku, yang bukan siapa-siapa dan sama sekali tidak menonjol sebelumnya, dan baru bekerja selama satu hari di perusahaan raksasa ini, tiba-tiba mendapatkan jabatan sebagai asisten pribadi seorang Jung Jaehyun dengan begitu mudahnya.

Tentu saja ia merasa curiga.

Maka aku sama sekali tidak heran saat asisten Choi tiba-tiba berdiri di depan meja kerjaku ketika waktu makan siang tiba, dengan bibir yang terkatup rapat dan wajah yang benar-benar minim ekspresi.

"Saya tidak mentolerir kesalahan dan pengkhianatan, asisten Lee. Meskipun tuan muda Jung memilihmu secara langsung, saya masih belum percaya sama sekali padamu, ingat itu."

Yang membuatku heran adalah fakta bahwa ia hanya mengucapkan dua kalimat tersebut, dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun lagi, bahkan tanpa menunggu respon dariku.

Aku kira ia akan mengucapkan berbagai macam petuah padaku, yang membuatku harus merelakan waktu makan siangku dengan mendengarkan ceramahnya dan berbagai macam pertanyaan menyelidik darinya.

Tapi ia hanya mengatakan satu kalimat itu, dengan nada yang datar, namun aku dapat menangkap bahwa ia benar-benar serius ketika mengucapkannya.

Ketika aku sudah akan bangkit dari dudukku untuk pergi ke kafetaria dan mengambil makan siangku, telepon yang terletak di mejaku berdering, lampu kecil di sebelah tombol nomor satu menyala, menandakan bahwa telepon tersebut datang dari dalam kantor tuan muda Jung, alias bosku, alias Jung Jaehyun.

"Halo, apakah ada yang perlu saya bantu, tuan Jung?"

"Masuk ke kantorku sekarang juga, asisten Lee."

Dan hanya dengan itu, Jaehyun langsung memutuskan sambungan. Membuatku mengurungkan niatku untuk mengisi perut, dan malah berjalan dengan cepat ke dalam ruang kantornya, yang hanya berjarak beberapa langkah dari mejaku.

Aku mengetuk pintunya tiga kali, sebelum terdengar sahutan dari dalam, mempersilakanku untuk masuk.

"Tuan Jung, apa—"

"Temani aku makan siang," Jaehyun berkata, sedang berdiri dengan lengan yang sibuk mengenakan jas hitamnya. "Restoran apa yang sering kau kunjungi untuk makan siang, asisten Lee?"

"Huh?"

Jaehyun tersenyum, melangkahkan kakinya mendekat padaku, yang masih berdiri begitu dekat dengan pintu. "Aku ingin makan di restoran yang sering kau kunjungi untuk makan siang."

"Oh?" Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, kebiasaanku kalau baru bisa menangkap maksud seseorang yang tidak kumengerti sebelumnya. Ten selalu bilang kalau kebiasaanku ini terlihat menggemaskan, karena aku jadi terlihat seperti seorang anak kecil polos yang tidak mengerti apa pun di matanya.

Restoran yang sering kukunjungi untuk makan siang? Tidak ada restoran khusus. Malah kalau boleh jujur, aku selalu melewatkan makan siangku.

Dulu ketika aku masih bekerja sambilan, pekerjaan sambilanku ketika waktu makan siang tiba adalah sebagai seorang pencuci piring di sebuah dapur restoran. Waktu makan siang adalah waktu ketika restoran sedang paling ramai, sehingga aku tidak mendapatkan istirahat sama sekali. Aku hanya akan mengganjal perutku dengan satu batang cokelat, dan hanya itu.

"Saya… tidak punya sebuah restoran khusus yang sering saya kunjungi ketika jam makan siang. Malah kalau boleh jujur, makan siang saya hanya-lah sebatang cokelat," Pipiku merah, dalam hati merutuki diriku yang selalu berkata jujur, apa pun keadaannya. Jeno selalu berkata bahwa aku adalah seseorang yang benar-benar tidak bisa berbohong. Aku akan selalu tampak gugup setiap kali berbohong, sehingga semua orang akan langsung tahu kebohonganku.

