Monster
Summary:: Wonwoo yang seorang berandal sekolah menyelamatkan Mingyu yang diculik. Setelahnya, Mingyu terus mengikuti Wonwoo hingga akhirnya Wonwoo mengizinkannya untuk tinggal bersamanya. Tanpa sadar, Mingyu masuk ke kehidupan berandal dan kelam Wonwoo. "Mereka menganggapku monster, jadi, menjauhlah dariku."/"Kalau begitu, jadikan aku monster juga."
Couple:: Mingyu x Wonwoo
Rate:: T
Genre:: Drama, Romance
.
.
Hiwatari's Present
Enjoy~
.
.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
'Sistem Kerja Humanoid.'
Mingyu semakin gencar membaca lembaran-lembaran berikutnya.
'Titik Lemah Manusia Robot dan Cara Mengalahkannya.'
'Lokasi-Lokasi Bekas Markas Organisasi Humanoid.'
'Daftar Nama-Nama Manusia yang Berhasil Menjadi Robot.'
Dan setelahnya, banyak gambar-gambar yang tidak dimengerti oleh Mingyu. Ia menoleh dan menatap Wonwoo yang masih tertidur dengan tatapan tidak percaya.
'Siapa dia sebenarnya?'
Mingyu dengan segera meletakkan kembali dokumen itu ke dalam lemri di bawah tumpukkan baju Wonwoo. Ia lalu keluar dari kamar Wonwoo dan dengan segera menelepon seseorang menggunakan telepon rumah Wonwoo. Beberapa detik kemudian, Mingyu menyapa seseorang di seberang panggilannya.
"Halo, bisa kau uruskan sesuatu untukku? Hari ini harus selesai karena aku akan melakukannya besok. Jangan banyak bertanya, ini juga demi kelancaran tugas yang kau berikan padaku," ucap Mingyu. Dan setelahnya, ia menjelaskan apa-apa saja yang harus diurus oleh orang yang menjadi lawan bicaranya di telepon itu.
"Hm, hm, itu benar. Besok aku akan langsung masuk ke sana. Kau bisa tolong urus semuanya hari ini, 'kan? Hm, baiklah. Terima kasih. Iya, iya aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kenapa kau ribut sekali? Aku bukan anak-anak lagi dan aku tidak bodoh." Ia berdecak pelan sebelum akhirnya menutup teleponnya.
Namja tampan itu menghela napasnya sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk membersihkan lukanya sekalian mandi.
Beberapa saat kemudian, Mingyu telah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang masih menggantung di lehernya, ia mengamati Wonwoo yang masih memejamkan matanya itu. Ia dapat melihat Wonwoo menggeliat tidak nyaman dengan kening berkerut.
Mingyu menghela napasnya seraya melangkah mendekati Wonwoo. Ia menatap wajah Wonwoo sejenak sebelum akhirnya ia menarik selimut yang menutupi Wonwoo hingga sebatas pundaknya.
'Kenapa tiba-tiba semuanya menjadi rumit seperti ini?'
Mingyu kembali menghela napasnya kemudian beranjak dari kamar yang ia tempati bersama dengan Wonwoo. Ia mendudukkan dirinya ke sofa, seraya mengeringkan rambutnya yang basah, ia menyalakan televisi dan menontonnya.
Beberapa saat kemudian, Mingyu terdiam sejenak saat tidak sengaja melirik jam dinding. Sudah hampir jam 1 siang rupanya, dan Wonwoo sedari tadi tertidur, belum memakan apa-apa sejak pulang tadi. Mingyu kemudian beranjak ke arah dapur. Namja tampan itu melangkahkan kakinya ke dapur dan mulai mencari sesuatu di kulkas dan menyalakan kompor.
Setelah cukup lama namja tampan itu berkutat di dapur, ia membawa nampan yang di atasnya terdapat semangkuk bubur panas dan segelas jus jeruk. Ia masuk ke dalam kamar Wonwoo lalu duduk di tepi kasur, tepat di samping Wonwoo. Meletakkan nampan itu di atas meja nakas di samping kasur dan dengan gerakan lembut menghadap ke Wonwoo dan menyentuh kening namja yang tengah terlelap itu.
Mingyu tampak menatap Wonwoo dengan tatapan datar dan dinginnya sebelum akhirnya memanggil Wonwoo,
"Hyung, bangun. Kau harus makan sesuatu, ini sudah siang."
Wonwoo mengernyitkan keningnya saat ia merasa seseorang tengah menyentuh keningnya. Saat ia membua matanya, tangan di keningnya telah dijauhkan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan dengan perlahan akhirnya dapat melihat sosok Mingyu yang tengah duduk di sampingnya. Ia kembali memejamkan matanya saat ia merasakan pusing pada kepalanya.
"Ada apa?" tanya Wonwoo. Ia kembali membuka matanya. Mingyu tengah tersenyum tipis padanya.
"Ayo makan, hyung. Sudah siang dan kau belum makan apa-apa." Mingyu membantu Wonwoo untuk duduk bersandar pada kepala kasur.
