Monster
Summary:: Wonwoo yang seorang berandal sekolah menyelamatkan Mingyu yang diculik. Setelahnya, Mingyu terus mengikuti Wonwoo hingga akhirnya Wonwoo mengizinkannya untuk tinggal bersamanya. Tanpa sadar, Mingyu masuk ke kehidupan berandal dan kelam Wonwoo. "Mereka menganggapku monster, jadi, menjauhlah dariku."/"Kalau begitu, jadikan aku monster juga."
Couple:: Mingyu x Wonwoo
Rate:: T
Genre:: Drama, Romance
.
.
Hiwatari's Present
Enjoy~
.
.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Mingyu terkejut dan dengan segera bersembunyi di balik pohon saat Wonwoo juga dengan tiba-tiba bersembunyi. Mingyu membatu saat melihat apa yang tengah dipantau oleh Wonwoo.
Mobil yang tidak asing itu… Orang-orang yang berjalan mondar-mandir dengan pakaian yang tidak asing juga baginya itu… Ini adalah tempat berkumpul manusia robot dan orang-orang yang mereka culik!
Mingyu tertegun. Kenapa Wonwoo bisa tahu keberadaan mereka? Dan untuk apa Wonwoo datang ke tempat ini?
"Apa yang dia lakukan di tempat seperti ini? Apa dia ingin menolong seseorang lagi?" gumam Mingyu. Ia melirik ke arah belakangnya, takut-takut ada manusia robot di belakangnya. Di depan sana, ia dapat melihat hanya ada 1 mobil van. Mungkin itu ada mobil van terakhir. Kejadian ini sama seperti situasinya dulu. Saat Wonwoo menolongnya yang berada di mobil van terakhir tepat sebelum ia diberangkatkan ke markas selanjutnya.
Wonwoo memicingkan matanya tajam memperhatikan setiap gerak-gerik penjaga itu. Ia memakai masker hitam untuk menutupi wajahnya.
Mingyu mengernyit bingung saat melihat Wonwoo memukul seorang penjaga yang kebetulan lewat di dekatnya. Ia lalu melepaskan pelindung kepala robot itu, sedetik kemudian ia langsung memukul kepala manusia yang dikendalikan oleh chip itu. Ia dengan segera mengambil senapan yang ada di tangan robot itu dan menembakkannya di kepala robot itu. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya berdiri.
Suara keras dari senapan itu sontak menarik perhatian tiga penjaga lainnya. Wonwoo dengan gerakan cepat menembak tubuh mereka dan menendang salah satu yang berada di dekatnya. Lagi-lagi ia membuka pelindung kepala penjaga itu. Ia berdecak sejenak sebelum akhirnya kembali menembak kepala penjaga itu lalu beralih ke dua penjaga yang lain. Begitu seterusnya ia memperlakukan kedua penjaga itu.
Mingyu terdiam memperhatikan Wonwoo. Ternyata begitu caranya bagaimana Wonwoo dapat menyelematkannya dulu. Tapi semudah itukah? Ah, ia baru teringat, Wonwoo sudah mencari info tentang cara mengalahkan manusia robot itu. Jelas saja Wonwoo tahu titik lemah mereka.
Mingyu semakin mengernyit bingung saat melihat Wonwoo memperhatikan wajah mereka satu-persatu. Apakah penting untuk melihat wajah mereka sebelum mematikan chip mereka?
Wonwoo menghela napas lega. Namja itu hanya meratapi van terakhir yang telah berhenti. Wonwoo dengan segera berlari mendekati van itu dan dengan segera menembak manusia robot yang baru saja turun dari mobil itu tepat di pelindung kepalanya sebanyak 3 kali hingga pelindung kepala itu pecah, memperlihatkan wajah putih pucat dan kaku yang masih belum mati itu.
Wonwoo kembali berdecak setelah melihat wajah itu. Ia lalu menembak kepala robot itu tanpa berpikir lama lagi.
DOR!
Wonwoo meringis saat ia tidak menyadari bahwa manusia robot yang satunya lagi mengarahkan tembakan ke arahnya dan mengenai lengan kanannya. Ia terlalu sibuk mengurus robot yang tadi. Ia dengan kesal menembak tubuh robot itu lalu berlari mendekatinya. Kembali menembak leher robot itu sebelum akhirnya ia menjatuhkan robot itu dan menginjak tubuhnya. Ia membuka paksa pelindung kepala robot itu.