"Sebatang cokelat?" Jaehyun menekankan dua kata tersebut, dan entah mengapa ia terdengar begitu kesal di telingaku. "Sebatang cokelat bukanlah menu makan siang yang ideal, asisten Lee."

Aku hanya diam, tidak tahu harus mengatakan apa, dan Jaehyun sendiri hanya menghela napasnya.

"Bagaimana dengan makan malam?"

Ketika waktu makan malam tiba, biasanya aku sedang bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba-ada, dan tentu saja itu berarti aku tidak memiliki waktu istirahat untuk makan malam. Biasanya aku hanya akan menyelundupkan beberapa kimbap, dan memakannya diam-diam ketika tak ada satu pun orang yang melihat.

"Kimbap…?" Aku menjawab dengan ragu, langsung menundukan kepalaku begitu mendengar helaan napas bosku untuk yang kedua kalinya.

"Pantas saja tubuhmu terlihat begitu kurus," Jaehyun berkata, dan aku dapat merasakan pandangannya yang menyusuri tubuhku dari kepala sampai kaki. "Ayo, aku tidak bisa membiarkanmu hanya memakan sebatang cokelat lagi untuk makan siang."

Jaehyun berjalan lebih dulu mendahuluiku, dan aku hanya mengikuti langkahnya dengan patuh. Ketika kami berdua keluar dari dalam ruang kantor Jaehyun, aku dapat merasakan pandangan asisten Choi yang mengikuti langkah kami selama beberapa saat, sebelum ia kembali sibuk dengan apa pun yang ia kerjakan sebelumnya. Aku hanya bisa bersyukur karena di lantai teratas ini hanya ditempati oleh asisten Choi selaku asisten pribadi sekaligus tangan kanan dari tuan besar Jung alias ayah Jaehyun, aku selaku asisten pribadi dari Jaehyun, dan Jaehyun sendiri, yang merupakan CEO dari perusahaan raksasa ini. Lantai teratas ini memang merupakan lantai eksklusif yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang lainnya terhadap perubahan posisiku yang begitu tiba-tiba. Apalagi dengan statusku yang sebelumnya hanya-lah seorang pegawai magang.

Lalu pikiranku berlabuh pada Doyoung dan Taeil, penasaran akan reaksi mereka terhadap ketiadaanku di kubikel kecilku, dan aku juga ingin penasaran apakah mereka sudah tahu tentang posisi baruku atau belum.

Aku terus berjalan di belakang Jaehyun, tidak berani untuk berjalan bersisian dengannya, ditambah dengan fakta bahwa aku hanya-lah seorang asisten pribadinya, pegawainya, dan lebih cocok untuk berjalan di belakangnya daripada berjalan di sampingnya. Bahkan ketika kami sudah berada di dalam lift, aku menempatkan diri di sudut lift, membuat jarak yang kentara dari bosku itu.

Namun semuanya berubah ketika lift berhenti di lantai 27, dan sekitar 10 orang masuk ke dalam lift secara bersamaan. Mereka tampak segan untuk masuk pada awalnya ketika melihat sosok Jaehyun yang sudah terkenal sebagai sang CEO baru, namun Jaehyun dengan ramahnya mempersilakan mereka untuk masuk, berbagi lift dengannya dan aku.

Kukira hal tersebut akan memperlebar jarak di antara diriku dan Jaehyun, tapi nyatanya aku malah berakhir terpojok, dengan Jaehyun yang berada begitu dekat di sampingku.

Berada dalam jarak sedekat ini dengannya, aku mau tak mau menghirup bau tubuhnya yang benar-benar harum di penciumanku. Memabukan.

Aku penasaran apakah bau ini disebabkan oleh parfum yang dikenakannya, atau ini memang benar-benar murni bau tubuhnya sendiri?

