"Sial!" maki Ino sekali lagi, kunai kecil yang dilemparnya meleset dari sasaran. "Brengsek."

"Hei, kalau kau sakit hati jangan lampiaskan pada benda mati,"

Shikamaru dengan wajah ngantuk mendengus sembari mengangkat kepalanya dari meja.

"Menyedihkan sekali." gumamnya lagi diringi uapan malas. Membuat Ino yang semula menatap kesal pada dinding beralih memberi death glare padanya.

"Sudahlah Ino chan, yang penting kita semua selamat kan?"

Suara cempreng Naruto terdengar dari balik meja bar. Membuat Ino semakin meradang kebakaran jenggot.

"Tentu saja kita selamat, aku sudah meledakkan hampir seperempat area Kasino. Sungguh sial kalau tak selamat." Ucapnya sewot. Memakai senjata ciptaan Deidara-nii untuk kriminal samasekali tidak ada dalam plan kehidupannya, ia hanya ingin hidup normal tanpa suara tembakan dan ledakan. Tidak bisakah mereka mengerti keinginannya?

Sekali lagi Naruto dan Shikamaru saling melempar pandang. Saling melempar signal melalui tatapan mata. Sejujurnya, Mereka juga sedikit keberatan dengan insiden kemarin. Penyelamatan anggota dengan plan C tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Itu sangat beresiko.

"Ngomong-ngomong, Ino. Apa Anbu tidak akan menemukan kakakmu. Kalau mereka bisa mengurai kandungan bahan peledak di kasino, itu akan sangat fatal."

Ino menoleh mendengar ucapan Shikamaru. Laki-laki itu kini duduk tegak dengan alis tertaut.

"Aku tidak tahu," Ino mengedikkan bahu pelan, "Nii-san bilang materialnya organik dan mudah terurai. Tapi dia sendiri belum terlalu yakin."

"A-apa?" Naruto Berjalan cepat ke arah Ino kini duduk, "Jadi itu belum disempurnakan?"

Ino mengangguk.

"Astaga," Shikamaru menopang dagu sambil menghela nafas panjang. "Kukira tugasku sudah selesai, benar-benar merepotkan."

"Dei-nii tidak akan tertangkap semudah itu. Sebenarnya dia sudah menjualnya di beberapa pasar gelap. Jadi kita punya alibi kuat untuk ini."

Shikamaru mengangguk pelan, "Itu melegakan." gumamnya, "Aku juga sudah menghapus jejak keberadaan kalian hingga insiden itu terjadi. Sayangnya, aku jadi kehilangan akses karena mereka meningkatkan pengamanan."

Ketiganya kembali diam. MGM grand sudah merilis penyebab ledakan di Kasino mereka. Tentu saja mereka tidak akan jujur mengenai ledakan disengaja. Itu akan membuat kerugian semakin besar karena orang enggan berurusan dengan terorisme. Fakta yang Ino syukuri. setidaknya, tidak ada pihak yang disalahkan di sini. Ia sempat khawatir MGM akan menyeret peledakannya menuju isu agama. Orang-orang sangat sensitif akhir-akhir ini, apapun yang menyangkut teroris dan agama diterima dengan sangat berlebihan. Membuat kebencian tercipta dimana-mana.

"Jadi dimana Sasuke? Aku tidak melihatnya sejak membuka mata tadi." gumam Ino sambil celingukan ke seluruh ruangan. Ia memang tidur di kamar yang sama dengan Sasuke. Itu sudah bukan hal aneh bagi mereka.

"Kurasa dia bertemu paman bersama Sakura."

"Mr. John?"

Naruto mengangguk mendengar suara keheranan Ino atas ucapannya.

"Sejak kapan Sasuke senang mengenalkan seseorang pada paman?"

"Mana aku tahu, dia bahkan tidak mengatakan apapun selain menyuruhku minggir." sungut Naruto kesal saat mengingat insiden subuh tadi.

"Dia jadi semakin aneh akhir-akhir ini."