Ia hanya dapat melihat wajah pucat dengan tatapan kosong dan kaku dari makhluk di bawahnya itu. Wonwoo juga memberikan tatapan kosong pada manusia robot itu sebelum akhirnya ia mengarahkan senapan itu ke kepala manusia robot itu dan dengan segera menembaknya sebelum robot itu memberontak.
Ia menghela napasnya. Berdecih kesal sebelum akhirnya mendekati pintu mobil van dan membukanya. Semua manusia yang ada di dalam sana terkejut melihat Wonwoo. Tak lama, mereka semua berlomba-lomba untuk turun dari van dan berlari kabur dari tempat mengerikan itu, meninggalkan Wonwoo sendirian yang masih berdiri memegang pintu van itu dengan tatapan kosong.
Wonwoo menghela napasnya seraya mengusap rambutnya yang basah. Mendengus sejenak sebelum akhirnya ia berbalik seraya mencengkram lengannya yang mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Mingyu hendak menghampiri Wonwoo yang kelihatan terhuyung-huyung. Namun ia urungkan niatnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia tidak sanggup melihat kondisi Wonwoo yang terlihat mengenaskan itu, tapi ia juga tidak bisa gegabah seperti itu. Ia kemudian lebih memilih untuk berbalik. Ia harus segera pulang ke apartemen sebelum Wonwoo sampai duluan.
Ia menoleh sejenak ke arah Wonwoo yang berjalan dengan lambat sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan Wonwoo.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wonwoo meringis seraya menopang tubuhnya pada dinding koridor apartemennya. Ia benar-benar merasa pusing. Ia dengan segera masuk ke dalam apartemennya dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara berisik yang dapat membangunkan Mingyu.
Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan meringis sakit. Ia dengan segera menaikkan lengan kaosnya dan mendesis melihat lukanya. Ia mengambil alat dan obat-obatan yang ada di bawah mejanya. Meraih pinset lalu menarik keluar peluru yang untungnya tidak terlalu dalam itu.
Wonwoo mengerang sakit dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia lalu menuang asal alcohol pada sebuah handuk kecil lalu menempelkannya pada lukanya. Ia tidak tahu bagaimana cara mengobati luka ini. Yang penting hanyalah menghentikan pendarahannya.
Cklekk!
"Wonwoo hyung!"
Mata Wonwoo beralih pada Mingyu yang keluar dari kamarnya. Mingyu tampak terkejut lalu dengan segera berlari mendekati Wonwoo.
"Kau kenapa? Kenapa membiarkan luka ini begini saja?" Mingyu benar-benar panik. Ia tidak sedang berakting atau apapun. Sejak pulang tadi, ia tidak bisa membaringkan tubuhnya. Pikirannya terus mengarah pada Wonwoo. Apakah Wonwoo akan sampai dengan selamat? Apakah Wonwoo sanggup menahan rasa sakitnya? Bagaimana keadaan Wonwoo?
Mingyu menjauhkan handuk kecil itu dari luka Wonwoo. Wonwoo mengerang kesakitan. Mingyu terdiam. Ia dapat melihat luka lebam yang masih terlihat jelas di lengan namja itu. Berarti lukanya yang semalam belumlah sembuh. Lalu apakah selama ini Wonwoo hanya pura-pura kuat dan menahan semua rasa sakitnya?
Wonwoo menatap Mingyu dengan matanya yang menyipit menahan sakit.
"Apa yang kau lakukan?" Wonwoo merebut handuk itu dari tangan Mingyu lalu kembali menempelkannya pada lukanya yang maish mengeluarkan darah.
"Bagaimana bisa kau menggunakan handuk untuk menutup lukamu?" Migyu merebut handuk itu. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini untuk pertama kalinya baginya untuk mengobati orang yang terkena peluru.
Ia dengan segera mengambil perban dan menekan luka itu. Ia menekan permukaan luka itu cukup lama. Ia dapat melihat wajah Wonwoo yang pucat dan lemah.
Setelah merasa pendarahannya mereda, Mingyu membuang perban itu lalu mengganti perban baru yang telah diberi antiseptik dan membalutnya ke lengan Wonwoo. Mata sipit Wonwoo memperhatikan gerak-gerik Mingyu.
Mingyu berlari ke dapur dan kembali dengan segelas air minum hangat dan memberikannya pada Wonwoo untuk diminum. Ia kemudian mengelap keringat yang ada di kening Wonwoo lalu mengusap rambut basah Wonwoo yang menutupi wajah tampan namja yang terluka itu.
Wonwoo mendengus pelan sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya pada sofa dan menutup matanya dengan lengan kirinya. Wonwoo terdiam. Mingyu juga terdiam. Untuk sejenak, ruangan itu senyap.
