"Sakura Haruno,"

Sakura mendongak mendengar namanya disebut. Melihat ke sumber suara sebelum akhirnya mengedarkan pandangan dan menyadari, semua mata tengah tertuju padanya.

"Bisa ikut sebentar?"

Sakura masih diam di tempat, belum sepenuhnya menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

"Hm, Sakura, kau boleh meninggalkan kelas bersama Iruka-san."

suara Kakashi-sensei disertai deheman pelan membangunkannya.

"Ba-baik Sensei."

Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu tempat laki-laki itu menunggunya. Sakura masih bertanya-tanya, kesalahan apa gerangan yang dilakukannya hingga ia harus dijemput pria berseragam hitam sepertinya.

"I-iruka san," ucapnya saat mereka melewati lantai lima, tempat area administrasi kampus berada, "Kalau boleh tahu kita mau kemana."

Iruka tersenyum sekilas sambil menoleh pada Sakura. "Bertemu rektor tentu saja."

"Tapi ruang rektor ada di lantai lima."

"Beliau sedang bersama tuan muda sekarang."

"Tu-tuan muda?"

Iruka hanya mengangguk, langkahnya dibuat sedikit melambat agar tak terlalu jauh berjarak dengan Sakura. "Kau pasti akan terkejut."

Sakura tiba-tiba gugup mendengar ucapan Iruka "Ma-maksudnya?"

"Kita sampai."

Sakura mengedarkan pandangan. Tidak ada satu orangpun terlihat berjalan di lantai itu. Sial. karena sibuk bertanya ia jadi lupa memperhatikan ada di lantai berapa mereka sekarang. Ia kini bahkan menyesal tak memperhatikan Iruka saat memencet tombol pada ruang lift. Atau jangan-jangan, Iruka sengaja memencetnya saat ia lengah?

"Silakan masuk, Nona Haruno."

"Sakura," koreksinya sambil tersenyum, "Terimakasih."

"Sama-sama."


"Sasuke?"

"Sakura,"

Sakura menoleh ke sumber suara saat keterkejutannya atas Sasuke belum berakhir.

"Tsunade-sama?"

Sakura masih mematung di belakang pintu. Bingung dengan apa yang dilihatnya.

"Ada apa ini?" tanyanya dengan alis tertaut. Pandangannya bergantian menuju Sasuke dan Tsunade yang duduk di sofa dekat rak buku.

"Masuklah, ada yang ingin kubicarakan."

Tsunade melambaikan tangannya mendapati Sakura tidak juga beranjak dari tempatnya. Pandangannya kembali tertuju pada Sasuke yang masih tenang di kursi kebesarannya. Sesuatu yang membuat Sakura siap meradang. Ruangan ini lebih cocok untuk bos perusahaan real estate daripada markas seorang mahasiswa. Apalagi jika dibandingkan dengan fasilitas yang digunakannya sebagai mahasiswa reguler. Bukan berarti fasilitas yang ia gunakan tidak bagus, hanya saja, kalau dibandingkan ruangan ini, rasanya kalah jauh. Sakura bahkan bisa melihat meja bar dengan koleksi wine di bagian selatan dinding. Benar-benar tidak bisa di percaya.

"Itu Uchiha Sasuke," Tsunade menunjuk Sasuke dengan dagunya, "Kurasa kau sudah mengenalnya," Ucapnya lagi dengan pandangan tak tertebak. "Mulai sekarang kau akan menjadi mentornya. Semester lalu dia mendapatkan banyak nilai error, semester depan, tugasmu membuatnya lebih baik."

"A-apa?"

"Nah, sepertinya tugasku sudah selesai," Tsunade bangkit dari duduk sambil menepuk bahu Sakura pelan, "Berikan yang terbaik ya, Sakura. Kampus ini ada di tanganmu."