Wonwoo mengamati bubur yang tengah dipegang oleh mingyu sejenak sebelum akhirnya mengangkat tangannya mengambil mangkuk dan sendok dari tangan Mingyu. Mingyu tidak sengaja melihat tangan Wonwoo yang penuh dengan plester dan tempelan kain kassa itu membuatnya meringis dan menjauhkan mangkuknya dari jangkauan tangan Wonwoo.
Wonwoo mengernyit bingung pada Mingyu.
"Hyung duduk diam saja, aku yang akan menyuapimu," ucap Mingyu.
Wonwoo semakin mengernyit.
"Kenapa? Aku bisa makan sendiri. Aku bukan anak kecil." Wonwoo hendak meraih mangkuk itu namun ditepis pelan oleh Mingyu.
Wonwoo mendengus. Ia memalingkan wajahnya saat Mingyu mendekatkan sendoknya ke mulutnya. Mingyu menghela napasnya. Ia baru tahu, Wonwoo itu bukanlah tipe orang yang ingin dikasihani, ia adalah orang yang keras pada dirinya sendiri.
"Baiklah, makanlah pelan-pelan, hyung." Mingyu menaruh kembali sendok itu ke dalam mangkuk dan mendekatkan mangkuk itu pada Wonwoo.
"Tapi aku yang akan memegangi mangkuknya untukmu," ucap Mingyu.
Wonwoo melirik Mingyu sejenak sebelum akhirnya ia meraih sendoknya dan dengan perlahan menyendokkan sendikit bubur dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia mendesis pelan saat bubur panas itu mengenai lidahnya. Setelahnya ia kembali menyendokkan bubur ke dalam mulutnya setelah sebelumnya meniupnya pelan.
Cara makan Wonwoo sangat pelan dan tangan kurusnya terlihat sedikit bergetar saat hendak menyendokkannya ke dalam mulut. Tangannya pasti masih lemas. Namja kurus itu sudah kehilangan energinya saat diserang tadi, dan luka-luka itu memperburuk keadaannya.
Beberapa suap kemudian, Wonwoo meletakkan sendoknya di dalam mangkuk kemudian menyandarkan kepalanya ke belakang.
"Kenyang," ucapnya singkat. Mingyu menatap Wonwoo.
"Kenyang? Kau baru makan beberapa suap kecil saja."
Wonwoo menggelengkan kepalanya. "Aku sedang tidak ingin makan."
Mingyu meletakkan mangkuk itu ke atas nampan dan mengambil segelas jus jeruk.
"Minum ini, hyung."
Wonwoo menoleh pada Mingyu dan mengamati jus jeruk itu.
"Kau yang membuatnya?" tanya Wonwoo. Mingyu menganggukkan kepalanya.
"Apa ini?" tanya Wonwoo.
"Jus jeruk."
Wonwoo meraih gelas itu. "Aku tidak pernah minum jus asli," gumam Wonwoo. Ia kemudian meminumnya perlahan.
"Manis," gumamnya lagi seraya mengamati gelasnya yang berisi jus jeruk yang tinggal setengah itu. Terdapat senyum yang sangat tipis di bibirnya.
Mingyu dapat melihat senyum tipis Wonwoo meskipun Wonwoo tengah menunduk. Ia terdiam sejenak. Tatapannya melembut saat melihat Wonwoo kembali meminum jus jeruknya.
'Dia sangat lemah di dalam dirinya.'
Wonwoo memberikan gelas kosongnya pada Mingyu kemudian menarik selimutnya.
"Terima kasih. Aku ingin tidur lagi." Ia berbaring dengan posisi menyamping dan menutup dirinya hingga sebatas hidungnya. Mingyu beranjak dan membawa nampannya saat ia melihat Wonwoo telah memejamkan matanya.
Ia melirik Wonwoo sejenak sebelum akhirnya menutup pintu kamar namja yang tengah berbaring itu.
Blam!
.
.
.
.
.
.
.
Wonwoo menguap saat ia memasuki kelasnya dan berjalan menghampiri meja di mana Seungcheol dan Soonyoung tengah duduk dan berbincang. Ia duduk tepat di meja belakang Soonyoung dan Seungcheol.
"Ya! Ke mana saja kau semalam? Bolos? Bahkan kau tidak membawa pulang tasmu." Seungcheol menunjuk tas Wonwoo yang berada di dalam laci semalaman.
"Ah iya, aku lupa membawa pulang tasku. Hari ini aku pinjam buku Jun saja. Apa ada PR?" tanya Wonwoo. Soonyoung menggelengkan kepalanya.
"Untungnya tidak ada PR."
"Ada yang aneh denganmu, Wonwoo-ya," gumam Seungcheol mengamati wajah Wonwoo.
"Jeon Wonwoo!" Seseorang tiba-tiba merangkul pundak Wonwoo dari belakang. Wonwoo tampak terkejut. Ia meringis pelan.