Sakura kembali menoleh untuk memastikan Sasuke dalam keadaan baik-baik saja. Sepanjang perjalanan pulang dari Hanolulo, tak ada sepatahkatapun ia ucapkan. Sakura tahu Sasuke adalah seorang yang pendiam. Tapi diam kali ini terasa berbeda. Seolah ia tengah bergulat dengan dirinya sendiri.

"Sasuke,"

tak ada jawaban. "K-kau ingin makan apa nanti malam?"

Sasuke menoleh padanya dengan alis tertaut. Sesutu yang sudah Sakura perkirakan sebelumnya.

"Aku ingin mentraktirmu makan malam. Bagaimana?" ucap Sakura dengan mata dibuat selebar mungkin. Berharap Sasuke akan tergugah karena itu.

"Aku ingin istirahat." gumam Sasuke sesaat setelah kembali menatap jalanan di depannya.

"Ah, baiklah." gumam Sakura pelan, sedikit kecewa dengan jawaban Sasuke.

Keduanya kembali saling diam hingga kedua manik Sakura menangkap objek menarik di luar sana.

"Sasuke, bisakah berhenti di sana?"

"Apa?"

"Aku ingin melihat itu,"

Pandangan Sasuke bergerak menuju jari telunjuk Sakura. Kedua alisnya tertaut memperhatikan apa yang Sakura maksud.

"Untuk apa?"

"Kau akan tahu." jawab Sakura dengan senyum merekah.


"Ayolah Sasukeee..., jangan marah," Sakura kembali menarik ujung lipatan lengan baju Sasuke, berharap wajah kesal laki-laki itu segera menghilang, "Kau tidak pernah dengar ya? Berbagi akan membuat hatimu lebih bahagia."

Sasuke berhenti dari langkah lebarnya dan menoleh tajam pada Sakura, "Yang pasti itu bukan filosofiku, Sakura."

Sakura memonyongkan bibirnya mendengar itu, "Tapi uangmukan banyak Sasuke, seratus juta yen tidak akan membuat hartamu berkurang."

Kali ini Sasuke tak bergeming, ia memilih meneruskan langkah menuju lift untuk segera berbaring di kamarnya. Sakura membuat pening di kepalanya berkembang dengan lebih baik. Bagaimana tidak? Gadis itu membuatnya menyumbangkan seratus juta yen setiap bulan selama setahun kepada badan amal yang mereka lewati. Bukannya dia pelit, tapi beramal samasekali tidak masuk dalam plan kehidupannya. Tiga puluh persen saham masih menunggu akuisisi darinya, bagaimana ia bisa menghamburkan uang begitu saja.

"Aku tidak tahu kau begitu pelit," gerutu Sakura kesal. Ia sudah berusaha merayu Sasuke sepanjang jalan menuju hotel, dan sedikitpun tidak membuat Sasuke berlapang dada. "Aku akan segera checkout dan pindah ke losemen murahan, dengan begitu kau bisa menyimpan sewanya untuk amal,"

Sasuke hanya melirik mendengar suara jengkel Sakura. Ia tahu Sakura hanya sedang mengancamnya.

"Sasukee...," Sakura kembali ke mode putus asanya. digoncangnya Sasuke pelan. "Setidaknya lihat sisi baiknya, aku..."

Tring...

Lift terbuka, Menampakkan tiga sosok dengan wajah kagetnya. Sakura yang masih belum yakin dengan apa yang dilakukannya hanya menatap bengong ketiganya.

"Apa ada yang bisa menjelaskan padaku, apa yang sedang terjadi?" Suara Ino menjadi pembuka ketegangan mereka. Wajah cerianya sudah berubah menjadi sedingin es.

Sakura berkedip dua kali, mengumpulkan kesadaran.

"Sa-sakura-chan."

Sakura sadar apa yang dilakukannya saat Sasuke dengan pelan menggerakan tubuhnya dan memandangnya yang hanya setinggi lengan. Meminta Sakura melepaskan gelayutan -yang pasti terlihat manja dan murahan- dengan kode mata mematikannya.

