Monster

Summary:: Wonwoo yang seorang berandal sekolah menyelamatkan Mingyu yang diculik. Setelahnya, Mingyu terus mengikuti Wonwoo hingga akhirnya Wonwoo mengizinkannya untuk tinggal bersamanya. Tanpa sadar, Mingyu masuk ke kehidupan berandal dan kelam Wonwoo. "Mereka menganggapku monster, jadi, menjauhlah dariku."/"Kalau begitu, jadikan aku monster juga."

Couple:: Mingyu x Wonwoo

Rate:: T

Genre:: Drama, Romance

.

.

Hiwatari's Present

Enjoy~

.

.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Kau kenapa? Apa ini sakit?" bisik Mingyu. Wonwoo menggelengkan kepalanya. Ia hendak menjauhkan wajahnya dari tangan Mingyu, namun ditahan oleh Mingyu.

Namja berwajah penuh luka itu melebarkan matanya saat Mingyu tiba-tiba menarik tengkuknya dan menempelkan kedua bibir mereka. Ia semakin terbelalak saat Mingyu melumat bibirnya lembut.

BUGHH!

Mingyu tampak terkejut saat Wonwoo tiba-tiba memukul pipinya. Ia menatap Wonwoo yang juga tengah menatapnya dengan tatapan terkejut. Wonwoo dengan segera berdiri, tangannya menyentuh bibirnya perlahan dengan masih menatap Mingyu. Sedetik kemudian, ia berbalik dan berlari masuk ke dalam kamarnya.

Mingyu mendengus. Ia tidak menyangka kalau ia akan melakukan hal aneh itu.

'Kim Mingyu, kau bodoh! Apa yang kau lakukan? Mencium namja? Apa kau gila?' Mingyu mendecih kesal seraya memukul kepalanya sendiri. Ia kemudian menyentuh bibirnya. Ada sesuatu dalam hatinya yang mendorongnya untuk melakukan itu.

'Aku tidak tahu kenapa, tapi tatapan sedihnya itu membuatku tanpa sadar melakukannya. Dia terlihat sangat rapuh.' Mingyu menghela napasnya seraya menepuk-nepuk keningnya, berusaha mengembalikan pikirannya.

'Sadar! Sadar! Si Bodoh ini!' Ia kembali memukul kepalanya.

.

.

.

.

Mingyu dengan gerakan sangat perlahan menyibak selimut lalu membaringkan dirinya di samping Wonwoo. Ia memejamkan matanya saat berusaha mencari posisi nyaman. Sebenarnya ia ingin tidur di ruang tamu saja, ia juga orang yang tahu malu, setelah mencium pemilik apartemen ini, masih ingin tidur di kamarnya lagi? Satu ranjang dengannya?

Tapi, di ruang tamu sangat dingin, dan selimut mereka hanya ada satu. Ia bisa mati kedinginan jika tidur di ruang tamu tanpa selimut.

Mingyu menolehkan kepalanya ke arah kanan, mengamati Wonwoo yang tengah berbaring membelakanginya. Apakah namja itu sudah tidur? Apakah namja itu akan membencinya? Apakah besok mereka akan baik-baik saja? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya. Ia terus merutuki kebodohannya yang tanpa sadar mencium Wonwoo. Bagaimana bisa seorang namja mencium namja lain? Ini adalah bencana.

Dengan sedikit kesal pada dirinya sendiri, Mingyu menarik selimutnya lalu menutupi wajahnya. Ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada mereka besok.

Wonwoo yang sedari tadi membelakangi Mingyu dengan mata yang terpejam pun membuka matanya dengan perlahan. Ia melirik ke arah kiri sejenak sebelum akhirnya ia kembali menyentuh bibirnya. Sedetik kemudian, ia mengepalkan tangan yang menyentuh bibirnya itu lalu sedikit menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya hingga sebatas hidung. Matanya terus terbuka dengan kedipan-kedipan lambat dimatanya. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu sebelum akhirnya, dengan perlahan, mata tajam itu terpejam dan jatuh ke alam mimpinya.