Dan aku juga tak dapat mengabaikan sengatan listrik dan sensasi aneh yang dapat kurasakan ketika bahu kami tanpa sengaja bersentuhan.

Dan aku tahu Jaehyun dapat merasakannya juga.

Aku tanpa sadar menghela napas lega ketika lift akhirnya berhenti di lantai paling dasar dan orang-orang di depan kami berjalan keluar dari lift, meninggalkan aku dan Jaehyun berdua di dalamnya, terus melanjutkan perjalanan ke basement, tempat mobil Jaehyun diparkirkan.

Kembali tercipta jarak di antara aku dan Jaehyun.

Perjalanan menuju mobilnya terisi dengan keheningan, tak ada satu pun dari kami yang berniat untuk membuka mulut dan membuat percakapan. Jaehyun bahkan tak menolehkan kepalanya untuk menatapku sama sekali.

Barulah ketika kami berada di dalam mobil, Jaehyun mengalihkan pandangannya untuk menatapku. Ia hanya menatapku tanpa melakukan apa-apa selama beberapa saat, sebelum ia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arahku, membuatku begitu kaget dengan aksinya yang tiba-tiba.

Tangan Jaehyun terjulur untuk meraih sabuk pengaman yang terletak di sampingku, dan ia menariknya dengan lembut, hati-hati memakaikannya pada tubuhku. Ketika ia memakaikan sabuk pengaman pada tubuhku, hampir tidak ada jarak di antara kami, aku bahkan dapat merasakan hembusan napasnya.

Ketika ia selesai memakaikan sabuk pengaman padaku, ia mengangkat wajahnya, membuat mata kami bertemu. Kami hanya terdiam, saling memandang satu sama lain tepat di mata, dan aku dapat melihat senyum Jaehyun yang mulai terkembang.

Tatapan kami terputus ketika Jaehyun tiba-tiba menjauhkan dirinya, kembali menyamankan diri di kursi pengemudi, dan mulai mengendarai mobilnya keluar dari basement.

"Lain kali kau harus ingat untuk selalu menggunakan sabuk pengaman, Taeyong," Jaehyun berkata, tatapannya lurus ke depan. "Aku memang tidak keberatan untuk memakaikannya padamu setiap waktu, tapi bagaimana kalau tidak ada aku?"

Aku dapat merasakan pipiku memerah, meski dalam hati aku juga merasa bingung.

Aku yakin perlakuan Jaehyun tadi bukanlah suatu hal yang normal antara seorang CEO dan asisten pribadinya.

Aku yakin ayah Jaehyun tidak pernah sekalipun memasangkan sabuk pengaman pada asisten Choi.

Astaga, membayangkannya saja aku tak sanggup.

"Maaf, tuan Jung. Saya—"

"Jaehyun, Taeyong. Seingatku tadi kita sudah membuat perjanjian bahwa kita tidak akan berbicara dalam bahasa formal ketika sedang berada di lingkungan dan jam kerja. Usia kita sama, ingat?"

Aku juga yakin asisten Choi tetap memanggil tuan besar Jung dengan panggilan formal, meskipun sedang tidak berada dalam jam kerja.

Bahkan aku ragu apakah asisten Choi pernah berinteraksi dengan tuan besar Jung di luar jam kerja.

Dengan Jaehyun yang memfokuskan perhatiannya pada jalanan di depannya, aku sibuk sendiri bermain dengan jari-jariku, sesuatu yang selalu kulakukan kalau sudah tidak tahu harus melakukan apa.

"Dulu, ketika aku masih berada di sekolah menengah, ada satu restoran yang sering kukunjungi, tapi aku tidak tahu apakah restoran itu masih berdiri atau tidak," Jaehyun tiba-tiba menjelaskan, membuatku menolehkan kepalaku untuk menatapnya. "Sudah empat tahun aku tidak pulang ke Korea Selatan, dan itu berarti sudah empat tahun juga aku tidak mengunjungi restoran itu. Aku rindu masakannya."

