Tettt... tett...
Sakura berguling ke kiri mendengar bel apartemennya kembali berbunyi. Selimut yang ia gunakan melilit seluruh tubuhnya, membuatnya sedikit kesulitan untuk bangun.
Tettt... Tett...
Ia berguling sekali lagi.
"Ough," umpatnya kesal saat bokong dan kepalanya harus ikhlas bersamaan mencium lantai. Diliriknya jam beker di atas nakas, pukul tiga dini hari. "Sial, benar-benar tidak bisa dipercaya."
Ia berguling cepat di lantai untuk melepaskan diri dari lilitan selimut. Mengucek mata pelan lalu bangkit untuk melihat siapa tamu tak diundangnya.
"Selamat malam Nona," seseorang dengan setelan hitam terlihat berojigi padanya. Satu orang lainnya berdiri seperti patung tak bernyawa. Sakura sedikit tersentak mendengar sapaan itu, ia bahkan belum mengeluarkan suara apapun saat berdiri dibalik lensa intip pintunya.
Darimana dia tau aku ada di sini?
Dua orang itu kembali berojigi saat Sakura membuka pintu.
"Saya Pakura, Sasuke-sama meminta saya untuk mendampingi perjalanan anda."
Sakura melirik curiga ke arah keduanya. "Ini masih jam tiga." ucapnya sedikit kesal. Ia baru menyelesaikan jurnal virusnya lewat tengah malam tadi, dan sekarang ia harus diciduk oleh orang dengan tampang mafia.
"Tidak masalah, anda akan menggunakan jet pribadi."
"A-aku belum berkemas."
"Tidak perlu berkemas Nona, Tuan muda sudah menyiapkan semuanya."
"A-apa?"
"Semua untuk perjalanan anda."
Entah mantera apa yang digunakan perempuan dengan tampang tegas itu, nyatanya, Sakura hanya bisa mengangguk bodoh tanpa perlawanan sedikitpun. Ia baru akan melangkah keluar saat Pakura berdehem kecil.
"Mungkin anda ingin berganti baju dulu," ucapnya dengan senyum di kulum. Merusak hipnotis yang Sakura rasakan. Sakura segera melihat setelan piyama lusuh yang ia kenakan.
"Juga mengambil ponsel dan barang pribadi lainnya."
Oh, rasanya ia ingin mati saja.
Pemandangan indah lampu kota menyergap penglihatannya. Ini terlalu ramai, sangat ramai. Jauh dari apa yang diharapkannya. Limusin yang membawanya dari bandara masih belum mau berhenti. Sedang Pakura sudah menghilang sejak mereka mendarat tadi. Membekalinya dengan kata semoga beruntung yang entah kenapa terengar sangat mengerikan di telinganya. Oh, ayolah. Dia tidak sedang dikutuk karena membohongi ayah yang memintanya untuk pulang ke Kumo kan? Karena ia sedang tidak ingin berurusan dengan perjodohan sialan atau apapun yang sejenisnya. Ia adalah generasi masa kini, kenapa harus peduli perjodohan. Hidupnya sudah memprihatinkan tanpa direndahkan dengan pertanyaan pasangan juga hari tua menyenangkan seperti kedua orangtuanya.
"Kita hampir sampai Nona."
Gumaman supir mengalihan pandangannya dari keindahan lampu kota. Ia masih enggan berkata-kata. Ia akan selalu ingat ucapan Ino sehari pasca ia memutuskan bergabung dengan Sasuke. Bahwa kejutan adalah hal yang samasekali tidak boleh membuatnya terkejut. Termasuk saat ia terbangun tadi, ternyata ia sudah berada di Las Vegas. Kota yang bahkan dalam mimpipun, tak pernah terfikirkan akan di kunjunginya.
Welcome, cherry.