.

.

.

.

.

.

Mingyu mengernyit lalu membuka kelopak matanya saat merasakan sinar matahari mengganggu tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak sebelum akhirnya menoleh ke arah kanannya. Seperti biasa, Wonwoo telah bangun lebih dahulu. Ia menghela napasnya lalu berjalan ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk bersikap biasa saja. Jangan canggung.

Setelah beberapa menit ia habiskan di kamar mandi untuk mandi seadanya, mencuci wajahnya dan menyikat gigi, ia dengan gerakan ragu-ragu keluar dari kamar. Matanya menemukan Wonwoo tengah menyiapkan roti bakar dan susu untuk porsi dua orang.

Mingyu duduk dalam diam, Wonwoo juga duduk di depan Mingyu seraya memakan rotinya dengan tenang. Mingyu hendak menggigit rotinya, namun ia menghentikan gerakannya dan memutuskan untuk bersuara.

"Hyung, semalam-"

"Itu semua salahku. Semalam aku terlihat sangat menyedihkan, bukan? Aku terlihat lemah sejenak hingga membuatmu merasa kasihan." Wonwoo tertawa kecil, tawa mengejek dirinya sendiri. Tapi bukankah aneh? Mana ada namja yang mencium namja lain hanya karena merasa kasihan?

Mingyu tertegun. Bagaimana bisa Wonwoo berpikir sampai seperti itu? Bahkan menyalahkan dirinya sendiri.

"Bagaimana bisa kau menyebut dirimu lemah saat kau memukulku dengan sangat keras?" tanya Mingyu tertawa canggung. Wonwoo dengan segera mengangkat kepalanya dan mengamati wajah tampan Mingyu. Ia dapat melihat sebuah lebam kebiruan di pipi kirinya.

"A-ah, apakah itu sakit?" tanya Wonwoo hendak menyentuh pipi Mingyu, namun ia dengan segera mengurungkan niatnya. Ia menarik tangannya kembali. Ia kemudian berdiri dari kursinya.

"Aku akan mengambil obat untukmu."

Mingyu menahan Wonwoo. "Tidak perlu, hyung, aku bisa mengobatinya sendiri nanti. Sebaiknya kau cepat makan dan pergi ke sekolah sebelum terlambat."

Wonwoo tampak diam sejenak sebelum akhirnya ia kembali duduk dan melanjutkan makannya. Mingyu juga melanjutkan makannya dengan sesekali melirik Wonwoo.

'Lucu sekali dia, luka sendiri tidak mengobatinya dengan benar. Wajahku hanya lebam sedikit, ia langsung sibuk ingin mengobati.' Mingyu mendengus saat melirik wajah dan tangan Wonwoo yang penuh dengan luka. Wajah yang terbilang tampan sekaligus manis itu, seharusnya tetap bersih dan putih. Tangan kurus itu, jari-jari tangannya itu, seharusnya tidak seperti ini.

"Aku sudah selesai, aku berangkat ke sekolah dulu. Jika kau ingin makan sesuatu kau boleh membelinya dengan uangku yang ada di laci itu, atau kau juga bisa memasak dengan semua bahan yang ada di dapurku." Setelah mengatakan itu, Wonwoo beranjak dari kursinya lalu meletakkan pirinya ke wastafel dapur. Tanpa mencuci piringnya, namja berwajah dingin itu dengan segera berangkat ke sekolah.

Mingyu menghela napasnya sebelum akhirnya meminum susunya hingga habis lalu beranjak ke wastafel dapur. Ia mencuci semua piring termasuk piring yang diletakkan begitu saja oleh Wonwoo. Ia sudah mulai mengenal kebiasaan Wonwoo. Namja itu akan menumpuk semua piring yang ia makan saat sarapan lalu akan mencucinya saat selesai makan malam. Mingyu tidak bisa melihat hidup tidak teratur milik Wonwoo ini lagi, ia harus memperbaiki namja itu.