"Yaa~ Ada apa denganmu? Kenapa tumben sekali kau memakai perban, plester dan tempelan kain kassa seperti ini?" tanya Jun yang masih terus merangkul Wonwoo itu. Ia menyentuh salah satu plester yang menempel di sudut bibir Wonwoo. Wonwoo menyingkirkan tangan Jun dari wajahnya.
Jun yang memang teman sebangku Wonwoo pun memilih untuk duduk di samping Wonwoo dan kembali mengamati kondisi Wonwoo yang aneh baginya.
"Ah! Pantas saja aku merasa ada yang aneh denganmu, ternyata lukamu ini," ucap Seungcheol.
Jun dan Soonyoung menganggukkan kepalanya.
"Selama aku berteman denganmu, aku tidak pernah melihatmu menempel plester dan kain kassa sebanyak ini. Kau tidak pernah mengurus luka-lukamu meskipun lukamu masih basah. Apa yang terjadi denganmu? Ada yang merawatmu?" tanya Jun sibuk.
Wonwoo menghela napasnya kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Tidak ada yang mengurusku. Saat aku terbangun, benda-benda ini sudah menempel di luka-lukaku," jawab Wonwoo malas. Ia kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja. Jujur, ia masih sangat mengantuk dan sekujur tubuhnya masih terasa sakit.
Beberapa menit kemudian, bel sekolah tanda pelajaran dimulai pun berbunyi. Semua siswa dan siswi masuk ke dalam kelas dan duduk tertib menunggu guru mereka untuk masuk.
Mereka mulai belajar hingga dua jam kemudian, bell pergantian pelajaran pun berbunyi. Guru yang mengajar pun keluar.
Wonwoo menghela napasnya. Ia merasa penat pada kepalanya setiap pelajaran matematika selesai. Entah kenapa akhir-akhir ini kapasitas otaknya semakin kecil.
"Tahan, Jun, 45 menit lagi sudah akan istirahat. Tahan…" Wonwoo melirik Jun yang bergumam tidak jelas. Namja tampan berambut blonde itu menampar-nampar pelan wajahnya. Ia tahu, sedari tadi Jun terus tertidur dan namanya pun terus dipanggil oleh guru karena tidak memperhatikan pelajaran.
Guru pelajaran selanjutnya belum datang, tidak biasanya guru-guru telat masuk saat pergantian pelajaran. Wonwoo pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan menelungkupkan kepalanya di atas kedua lengannya. Ia juga sangat mengantuk.
Beberapa menit kemudian, guru pun masuk, namun Wonwoo masih tetap menelungkupkan kepalanya. Kepalanya terasa sangat berat untuk diangkat. Selama guru itu belum menegurnya, ia akan terus menelungkupkan kepalanya, begitulah pikirnya.
"Ehem! Hari ini kalian sangat beruntung, kalian kedatangan seorang siswa baru. Memang agak aneh ada siswa baru yang masuk di tengah pelajaran seerti ini. Tapi siswa ini sangat berprestasi, dia masuk ke sekolah ini tanpa dengan kepintarannya dan mendapatkan beasiswa hingga lulus. Saya tidak tahu kenapa dia memilih menggunakan beasiswanya untuk masuk ke sekolah seperti ini, ehem, tapi berteman baiklah dengannya," jelas sang guru.
Wonwoo yang mendengar ucapan gurunya yang baginya menyebalkan itu menghela napasnya, masih dengan kepala yang menelungkup di atas lipatan tangannya, ia menoleh kea rah Jun dengan wajah malasnya. Ia memutar bola matanya.
"Dia mengejek sekolah kita? Guru macam apa dia?" gumam Wonwoo pada Jun. jun hanya menaikkan kedua bahunya acuh tak acuh, ia tidak terlalu peduli dengan apa yang diocehkan oleh gurunya di depan sana.
Wonwoo ikut menaikkan kedua bahunya sebelum akhirnya kembali membenamkan wajahnya di kedua lengannya.
"Silahkan masuk," ucap sang guru.
Srett!
Tap! Tap! Tap!
"Wahh!"
"Woahh!"
"Tampan,"
Wonwoo dapat mendengar bisikan-bisikan para siswi di sekitarnya. Ia masih tidak peduli, nantinya ia juga akan dapat melihat wajah si siswa baru, bahkan hingga lulus nanti, jadi untuk apa sibuk-sibuk melihatnya sekarang di saat ia sangat mengantuk?
"Annyeonghaseyo, namaku Kim Mingyu, aku pindahan sekolah dari Seoul. Aku masuk sekolah ini karena untuk sementara aku tinggal ini kota ini. Salam kenal." Mingyu menunjukkan senyum tampannya hingga membuat seluruh siswi yang ada di dalam kelas itu menutup mulut mereka. Mata Mingyu menyapu seluruh penjuru kelas ini dan tertawa kecil melihat Wonwoo tengah tidur.
Wonwoo yang mendengar suara yang tidak asing dan juga nama yang sangat tidak asing itu dengan segera mengangkat kepalanya dan tertegun melihat Mingyu yang juga tengah menatapnya.