"Ah, benar, Doyoung bilang kau baru kembali dari Amerika," Aku bergumam pelan, mengira bahwa Jaehyun tak bisa mendengarku. Tapi nyatanya aku salah. Dia tampaknya masih bisa mendengar gumamanku dengan jelas.

"Ya, aku baru kembali dari Amerika," Jaehyun menganggukan kepalanya. "Kau sudah tahu bahwa aku baru kembali dari Amerika, sedangkan aku tidak tahu apa pun tetangmu selain namamu dan pekerjaanmu, oh, serta sahabatmu."

Aku tertawa kecil begitu mengingat Jaehyun yang mengira bahwa Ten adalah kekasihku, meskipun sesungguhnya aku maklum karena orang-orang yang memang belum terlalu mengenal kami selalu menganggap bahwa aku dan Ten adalah sepasang kekasih karena interaksi di antara kami yang memang kadang dianggap terlalu intim untuk ukuran sahabat. Karena itulah baik aku dan Ten selalu mengatakan pada semua orang bahwa kami hanya-lah sepasang sahabat.

Kalau tidak begitu, pasti tidak ada yang berani untuk mendekati kami.

"Tidak ada yang menarik dalam hidupku untuk diceritakan, sungguh."

"Tapi aku masih ingin tahu sesuatu tentangmu. Ayolah, anggap saja kita sedang dalam proses mengenal satu sama lain untuk menjadi teman."

Aku terdiam sesaat, memilah-milah kata yang pas untuk dikeluarkan dari mulutku. Meskipun Jaehyun bersikap bersahabat denganku, aku tetap harus mengingat bahwa ia adalah bosku.

"Aku punya seorang adik, namanya Jeno," Bibirku membentuk senyum dengan sendirinya begitu mengingat sosok adikku itu, satu-satunya keluargaku yang tersisa. "Ia sudah di tingkat akhir sekolah menengah, dan sebentar lagi akan masuk universitas." Dan aku sedang kelimpungan mencari uang agar bisa membayar biaya kuliahnya nanti.

"Kau pasti sangat menyayangi adikmu."

"Tentu saja, dia orang yang paling kusayangi di dunia ini. Dia satu-satunya yang kupunya."

"Orangtuamu?"

Oh, sial. Jangan pertanyaan ini.

"Mereka sudah lama tidak ada dalam kehidupanku."

Ekspresiku mengeras, dan aku tahu Jaehyun menyadarinya, karena ia hanya terdiam tanpa bertanya lebih jauh.

Aku tidak pernah merasa nyaman membicarakan tentang orangtuaku kepada siapa pun, bahkan tidak dengan Ten. Aku bahkan nyaris tak pernah membicarakan tentang kedua orangtuaku dengan Jeno, kecuali ketika peringatan kematian mereka.

Aku benci diriku yang akan selalu otomatis menangis setiap kali mengingat tentang orangtuaku yang telah tiada.

.

.

"Jaehyun? Astaga, kau kemana saja selama ini?"

Jaehyun baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran bergaya modern, yang dari papan namanya terlihat bahwa restoran ini menyajikan berbagai macam hidangan khas Korea. Begitu kami memasuki pintu restoran, seorang pria berambut pirang keemasan sudah berjalan menghampiri kami, menyapa Jaehyun dengan senyum lebar di wajahnya.

"Hansol! Apa kabar?" Jaehyun membalas sapaan pria berambut pria berambut pirang keemasan itu, memeluknya singkat menggunakan satu tangan. "Aku benar-benar senang ketika melihat bahwa restoran keluargamu ini masih berdiri, aku rindu masakan buatan ayahmu. Bagaimana paman dan bibi? Sehat?"