Setelah selesai dengan semua itu, ia hendak menyalakan televisi, namun ia kembali mengurungkan niatnya saat matanya tidak sengaja melirik ke arah pintu apartemen.

"Aishh! Ada apa denganku?" gumamnya dengan kesal seraya berjalan ke arah pintu dan memakai sepatunya.

.

.

.

.

.

.

.

Seperti semalam lagi, Mingyu kembali duduk di atas atap rumah milik Jisoo. Namun bedanya, sepertinya hari ini akan tenang, karena ia sudah duduk di atas atap ini kurang lebih satu jam, dan tidak ada perkelahian seperti semalam.

Tak berapa lama kemudian, Mingyu mengernyit saat melihat Wonwoo menyelinap keluar dari gedung sekolah. Ia berjalan ke samping gedung sekolah di mana di sana adalah sebuah lapangan kusam yang jarang digunakan lagi. Sebenarnya Mingyu juga tidak mengerti, kenapa jalanan di sekitar sekolah ini sangat sepi, hanya ada satu atau dua toko buku saja, dan sebuah kedai makan kecil saja. Sisanya adalah perumahan warga.

Mingyu terus mengamati gerak-gerik Wonwoo yang tampaknya sedang menunggu seseorang. Beberapa menit kemudian, seorang namja berpakaian serba hitam mendekati Wonwoo. Wonwoo terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ia mundur beberapa langkah setelah melihat delapan orang lagi yang menyusul di belakang namja berpakaian hitam itu.

Namja berpakaian hitam itu menendang perut Wonwoo dengan keras hingga membuat Wonwoo terhempas ke belakang. Mingyu hendak berdiri, namun ia urungkan niatnya saat berpikir Wonwoo pasti dapat mengatasi mereka. Matanya mengernyit lagi saat melihat seorang namja dengan seragam sekolah lain datang menyusul dengan dua buah tongkat kayu di tangannya.

'Bukankah dia siswa dari sekolah lain yang semalam berlari keluar dari sekolah Wonwoo hyung?' pikir Mingyu.

Siswa dari sekolah lain itu menyerahkan kedua tongkat itu pada teman-temannya. Wonwoo dengan segera berdiri dan melawan dua di antara mereka. Mingyu sedikit tersenyum bangga saat melihat Wonwoo dapat menjatuhkan enam orang dari sepuluh lawannya itu. Ia akui Wonwoo memang sangat kuat meskipun ia sedikit khawatir melihat luka Wonwoo yang semakin bertambah saat melawan enam orang tadi.

Namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik saja saat ia melihat salah seorang dari mereka menghantamkan tongkat mereka ke perut Wonwoo hingga membuat Wonwoo meringkuk. Pukulan tongkat selanjutnya menghantam punggung Wonwoo di saat namja itu meringkuk sejenak. Kemudian disusul dengan tendangan di kepala Wonwoo.

Melihat Wonwoo terhempas ke tanah, Mingyu dengan segera turun dari atap dan berlari menyusul namja yang tengah berusaha bangkit itu. Sekuat apapun Wonwoo, tidak adil baginya yang bertangan kosong melawan dua orang yang membawa tongkat kayu.

Mingyu menendang kepala salah seorang yang memegang tongkat. Hal itu sontak membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka pada Mingyu. Mingyu dengan segera berlari dan berdiri di depan Wonwoo yang tengah mengelap mulutnya yang mengeluarkan sedikit darah.

Wonwoo mengernyit pada Mingyu. "Kenapa kau ada di sini?" tanya Wonwoo.

"Aku bisa melawan mereka sendiri. Aku masih sanggup." Wonwoo berusaha menyingkirkan Mingyu.

Mingyu tidak menjawabnya. Ia sibuk melirik keempat lawan yang ada di depannya. Siswa yang mengenakan seragam sekolah lain itu tertawa mengejek.

"Ada pahlawan rupany-"

BUGHHH!

Mingyu menendang wajahnya hingga siswa itu terhempas ke samping.