"Ah, ma-maaf." ucap Sakura gugup sembari melepas cengkramannya. Ia merutuki dirinya sendiri untuk kekonyolan yang menyedihkan itu.

"Menjijikkan." gumam Ino lalu berbalik dan kembali melangkah ke arah kamarnya.

"Oi, Ino kau tidak jadi makan?"

Ino berhenti sejenak mendengar suara Naruto, melirik sekilas ke belakang lalu kembali meneruskan langkah. Aura kemarahan jelas menguar darinya.

"Kali ini kau keterlaluan, Sasuke." gumam Shikamaru sambil berjalan menjauh dari pintu lift.

"S-shikamaru? Kau juga tidak jadi makan?"

Shikamaru mengangkat sebelah tangannya mendengar teriakan Naruto. Tak berniat memberi komentar apapun.


Ino kembali menyesap minumannya pelan. Memutar kembali bayangan Sakura yang bergelayut manja pada Sasuke. Kejadian itu membuatnya tak mengerti, bagian mana yang ia lewatkan hingga tak menyadari kemungkinan tak masuk akal ini. Ia selalu ingat Sakura bukanlah tipe perempuan yang gila harta dan penampilan. Tapi kenapa sahabatnya itu masih bisa terpikat Sasuke. Tipe orang yang seharusnya cepat ia hindari jika ingin 'hari tua bahagia'-nya benar-benar tercapai. Mereka sempat bergosip sebagai sesama gadis jauh sebelum Sasuke muncul dan mengacaukan semuanya.

"Kau sedikit berlebihan, kau tahu."

Ino melirik mendengar suara Sasuke. Laki-laki itu masih mengenakan setelan yang sama. tegak lurus di depan jendela. Mengikuti arah pandangnya yang jauh keluar sana. Wajah dingin Sasuke tak berubah sedikitpun, tak ada rasa bersalah ataupun bahagia meski lima menit lalu ia berada dalam suasana tak menyenangkan.

Mereka kembali saling diam. Jam bandul berdentang dua kali. Itu berarti makan siang telah Ino lewatkan dengan sempurna. Sesuatu yang ia benci.

"Berhentilah, Sasuke." gumamnya tanpa menanggalkan pandangan. Ia benar-benar tidak dalam keadaan baik untuk saling beradu argumen.

"Hn. Kau yang seharusnya berhenti."

Ino menoleh mendengar ucapan Sasuke. Wajah kesalnya tidak lagi berusaha ia tutupi.

"Aku tidak pernah peduli dengan ratusan perempuan yang kau tiduri," ucapnya sambil kembali memandang Vegas di luar sana, "Itu karena aku tidak mengenal mereka," Ino memutar gelas jenjangnya hingga jejak wine membekas di setiap sisi, "Sakura berbeda dengan mereka, aku tidak mau..."

"Aku tidak menganggap Sakura sama dengan mereka." gumam Sasuke cepat, memaksa Ino kembali menoleh padanya.

"Maksudmu?" sebelah alisnya terangkat penuh kecurigaan. "Kau benar-benar mencintainya?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Huh. Seperti yang seharusnya kan?" Ino tersenyum kecil meski masih dengan wajah kesal. "Ngomong-ngomong, aku sudah melihat rekaman CCTV Sakura saat di Kasino,"

Kali ini ganti Sasuke yang menoleh, melihat adik sebayinya itu mengangguk-angguk kecil dengan senyum miring.

"Dia melakukannya lebih baik dari yang kuduga." ucap Ino sambil menoleh menatapnya.

"Apa itu?"

"Sembilan dari sepuluh taruhannya di meja Roulette berhasil. Itu bagus, meski aku yakin Kasino akan menjegalnya saat ia datang lagi."

"Bagaimana metodenya?" Sasuke berfikir sejenak, mendapatkan kemenangan berturut di Roulette sedikit mustahil mengingat bandar selalu teliti mengalahkan pemain.

"Kurasa dia menghitung sudut kemiringannya,"

Alis Sasuke tertaut mendengar gumaman Ino.