"Jadi kau hanya rindu masakan buatan ayahku, dan bukan rindu padaku, begitu? Jahatnya! Apa kau tidak ingat siapa yang selalu menemanimu makan dulu, heh? Dan untuk menjawab pertanyaanmu, ayah dan ibuku masih sangat sehat," Pria berambut keemasan yang nampaknya bernama Hansol itu berkata sambil menyikut perut Jaehyun main-main, namun kemudian pandangannya jatuh padaku, yang sedaritadi hanya berdiri diam di belakang Jaehyun. "Oh, kau membawa seseorang?"

"Ah, ya," Jaehyun berkata, mendaratkan tangannya di belakang punggungku dan membawaku lembut untuk maju dan berdiri di sampingnya. "Ini temanku, Lee Taeyong. Taeyong, ini Hansol, Ji Hansol. Dia ibu keduaku."

"Sialan kau, masih saja belum berubah. Masih saja memanggilku ibu keduamu, padahal sudah jelas-jelas aku adalah seorang pria. Bodoh," Hansol berdecih kesal, sebelum mengalihkan pandangannya untuk menatapku, dengan senyum yang tercetak di wajahnya. "Hai, Taeyong!"

Aku melambaikan tanganku, senyum kaku tampak jelas di wajahku. Aku memang benar-benar payah dalam bersosialisasi.

"Aku lapar, Hansol, dan waktu makan siangku tinggal 15 menit lagi," Jaehyun berkata, secara tidak langsung menyelamatkan diriku dari kecanggungan pertemuan pertama. Namun perkataannya yang menyebutkan bahwa waktu makan siang kami tinggal tersisa 15 menit membuatku panik.

"15 menit? Astaga, Jaehyun, memangnya masih sempat—"

"Tenang, Taeyong. Tidak akan ada yang berani memberikanmu hukuman selama aku membelamu," Jaehyun berkata, menepuk-nepuk kepalaku seolah-olah ingin menenangkan.

Aku sama sekali tidak melewatkan bagaimana Hansol langsung tersenyum begitu lebarnya ketika melihat Jaehyun menepuk-nepuk kepalaku, dan bagaimana tatapannya tidak lepas dari tangan Jaehyun yang berada di punggungku, membimbingku ke salah satu tempat duduk yang berada di restoran tersebut.

Dan juga bagaimana Hansol berbisik di telinga Jaehyun, membisikan sesuatu, yang membuat Jaehyun langsung memukul lengan Hansol dengan keras, dan membuat pria bersurai pria keemasan itu mengaduh.

"Taeyong, kau lihat sendiri, kan? Jangan mau berteman dengan Jaehyun, ia suka memperlakukan teman-temannya dengan kasar."

"Diam, Hansol, aku di sini itu untuk makan, kau tahu, bukan untuk meladenimu."

Hansol tertawa. "Oke, oke. Apa yang mau kau pesan?"

"Aku yang seperti biasa saja, kau masih mengingatnya, kan?"

"Aku memang tidak bertanya padamu, Jung," Hansol berdecih, tatapannya terarah padaku. "Taeyong, apa yang mau kau pesan?"

Lucu. Hansol menanyakan apa yang ingin kupesan, sedangkan dia bahkan tak memberikan buku menu apa pun kepadaku.

"Kau bisa meminta dimasakan apa pun," Jaehyun membuka mulutnya, seolah-olah memahami kebingunganku. "Asal kau meminta dimasakan masakan Korea atau China, selain itu tidak bisa."

"Sekarang kami sudah mulai menambahkan bahan-bahan untuk memasak makanan Jepang," Hansol berkata, seolah-olah mempromosikan restorannya padaku. "Jung Jaehyun ini selalu memesan bibimbap, bulgogi, dan kimchi setiap kali ia datang ke sini. Nafsu makannya memang besar, aku heran kenapa semua makanan yang masuk ke dalam perutnya itu tidak membuat ia gendut."

"Karena aku rajin olahraga, tidak seperti dirimu, pemalas," Jaehyun mencibir.

"Diam kau. Nah, Taeyong, mau memesan apa?"