"Diamlah! Lebih baik kau menyelamatkan dirimu sendiri daripada mengoceh tidak jelas," kata Mingyu dengan wajah kesal.

"Pergilah! Aku bisa mengurusnya sendiri. Aku tidak lemah!" Wonwoo mendorong Mingyu ke samping. Mingyu berdecak dan menatap Wonwoo dengan tajam.

"Seberapa parah lagi kau ingin menghancurkan tubuhmu? Apa kau pikir kau masih bisa hidup jika terus melawan mereka sendirian?"

Wonwoo terdiam. Ia menatap mata Mingyu yang menunjukkan kekesalan dan juga kemarahan. Setelah itu, Mingyu kembali menoleh ke depan saat mendengar suara gerakan orang-orang di depannya. Empat namja itu maju bersamaan sekaligus.

Mingyu dapat melawan mereka, dengan sedikit bantuan Wonwoo. Saat tertinggal dua orang, Mingyu terlalu fokus pada kedua orang itu hingga tanpa ia sadari, Wonwoo tiba-tiba terhempas. Dengan terkejut, Mingyu menoleh ke belakang dan ia dapat melihat namja berpakaian hitam yang seharusnya telah tidak sadarkan diri itu kembali berdiri dan menendang Wonwoo dengan sedikit terhuyung-huyung.

Mingyu dengan sedikit amarah merebut tongkat dari lawannya lalu menghantamkannya ke kepala namja berpakaian hitam itu. Setelahnya, tidak lama baginya untuk meruntuhkan dua namja lainnya dengan dua buah tongkat kayu di tangannya.

Wonwoo dengan sedikit membungkuk, berjalan mendekati Mingyu dengan langkah terhuyung.

"Kau baik-baik saja?" tanya Wonwoo. Ia hendak menyentuh pipi dan kening Mingyu yang terluka, namun karena lemas dan juga rasa sakit, ia tidak sanggup menaikkan tangannya.

Mingyu menghela napasnya dan dengan segera meraih Wonwoo dan menggendongnya di punggungnya.

"Apa kau bodoh? Apa otakmu sudah rusak? Kenapa kau masih peduli padaku di saat kaulah yang saat hampir seperti akan mati." Mingyu memejamkan matanya. Ia tidak mengerti apa yang ada di pikiran Wonwoo. Apa tubuhnya sendiri itu tidak penting baginya?

"Dan lagi, kenapa kau keluar sendirian dari sekolah?" tanya Mingyu.

"Seseorang mengirim pesan ke ponselku dan mengatakan ingin menemuiku. Dia bilang sudah lama tidak berjumpa. Jadi aku penasaran itu siapa," jawab Wonwo.

"Dan kau tidak menyangka kalau itu hanyalah pancingan dari lawanmu?" tanya Mingyu. Wonwoo mengangguk.

"Cara seperti itu sudah jelas hanya pancingan dari musuh. Apa kau bodoh?"

Wonwoo terdiam. Ia tidak menjawab Mingyu.

"Atau jangan-jangan, kau memang mengharapkan seseorang untuk menemuimu?" tanya Mingyu. Wonwoo kembali terdiam. Dan itu Mingyu anggap sebagai 'iya'.

Sepanjang perjalanan, Wonwoo menyenderkan keningnya di pundak Mingyu. Sedangkan Mingyu, ia merutuki area sekolah yang sepi ini, tidak ada warga yang menolong mereka, tidak ada taksi, dan sepertinya Jisoo juga sedang tidak ada di rumah. Dengan terpaksa ia berjalan perlahan dengan Wonwoo di punggungnya. Untungnya Wonwoo tidak berat.

Namja tampan itu meringis saat setetes darah mengalir dari keningnya dan mengenai mata kanannya. Ia terpaksa memejamkan mata kanannya. Sepertinya keningnya berdarah karena terpukul oleh tongkat kayu tadi. Ia berhenti sejenak saat melewati kotak telepon. Sedetik kemudian, ia kembali melanjutkan jalannya.