"Aku sudah membicarakannya dengan Shikamaru. Sakura dua kali berpindah bandar saat memainkan Roulette, dan dia selalu menyentuh mesin dengan satu jarinya sebelum memasang taruhan."

"Apa hitungan dengan cara itu akurat?"

Ino mengedikkan bahu, "Shikamaru bilang itu mungkin saja terjadi. Perhitungan maya membutuhkan sentuhan dan ketelitian. Sakura bisa melakukan keduanya."

"Bagaimana dengan Blackjack?"

Ino memutar tubuhnya hingga menghadap Sasuke secara langsung, "Kau pasti ingin bersorak saat melihat Kakuzu mengusap pelipisnya pelan. Sakura bahkan berani melakukan call down saat dia sudah membuka kartu As-nya."

Kakuzu adalah bandar yang cukup di segani di MGM Grand. Laki-laki misterius dengan kumis dan kepala plontosnya itu sudah menjadi lengenda di meja judi sejak masa muda. Hingga sepuluh tahun lalu lebih memilih menjadi bagian dari bandar daripada pemain.

"Aku melihat gelombang manusia di luar batas kewajaran, itu sedikit tak terprediksi."

"Sakura mengertaknya dengan baik," Ino tersenyum, "Ah, dan kau pasti tidak ingin tahu, siapa yang menemaninya di meja,"

Sasuke memicingkan mata mendengar nada mengejek pada suara Ino,

"Neji," ucap Ino dengan tawa kecil yang tersenggal. "Benar-benar dunia yang sempit kan?"

"Neji?"

"Neji, Hyuuga Neji. Senior tampan dari kelas menengah. Kalian selalu berseteru dulu."

"Pewaris Hyuuga?"

Ino mengangguk cepat.

"Darimana Sakura mengenalnya?"

Ino Megedikkan bahu pelan, "Aku tidak tahu, yang jelas mereka cukup akrab bahkan sejak sebelum bermain di meja Kakuzu. Kurasa mereka memang sudah saling mengenal."

Sasuke menganggukan kepalanya pelan. Terjawab sudah kenapa Sakura bermain di luar kontrolnya. Ternyata ada tangan lain yang mencampuri rencananya.

"Aku melihat Sai kemarin malam, sejak kapan dia ikut berjudi?"

"Oh?" Ino tersentak sejenak mendengar pembicaraan telah berbelok padanya, ia mulai tidak suka ini. Pembicaraan pribadi dengan Sasuke, meski sering ia lakukan, selalu menjadi hal yang paling ia hindari. "Dia hanya datang untuk melukis."

"Kalian bertemu?"

Ino mengangguk kecil, "Dia bilang akan mengunjungi Konoha pekan depan."

Sasuke diam beberapa saat setelah ucapan Ino, Memandang landskap kota yang terlihat megah lalu berbalik santai. Kedua tangannya tersembunyi dalam saku. Wajah tenangnya terlihat luar biasa untuk ukuran manusia.

"Jangan tidur dengannya," gumam Sasuke saat tangannya menyentuh handle pintu, bersiap meninggalkan Ino yang kini tengah menoleh menatapnya, "Setidaknya sampai kuizinkan, jangan pernah tidur dengannya. Aku tidak akan mengampunimu kalau kau berani melakukan itu, kau tahu kan?"

Sasuke membuka pintu, lalu melangkah pelan dengan wajah tenang. Menyisakan Ino dengan dengusan khasnya.

"Ck. Kenapa dia lebih mengerikan dari Ayahku?" gumamnya sambil kembali memandang ke luar jendela. "Menyebalkan sekali."


Tbc

Halooo... Hai, masih adakah yang menunggu fict ini. maaf telat update teman. komputer lagi rusak, jadi ya . ini masih banyak ketidakjelasan. Jujur saya mulai bingung dengan alurnya, hehehe... tapi saya janji akan menusahakan yang terbaik.

terimakasih yang sudah membaca dan meninggalkan jejak. chapter depan on progress. semoga minggu depan bisa up.

salam sayang- Beb