"Ya, Wonwoo-ya, bukankah itu namja yang hari itu bersama dengan kami?" tanya Seungcheol.
"Iya, dia yang bersama kami saat diculik. Dia masih ada di kota ini? Kenapa tidak kembali ke Seoul?" tanya Hoshi.
Wonwoo tidak menjawab pertanyaan Seungcheol dan Soonyoung. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap Mingyu dengan kening mengernyit.
"Kim Mingyu, kau ingin duduk di mana?" tanya sang guru. Mingyu melirik ke seluruh meja yang ada di kelas. Ada sekitar 3-4 meja yang di mana siswa-siswinya belum memiliki teman sebangku. Mingyu tersenyum saat mendapati meja yang berada tepat di samping kiri meja Wonwoo. Di sana hanya ada satu siswi yang duduk tepat di samping Wonwoo. Wonwoo duduk di sisi kiri meja, sedangkan yeoja itu duduk di sisi kanan meja.
"Di sana, seonsaengnim." Mingyu menunjuk meja itu. Siswi yang duduk di meja itu tersenyum malu-malu. Ia dengan segera merapikan poninya. Sedetik kemudian, siswi itu mengernyit saat Mingyu malah berjalan di barisannya, bukannya berjalan di barisan sebelah, di mana kursi kosong itu berada di sisi kiri.
Mingyu tersenyum pada siswi itu. "Bisa kau geser ke sebelah sana? Aku ingin di sini," ucapnya pelan. Siswi itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan dengan segera menggeser duduknya ke sisi kiri.
"Terima kasih," ucap Mingyu lalu duduk di kursinya dan memasukkan tasnya ke dalam laci. Ia menoleh pada Wonwoo dengan senyum tipis di wajah tampannya. Wonwoo hanya terdiam menatap Mingyu tidak percaya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Mingyu.
Wonwoo terdiam beberapa detik sebelum menjawab,
"A-aniyo."
.
.
.
.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi, sebagian besar siswa dan siswi keluar dari kelas untuk segera pergi ke kantin, tempat di mana mereka bisa mencari makan siang mereka. Tapi tidak dengan Wonwoo, Mingyu, Soonyoung, Seungcheol dan Jun yang masih berada di meja mereka.
Wonwoo memutar tubuhnya duduk menyamping, menghadap ke Mingyu yang tengah memasukkan buku yang baru saja ia pelajari dan mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya. Rajin sekali namja itu, bahkan Wonwoo saja tidak menyentuh tasnya sama sekali.
"Kau… Bagaimana bisa kau masuk ke sekolah ini?" tanya Wonwoo.
"Aku masuk lewat jalur beasiswa. Mereka hanya menilai kepintaranku dan langsung setuju setelah melihat hasil tesku tadi pagi," jawab Mingyu santai.
"Tapi, bagaimana mungkin bisa. Kau 'kan tersesat di kota ini, tidak membawa apa-apa, uang sepeserpun tidak ada, ijazah, akta lahir dan lain-lainnya?" tanya Seungcheol.
"Aku sudah menjelaskan situasiku pada kepala sekolah, dan dia bilang aku boleh mencoba jalur beasiswa, jika aku medapat nilai sempurna dalam 5 pelajaran, aku boleh masuk ke sini tanpa syarat. Dan aku lulus 9 pelajaran dengan nilai sempurna, dan pihak sekolah memberi semua fasilitas padaku secara gratis." jelas Mingyu.
"Apa kau gila?!" seru Soonyoung, Seungcheol dan Jun. Mingyu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak gila."
"Kau pasti gila. Lewat dari nilai kelulusan untuk 5 pelajaran saja sudah sangat sulit, apalagi mendapat nilai sempurna untuk 9 pelajaran." Soonyoung memijit keningnya.
"Apa kau serius?" tanya Wonwoo. Ia menatap Mingyu masih tidak percaya. Ia yakin ia masih melihat Mingyu dengan kaos dan celana training dan rambut acak-acakan saat ia berangkat ke sekolah tadi. Kenapa sekarang Mingyu ada di sini?
"Serius. Untuk apa aku mengarang? Aku tidak memiliki keluarga di kota ini, aku tidak punya ponsel ataupun uang. Tapi aku ingin mencoba untuk belajar di sini dan sekaligus menemanimu. Bukankah sudah kukatakan semalam? Aku akan melindungimu," ucap Mingyu pelan.
Ucapan Mingyu tidaklah sepenuhnya bohong, ia benar-benar masuk ke sekolah ini melalui jalur beasiswa dan ia benar-benar mendapatkannya. Ia lulus dengan nilai sempurna di 9 pelajaran. Tapi untuk seluruh fasilitas gratis dan masuk tanpa dokumen pribadi, itu bohong. Ia telah mengirim dokumen pribadinya pada sekolah melalui fax semalam, dan ia juga telah mengirim uang seragam dan uang perlengkapan lainnya pada sekolah lewat rekening.