"Sebentar lagi kita akan sampai. Tahan sedikit lagi," bisik Mingyu.

.

.

.

.

.

.

.

Mingyu dengan segera membaringkan Wonwoo di sofa setelah mereka sampai di apartemen milik Wonwoo. Ia lalu berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dan wajahnya seadanya. Ia meringis saat air itu mengenai luka-luka di wajahnya. Dengan perlahan ia mengeringkannya dengan handuk. Setelah itu ia berlari untuk mengobati Wonwoo. Ia tidak mungkin mengobati Wonwoo dengan tangannya yang kotor dan juga pandangannya yang kabur karena darah yang menutupi matanya, bukan?

"Aku sudah tidak apa-apa," ujar Wonwoo berusaha untuk bangkit. Ia memang tidak pingsan, hanya sedikit pusing dan mual saja karena dipukul secara bertubi-tubi di bagian perutnya.

"Apa kau bodoh, hyung?! Apa kau pikir aku akan membiarkanmu kali ini? Kau harus mengobati lukamu dengan baik mulai sekarang, hyung!" Mingyu memaksa Wonwoo untuk kembali duduk.

Wonwoo menatap Mingyu dengan bingung. "Kenapa kau terus mengataiku bodoh?" protesnya dengan suara lemahnya. Tidak sopan, pikirnya.

Mingyu tidak merespon, ia sibuk mengeluarkan semua obat-obat yang ada di kotak P3K milik Wonwoo. Ia menuangkan alkohol pada kapas yang ada di tangannya.

"Buka seragammu!" perintah Mingyu.

"Tidak mau."

Mingyu menghela napasnya. Ia menatap Wonwoo yang kini kembali memasang wajah datarnya.

"Lihat wajahmu dan seuruh tubuhmu. Semuanya luka. Kenapa kau tidak mengobatinya dengan benar?" tanya Mingyu.

Wonwoo terdiam sejenak sebelum akhirnya ia membuka mulutnya. "Ini akan segera sembuh meskipun tanpa obat." Jawaban keras kepala itu lagi.

"Kenapa kau seperti ini, hyung? Apakah kau tidak mengkhawatirkan kondisimu sendiri?" tanya Mingyu. Ia kembali melihat tatapan itu lagi, tatapan sendu Wonwoo, meskipun hanya sekilas, karena tatapan tajam Wonwoo selalu lebih mendominasi.

Wonwoo menyeringai tipis. "Karena aku tidak menginginkan hidup ini. Semuanya terasa sia-sia dan hambar. Meskipun tubuh ini hancur sekalipun, tidak ada yang akan menangisinya." Wonwoo mengamati telapak tangannya.

Mingyu menatap Wonwoo. Keduanya diam hingga akhirnya Wonwoo mengangkat kepalanya dan menatap Mingyu saat tangan Mingyu yang tengah memegang kapas beralkohol, menempelkan kapas itu dengan lembut pada pipi kiri Wonwoo. Namja tampan itu tersenyum tipis.

"Ayo kita mengobatinya bersama."

Wonwoo terdiam masih terus menatap Mingyu sebelum akhirnya ia menyentuh tangan Mingyu dan menjauhkan tangan itu dari pipinya. Ia dengan perlahan membuka blazernya dilanjutkan dengan dasi dan juga kemeja putihnya.

Mingyu tertegun saat melihat luka lebam yang sangat banyak di sekujur tubuh Wonwoo. Di kedua pundaknya, pinggang kiri, punggung, perut, dan lengan atas. Terlalu banyak lebam dan luka di tubuh yang kurus itu. Wonwoo tidak menatap Mingyu, ia hanya sibuk melihat ke arah bawah.

Mingyu merasa ngeri. Bagaimana bisa Wonwoo menahan rasa sakit luka-luka itu selama ini tanpa berniat mengobatinya? Sebelum luka yang ia dapat semalam sembuh, hari ini ia sudah mendapatkan yang baru, begitu seterusnya.

