Warning! Yandere Lucas. Agak PWP.
Note :
Sudah pernah saya publish di tempat lain tapi saya memutuskan untuk mengabadikannya di sini.


Jantungnya berdegup kencang, wajahnya pucat dan kakinya terasa lemas walau sebenarnya dia sudah berlari sangat cepat. Entah kenapa, tangga yang ia turuni menjadi sangat banyak. Otaknya tidak bisa membantunya berpikir jernih karena perasaan panik di hatinya.

Satu tujuannya; keluar dari gedung sekolah.

Tapi siapa sangka, 'orang itu' sudah berada tepat di belakangnya.

Panik, si surai jingga mencoba mempercepat larinya tapi ia bukannya berlari ke kiri ia malah ke kanan dan menemukan jalan buntu.

Sial. Otaknya tidak bisa memerintahkan tububnya untuk bergerak ke arah yang benar.

"..Ada apa denganmu? Biasanya, kau yang mendekatiku dengan cengiran menyebalkanmu, Leon."

Suaranya berat dan dingin, lebih dingin dari biasanya. Leon bisa merasakan aura membunuh menguar dari tubuh si surai biru tua.

Tubuhnya kaku dan dia hanya bisa menatapi tembok itu bahkan sampai kedua tangan Lucas menyentuh tembok di sisi tubuhnya, memperangkap Leon dalam lingkup posesinya.

Sudah terlambat. Dia tidak bisa kabur.

'Tolong.. Tolonglah, Noah, Chaoyang, Rabi—siapapun. Jemput aku ke sini.'

Kekehan pelan keluar dari bibir Lucas, membuat Leon merinding. "Mereka tidak akan datang. Untuk apa? Mereka tahu sebentar lagi kita akan pulang setelah latihan di sekolah."

Leon hanya terdiam dan menundukkan kepala, takut untuk bereaksi apapun tapi mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu.

"A.. apa.. salahku..?" Leon merasa suaranya sulit untuk dikeluarkan. Air mata pun mulai mengalir di sudut matanya. "Tidak biasanya.. kau begini, Lucas.."

"Aku menahan diri." Suaranya tajam dan amarah terdengar jelas pada nada bicaranya. "Kau pikir kenapa aku selalu ketus menanggapimu setiap kau bertemu mereka?"

Ah.. Itu. Dia pikir dialah yang Lucas benci, karena dia playboy, penggoda gadis dan semacamnya. Dia pikir memang Lucas tidak suka melihatnya atau menghabiskan waktu dengannya .

"Tapi.. tapi itu normal, Lucas. Kami tidak melakukan yang lebih—ha.. hanya kencan bia—"

Salah satu tangan Lucas bergerak ke arah leher jenjang itu dan mengeratkan genggamannya sedikit, membuat Leon sulit untuk bernapas.

"Normal?" Lucas mendekatkan bibirnya pada telinga Leon, sengaja supaya Leon bisa mendengar suaranya lebih jelas dan mengingatnya di luar kepala.

"Mereka kotor. Mereka menyentuhmu dengan tangan kotor mereka. Mereka tahu aku ada di sana, menatap mereka dengan benci karena apa yang menjadi milikku telah mereka sentuh. Kau tidak tahu itu?"

Leon menggeleng pelan. Napasnya tersendat-sendat dan untunglah Lucas menarik tangannya dari leher Leon. Karena lemas, Leon menyandarkan tubuhnya pada tembok dengan kepalan dua tangannya sebagai topangan. Dengan cepat ia menghirup udara karena merasa pasokan oksigennya hampir habis.

Tapi tiba-tiba tubuhnya diputar paksa untuk menghadap ke belakang, menatap wajah Lucas. Matanya membulat sempurna dan reaksi itu menjadi kesenangan sendiri bagi Lucas. Seringai itu kembali muncul di wajah tampannya.

"Ekspresimu.. Begitu manis. Ketakutan sambil menangis, dan hanya aku yang melihatmu dalam keadaan seperti ini."

Lucas mendekatkan wajahnya, mencium bibir ranum itu dengan lembut sebelum memaksakan lidahnya memasuki mulut hangat milik Leon. Lucas semakin agresif, menggerakkan lidahnya untuk mengabsen gigi-gigi Leon yang berderet rapi dan mengajaknya 'bermain'. Satu lengannya memeluk pinggang Leon dan satunya lagi masih berada di sisi kepala Leon.

Setelah beberapa lama, lenguhan keluar dari bibirnya, disertai rengekan pelan sebagai tanda Leon ingin menyudahi ciuman panas mereka dan untunglah Lucas menarik diri.

Dengan serakah, Leon menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan dengan napas yang terengah-engah. Wajahnya memerah dan matanya sembab karena air matanya belum berhenti juga.

Lucas tersenyum, mengecup pipi Leon dengan lembut tapi Leon merasa dingin. Hanya ada posesi dan obsesi yang ia rasakan pada ciuman itu. Tubuhnya menegang saat Lucas berbisik di telinganya.

"Kau hanya milikku seorang." Tangannya mengeratkan pelukan. "Mine."