Wonwoo hanya mengangguk mengerti. Ia sebenarnya masih tidak percaya, tapi mengingat sekolah ini bukanlah sekolah yang bagus, hal aneh seperti ini bisa saja terjadi.
"Kim Mingyu, kau masih di kota ini? Kenapa tidak kembali ke Seoul saja?" tanya Soonyoung. Mingyu tampak berpikir sejenak. Selama ini Wonwoo tidak pernah bertanya seperti itu padanya, jadi ia tidak terpikir akan menjawab pertanyaan itu meskipun ia tahu seharusnya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan umum seperti itu.
"Karena di Seoul pun aku tidak memiliki keluarga. Aku hidup sendirian. Keluargaku ada di luar kota. Jadi untuk apa aku kembali ke Seoul kalau aku merasa di sini sangat nyaman?"
Sebenarnya Wonwoo merasa aneh, apa tujuan Mingyu sebenarnya hingga namja itu ingin bersekolah? Ada yang aneh. Begitulah pikir Wonwoo. Apa benar tujuan namja tampan itu hanya ingin melindunginya? Terdengar sangat berlebihan untuk orang yang baru saling mengenal.
Mingyu menghela napasnya saat melihat tatapan curiga Wonwoo.
"Ayo kita ke kantin, aku lapar." Mingyu berbdiri.
"Apa kau punya uang untuk membeli makanan?" tanya Soonyoung. Mingyu terdiam sejenak. Sebenarnya ia memiliki uang kiriman, hanya saja, di depan Wonwoo dan teman-temannya, ia harus berpura-pura tidak memiliki uang sepeserpun.
Wonwoo menghela napasnya. "Aku akan membayar makananmu."
"Aku juga?" tanya Jun. Wonwoo memutar bola matanya malas lalu beranjak meninggalkan Jun yang mengerucutkan bibirnya.
Saat berjalan di koridor, ada sekumpulan namja berjumlah lima orang lewat dengan raut wajah tidak senang. Mereka dengan sengaja menabrak Wonwoo hingga membuat Wonwoo terhuyung dan meringis saat mereka menabrak tepat di lukanya.
Salah satu namja yang menabrak Wonwoo menghentikan langkahnya dan menatap Wonwoo dingin.
"Apa itu sakit? Apa hanya senggolan pelan seperti ini lebih sakit dibanding pukulan-pukulan yang kau dapat di luar sana?" tanyanya datar.
Wonwoo mendengus kesal, sedangkan Soonyoung dan Jun menahan rasa kesalnya. Hal ini sudah biasa bagi mereka dan juga seluruh penghuni sekolah ini. Hanya karena mereka sering berkelahi dengan berandal sekolah lain, membuat para siswa lain otomatis mendapatkan batunya.
Misalnya saat siswa tak bersalah itu tidak sengaja berpapasan dengan siswa berandal sekolah lain, mereka akan dijadikan sasaran pembalasan dendam oleh berandal itu. Maka dari itulah ada sebagian siswa di sekolah ini yang sangat membenci Wonwoo dan teman-temannya. Karena bagi mereka, Wonwoolah penyebab masa-masa sekolah mereka suram. Tapi ada beberapa siswa juga yang justru mengagumi Wonwoo dan teman-temannya, karena mereka akan melindungi siswa di sekolah mereka yang tertindas.
Seungcheol menahan Soonyoung yang hendak maju memarahi siswa itu saat siswa itu mendorong pundak Wonwoo. Wonwoo meringis, ia ingat ada bekas pukulan tongkat kayu di pundaknya dua hari yang lalu.
"Apa yang kau lakukan?" Semua mata siswa yang ada di sekitar tempat itu tertuju pada Mingyu. Mingyu menatap siswa itu dengan tatapan dingin. Ia maju dan berdiri tepat di depan namja yang lebih pendek darinya itu.
"Siapa kau? Mau jadi pahlawan?" tanya siswa itu kesal. Ia hendak mendorong pundak Mingyu, namun tangannya ditangkap dan diremas kuat oleh Mingyu. Siswa itu meringis pelan.
"Pergilah! Jangan pernah berpapasan dengan kami lagi." Mingyu menghempaskan tangan itu kuat. Siswa itu mendecih kesal. Ia melirik teman-temannya yang melangkah mundur.
Selama ini mereka menggaggu Wonwoo tapi Wonwoo dan teman-temannya selalu tidak merespon, lebih tepatnya Wonwoo selalu menghalangi teman-temannya yang hendak melawan. Bagaimanapun, mereka ini teman satu sekolah, alasan Wonwoo menjadi berandal seperti ini adalah melindungi teman-teman sekolahnya. Kalau ia juga memukul teman sekolahnya, berarti ia sama saja dengan berandal di luar sana.
"Sudahlah," gumam Wonwoo menarik pundak Mingyu untuk mundur. Siswa itu mundur dan masih menatap Mingyu tajam.
"Jangan karena tubuhmu lebih besar, kau kira kau bisa menang, siswa baru!" Siswa itu menunjuk wajah Mingyu sebelum akhirnya ia berbalik dan berlalu.