"Uh, aku benar-benar bisa memesan apa saja?" Aku bertanya dengan ragu.

"Ya!"

"Kalau begitu… kalguksu?"

"Tentu," Hansol menganggukan kepalanya dengan semangat. "Tunggu beberapa menit, oke. Dan Jaehyun, aku tak sabar memberitahu kedua orangtuaku kalau kau sudah kembali."

Hansol tersenyum sebelum berbalik dan melangkah ke dapur, langkahnya terlihat begitu ringan namun mantap. Aku senang melihat caranya melangkah.

"Aku sudah mengenalnya sejak tujuh tahun yang lalu," Jaehyun tiba-tiba berkata, membuatku mengalihkan pandangan dari sosok Hansol yang kini sudah masuk ke dalam ruangan yang tampak seperti dapur. "Bisa dibilang dia sahabatku, meskipun aku lebih suka memanggilnya ibu keduaku, karena dia benar-benar cerewet dan mudah khawatir, persis seperti perlakuan seorang ibu kepada anaknya."

"Aku bisa melihat bahwa kalian berdua memang benar-benar dekat."

"Yah, mungkin tidak sedekat dirimu dengan sahabatmu yang satu itu, karena Hansol tidak pernah menciumi wajahku ketika ia mabuk."

Aku tertawa. "Ten memang unik, berbeda dari yang lain. Aku sendiri heran kenapa ia betah bersahabat dengan diriku yang membosankan ini."

"Aku memang baru mengenalmu selama kurang dari dua hari, tapi menurutku kau tidak membosankan sama sekali."

Ucapan Jaehyun yang diucapkan dengan nada yang begitu serius dan tatapannya yang sepenuhnya ditujukan padaku membuatku merasa malu, membuatku menundukan kepala, tidak ingin menatap wajahnya.

Sesungguhnya aku sangat bingung akan sikap dan perkataan-perkataan Jaehyun yang ditujukan padaku. Kami baru mengenal selama kurang dari dua hari, dan aku hanya-lah bawahannya, hanya-lah pegawainya, namun Jaehyun memperlakukanku dengan begitu bersahabat, dan melakukan banyak hal yang membuatku mempertanyakan maksud dibalik sikap dan ucapannya.

Aku tidak bisa mengerti Jaehyun sama sekali. Dia begitu membingungkan.

Terutama ketika aku teringat malam pertemuan kami.

Aku masih belum bisa melupakan tatapan gelapnya, dan juga nada bicaranya yang terdengar begitu berbahaya.

Dan yang paling membuatku bingung adalah, alasan mengapa ia menginginkanku sebagai asisten pribadinya.

"Kuperhatikan kau sangat suka menundukan kepala, Taeyong," Jaehyun berkomentar. "Dan kau juga suka melamun, tiba-tiba tenggelam dalam isi pikiranmu, tidak mempedulikan keadaan sekitar."

"Maafkan aku," Aku menggigit bibirku, merasa bersalah karena sudah tanpa sadar melamun, dan dalam hati merasa sedikit terkejut karena Jaehyun menyadari dua kebiasaanku itu. "Itu memang kebiasaanku, aku tidak bisa mengendalikannya. Maaf."

"Tidak perlu minta maaf, itu bukan masalah besar."

Sisa penantian kami dihabiskan dalam keheningan, aku tidak tahu harus bicara apa dan Jaehyun sendiri tampaknya sedang tidak ingin bicara, dan malah memilih untuk memandangiku dari tempat duduknya, tatapannya sesekali teralihkan untuk melihat ponselnya, namun matanya pasti akan kembali jatuh pada diriku, yang sejujurnya membuatku merasa tidak nyaman. Dan lagi-lagi aku lebih memilih untuk menundukan kepalaku, menghindari kontak mata yang mungkin terjadi kalau aku sampai mendongakan kepala.

Sudah kubilang, kan, seorang Jung Jaehyun itu benar-benar membingungkan. Aku tidak tahu apa alasan di balik setiap perlakuannya, di balik setiap gerak-geriknya.