Mingyu dengan segera pergi ke dapur dan membuat kompres es. Setelahnya, ia meraih mangkuk besar dan mengisinya dengan air hangat dan mengambil handuk kecil. Ia lalu ke ruang tamu di mana Wonwoo masih duduk diam di sana.

Ia duduk di sebelah Wonwoo lalu meletakkan kompres es itu di pundak Wonwoo.

"Pegang ini!" Mingyu meraih tangan Wonwoo untuk memegang kompres es yang ada di pundak kanannya itu.

Ia lalu mencelupkan handuk kecil ke dalam mangkuk dan memerasnya. Dengan lembut, ia membersihkan luka dan bekas kotor yang ada di wajah Wonwoo.

"Bisa kau ceritakan, kenapa kau terlibat perkelahian seperti ini? Jika kau berniat untuk bercerita," kata Mingyu.

Wonwoo diam. Cukup lama ia diam hingga membuat Mingyu mengira kalau namja dingin itu tidak akan menceritakannya.

"Dua tahun yang lalu, aku tidak sengaja melihat Soonyoung dipukul oleh lima siswa dari sekolah W. Aku menolong Soonyoung dan mengalahkan mereka semua. Aku tidak tahu kalau aku mampu memukul sebagus itu. Dan setelahnya, aku tidak menyangka kalau mereka akan kembali datang untuk membalas dendam." Wonwoo meringis saat Mingyu mengusap luka yang ada di sudut bibirnya.

"Dan satu minggu kemudian, mereka memukul Seungcheol hyung dan lagi-lagi aku dan Soonyoung tidak sengaja melihatnya. Kami kembali saling memukul. Dan kami menang lagi. Setelahnya, banyak sekolah lain yang kesal mendengar berita kami yang selalu menang, dan para berandal di sekolah lain mulai mencari masalah dengan kami bertiga. Dan entah sejak kapan, kami pun mengumpulkan teman-teman kami untuk melawan mereka. Dan sampai sekarang, saling dendam mereka tidak ada habis-habisnya." Wonwoo menjauhkan kompres es itu.

Mingyu tampak mencerna cerita Wonwoo. Ternyata benar apa yang diceritakan oleh Jisoo, Wonwoo hanya 'terpaksa' untuk menjadi berandal seperti ini, ia tidak memiliki niat jahat, hanya karena dikejar terus-menerus oleh berandal di sekolah lain.

"Dan kau tidak melaporkan mereka ke polisi?" tanya Mingyu. Wonwoo tertawa miris. "Untuk apa melaporkan mereka? Status kami sekarang juga sudah sama seperti mereka."

Mingyu meraih kompres es itu dari tangan Wonwoo lalu meletakannya di perut Wonwoo yang memar. Tangan kanannya kembali membersihkan luka Wonwoo yang ada di samping alisnya. Wonwoo hanya sedikit menyipitkan matanya untuk menahan lukanya.

"Apa ayahmu tidak khawatir melihatmu begini?" tanya Mingyu.

Wonwoo mendengus. Ia memindahkan kompres es itu ke lengan kirinya. "Kalaupun aku meninggal, aku yakin dia tidak akan mengetahuinya." Ia memutar bola matanya. Mingyu mengamati respon Wonwoo. Sepertinya namja itu sangat membenci ayahnya, begitupun sebaliknya.

Mingyu membilas handuk kecil itu lalu memerasnya dan kembali membersihkan luka terakhir yang ada di pipi kanan Wonwoo. Luka di bagian itu cukup parah.

Wonwoo memejamkan matanya dengan kening berkerut. Mingyu ikut mengernyit. Ia tahu itu akan terasa sangat sakit. Ia merasa tidak tahan lagi dengan luka Wonwoo yang sangat banyak itu.

"Kau," Mingyu berucap. "tidak boleh terluka lagi." Wonwoo membuka matanya perlahan dan menatap Mingyu. Mingyu tengah menatapnya serius.

"Aku tidak akan mengizinkanmu untuk pulang dengan luka baru lagi," katanya lagi. Wonwoo mengernyitkan keningnya.