Mingyu mendengus lalu berbalik dan menatap Wonwoo.
"Kau tidak melawan? Kau tidak bersalah tapi mereka tiba-tiba cari masalah denganmu, apa kau tidak kesal?" tanya Mingyu.
Wonwoo menggelengkan kepalanya. "Dia benci padaku karena salahku. Aku yang membuatnya seperti itu. Dia sudah cukup menderita dengan menerima balas dendam dari berandal sekolah lain." Setelah mengatakan itu, Wonwoo menghela napas kemudian melanjutkan jalannya menuju ke kantin.
Dapat Mingyu lihat, ada beberapa siswa yang terlihat takut pada Wonwoo, ada yang mengaguminya, dan ada beberapa yang menatapnya benci. Tapi raut wajah Wonwoo tetap datar dan dingin. Ia tidak menoleh sedikitpun pada orang-orang di sekelilingnya yang memberinya berbagai macam tatapan.
Setelah memesan masing-masing makanan di kantin, mereka makan dalam diam. Mingyu mengunyah makanannya seraya mengamati Wonwoo.
'Apa teman-temannya hanya tiga orang ini saja? Ke mana anggotanya yang lain?' Mingyu melirik ke kiri dan ke kanan. Tidak ada orang yang berani duduk di sekitar meja Wonwoo. Situasi yang sedikit aneh bagi Mingyu.
Buk! Buk! Buk!
Mingyu terkejut saat mendengar suara sesuatu yang dilempar ke meja mereka. Sontak, kelima pasang mata yang duduk di meja itupun mengalihkan mata mereka ke sang pelaku.
Seorang namja tampan berhidung mancung berdiri dua meter di samping meja itu seraya menggigit mengunyah sandwich yang ada di tangannya. Ia berdiri dengan gaya acuh tak acuh.
"Woahh! Kau memang yang terbaik, Seokmin-ah!" heboh Soonyoung. Mingyu melirik sesuatu yang dilempar oleh namja yang dipanggil Seokmin oleh Soonyoung itu. Ada sekitar 5 atau 6 bungkus burger di atas meja mereka. Mingyu mengedipkan matanya tidak percaya. Burger yang selama ini menjadi makanan yang ia agung-agungkan kini dilempar begitu saja di atas meja?
Seokmin duduk di samping Mingyu dan kembali menggigit sandwich di tangannya.
"Yo!" Namja berhidung mancung itu menyiku Mingyu seraya menaikkan kepalanya sejenak, menyapa Mingyu yang sebenarnya tidak ia kenal.
"Kau sangat berjasa, Lee Seokmin," ucap Seungcheol seraya meraih sebungkus burger itu, begitupula dengan Wonwoo, Jun dan Soonyoung.
"Anak orang kaya," komentar Wonwoo pada Seokmin.
Seorang namja bertubuh kurus tiba-tiba datang dan berdiri di samping meja dengan sekotak susu di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terulur dan mengambil sebungkus burger dari meja. Seokmin dengan cueknya mengambil susu yang ada di tangan namja itu dan menyeruputnya tanpa mempedulikan tatapan protes dari namja yang tengah berdiri itu.
"Susuku!" protesnya.
"Aku akan menggantinya dua kotak nanti, Xu Minghao," jawab Dokyeom. Namja yang bernama Xu Minghao itu menggeser tubuh Seokmin dengan bokongnya dan memaksa duduk di samping Seokmin.
"Deal!" Ia menyambut jabatan tangan dari Seokmin dengan gaya gaul.
Mingyu menatap Minghao. 'Siapa lagi itu?'
Seokmin mengambil burger terakhir dan melemparnya pada Mingyu tepat sebelum seorang namja berlari dan berhenti di samping meja mereka.
"Sudah habis," ucap Seokmin seraya menunjukkan senyum lebarnya.
"Burgerkuuuu! Ahhhh! Aku melihatnya dengan jelas kalau kau melihatku berlari ke sini dank au langsung mengambil burger itu! Lee Seokminnn!" Namja itu berteriak heboh seraya menunjukkan tawa menyedihkannya.
Seluruh namja yang duduk di meja itu tertawa melihat reaksi namja berambut merah itu, kecuali Mingyu yang tidak megerti apa-apa.
"Kau telat, Boo Seungkwan," komentar Jun.
"Itu gara-gara Jeonghan hyung yang menyeretku ke kamar mandi hanya untuk berkaca! Lihatlah dia! Sudah membuat burgerku melayang, masih berjalan dengan rambut berterbangan seperti itu." Seungkwan berdecih kesal.
Beberapa detik kemudian, seorang namja berambut setengkuk datang menghampiri Seungkwan dan merangkul leher namja berambut merah itu.
"Wow! Ada namja tampan. Kau siapa? Namaku Yoon Jeonghan." Jeonghan menaruh tangannya di perutnya lalu membungkuk. Setelah ia berdiri tegak, ia tersenyum manis pada Mingyu.
