"Kau mau mencobanya?"

Sakura berbalik saat seseorang terasa begitu dekat membisikkan sesuatu di telinganya.

"A-ap," Sakura membelalakkan maniknya melihat siapa yang ia lihat, "Neji?"

Laki-laki itu tersenyum segaris, memamerkan betapa Tuhan sangat tidak adil dalam memilih ciptaan. Bagaimana ia bisa memiliki rambut lurus dan seindah itu? Sakura bahkan tidak yakin ia terlihat baik saat berhadapan dengan sosok mahal di depannya.

"Kau ada di sini?" tanya Sakura dengan alis tertaut, tidak menyangka pertemuan semacam ini akan menimpanya.

"Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu?" Neji balik bertanya, "Martini?"

"Aku tidak minum alkohol." tolak Sakura dengan senyum garing. Neji hanya mengedikkan bahu lalu kembali menaruh gelas pada nampan weiters yang berseliweran.

"Kalau begitu, Strawberry milkshake?" Kali ini Sakura tersenyum melihat betapa gentlenya Neji saat menyerahkan segelas minuman sewarna rambut padanya. "Dengan sedikit kesenangan, dijamin kau takkan mabuk."

"Terimakasih."

"Jadi, kau seorang gambler?"

Neji bertanya di sela kesibukannya menyapu area kasino. Ia yakin, Sakura tidak bermain tunggal. Gesture Sakura mengatakan gadis itu masih amatir dalam dunia hitam. Kalau gadis sepolos dia bisa berada di tempat seperti ini, pastilah ada mentor yang akan mengawasi dari jauh. Ia hanya perlu tahu siapa orang beruntung itu.

"Aku tidak tahu kau seorang penjudi." ucap Sakura sambil meneliti sosok di sampingnya.

"Hanya untuk bersenang-senang," gumam Neji pelan. "Jadi, apa kau mau mencobanya?"

"Hah? Apa?"

"Blackjack. Aku melihatmu memperhatikan meja tadi, matamu terlihat luar biasa."

Sakura tertawa konyol, "Apa kentara sekali?"

Neji kembali mengedikkan bahu.

"Aku hanya penasaran, apa aku bisa mengalahkan Dealer dengan rumus tebak-tebakan?"

"Kau sudah melakukannya di meja Roulette."

"Kau melihatnya?"

"Bagaimana caranya?"

"Apa?"

"Kau menghabisi dealer dengan empat kali taruhan. Itu mengesankan untuk pemula."

"Ah," Sakura mengusap tengkuknya yang tak gatal, "Aku hanya beruntung."

"Ayo pertaruhkan keberuntunganmu."

"Eh?"

Neji menunjuk meja blackjack yang berada sedikit di dekat pilar utama dengan dagunya. Meja itu hanya dihuni dua orang pemain dan seorang Dealer.

"A-aku tidak punya..."

"Jangan jadi pengecut Sakura," ucap Neji sambil meletakkan kembali gelas kosongnya di nampan weiters, "Tunjukkan padaku kekuatan keberuntunganmu."


"Woooo..."

kerumunan orang sontak berteriak riuh saat Sakura kembali melakukan Double down. Neji sempat melirik dealer yang tampak sedikit tertegun dengan yang dilakukan oleh gadis berpenampilan amatir itu. Siapa sangka, kemeja oversize, kets, dan hotpans yang Sakura kenakan mampu menyarukan ketepatannya dalam membaca kartu. Gadis itu benar-benar penuh dengan keberuntungan.

"Insurance?" tanya Dealer berkepala plontos itu dengan suara berat. Mencoba mengintimidasi Sakura.

Sakura mengalihkan pandangan dari kartunya, berkedip dua kali lalu kembali memamerkan senyum cerianya. "No, thanks." ucapnya dengan penuh keyakinan.

Neji tersenyum samar melihat itu. Sakura adalah kombinasi sempurna antara hitungan, keberuntungan dan strategi. Ia tahu, Sakura yang tampil menggemaskan di meja judi bukanlah Sakura yang sebenarnya. Siapapun orang yang memiliki gadis itu, sudah tahu pasti, apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemenang.