"Apa hakmu untuk melarangku? Memangnya kau siapa? Jangan ikut campur urusanku." Wonwoo menepis tangan Mingyu pada wajahnya.

"Aku akan menjadi pelindungmu, aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi." Mingyu merutuki dirinya sendiri. Sebenarnya ia tidak sadar kenapa arah bicaranya bisa berujung seperti ini, padahal niat awalnya tidak seperti itu. Ia hanya mengikuti arus saja dan tanpa berpikir panjang malah mengatakan hal-hal yang aneh. Pelindung? Bagaimana caranya melindungi orang yang lebih kuat darimu?

'Dia memang kuat secara fisik, tapi di dalam dirinya, dia tidak baik-baik saja.' Mingyu dapat melihat keraguan di mata Wonwoo.

"Kau aneh. Kita baru kenal belum sampai seminggu. Aku tidak mengenalmu, kau juga tidak mengenalku dengan baik, dan kau sudah mengatakan hal yang seolah kau sudah sangat mengenalku. Kau… akan menyesal kalau terus mengenalku lebih dalam." Wonwoo menatap dengan dingin.

"Apakah menjadi pelindung seseorang harus mengenalnya dengan baik terlebih dahulu? Apakah saat kau menolongku hari itu, kau mengenalku dengan baik? Tidak, 'kan?"

Wonwoo melirik Mingyu. "Aku hanya kebetulan menyelamatkanmu, karena kau kebetulan semobil dengan Soonyoung dan Seungcheol hyung." Ia kemudian kembali memasang wajah dinginnya tanpa menatap Mingyu.

"Mereka menganggapku monster, jadi, menjauhlah dariku. Lebih baik kau pulang, jangan terlibat denganku lagi."

Mingyu menghela napasnya. Ia belum ingin pulang. Ia ingin mengenal Wonwoo lebih dalam lagi. Iya, ia akui kalau dirinya memang aneh, dirinya memang gila. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang ingin lebih mengenal Wonwoo dan setelahnya melindunginya. Sebenarnya apa yang ada dipikirannya? Ahh, ia ingat, Wonwoo adalah penolongnya, dan ia ingin menjadi pelindung orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Dan lagi, ada tugas yang belum ia selesaikan.

"Kalau begitu, jadikan aku monster juga." Mingyu menatap Wonwoo serius. Wonwoo menatap Mingyu dengan tidak percaya. Ia meletakkan kompres es yang tengah dipegangnya di atas meja lalu berdiri setelah sebelumnya kembali mengenakan kemeja putihnya yang sedikit kusam.

"Kau aneh, sepertinya kau mengalami shock setelah terkena pukulan di keningmu. Lebih baik kau pulang dan berobat dengan baik."

Wonwoo beranjak ke kamarnya. Namun, baru selangkah, ia merasakan sakit di kepalanya dan setelahnya tidak sadarkan diri. Mingyu dengan terkejut segera menangkap tubuh kurus Wonwoo.

"Hyung! Hyung!" Mingyu meringis. Ia sudah menduganya, dengan kondisi tubuh seperti ini, namja yang lebih tua setahun darinya itu pasti akan tumbang cepat atau lambat. Ia dengan segera membawanya ke dalam kamar lalu membaringkannya dengan hati-hati.

"Tch! Dia masih belum selesai mengobati semuanya." Ia lalu keluar kamar untuk mengambil semua obat-obatnya dan kembali masuk ke dalam kamar. Beberapa saat Mingyu habiskan untuk mengobati semua luka dan memar di tubuh Wonwoo. Wonwoo terlihat sangat lelap, namja itu pasti sangat kelelahan.

Setelah selesai, Mingyu memakaikan kaos bersih pada Wonwoo. Ia mengamati wajah Wonwoo yang penuh dengan plester sejenak lalu beranjak, hendak mengobati lukanya sendiri di kamar mandi. Ah, sepertinya ia harus meminjam kaos bersih Wonwoo. Ia akan mengambilnya sendiri dan akan meminta izin setelah pemiliknya sadar.

