Setelah Taehyung menenangkan dirinya setelah menangis di Kamar mandi selama setengah jam, Taehyung kembali ke kelasnya. Dengan langkah gontai berjalan menuju kelasnya yang berada jauh dari lokasinya sekarang ini.

"TAE!"
Jimin melihat siluet Taehyung yang lemas dan menghampiri temannya itu.

"Astagaa, sudah dua minggu kau tidak datang- lihat! Ada apa dengan wajahmu? Terjadi sesuatu?"

Jimin khawatir melihat Taehyung, Pemuda idamannya yang ia incar selama sekolah menengah pertama itu terlihat seperti mayat yang baru saja dibangkitkan dari kuburnya. Sangat lemah, butuh pegangan.

Jimin segara mengambil alih tas sekolah Taehyung dan merangkul pundak kecil Taehyung kedalam dekapannya dan membawanya menuju kelas dan menempatkan temannya tepat disamping bangkunya.

"Aku pikir kau perlu cerita, Tae."

Jimin benar benar tidak tahan melihat Taehyung seperti ini. Jimin mengusap lembut kepala Taehyung dan mengelus pipinya dengan lembut seakan sentuhannya takut melukai Taehyung. selama mereka berteman, Tidak pernah sekalipun Taehyung terlihat seperti ini kecuali karena-

"Yoongi h-hyung..."

Yoongi hyung. Min Yoongi.

Senior yang baik -namun brengsek- yang sempat ia kira mencintai temannya sepenuh hati, bahkan melebihi rasa cinta Jimin pada Taehyung. Namun, sebulan kemarin, Jimin mendengar kabar burubg bahwa Yoongi berhasil mendapatkan Jungkook. Jika saja Jimin tidak memikirkan Taehyung, mungkin Jimin sudah meninju wajah tampan dan dingin milik Yoongi dan meneriaki wajahnya dengan sumpah serapah kotor untuknya.

Jimin memeluk Taehyung yang mulai menitikan air matanya lagi. Taehyung tidak menolak dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Jimin dan menangis. Taehyung tak bisa menyembunyikannya lagi. Ia butuh seseorang untuk tempatnya bersandar.

Jimin mengelus punggung Taehyung yang bergetar dan mengelus sirai lembut Taehyung untuk menenangkannya. Dan menjelaskan pada Taehyung bahwa ia disini, selalu, untuk Taehyung.

Berhenti memikirkannya, Tae.
Lihat aku!
Aku disini..