"Ah, namaku Kim Mingyu."
Mata Minghao sontak menoleh pada namja yang duduk di samping Seokmin.
"Hah? Ada orang ternyata. Aku Xu Minghao." Minghao tersenyum manis.
Mingyu ikut tersenyum. "Kim Mingyu." Ahh, Mingyu ingat, namja kurus bernama China itu adalah namja yang lumayan kuat saat berkelahi dengan sekolah lain beberapa hari yang lalu. Tidak, sepertinya Seokmin dan Hoshi juga kuat. Mereka menjatuhkan cukup banyak orang juga. Apa semua orang yang tengah berkumpul di sini adalah orang-orang kuat?
Setelah jam istirahat selesai, waktu berbincang mereka terhenti dan dengan segera berpisah dan beranjak ke kelas masing-masing.
Mingyu pergi ke toilet sebelum ia kembali ke kelas. Saat ia masuk ke kelas, ia mengernyit saat di sana hanya ada Jun dan Seungcheol saja.
"Di mana Wonwoo hyung dan Soonyoung hyung?" tanya Mingyu. Seungcheol dan Jun menoleh. Seungcheol tersenyum tipis.
"Entahlah. Mereka sedang ada urusan."
Mingyu mengernyit tipis. Ia dengan segera berdiri dan hendak beranjak, namun ditahan oleh pertanyaan Seungcheol.
"Kau mau ke mana? Sebentar lagi guru akan datang."
"Ah, jam tanganku tertinggal di toilet, hyung," jawab Mingyu yang kemudian beranjak keluar dari kelas. Seungcheol hanya mengangguk kaku. Sedetik kemudian ia menoleh pada Jun.
"Memangnya tadi dia ada pakai jam tangan?" tanyanya. Jun hanya memajukan bibir bawahnya seraya menaikkan kedua bahunya.
Saat melewati koridor paling ujung, mata Mingyu tidak sengaja melihat Wonwoo dan Soonyoung berjalan melewati halaman samping menuju ke halaman belakang. Kalau ia tidak salah lihat, sepertinya Wonwoo tengah menyeret sebuah tongkat besi di tangannya.
"Halaman belakang? Untuk apa?" gumam Mingyu seraya menempelkan pipi kirinya ke kaca jendela, agar dapat melihat Wonwoo yang berjalan semakin jauh. Ia berdecih saat ia tidak bisa lagi melihat Wonwoo. Ia dengan segera naik ke lantai atas, ke atap sekolah.
"Hah! Hah! Hah!" Mingyu mengatur napasnya saat ia telah sampai di atap sekolah. Ia dengan segera menghampiri pembatas dan melihat ke bawah. Ia mengernyit sejenak sebelum akhirnya ia memasang wajah terkejut.
Saat ini ia tengah melihat perkelahian antar dua orang melawan 15 orang. Dan kenapa siswa lain bisa masuk ke area sekolah ini? Mingyu menoleh ke samping. Ah benar saja, halaman belakang sekolah mereka hanya dibatasi pagar yang tidak terlalu tinggi, sehingga orang luar bisa memanjat dan masuk.
Bukan, bukan itu yang sebenarnya membuat Mingyu merasa terkejut. Ia dapat melihat Soonyoung sibuk melawan lima orang, dan sisanya, 10 orang melawan Wonwoo yang sendirian dengan tongkat besinya.
"Kenapa tiba-tiba ada perkelahian?" gumam Mingyu bingung. Namun ia tercengang saat beberapa menit kemudian, Wonwoo dan Soonyoung telah selesai dengan pekerjaan mereka, seluruh siswa itu jatuh da nada beberapa yang kabur.
Mingyu semakin mengernyit melihat Wonwoo yang masih dapat berdiri tegak dengan wajah dinginnya. Bukankah ia baru sembuh semalam? Itupun belum pulih seutuhnya, kenapa ia bisa melawan 10 orang? Bukankah semalam ia jelas-jelas melihat Wonwoo tidak sanggup melawan 10 orang sekaligus? Ada apa dengan namja dingin itu yang sekarang bahkan tampak masih berdiri dengan tegap. Apa karena tongkat besi yang ada di tangannya?
Wonwoo menatap beberapa siswa asing yang tergeletak di bawah sana dengan tatapan dingin.
"Sampah," gumamnya datar. Sedetik kemudian, ia melihat ke arah depan lalu dengan perlahan mendongak ke atas. Ia mengernyit. Sepertinya ia merasa ada yang memperhatikannya dari atas, tapi kenapa di atas tidak ada siapa-siapa? Apa hanya perasaannya saja?
"Ayo, Soonyoung."
.
.
Mingyu dengan segera masuk ke dalam ruang UKS dan terduduk di salah satu ranjang di sana. Ia terdiam. Merenungi sikap Wonwoo yang sebenarnya aneh. Namja itu terkadang terlihat lemah, terkadang sangat kuat.
'Siapa dia sebenarnya?' Mingyu melirik ke seluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada perawat juga. Ia dengan segera berjalan ke meja perawat dan meraih telepon yang ada di atas meja. Ia dengan segera menelepon seseorang.