Saat namja tampan itu menarik kaos Wonwoo yang berada di bagian paling bawah tumpukan baju itu- karena sepertinya kaos yang kebesaran bagi Wonwoo berada di tumpukan paling bawah-, ia tidak sengaja membuat sebuah map coklat yang berada di paling bawah tumpukan baju itu sedikit tertarik keluar.

Mingyu hendak memasukkan map itu kembali saat ia tidak sengaja melihat kertas yang ada di dalam map itu sedikit keluar dan menunjukkan tulisan yang aneh. Ia menoleh pada Wonwoo sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan map itu lalu membukanya. Ia mengernyit saat melihat isinya.

'Perkembangan Pembuatan Manusia Robot oleh Organisasi Humanoid?' batin Mingyu membaca judul yang ada di artikel yang tertulis di halaman pertama kertas itu.

Ia membaca sekilas isi artikel itu lalu membaca lembaran kertas kedua. Ia semakin mengernyit bingung.

'Perkiraan Pembuatan Manusia Robot.'

Isi artikel itu sepertinya bukan diprint langsung dari internet, melainkan seperti ketikan yang dibuat sendiri oleh Wonwoo. Bahkan di sudut bawah kertas itu terdapat tulisan 'WW'.

'Manusia Telah Meninggal Setelah Menjadi Robot.'

Ahh, Mingyu baru menyadarinya, ini benar-benar rangkuman yang dibuat sendiri oleh Wonwoo.

Lembaran selanjutnya.

'Sistem Kerja Humanoid.'

Mingyu semakin gencar membaca lembaran-lembaran berikutnya.

'Titik Lemah Manusia Robot dan Cara Mengalahkannya.'

'Lokasi-Lokasi Bekas Markas Organisasi Humanoid.'

'Daftar Nama-Nama Manusia yang Berhasil Menjadi Robot.'

Dan setelahnya, banyak gambar-gambar yang tidak dimengerti oleh Mingyu. Ia menoleh dan menatap Wonwoo yang masih tertidur dengan tatapan tidak percaya.

'Siapa dia sebenarnya?'

.

~TBC~

.

Yahoooo~ Author's back~ Bagaimana? Alurnya kecepatankah? Sebenarnya tidak cepat, ini semua hanya awal permasalahan ff ini. Muahahaha! Ff ini ribet sebenarnya, author sendiri mutar otak melebihi saat author ngetik Prince's Prince, fuhhh -3- Resiko, napa milih ff genre ginian buat diketik? #plakk Authornya kepo sih pengen nyoba hahaha XD

Terima kasih sebanyak-banyaknya buat readers dan reviewers author tercinta, terima kasih karena sudah mau membaca fanfic yang sebenarnya kurang sempurna ini. Terima kasih banyak *bow* :D

Khasabat04, Park inhyun-Uchiha, Vioolyt, Kkamjongmin, kookies, 18666ww, svtvisual, equuleusblack, monwii jeonwii, Siska Yairawati Putri, Rie Cloudsomnia, Permenkaret, 11234dong, Aozora140117, hamipark76, ming, tfiy, Mrs. EvilGameGyu, Beanienim, daerianda, diciassette, Mirror, aprilbunny9, Twelves, seira minkyu, kimjunheekji, wanUKISS, Tipo, auliaMRQ, Ara94, BumBumJin, asbavx, Guest, dxxsy, KimAnita, hoshilhouette, fvcksoo, Jojo0330, yehet94, alwaysmeanie, kimxjeon, taenggoo, DaeMinJae, SkyBlueAndWhite, NichanJung, zeloxter, itsathenazi

Makasih buat review kalian yang sangat mendukung, review kalian selalu menjadi kekuatan author buat perkembangan ff ini. *bow*

Jangan ada silent readers yah readers tercintah~ *tebar kolor babeh Kups* XD

Okedeh, akhir kata dari author untuk chap ini,

Review, please~? ^^

Gomawo *bow* m(_ _)m