"Tu-tunggu," ucap Sakura nyaris berteriak, frustasi dengan situasi yang tidak juga bisa masuk jalur normal dalam kepalanya, "Mata kuliah apa? Aku tidak pernah melihat Sasuke masuk ke kelasku."

"Sasuke?" Tsunade menyebut nama Sasuke pelan, meminta laki-laki itu menjawab pertanyaan Sakura.

"Matematika ekonomi."

"Hah?"

"Akuntansi."

"Apa?"

"Perpajakan."

"Tidak termasuk cara menggelapkan pajak Sakura, kau tidak perlu khawatir," ucap Tsunade menanggapi kekagetan Sakura. "Sudah, aku sibuk. Sampai bertemu lagi, kalian."

"Tsunade sama," panggil Sakura mulai cemas. Tsunade yang telah memegang gagang pintu menoleh pelan, "Aku kuliah di kedokteran, bagaimana mungkin aku bisa mengajarinya?"

"Kau tanyakan langsung saja pada Sasuke. Dia yang merekomendasikanmu."

Mereka masih saling diam. Bahkan meski sudah melewati hampir satu jam yang menegangkan. Ini adalah hal yang menyulitkan bagi Sakura. Bukan hanya karena ia tidak suka suasana awkward dan mencekam ala drama penyanderaan, tapi juga karena ia harus terjebak -kembali- bersama Uchiha Sasuke.

Demi Tuhan, ia tidak pernah tahu apa dosanya di masa lalu hingga harus mengalami semua ini.

"Aku keluar saja." gumamnya pada diri sendiri. Ia bangkit lalu bersiap untuk melangkah karena Sasuke tampak tak bergeming dari posisinya.

"Duduk."

Ia menoleh mendengar suara Sasuke. Berat dan dalam. Mimpi, halusinasi atau apapun itu yang ia alami malam lalu terpanggil kembali di ingatannya. Membuatnya bergidik.

Ia duduk dengan wajah ragu.

"Kita bertemu di sini setiap hari jam sepuluh. Aku akan mengirimkan mata kuliah apa saja yang harus kita pelajari."

"Ta-tapi."

"Apapun keluhanmu, aku tidak peduli. Itu bukan urusanku."

"Tidak bisa Sasuke," sentak Sakura kesal. Ia bahkan tidak sadar sudah kembali bangkit dari duduknya. "Aku tidak pernah sekalipun mempelajari apa yang kau sebutkan."

"Kita tidak akan mempelajari itu."

"Ya?"

"Aku hanya butuh kemampuan menghitungmu, Sakura. Jangan berlebihan."

"Menghitung?" Sakura menautkan alisnya bingung, "Menghitung apa?"

"Kau terlalu banyak bertanya," gumam Sasuke sambil menatapnya tajam, "Apa kau menyadarinya."

"Aku perlu tahu apa yang akan kulakukan." bela Sakura menguatkan kekhawatirannya. Tidak mungkin ia mengaku mulai mencurigai gerakan bawah tanah Sasuke. Ia pernah mendengar tentang keluarga Uchiha yang kini merupakan salah satu taipan terkenal di Konoha. Banyak cerita berdarah di balik kesuksesan mereka.

"Hn."

Sasuke tersenyum miring meremehkan. Membuat Sakura semakin merasa kesal dengan posisinya. Bukankah Sasuke membutuhkannya? Seharusnya Sasuke yang merasa tertekan saat ia berniat memberontak.

"Kau tidak punya pilihan lain."

"Kau mengancamku?"

"Hanya memberitahu."

"Kalau kau berniat menakutiku, sayang sekali, kau gagal,"

Sakura berbalik dengan kekuatan penuh. Keberanian yang entah ia dapatkan dari mana. Meski tentu saja, ia merasa gemetaran karena itu.

"Kau perlu tahu bahwa tidak semua hal bisa kau dapatkan, Sasuke." gumamnya sambil melangkah pergi. Berjalan mendekati pintu tempatnya masuk tadi.