Sebuah pesan tanpa tuan membuatnya tersenyum. Moodnya dengan tiba-tiba berubah jadi seratus kali lebih baik. Ia harus menikmati ini. Ia bukan lagi Haruno Sakura, mahasiswa kedokteran berotak encer yang tersohor seantero kampus. Ia adalah Cherry, gadis cute dari sebelah rumah, yang akan mematah arogansi para penjudi hanya dengan kedipan mata. Setidaknya itulah yang ia dapatkan dari para mentor yang Sasuke bayar untuknya. Terus terang, selain rasa sungkan terhadap Sasuke selaku donator bagi perkembangan skillsnya, Sakura sedikit tak tertarik dengan hal rumit golongan atas. Meski tentu saja, berada di sekeliling mereka, rasanya member pengaruh besar bagi kepercayaan dirinya.
"Terimakasih." Ucapnya dengan senyum mengembang saat supir membukakan pintu untuknya. Ia baru menapakkan satu kakinya saat kemegahan The Strip membuatnya ternganga sejenak.
"Silakan gunakan ini untuk kondisi darurat."
Supir itu menyerahkan sebuah kartu dan sebuah alat sepanjang genggaman tangan kepadanya. Ia bisa melihat tombol kecil di ujungnya. Jadi mungkin itu sejenis GPS yang akan memungkinkan Sasuke menemukan keberadaannya jika dibutuhkan.
"Apa aku boleh menghabiskan isinya?" tanya Sakura sambil mengangkat kartu kredit langka miliknya.
Supir itu tersenyum lalu berojogi kecil, "Tentu Nona. Itupun kalau anda mampu."
Sakura tersenyum sumringah, "Kedengarannya bagus. Terimakasih." Ucapnya lalu berlari mendekati pelataran The Strip. Jajaran hotel megah yang hanya dilihatnya di film Hollywood kini terlihat begitu menakjubkan. Ia bahkan lupa setelah ini akan ada pekerjaan besar yang harus di selesaikannya.
Kau punya waktu sampai besok, bersenang-senanglah.
Pesan Sasuke membuat semangatnya kembali bangkit. Karena Sasuke tidak menginformasikan tentang apapun yang menjadi tempat menginapnya, ia yakin laki-laki itu ingin ia memilihnya sendiri.
Sakura menyempatkan diri berselfi cantik di depan lampu kristal karya Dale Cihuly sebelum memutuskan untuk menonton pertunjukan air menari. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Terimakasih perbedaan Zona waktu, karena membuat Sakura yang berangkat di pertiga malam, masih bertemu malam setelah menempuh perjalanan nyaris 12 jam.
Bellagio hotel terlihat menggiurkan, sayangnya ia sudah punya pilihan lain.
"Sakura-san menginap di Caesar's Palace Tuan."
Sasuke tersenyum segaris mendengar ucapan Iruka. Pilihan Sakura sudah menjadi jawaban seberapa layak gadis itu dimasukkan dalam dunia yang ia inginkan. Sakura adalah pembawa tanda, ia sudah menyadarinya sejak pertemuan pertamanya dengan gadis itu.
"Aku tidak tahu dia bisa memilih sebagus itu."
gumaman Shikamaru dengan wajah malasnya menjadi pengganggu kebanggan Sasuke. Ia melirik laki-laki itu sejenak, berharap persahabatannya dengan penerus Nara yang legendaris kegeniusannya itu segera berakhir. Shikamaru adalah tipe orang yang akan selalu merusak mood baik dengan kemalasannya.
"Tentu saja, Sakura perempuan, bodoh. Sudah pasti dia akan memilih yang termahal."
Ino yang muncul dengan segelas jus menimpali dengan wajah sinis.
"Hei Ino, dia itu sahabatmu kan? Kau seperti memusuhinya."
Naruto yang berjalan di belakang Ino tampak tak rela perempuan yang ditaksirnya harus direndahkan begitu. Oh, ayolah, bahkan hanya dengan sekali lihat, siapapun Tahu Sakura adalah gadis baik.
"Itu pendapat, Naruto. Tidak usah berlebihan." Ucap Ino kesal.
"Jadi, kapan dia akan bergabung?"