Sekeliling mereka masih terdengar antusias. Semakin lama, gelombang manusia terus berdatangan. Gosip dari mulut ke mulut bergerak cepat mempengaruhi arah manusia. Bahkan beberapa gambler profesional tampak menunda aksi mereka hanya untuk melihat gadis ajaib yang tiba-tiba muncul.

Sasuke duduk tenang di meja bar, sesekali menyesap minuman di tangannya.

"Sasuke, kau lihat Sakura?"

Suara Shikamaru kembali terdengar di telinga Sasuke. Membuatnya terus menajamkan penglihatan ke arah kerumunan manusia yang terdengar riuh dalam sorakan. Ini di luar prediksinya. Ia sudah meremehkan kemampuan komunikasi Sakura hingga mengabaikan kondisi ini. Tidak, Sasuke yakin ia tidak mengabaikan ini, hanya saja, seseorang telah masuk dalam ketentuan yang ia buat untuk Sakura. Membuatnya sedikit lepas kendali.

"Hn."

"Jadi?"

"Alihkan perhatian mereka, aku akan mengambil Sakura."

"Aku butuh dua menit."

"Hn."

Sasuke beringsut menuju arah kerumunan setelah memperhatikan jam mahal di tangannya beberapa saat. Tatapan dan langkahnya terlihat tenang. Kedua tangannya tersembunyi dibalik Saku, membuat jas yang ia kenakan sedikit tertekuk di pinggirnya.

"Naruto, Ino, kau siap?"

"Yo."

Suara Naruto terdengar entah dari mana.

"Ya."

"Lima, empat, tiga, dua...," Sasuke meneruskan langkah sembari berhitung pelan, berjalan semakin dekat dari Sakura berada "Sekarang!"

BLAMMMM!


Sakura membuka matanya perlahan. Badannya terasa pegal di seluruh persendian. Ia mengangkat kepalanya pelan selagi mengingat-ingat, apa yang terakhir ia lakukan hingga terdampar di kasur empuk dengan indikasi amnesia.

"Kau sudah bangun?"

Sakura berbalik cepat mendengar suara itu. Matanya sedikit melebar melihat Sasuke dengan pakaian santai tengah membaca koran di sofa dekat jendela.

"A-apa yang kau lakukan?"

Sakura membuka selimut untuk melihat apa yang terjadi dengan dirinya. Pakaiannya masih lengkap, sama dengan yang semalam ia gunakan memasuki Kasino. Outfit yang nyaris membuatnya ditendang keluar kalau saja ia lambat menunjukkan kartu Sasuke.

Sasuke bangkit dari duduk lalu berjalan pelan ke arah ranjang.

"Kau berharap kuperkosa ya?" tanya Sasuke sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura. Membuat Sakura refleks menarik selimut hingga dada dan mencengkramnya erat.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Sakura gugup, tak sadar mengatakan kalimat yang sama.

Sasuke tersenyum miring mendengar itu. Diacaknya rambut Sakura pelan, "Bersiaplah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."

"Ya?"

"Lima belas menit." ucap prodigy itu sambil melangkah pergi, meninggalkan Sakura masih dalam kebingungannya.

"Sa-sasuke?" Sakura mengeratkan selimut di dadanya, "A-aku tidak punya baju."

Sasuke yang nyaris membuka pintu menelengkan kepalanya mendengar itu, wajah tenangnya kelewat datar untuk ukuran manusia.

"Gunakan saja baju yang kemarin."


"Kau suka?"

Sakura menoleh mendengar suara Sasuke. Tawa sumringah disertai anggukan cepat menjadi jawaban atas pertanyaan itu.

Sasuke tak mengatakan apapun setelahnya. Hanya menatap Sakura sesaat, lalu kembali memandang lurus ke depan. Bersebrangan dengan apa yang dilihat Sakura.

"Indah Sekali," gumam Sakura tanpa mengalihkan pandangan dari landskap di depannya. Keagungan Grand canyon semakin terasa dari tempatnya berdiri. "Aku bersyukur sekali tempat ini dibangun," ucap Sakura merujuk pada Skywalk. Jembatan kaca tempat wisatawan menikmati sensasi berjalan di atas awan. "Ini benar-benar luar biasa."