"Halo, aku Mingyu. Ini aneh. Dia, Wonwoo, seharusnya tubuhnya masih sakit, tapi hari ini dia melawan 10 orang sekaligus. Apa kau tidak merasa aneh? Iya, iya. Aku tahu, aku akan terus mengawasinya. Jika ini semakin aneh, aku tidak akan mengawasinya lagi dan akan melemparkannya padamu untuk kau urus." Mingyu memutuskan panggilan mereka kemudian menghela napasnya. Ia memijit keningnya lalu membaringkan tubuhnya. Bolos pelajaran di hari pertama ia bersekolah.
.
.
.
.
.
.
.
Selama seharian ini Mingyu berusaha bersikap biasa pada Wonwoo. Dan terkadang Wonwoo akan memejamkan matanya sejenak saat tidak sengaja menyenggol sesuatu. Mingyu sebenarnya merasa bingung, apakah itu hanya acting atau benar-benar sakit? Tapi melihat luka yang sebenarnya masih belum sembuh itu, Mingyu yakin itu bukan acting.
Saat hari sudah larut malam, Mingyu dan Wonwoo pun beranjak tidur. Mingyu tertidur dengan nyenyak. Namun beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba terbangun karena ada gerakan dan suara di kamarnya. Tidak biasanya ia terbangun di tengah malam begini.
Saat medengar suara pintu tertutup dan langkah kaki di luar kamar, Mingyu menoleh ke arah pintu kamar dan mengernyit saat menyadari Wonwoo tidak ada di sampingnya. Ia dengan segera mendudukkan dirinya saat mendengar suara pintu apartemen dibuka dan tertutup kembali lalu terdengar suara pintu terkunci otomatis.
"Apa dia keluar?" gumam Mingyu. Ia dengan segera beranjak dari kamar dan benar saja, sepatu Wonwoo tidak ada di sana lagi.
'Dia mau ke mana selarut ini?' Mingyu melirik jam yang menunjukkan jam 11.15 malam. Ia dengan segera keluar apartemen dan mengikuti Wonwoo dari belakang.
Ia mengikuti Wonwoo dengan langkah yang sangat pelan, karena jalanan sudah sepi, jika ia membuat kesalahan, Wonwoo pasti akan mengetahui keberadaannya. Ia baru menyadari kalau Wonwoo tengah membawa tongkat kayu di tangannya.
Semakin ia berjalan mengikuti Wonwoo, mereka semakin jauh dari pusat kota. Sepertinya mereka berjalan ke arah pinggir kota, dan Mingyu sudah mulai lelah berjalan terus. Semakin, wilayah di sekitar mereka pun semakin sepi dan tidak ada perumahan. Yang ada hanya tanah gersang ataupun lapangan kosong.
Mingyu terkejut dan dengan segera bersembunyi di balik pohon saat Wonwoo juga dengan tiba-tiba bersembunyi. Mingyu membatu saat melihat apa yang tengah dipantau oleh Wonwoo.
Mobil yang tidak asing itu… Orang-orang yang berjalan mondar-mandir dengan pakaian yang tidak asing juga baginya itu… Ini adalah tempat berkumpul manusia robot dan orang-orang yang mereka culik!
Mingyu tertegun. Kenapa Wonwoo bisa tahu keberadaan mereka? Dan untuk apa Wonwoo datang ke tempat ini?
.
.
~TBC~
.
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat readers dan reviewers author tercinta, terima kasih karena sudah mau membaca fanfic yang sebenarnya kurang sempurna ini. Terima kasih banyak *bow* :D
Svtlovers, Twelves, btobae, Itsmevv, Jeon220, KimAnita, youngchanl, Beanienim , wonuumingyu, aprilbunny9 , auliaMRQ, alwaysmeanie, NichanJung, ww, Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang, DaeMinJae , diciassette, equuleusblack , nunanu961 , Mbee, itsathenazi, Wonu nikah yuk, meaniefreak , hamipark76 , kimxjeon, Rie Cloudsomnia, kookies, DfheeHyper, vrnsafitri , kimjunheekji, karyoono , Arlequeen Kim , egatoti, Khasabat04, Siska Yairawati Putri , ymrdhatillxxxx , Liony Liem, seira minkyu, BumBumJin , monwii jeonwii, tutihandayani , babymoonlight, 17MissCarat , Vioolyt, cheon Yi, NuWoNu, Zahara Jo , taenggoo , Ara94, Karuhi Hatsune, tfiiyy , hnjasmine , hunhankid, Lio'gyu, svtvisual, zeloxter ,
Makasih buat review kalian yang sangat mendukung, review kalian selalu menjadi kekuatan author buat perkembangan ff ini. *bow*
Jangan ada silent readers yah readers tercintah~ *tebar kolor babeh Kups* XD
Okedeh, akhir kata dari author untuk chap ini,
Review, please~? ^^
Gomawo *bow* m(_ _)m