"Ayo ke rumah sa-" Mingyu terdiam saat melihat setetes air mata mengalir dari sudut mata Wonwoo yang tengah ia tutup dengan lengan kirinya itu.
"Aku lelah," gumam Wonwoo.
Mingyu tertegun.
"Aku lelah. Sampai kapan aku harus melakukan ini semua?" Setetes air mata kembali turun dari sudut mata itu.
"Aku sudah hampir menyerah saat itu. Tapi kau datang dan menemaniku di sini. Sejak itu kupikir, sepertinya bukan saatnya untukku menyerah. Kenapa kau ingin melindungiku? Aku jadi semakin lemah. Aku jadi selalu bergantung padamu. Aku merasa semakin lelah."
Mingyu tidak mengerti dengan perkataan Wonwoo. Apakah keberadaannya di sini hanya beban bagi Wonwoo?
"Tapi jika kau tidak ada di sini, mungkin saja sekarang aku sudah mati. Atau mungkin beberapa hari yang lalu aku sudah kehilangan nyawaku," lanjut Wonwoo.
Wonwoo kembali diam sejenak sebelum akhirnya ia bergumam pelan.
"Jangan tinggalkan aku."
Mingyu kembali tertegun. Rasanya ia ingin sekali memukul dirinya sendiri. Ia bodoh. Ia orang terbodoh yang ada di dunia ini. Wonwoo sangat mempercayainya. Wonwoo sangat bergantung padanya. Tapi ia sendiri? Ia malah memanfaatkan Wonwoo. Ia malah meninggalkan Wonwoo begitu saja saat ia terluka demi melindungi identitasnya sendiri.
"Ayo kita ke rumah sakit," ucap Mingyu. Wonwoo menggelengkan kepalanya. Mingyu menghela napasnya.
"Bukankah kau ingin aku terus bersamamu? Jika kau tidak ke rumah sakit, kau bisa semakin parah dan aku bisa kehilangan dirimu. Aku tidak ingin itu terjadi."
Wonwoo membuka matanya dan menoleh sedikit pada Mingyu. Mingyu tersenyum tipis sebelum akhirnya ia berdiri lalu berjongkok di depan Wonwoo.
"Cepat naik," ucap Mingyu.
Wonwoo terdiam sejenak sebelum akhirnya ia dengan perlahan naik ke punggung Mingyu dan memeluk leher namja tinggi itu.
Mingyu berdiri lalu berjalan perlahan ke arah pintu. Mereka beranjak dari apartemen menuju rumah sakit dengan jalan kaki.
Mingyu berjalan terus tanpa mengganggu Wonwoo yang menelungkupkan kepalanya di ceruk lehernya.
Wonwoo tidak terlelap. Matanya terbuka sayu. Ia dapat merasakan sakit di lengannya, tapi di sisi lain ia tengah memikirkan Mingyu. Entah sejak kapan Mingyu ada di pikirannya. Yang ia sadar adalah Mingyu ada untuknya saat ini. Apakah Mingyu melakukan itu ikhlas atau hanya formalitas rasa terima kasihnya pada Wonwoo saja, Wonwoo tidak peduli.
Ia benar-benar merasa lelah. Ia sudah berencana mengakhiri hidupnya sebelum Mingyu hadir di kehidupannya. Mingyulah yang menghentikan rencana bodohnya itu.
Ia tidak tahu Mingyu itu siapa. Ia tidak tahu apa tujuan Mingyu. Ia juga tidak ingin mengetahuinya. Ia hanya merasa nyaman saat ada orang yang melindunginya, meskipun ia tahu, Mingyu tidak mungkin ada untuknya selamanya.
Wonwoo sadar. Ini seperti mimpi. Tidak, ini memang mimpi. Setelah keinginannya terpenuhi, setelah ia puas menikmati semua yang diberikan Mingyu untuknya, ia harus terbangun. Ia harus bangun dan sadar. Mingyu hanya sementara di kehidupannya.
Selama tidak ada yang bertahan selamanya di dunia ini, ia hanya ingin diam dan menikmatinya selama ia bisa.
"Mingyu… terima kasih."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wonwoo membuka matanya. Cahaya matahari mengusik penglihatannya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Beberapa saat ia memutar otaknya hingga akhirnya ia sadar bahwa kini ia tengah berada di rumah sakit. Ia tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Ia mengamati sekelilingnya. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.
'Apa aku benar-benar bermimpi selama ini?' Ia kembali memejamkan matanya.