Shikamaru, tanpa menanggalkan pandangan pada gemerlap bergumam pelan. Tiga orang lain refleks menatapnya sebelum akhirnya beralih menatap Sasuke.
"Lusa."
Sakura kembali menaiki westcliff airport express dari bus stop di depan New york New York Hotel. Ini adalah kali kedua ia berputar area The strip hanya untuk menemukan dimana kelompok sirkus cirque de Soleil mengadakan pertunjukan.
"Sial, kalau seperti ini terus aku hanya akan membuang sia-sia tiket dan waktuku." gerutunya sambil membanting tubuhnya di pojok belakang bus. Pagi tadi ia iseng menunjukkan kartu Sasuke pada receptionist hotel dan ia mendapatkan satu tiket nonton sirkus legendaris. Kartu itu benar-benar ajaib. Ia hanya sedikit ragu, mungkinkah kartu itu bisa menyelamatkannya dari kesesatan.
"Boleh duduk?"
Sakura mendongak, merasa kalau orang itu tengah berbicara dengannya.
"Sure." jawabnya sambil tersenyum ramah. Ini adalah kali pertama seseorang menegurnya sebagai 'teman'. Sejak mendarat di Las vegas semalam, percakapan yang ia lakukan hanya seputar pelayanan hotel. Ia tidak punya siapapun yang bisa dihubungi di Las Vegas. Bahkan Ino yang semula ia harapkan untuk menemani tak juga muncul. Semua nomor tim Sasuke yang ia miliki juga tidak aktif. intinya ia sedang desperate, dan laki-laki tampan di sebelahnya datang seperti malaikat yang ia rindukan sejak jutaan tahun.
"Kau terpesona padaku?"
"Y-ya?"
"Kau melihatku dengan mata melotot sejak tadi."
"Eh?"
"Aku Neji," ucap laki-laki itu sambil menoleh ke arah Sakura. Sakura baru menyadarinya, ia seperti pernah melihat seseorang yang mirip dengannya, "Kau?"
"Hah?"
"Namamu."
"Oh," Sakura tersenyum garing menyadari kekonyolannya. Ia mengutuk dirinya sendiri untuk sikap noraknya yang sulit sekali diubah. "Aku Sakura, Haruno Sakura."
Neji tersenyum, "Nama yang indah."
"Terimakasih."
MGM grand pukul 21.00 tunjukkan sampai dimana perkembanganmu. Kita bertemu setelah lonceng berbunyi.
Sakura merengut membaca isi pesan yang dikirim oleh Sasuke melalui officeboy hotel. Ia baru saja berbaring setelah seharian mengitari The Strip dan menikmati hidangan lezat di restoran Gordon Ramsey. Meski Sakura tak terlalu yakin siapa laki-laki itu, ia tahu ia telah memilih restoran yang tepat. Lagipula, Neji –teman seperjalanannya menuju Mandalay Bay resort and casino- juga merekomendasikan tempat yang sama. Meski tentu saja, setelah membaca pesan Sasuke ia sedikit menyesal karena Ino pernah bercerita tentang prasmanan kelas atas di hotel MGM yang fenomenal. Sejujurnya, Sakura ingin mencicipi semua hal yang ada di Vegas serata mungkin. Ia tidak tahu kapan lagi memiliki kesempatan emas seperti ini. Bahkan meski ia sudah menjadi seorang dokter ahli sekalipun, menghamburkan uang di meja judi adalah hal terakhir yang akan dilakukannya. Ia masih sangat waras. Tentu saja.
"Oh, sial. Aku tidak punya gaun." Ucapnya sedikit berlebihan. Sakura meraih ponselnya cepat untuk melihat pukul berapa sekarang. Ia mengumpat kecil setelah menyadari, tak ada banyak waktu untuknya bisa hunting gaun malam yang layak.
Im so lonely broken angel…
"Sasuke?"
"Hn."
"Syukurlah kau menelfon, aku tidak punya baju untuk…."
"Jadi apa sekarang kau telanjang?"