Sasuke menoleh mendengar kalimat Sakura. Menikmati wajah damai gadis itu untuk sesaat. Ia kembali meluruskan pandangan saat Sakura membuka mata dan menoleh padanya.

"Terimakasih ya, Sasuke."

"Hn."

Keduanya kembali terdiam dalam pikiran masing-masing. Merasakan semilir angin yang berhembus rapat dipelataran ciptaan Tuhan.

"Sakura."

"Hm?"

Sakura menoleh mendengar panggilan Sasuke. Sasuke melakukan hal yang sama. Keduanya berpandangan beberapa saat.

"Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."

"Siapa?"

"John Juanda."

"Hah?"

"Dia seorang gambler profesional, aku ingin kau belajar darinya."

"Aa..." Sakura mengangguk, menyadari kemana arah pembicaraan Sasuke. Sepanjang perjalanan dari Vegas tadi, Sasuke membuatnya kembali mengingat insiden semalam. Kekacauan besar yang berasal dari kecerobohannya.

"Dia adalah seseorang yang religius."

"Benarkah?"

"Hm," Sasuke bergumam pelan, membayangkan pertemuan pertamanya dengan John. "Aku tidak percaya seseorang bisa begitu mencintai Tuhan selagi mereka berjudi. Tapi dia melakukannya."

"Kau menyukainya?"

"Dia adalah kakak bagiku."

"Oh," Sakura menganggukkan kepalanya pelan. Sasuke yang berdiri di sampingnya tiba-tiba terlihat begitu manusiawi di matanya. "Apa dia tahu kalau kau berniat mengenalkanku?"

Sasuke mengangguk, "Sebenarnya, aku memilihmu karena alasan yang sama dengan saat aku bertemu dengannya,"

Sakura menautkan alisnya tak mengerti.

"Gereja," Sasuke menatap Sakura dalam, berusaha mentransfer apa yang ia rasakan kepada gadis di depannya. "Kalian sama-sama sukarelawan abadi untuk gereja. Itu membuatku sedikit penasaran. Apa sebenarnya yang membuatnya juga dirimu melakukan itu."

"Kau memata-mataiku ya?"

"Lebih dari yang kau tahu."

"Kau menakutiku, kau tahu," ucap Sakura dengan nada ringan. Berharap aura berat yang tiba-tiba menyelimuti mereka segera berakhir. "Tapi karena kau sudah mengajakku jalan-jalan. Aku memaafkanmu."

Sasuke hanya diam mendengar itu. Tak berniat mengatakan apapun. Perasaan aneh yang dulu pernah menyiksanya, tiba-tiba muncul begitu saja. Membuatnya sedikit kesulitan untuk menguasai diri.

"Ayo." ucapnya sambil berjalan ke arah darat. Meninggalkan Sakura yang masih asyik merentangkan tangan sembari menghirup udara bebas.

Sakura mendengus kesal melihat Sasuke yang tiba-tiba kembali seperti semula, "Hei Sasuke, tunggu aku."


TBC

update kilat karena ingin menyampaikan beberapa hal.

tolong berhenti memikirkan tentang pairing di fict ini. Harapan kalian terkait pairing seperti jauhnya panggang dari api. titik.

cast hanya berstatus sebagai cast. sy bukan biro jodoh yang akan mempersatukan mereka dlm mahligai rumah tangga dengan do'a sakinah, mawaddah, warrahmahnya. (terimakasih si pembaca sudah membantu saya terkait ini)

Saya tidak ingin kalian menganggap saya pemberi harapan palsu, jadi kalau tidak suka, silakan tinggalkan segera.

mulai chap depan akan banyak membahas 'agama' dan spiritualitas. Saya tidak bermaksud menyinggung agama manapun. kalian boleh bertanya atau memberi komentar, sy akan sangat senang mendiskusikan tentang itu. Dilarang saling merendahkan, anggapan "agamaku lebih baik dari agamamu" adalah sampah, Mengkafirkan agama tertentu juga sampah, yang melakukannya sudah pasti lebih buruk dari itu.

Terakhir, terimakasih untuk dukungannya. Untuk yang masih bertahan, saya akan melakukan yang terbaik hingga akhir. Salam sayang- beb

Fyi. John juanda adalah gambler profesional asal medan yg sudah mendunia.