Ia benci rumah sakit. Ia bersumpah tidak ingin kembali ke rumah sakit lagi, karena setiap ia membuka matanya di rumah sakit, selalu tidak ada orang yang menemaninya di sampingnya. Ia selalu sendirian. Seperti pertama kali ia berada di rumah sakit. Saat ia membuka matanya untuk pertama kalinya di rumah sakit, ia sadar, ia telah kehilangan semuanya yang tidak akan pernah kembali lagi padanya.
Dan sepertinya, kali inipun seperti itu.
Wonwoo kembali membuka matanya. Ia menghela napasnya sejenak sebelum akhirnya ia mendudukkan dirinya. Merasa pusing sejenak sebelum akhirnya ia kembali memperhatikan kamarnya yang sepi itu. Tangan kirinya meraih gelas yang ada di meja di sampingnya dan meminumnya sebelum akhirnya ia kembali meletakkannya di atas meja.
Ia duduk terdiam sejenak, beberapa detik kemudian ia memutuskan untuk beranjak. Ia hendak menyingkirkan selimutnya saat pintu kamarnya terbuka. Ia terdiam melihat Mingyu masuk ke dalam ruangannya dengan senyum tipis di wajah tampan itu.
"Kau sudah bangun?" tanya Mingyu berjalan mendekati Wonwoo.
Wonwoo masih terdiam sejenak.
"Ada apa?" tanya Mingyu.
"Kau masih di sini?" tanya Wonwoo.
Mingyu mengernyit lalu tertawa kecil. "Bukankah kau yang menyuruhku untuk tidak meninggalkanmu?"
Wonwoo mengedipkan matanya pelan sebelum akhirnya ia menoleh ke arah lain saat ia merasakan panas pada matanya. Ia tidak biasanya cengeng seperti ini. Ia sangat sulit menangis selama ini. Bahkan tidak pernah menangis sepertinya.
Tapi sejak ada Mingyu, entah kenapa ia sangat mudah merasakan panas pada matanya. Ia merasa bebannya selama ini keluar bersamaan dengan air matanya. Perasaan dan masa lalu kelam yang ia kubur dalam-dalam selama ini sedikit demi sedikit terkikis dengan adanya keberadaan Mingyu. Selama ini tidak ada orang yang menemaninya seperti Mingyu.
"Kau kenapa?" tanya Mingyu. Wonwoo menggelengkan kepalanya.
"Apa kau lapar? Aku akan membawakan makanan untukmu. Tunggu sebentar," ucap Mingyu.
Wonwoo menahan tangan Mingyu. Mingyu berhenti dan menoleh pada Wonwoo.
"Aku ingin pulang saja. Kita makan di rumah saja," gumam Wonwoo. Mingyu tersenyum tipis sebelum akhirnya ia mengangguk dan meraih tangan Wonwoo yang semula menahan tangannya untuk menggeggam tangan yang penuh luka itu.
"Ayo, aku akan membuatkanmu makanan enak."
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa Mingyu belum memberi kabar?" gumam seorang pria paruh baya menatap serius ke depan. Rekan kerjanya yang duduk di sampingnya hanya diam memperhatikan atasannya itu.
"Si bodoh itu! Sepertinya dia menikmati waktu bebasnya di sana. Ck! Seharusnya aku tidak mempercayakan kasus ini padanya."
"Sabar, sunbaenim. Aku percaya dia tidak sebodoh itu. Eh, maksudku, dia tidak akan menelantarkan tugasnya," pria yang menjabat sebagai bawahan itu menggaruk belakang kepalanya. Atasannya sedang tidak mood pagi ini karena Mingyu tidak memberi kabar sejak semalam. Hanya 1 hari saja tidak diberi kabar, akan membuat atasannya itu memaki-maki namja bernama Mingyu itu.
"Lihat saja, pulang nanti akan kucincang dia. Jangan harap ada bonus untuknya jika dia mengulur kasus ini terlalu lama. Ini sudah berapa hari? Hampir dua minggu dan belum ada perkembangan," repet pemimpin dari kantor yang besar ini.
Bawahannya hanya menghela napas seraya beranjak dari kursinya. Ia lapar. Ia belum sarapan. Sejak tadi ia hanya menelan omelan dari atasannya. Ia lebih memilih untuk pergi membeli sarapan.
Sedangkan pria paruh baya yang duduk di kursi pemimpin itu meraih berkas yang ada di meja kerjanya. Ia membaca deretan tulisan yang ada di kertas itu.
"Jeon Wonwoo… Nama namja ini pernah ada di kasus penculikan beberapa tahun yang lalu," gumamnya seraya melipat telapak tangannya dan menopang dagunya.