"Mulutmu kotor sekali," maki Sakura kesal, ia sedang dalam tekanan dan Sasuke melontarkan lelucon yang baginya amat sangat tidak lucu. Yang benar saja. "Aku serius."
"Gunakan saja baju yang kau pakai kemarin."
"A-apa?"
"Kau sudah dengar. Semoga beruntung Cherry."
Tuuuttt..
"A-apa?" ucap Sakura linglung, "Ha-halo, Sasuke? Hallo? Sasukeee! Sial." Sakura membanting ponselnya ke kasur kesal, "Bagaimana mungkin aku memasuki kasino dengan pakaian macam itu? Yang benar saja."
Sakura mondar mandir selagi memikirkan alternative lain yang lebih masuk akal selain memakai pakaian santainya dari Konoha. Itu memang benar-benar stylenya, tapi, oh Tuhan, dia akan berhadapan dengan banyak milyader dan penampilannya secara nyata menunjukkan betapa miskin dan ababilnya dia. Hotpants dan shirt oversize? Yang benar saja.
"Shikamaru, bagaimana?"
Sasuke yang tengah berjalan di lobi MGM dengan setelan mahalnya tampak menekan earphonenya pelan. Pandangannya menyapu salah satu hotel termegah itu dengan tenang. Hari ini, sebuah kacamata edisi khusus yang dilengkapi GPS dan kamera pengintai ia gunakan. Tak lupa senjata rahasia yang di tanam di kedua gagangnya.
"Clear,"
Jawaban Shikamaru membuatnya mengangguk kecil.
"Sakura sudah masuk setengah jam yang lalu. Dia berada di slot mesin otomatis. Awal yang dramatis."
"bARU pemanasan, jangan terus menganggapnya remeh." Bela Sasuke sambil melangkah memasuki lift. Di dalamnya, seorang gadis dengan rambut merah menyala menatapnya tajam. Sasuke hanya melirik sekilas sebelum akhirnya memencet tombol lift dan membuat pintunya tertutup.
"Uzumaki Karin, 26 tahun. Tangan kanan Orochimaru. Oh, dia sepupu jauh Naruto. Pasti akan menyenangkan jika mereka reunian di meja judi."
Suara Shikamaru kembali terdengar di telinganya. Membuatnya kembali mengaktifkan mode pengawas. Ia pernah sedikit mendengar tentang Karin dari Naruto. Gadis itu punya kemampuan membaca kartu yang tidak bisa dianggap remeh. Tapi kenapa dia ada di sini? Setahunya, setelah kejatuhan Orochimaru, Karin memilih menjadi seorang dukun yang enggan bersentuhan dengan dunia luar. Karin bahkan membuka praktik tarot di pinggiran Konoha.
"Buena Suerte."
Bisikan Karin di telinga memaksanya melirik gadis itu sekilas. Pandangan Sasuke masih lurus ke depan hingga pintu lift kembali tertutup. Ia masih bisa melihat Karin berbalik dengan senyum miring dan berbagi pandangan penuh misteri dengannya. Ia tidak mengenal Karin secara personal, tapi melihat bagaimana gadis itu membangun interaksi, ia yakin Karin sudah tahu ia akan datang.
"Shikamaru," gumamnya dalam, "Caritahu siapa dalang dibalik kemunculan Karin."
"Hm."
"Dan pastikan dia tidak bertemu Sakura."
TBC
Buena suerte : Semoga sukses
Chpt. 5 up!
Uwoohh, bebeb Neji muncul lagi. Hayoo… hatersnya GL sama Breakthrough pasti mulai ketar-ketir. Jangan-jangan, Sasusaku gak bersatu lagi? Hehehe…
Btw, maaf jika masih jauh dari ekspektasi ya, Lotto benar-benar membuat saya kewalahan dengan riset. Rasanya ingin cepat-cepat mengakhirinya. Huu..
Terimaaksih yang sudah membaca, silakan tinggalkan jejak di kotak reviews.
Salam sayAng- Beb