Hansol datang beberapa menit setelahnya dengan dua nampan di tangan, membuatku sedikit kagum dengan bagaimana ia dapat menyeimbangkan dua nampan besar itu di atas kedua telapak tangannya.

"Ayahku sangat ingin bertemu denganmu, Jaehyun, tapi sayangnya restoran sedang ramai-ramainya dan ia tidak bisa meninggalkan dapur," Hansol berkata. "Dan karena ia merasa bersalah tidak bisa menyambutmu secara langsung, hari ini makanan yang kalian pesan di sini gratis, tidak perlu bayar."

"Hansol—"

"Perintah tuan besar Ji, Jung. Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya pria tua itu, bahkan melebihi dirimu."

"Tapi—"

"Kau mau aku didamprat olehnya? Apakah kau sekejam itu pada sahabatmu ini, Jung? Kita bahkan sudah tidak bertemu selama empat tahun dan kau tega membuatku dimarahi oleh tuan besar Ji? Teganya dirimu."

Aku kesulitan untuk menahan tawaku ketika melihat ekspresi sedih yang tampak begitu dibuat-buat di wajah Hansol. Aku bahkan harus menutupi mulutku dengan tangan, agar tak ada yang melihat senyum yang terulas di wajahku, hasil dari usahaku untuk menahan tawa.

"Berhenti bersikap dramatis, empat tahun aku merasa lega tidak perlu melihat akting dramatismu itu. Aku jadi meragukan keputusanku untuk kembali ke Korea," Jaehyun menghela napasnya. "Baiklah, kali ini aku menyerah. Ucapkan terimakasih untuk paman."

"Siap," Hansol memberikan tanda salut singkat pada Jaehyun, sebelum ia menghadapkan tubuhnya padaku. "Semoga kau menikmati makanannya, Taeyong! Dan semoga pertemananmu dengan Jaehyun berlangsung selamanya. Jaga dia baik-baik, oke?"

Hansol tertawa, dan tawanya bahkan tak berhenti meski ia sudah melangkahkan kaki menuju dapur. Jaehyun sendiri hanya memasang wajah masamnya.

"Jangan pedulikan Hansol, dia memang aneh," Jaehyun mengambil sendok yang sebelumnya dibalut dengan tisu, dan mulai mencampurkan bibimbap yang berada di mangkuknya. "Makan, Taeyong. Aku sudah bilang kepada asisten Choi bahwa kita baru akan kembali paling lama 30 menit lagi."

Waktu makan lagi-lagi dilalui dalam keheningan, Jaehyun sibuk dengan makanannya, dan begitu pula aku. Kalguksu adalah salah satu makanan favoritku, makanan yang dulu sering dibuatkan oleh ibuku ketika beliau masih hidup.

Sudah lama sekali aku tidak memakan kalguksu. Mendengar namanya saja sudah membuatku merasa begitu emosional, namun entah mengapa tadi bibirku seolah bergerak dengan sendirinya untuk mengucapkan nama dari makanan favoritku itu.

Kalguksu di restoran ini sama sekali tidak buruk, enak sekali, malah. Mungkin kalguksu di sini bisa mendapat predikat sebagai kalguksu terenak kedua di dunia, karena tentu saja posisi pertama dipegang oleh buatan ibuku.

Aku benar-benar rindu masakan buatan beliau.

Aku mendongakan kepala sesaat dari makananku, dan pandanganku langsung jatuh pada Jaehyun yang sedang memakan makanannya dengan lahap, dengan begitu bersemangat seolah-olah ia sudah lama sekali tidak makan.

Cara makannya mengingatkanku akan Jeno, dan aku tanpa sadar tersenyum karenanya.

"Kenapa kau tersenyum?"

"Huh?"

"Aku melihatmu tersenyum sambil memandangku tadi. Kenapa? Apakah ada yang salah? Makanku berantakan, ya?"