"Pintu itu terkunci," gumaman Sasuke menghentikan langkah Sakura. "dan kau semakin membuatku yakin untuk segera memperkosamu."

Sakura refleks berbalik mendengar itu. Wajah jijik dan takut berbaur jadi satu. matanya terus memperhatikan Sasuke.

"Kau harus mulai sadar apa yang kau hadapi Sakura."

"Kenapa?" tanya Sakura dengan pandangan nanar, "Kenapa harus aku?"

Matanya mulai berembun penuh emosi, "Kita bahkan tidak saling mengenal. Kenapa kau harus membuat hidupku terasa penuh tekanan." teriaknya kesal.

"Sa..."

Brakkk!

Pintu terbuka sebelum Sasuke sempat menyelesaikan kalimatnya.

"I-ino?" Sakura mengusap sudut matanya yang berair melihat kehadiran sahabatnya.

"Sakura, keluarlah." ucap Ino dingin. Pandangannya lurus ke depan, ke arah Sasuke berada.

Sasuke melakukan hal yang sama, memandang Ino tanpa berkedip sekalipun. Sesuatu yang membuat Sakura mau tak mau merasa nyeri. Sesaat yang lalu Sasuke memberikan semua atensi padanya, dan tidak cukup dua detik laki-laki itu melakukan sesuatu yang tak mungkin di dapatkannya. Lebih menyedihkan karena sebelumnya ia benar-benar percaya bahwa pintu yang mungkin saja bisa membebaskannya dari Sasuke terkunci. Harusnya ia membulatkan tekad sejak tadi, agar tak perlu menjadi saksi lovey dovey di depannya. Meski apa yang Sasuke dan Ino lakukan -saling melotot- tidak bisa di sebut bercinta, tentu saja.

"A-aku pergi." ucapnya gugup, sebisa mungkin menguatkan tulang-tulangnya agar bisa berjalan meski harus seperti robot.

"Tetap di tempat, Sakura." suara berat Sasuke membekukan niatnya.

"Keluar," gumaman Ino membuatnya semakin tak bernyali. "Di sini bukan tempatmu."

Ino yang saat ini berdiri di hadapannya, seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang selama ini ia kenal. Ia bahkan menyangsikan kesadarannya kalau saja rambut pirang Ino tidak begitu mencolok tertimpa terbosan cahaya matahari.

"Ini ruanganku, aku yang berhak menentukan siapa yang boleh tinggal dan pergi."

Keduanya kembali diam dengan tatapan saling membunuh. Membuat Sakura kembali seperti menjadi benalu di antara mereka. Ia bahkan merasa seolah ia adalah selingkuhan yang tertangkap basah.

"Oh? Sakura-chaaaannnn...," Suara cempreng Naruto terdengar nyaring dari arah pintu, membuatnya refleks menoleh. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh Sasuke dan Ino. "Aku mencarimu ttebayo. Hari ini aku ulang tahun, ayo ku traktir ramen."

"Y-ya?"

"Ramen Sakura chan, di simpang depan kampus ada kedai Ichiraku yang lezat," Ucap Naruto penuh semangat, "Ayo, ayo."

Naruto menariknya menuju pintu keluar. Ia sempat kembali menoleh pada Sasuke dan Ino yang belum juga berhenti saling mengintimidasi.

"Bagaimana dengan mereka?" gumam Sakura tak sadar.

"Kau tidak akan mau melihat apa yang akan terjadi," ucap Naruto sambil menariknya sedikit lebih kuat. "Percayalah."


TBC

Yess! akhirnya chapt. 2 up. mohon maaf chapter kemarin saya salah tulis FIN. hehehe

Bagi kalian yang tidak siap dengan ending atau apapun yang akan saya lakukan terhadap fic ini. Saya memberi kesempatan untuk klik tombol 'back'. Untuk yang bertahan, saya akan melakukan yg terbaik.

Terimakasih dukungannya, salam sayang - Beb