"Di antara 3 orang di keluarganya, hanya dia yang berhasil selamat. Ibu dan kakaknya berhasil diculik dan dikirim ke pusat perbudakan. Sejak itu, ia hidup sendirian. Ayahnya entah ke mana. Hmm…" Pria itu memperhatikan layar komputernya.
'Lalu bagaimana keadaan ibu dan kakaknya sekarang?' Ia mengernyit. Pada tahun di mana penculikan keluarga Wonwoo terjadi, tidak ada berita yang mengabarkan apa yang terjadi pada orang-orang yang diculik itu karena pada saat itu pemerintah berusaha menutupi kasus yang baru terjadi itu.
Info tentang Wonwoo itu tidak didapat dari Mingyu, melainkan memang pria itu yang melacaknya dari berita penculikan beberapa tahun yang lalu. Info dari Mingyu hanya untuk mengetahui gerak-gerik Wonwoo saat ini.
Kenapa ia mencurigai Wonwoo? Karena kasus penculikan keluarga Wonwoo adalah gerakan pertama dari penculikan itu. Dan Wonwoolah satu-satunya anak yang berhasil kabur dari markas itu. Maka dari itu, Wonwoo patut dicurigai. Bagaimana anak sekecil itu bisa kabur dengan sendirinya dengan penjagaan ketat seperti itu? Dan apakah anak itu telah terinfeksi sesuatu sebelum ia berhasil kabur? Apakah anak itu memang sengaja dilepas keluar untuk dijadikan mata-mata atau umpan dalam penculikan selanjutnya?
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursinya. Ia menghela napasnya.
"Kim Mingyu bodoh. Jangan sampai anak itu tersangkut di tempat itu."
.
~TBC~
.
Hmmmm….. Author updatenya lama yah? Maaf ya, author bener-bener sibuk. Dan ini pendek ya? Maaf lagi, ya, author bener-bener lagi gak punya ide #bow #plakkk
Hahahaha, itu, part dimana Wonwoo galau-galauan bareng Mingyu. Itu sebenarnya terinspirasi dari salah satu adegan di Uncontrolled Love 2. Di sini ada yang nonton itu gak? Undah 3 minggu berlalu, tapi author masih ngegalauin film itu T.T dan tadi pas author nonton ulang, adegan di mana si uke harmonis-harmonisan sama si seme itu buat author terinspirasi dan author juga ada ambil beberapa prolog yang diucapin sama si uke. Miris. Hati author gak kuattt~ #meleleh #plakkk
Biar greget baca part itu, coba deh denger ostnya yang judulnya Dream yang dinyanyiin sama si uke (Wang Bo Wen) :D
Yang gak tau filmnya, dan belum nonton, segera nonton deh~ Recommended banget~ Paling best! Gak bakal nyesel~ Meskipun author nyesel setelah nonton season 2 nya hahaha :'D #plakkk
Hati author lemahhh…
Okelah, cukup cuap-cuapnya hahahahaha. Saatnya say thanks buat readers tercintah~
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat readers dan reviewers author tercinta, terima kasih karena sudah mau membaca fanfic yang sebenarnya kurang sempurna ini. Terima kasih banyak *bow* :D
Blxckorz, itsmevv, Mirror, DevilPrince, 17MissCarat , Gyurievil, fvcksoo, wonuumingyu, wwwwww, tfiiyy, Sanny590, sempol, equuleusblack , meanie17, seira minkyu, aprilbunny9, Vioolyt,shaxobyarm, youngchanl, svtvisual, kimjunheekji, Wonu bukan pengemis cintaaa, Arlequeen Kim , mPark Rinhyun-Uchiha, Miss Arachin, Gstiff, egatoti, Zahara Jo, Karuhi Hatsune, Twelves, hamipark76, Guest, BumBumJin, Khasabat04, Beanienim, Wonu nikah yuk, auliaMRQ, Ndahh25, justcallmeBii, NichanJung, meaniem, kookies, Liony Liem, Mrs. EvilGameGyu, Cheon Yi, alwaysmeanie, Ara94, tutihandayani, Rie Cloudsomnia, jeonghaneko, SkyBlueAndWhite, svtlovers, CAT-aoow Jeon, Bungkustapayochi17, itsathenazi, Guest, Guest
Makasih buat review kalian yang sangat mendukung, review kalian selalu menjadi kekuatan author buat perkembangan ff ini. *bow*
Jangan ada silent readers yah readers tercintah~ *tebar kecup basah Uji* XD
Okedeh, akhir kata dari author untuk chap ini,
Review, please~? ^^
Gomawo *bow* m(_ _)m