"Tidak, tidak," Aku buru-buru menyangkal. "Cara makanmu benar-benar mengingatkanku akan adikku, makanya aku tanpa sadar tersenyum."

"Oh," Jaehyun terdiam sesaat, dan aku akan mengira kalau percakapan singkat di antara kami itu sudah selesai, kalau saja ia tidak tiba-tiba tersenyum padaku, dan melanjutkan ucapannya. "Tersenyumlah lebih sering, kau terlihat sangat manis ketika sedang tersenyum seperti tadi. Dan tertawa juga, aku senang melihatmu tertawa."

Astaga.

Jung Jaehyun dan segala kelakuannya yang membuatku bingung sekaligus tersipu malu.

.

.

"Tuan Jung, akhirnya Anda kembali juga."

Begitu aku dan Jaehyun melangkahkan kaki di lantai teratas gedung Jung Group, asisten Choi langsung bangkit dari duduknya, wajahnya yang biasanya minim ekspresi kini tampak berbeda.

Tampak sedikit kepanikan di wajahnya.

"Asisten Choi, ada apa?" Jaehyun bertanya, aku tahu ia juga melihat raut kepanikan di wajah asisten Choi.

"Nona Kang tadi tiba-tiba datang," Asisten Choi menjelaskan, berusaha untuk tetap terdengar tenang seperti pembawaannya yang biasanya.

Aku memang tidak tahu siapa Nona Kang yang dimaksud oleh asisten Choi, tapi aku dapat melihat perubahan ekspresi di wajah Jaehyun begitu mendengar dua kata tersebut.

"Seingatku aku sudah mengatakan kepada semua orang untuk tidak membiarkan gadis itu melangkahkan kaki ke dalam gedung ini."

Nada itu lagi.

Nada berbahaya itu lagi.

"Maafkan saya, tuan Jung. Saya juga tidak mengerti mengapa ia bisa masuk ke dalam sini, saya akan—"

"Dimana dia sekarang? Kau sudah mengusirnya?"

"Dia berada di dalam ruangan Anda sekarang. Maafkan saya, tuan Jung. Nona Kang benar-benar keras kepala."

"Berikan peringatan untuk semua petugas keamanan yang berjaga di area-area yang dilewati gadis itu hari ini, asisten Choi. Dan asisten Lee, batalkan semua sisa pertemuanku hari ini, jadwalkan ulang dalam satu minggu ke depan. Katakan bahwa ada sebuah kepentingan darurat yang tidak bisa ditinggalkan olehku."

Aku hanya menganggukan kepala, dan Jaehyun sendiri nampaknya sesungguhnya tidak menunggu respon dariku sama sekali. Ia sudah berjalan dengan cepat menuju ruangannya, dan ketika ia membuka pintu ruangannya, aku dapat melihat sekilas bagian dalam kantornya.

Aku dapat melihat sosok seorang gadis di dalam sana.

Tapi hanya itu yang bisa aku lihat, karena Jaehyun langsung menutup pintu ruangannya rapat, membuat kami yang berada di luar tidak dapat melihat apa pun lagi.

Asisten Choi menghela napasnya, kembali mendudukan diri di kursinya. Inilah kali pertama aku melihat pembawaan tenang asisten Choi runtuh tak bersisa.

"Asisten Choi, maaf kalau saya lancang, tapi—"

"Mau bertanya tentang Nona Kang, kan?" Asisten Choi mengangkat kepalanya, sinar lelah dan takut tampak di matanya. Ekspresi datarnya hilang sudah. "Dia adalah sebuah bencana, asisten Lee. Sebuah bencana yang bersembunyi dibalik sosok seorang gadis cantik nan anggun."

Asisten Choi terdiam sesaat, lalu menatapku, seolah-olah kalimat yang akan keluar dari dalam mulutnya setelah ini adalah sesuatu yang tabu untuk diucapkan. "Dia adalah tunangan dari tuan muda Jung."

TBC.